KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GRUP
REOG
SRI KARYA MANUNGGALDIDESA
BANGKO LESTARI RIAU
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi
DISUSUN OLEH:
WIDYA INDRIANI
110905028
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORIGINALITAS
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN GRUP
REOGSRI KARYA MANUNGGAL DI DESA
BANGKO LESTARIRIAU
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah disajikan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan di sini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menggagalkan kesarjanaan saya.
Medan, Desember 2015 Penulis
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya serta kemudahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang ditulis kedalam bentuk skripsi yang berjudul: ―Kontinuitas dan Perubahan Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko
Lestari Riau.”
Tulisan ini merupakan hasil penelitian penulis yang dilakukan di Desa Bangko Lestari,Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Skripsi sarjana ini ditulisuntuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial(S.Sos.) pada Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara Medan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini belum sempurna. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan juga khususnya bagi penulis sendiri.
Medan, Desember 2015
Penulis,
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia kesehatan, kesempatan, serta kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat kerjasama, bimbingan dan juga dorongan, serta petunjuk dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis dengan penuh hormat dan kerendahan hati yang tulus mengucapkan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara; beserta Pembantu Dekan I Bapak Drs. Zakaria, MSP.; Pembantu Dekan II Ibu Dra. Rosmiani, M.A.; dan Pembantu Dekan III Drs. Edward, MSP.; berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, maka penulis dapat menyelesaikan studi.
1. Ketua Departemen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yakni Bapak Dr. Fikarwin Zuska yang telahmemberikan motivasi, masukan,dan berbagi pengetahuan kepada penulis mengenai ilmu Antropologi sosial serta membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
saran kepada penulis dengan penuh kesabaran dan kerelaan hati sampai terselesaikannya skripsi ini.
3. Bapak Drs. Zulkifli, M.A selaku dosen Penasehat Akademik yang telah memberikan motivasi, arahan, dan dukungan kepada penulis.
4. Orangtua tercinta Ayahanda Suharto dan Ibunda Dewi Murni Siregar yang telah mencurahkan kasih sayang yang tak ternilai harganya.Kiranya karunia Tuhan selalu berlimpah kepada mereka. Tidak lupa juga memberikan nasihatnya kepada penulis, doa, dukungan, dan juga begitu banyak berkorban moral materil demi keberhasilan penulis.Semua kebaikan yang telah diberikannya selalu penulis ingat. Skripsi ini dapat terselasaikan karena jasa mereka yang tak terbalaskan.
5. Kepada Bapak Awaluddin selakuKepala Desa yang telah memberi izin peneliti untuk melakukan penelitian di DesaBangko Lestari dan juga kepada Bapak Rahmat selaku Sekretaris Desa yang telah memberikan data-data mengenai penduduk setempat kepada peneliti.
6. Kepada teman-teman yang ada di Bagan Batu dan Desa Bangko Lestari yang sangat berjasa membantu peneliti. Di antaranya Abang Parino yang telah banyak memberikan informasi kepada peneliti tentang kesenian-kesenian yang ada di Bangko Lestari. Kepada sahabat saya Aseng yang selalu sabar menemani saya ke tempat lokasi penelitian dan juga memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini. Alif Zulhanif teman yang telah memberikan masukan, ide kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
maupun orang yang sudah paling lama mempertahankan grup kesenian Reog Sri Karya Manunggal beserta keluarga, Abang Beni Ilham selaku ketua beserta keluarganya, Bapak Ebdi Irwanto selaku Gambuh dalam grup Reog Sri Karya Manunggal beserta kelurga dan seluruh anggota group Sri Karya Manunggal yang terdiri dari penari, pemusik yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian demi penyelesaian skripsi ini.
8. Kepada Syugito terkasih yang ditengah kesibukannya juga sedang menyusun skripsi, namun bisa menyempatkan diri dalam memberikan dukungan, nasihat, ide, dan masukan kepadapenulis dalam penyusunan skripsi ini. 9. Buat semua saudara-saudaraku yang memberi semangat dan tak pernah putus
memberikan doanya buat penulis: Om Sunarto, Om Muhammad Hidayat, Ibu Maria Ulfa, Ibu Nur Ainun, Kak Nur Baiti Sitorus, Tulang dan Nantulangku yang ada di Jl. Cemara Asri, Bang Syafizal Siregar, S.T.; Kak Ayura Ramadhani,S.S.;Kak Yunita Adha, A.Md.; dan Kak Desy Epita Sari Siregar. 10. Buat sahabat-sahabatku Annisa Sholihati yang kusayangi Laila Ulfa, Fanny
Larasati, Claudya Alice L. Barent, Prasetyo Utomo,dan Bang Eki Gunawan S.Sos yang tak bosan-bosannya memberikan dukungan kepada saya.Winarti S.S teman satu kamar saya yang selalu setia menemani dan mengingatkan saya untuk mengerjakan skripsi. Martha Haryati Purba yang juga selalu memberikan semangat, dorongan, dan saling berbagi ilmu untuk menyusun skripsi ini sehingga bisa terselesaikan.
untuk menyempurnakan tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi sumbangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang Antropologi Sosial.
Kiranya Allah SWT. melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada saya, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Jasa-jasa baik semua pihak ini tetap penulis kenang sepanjang masa.
Medan, Desember 2015
Penulis,
RIWAYAT SINGKAT PENULIS
Identitas Diri
Nama Lengkap: Widya Indriani
T.T.L :Sei Meranti, 16 Maret 1993 Jenis Kelamin : Perempuan
Anak pertama dari: Suharto dan Dewi Murni Agama : Islam
Kewarganegaraan: Indonesia Status : Mahasiswi
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
1999-2005 : SD Negeri 028 Bahtera Makmur Bagan Sinembah 2005-2008 : MTs Al-Usmaniyah Bagan Sinembah
200-2011 : SMA Negeri 1 Bagan Sinembah
Pengalaman Organisasi
2011 : Anggota Muda HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) 2014 : Bendahara FISIP USU English Club
Seminar Pelatihan/ Kegiatan yang Pernah Diikuti Selama Masa Perkuliahan Mulai Tahun 2011 Sampai 2015
1. Peserta ―SEMINAR BEASISWA‖ Unit Kegiatan Mahasiswa Islam As-Siyasah FISIP USU pada tahun 2011 yang diadakan di Aula FISIP USU.
3. Peserta SEMILOKA ― Implementasi Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Provinsi Sumatera Utara dalam Rangka Mengurangi Kemiskinan dan Disparitas Antar Daerah di Sumatera Utara.‖ Diadakan oleh : Sekretariat Jendral Dewan Ketahanan Nasional dan Universitas Sumatera Utara pada tahun 2013.
4. Peserta Training of Fasilitator (TOF) Antropologi Sosial stambuk 2011 angkatan ke IV dalam rangka melengkapi mata kuliah Pengembangan Masyarakat Departemen Antropologi Sosial FISIP USU pada tahun 2013 di hotel Cherry Green.
5. Panitia kegiatan malam keakraban FISH Club Medan. Perkenalan anggota baru dan melelakukan berbagai macam kegiatan serta dihadiri oleh Alumni pada tahun 2014.
6. Peserta HAM Internasional yang diselenggarakan oleh IKOHI Sumatera Utara dan Universitas Sumatera Utara pada tahun 2014 di Aula Farmasi USU.
7. Peserta dalam pelatihan Peer Education tentang HIV/AIDS dan IMS di hotel Antares Medan yang diselenggarakan oleh LSM Gerakan Sehat Masyarakat pada tahun 2014.
8. Peserta dalam acara pertemuan mahasiswa USU dengan mahasiswa dari Philipina di Peradilan Semu Fakultas Hukum USU pada tahun 2014 di peradilan hukum.
9. Peserta kuliah umum ― Barus History From XII to the Mid of XVII Century: Major Findings of Indonesian-France Research Team‖ oleh Daniel Perret, Ph.D from EFEO France. Yang diselenggarakan oleh program pascasarjana FIB Sumatera Utara pada tahun 2014.
Penelitian yang Pernah Dilakukan
1. Penelitian tentang kehidupan penderita kusta di Sicanang Belawan bersama rekan-rekan Antropologi Sosial 2011 pada tahun 2012.
