• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanggung Jawab Pemilik dan Pengurus Bank dan Peran Lembaga Penjamin Penjamin

THE CORPORATE VEIL DAN ALTER EGO

K. Pertanggungjawaban Dalam Kepemilikan Bank 1. Kepemilikan Bank di Indonesia

8. Tanggung Jawab Pemilik dan Pengurus Bank dan Peran Lembaga Penjamin Penjamin

Penjaminan simpanan berkembang di seluruh dunia pada akhir pertengahan abad ke duapuluh, penjaminan tersebut merupakan suatu suatu proses yang mencerminkan campuran antara tekanan politik eksternal dan internal yang mendukung penerapannya. Disamping dukungan politik, terdapat bahan-bahan literatur akademik yang mengedepankan pendapat bahwa biaya yang timbul karena moral hazard dengan adanya penjaminan simpanan telah mengatasi keuntungan berupa pengurangan risiko likuiditas.208

208 Demirgüç-Kunt, Asli, Edward J. Kane, and Luc Laeven. 2008. “Determinants of deposit insurance adoption and design.” Journal of Financial Intermediation 17.3: 407-438.

Dalam menjalankan pengelolaan bank yang sehat, pemilik dan pengurus bank harus tidak memiliki insentif untuk melakukan tindakan yang mengancam sistem perbankan. Pengurus dan pemilik bank harus menjalankan bank secara efisien atau mengalami risiko kebangkrutan. Penjamin simpanan dimaksudkan untuk melindungi sistem perbankan, bukan melindungi bank yang dikelola secara tidak berhati-hati. Kebanyakan kebangkrutan bank diakibatkan karena salah kelola oleh pemilik dan pengurus. Hal tersebut dapat dikurangi apabila pemerintah segera mencabut ijin usaha bank sebelum bank tersebut secara total bangkrut.209

Selama lebih dari 30 tahun, industri perbankan di Amerika Serikat telah kurang percaya kepada pendanaan dari simpanan domestik. Pada akhir tahun 2000, simpanan domestik hanya sebesar 55,6 persen dari total aset perbankan, jauh di bawah tingkat yang diperoleh perbankan pada masa awal didirikannya FDIC yaitu sebesar 80 persen. Hal ini berkaitan dengan perubahan pada ketahanan risiko di Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), dan dengan insentif dan opsi pilihan yang ada pada kreditur non-simpanan di perbankan.210

Dari penelitian didapati bahwa sejumlah kecil kredit non-simpanan mengakibatkan peningkatan yang kecil pada tingkat ketahanan risiko FDIC karena pengurangan dalam penilaian pendapatan dari dasar penilaian yang lebih kecil tidak menghilangkan pengurangan pada eksposur kerugian. Fenomena yang sama terjadi pada skala yang lebih besar apabila volume kredit dengan jaminan meningkat.

209 Zulkarnaen Sitompul. Lembaga Penjamin Simpanan. Substansi dan Permasalahan, (Bandung: BookTerrace & Library, 2007), Hal. 275.

210 Lynn Shibut. Should Bank Liability Structure Influence Deposit Insurance Pricing?

Division of Research and Statistics. Federal Deposit Insurance Corporation. 550 17th Street, NW, Washington, DC 20429. January 2002, Working Paper 2002-01.

Kenyataannya, terdapat beberapa bukti bahwa penggunaan kredit dengan jaminan oleh bank dapat meningkatkan ketahanan risiko pada bank, dan selanjutnya hal itu akan meningkatkan ketahanan risiko pada FDIC.211

Apabila bank memegang jumlah besar kredit tanpa jaminan, penilaian kehilangan pendapatan oleh FDIC ditutupi oleh berbagai keuntungan yang berkaitan dengan disiplin pasar dimana kreditor yang tidak dijamin menekan bank.

Karena efek penutupan itu sulit untuk diukur, maka akibat akhir dari besarnya jumlah kredit tidak dijamin terhadap FDIC menjadi tidak jelas. Apabila bank meningkatkan kepercayaannya terhadap simpanan yang tidak dijamin, ketahanan risiko FDIC meningkat karena FDIC menerima penilaian pendapatan yang lebih ditambah dengan keuntungan yang terkait dengan disiplin pasar. FDIC dapat mengubah kebijakan harga jaminan untuk meningkatkan penyesuaian antara struktur kewajiban bank dan ketahanan resiko FDIC:212

a. Mengubah dasar penilaian agar memasukkan kredit dengan jaminan, simpanan dengan jaminan, dan mungkin beberapa bagian dari kredit berisiko (tidak termasuk utang peringkat bawah atau subordinated debt).

b. Menyesuaikan harga-harga sehingga dapat mencerminkan risiko terkait dengan struktur kewajiban bank.

c. Menurunkan semua dasar penilaian dan harga langsung ke ketahahan kredit FDIC.

211 Ibid.

212 Ibid.

Beberapa masalah membuat rumit penggunaan metode tersebut untuk meningkatkan kebijakan harga FDIC. Terutama, bank-bank besar cenderung untuk lebih percaya sepenuhnya pada sumber pendanaan bukan simpanan daripada bank-bank kecil. Oleh karena itu, perubahan yang untuk menghadapi risiko yang terkait dengan sumber pendanaan bukan simpanan akan memindahkan biaya asuransi simpanan dari bank-bank kecil ke bank-bank besar. Akan tetapi, kebijakan harga FDIC yang sekarang telah lebih memberi beban kepada bank-bank besar daripada bank kecil - paling tidak dalam hal kerugian yang diharapkan pada dana asuransi setiap dolar dari penilaian.213

