123
DAFTAR INFORMAN PENELITIAN
Nama : Tukijo (Mbah Bolong)
Umur : 63 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari.
Pekerjaan : Petani
Peran untuk Penelitian: Informan kunci yang menjadi pemimpin sekaligus pemain gamelan pada Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari dan sekitarnya.
Nama : Ebdi Irwanto
Umur : 52 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : Petani
Peran untuk Penelitian: Informan kunci yang menjadi sekretaris sekaligus gambuh
pada Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari dan sekitarnya.
Nama : Parino
Umur : 29 tahun
Alamat : Desa Pelita, Bagan Batu
Pekerjaan : Petani
124
Nama : Beni Ilham
Umur : 28 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : Wiraswasta
Peran untuk Penelitian: Informan kunci yang menjadi ketua sekaligus pembarong
pada Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari dan sekitarnya.
Nama : Rahmat
Umur : 47 Tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : PNS
Peran untuk Penelitian: Informan pangkal yang memberikan data-data di desa Bangko Lestari.
Nama : Sarno
Umur : 45 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : Petani
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang menjadi anggota pemain gamelan pada Grup Reog Sri Karya Manunggal
Nama : Warsito
Umur : 46 Tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Petani
125
Nama : Saiful (Cipul)
Umur : 46 Tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Petani
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang menjadi anggota pemain gamelan pada Grup Reog Sri Karya Manunggal
Nama : Jalal
Umur : 43 Tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Wiraswasta
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang menjadi anggota pemain gamelan pada Grup Reog Sri Karya Manunggal
Nama : Iin
Umur : 26 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Peran untuk Penelitian: informan biasa yang memberikan informasi terkait dengan seni reog di desa Bangko Lestari.
Nama : Dayat
Umur : 43 tahun
Alamat : Simpang Riset, Bagan Batu
Pekerjaan : Petani
126
Nama : Sukma
Umur : 30 tahun
Alamat : Jl. Pasar Balak, Bangko Lestari
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Peran untuk Penelitian:Informan biasa yang memberikan informasi terkait dengan seni reog di desa Bangko Lestari.
Nama : Dani
Umur : 24 tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Wiraswasta
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang memberikan informasi terkait dengan seni reog di desa Bangko Lestari.
Nama : Alif
Umur : 23 tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Wiraswasta
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang memberikan informasi terkait dengan seni reog di desa Bangko Lestari.
Nama : Cici
Umur : 18 Tahun
Alamat : Balai Jaya
Pekerjaan : Pelajar
127
Nama : Bayu
Umur : 20 Tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Belum bekerja
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang menjadi anggota pemain kuda kepang pada Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari dan sekitarnya.
Nama : Eko (Doyok)
Umur : 19 tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : Belum bekerja
Peran untuk Penelitian: Informan biasa yang menjadi anggota pemain kuda kepang pada Grup Reog Sri Karya Manunggal di Desa Bangko Lestari dan sekitarnya.
Nama : Saher
Umur : 18 tahun
Alamat : Bangko Lestari
Pekerjaan : pelajar
128
DAFTAR INTERVIEW GUIDE
No. Perihal Pertanyaan Informan
129
Apakah anda suka dengan kesenian tersebut? Jika suka coba anda jelaskan alasannya?
Foto dibawah ini adalah para penonton pertunjukan seni reog mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
130
117
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan
2006 Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Abdulrachman
1992 Keroncong Tugu, Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI. Alkaf, Mukhlas
2013 ―Berbagai Ragam Sesajen pada Pementasan Tari Rakyat dalam Ritual Slametan.‖ Gelar, Jurnal Seni Budaya. Volume 11. No: 2. Hal. 211-223.
Daud, Hamzah
1974 ―Perkembangan Musik Pop Hingga Sekarang.‖ Kertas kerja Seminar Muzik Nasional, 3 November.
Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln (eds.)
1995 Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, London, dan New Delhi: Sage Publications.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
1985 Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan
Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Fachriya, Indri Arum
2009 Tari Topeng Endel dalam Perkembangan dan Pelestarian Khas Tegal (Studi di Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal). Semarang: Universitas negeri Semarang (Skripsi Sarjana Pendidikan Sosiologi dan Antropologi).