2. Penelitian tentang petani kopi di Sumbul, Kabupaten Sidikalang. Dalam rangka melengkapi mata kuliah Praktek Kerja Lapangan I yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi Sosial USU pada tahun 2013.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i
KATA PENGANTAR ... ii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iii
RIWAYAT SINGKAT PENULIS ... vii
DAFTAR ISI ... x
1.2.5. Kesenian Tradisional Reog Ponorogo ... 18
1.2.6. Masyarakat dan Budaya Jawa ... 21
1.3. Rumusan Masalah ... 24
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 25
1.4.1.Tujuan Penelitian ... 25
1.4.2. Manfaat Penelitian ... 25
1.5. Lokasi Penelitian ... 26
1.6. Metode Penelitian ... 26
1.6.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 26
1.6.2. Teknik Pengumpulan Data ... 29
1.6.3. Teknik Wawancara ... 30
1.6.4. Teknik Observasi ... 31
1.6.5. Pengalaman Penelitian ... 31
BAB II.TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN. 2.1. Riau Sebagai Wilayah Budaya Melayu dan Penerimaan Etnik Jawa ... 36
2.2. Kesenian Melayu Riau Sebagai Identitas Budaya ... 39
2.3. Interaksi Budaya Jawa dan Melayu di Riau ... 50
2.4. Suku Jawa di Desa Bangko Lestari, Provinsi Riau ... 51
2.5. Letak Geografis Lokasi Penelitian ... 54
2.6. Keadaan Penduduk ... 56
2.6.1. Keadaan Sosial Penduduk Kepenghuluan Bangko Lestari ... 56
2.6.2. Sarana Pendidikan ... 57
2.7. Keadaan Pemerintah Kepenghuluan Bangko Lestari ... 58
2.7.1. Pembagian Wilayah Kepenghuluan Bangko Lestari ... 58
2.8. Kondisi Kepenghuluan Bangko Lestari ... 59
2.8.1. Pemanfaatan Lahan ... 59
2.9. Sistem Religi dan Kepercayaan ... 60
2.9.1.1. Golongan Islam Abangan ... 60 3.1. Sejarah Berdirinya Grup Reog Sri Karya Manunggal ... 72
3.2. Ciri-Ciri Khusus Kesenian Reog di Desa Bangko Lestari ... 75
3.2.1. Reog Disajikan dalam Bentuk Sendratari ... 76
3.2.2. Reog Juga Berfungsi Sebagai Sarana Ritual Ruwatan dan Hiburan ... 77
3.2.3. Pendukung Pertunjukan Seni Reog ... 78
3.2.3.1. Kelompok Pemain / Penari ... 78
3.2.3.2. Kelompok Pemukul Gamelan ... 78
3.2.3.3. Kostum Pemain Kesenian Reog ... 78
3.2.3.4. Ilmu Mistik dalam Kesenian Reog ... 80
3.2.3.5. Reog Memiliki Lagu-Lagu Khusus ... 81
3.3. Tokoh-Tokoh dalam Seni Reog ... 82 SRI KARYA MANUNGGAL DAN MASYARAKAT PENDUKUNGNYA. 4.1.Kontinuitas Seni Reog di Desa BangkoLestari ... 93
4.2. Upaya-Upaya yang Dilakukan Untuk Melestarikan Kesenian Reog ... 98 (Slametan) dan Memenuhi Keperluan Masyarakat Pendukungnya ...102
BAB V. PENUTUP.
5.1. Kesimpulan ...114
5.2. Saran ...115
GLOSARIUM ...116
DAFTAR PUSTAKA ...117
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1: Penghulu Desa Bangko Lestari Dari Tahun 1996 sampai Sekarang Tabel 2.2: Data Penduduk Desa Bangko Lestari Tahun 2014
Tabel 2.3: Sarana Pendidikan di Desa Bangko Lestari Tabel 2.4: Penduduk Desa Bangko Lestari Setiap Dusun
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1: Mbah Bolong menghadap topeng Dhadhak Merak ... 66
Gambar 3.1:Tiga Orang Pengurus Grup Sri Karya Manunggal ... 75
Gambar 3.2: Topeng Seni Reog Gembong Bawono ... 81
Gambar 3.3: Penari Jathil Laki-Laki ... 83
Gambar 3.4: Tokoh Penari Topeng Dhadhak Merak ... 84
Gambar 3.5: Tokoh Bujangganong ... 85
Gambar 3.6: Tokoh Penari Hanoman (Kera Putih) ... 86
Gambar 3.7: Topeng Bujangganong ... 88
Gambar 3.8: Kuda Kepang (Eblek) ... 88
Gambar 3.9: Kendang atau Gendang ... 89
Gambar 3.10: Kenong ... 90
Gambar 3.11: Saron ... 90
Gambar 3.12: Bonang Barung dan Bonang Panerus ... 91
Gambar 3.13: Kempul ... 92
Gambar 4.1: Sesaji untuk Ritual Pertunjukan ...107
Gambar 4.2: Penari Topeng Hanoman (Kera Putih) ...108
Gambar 4.3: Penari Topeng Patih Bujangganong ...108
Gambar 4.4: Pemain Topeng Dhadhak Merak Ketika Mulai Tampil ...109
Gambar 4.5: Aksi Penari Bujangganong dan Reog ...109
Gambar 4.6: Pertarungan Bujangganong dan Reog ...110
Gambar 4.7: Aksi Bujangganong mengejek Reog ...110
Gambar 4.8: Pertarungan yang dimenangkan oleh Reog ...111
Gambar 4.9: Seorang Anak Menaiki Topeng Reog ...111
Gambar 4.10: Penari Jathil Laki-laki ...112
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kontinuitas dan perubahan pada grup reog Sri Karya Manunggal dalam melestarikan keseniannya. Pertunjukan reog yang di tampilkan oleh grup tersebut sudah sangat berbeda dengan reog yang ditampilkan di Jawa Timur. Grup tersebut adalah salah satu grup kesenian reog yang berada di provinsi Riau tepatnya di desa Bangko Lestari, Kecamatan Bangko Pusako yang mempunyai cara tersendiri agar keseniannya tetap disenangi oleh masyarakat pendukungnya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Objek penelitian ini adalah kontinuitas dan perubahan seni reog yang diwujudkan oleh grup Sri Karya Manunggalyang digunakan sebagai upacara ritual maupun sebagai hiburan di tempat penelitian. Subjek penelitian adalah tokoh masyarakat, sesepuh desa, penari, pemusik, di Desa Bangko Lestari. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi audiovisual dan visual. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa grup reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari melakukan kontinuitas berupa: (a) pertunjukan utama adalah reog sebagaimana lazim ditemui di Jawa, dengan menggunakan iringan gamelan, properti, kostum, juga unsur supernatural, dan lainnya; (b) upacara ritual dalam kesenian reog ini adalah sebagai doa kepada Tuhan agar selalu diberi perlindungan, keselamatan, dan kelancaran agar tidak terjadi halangan-halangan dalam suatu pementasan dan juga sebagai pengusir roh-roh jahat. Seterusnya, perubahan yang terjadi adalah pada:(i) pertunjukan reog pada grup Sri Karya Manunggal memasukkan unsur kesenian lain seperti hanoman dan jarankepang. (ii) Pertunjukan kelompok reog ini juga tidak lagi sebagai ekspresi kaum abangan seperti di tempat asalnya, namun ekspresi masyarakat Jawa di Riau secara umum bahkan didukung sebagian etnik Melayu, (iii) Grup Sri Karya Manunggal yang ada di Desa Bangko Lestari ini sangat terkenalsehingga menginspirasi munculnya grup-grup lain.
ABSTRACT
This research aim to describe about continuities and changes one group of performing art reogSri Karya Manunggal. The form performing this group area of study. The subjects of this study are the society leaders, dances, and high management of Bangko Lestari Village. The technique of collecting data, uses: observation as participant observer, interview, and documentation in visual and audiovisual form. The technique of data analysis use the data reduction, describe data, and decide the summary.
The results of this research, that Sri Karya Manunggal reog group, continued as: (1) main perform originally from East Java reog, which make gamelan, property, costum and supernatural element, and so on; (b) the ritual inreogas a prayer to God to give them protection, security, smoothness, and nothing obstacles in performance in a cultural events, and use as repellent to the spirit demonds. Then, the changes of performance this group are: (i) The performance of Reog Group Sri Karya Manunggal has been differ with the original performance in Ponorogo East Java. This group combine the reog original performance with the genre hanoman danceandjaran kepang.(ii) The performance of this reog group not as expressed the abangan group as in the original area, but as cultural expression of all Javanese in the Bangko Lestari Village at general, (iii) The Reog Group Sri Karya Manunggal in Bangko Lestari Riau very famous in this area, and have the impact as source inspiration established another reog performing art groups.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang sangat heterogen, karena terdiri dari banyak sekali suku bangsa (etnik).1 Keheterogenan itu dapat dilihatdari beberapa suku bangsaseperti Jawa, Batak Toba, Mandailing, Melayu, Sunda, Minangkabau, Banjar, Bugis, Makasar, Bali, Sasak, Asmat, dan lainnya. Suku bangsa memiliki asal-usulnya masing-masing dan karakteristik yang mendukung asal-usulnya.
