BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN TENTANG POSYANDU
4.3. Gambaran Umum Karakteristik Informan
4.3.2. Pemuka Formal dan Informal Sebagai Penyebar
Pemuka formal adalah pemimpin dan pelaksana pemerintahan di Kecamatan Banda Sakti. Pemuka formal yaitu kepala Desa. Termasuk juga pemuka formal yaitu pemimpin organisasi sosial seperti LMD, LPM dan PKK. Pemuka informal tokoh-tokoh masyarakat seperti tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh adat. Pemuka formal dan informal yang ada di Kecamatan Banda Sakti adalah Kepala Lingkungan, LMD, LPM, BKM dan PKK informal berumur antara 35 - 70 tahun. Pendidikan yaitu SMA sederajad sapai dengan S1 (SMA dan S1 ).
Pemuka formal dan informal adalah para pendukung Posyandu. Adapun mengenai dokter atau bidan, paramedis dan kader adalah para pelaksana serta pendukung kegiatan Posyandu, termasuk juga pemuka formal dan informal.
101
Dalam membahas hasil wawancara dengan pemuka masyarakat formal dan informal nama-nama mereka dalam tulisan ini adalah nama sebenarnya, tetapi peneliti menggunakan singkatan namanya.
1. BTR
Bapak ini, berumah tangga pada usia 24 tahun. Sekaran ia berusia 42 tahun. Setahun sesudah kawin (1986) isterinya melahirkan anaknya, laki-laki. Nampaknya ia sampai saat ini hanya punya satu anak saja sekarang sudah menjadi Mahasiswa. Pendidikan yang sempat diraih pemuka ini adalah SMEA Negeri (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) di Lhokseumawe. Sejak 1984 sampai sekarang ia menduduki jabatan tertinggi di sebagai Lurah. Disamping itu ia juga bertindak sebagai pengusaha dan petani.
Pengetahuan tentang Posyandu pertama kali dikenal sewaktu mengikuti pertemuan bersama Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Kepala Dinas Kesehatan. Pengarahan tentang Posyandu diberikan oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Walikota Lhokseumawe. Di tingkat kecamatan pernah mengikuti penataran teknis Pelaksanaan Posyandu yang disampaikan oleh dokter Puskesmas Kecamatan Banda Sakti. Adopsi pertama tentang Posyandu diterima sebagai ialah ketentuan dari satu pemerintah untuk melaksanakan Posyandu di Lingkungannya. Persuasinya bersifat pengarahan dari pemerintah. Setelah ia menerima persuasi lalu mengambil keputusan dan mengadakan pertemuan dengan staf untuk mendirikan Posyandu. Program kesehatan
102
Posyandu antara lain keluarga berencana, kesehatan Ibu dan anak dan (KIA), gizi, imunisasi, penanggulangan diare. Program ini diketahuinya sewaktu membicarakan Posyandu bersama dokter Puskesmas.
Sebagai Lurah, dia memiliki kewajiban menyebarkan informasi Posyandu, yaitu mengadakan rapat bersama staf dan lembaga-lembaga desa seperti LPM, dan Ketua Tim Penggerak PKK serta Pemuka Masyarakat untuk mendirikan Posyandu. Setelah terbentuk diumumkan melalui mesjid dan sekaligus dibentuk kader. Mesjid telah digunakan sebagai medium informasi Posyandu.
Peranan kepala desa sebagai penanggung jawab dan ketua. Dalam kedudukannya sebagai kepala desa, ia setiap waktu membantu mayarakat dalam memberi penjelasan mengenai program kesehatan dalam Posyandu yaitu, antara lain keluarga berencana, kesehatan Ibu dan anak (KIA), gizi, imunisasi dan penanggulangan diare.
