• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilik Perusahaan (Pemegang Saham)

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SABRINA DEBORA (Halaman 32-38)

TINJAUAN PUSTAKA

1) Pemilik Perusahaan (Pemegang Saham)

a) Menilai prestasi atau hasil yang diperoleh manajemen b) Mengetahui hasil dividen yang akan diterima

c) Menilai posisi keuangan perusahaan dan pertumbuhannya d) Mengetahui nilai saham dan laba per lembar saham

e) Sebagai dasar untuk memprediksi kondisi perusahaan di masa mendatang

f) Sebagai dasar untuk mempertimbangkan menambah atau mengurangi investasi

2) Manajemen perusahaan

a) Alat untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik atau pemegang saham

b) Mengukur tingkat biaya dari setiap kegiatan operasi perusahaan, divisi, bagian, atau segmen tertentu

c) Mengukur tingkat efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan, divisi, bagian atau segmen tertentu

d) Menilai hasil kerja individu yang diberi tugas dan tanggungjawab e) Untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan perlu tidaknya

diambil kebijaksanaan baru

f) Memenuhi ketentuan dalam undang-undang, peraturan, anggaran dasar, pasar modal dan lembaga regulator lainnya

3) Investor

a) Menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan b) Menilai kemungkinan menanamkan dana dalam perusahaan

c) Menilai kemungkinan menarik dana/investasi (divestasi) dari perusahaan

d) Menjadi dasar memprediksi kondisi keuangan perusahaan di masa mendatang

4) Kreditur

a) Menilai kondisi keuangan dan hasil usaha perusahaan baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka Panjang

b) Menilai kualitas jaminan kredit/investasi untuk menopang kredit yang akan diberikan

c) Melihat dan memprediksi prospek keuangan yang mungkin diperoleh dari perusahaan atau menilai rate of return perusahaan.

d) Menilai kemampuan likuiditas, solvabilitas, rentabilitas perusahaan sebagai dasar dalam pertimbangan keputusan kredit

e) Menilai sejauh mana perusahaan mengikuti perjanjian kredit yang sudah disepakati

5) Pemerintah dan Regulator

a) Menghitung dan menetapkan jumlah pajak yang harus dibayar b) Sebagai dasar dalam penetapan-penetapan kebijaksanaan baru c) Menilai apakah perusahaan memerlukan bantuan atau tindakan lain d) Menilai kepatuhan perusahaan terhadap aturan yang ditetapkan e) Bagi lembaga pemerintah lainnya, bisa menjadi bahan penyusunan

data dan statistika 6) Analis Pasar Modal

Analis pasar modal selalu melakukan analisis yang tajam dan lengkap terhadap laporan keuangan yang go public maupun yang berpotensi masuk pasar modal. Analis ingin mengetahui nilai perusahaan, kekuatan dan posisi keuangan perusahaan. Apakah layak disarankan untuk dibeli sahamnya, dijual atau dipertahankan. Informasi ini akan disampaikan kepada investor, baik individual maupun lembaga.

7) Peneliti/Akademisi/Lembaga Peringkat

Bagi peneliti maupun akademisi, laporan keuangan sangat penting sebagai data primer dalam melakukan penelitian terhadap topik tertentu yang berkaitan dengan laporan keuangan atau perusahaan. Laporan keuangan menjadi bahan dasar yang diolah untuk mengambil kesimpulan dari suatu

hipotesis atau penelitian yang dilakukan.

2.1.2 Analisis Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan kepada publik juga dimaksudkan agar pemangku kepentingan perusahaan dapat menilai kinerja keuangan perusahaan. Menurut Satori dan Komariyah (2014), analisis adalah suatu usaha untuk mengurai suatu masalah atau fokus kajian menjadi bagian-bagian sehingga susunan/tatanan bentuk yang diurai itu tampak dengan jelas dan karenanya bisa secara lebih terang ditangkap maknanya atau lebih jernih dimengerti duduk perkaranya. Oleh karena itu, kegiatan menganalisis laporan keuangan bertujuan agar pengguna laporan keuangan dapat melihat kinerja keuangan perusahaan demi mendapat pengertian dan pemahaman yang tepat tentang kinerja keuangan perusahaan pada suatu periode.