Suku bangsa yang ada dalam suatu masyarakat2 memiliki seni budaya masing-masing, yang merupakan salah satu perwujudan dari kebudayaan. Lebih dari itu, kesenian adalah ekspresi dari budaya, yang dapat ditafsirkan, dan menjadi identitas manusia pendukungnya. Budaya tersebut mempunyai nilai -nilai sosial dan seni yang tinggi. Masing-masing budaya memiliki ciri khas tersendiri yang akan
membentuk sebuah kebudayaan lokal. Budaya lokal Indonesia sangat membanggakan
1Etnik atau kelompok etnik dalam bahasa Indonesia selalu disebut suku atau suku bangsa,
menurut Naroll adalah sebagai suatu populasi yang: (1) secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan; (2) mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya; (3) membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri; dan (4) menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi (Narrol, 1965:32).
2
karena memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan
tersendiri sebagai identitas bangsa (Rumbiyardi, 2012). Demikian pula budaya lokal
etnik Jawa, baik yang berada di Pulau jawa, maupun persebarannya di berbagai
tempat di Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia.
Jawa merupakan suku bangsa yang terbesar di Indonesia, dan menyebar ke hampir seluruh wilayahnya, dan berbagai tempat di dunia. Penyebaran itu terutama terjadi melalui program transmigrasi. Keberadaan masyarakat Jawa di berbagai wilayah di luar Pulau Jawa tentu saja menuntut mereka untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk dengan masyarakat dari suku bangsa lainnya sesama pendatang.
Orang Jawa terkenal dengan seni budayanya yang tentunya memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakatnya. Seperti yang dijelaskan Koentjaraningrat (2009),bahwa dalam kenyataannya masyarakat kesenian dan kebudayaan fisik lainnya, tidak terpisah dari sistem sosial dan adat istiadatnya. Dengan demikian, secara serentak pelaksanaan kesenian dapat mencerminkan dan memperkuat nilai-nilai, hirarki, dan struktur kebudayaan. Kesenian juga menjadi cara untuk menghubungkan diri dengan masyarakat.
seni dan keindahan. Dalam kehidupan orang Jawa, seni dan keindahan sering kali bahkan bagian yang tak terpisahkan. Seni itu baik berupa seni rupa, seni tari, maupun musik. Sedangkan keindahannya terletak pada nilai-nilai seni masyarakat Jawa. Salah satunya terdapat di dalam genre seni reog Ponorogo.
Reog Ponorogo merupakan seni pertunjukan masyarakat Jawa yang di dalamnya terdapat unsur-unsur, yang meliputi: tari, drama, dan musik. Kesenian reog mempertunjukan keperkasaan seorang pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan reog berlangsung dan juga diiringi dengan kuda-kudaan yang terbuat dari sayatan bambu atau disebut dengan kepang (tiruan binatang kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk pipih), dalam kesenian reog terdapat unsur mistik, pemakaian alat musik Jawa (gamelan), iringan gendhing reogan yang bentuknya lebih sederhana dari pada gendhing-gendhing tradisonal klasik Jawa yang lebih rumit dan diulang-ulang selama pertunjukan berlangsung.3
Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari daerah PonorogoJawa Timur yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan diwariskan secara turun-temurun di kalangan masyarakat Ponorogo hingga saat ini dan memiliki pengaruh yang kuat bahkan sampai ke luar daerah Jawa Timur dan memiliki eksistensi sebagai identitas budaya lokal maupun nasional. Dari sejak kelahirannya reog sudah memperlihatkan ciri-ciri yang khas atas kepribadiannya, dan corak daerah. Karena itulah, maka kesenian ini menjadi salah satu kesenian
3Lebih rinci lihat tulisan: (1) Th. Pigeaud (1938), berjudulJavaans-Nederlands
kebanggaan yang sangat digemari oleh segenap lapisan masyarakat, baik kanak-kanak maupun orang dewasa (Hartono, 1980).
Budaya Jawa berkembang seiring dengan penyebaran penduduk suku Jawa ke berbagai wilayah dunia, seperti di Suriname ketika masa penjajahan Belanda untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan milik Belanda. Kebudayaan Jawa juga terbentuk sejakzaman kerajaaan-kerajaan Hindu dan Budha yang berkuasa di pulau Jawa, sehingga sebagian besar hasil-hasil kebudayaan Jawa dipengaruhi oleh unsur Hindu-Budha. Selain itu ada pula filsafat suku Jawa yang disebut sebagai filsafat Kejawen.4
Mengikuti pendapat Clifford Geertz (1963) yang mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan besar berdasarkan varian budayanya yaitu abangan, santri, dan priyayi, maka dapat dikatakan bahwa pendukung reog adalah golongan abangan (Muhammad Zamzan Fauzanafi, 2005: 169). Secara kultural, kelompok ini masih mempertahankan unsur-unsur budaya pra-Islam, animisme, dinamisme, dan dicampur dengan unsur-unsur kebudayaan Hindu dan Budha. Mereka masih mempertahankan kesenian itu seperti yang diajarkan dan diwariskan oleh para pendahulunya sehingga sulit menghilangkan unsur-unsur mistis karena menganggap bahwa unsur mistis menjadi bagian tak terpisahkan dari seni reog.
Berkembangnya suatu masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, tentu saja merubah pemahaman mereka terhadap falsafah
4
hidup yang dianut. Ada pandangan yang menyatakan bahwa kebudayaan tradisional acapkali menghambat perkembangan suatu masyarakat, terutama yang berhubungan dengan proses modernisasi.Masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Sedangkan pandangan lainnya mengungkapkan bahwa kebudayaan suatu masyarakat yang diwariskan secara turun menurun dalam waktu yang lama dan tetap dipertahankan oleh anggota masyarakatnya, akan mempunyai kecenderungan untuk menolak berbagai perubahan yang datang dari kebudayaan lain dibandingkan dengan kebudayaan yang tidak dimiliki dalam waktu yang lama (Melalatoa, 1997). Pada proses kedua inilah menurut penulis reog menunjukkan eksistensinya di masa kini, termasuk di Riau.
Salah satu grup kesenian reog yang masih tetap eksis sampai sekarang ini yaitu grup Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari, Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan eksistensi kesenian reognya. Hal itu dapat dilihat dari perubahan bentuk penyajian reog yang pada dasarnya merupakan suatu usaha mempertahankan keberadaan Grup Reog Sri Karya Manunggal ini dalam kehidupan masyarakat desa Bangko Lestari, dengan demikian kehidupan kesenian tersebut masih bertahan hingga sekarang.
lain, sesuai dengan hukum alam, kontinuitas selalu pula disertai dengan perubahan-perubahan, baik yang bersifat perlahan secara evolutif maupun yang secara cepat. Perubahan bisa juga disebabkan oleh ekologi budaya. Sebagai contoh di dalam kajian ini, masyarakat Jawa yang ada di Riau adalah masyarakat pendatang yang harus melakukan perubahan secara adaptasi dengan lingkungannya yang merupakan daerah kebudayaan Melayu. Demikian pula yang diekspresikan di dalam reog di Riau ini mengalami kontinuitas dan perubahan sekaligus. Kontinuitas adalah bahagian dari mempertahankan identitas atau jati diri, sedangkan perubahan adalah sifat alamiah sebuah kebudayaan.
Ada suatu masyarakat yang melakukan seni pertunjukan sebagai kekuatan atau sebagai motivasi dalam menjalani kehidupan karena makna yang tergantung di dalamnya. Tiap-tiap daerah menghasilkan kesenian yang mempunyai ciri-ciri khusus dan mencerminkan sifat-sifat etnik daerah. Kekhususan yang ada pada tiap-tiap kesenian di daerah itulah yang menjadi identitas (Fachriya, 2009).
Identitas dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri. Identitas atau jati diri itu muncul dan ada dalam interaksi. Interaksi adalah kenyataan empirik yang dilakukan oleh seseorang dan orang lain atau dengan kelompok lain yang berupa tindakan para pelaku yang menandakan adanya hubungan antar para pelaku tersebut. Seseorang mempunyai jati diri tertentu karena diakui keberadaannya oleh seseorang atau orang dalam hubungan yang berlangsung.
1. Identitas individu idalah identitas atau jati diri yang dimiliki oleh seseorang yang ia dapat sejak ia lahir maupun dari proses interaksi dengan yang lain. Identitas yang dimiliki seseorang tidaklah hanya satu tetapi lebih dari satu. Jumlah identitas yang dimiliki seseorang akan berbeda dengan identitas yang dimiliki orang lain.
2. Identitas kolektif adalah identitas yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang mereka bangun melalui interaksi, sesama anggotanya dan untuk kepentingan bersama atau untuk kepentingan kelompok.
