THE CORPORATE VEIL DAN ALTER EGO
H. Kepemilikan Perusahaan dan Dominasi Pemegang Saham 1. Konsep Kepemilikan Perusahaan
2. Pemisahan Kepemilikan dan Manajemen Perseroan
Teori utama dalam masalah kepemilikan dan manajemen perseroan adalah teori tentang pemisahan kepemilikan dan pengelola perseroan. Hasil penelitian yang terkenal dalam perseroan modern menunjukkan bahwa dalam era modern ini para ahli tentang pengelolaan perseroan (corporate governance) sepakat bahwa
113 The Government of Ireland. Office of the Director of Corporate Enforcement: The Principal Duties and Power of Members and Shareholders Under the Companies Act. Dublin, Ireland, (2015).
pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perseroan adalah suatu fitur yang melekat dan wajib ada di dalam sistem corporate governance.
Di dalam suatu perseroan, harus ada pihak-pihak yang bertugas untuk menjaga keterpisahan tersebut dan perseroan harus merespon tentang perlunya pemisahan tersebut dengan memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan kepada dewan komisaris dan para eksekutif dalam menjalankan perseroan. Dengan demikian, secara teoretis direktur dan komisaris adalah sebagai ‘agen’ yang ditunjuk dan bertindak atas nama pemegang saham sebagai ‘prinsipal’.114 Di dalam hukum perusahaan teori tersebut dinamakan Teori Agensi.
Prinsip-prinsip utama dalam teori Agensi berkaitan dengan cara pandang mengenai hubungan agensi yang menjadi dasar dalam rangka mendapatkan pengertian yang jelas dan terarah tentang corporate governance, dimana hubungan agensi adalah kontrak antara manajer (agen) dengan pemegang saham (prinsipal).115
Benturan kepentingan (conflicts of interest) antara pemilik perusahaan (owner) dan pelaksana manajemen (agen) dapat terjadi karena agen tidak selamanya bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal. Benturan kepentingan ini dapat merugikan perusahaan karena hal ini menyebabkan timbulnya biaya yang dinamakan (agency cost).116
114 Vincent Siaw. Protection of Minority Shareholders in Public Listed Companies in Thailand. International Graduate School of Business Division of Business University of South Australia: University of South Australia Library, 2008. Hal. 24.
115 Thomas Rüdiger Smith. Agency Theory and Its Consequences A study of the unintended effect of Agency Theory on Risk and Morality.Master Thesis at Copenhagen Business School. Hal.
13.
116 J.H. HaIl. The agency problem, agency cost and proposed solutions thereto: A South African perspective. Meditari Accountancy Research Vol. 61998:145-161. Hal. 146.
Manajemen perusahaan tentu saja mempunyai lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan di masa depan daripada pemilik perusahaan (pemegang saham). Untuk itu, manajemen perusahaan mempunyai kewajiban untuk memberi informasi tentang status perusahaan kepada pemilik perusahaan.
Informasi mengenai kondisi perusahaan diberikan diantaranya melalui keterbukaan (disclosure) mengenai informasi keuangan (accounting information) misalnya dalam laporan keuangan, namun keterbukaan itu tidak terbatas hanya dalam masalah kondisi keuangan, tetapi juga mengenai jalannya perusahaan secara keseluruhan, sehingga semua pemegang saham setiap waktu mengetahui apa yang terjadi di perusahaan, hal ini terutama pada perusahaan terbuka yang telah menjual saham ke publik. Keterbukaan ini dapat mengurangi resiko adanya agency cost.
Dalam jalannya pengelolaan perusahaan perlu diperhatikan adanya kecenderungan pemusatan kepemilikan kepada hanya beberapa atau bahkan satu pemegang saham, masalah ini disebut sebagai agency problem atau masalah agensi.
Masalah “agency problem” tersebut timbul apabila terjadi pemusatan kepemilikan saham diantara para pemegang saham kepada satu pemegang saham yang berupaya untuk mengendalikan perusahaan dan untuk bertindak atas nama satu pemegang saham sebagai wakil dari semua pemegang saham lainnya. Hal ini dapat terjadi karena hak pemegang saham mayoritas dapat digunakan untuk mengambil alih hak-hak pemegang saham minoritas dalam bentuk pendistribusian kembali asset perusahaan (redistribution of assets).117
117 J.H. HaIl. Opcit. Hal. 147.
Selanjutnya, kekuasaan untuk mengambil keputusan di dalam perusahaan yang diberikan kepada pemegang saham mayoritas dapat mengakibatkan suatu keadaan yang biasanya akan mengikutinya, dimana pada akhirnya pemegang saham mayoritas akan melakukan tindakan yang bertujuan untuk mengambilalih aset dari pemegang saham minoritas, disinilah timbulnya agency problem, yang apabila tidak segera diantisipasi dapat mengakibatkan terjadinya berbagai masalah dalam manajemen perusahaan, termasuk campurtangan pemegang saham dalam manajemen perusahaan.