Fauzannafi, Zamzam M.
2005 Reog Ponorogo: Menari Di Antara Dominasi dan
Keragaman. Yogyakarta: Kepel Press. Ganap, Victorius
1999 ―Tugu Village: A Historical Monument of Kroncong Music
in the Indonesian Cultural Map,‖ Laporan Penelitian, ISI
118 Geertz, Clifford
1989 Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa. Terj. Mahasin Wahab. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Gillin, J.L. dan J.P. Gilin
1942 Cultural Sociology. New York: The Mac Millan Company. Goldsworthy, David J.
1979 Melayu Music of North Sumatra: Continuities and
Changes. Sydney: Monash University (Disertasi Doktoral). Harmunah
1994 Musik Keroncong, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi. Hartono
1980 Reyog Ponorogo. Jakarta: Proyek Penulisan dan Penerbitan Buku/ Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi,
Depdikbud.
Heins, Ernst
1975 ―Kroncong and Tanjodor: Two Cases of Urban Folk Music
in Jakarta,‖ dalam Asian Music, vol. VII No. 1.
Husni, Tengku Lah
1986 Butir-butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Johnston, Hnak, Enrique Larana, dan Joseph R. Gusfield (eds.)
1994 New Social Movement: From Ideology to Identity. San Diego: San Dieogo State University.
Kayam, Umar
2000 Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Printika. Koentjaraningrat
1990 Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Koentjaraningrat
1996 Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Kornhauser, Bronia
1978 ―In Defence of Kroncong,‖ Monash Papers on Southeast Asia No. 7, Center of Southesat Asian Studies, Monash University.
Lauer, Robert H.
119 Malm, William P.
1977 Music Cultures of the Pacific, Near East, and Asia.
Englewwod Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
Martono, Hendro
2012 ―Reog Obyogan Sebagai Profesi.‖ dalam Jurnal Eksis.
Volume 3 No.01. Hal. 37.
Melalatoa, Junus
1997 Sistem Budaya Indonesia. Jakarta: Pamor.
Merriam, Alan P.
1964 The Anhropology of Music. Chicago: North Western Univer- sity Prees.
Narrol, R.
1965 "Ethnic Unit Classification." Current Anthropology, volume 5 No. 4." hlm. 32.
Nasaruddin, Mohd. Ghouse
2000 Teater Tradisional Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Nasir, Ridlwan
2007 Mazhab-Mazhab Antropologi. Yogyakarta: PT LKIS
Pelangi Aksara.
Nursilah
2001 Reyog Ponorogo: Kajian terhadap Seni Pertunjukan Rakyat sebagai Identitas Budaya. Medan: Jurusan Antropologi, Universitas Sumatera Utara Medan.
Patersen, William
1995 "Migration: Social Aspects," International Encyclopedia of the Sosial Sciences, volume 9, David L. Sills (ed.), New York dan London: The Macmillan Publishers.
Pigeaud, Th.
1938 Javaans-Nederlands handwoordenboek. Groningen/ Batavia: Wolters.
Poerwowijoyo
120 Putra, Heddy Shri Ahimsa
2006 Strukturalisme Levi-Strauss : Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press: Kepel Press.
Radcliffe-Brown, A.R.
1952Structure and Function in Primitive Society. Glencoe: Free Press.
Rahman, Elmustian, dkk.
2009 Riau Tanah Air Kebudayaan Melayu. Pekan baru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau.
Riyanto, Sudiro Agus,
1996 ―Eksistensi Keroncong Tugu dalam Aktivitas Kehidupan
Masyarakat Kampung Tugu,‖ skripsi sarajana di ISI
Yogyakarta.
Sadarmo, R. dan R. Suryono
1985 ―Keserasian Sosial dalam Kearifan Tradisional Masyarakat
Jawa Deli.‖ Makalah pada Seminar Keserasian Sosial
dalam Masyarakat Majemuk di Perkotaan di Medan 1985.