Dalam konteks identitas ini, reog adalah ekpresi dari identitas kolektif masyarakat Jawa, khususnya kelompok abangan. Seterusnya dalam penelitian ini dilakukan kajian tentang bagaimana seni reog itu dipertahankan demi keberlanjutan seni tersebut pada masyarakat Jawa di Desa Bangko Lestari, Rokan Hilir Riau. Dan apakah identitasnya mengacu secara ketat kepada identitas reog seperti yang ada di Ponorogo Jawa Timur, atau telah mengalami berbagai adaptasi dalam situasi dan tempat perantauan, khususnya di wilayah budaya Melayu Riau.
dipentaskan di panggung (stage), tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
ReogFestival sangat mementingkan urutan, karena berhubungan dengan cerita yang hendak dipresentasikannya. Sebaliknya, Reog Obyog tidak mementingkan urutan pementasan dan tidak mempresentasikan cerita tertentu. Urutan ReogFestival, selalu dimulai dengan datangnya dua orang warok yaitu warok tua dan warok muda, 6 orang jathilan, 1 orang prabu Klono Sewandono, barongan, lalu dengan pertempuran, dan diakhiri dengan kekalahan Singobarong oleh Klono Sewandono. Dalam ReogObyogan, pertunjukan bisa dimulai dengan penampilan warok terlebih dahulu (kalau ada), bisa pula jathil yang muncul pertama, atau bujangganong, kemudian barongan(Fauzannafi, 2005).
Pertunjukan reog pada Grup Sri Karya Manunggal ini seperti Reog Obyog yang tidak mempresentasikan cerita apapun, kecuali kegembiraan, tontonan, dan hiburan. Namun pertunjukan Grup Reog Sri Karya Manunggal ini sedikit ada berbeda dan mempunyai karakteristik tersendiri yaitu dapat dilihat dari adanya tariannya yang beranekaragam agar tidak membuat kejenuhan penonton. Urutan tarian yang ditampilkan menjadi: Tari Hanoman (Kera Putih), Tari Bujangganong, dan Tari Barongan (Dhadhak Merak), serta Tari Jathil Laki-laki (prajurit berkuda).
penanggap seni reogdan membesarkan nama grupnya sendiri tanpa mementingkan sejarah atau segi pertunjukannya. Sementara Grup Sri Karya Manunggal tidak ingin ada persaingan, karena mereka anggap bahwa seni bukan untuk persaingan melainkan harus guyub (bersatu).5
Pertunjukan grup Sri Karya Manunggal ini ditampilkan pada hari-hari tertentu yang diadakan bersamaan dengan hajat seperti slametan, bersih desa, pesta perkawinan, khitanan (sunat Rasul), tahun baru Islam (Muharram), mengayunkan (memberi nama pada bayi), perayaan ulang tahun, dan lain sebagainya. Mereka menjaga dan melestarikan seni tersebut dengan cara, menjadikan kesenian reog sebagai hobi mereka, hiburan, ataupun usaha pelestarian dalam bentuk perkumpulan atau sanggar.
Penulis memilih grup ReogSri Karya Manunggalsebagai bahan penelitian antropologis ini,karena merupakan grup yang paling terkenal dan sering mengadakan pertunjukan reog di berbagai tempat seperti dalam acara pernikahan, khitanan, slametan, perayaan ulang tahun, bersih desa dan sebaginya yang terdapat di kecamatan Bangko Pusako. Kemudian pertunjukannya sangat menarik perhatian masyarakat pendukungnya karena dalam setiap pertunjukannya mereka membawakan dengan sangat atraktif juga mengibur banyak penonton sehingga dimana pun mereka melakukan pertunjukan biasanya selalu ramai dikunjungi oleh penonton baik anak-anak, remaja, sampai orang dewasa.Oleh karena itu, penulis menganggap grup ini sangat cukup berpengalaman dalam melakukan pertunjukan reog karena merupakan grup yang paling lama yang ada di desa tersebut dan
5
sampai sekarang masih tetap melestarikan keseniannya. Dengan demikian kelompok ini merupakan salah satu kelompok kesenian reog yang mempunyai cara tersendiri untuk mempertahankan keseniannya demi keberlanjutan dari seni tersebut dalam mendukung identitas Jawa di desa Bangko Lestari.
1.2Tinjauan Pustaka
1.2.1 Penelitian Relevan
Penelitian ini menggunakan sarana (sumber data) yang nantinya akandikaitkan dan dibandingkan dengan hasil penelitian dilapangan.Kajian pustaka merupakan salah satu dari rangkaian penelitian yang berguna untuk mengetahui bagaimana penelitian mengenai kontinuitas dan perubahan seni reogpada grup Sri Karya Manunggal di desa Bangko Lestari dan bagaimana mereka beradaptasi serta mempertahankan keseniannya hingga saat ini. Selain itu juga menggunakan dari penelitian-penelitian yang berkaitan dengan seni reog terutama yang berkaitan dengan kontinuitas dan cara mempertahankan seni reog tersebut.
Beberapa penelitian sebelumnya seperti; Mayantuti (2008), Fitrianto (2013), Widyastuti (2013), Kurniawati (2014), Oktyawan (2014), dan Gunawan (2015) merupakan penelitian–penelitian yang dapat dijadikan sebagai acuan atau referensi sertayangrelevan dengan penelitiantentang bagaimana mempertahankan seni reog demi keberlanjutan kesenian tradisional di zaman modern seperti saat ini. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Gunawan (2015) dengan judul penelitian ―Fungsi Kesenian Reog di Desa Kolam‖ yang mengungkapkan bahwa
dapat bertahan yaitu dengan merekrut anggota baru dan tidak memberikan beban biaya dalam bentuk apapun kepada orang yang ingin bergabung dalam kelompok seni reog Ponorogo di Desa Kolam.
Selain oleh Gunawan (2015), penelitian yang berkaitan dengan reog juga dilakukan oleh Fitrianto (2013) yang berjudul ―Perubahan Makna dan Fungsi Reog Banjarharjo dalam Kehidupan Masyarakat‖ yang didalamnya juga
diungkapkan tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk melestarikan kesenian reog Banjaharjo yaitu:
(1) Melakukan penambahan jenis musik jaiponguntuk bersaing dengan musik dangdut yang pada saat itu lebih menarik minat masyarakat di Desa Banjarharjo. Selain itu pelaku reog Banjarharjo juga melakukan kerjasama dengan menggabungan kesenian lain yaitu kuda lumping yang juga berasal dari Desa Banjarhajo.
(2) Upaya mengubah jenis pertunjukan juga dilakukan oleh pelaku ReogBanjarharjo yaitu dengan melakukan pertunjukan setiap sebulan sekali dandapat dilakukan tidak hanya untuk ruwatan rumah. Upaya ini dilakukan selainuntuk menambah daya tarik dari masyarakat juga sebagai upaya untuk lebih mendekatkan reog Banjarharjo kepada masyarakat yang pada saat itu lebihtertarik pada musik dangdut.
bergabung untuk meramaikan pertunjukan sehingga tidak kalah bersaing dengan dangdutan yang pada saat itu menjadi daya tarik masyarakat Desa Banjarharjo. Masuknya kuda lumping pada Reog Banjarharjo membuat kesenian Reog Banjarharjo menjadi sebuah kesenian yang beraneka ragam.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Supariadi dan Warto (2012) yang berjudul ―Regenerasi Seniman Reog Ponorogo Untuk Mendukung
Revitalisasi Seni Pertunjukan Tradisional dan Menunjang Pembangunan Industri Kreatif‖ mengungkapkan bahwadalam usaha mewujudkan pembangunan nasional
yang berkarakter atau berlandaskan pada nilai-nilai budaya bangsa, pelestarian dan pengembangan seni tradisi sebagai kekayaan budaya mutlak diperlukan. Seni tradisi merupakan modal sosial budaya yang cukup penting dalam pembangunan bangsa ke depan. Oleh karena itu, agar seni pertunjukan tradisional seperti Reog Ponorogo sebagai salah satu produk dan identitas budaya bangsa dapat bertahan dan lestari, maka harus dilakukan regenerasi seniman dengan sebaik-baiknya. Regenerasi seniman Reog Ponorogo merupakan persoalan krusial dan mendesak dilakukan karena dua hal: Pertama, agar supaya seni tradisi tidak kehilangan generasi penerus yang menjadi pemangku kebudayaan tersebut sehingga perlu menumbuhkan apresiasi dan kecintaan generasi muda terhadap warisan tradisi yang bernilai tinggi mutlak dilakukan. Kedua, agar supaya kesenian Reog Ponorogo tetap diakui menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia sehingga tidak mudah diklaim atau diakui kepemilikannya oleh pihak/bangsa lain.
masyarakat Desa Wagir Lor tetap melaksanakan ritual sebelum pementasan di era modernisasi sekarang ini yaitu karena mereka masih percaya kepada cerita atau mitos yang beredar. Kepercayaan mereka yaitu menganggap ada roh penunggu barongan yang harus di akui keberadaannya. Karena manusia hidup di dunia ini disadari atau tidak mereka selalu berdampingan dengan alam gaib. Bahwa sudah digariskan oleh yang kuasa bahwa roh gaib, jin, dan setan itu ditakdirkan untuk mengganggu manusia di dunia. Mereka percaya bahwa dengan ritual memberikan sesaji sebelum pementasan reog dapat menghindarkan mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan saat pementasan yang berasal dari gangguan-gangguan makhluk halus.