Dalam teori hukum perusahaan yang terkait dengan masalah hubungan antara pemegang saham dan manajemen perusahaan, dikenal adanya teori agensi, dimana pemegang saham adalah sebagai prinsipal dan manajemen perseroan adalah agen.
Hubungan prinsipal-agen terjadi apabila dua pihak atau dua lembaga sepakat bahwa satu pihak yaitu: agen, akan melaksanakan pekerjaan atau memberi jasa untuk dan berada dibawah perintah pihak lain, yaitu: prinsipal. Agen dapat dinamakan pegawai atau pelayan dan prinsipal dapat dinamakan pemberi kerja atau majikan.
Melalui hubungan prinsipal–agen, prinsipal dapat memberi kuasa kepada agen untuk melaksanakan apa yang seharusnya dilaksanakan secara sah oleh prinsipal.
Oleh karena itu, pekerjaan yang diberikan kuasanya kepada agen untuk dilaksanakan untuk kepentingan prinsipal pada prakteknya adalah tidak terbatas.
Pekerjaan itu dapat mulai dari pekerjaan kecil dimana agen tidak memerlukan diskresi untuk menjalankannya sampai dengan pekerjaan yang mengharuskan agen untuk mengambil keputusan yang menggunakan kebijakannya, seperti melakukan
negosiasi, menandatangani kontrak dan perjanjian lainnya, dan membeli dan menjual properti atas nama prinsipal.
Masalah hubungan agensi dapat ditelusuri dari bagaimana secara praktik suatu perusahaan didirikan. Pendirian perusahaan dalam praktiknya dapat dilihat dari hubungan hukum yang biasanya terjadi yang dinamakan sebagai hubungan
“master and servant” ataupun hubungan “employer and employee.”118 Esensi dari hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. The servant must be under the duty of rendering personal services to the master or to others on behalf of the master, otherwise the contract is a contract for sale of goods or the like.
b. The master must have the right to control the servant’s work, either personally or by another servant or agent. It is the right of control or interference, of being entitled to tell the servant when to work (within the hours of service) and when not to work, and what work to do and how to do it. (within the terms of such service) which is the dominant characteristic in this relation and marks off the servant from an independent contractor, or from one employed merely to give to his employer the fruit of his labour. In the latter case, the contractor or performer is not under the employer’s control in doing the work or effecting the service; he has to shape and manage his work so as to give the result he has contracted to effect.119 a. Pelayan harus berada di bawah tugas memberikan layanan pribadi kepada
tuan atau kepada orang lain atas nama tuannya, jika tidak, kontrak tersebut adalah kontrak untuk penjualan barang atau sejenisnya.
b. Majikan harus memiliki hak untuk mengontrol pekerjaan pelayan, baik secara pribadi atau oleh pelayan atau agen lain. Ini adalah hak kontrol atau campurtangan, karena majikan berhak memberi tahu pelayan kapan harus bekerja (dalam jam kerja) dan kapan tidak bekerja, dan pekerjaan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. (dalam persyaratan layanan tersebut) yang merupakan karakteristik dominan dalam hubungan ini dan membedakan pelayan dari kontraktor independen, atau dari orang yang bekerja hanya untuk memberikan kepada majikannya hasil dari kerjanya.
Dalam kasus yang terakhir, kontraktor atau pelaku tidak berada di bawah kendali majikan dalam melakukan pekerjaan atau mempengaruhi layanan;
118 R.H. Coase. The Firm,The Market and The Law. (Chicago and London: University of Chicago Press, 1990), hlm. 53.
119 F.R Batt. The Law of Master and Servant. (Sir Isaac Pitman & Sons, 1933) p. 6, in R.H.
Coase. The Firm,The Market and The Law. (Chicago and London: University of Chicago Press, 1990), hlm. 54.
dia harus membentuk dan mengelola pekerjaannya sehingga memberikan hasil yang dimana dia telah dikontrak untuk dilakukan.