Sedyawati, Edi
2003 Budaya Jawa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan Wilayah BPPT.
Sheppard, Mubin Sheppard
1972 Taman Indera: Malay Decorative Arts and Pastimes. London: Oxford University Press.
Sitopu, Dina M.
2008 ―Studi Deskriptif Pertunjukan Reog Ponorogo Pada Upacara Perkawinan Masyarakat Jawa di Desa Kampung Kolam Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.‖ Skripsi S-1 belum diterbitkan. Medan: Departemen Etnomusikologi Fakultas Sastra USU.
Soemardjo, Jacob
1995 Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bhakti.
Soepono, Sri Saadah dan Simanullang, Sinsar
1999 Keberadaan Paguyuban-Paguyuban Etnik di Daerah
121 Soekanto, Soerjono
1982 Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali. Suparlan, Parsudi
1995 Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Syaripudin, Arif ―Kesenian dalam Perubahan Kebudayaan.‖ dalam Jurnal
Penelitian Budaya. Vol.2
Tambayong, Yapi
2000 ―Keroncong, Dangdut, Prejudis, kekuasaan‖ dalam koran
Kompas 1 Januari. Jazuli, Muhammad
2000 ― Seni Pertunjukan Global Sebuah Pertarungan Ideologi Seniman‖. Bandung. Dalam Jurnal Seni Pertunjukan
Indonesia.
Takari, Muhammad dan Heristina Dewi
2008 Kebudayaan Musik dan Tari Melayu Sumatera Utara. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.
122 Pertiwi, Maria Elisa Ayu
2014 ―Kesenian Topeng Bekasi Sinar Seli Asih Kontinuitas dan Perubahan Simbol Kesuburan‖. Yogyakarta. (Skripsi
Sarjana dalam bidang Tari).
Sumber Lain:
https://id.wikipedia.org/wiki/Reog_%28Ponorogo%29(diakses pada tanggal 22 Juli 2015 pukul 21:00 WIB)
http://ruangkudisini.blogspot.co.id/2012/12/alat-musik-reog-ponorogo-(diakses pada tanggal 25 Juli 2015 pukul 10:00 WIB)
72 BAB III
KEBERADAAN REOG PONOROGO DI DESA BANGKO LESTARI
3.1 Sejarah Berdirinya Grup Reog Sri Karya Manunggal
Sri Karya Manunggal merupakan salah satu grup kesenian reog yang ada di desa Bangko Lestari yang berdiri padatahun 1987 dibawah pimpinan Bapak
Keswadi. Awalnya kesenian ini hanya ada kesenian kuda kepang(jaranan) saja yang pada waktu itu grupnya diberi nama Sri Karya. Kemudian pada tahun 2000
nama Sri Karya diganti dengan nama Sri Tunas Baru dibawah pimpinan Bapak
Joni. Kemudian Pada tahun 2009 nama Sri Tunas Baru diganti lagi dengan nama
Sri Karya Manunggal karena nama Sri Tunas Baru tersebut membuat para
anggotanya tidak pernah tenteram. Berawal dari kesenian kuda kepang ini makaberdirilah kesenian reog pada tahun 2010 di bawah Pimpinan Bapak Tukijo atau yang lebih dikenal dengan Mbah Bolong sampai dengan
sekarang.Kemunculannya kelompok ini berdiri sendiri yang mereka lakukan
berdasarkan musyawarah mufakat bersama antar anggota kelompok kesenian.
Karena tujuan utama kelompok kesenian ini dibentuk adalah untuk melestarikan
serta mengembangkan kesenian tradisionalnya diluar daerah asalnya.
Sri Karya Manunggal berasal dari kata Sri yang berarti suka atau senang,
karya berarti kerja, dan manunggal yaitu bersama atau bersatu. Jadi Sri Karya
Manunggal adalah senang kerja secara bersama. Dengan nama Sri Karya
73
rupiah, namun setelah ada kesenian reog, pendapatan mereka meningkat sampai satu juta rupiah ke atas tergantung dekat jauhnya lokasi pertunjukan. Semakin
jauh lokasinya maka semakin banyak biaya yang diperlukan seperti biaya
transportasi yang sangat menentukan biaya untuk tanggapan tersebut.