Ia memberi contoh-contoh dalam kesehatan lingkungan, pembuatan WC, dan comberan. Posyandu cukup dirasakan manfaatnya oleh Ibu-Ibu balita, seperti penimbangan anak balita, gizi dan pengobatan. Kepala desa sering berbicara di mesjid, dan dalam upacara-upacara perkawinan pesan-pesan kesehatan, membantu kader dan mengawasi pekerjaannya. Kerja sama dengan tokoh tokoh masyarakat lainnya selalu dibina, terutama dalam menyampaikan program-program pemerintah termasuk Posyandu. Ia meningkatkan dan membina swadaya masyarakat dan mendirikan gedung Posyandu. Disamping itu ia membina kerja sama yang baik antara
103
semua aparat Lingkungan, tokoh masyarakat, kader dan masyarakat sehingga Posyandu umum hidup di Kecamatan Banda Sakti.
Menurut dia pengobatan yang diadakan oleh Posyandu bermanfaat bagi masyarakat. Pengobatan ini mendapat dukungan dari seluruh masyarakat Banda Lhokseumawe. Karena katanya telah menghemat biaya, tenaga dan transpor sehingga tidak perlu sekali ke Puskesrnas yang cukup jauh dari Banda Lhokseumawe.
Analisis
Bapak ini memiliki radio, televisi sering dan membaca surat kabar. Karena ada televisi dan radio, sering membaca kabar sehingga memperoleh ia surat informasi yang banyak. Informasi yang diperoleh antara lain pertanian, pendidikan, kesehatan, pembangunan dan lain-lain. Bapak ini sebagai sumber informasi di lingkungannya karena dia adalah kepala desa. Dilihat dari segi inovasi Bapak ini sebagai pembawa gagasan baru, pemimpin dan memiliki media komunikasi massa modern.
Bapak ini banyak melakukan kegiatan komunikasi interpersonal seperti menyampaikan pembangunan lewat kegiatan pesan-pesan komunikasi tatap muka dan kelompok. Bapak ini bekerja sama dengan Ketua LMD, LPM dan Ketua Tim Penggerak PKK dan tokoh masyarakat dalam rangka menggerakkan partisipasi masyarakat untuk mendorong Ibu-Ibu balita berpartisipasi dalam Posyandu maka teknik partisipasi digunakan oleh Bapak ini adalah yang partisipasi paternalistik. Ia
104
mendorong masyarakat untuk mengambil peranan aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Dilihat dari segi teori partisipasi bapak ini berperan sebagai pemimpin paternalistik.
Pengetahuan tentang Posyandu pertama kali dikenal sewaktu mengikuti pertemuan bersama dengan Walikota dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe. Adopsi inovasi Posyandu diterima sebagai satu ketentuan dari pemerintah untuk melaksanakan Posyandu di lingkungannya. Dilihat dari teori difusi inovasi bentuk inovasi semacam ini adalah suatu keputusan inovasi otoritas. Keputusan inovasi otoritas adalah keputusan yang dihasilkan oleh organisasi formal misalnya Dinas Kesehatan, birokrasi pemerintahan dan lain-lain. Posyandu adalah keputusan inovasi otoritas dari Dinas Kesehatan.
Bapak ini berperan sebagai pengembang kepemimpinan dalam Posyandu. Ia berperan sebagai orang yang memobilisir atau membangkitkan kesadaran masyarakat. Membangkitkan kesadaran masyarakat, membantu pengembangan masyarakat dan membangun nilai-nilai masyarakat. Berperan juga sebagai pemberi informasi. Juga sebagai organizer yakni pendukung partisipasi masyarakat.
2. HLMT
Sebutan pemuka masyarakat ini diperoleh karena ia sebagai Ketua Tim Penggerak PKK. Ibu ini berumah tangga pada tahun 1986 ketika ia baru berusia 17 tahun dan usia sekarang 39 tahun. Sesudah kawin ia memperoleh seorang anak
laki-105
laki. Anaknya sampai saat ini rupanya satu saja dan sekarang kepingin hamil anaknya yang kedua. Anaknya yang pertama sudah menjadi Mahasiswa. Dalam hal ber-KB Ibu ini memakai alat kontrasepsi KB tradisional. Pendidikan Ibu ini yang sempat diraih adalah tamatan SMA.