Dalam teori hukum perusahaan, hal tersebut diatas menjadi dasar hubungan prinsipal-agen, dimana untuk mengadakan suatu hubungan prinsipal-agen terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi: (1) pihak-pihak yang cakap untuk menjadi prinsipal dan agen, (2) pihak-pihak yang sama-sama sepakat bahwa agen akan bertindak untuk dan atas nama prinsipal, (3) bahwa agen akan tunduk kepada perintah dan pengawasan prinsipal.120
a. Pihak-pihak dalam Agensi
1) Prinsipal adalah Semua pihak atau individu yang cakap untuk membuat perjanjian dapat menjadi prinsipal dalam suatu perusahaan, seperti:
individu, perseroan, pemerintah, negara, kota atau lembaga pemerintah lainnya dapat menjadi prinsipal.
2) Agen adalah suatu pihak atau individu yang setuju untuk melaksanakan pekerjaan atau memberi jasa dibawah pengawasan dan perintah dari pihak lain (prinsipal). Pekerjaan atau jasa yang diberikan mungkin suatu yang sederhana, seperti menjalankan perintah. Atau pekerjaan atau jasa yang melibatkan pekerjaan yang memerlukan kebijakan dan keputusan yang mempengaruhi hubungan prinsipal dengan pihak ketiga berupa kontrak atau lainnya. Agen tidak harus orang perseorangan; sebagai contoh suatu perseroan atau firma dapat menjadi agen. Setiap orang yang mampu untuk melaksanakan kewajiban dapat menjadi agen. Akan tetapi, agen tidak harus
120 Michael C. Jensen and William H. Meckling. Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, October, 1976, V. 3, No.
4, pp. 305-360.
mampu untuk menandatangani kontrak untuk dirinya sendiri, karena kontrak yang dibuat oleh agen atas nama prinsipal dipandang sebagai kontrak prinsipal bukan kontrak agen. Agen dapat sebagai agen umum atau agen khusus. Agen umum adalah agen yang kewajibannya merupakan kewajiban yang terus menerus. Agen khusus adalah agen yang dipekerjakan untuk melakukan suatu pekerjaan atau transaksi tertentu.
b. Kesepakatan Bersama
Satu pihak tidak dapat membuat hubungan prinsipal-agen; harus ada dua pihak yang harus berada dalam kesepakatan bersama. Agen dapat dipekerjakan dengan kesepakatan informal, akan tetapi, apabila menyangkut pekerjaan yang penting, biasanya para pihak akan membuat perjanjian tertulis untuk membuat kontrak pekerjaan yang formal dan mencantumkan semua kewajiban agen dan hak-hak yang akan diterima oleh agen.
c. Perintah dan Pengawasan
Perjanjian agensi meliputi kesepakatan bersama antara prinsipal dan agen, yaitu bahwa agen akan bertindak untuk prinsipal dibawah perintah dan pengawasan dari prinsipal. Kata “perintah” dan “pengawasan” menjelaskan tingkat kekuasaan yang dapat dilakukan oleh prinsipal terhadap agen. Perintah berarti hak atau kewenangan prinsipal untuk mengatur agen mengenai apa yang harus dilakukan untuk prinsipal tetapi bukan mengenai bagaimana pekerjaan itu harus dilakukan.
Pengawasan (kontrol) meliputi hak dari prinsipal untuk memberi tahu agen bukan hanya apa pekerjaan atau jasa yang akan dilakukan tetapi juga tugas fisik yang harus dilaksanakan. Individu atau organisasi yang hanya boleh diberi perintah oleh
prinsipal atau hanya agen saja; sedangkan agen yang terhadapnya dapat dilakukan pengawasan dinamakan pekerja atau pelayan.
Harus diperhatikan bahwa terdapat kemungkinan terjadinya benturan kepentingan antara pemegang saham (prinsipal) dengan manajemen perusahaan (agen), dan hal itu sangat mungkin terjadi di setiap perusahaan. Hal ini terjadi di perusahaan meskipun pada prinsipnya pemegang saham mempunyai hak untuk mengelola perusahaan melalui keikutsertaannya dalam rapat umum pemegang saham dan memberikan suaranya dalam rapat tersebut. Pemegang saham sebagai prinsipal berdasarkan teori agensi mempunyai hak untuk menunjuk dan memberhentikan manajemen perusahaan, menerima laporan keuangan dan menunjuk auditor perusahaan. Mereka juga mempunyai hak untuk menjual saham miliknya dan juga dapat mengakibatkan perusahaan mengalami risiko, seperti kemungkinan diakuisisi oleh pihak lain, ataupun menyatakan perusahaan menjadi pailit.
