BAB IV.KONTINUITAS DAN PERUBAHAN SENI REOG PADA GRUP
4.3. Pemungsian
Dalam konteks menjaga eksistensinya, maka para pendukung reog di Bangko Lestari ini, terutama kelompok reog Sri Karya Manunggal memiliki kebijakan yaitu memungsikannya dalam berbagai aktivitas kebudayaan. Strategi pemungsian itu antara lain adalah: untuk siklus kehidupan (slametan), memenuhi berbagai keperluan masyarakat pendukungnya yang bukan hanya orang Jawa saja tetapi juga Melayu, mengobati penyakit karena hasad dengki manusia melalui makhluk gaib, dan lain-lainnya. Pemungsian ini berkait erat dengan kesenian reog ini agar terus lestari.
Seperti dinyatakan Radcliffe-Brownbahawa fungsi sangat berkait erat dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus, sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian, Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian aktivitas kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakatnya. Tujuan fungsi adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal, seperti yang diuraikannya berikut ini.
“By the definition here offered „function‟ is the contribution which
a partial activity makes of the total activity of which it is a part. The function of a perticular social usage is the contribution of it makes to the total social life as the functioning of the total social system. Such a view implies that a social system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it as a condition in which all parts of the social system work together with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i.e., without producing persistent conflicts can neither be resolved not regulated” (1952:181).
Selaras dengan pandangan Radcliffe-Brown, maka reog di Desa Bangko Lestari Riau bisa dianggap sebagai bahagian dari struktur sosial masyarakat Jawa yang berada di wilayah budaya Melayu. Seni pertunjukanreog ini adalah salah satu bahagian aktivitas yang bisa menyumbang kepada keseluruhan aktivitas, yang padawaktunya akan berfungsi bagi kelangsungan kehidupan budaya masyarakat pendukungnya (dalam hal ini Jawa dan Melayu). Fungsinya lebih jauh adalah untuk mencapai tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pencapaian kondisi itu, dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi sosial dan budaya dalam masyarakat, misalnya dalam hal ini integrasi sosial, pola-pola adaptasi, saling
menghormati sebagai tuan rumah dan pendatang, serta membangun Riau secara bersama, dan lain-lainnya.
4.3.1 Pertunjukan Reog yang Berkaitan dengan Siklus Hidup (Slametan) dan Memenuhi Keperluan Masyarakat Pendukungnya
Menurut Geertz, (1960) bahwa upacara yang berkaitan dengan siklus hidup (slametan) manusia sampai sekarang masih dilaksanakan oleh orang-orang Jawa di desa Bangko Lestari dengan mengadakan pertunjukan reog yang digunakan sebagai ritual yang diyakini untuk menolak mara bahaya. Slametan terbagi ke dalam empat jenis:
(1) Yang berkisar di sekitar krisis kehidupan kelahiran, kematian, khitanan, perkawinan, dan kematian;
(2) Yang ada hubungannya dengan hari raya Islam: Maulud Nabi, Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya;
(3) Yang ada kaitannya dengan integrasi sosial desa, bersih desa (secara harfiah berarti ―pembersihan desa‖ yakni dari makhluk halus jahat); dan
(4) Slametan sela yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung kepada kejadian luar biasa yang dialami seseorang keberangkatan untuk sebuah perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung dan sebagainya.
Masyarakat yang ada di desa Bangko Lestari selain dihuni oleh orang Jawa, desa tersebut juga dihuni oleh orang Melayu. Kesenian reog ini mendapat respon pro-kontra dari suku Melayu yang ada di desa tersebut. Sebagian suku Melayu tidak suka dengan kesenian ini karena menganggap bahwa kesenian reog
ini adalah kesenian yang membawa kepada kesyirikan. Hal ini disebabkan karena ritual-ritual yang digunakan dalam kesenian reog tersebut dianggap melanggar peraturan agama Islam. Namun disamping itu ada juga orang Melayu yang senang dengan kesenian reog ini. Mereka tidak hanya sekedar manjadi penonton dalam pertunjukan reog tapi juga menanggap kesenian reog tersebut. 1
Kesenian reog tentunya tidak lepas dari aspek sosiologisnya, seperti Sumandiyo mengatakan bahwa tari merupakan ekspresi manusia yang bersifat estetis dan kehadirannya tidaklah bersifat independen.Aspek sosial yang dimaksud berkaitan dengan masyarakat dan kehidupan sosialnya yang tentunya berperan penting sebagai pendukung keberadaan tari reog sejak terciptanya serta proses pelestariannya. Ben Suharto mengedepankan bahwa sebuah tari tidak berdiri secara mandiri tetapi luluh lekat berhubungan dengan adat setempat, pandangan hidup, tata masyarakat, agama atau kepercayaan dan sebagainya dari lingkungan di mana tarian tersebut lahir (Pertiwi, 2015).