1. Profitabilitas

Profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Angka yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen (Syahyunan, 2015). Rasio-rasio ini terdiri atas:

a. Gross Profit Margin: mengukur efisiensi pengendalian harga pokok, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.

πΊπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘  π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘†π‘Žπ‘™π‘’π‘ 

b. Operating Profit Margin: mengukur tingkat laba operasi dibandingkan volume penjualan.

𝐸𝐡𝐼𝑇 π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›

c. Net Profit Margin: mengukur laba bersih sesudah pajak dibandingkan dengan volume penjualan.

𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘†π‘Žπ‘™π‘’π‘ 

d. Return on Investment (Return on Asset): menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dipergunakan.

𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑒𝑑

e. Return on Equity: mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi pemegang saham perusahaan.

𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦

2.2 Top Level Management

Yang dimaksud dengan top level management pada penelitian ini adalah para pimpinan perusahaan yang menduduki level puncak (direksi), dimana peranan pengambilan keputusan dan tanggungjawab mereka sangat besar pengaruhnya bagi perusahaan khususnya untuk menjalankan strategi, perencanaan dan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan yang juga akan membawa keuntungan besar bagi perusahaan.

2.2.1 Pengertian Manajemen

pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya organisasi (man, money, machine, methods, materials, market, dan technology) dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien (Griffin, Manajemen, 2004).

2.3 Keberadaan Wanita

Keberadaan wanita pada penelitian ini berperan sebagai variabel bebas dimana diyakini bahwa adanya wanita dalam jajaran direksi memberikan kontribusi terhadap profitabilitas perusahaan. Dalam subab ini akan dibahas bagaimana peranan wanita mengalami perkembangan, khususnya dalam perekonomian.

2.3.1 Perkembangan Teori-teori Gender

Wanita dan pria sarat dengan banyak perbedaan. Perbedaan yang ada pada wanita dan pria yang paling mendasar adalah seksualitasnya (biologis) yang menyangkut dengan jenis kelamin. Sedangkan perbedaan lain yang bisa jadi tidak sarat bagi wanita dan pria adalah gender.

Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Gender tidak bersifat biologis melaikan dikonstruksikan secara sosial. Gender juga bukan sesuatu yang berarti dibawa sejak lahir seperti halnya seksualitas, melainkan dipelajari melalui sosialisasi, dan sifatnya tidak melekat pada jenis kelamin (Fakih, 2016).

Berbicara tentang gender, berarti berbicara tentang feminin dan maskulin. Hal inilah yang menjadikan wanita dan pria, berdekatan dengan jenis kelaminnya juga berbeda dari segi gender. Wanita dekat dengan istilah feminin,

menganggap bahwa kedua hal ini tidak dapat dipisahkan atau pun betukar posisi.

Ketika pria menjadi feminin sedangkan wanita menjadi maskulin, hal ini dianggap sebagai suatu penyimpangan.

Teori gender dapat juga disebut teori feminisme (Marzuki, 2007). Dapat diartikan bahwa teori ini muncul disebabkan adanya keinginan kaum wanita, kaum feminis untuk mengkaji ulang pemahaman-pemahaman tentang gender di dunia. Teori ini juga ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Seperti halnya di Indonesia, lahirnya istilah emansipasi wanita adalah wujud dari ingin bebasnya wanita dari kungkungan pembedaan, diskriminatif, terlebih juga inginnya wanita mendapatkan perlakuan yang sama di bidang pendidikan (pada waktu itu) seperti halnya pria. Gerakan -gerakan ini menghasilkan pemikiran, ilmu dan wawasan baru tentang kebebasan, keadilan dan kesetaraan bagi perempuan. Maka dari itu terciptalah teori-teori gender.

2.3.2 Teori-teori Gender

Teori-teori gender yang ada dan berkembang berasal dari teori sosiologi dan psikologi. Meskipun begitu, tidak ada satupun teori khusus yang dapat digunakan untuk mengkaji permasalahan gender (Marzuki, 2007). Hal ini bisa jadi dikarenakan gender lahir dari konstruksi sosial, yang mengindikasikan bahwa tidak ada sebuah definisi baku untuk menjelaskannya, sebab gender terus beradaptasi mengikuti situasi dan waktunya.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH SABRINA DEBORA (Halaman 32-38)

Dokumen terkait