Meskipun telah terbentuk hubungan prinsipal-agen, namun benturan kepentingan antara pemegang saham dan manajemen tetap dapat terjadi. Benturan kepentingan tersebut dapat timbul dari penyebab sebagai berikut:121
(1) Para pengelola perusahaan lebih menyukai tingkat pembelanjaan perusahaan yang tinggi dan kurang mau melakukan pekerjaan yang intensif, karena faktor-faktor ini tidak mempengaruhi remunerasi mereka dan nilai dari saham perusahaan yang mereka miliki;
121 Magdalena Jerzemowska. The Main Agency Problems and Their Consequences. Acta Oeconomica Pragensia, roè. 14, è. 3, 2006. Hal. 11.
(2) Manajemen lebih memilih investasi yang kurang berisiko dan leveragenya rendah, karena dengan demikian itu mereka dapat menurunkan ancaman terjadinya kepailitan, dan dapat menghindari kerugian atas modal dan portofolio yang dikelolanya;
(3) Manajemen perusahaan lebih memilih investasi dalam jangka pendek;
(4) Manajemen perusahaan menghindari masalah yang berasal dari pengurangan pegawai, yang dapat ditingkatkan dengan perubahan pengendalian di perusahaan.
Sedangkan memegang saham, pada umumnya menginginkan profit yang tinggi yang tentunya bertentangan dengan hal-hal yang lebih diinginkan oleh manajemen perusahaan.
Disamping teori agensi terdapat beberapa teori yang lebih mutakhir dalam hubungan antara pemilik perusahaan dengan manajemen, diantaranya adalah teori Stakeholder, berdasarkan teori ini perusahaan mempunyai berbagai stakeholder, yaitu: kelompok dan individu yang mendapat keuntungan atau dapat dirugikan, dan hak-haknya dapat dihargai atau dilanggar, oleh tindakan perusahaan. Prinsip umum dari teori stakeholder ini adalah mendefinisikan kembali suatu organisasi perusahaan. Secara umum teori ini adalah tentang bagaimana suatu perusahaan sebagai suatu organisasi seharusnya dan bagaimana konsep yang benar dari suatu perusahaan.122
122 Charles Fontaine, Antoine Haarman and Stefan Schmid.The Stakeholder Theory of the MNC. https://pdfs.semanticscholar.org. December 2006. Hal. 3.
Istilah stakeholder menunjukkan bahwa terdapat individu atau kelompok dengan kepentingan yang besar dalam berjalannya perusahaan dan siapa yang dapat mempengaruhi jalannya perusahaan secara signifikan. Akan tetapi harus dibedakan antara dua kategori dari stakeholder, yaitu: (i) stakeholder yang mempunyai kepentingan karena mereka melakukan investasi khusus di dalam perusahaan (dalam bentuk tenaga kerja, modal finansial, modal sosial atau kepercayaan, atau modal fisik atau lingkungan hidup, atau modal dalam pengembangan teknologi yang diterapkan di perusahaan, dll.) yaitu, suatu investasi yang dapat meningkatkan nilai total yang dihasilkan oleh perusahaan (setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang diperlukan untuk memeliharanya agar tetap sesuai tujuan) dan yang diperuntukkan secara khusus untuk perusahaan (bukan untuk hal lainnya) sehingga nilainya secara langsung berhubungan dengan jalannya transaksi yang dilakukan oleh atau terhadap perusahaan itu. Stakeholder semacam ini secara timbal balik juga tergantung kepada perusahaan karena mereka mempengaruhi nilai perusahaan tetapi pada waktu yang sama karena adanya investasi mereka yang diberikan khusus untuk perusahaan mereka sangat tergantung kepada perusahaan untuk memenuhi keinginan dari tujuan investasi mereka, hal ini dinamakan lock-in effect. (ii) para pihak atau individu atau kelompok yang mempunyai kepentingan karena adanya akibat eksternal, baik positif ataupun negatif dari transaksi yang dilaksanakan perusahaan terhadap kepentingan mereka, meskipun mereka tidak terlibat secara
langsung dalam transaksi tersebut, dengan demikian mereka tidak berkontribusi dan tidak pula menerima keuntungan secara langsung dari perusahaan.123
Konsep stakeholder adalah generalisasi dari istilah stockholder, yaitu pemegang saham sebagai pihak yang mempunyai hak khusus atas perusahaan.