Ada suku Melayu yang percaya bahwa jika nanggap kesenian reog ini maka hidupnya akan menjadi lebih baik. Hal ini seperti yang terjadi di kecamatan Bangko Pusako, tepatnya diBalam Kilometer 8, Kecamatan Bangko Pusako ada orang Melayu yang nanggap kesenian reog karena ―sakit buatan manusia.‖ Ia sakit karena terkena ―guna-guna‖ oleh orang lain yang iri dengannya karena ia dikenal sebagai orang kaya yang sombong dan ditambah lagi dengan kemenangan anaknya yang berhasil menjadi anggota legislatif sehingga banyak yang iri dengannya. Di depan rumahnya terdapat tanaman yang bentuknya seperti boneka
1
Hasil wawancara dengan Bapak Ebdi Irwanto selaku gambuh dari grup Sri Karya Manunggal.
lalu dibungkus dengan kapas dan dibalut lagi dengan kain kafan. Setelah dibuka di dalamnya ada jarum dan paku. Kemudian disamping rumahnya diletakkan juga bungkusan ramuan yang terdapat pisau silet, jarum pentul, lidi aren, dan ijok.2
Salah satu anggota kesenian reog dipanggil untuk membantu orang tersebut agar diobati dari sakitnya. Orang yang mengobati tersebut harus dalam keadaan kesurupan. Kesurupan yang akar katanya berarti ―masuk,‖ ―memasuki sesuatu.‖ Menurut Geertz, Kesurupan adalah jenis kerasukan makhluk halus yang umum sekali. Penyakit tersebut dipercaya disembuhkan oleh makhluk halus tersebut sehingga orang tersebut sembuh dari sakitnya. Setelah itu ia melaksanakan slametan dengan nanggap kesenian reog sebagai ritual yang dipercaya dapat menjauhkan ia dari segala mara bahaya.
Kemudian ada juga orang Melayu yang nanggap kesenian reog karena ia tidak merasa betah dirumahnya, dalam arti tidak betah karena dirumahnya ia dan suaminya diganggu oleh makhluk halus. Ia menganggap bahwa dengan nanggap kesenian reog maka ia akan betah dirumahnya. Setelah mereka nanggap kesenian reog maka mereka percaya bahwa ritual dari kesenian reog tersebut membawa hidup mereka menjadi tentram dan menjadi betah dirumahnya dan dijauhkan dari mara bahaya. Mbah Bolong mengatakan sebagai berikut:
―Orang Melayu juga ada yang nanggap seni reog ini. Ada juga yang sukak nonton reog ini bahkan ada juga yang
sampe „mabok.‟ Kalo yang nanggap itu dia kerumah saya dulu. Istrinya orang Melayu dan suaminya orang Jawa. Jadi yang pingin nanggep itu istrinya. Dia gak betah dirumah barunya. Bolak- balek berantem sama suaminya tanpa sebab. Dari situ dia ngadu ke saya. Saya tau kalo itu gangguan dari makhluk halus. Jadi dia minta nanggap seni reog ini supaya dihindarkan dari gangguan makhluk
2
halus tadi. Sesudah nanggap itu, tiga hari kemudian dia datang kerumah saya dan bilang ke saya kalo dia udah nyaman dirumahnya itu.