Sebagai ketua tim penggerak PKK ia juga sebagai ibu Pos KB dan sering mengikuti pertemuan program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, beliau menyebarkan ide-ide Posyandu kepada Ibu-Ibu balita. Dalam mempercepat penyebarluasan Posyandu dibentuk kader. Kader dipilih berdasarkan atas hasil rapat dan musyawarah LPM dan PKK. Adapun yang dipilih untuk menjadi kader adalah mereka yang putus sekolah yang belum sempat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Kader diawasi oleh Tim Penggerak PKK. Pada tahap awal Posyandu bersama-sama kader dan istri Ketua Lingkungan mengunjungi Ibu-Ibu balita untuk memberi pengertian tentang Posyandu. Ia mengunjungi Lingkungannya untuk memberikan penyuluhan terutama mengenai KB, kesehatan Ibu dan anak, gizi, imunisasi dan penanggulangan diare untuk kelangsungan hidup ibu bayi dan anak.
Peranannya adalah sebagai penanggung jawab dalam Posyandu. Ia aktif menggerakkan Ibu-Ibu balita untuk berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu. Antara PKK dan Posyandu terdapat hubungan kerja sama. Karena dalam PKK ada pokja IV yang membidangi kesehatan. Seksi ini erat kaitannya dengan Posyandu. Dalam kegiatan PKK ia sering mengundang Ibu-Ibu balita untuk membicarakan masalah masalah kesehatan dan perbaikan gizi keluarga.
106
Pengobatan yang diadakan oleh Posyandu sangat bermanfaat bagi Ibu-Ibu balita dan masyarakat umum, karena menghemat biaya. Ibu-Ibu tidak perlu sekali ke Puskesmas dengan adanya Posyandu di Kecamatan Banda Sakti ini.
Analisis
Ibu ini memiliki radio, televisi dan sering membaca surat kabar. Dengan ada radio, televisi dan sering membaca surat kabar sehingga ia memperoleh informasi yang banyak. Informasi lain yang diperoleh yaitu kesehatan, kewanitaan, pembangunan lingkungan dan lain-lain. Ibu ini sebagai sumber informasi di lingkungannya karena dia adalah Ketua Tim Penggerak PKK. Dilihat dari segi difusi inovasi Ibu ini adalah pembawa gagasan baru, pemimpin dan memiliki media komunikasi massa modern.
Ibu ini sebagai Isteri Lurah, ia banyak melakukan kegiatan komunikasi interpersonal seperti menyampaikan pesan-pesan kesehatan lewat PKK. Ia mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan Lingkungan yang sehat dalam kegiatan dan aktif pembina Posyandu.
Pengetahuan tentang Posyandu pertama kali dikenal sewaktu mengikuti pertemuan bersama dengan Walikota dan Kepala Dinas Kesehatan Lhoksumawe. Adopsi inovasi Posyandu diterima sebagai satu ketentuan dari pemerintah untuk melaksanakan Posyandu di lingkungannya. Dilihat dari teori difusi inovasi bentuk inovasi semacam ini adalah suatu keputusan inovasi otoritas.
107
Ibu ini berperan sebagai pengembang kepemimpinan dalam Posyandu, pemberi informasi dan pengorganisir. Fungsi informasi dilakukan dalam bentuk-bentuk memperkenalkan Posyandu kepada Ibu-Ibu balita dengan melalui PKK. Fungsi pengorganisir yaitu mengadakan pertemuan antara PKK dengan Posyandu dan membina hubungan kerja sama yang baik.