Sama halnya dengan stockholders yang mempunyai hak untuk melakukan tindakan tertentu terhadap tindakan yang dilakukan oleh manajemen, tindakan ini merupakan pertanyaan yang sulit, tetapi logis dan sama dengan yang ditujukan untuk teori stakeholder.124 Stakeholder memerlukan tindakan tertentu dan benturan kepentingan antara stakeholder memerlukan metode penyelesaian tertentu pula.
Cukup banyak literatur yang ada yang membahas tentang benturan kepentingan di antara stakeholder. Ide mengenai perusahaan mempunyai stakeholders sekarang ini sudah umum dalam literatur manajemen, baik akademis maupun profesional.125
Konsep stakeholder perusahaan berbeda dengan perspektif konvensional dalam konsep input-output dimana pemegang saham atau investor, pegawai, dan pemasok (supplier) disebut sebagai kontributor yang memberi input terhadap perusahaan, yang mana perusahaan mengolahnya menjadi output untuk memberi benefit bagi semua pengguna (user) dari output perusahaan. Dengan kata lain, masing-masing kontributor yang memberi input mengharapkan akan menerima kompensasi yang sesuai dengan input yang dimasukkannya. Akan tetapi berdasarkan interpretasi ekonomi tentang konsep ini, dalam jangka panjang akan
123 Lorenzo Sacconi. A Social Contract Account for CSR as Extended Model of Corporate Governance (Part I). Interuniversity centre of research, Bicocca University, Milano. Discussion Paper No.10 2004. Hal. 11.
124 Opcit. Hal. 8.
125 Jeffrey S. Harrison and Andrew C. Wicks. Stakeholder Theory, Value, and Firm Performance. Business Ethics Quarterly 23:1 (January 2013), pp. 97-124. Hal. 102
terjadi keseimbangan dimana kontributor input, pada tingkat marginal, hanya akan menerima benefit yang normal atau hanya memperoleh keuntungan berupa market competitive (yaitu keuntungan bahwa mereka akan dapatkan dari alternatif penggunaan waktu dan sumber dayanya). Kontributor individual yang akan mendapat keuntungan utama, seperti pemilik tempat usaha atau yang mempunyai keahlian yang langka. Mereka tentu saja akan menerima ‘benefit’ yang lebih, tetapi keuntungan bagi kontributor marjinal hanya berupa benefit suatu yang normal.
Premis utama dari banyak literatur mengenai teori stakeholder adalah berfokus kepada stakeholder, terutama tentang bagaimana memperlakukan mereka dengan baik dan mengelola perusahaan untuk kepentingan mereka, membantu perusahaan untuk menciptakan nilai perusahaan bersamaan dengan banyak hal lainnya yang dapat membawa kebaikan bagi kinerja perusahaan.126
Sebagai akibat dari persaingan yang terjadi di dalam keseluruhan sistim yang berjalan di perusahaan, keuntungan yang terbesar akan diperoleh oleh pengguna output perusahaan. Masalah yang kritikal dalam hal in bagi stakeholder perusahaan, dalam teori dan praktek, adalah terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan masalah konseptual, dimana pertimbangan pembuktiannya (misalnya mengenai pengertian hak-hak atas kebendaan) merupakan hal yang khusus yang terjadi di perusahaan. Untuk itu, perlu dipertimbangkan sampai sejauh mana teori stakeholder dapat dianggap sebagai cara untuk menunjukkan pendekatan yang kontroversial dan menantang bagi berbagai pandangan yang konvensional di dalam ekonomi pasar.
126 Jeffrey S. Harrison and Andrew C. Wicks. Opcit. Hal. 101.
Berdasarkan teori stakeholder, pemegang saham yang dapat pula disebut sebagai investor adalah pemilik perusahaan yang mempunyai stake finansial pada perusahaan berupa saham, surat hutang, dan lain-lain dan mereka ini mengharapkan keuntungan finansial dari perusahaan. Pegawai mempunyai kepentingan (stake) dalam bentuk pekerjaan dan pada umumnya pekerjaan itu merupakan kehidupan mereka (livelihood at stake); mereka umumnya mempunyai keahlian tertentu yang untuk itu biasanya tidak ada pasar yang benar-benar fleksibel yang selalu dapat menerimanya. Sebagai imbalan dari pekerjaan mereka, mereka mengharapkan keamanan, gaji, tunjangan, dan penghargaan atas pekerjaan yang mereka lakukan.