Kemudian Perubahan yangterjadi yaitu pada peran tokoh seni Reog dahulu dan sekarang, tetapi eksisitensi ritual tetap dilaksanakan sebelum pementasan dan tidak pernah goyah oleh perubahan zaman. Dulu warok merupakan orang yang sakti dan memiliki pantangan bergaul dengan lawan jenis, bila hal itu dilanggar akan menghilangkan kesaktian mereka. Oleh karena itu, warok zaman dulu memelihara seorang gemblak yaitu remaja laki-laki muda dan tampan yang berperan sebagai penari saat pementasan Reog berlangsung. Di zaman sekarangistilah gemblak tersebut sudah tidak ada karena dirasa telah menyalahi norma yang ada di masyarakat (ibid).
perubahan kesenian reog yang diwujudkan oleh grup Sri Karya Manunggal di desa Bangko Lestari dalam melestarikan keseniannya.
1.2.2 Kontinuitas
Kontinuitas dapat diartikan sebagai kesinambungan; kelangsungan; kelanjutan; dan keadaan kontinu. Perkembangan bersifat kontinuitas (berkesinambungan) ialah bahwa perkembangan itu berlangsung secara bertahap dan terus menerus.
Soemardjan (dalam Syaripudin, 2013) mengatakan bahwa perkembangan kesenian pada umumnyamengikuti proses perubahan yang terjadi dalam kebudayaan suatu masyarakat. Sebagai salah satuunsur kebudayaan, maka kesenian akan mengalami hidup statis karena diliputi oleh suasanatradisionalistik. Sebaliknya, kesenian akan selalu berkembang apabila kebudayaannya juga selalu bersikap terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Karenanya, kebudayaan itu bersifat dinamis,akan selalu berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Dalam setiap kebudayaan akan selaluada kebebasan kepada para individunya untuk memperkenalkan variasi-variasi dalam cara hidup, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk maupunkarena penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
kesenian tradisional jelas akanmengalami perubahan dari berbagai segi, termasuk dari segi artistiknya dan maknanya.
1.2.3 Perubahan
Suatu kebudayaan tidaklah pernah bersifat statis, melainkan selalu berubah. Hal ini berhubungan dengan waktu, bergantinya generasi, serta perubahan dan kemajuan tingkat pengetahuan masyarakat. Merriam (1964:172) mengemukakan bahwa perubahan dapat berasal dari dalam lingkungan kebudayaan atau internal, dan perubahan juga dapat berasal dari luar kebudayaan atau eksternal. Perubahan secara internal merupakan perubahan yang timbul dari dalam dan dilakukan oleh pelaku-pelaku kebudayaan itu sendiri dan disebut juga inovasi. Sedangkan perubahan eksternal merupakan perubahan yang timbul akibat pengaruh dari luar lingkup kebudayaan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Geertz, bahwa berbagai upaya dilakukan oleh para pelaku seni untuk terus dapat menciptakan karya seni yang unik dan menarik. Hal inilah yang menjadikan karya-karya seni bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan.
Selain itu, teori perubahan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini juga bertitik tolak dari persepektif materialistis. Marx6 (dalam Lauer, 1993:205) secara ringkas menghimpun mekanisme perubahan dengan ungkapan: ―Kincir
6Marx atau nama lengkapnya Karl Marx adalah filosof Eropa dari Jerman, yang
angin menimbulkan masyarakat feodal; mesin uap menimbulkan masyarakat kapitalis-industri.‖Selanjutnya Velben dan Ogburn yang sangat dipengaruhi oleh Marx, menekankan pentingnya pengaruh teknologi terhadap perubahan. Velben menyatakan bahwa pola keyakinan dan perilaku manusia, terutama dibentuk oleh cara mencari nafkah dan mendapatkan kesejahteraannya, yang selanjutnya disebut sebagai fungsi teknologi. Ogburn menyatakan bahwa manusia selamanya berupaya memelihara dan dan menyesuaikan diri dengan alam yang senantiasa diperbaharui oleh teknologi.
Seterusnya, Velben dan Ogburn (dalam Lauer, 1993:112-116) menunjuk-kan bagaimana cara perubahan teknologi menimbulmenunjuk-kan masalah bagi manusia dalam 4 (empat) hal. Pertama, teknologi sebagai satu faktor yang sangat mempengaruhi perubahan. Pandangan ini lebih mencerminkan pandangan Ogburn. Di sisi lain Velben menganggap teknologi sebagai sebagai pendorong perubahan. Kedua, teknologi sebagai kekuatan berpengaruh yang tidak terelakkan terhadap perubahan. Ketiga, teknologi sebagai ―juru selamat.‖ Keempat, teknologi sebagai anti agama Kristen.
pabrik gelas, bersamaan dengan perubahan teknologi yang sangat kecil. Sumber perubahannya adalah pekerja baru dari etnik berlainan dengan asal etnik pekerja lama.
1.2.4Seni Sebagai Simbol
Manusia dan seni adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Suatu kelompok masyarakat dalam proses menjalani kehidupannya akan berkreasi dan menciptakan sebuah kebiasaan yang lambat laun menjadi kebudayaan. Kebudayaan menurut ahli antropologi simbolik yaitu keseluruhan pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman atau penginterprestasi keseluruhan tindakan manusia (Koentjaraningrat, 2009)
Menurut Geertz, kebudayaan pada intinya terdiri dari tiga hal utama yaitu sistem pengetahuan atau sistem kognitif, sistem nilai atau sistem evaluatif, dan sistem simbol yang memungkinkan pemaknaan atau interprestasi. Adapun titik pertemuan antara pengetahuan dan nilai yang memungkinkan oleh simbol ialah yang dinamakan makna (system of meaning). Dengan demikian, melalui sistem makna sebagai perantara, sebuah simbol dapat menerjemahkan pengetahuan menjadi nilai dan menerjemahkan nilai menjadi pengetahuan.
dalam bermacam-macam bentuk, seperti seni lukis, seni rias,seni patung, seni sastra, seni tari, seni vokal dan lain sebagainya.
Simbol atau tanda dapat dilihat sebagai konsep-konsep yang dianggap oleh manusia sebagai ciri khas sesuatu yang lain. Suatu simbol menstimulasi atau membawa suatu pesan yang mendorong pemikiran atau tindakan. Begitu juga yang terdapat pada masyarakat desa Bangko Lestari yang penuhdengan simbol-simbol dalam upacara ritual kesenian Reog Ponorogo.
1.2.5 Kesenian Tradisional Reog Ponorogo
Menurut Kayam (2000:339-340) kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat mempunyai fungsi yang penting. Fungsi tersebut dapat terlihat dari dua segi yaitu dari segi wilayah jangkauannya dan dari segi fungsi sosialnya. Dari segi wilayah jangkauannya kesenian tradisional dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan dari segi fungsi sosialnya, daya tarik pertunjukan rakyat terletak pada kemampuannya sebagai pembangun dan pemelihara solidaritas kelompok. Dari pertunjukan rakyat masyarakat dapat memahami kembali nilai-nilai dan pola perilaku yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Namun peran seni pertunjukan teradisional tersebut menghadapitantangan besar. Arus modernisasi yang mengalir sampai ke desa-desa membawa serta berbagai bentuk seni baru yang merupakan saingan dari bentuk seni tradisional yang sudah ada. Bentuk bentuk seni baru ini antara lain adalah film, musik dangdut, acara-acara televisi, dan acara-acara radio.
bangunan yang hampir rubuh, dan suara gamelan reog yang bergemuruh itulah yang diidentikan dengan suara bata rubuh (Fauzanafi, 2005:169).Berbicara mengenai reog akan menuju kepada daerah di Indonesia yaitu Ponorogo salah satu daerah yang memiliki kesenian reog.
Menurut Badudu (dalam Fitrianto, 2013),reogdikenal sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat dan merupakan tarian yang menghibur. Sifatnya hiburan dan mengandung sindiran-sindiran terhadap kejadian di masyarakat.