3. HILM
Sebagai pemuka masyarakat. Bapak ini berkeluarga pada usia 25 tahun,
sedang istrinya berusia 24 tahun. Umur bapak ini sekarang 36 tahun sedang istrinya 35 tahun. Pendidikannya tamatan S2 Megister Manajement. Istrinya tamatan S1 Ekonomi Pembangunan. Selain sebagai salah seorang Dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Lhokseumawe. ia juga sebagai cendikiawan dan pemuka masyarakat. Disamping tugasnya sebagai Dosen ia juga sebagai seorang wirausaha yang dilakukan sebagai layaknya dilakukan oleh penduduk Kecamatan Banda Sakti lainnya.
Karena beliau sering mengikuti dan senang dengan media massa, maka media massa di Kecamatan Banda Sakti ini memainkan peranan yang penting dalam penyebaran ide-ide Posyandu. Saluran komunikasi yang sangat berperan adalah saluran interpersonal, terutama saluran antar tetangga.
Pengetahuan tentang Posyandu dikenalnya sejak dua tahun yang lalu melalui radio dan televisi dan majalah yang membahas tentang kesehatan. Posyandu di
108
Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe sendiri sudah berjalan sejak tahun 1982. Jadi dapat dikatakan bahwa adopsi dan inovasi tentang Posyandu diterimanya melalui radio dan televisi. Dengan demikian maka program dan kesehatan pesan-pesan seperti keluarga berencana, kesehatan Ibu dan anak (KIA), gizi, imunisasi dan penanggulangan diare diketahui melalui media radio dan televisi. Keputusan untuk melaksanakan Posyandu ia melakukan bersama-sama Kepal Lingkungan pada waktu membicarakan rencana berdirinya Posyandu Desanya di Kecamatan Banda Sakti. Menurut ide Posyandu didirikan di lingkungan adalah untuk memungkinkan memberikan pertolongan kesehatan bagi Ibu-Ibu balita.
Sebagai Cendikiawan atau pemuka masyarakat ia diberikan tugas-tugasnya pada seksi-seksi pendidikan pada LPM itu. Seksi PKK dan KB terlibat dalam kegiat-an Posykegiat-andu. Di samping itu sebagai Dosen, melelui Mahasiswa menyampaikkegiat-an pesan-pesan kesehatan untuk orang tuanya atau berkunjung ke rumah masyarakat untuk memberi motivasi.
Ia bekerja sama dengan kepala komplek perumahannya untuk memilih kader, juga memberi motivasi kepada Ibu-Ibu balita untuk ikut serta dalam masalah-masalah kesehatan yang diprogramkan oleh Posyandu.
Menurut pemuka ini, dana-dana untuk penguatan pelaksanaan posyandu dari masyarakat cukup banyak, antara lain dana dana sumbangan warga yang mampu, yang dimanfaatkan untuk membiayai kegiatan Posyandu, selain itu Posyandu dalam kegiatannya masih dibiayai oleh Puskesmas. ia juga mengemukakan bahwa
bantuan-109
bantuan dari lingkungan ada dampak negatifnya terhadap semangat gotong yaitu gotong royong menurun. Karena masyarakat berpendapat bahwa pembangunan dibiayai dan diurus oleh pemerintah.
Pengobatan yang dilakukan oleh Posyandu cukup memberikan dampak positif bagi Ibu-Ibu balita dan masyarakat umum, karena menghemat biaya dan tidak sekali ke Puskesmas.
Analisis
Bapak ini adalah Ketua LPM, ia memiliki radio, televisi dan sering membaca surat kabar. Ia banyak lain memperoleh informasi tambahan antara pertanian, kesehatan, pembangunan pedesaan, berita-berita dunia dan ilmu pengetahuan. Bapak ini sebagai pemimpin di lingkungannya banyak melakukan kegiatan komunikasi interpersonal seperti menyampaikan pembangunan pesan-pesan lewat kegiatan LPM dalam bentuk komunikasi tatap muka dan kelompok. Ia mendorong masyarakat untuk mengambil peranan aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Dilihat dari segi teori partisipasi semacam ini adalah partisipasi karena dorongan. Orang berpartisipasi karena ada yang memberi dorongan.