4.3.2 Pertunjukan Reog yang Digunakan Saat Mengayunkan (Memberi Nama Bayi)
Upacara semasa masih kecil dalam kandungan (kehamilan) dikenal berbagai tahap atau macam. Slametan utama diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan. Tingkeban, yang diselenggarakan hanya apabila anak yang dikandung adalah anak pertama bagi si ibu, si ayah, atau keduanya, pada kelahiran bayi itu sendiri (babaran atau brokohan), lima hari sesudah kelahiran (pasaran) dan tujuh bulan setelah kelahiran (pitonan) (Geertz, 1960).
Pasaran merupakan slametan yang agak lebih besar yang diselenggarakan lima hari sesudah slametan pertama untuk bayi. Pasaran ini berarti memberi nama pada bayi atau yang sering disebut oleh masyarakat desa Bangko Lestari dengan sebutan mengayunkan. Dalam pemberian nama pada bayi atau mengayunkan biasanya tidak jarang mereka menanggap kesenian reog sebagai hiburan maupun sebagai doa agar dijauhkan dari marabahaya. Hal ini sudah menjadi lumrah di desa tersebut.
Waktu pelaksanaan pertunjukan biasanya sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelum dilaksanakan pertunjukannya tersebut. Biasanya si penanggap seni reog ini menghubungi atau datang langsung ke rumah Bapak Tukijo yang punya grup Sri Karya Manunggal tersebut. Hal ini dilakukan agar bisa membicarakan tentang pelaksanaan pertunjukan seperti dalam penentuan waktu yang akan diselenggarakan nantinya agar grup ini dapat menyesuaikan waktunya yang tepat.
Kemudian pihak dari grup ini juga nantinya harus tau lokasi tempat pertunjukan tersebut.
Waktu yang diadakan untuk pertunjukan seni reog biasanya sering dilakukan pada malam hari pukul 20:00 WIB sampai dengan selesai. Namun dalam penelitian yang dilakukan oleh Sitopu, (2008), bahwasanya waktu untuk melaksanaan pertunjukan reog Ponorogo adalah pada saat siang menjelang sore hari berkisar antara jam 14.00 s/d 18.00 Wib. Pertunjukan reog Ponorogo tidak pernah dilakukan malam hari, jika dilakukan malam hari pertunjukan tidak dapat berlangsung dengan baik karena dalam setiap pertunjukannya reog Ponorogo dilakukan ditempat terbuka dan luas. Siang hari merupakan waktu yang efisien karena para pemain dapat mengetahui lebih jelas lagi bagaimana tempat pertunjukan dan bisa merasakan keberadaan penonton sehingga para pemain tidak perlu khawatir akan mengenai penonton. Berbeda dengan waktu pertunjukan reog yang ada di desa Bangko Lestari, bagi mereka pertunjukan reog yang dilakukan pada malam hari merupakan waktu yang sangat tepat karena suasanya lebih menegangkan dan menarik sehingga penontonnya terbawa oleh suasana tersebut.3 Dan biasanya tidak pasti sampai pukul berapa selesai dari pertunjukan tersebut karena terkadang penontonnya masih banyak. Jika banyak yang mabuk maka biasanya selesai sampai pukul 00:00 WIB. Pertunjukannya juga biasa dilakukan di tempat-tempat terbuka seperti, lapangan atau pekarangan yang luas.
Sebelum melakukan pertunjukan, maka terlebih dahulu mempersiapkan sesaji untuk kuda kepang yaitu terdapat empat macam cangkir yang berisi, air kopi, air putih, santen dicampur dengan gula merah, dan teh. Kemudian untuk
hanoman sesajinya berupa bunga mawar merah dan mawar putih, dan untuk reog yang terdiri dari kembang dicampur dengan melati, kenanga, dan mawar. Guna dari semua sesaji tersebut adalah sebagai rasa syukur mereka kepada roh yang telah menjaga mereka dari keselamatan dan juga syarat untuk memanggil roh halus tersebut agar dapat merasuki tubuh pemain kesenian reog4.
Gambar 4.1: Sesaji untuk Ritual Pertunjukan
Para pemain gamelan memainkan musiknya sebelum para penari ditampilkan agar mengundang datangnya para penonton. Setelah penonton berkumpul di area tersebut lalu satu persatu tarian pun ditampilakan. Setelah penontonnya ramai kemudian tarian pun dimulai.