Reog merupakan salah satu seni pertunjukan yang ada di Indonesia. istilah seni pertunjukan dapat diartikan sebagai ―tontonan‖ yang memiliki nilai seni,
seperti drama, tari, dan musik, yang disajikan sebagai pertunjukan didepan penonton. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kesenian atau seni pertunjukan yang merupakan ciri khas masyarakatnya. Ia tidak sekedar hadir sebagai tontonan, tetapi juga terkait dengan pandangan dan kebutuhan hidup di dunia keseharian (nyata), ritual, maupun dunia simbolis dari masyarakatnya (ibid).
Menurut Supardjan (dalam Supriyatun, 2014)berdasarkan fungsinya tari tradisional dibagi menjadi tigabagian yaitu:
(1) Tari sebagai sarana upacara. Fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan media persembahan dan pemujaan terhadap kekuasaan- kekuasaan yang lebih tinggi dengan maksud untuk mendapatkan perlindungan atau mengusirnya, demi keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup masyarakat.
(3) Tari sebagai pertunjukan. Tari sebagai pertunjukan bertujuan untuk memberi hidangan pertunjukan tari untuk selanjutnya diharapkan dapat memperoleh tanggapan dari penontonya.
Kesenian teater tradisional (Supardjan, ibid), termasuk reog pada masyarakat religi asli difungsikan sebagai:
1. Pemanggil kekuatan gaib;
2. Menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertun-jukan;
3. Memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat;
4. Peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawannya;
5. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang; dan
6. Pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu.
Muhammad Fauzannafi, (2005) dalam tulisannya yang berjudul ―Reog Ponorogo, Menari di antara Dominasi dan Keragaman‖ mengungkapkan bahwa kelompok reog, simpatisan, dan penggemar reog disebut sebagai ―Tyang ho‟e‖ (kelompok abangan). Hal itu terlihat dari para senggakan, yaitu yang bertugas mengeluarkan teriakkan: ―Hok’e… hok’e…hok’e...‖ agar pentas reog semakin semarak. Selain itu mereka juga menggunakan minuman keras yang merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari pertunjukan reog obyogan (reog desa) yang tujuan diedarkannya minuman keras, memang bukan untuk ―mabuk
Hartono (1980) dalam bukunya yang berjudul ―Reyog Ponorogo‖
menyebutkan bahwa reog Ponorogo memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan
kesenian reog dengan kesenian lainnya. Ciri tersebut diantaranya yaitu adanya
formasi iring-iringan dalam kesenian reog dan terjadi susunan sebagai berikut: (1)
Kelompok pengawal; kelompok ini terdiri atas tiga atau empat orang yang
berpakaian lengkap Ponoragan (bergaya Jawa Ponorogo). Mereka berjalan paling
depan sekaligus berfungsi sebagai pembuka jalan. (2) kelompok pendamping;
kelompok ini bertugas untuk menjaga penari reog dan menjaga keamanan maupun
hidupnya permainan. (3) kelompok penari; mereka terdiri atas pemain Barongan,
penari topeng Bujangganong, dan penari kuda. (3) kelompok pengiring; kelompok
ini tidak terbatas jumlah anggotanya. Mereka berbaris paling belakang yang
tugasnya juga membantu hidupnya permainan. Dari kelompok-kelompok tersebut
maka pertunjukan reog penuh riang dan salah satu keunggulan dari kesenian reog
Ponorogo.
1.2.6Masyarakat dan Budaya Jawa
Jawa senang berkumpul, selalu bersama-sama, mereka seolah-olah memiliki keterikatan kuat dengan tanah kelahirannya, sehingga enggan meninggalkan daerahnya untuk pergi merantau ke luar Jawa. Apabila terjadi perpindahan, maka yang diharapkan adalah bedol desa, artinya kepindahan seluruh masyarakat sedesa, sehingga tempat dan keluarga sebagaimana di desanya (Saadah dan Sinsar, 1999).
Menurut Appadurai dan Hannerz (dalam Abdullah, 2006) telah menegaskan bahwa keberadaan seseorang dalam lingkungan tentu di satu pihak mengharuskan penyesuaian diri yang terus menerus untuk dapat menjadi bagian dari sistem yang lebih luas.Di lain pihak,identitas asal yang telah menjadi bagian sejarah kehidupan seseorang tidak dapat ditinggalkan begitu saja, bahkan kebudayaan asal cenderung menjadi pedoman kehidupan di tempat yang baru.
Reproduksi kebudayaan merupakan proses penegasan identitas budaya yang dilakukan oleh pendatang, yang dalam hal ini menegaskan keberadaan kebudayaan asalnya. Parsudi Suparlan, misalnya, telah memperlihatkan adanya berbagai bentuk ekspresi kebudayaan yang mengalami proses intensifikasi oleh orang Jawa yang ada di Suriname (Suparlan,1995). Demikian pula orang-orang Jawa yang ada di berbagai lokasi transmigrasi, di lingkungan-lingkungan sosial budaya yang berbeda dengan kebudayaan Jawa, kebudayaan dalam konteks semacam ini dihadirkan melalui simbol-simbol yang menegaskan kehadiran identitas kelompok.
peradaban, kebutuhan manusia akan seni ini menjadikan seni tidak terpisahkan dengan unsur-unsur penunjang kehidupan manusia yang lain seperti teknologi, ilmu pengetahuan, bahasa, ekonomi, dan kepercayaan. Kesemuanya ini saling terkait dan berfungsi sebagai penunjang kehidupan manusia. Kecerdasan manusia yang terus meningkat memicu manusia untuk menjadikan pemenuhan kebutuhan sebagai tantangan. Begitu pula dengan kebutuhan akan kesenian. Berbagai upaya dilakukan oleh para pelaku seni untuk terus dapat menciptakan karya seni yang unik dan menarik, serta memenuhi kebutuhan pasar. Hal inilah yang menjadikan karya-karya seni bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan.
Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa sifat khas dalam suatu kebudayaan dapat dimanifestasikan dalam unsur-unsur terbatas terutama melalui bahasa, kesenian, dan upacara. Unsur-unsur lainnya sulit untuk menonjolkan sifat-sifat khas kebudayaan suatu bangsa atau suku bangsa. Penanda identitas dari kebudayaan suatu kelompok etnis dapat dilihat dari adat istiadat yang secara bersama disepakati dan dijalankan.
Suatu kelompok atau grup juga merupakan suatu masyarakat karena memenuhi syarat-syaratnya, dengan adanya sistem interaksi antara para anggota, dengan adanya adat istiadat serta sistem norma yang mengatur interaksi itu, dengan adanya kontinuitas, serta dengan adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota tadi. Namun, selain ketiga ciri tadi, suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok juga mempunyai ciri tambahan, yaitu organisasi dan sistem pimpinan, dan selalu tampak sebagai kesatuan dari individu-individu pada masa-masa yang secara berulang berkumpul dan kemudian bubar
lagi(Koentjaraningrat, ibid).
Mengikuti pendapat Malinowski yang menyebutkan bahwa berbagai unsur kebudayaan yang ada dalam masyarakat manusia berfungsi untuk memuaskan suatu rangkaian hasrat naluri akan kebutuhan hidup dan makhluk manusia. Dengan demikian, unsur ―kesenian‖ misalnya, mempunyai fungsi guna
memuaskan hasrat naluri manusia akan keindahan; unsur sistem pengetahuan untuk memuaskan hasrat naluri manusia untuk tahu.
1.3Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan di awal, maka yangmenjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana eksistensi reog yang diwujudkan oleh grup Sri Karya Manunggal di desa Bangko Lestari?
1. Bagaimana bentuk reog yang dipertunjukkan oleh grup Sri Karya Manunggal di desa Bangko Lestari Riau?
2. Bagaimana kontinuitas dan perubahan kesenian reog yang diwujudkan grup Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari?
3. Upaya-upaya apa saja yang dilakukan grup Sri Karya Manunggal untuk melestarikan kesenian reog di Desa Bangko Lestari?
1.4Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan pertunjukan reog sebagai identitas yang mempunyai ciri-ciri khusus dalam pertunjukannya yang ada di desa Bangko Lestari.
2. Untuk mengetahui perubahan dankontinuitas yang ditampilakn grup Sri Karya Manunggal di desa Bangko Lestari yang merupakan grup yang paling menonjol di desa tersebut dan masih berupaya mempertahankan keseniannya dengan cara tersendiri agar kesenian tersebut tetap diminati oleh para penggemarnya.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk memberikan infomasi kepada pihak-pihak yang terkait dalam
2. Untuk memperkaya bahan bacaan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik khususnya Departemen Antropologi Universitas Sumatera Utara.
1.5Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Bangko Lestari, Kecamatan Bangko Pusako Kabupaten Rokan Hilir Propinsi Riau. Penelitian dilakukan khususnya di Desa Bangko Lestari yang terdapat kesenian reog dengan kelompok atau grupnya yang bernama Sri Karya Manunggal yang terkenal paling populer dan disukai banyak orang dan juga di Desa lainnya di Kecamatan Bangko Pusako yang ketika peneliti melakukan observasi sedang menggelar acara hiburan reog ini. Peneliti tidak membuat jadwal penelitian secara detail, tetapi disesuaikan dengan waktu apabila adanya penyelenggaran acara seni reogdi daerah tersebut. Peneliti mengetahui adanya penyelenggaraan seni reog berdasarkan informasi dari masyarakat.