Pengetahuan tentang Posyandu diketahui lewat radio dan televisi. Keputusan untuk melaksanakan Posyandu di Lhokseumawe dilakukan bersama-sama dengan kepala lingkungan pada waktu membicarakan rencana berdirinya Posyandu. Keputusan inovasi didasarkan keputusan atas otoritas.
110
Bapak ini berperan sebagai pengembang kepemimpinan dalam Posyandu. Ia berperan sebagai orang yang memobilisir atau membangkitkan kesadaran masyarakat. Sebagai pemobilisasi, ia sangat bermanfaat dalam masyarakat yang belum maju. Membangkitkan kesadaran membantu mengembangkan masyarakat dan membangun nilai-nilai masyarakat. Berperan juga sebagai pemberi informasi. Juga partisipasi sebagai yakni organizer pendukung masyarakat.
4. R Z P
Bapak ini adalah ialah seorang tokoh atau pemuka agama. Usianya sekarang sudah mencapai 60 tahun. Pendidikan yang pernah diperolehnya adalah tamatan SMA. Ia mempunyai 5 orang anak. Anak pertama sarjana Ekonomi dan bekerja pada salah satu perusahaan di Batam. Anak kedua tamatan SMEA dan anak ketiga tamatan STM sama-sama bekerja di Pemda Kabupaten Aceh Timur. Anaknya yang keempat tamatan Politeknik Lhokseumawe dan belum bekerja, sedangkan anak yang kelima masih kelas I SMA, dari lima orang anak beliau 4 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Bapak ini rajin belajar terutama ilmu agama, oleh karena ia rajin memimpin Pengajian al-Qur'an dan mengajar anak anak membaca AI-Qur'an. Selain sebagai pemuka agama, ia juga pensiunan PNS perpajakan.
Bapak ini sering membaca surat kabar. Berita-berita yang dibacanya adalah berita-berita tentang pedesaan, masalah kesehatan dan lain-lain. Pengetahuan tentang Posyandu pertama kali didengar melalui dokter di Puskesmas Banda Sakti. Ia proses
111
adopsi merasa Posyandu diterima melalui dokter setelah berkunjung ke Posyandu. Di Posyandu ia sering mendengar kesehatan pesan-pesan yaitu keluarga berencana; kesehatan Ibu dan anak dan (KIA), gizi, imunisasi, penanggulangan diare. Keputusan yang diambil untuk mengikuti Posyandu setelah memperoleh informasi tentang Posyandu. Baginya komunikasi interpersonal sangat memegang peranan penting dalam penyebaran Posyandu seperti saluran melalui tetangga, pemimpin formal dan informal. Posyandu melalui media komunikasi massa tdak pernah didengar.
Dalam melakukan penyebaran program kesehatan Posyandu ia berbicara tentang kebaikan dan kegunaan Posyandu. Posyandu sangat bermanfaat bagi Ibu-Ibu balita dan masyarakat umum. Ia memberi motivasi kepada masyarakat untuk mendukung Posyandu, karena Posyandu adalah milik masyarakat dan untuk kebaikan kita bersama. Menurut Bapak ini keadaan kesehatan setelah hadirnya Posyandu ada sedikit peningkatan kesehatan dan kebersihan. Sudah banyak orang yang datang ke Posyandu, baik yang jauh maupun maupun yang dekat. Orang-orang yang tidak pernah ke Puskesmas, dengan adanya Posyandu ini, mulai mengenal Posyandu.