Kesenian kuda kepang awalnya dirintis oleh bapak Topikin yang mempunyai ide untuk membuat jaran kepang di desanya. Kemudian bapak
Topikin mengajak teman-temannya agar ikut bersamanya untuk membangun
kesenian kuda kepang tersebut. Pada mulanya kesenian ini dibentuk oleh 6 orang
seniman yaitu bapak Topikin, bapak Paidi, Bapak Wagiman, Bapak Tukiran,
Bapak Kiman dan Bapak Tukijo (Mbah Bolong). Alat-alat yang digunakan untuk
membuat kuda kepang tersebut sebagian dikirim dari pulau Jawa. Kemudian
Bapak Tukiran bermusyawarah dengan temannya untuk membuat kuda kepang. Mereka bergotong royong mencari bambu dan membuat kuda kepangnya selama
3 hari sebanyak 6 kuda. Kemudian kuda kepang tersebut di cat oleh Bapak
Wagiman dengan warna merah putih.
Setelah kuda kepang selesai dibuat dengan cat merah putihnya yang masih
belum kering,namun esok harinya mereka langsung mengikuti festival kuda kepang di kecamatan Bangko Pusako untuk pertama kalinya pada tanggal 17 agustus 1987. Mereka mendapat juara pertama yang dinilai dari kostum, tarian,
kerapian, dan musik. Waktu itu alat mereka masih sangat minim dan belum
lengkap. Namun lama kelamaan kesenian ini terus berkembang dan diturunkan
secara turun temurun hingga 8 generasi.
74
kesenian kuda kepang ini dengan cara menambah kesenian lainnya agar penonton
tidak jenuh. Pada waktu itu mereka upayakan untuk membeli kelengkapan tarian
hanoman walaupun mahal. Kemudian pada tahun 2010 uang khas mereka meningkat dan digunakan untuk membeli lagi topeng barongan (dadhak merak) dan topeng ganongan. Dan setelah adanya kesenian reog inilah grup Sri Karya Manunggal semakin sering ditanggap oleh masyarakat.
Para anggota grup reog Sri Karya Manunggal hampir semua berasal dari
orang tua yang juga memiliki jiwa seni sehingga bakat seni yang mengalir dan
melekat pada diri mereka adalah merupakan bakat seni alami yang turun temurun
dari generasi ke generasi, tanpa adanya pengetahuan pendidikan yang memadai
khususnya dalam bidang kesenian yang mereka geluti sampai saat ini.
Kesenian Reog Ponorogo dan kuda kepang yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Perbedaan tersebut terdapat pada unsur magis (supranatural),
dimana kesenian ini dulunya penuh dengan atraksi ilmu kanuragan1 serta
mengandung resiko yang sangat membahayakan. MisalnyaDhadhak Merak
(Reog) naik diatas Dhadhak Merak yang lain (double dua), kuda lumping (kuda kepang)yang tidak dapat terlepas dari mistik sehingga membuat pertunjukannya
unikdan menarik. Pemain dimasuki roh-roh leluhur sehingga mampu memakan
benda-benda tajam seperti gelas, kaca silet, makan apidan masih banyak lagi
atraksi-atraksi lainnya yang membahayakan serta penuh resiko. Maka kesenian
Reog yang ada didesa Bangko Lestari sudah tidak melakukan atraksi seperti yang dulu lagi seperti memakan kaca, silet, gelas, dan sebagainya. Mereka hanya
1
75
menggunakan api saja sebagai aksinya setelah semua tarian selesai
dipertunjukkan. Hal itu sudah menjadi tradisi dari pertunjukan seni reog yang sudah dipadukan dengan kesenian kuda kepang tersebut.
Adapun susunan kepengurusan grup Sri Karya Manunggal adalah sebagai
berikut: Beni Ilham sebagai Ketua, Tukijo (Mbah Bolong) sebagai Bendahara atau
Penasihat dan Ebdi Irwanto sebagai Sekretaris. Mbah Bolong merupakan orang
yang paling lama dalam membina kesenian tersebut di Desa Bangko Lestari
sehingga namanya sudah banyak dikenal oleh masyarakat.