Pertunjukan dimulai dengan tarian Hanoman (Kera Putih). Tari hanoman ini jarang dimainkan pada grup-grup yang lain. Maka pada grup Sri Karya Manunggal ini menambahkan tari hanoman yang bertujuan untuk membuat penonton lebih terhibur dan tidak jenuh menyaksikan pertunjukaan tersebut.
Gambar 4.2: Penari Topeng Hanoman (Kera Putih)
Situasi penonton pada saat pertunjukan dimulai semakin ramai. Penonton yang ada di tempat tersebut ditonton dari berbagai macam kalangan dan juga tidak hanya orang Jawa melainkan juga ada suku Melayu yang senang dengan pertunjukan ini. Setelah tarian hanoman, kemudian dilanjut lagi dengan tarian Bujangganong (Ganongan).
Gambar 4.3: Penari topeng Patih Bujangganong
Tarian Bujangganongselalu ditampilkan dengan tarianreog. Setelah Bujangganong kemudian dilanjut dengan tarian Barongan (Dhadhak Merak)
bersamaan dengan Ganongan. Untuk memasangkan topeng dhadhak merak tersebut, maka pemabarong pun harus dalam posisi terlentang untuk memasukkan kepalanya dengan topeng tersebut.
Gambar 4.4: Pemain Topeng Dhadhak Merak Ketika Mulai Tampil Setelah pemain topeng Dhadhak Merak tersebut bangkit, maka patih Bujangganong pun mengajak Reog tersebut beradu. Pada grup ini menganggap bahwa Patih Bujangganong adalah tokoh yang memainkan peran yang lucu, cerdik, dan adegannya juga selalu beradu dengan Reog. Kedua tarian ini sangat disukai oleh para penonton karena adegan yang dimainkan terkesan lucu dan khususnya oleh anak-anak yang selalu berada di depan ketika adegan ini dimainkan. Bujangganong tersebut seakan akan mengejek reog dan ingin mengajak Reoguntuk bertengkar. Namun pada akhirnya Bujangganong tersebut dapat ditaklukkan oleh Reog karena kalah.
Gambar 4.6: Pertarungan Bujangganong dan Reog
Gambar 4.8: Pertarungan yang dimenangkan oleh Reog
Biasanya setiap pembarong melakukan berbagai macam atraksi dengan mengangkat para penonton diatas dhadhak merak dan dibawa berkeliling, gerakan tarian yang ditampilkan seperti silat, selain itu juga para pembarong melakukan atraksi seperti berguling-guling ditanah dengan topeng yang masih melekat.
Setelah tarian bujangganong dan reog selesai, maka dilanjutkan dengan tarian penari laki-laki berkuda (jathilan). Para penari jathilan ini berjumlah enam orang. Tarian ini berlangsung selama lebih kurang 20 menit.
Gambar 4.10: Penari Jathil laki-laki
Setiap kali tampil dalam pertunjukan kesenian ini selalu di penuhi dengan penonton yang begitu ramai baik dari kalangan anak-anak sampai orang tua. Penonton tersebut dapat bebas melibatkan diri dalam setiap pertunjukan tanpa ada batas dan hambatan. Ada penonton yang kesurupan (mabuk) disaat aksi bermain api dilakukan. Para penonton yang begitu antusias pun memasuki area lapangan dan ikut mabuk-mabukan.
Gambar 4.11: Aksi Para Pemain di Api
Dari pertunjukan reog yang telah ditampilkan tersebut terlihat bahwa sudah terjadi perubahan yang mencolok dari bentuk penyajian, waktu pertunjukan, dan juga aksi mereka di api yang merupakan kontinuitas dari perkembangan seni reog tersebut. Tidak hanya itu, fungsi dari kesenian reog tersebut juga digunakan mereka sebagai sarana untuk melakukan praktik pengobatan. Dari perubahan-perubahan tersebut terlihat bahwa Grup Sri Karya Manunggal telah mengupayakan agar kesenian reognya tetap disenangi oleh masyarakat demi keberlanjutan seni tersebut sebagai warisan dari leluhur mereka yang harusdijaga dan dilestarikan.
BAB V PENUTUP