Sewaktu Kongres Amerika Serikat mendirikan federal deposit insurance pada tahun 1933, para ahli perbankan memahami bahwa hal itu dapat dijadikan alat untuk membantu bank-bank kecil dan untuk mengembalikan likuiditas bank penyimpan dana. Pada akhir tahun 1931, perwakilan dari konstituen perkotaan di

“negara bagian sebelah timur tidak mendukung asuransi simpanan selama puluhan tahun diajukannya rancangan undang-undang federal deposit insurance”.214

Mereka menyatakan bahwa besarnya kerugian yang dialami pada awal tahun 1930 menyebabkan pergeseran itu, memberi kekuatan politik kepada penyimpan kecil yang cukup kuat untuk mengatasi perlawanan dari bank-bank besar terhadap penjaminan simpanan. Menurut pendapat mereka, “bank kecil pedesaan dan individu berpendapatan rendah (dengan rekening simpanan kecil) adalah jelas

213 Ibid.

214 Edward J.Kane and Berry K.Wilson, A Contracting - Theory Interpretation of the Origins of Federal Deposit Insurance. Journal of Money, Credit, and Banking, Vol. 30, No. 3 (August 1998, Part 2). Hal. 573.

menjadi pemenang, sedangkan bank perkotaan yang besar, penyimpan yang kaya dan penyimpan di bank yang gagal adalah pihak yang kalah”.215

Prinsip yang merupakan panduan dari prinsip dalam teori kontrak antara prinsipal dan agen adalah bahwa bank dan regulator mengadakan kontrak yang memberi semua pihak suatu nsentif untuk menggunakan informasi dan sumber daya yang langka secara efisien. Penerapan yang penting dari teori tersebut adalah untuk menjelaskan bagaimana setelah melewati waktu dan ruang karakter dari protokol kontrak yang digunakan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya menyesuaikan diri dengan berbagai jenis transparansi informasi, teknologi manajemen dan finansial, dan regulasi. Penetrasi dari perspektif kontraktual ke dalam teori perbankan membantu untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana hambatan regulasi berbasis risiko rendah dan struktur permodalan telah mengantikan persyaratan likuiditas sebagai pusat dari perangkat kebijakan untuk pengendalian risiko bank.216

Di Indonesia, penjaminan bagi nasabah bank dilaksanakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang didirikan pada bulan September tahun 2004 dengan Undang-undang Nomor Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

Pasal 8

(1) Setiap Bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia wajib menjadi peserta Penjaminan.

(2) Kewajiban bank menjadi peserta Penjaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk Badan Kredit Desa.

215 Ibid.

216 Opcit. Hal. 575.

Pasal 10

LPS menjamin Simpanan nasabah bank yang berbentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) membedakan nasabah bank menjadi dua jenis: (i) Nasabah Penyimpan, yaitu nasabah penyimpan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Perbankan. (ii) Nasabah Debitur, yaitu nasabah debitur sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Perbankan.

Dalam hal ini LPS mengacu kepada Undang-Undang Perbankan, dimana dinyatakan bahwa nasabah adalah semua pihak yang menggunakan jasa bank, dan Nasabah Penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan, sedangkan Nasabah Debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa penjaminan yang dilaksanakan oleh LPS adalah Penjaminan Simpanan Nasabah Bank yaitu penjaminan yang dilaksanakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan atas simpanan nasabah bank.

Undang-Undang Tentang LPS menetap adanya sanksi pidana, terhadap pemegang saham, direksi dan komisaris bank yang melakukan pelanggaran kewajiban yang ditentukan di dalam Undang-Undang LPS, yaitu:

Pasal 95

(1) Pemegang saham, direksi, dewan komisaris, pegawai, dan/atau pihak lain yang terkait dengan bank yang dicabut izin usahanya atau bank dalam likuidasi yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5) dan/atau Pasal 47 ayat (2) atau ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta

denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 16

(5) Dalam rangka rekonsiliasi dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemegang saham, dewan komisaris, direksi, dan pegawai bank yang dicabut izin usahanya, serta pihak lain yang terkait dengan bank dimaksud, wajib membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh LPS.

Pasal 47

(2) Pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris serta pegawai dan mantan pegawai bank dalam likuidasi berkewajiban untuk setiap saat membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh tim likuidasi.

(3) Pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris serta pegawai bank dalam likuidasi dilarang secara langsung atau tidak langsung menghambat proses likuidasi.

Ketentuan tentang penjaminan oleh LPS merupakan hal yang baik bagi nasabah bank karena memberi rasa aman bagi nasabah, namun penjaminan itu juga dapat membawa dampak berupa moral hazard bagi pemegang saham, direksi dan dewan komisaris bank karena adanya jaminan dari LPS meski dalam jumlah nominal yang terbatas,217 dapat dijadikan perisai bagi pemegang saham, direksi dan komisaris bank.

Untuk mengatasi moral hazard tersebut, terdapat metode-metode yang dapat digunakan, yaitu antara lain moral hazard dapat diminimalkan oleh disiplin pasar. Disiplin pasar yang efektif memerlukan keterbukaan sehingga tersedia informasi yang dapat dipahami masyarakat. Lembaga pemeringkat, analis pasar,

217 Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan Yang Dijamin LPS, sejak 13 Oktober 2008, saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah paling banyak sebesar Rp 2 Milyar.

komentator keuangan dan para profesional lainnya sangat berperan dalam membantu berjalannya disiplin pasar.218

Dari ketentuan dalam pasal-pasal undang-undang dan dari pembahasan tersebut di atas tampak bahwa LPS tidak menyinggung masalah tindakan pemegang saham yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran berdasar doktrin piercing the corporate veil ataupun doktrin alter ego.

218 Zulkarnaen Sitompul. (2007). Opcit, Hal. 274.

BAB III

MASALAH-MASALAH DALAM PENERAPAN DOKTRIN PIERCING