Sebagai imbalan bagi loyalitas mereka, perusahaan diharapkan untuk menyediakan dan memberi kepada mereka bantuan dalam keadaan kesulitan. Pegawai diharapkan mematuhi perintah dari manajemen setiap waktu, untuk membicarakan hal yang baik tentang perusahaan, dan untuk bertanggungjawab dalam masyarakat setempat dimana perusahaan melakukan aktivitasnya. Dimana mereka digunakan sebagai alat mencapai tujuan, mereka harus ikut berpartisipasi dalam mengambil keputusan tentang penggunaan tersebut.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa kebijakan dan nilai-nilai yang disebutkan disini membuat hubungan antara perusahaan dan pegawai yang produktif menghasilkan gangguan yang tidak wajar kepada masyarakat dalam bentuk polusi, limbah beracun, dan lain-lain. Jika karena suatu masalah perusahaan harus meninggalkan lingkungan masyarakat, diharapkan bahwa mereka harus bekerja dengan pimpinan masyarakat untuk membuat perpindahan tersebut berjalan dengan lancar. Tentu saja, perusahaan tidak mempunyai pengetahuan yang sempurna, akan
tetapi jika mereka menemukan suatu bahaya atau menjalani kompetisi yang baru, diharapkan untuk memberi informasi kepada masyarakat setempat dan untuk bekerja sama dengan masyarakat untuk mengatasi masalah.
Diantara teori-teori yang membahas mengenai corporate governance terdapat teori social contract, yang memandang keberadaan masyarakat terjadi karena adanya suatu hubungan kontraktual antara anggota masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Dalam kaitannya dengan pengelolaan perusahaan, terdapat aliran pemikiran yang melihat tanggungjawab sosial sebagai kewajiban kontraktual perusahaan terhadap masyarakat. Pada masa sekarang ini teori kontrak sosial mendapat tanggapan yang baru karena ternyata dapat menjelaskan adanya hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Dalam pandangan ini, perusahaan (ataupun organisasi lainnya) mempunyai kewajiban terhadap bagian lain dari masyarakat sebagai imbalan atas keberadaannya dalam masyarakat.127
Suatu teori kontrak sosial yang utuh telah terbentuk sebagai suatu cara bagi para manajer sebagai pengambilan keputusan yang beretika, yang mengacu kepada kontrak sosial makro dan kontrak sosial mikro. Kontrak sosial makro adalah mengacu kepada masyarakat dan harapan terhadap pebisnis untuk menyediakan dukungan untuk masyarakat setempat, dan kontrak sosial mikro adalah mengacu kepada keterlibatan dalam bentuk yang khusus.
Teori lainnya yang membahas masalah corporate governance adalah teori legitimasi (legitimacy theory). Teori legitimasi adalah “generalisasi persepsi atau
127 Stakeholders & the social contract: a broader view of corporate governance. Corporate Governance and International Business. https://nscpolteksby.ac.id/ebook/files/Ebook. Hal. 34.
asumsi bahwa tindakan suatu lembaga adalah bertujuan, tepat, atau sesuai dengan suatu bentuk sistem sosial seperti norma, nilai, kepercayaan dan ketentuan.” Teori legitimasi memandang bahwa manajemen dapat mempengaruhi persepsi yang ada pada masyarakat terhadap perusahaan. Oleh karena itu, di dalam teori legitimasi tersirat bahwa, teori itu secara garis besar, adalah dapat dikendalikan oleh perusahaan itu sendiri. Uaya dalam mengelola legitimasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, dari perubahan aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan sehingga sesuai dengan persepsi masyarakat melalui upaya sampai kepada upaya untuk mempengaruhi proses-proses yang dapat mengubah persepsi masyarakat dan nilai
asumsi bahwa tindakan suatu lembaga adalah bertujuan, tepat, atau sesuai dengan suatu bentuk sistem sosial seperti norma, nilai, kepercayaan dan ketentuan.” Teori legitimasi memandang bahwa manajemen dapat mempengaruhi persepsi yang ada pada masyarakat terhadap perusahaan. Oleh karena itu, di dalam teori legitimasi tersirat bahwa, teori itu secara garis besar, adalah dapat dikendalikan oleh perusahaan itu sendiri. Uaya dalam mengelola legitimasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, dari perubahan aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan sehingga sesuai dengan persepsi masyarakat melalui upaya sampai kepada upaya untuk mempengaruhi proses-proses yang dapat mengubah persepsi masyarakat dan nilai