Sebelum ada Posyandu keadaan kesehatan masih rendah, orang-orang yang jauh dari Puskesmas hanya berobat melalui dukun berobat, keberhasilan lingkungan belum teratur, ternak-ternak seperti sapi, kerbau, kuda disimpan di bawah kolong rumah. Keadaan fisik tubuh anak-anak balita pada masa lalu banyak yang kerdil, kena tetanus, banyak anak balita yang meninggal semasa masih bayi. lbu-Ibu ada yang melahirkan sampai sepuluh kali, untung kalau ada yang hidup satu sampai dua orang.
112
Penyakit cacar merajalela dan obatnya hanya dijampi-jampi oleh dukun. Ada juga yang sembuh, tetapi kebanyakan mati. Kalau ada yang hidup terdapat bekas cacar dibadannya. Penyakit lepra banyak juga tempo dulu. Setelah adanya Posyandu seluruh kepercayaan yang tidak benar terhadap pengobatan tidak ada.
Adapun keluarga berencana tempo dulu sangat dirahasiakan dan diajarkan secara rahasia. Orang-orang dulu malu mengajarkan KB secara terbuka tentang cara mengatur jarak kelahiran. Bapak ini mempunyai pengetahuan KB tradisional, anaknya hanya lima orang.
Partisipasi yang diberikan dalam kegiatan Posyandu yaitu memberi bantuan tenaga, materi sebagai penggerak utama dalam masyarakat. Semua unsur dan lapisan masyarakat dibantu dalam segala bidang. Ia menilai pengobatan Posyandu cukup baik karena tempat berobat sudah dekat, tidak perlu sekali ke Puskesmas, menghemat biaya dan tenaga. Sejak adanya Posyandu banyak yang datang bukan hanya Ibu balita tetapi juga masyarakat umum berdatangan.
Analisis
Bapak ini adalah tokoh masyarakat dan memiliki banyak informasi. Sebagai tokoh masyarakat di lingkungannya ia rnemlakukan kegiatan kornunikasi interpesonal seperti menyampaikan pesan-pesan pembangunan lewat kegiatan komunikasi tatap muka atau kelompok.
113
Pengetahuan tentang Posyandu pertarna kali didengar melalui dokter di Puskesmas. Kaputusan untuk melaksanakan Posyandu di Banda Sakti dilakukan bersama-sama dengan Ketua LMD, PKK pada waktu rnembicarakan rencana untuk mendirikan Posyandu tingkat Desa di Kecamatan Banda Sakti. Keputusan inovasi didasarkan atas keputusan otoritas.
Bapak ini berperan sebagai pengembang kepemimpinan dalam Posyandu. Ia berperan sebagai orang yang memobilisir atau membangkitkan kesadaran masyarakat. Sebagai pemobilisasi sangat bermanfaat dalam masyarakat yang belum maju. Membangkitkan kesadaran masyarakat, membantu pengembangan masyarakat dan membangun nilai-nilai masyarakat.
5. L I A
Ibu ini ialah seorang kader Posyandu Banda Sakti. Ia berumur 26 tahun. Pendidikan yang sempat diraih adalah tamatan D III. Ia sedang melanjutkan kuliah S1, sudah berkeluarga dan sudah punya anak satu orang. Suami ibu ini berusia 28 tahun Pegawai Pemda Ka bupaten Aceh Utara. Ibu ini biasa membaca surat kabar dan majalah. Berita-berita dibaca yang seperti masalah kewanitaan, kesehatan, gizi dan berita kriminil. Di radio berita yang diikuti adalah siaran pedesaan dan gizi anak balita.
Pengetahuan tentang Posyandu diperoleh melalui radio dan surat kabar. Ia memperoleh persuasi setelah mengikuti latihan kader selama tiga hari di Puskesmas.
114
Program kesehatan Posyandu yaitu keluarga berencana, kesehatan Ibu dan anak (KIA), gizi, imunisasi dan penanggulangan diare, diketahui pada waktu mengikuti latihan kader. Keputusan untuk mengkikuti Posyandu setelah dipilih dan di tentukan menjadi kader oleh Ketua Tim Penggerak PKK, dan Kepala Lingkungan.