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan dengan jelas sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, kelompok tertentu, menentukan frekuensi atau penyebaran dari suatu gejala lain dalam suatu masyarakat.7
7Koentjaraningrat, 1990. Sejarah Teeori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis suatu keadaan atau status fenomena secara sistematis dan akurat mengenai fakta dari pertunjukan dan konteks sosial Reog Ponorogopada kebudayaan masyarakat Jawa di Desa Bangko Lestari. Denzin dan Lincoln menyatakan secara eksplisit tentang penyelidikan kualitatif sebagai berikut.
Lebih jauh Nelson mengkonsepkan mengenai apa itu penelitian kualitatif itu menurut keberadaannya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah seperti yang diuraikan berikut ini.
Qualitative research is an interdisiplinary, transdisiplinary, and sometimes counterdisiplinary field. It crosscuts the humanities and the social and physical sciences. Qualitative research is many things at the same time. It is multiparadigmatic in focus. Its practitioners are sensitive to the value of the multimethod approach. They are commited to the naturalistic perspective, and to the interpretive understanding of human experience. At the same time, the field is inherently political and shaped by multiple ethical and political positions (Nelson dan Grossberg, 1992:4, dalam Denzin dan Lincoln, 1995:33).
Menurut Nelson dan Grossberg seperti dikemukakan di atas, penelitian kualitatif adalah kajian keilmuan yang bersifat interdisiplin, transdisiplin, dan kadangkala kounterdisiplin. Pendekatannya selalu melibatkan ilmu-ilmu kemanusiaan, sosial, dan eksakta. Penelitian kualitatif melibatkan berbagai bahan kajian pada saat yang sama. Penelitian ini menggunakan multiparadigmatik. Para pendukung metode ini sangat peka terhadap nilai-nilai yang dianut masyarakat yang diteliti, serta berbagai metode pendekatan. Para penelitinya sangat mendukung perspektif alamiah atau seperti apa adanya. Begitu juga dengan menafsirkan apa yang terjadi dalam pengalaman manusia.
Bagi aliran teori fenomenologi berpadangan bahwa apa yang tampak di permukaan, termasuk pola perilaku manusia sehari-hari hanyalah suatu gejala atau fenomena dari apa yang tersembunyi di ―kepala‖ sang pelaku. Perilaku apa pun
Demikian juga dalam rangka penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan kajian yang bersifat multidisiplin. Kemudian penelitian ini juga pendekatan multiparadigmatik yang bersumber dari para informan dan masyarakat pendukung kebudayaan reog ini. Penulis meneliti secara alamiah saja apa yang terjadi di lapangan penelitian. Kemudian penulis menafsirkan apa yang dilihat, dikumpulkan tersebut dengan ilmu antropologi dan ilmu-ilmu lainnya.
1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengumpulkan data-data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari lapangan melalui wawancara kepada informan awal, Informan kunci, informan biasa, observasi, dokumentasi, dan perekaman pertunjukan.
Data perekaman dilakukan di rumah kediaman salah satu warga yang menyelenggarakan acara mengayunkan (memberi nama pada bayi) dengan menanggap kesenian reog pada tanggal 29 Mei 2015. Dalam hal ini penulis menggunakan alat perekam kamera untuk mengambil foto atau video pada saat pertunjukan dimulai.
Sedangkan data sekunder akan peneliti dapatkan melalui sumber dari buku, majalah, jurnal, artikel, skripsi, sumber online atau internet,dan sumber-sumber lain yang relavan dengan topik dan masalah penelitian.Demikian teknik pengumpulan data yang penulis lakukan.
1.6.3 Teknik Wawancara
1.6.4 Teknik Observasi
Observasi dilakukan untuk dapat memperoleh gambaran tentang masyarakat yang sebenar-benarnya baik tindakan, percakapan, tingkah laku dan akan dilakukan dengan keterlibatan peneliti secara langsung dalam kehidupan masyarakat yang diteliti seperti kegiatan, percakapan dan pekerjaan mereka. Peneliti juga akan berusaha membangun rapport dengan orang yang terlibat dalam suatu kegiatan kesenian reog di Desa Bangko Lestari.
Dalam melakukan observasi di lapangan, penulis bertindak sebagai pengamat terlibat (participant observer). Dalam hal ini, penulis melakukan sebisa mungkin apa yang dilakukan para seniman reogdi desa ini. Adapun yang penulis lakukan dalam hal ini adalah mencoba pengalaman memakai topeng Bujangganong, demikian pula penulis ikut dalam sesi latihan memainkan saron dalam ensambel gamelan pada kelompok reog ini. Tujuannya adalah sebagai pendekatan dalam konteks penelitian yang mengalir apa adanya.
1.6.5 Pengalaman Penelitian
Bang Parino. Ia pun menyarankan saya agar melakukan penelitian pada grup tersebut karena dianggapnya grup tersebut juga grup yang paling lama dan sering tampil sampai ke luar daerah.
Esok harinya saya bersama teman saya mendatangi salah satu rumah dari anggota group Sri Karya Manunggal yaitu Bapak Tukijo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Bolong dimana ia adalah seorang seniman yang paling tua di grup tersebut dan sampai sekarang masih mempertahankan keseniannya tersebut. Semua peralatan dan perlengkapan pemain disimpan dirumah Mbah Bolong. Pada tanggal 5 Mei 2015 ini pertama kalinya saya datang kerumah Mbah Bolong membawa buah-buahan bersama teman saya Aseng dengan menggunakan sepeda motor ke tempat lokasi tersebut dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. Kedatangan kami disambut oleh seorang gadis dan ibu-ibu yang sudah tua. Mereka menanyakan kedatangan saya dan kebetulan Mbah Bolong tidak ada dirumahnya karena belum pulang dari kerjanya. Mbah Bolong bekerja sebagai petani perkebunan karet milik sendiri dan juga dikelolanya sendiri. Pada waktu itu pun saya memperkenalkan diri dan menceritakan tujuan kedatangan saya kepada ibu dan gadis tersebut. Lalu ia pun menyuruh kami untuk menunggu Mbah pulang karena tidak lama lagi akan segera pulang dari kerjanya.
teman saya. Saya dan teman saya bersalaman dan memperkenalkan diri kepada Mbah Bolong. Lalu saya menceritakan maksud dan tujuan penulis datang kerumahnya dan ternyata ia sudah mengetahuinya. Ia tahu dari Bang Parino yang sudah terlebih dahulu menelfon Mbah Bolong bahwasanya ada yang ingin melakukan penelitian pada grup kesenian reognya tersebut. Kemudian saya pun mulai berbincang mengenai grup kesenian yang dikelolanya tersebut. Tak lama kemudian tetangga Mbah Bolong menghampiri kami. Walaupun ia tidak anggota dari pemain reog, ternyata ia juga paham mengenai kesenian reog. ia juga merupakan teman dekat Mbah Bolong di desa itu.
Mbah Bolong memperkenalkan kepada saya tentang satu persatu peralatan pemain kesenian reognya beserta maknanya . Mulai dari jaran kepang (eblek), topeng Hanoman, topeng Bujangganong, dan terakhir topeng Dhadhak Merak. Mbah Bolong mengatakan bahwa semenjak masuknya kesenian reog ini penanggap semakin sering datang dan penontonnya pun semakin ramai. Dan diitambah lagi dengan kesenian Hanomannya itu. Ini baru pertama kali saya mengetahui bentuk-bentuk asli topeng-topeng tersebut terutama topeng dhadhak merak yang besar itu dan ditutupi oleh kain berwarna merah. Setelah asik-asik mengobrol dengan Mbah Bolong dan temannya itu waktu pun sudah larut malam. Dan kami pun pamit pulang.
Bangko Lestari. Mereka tampak sangat ramah dan tamah. Tanpa saya bertanya mereka asik bercerita tentang seni yang mereka bina itu dan saya pun tidak merasa canggung lagi untuk bertanya kepada mereka. Ketika berbicara tentang reog, wajah mereka terlihat sangat serius dan sepertinya suka jika saya bertanya tentang kesenian merekadan juga menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka. Kesenian reog mereka dianggap sakral bagi mereka. Saya berkali-kali mendengar ―Gembong Bawono‖ dari ucapan mereka. Ternyata mereka sangat bangga punya
kesenianreog yang di beri nama Gembong Bawono yang artinya preman alas (penguasa hutan) itu.