Peyampaian pertama Posyandu kepada masyarakat adalah melalui pengumuman kepala lingkungan. Setelah itu kader bertugas melakukan suatu kegiatan kerja untuk melakukan penyuluhan dan kunjungan rumah kepada Ibu-Ibu balita. Sebagai kader ia memotivasi Ibu-Ibu balita. Setiap bulan kader melakukan kunjungan rumah. Dalam kunjungan rumah ia memberi perhatian terhadap Ibu-Ibu balita yang dua bulan berturut-turut tidak hadir di Posyandu. Anak-anak balita yang turun timbangannya diberi perhatian Ibunya. In memberi pengertian kepada Ibu-Ibu balita mengenai program kesehatan Posyandu yaitu keluarga berencana, kesehatan Ibu dan anak (KIA), gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Sistem kerja yang dilakukan dalam kunjungan rumah yaitu mengadakan pembagian kerja dengan sistem persepuluhan. Sistem persepuluhan artinya satu kader mengunjungi 10 rumah. Kader sangat memegang peranan sangat penting dalam menyebarkan Posyandu di Banda Sakti Lhokseumawe. Saluran-saluran lain membantu juga dalam yang penyebaran Posyandu seperti saluran antar tetangga, pengumuman melalui mesjid oleh Kepala Lingkungan, dan Pemuka Masyarakat.
Sebagai kader Posyandu kegiatan yang dilakukannya adalah mengadakan pendaftaran terhadap anak, balita yang baru, pencatatan status pertumbuhan anak
115
balita pada KMS, penimbangan anak balita setiap bulan, memberi nasehat pada Ibu-Ibu yang pertumbuhan balitanya berada dibawah normal, membagi vitamin A, pil tambah darah dan oralit. Disamping itu, Ibu ini juga memberi penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi Ibu-Ibu dalam aspek gizi dan kesehatan, pencatatan dan peiaporan kesehatan dan status gizi balita dan mengisi balok SKDN. Balok SKDN adalah satu grafik yang menguraikan tentang perkembangan anak balita setiap bulannya.
Kegiatan partisipasi dilakukan Ibu ini yang adalah bekerja sama dengan Kepala Lingkungan, dan Ketua Tim Penggerak PKK terjun ke masyarakat melakukan penyuluhan kepada Ibu-Ibu balita. Memberi dorongan dan menyadarkan Ibu-Ibu balita untuk mcndukung Posyandu, karena Posyandu adalah milik masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat.
Ibu ini menilai bahwa pengobatan yang diadakan oleh Posyandu cukup baik karena tempat untuk berobat sudah dekat, tidak perlu sekali ke Puskesmas, menghemat biaya dan tenaga. Dengan adanya pengobatan dalam Posyandu merupakan ialah satu faktor pendukung untuk meningkatkan partisipasi Ibu-Ibu balita dalam Posyandu. Sejak adanya pengobatan dalam Posyandu bukan hanya Ibu-Ibu balita yang berdatangan ke Posyandu tetapi masyarakat umum juga.
116
Analisis
Ibu ini adalah seorang kader Posyandu. Ia memiliki radio, sering membaca surat kabar dan menonton televisi. Ia memperoleh informasi tambahan lewat media massa antara lain kewanitaan, kesehatan, berita-berita pembangunan dan lain-lain.
Ibu ini sebagai kader Posyandu ia banyak melakukan kegiatan komunikasi interpersonal terutama dalam menyebarluaskan difusi inovasi kesehatan kepada Ibu-Ibu balita. Pola komunikasi banyak digunakan yang di Lingkungan adalah komunikasi interpersonal. Ia mendorong masyarakat untuk mengambil peranan aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan utamanya dalam pembangunan kesehatan.
Ibu ini berperan sebagai kader dalam melakukan difusi inovasi kesehatan. Berbagai peranan yang dilakukan antara lain pemberi informasi, penghubung,