Cerita demi cerita waktupun sudah menunjukkan pukul 17:00 Wib dan akhirnya pamit pulang. Sebelum saya pamit mereka memberitahu kepada saya bahwa tanggal 29 Mei 2015 nanti akan ada pertunjukan reogdi desa tersebut dalam acara mengayunkan (memberi nama pada bayi).
Pada tanggal 29 Mei 2015 saya kembali lagi ke desa Bangko Lestari untuk menyaksikan pertunjukan reog yang dilaksanakan pada malam hari. Saya berangkat dari rumah bersama teman saya Aseng. Ketika pertunjukan belum dimulai, saya pun mewawancarai orang disekitar saya terutama yang menanggap kesenian reog ini. Alasan ia menanggap kesenian ini adalah bahwa seni reog ini sudah menjadi tradisi di desa mereka. Jika tidak nanggap kesenian ini rasanya ada yang kurang. Kesenian ini juga sebagai bertujuan untuk slametan atas kelahiran anaknya.
Penari Hanoman mulai memasuki lapangan pertunjukan. Setelah penari Hanoman selesai dilanjutkan dengan penari Bujangganong yang bergaya salto dan cerdik. Kemudian masuklah penari topeng Dhadhak Merak yang menari bersama Bujangganong. Kemudian dilsusul dengan penari Jathil laki-laki. Berbagai kalangan ikut meramaikan pertunjukan itu, mulai dari anak-anak hingga yang dewasa turut menikmati pertunjukan itu. Dan ketika semua penari selesai maka seperti tradisi biasanya yang dilakukan grup ini adalah beraksi dengan bermain api. Sebelumnya keadaan para pemain hampir semua5 dalam keadaan mabuk. Setelah itu barulah mereka melakukan aksi bermain dengan api.
Penonton masih begitu ramai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23:30 WIB dan masih ada juga yang ikut mabuk dan memasuki area pertunjukan. Jumlah yang mabuk tidaklah sedikit sehingga gambuhsedikit kewalahan untuk membuat mereka sadar. Dan ketika semua pemain dan penonton yang dalam keadaan mabuk tersebut dapat disadarkan kembali barulah penonton satu persatu mulai bubar.
BAB II
TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Pada Bab II ini, penulis mendeskripsikan secara khusus keberadaan masyarakat Jawa di Desa Bangko Lestari secara detail, sebagai masyarakat pendukung seni pertunjukan reog yang ada di Riau terutama kaitan sosial dan budaya dengan keberadaan Grup Reog Sri Karya Manunggal. Deskripsi ini memakai pendekatan etnografi yang lazim digunakan dalam disiplin antropologi.
Namun demikian terlebih dahulu akan dibahas mengenai identitas atau jati diri yang akan dikaitkan dengan situasi kebudayaan yang ―didatangi‖ oleh para migran Jawa. Seperti diketahui bahwa Riau dan beberapa tempat lainnya di Pulau Sumatera seperti Langklat, Deli, Serdang bedagai, Batubara, Asahan, Labuhanbatu, Tamiang, Jambi, Sumatera Selatan, bangka Belitung, sampai ke Lampung merupakan wilayah kebudayaan masyarakat Melayu. Oleh karena itu dideskripsikan pula secara singkat mengenai etnografi masyarakat Melayu Riau dan interaksinya dengan masyarakat Jawa. Selanjutnya penulis uraikan pula sejauh apa identitas kebudayaan Melayu ini berinteraksi dengan kebudayaan Jawa di Riau secara umum, dan di lokasi penelitian secara khusus. Oleh karena itu terlebih dahulu diuraikan keberadaan kebudayaan Melayu Riau.
2.1 Riau sebagai Wilayah Budaya Melayu dan Penerimaan Etnik Jawa
minyak bumi dan hasil hutannya. Selain kaya akan sumber daya alam dan hasil hutan, Provinsi Riau juga kaya akan budaya dan tradisi baik lisan maupun tulisan. Provinsi Riau merupakan pusat kebudayaan dan tradisi Melayu. Anggapan tersebut didukung oleh fakta bahwa di kawasan ini sampai sekarang masih ada sejumlah suku asli atau yang lebih terkenal dengan sebutan suku terasing, yaitu, suku Sakai, suku Bonai, suku Talangmamak, suku Kubu, suku Hutan dan suku Petalangan yang mendiami daratan di Riau. Kemudian ada suku Laut atau suku Akit yang mendiami kawasan Kepulauan Riau.
Di kawasan Riau juga terdapat masyarakat adat seperti rantau nan kurang oso duo puluo di Kuantan, masyarakat limo koto dan tigo boleh koto di Kampar, dan lain-lain. Sejumlah peninggalan sejarah (candi dan artefak lainnya) yang ditemukan memberi petunjuk pula tentang kewujudan kebudayaan dan peradaban kuno dikawasan Riau, mulai dari pra-sejarah hingga ke periode Hindu dan Budha. Beberapa kajian ilmiah bahkan menyatakan bahwa imperium Sriwijaya pun pernah bertapak di kawasan ini. Di pinggir empat sungai besar dan anak-anak sungainya yang membelah kawasan ini selama berabad-abad pernah bertapak sejumlah kerajaan, seperti Gasib (kemudian Siak Sri Inderapura), Kampar (dan Pelalawan dan Gunung Sahilan), Rokan (dan Kunto Darussalam, Tambusai, Rambah serta Kepenuhan), dan kerajaan Keritang, Inderagiri, serta Kandis (Raahman, 2009).
Indonesia, Singapura, Brunai Darussalam, Thailan Selatan, dan sekitarnya. Masyarakat Melayu di Riau mendasarkan kebudayaannya pada adat Melayu. Mereka menyebutnya dalam konsep adat bersendikan syarak—syarak bersendikan kitabullah. Artinya bahwa kebudayaan Melayu berdasarkan kepada ajaran-ajaran agama Islam. Ajaran Islam itu sendinya adalah hukum (syarak), kemudian hukum Islam ini berasas kepada Kitab Suci Al-Qur’an, termasuk juga hadits.
Selain itu, identitas Melayu juga tidak lepas dari dasar yang mereka sepakati yaitu, orang Melayu adalah orang yang beragama Islam, memakai adat Melayu, berbahasa Melayu, dan memenuhi berbagai syarat-syarat tempatan. Selanjutnya orang Melayu juga sangat terbuka menerima etnik-etnik lain untuk datang, menetap, dan menjadi orang Riau, sesuai dengan konsep identitas Melayu yang universal, seperti dalam ungkapan adat:
Ketuku batang ketakal,
Kedua batang keladi mayang,
Sesuku kita seasal,
Senenek kita semoyang.1
Nilai ini mengajarkan orang untuk merasa seasal dan seketurunan, yaitu sama-sama keturunan Adam dan Hawa. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, menyadarkan seseorang akan nenek moyangnya yang sama, yakni berasal dari rumpun Melayu yang satu. Nilai ini mampu menumbuhkan rasa kekeluargaan dalam arti yang seluas-luasnya. Nilai ini menyebabkan setiap individu dan
1Data ungakapan Melayu ini diperoleh dari tokoh adat Melayu Riau, yaitu Bapak Tenas
kelompok maupun puak untuk berpikir jernih menjaga tali keturunan yang seasal tersebut, sehingga mereka terhindar dari perpecahan dan disintegrasi sosial.
Dengan konsep-konsep kebudayaan seperti terurai di atas, maka orang-orang melayu Riau sangat terbuka untuk menerima orang-orang-orang-orang di luar Riau untuk menjadi anggota warganya di Riau. Apalagi orang-orang yang datang itu seiman pula, yaitu beragama Islam, maka lebih mudah lagi mereka menerimanya. Bagi orang Melayu Riau, orang jawa yang datang ke kawasan ini dipandang sebagai kawan seiman dan juga satu rumpun. Selain itu, orang-orang Riau juga memandang bahwa orang-orang Jawa yang migrasi ke kawasan mereka adalah aset untuk membangun daerah Riau. Bukti penerimaan orang Jawa sebagai warga Riau itu, di antaranya adalah pernah orang Jawa menjabat gubernur Riau, di antaranya adalah Soeripto dan Imam Munandar. Demikian pula gubernur Bangka dan belitung juga pernah dipimpin orang melayu keturunan Jawa. Demikian juga di tempat-tempat lainnya di Dunia Melayu.
2.2 Kesenian Melayu Riau sebagai Identitas Budaya
Kesenian Melayu sebagaimana halnya kesenian Jawa adalah menjadi salah satu identitas kebudayaan. Kesenian Melayu ini, termasuk di Riau memiliki ciri-ciri yang khas secara struktural dan fungsional, namun di dalamnya terkandung kearifan-kearifan lokal Melayu dan juga kebijakan budaya yang universal. Berikut ini adalah uraian mengenai kesenian (musik dan tari Melayu).