Gambar 3.1:Tiga Orang Pengurus Grup Sri Karya Manunggal
3.2 Ciri-ciriKhusus Kesenian Reog di Desa Bangko Lestari
Kesenian reog yang ada di Desa Bangko Lestari dibawa oleh masyarakat Jawa yang merantau dan ingin tetap melestarikan kesenian dari daerah asalnya.
Perubahan-76
perubahan tersebut dapat dilihat pada ciri-ciri dari kesenian reog sebagai identitas mereka yang ditampilkan pada grup Sri Karya Manunggal sebagai berikut:
3.2.1 Reog Disajikan dalam Bentuk Sendratari
Dalam suatu pentas yang lengkap kesenian reogyang ada di Jawa Timur disajikan dalam bentuk sendratari empat babak. Sendratari ini menggambarkan
perjalanan prajurit berkuda dari Ponorogo menuju kerajaan Kediri ketika
mempersunting putra putri raja Kediri tersebut. Gelombang perjalanan
prajurit-prajurit ini dipimpin oleh senopati Bujangganong. Dalam perjalanan pulang
mereka dihadang oleh Singobarong dengan tentaranya. Akhirnya terjadi
peperangan, yang berkesudahan dengan kemenangan prajurit Ponorogo (Hartono,
1980).
Tema cerita yang dibawakan pada grup Sri Karya Manunggal ini sudah
tidak seperti yang ada di Jawa yang membawakan tema tentang cerita kerajaan
dan pertarungan prajurit. Dalam adegan yang dipertunjukan dari grup tersebut,
Bujangganong hanya berperang dengan barongan saja tidak ada tentera atau warok dan prajurit berkuda didalamnya. Prajurit berkuda tampil hanya pada waktu
tarian terakhir yang diperankan oleh penari jathil laki-laki. Mereka tidak ikut serta
dalam pertunjukan reog yang sedang berlangsung sehingga sudah berbeda dengan yang ada di Jawa Timur.
Grup ini tidak mempresentasikan cerita tertentu dalam pertunjukan seni
reog tersebut. Namun yang mereka ketahui bahwa sejarah dari seni reog yang mereka kembangkan tersebut merupakan warisan dari leluhur mereka yang
77
dalam kesenian reog tersebut terkandung makna tentang penyebaran agama Islam tersebut, hal ini ditandai pada dhadhak merak ditambah satu tetengger (Jawa)
dengan seuntai merjan di ujung paruh burung merak yang melambangkan arti
sebuah tasbih. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Ebdi Irwanto Berikut ini:
― kalo cerita reog ini ya kami cuma neruskan aja sejarah dari leluhur kami. Kalo yang kami tau ini dulunya untuk menyiarkan agama Islam. Tujuannya kan baik sebagai dakwah. Tapi yang tau sejarah itu sekarang cumak orang-orang yang ngertilah sama reog ini. Kalo orang lain mungkin cuma hiburan aja sama mereka. Lambang-lambangnya kana ada maknyanya itu. dhadhak meraknya itu punya makna melambangkan tasbih.‖
3.2.2 Reog Juga Berfungsi Sebagai Sarana Ritual Ruwatan dan Hiburan
Kesenian reogdi Bangko Lestari yang merupakan kesenian yang di setiappertunjukannya tidak hanya untuk ritual sebagai pengusir mahluk halus
tetapi juga digunakan sebagai hiburan yang dipentaskan pada saat mengayunkan
(memberi nama pada bayi), upacara perkawinan, dan perayaan ulang tahun yang
lebih sering diadakan di desa Bangko Lestari. Masyarakat yang ada di desa
Bangko Lestari masih mempercayai bahwa kesenian reog ini juga akan memberikan keselamatan bagi mereka yang ―menanggapnya.‖
Ruwat atau ngeruwat merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertanian, upaya tolak bala dan sebagai media penghormatan pada leluhur yang
telah berjasa memberikan keselamatan hidup. Ruwatandesaadalah salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh
masyarakat di desa Bangko Lestari. Ruwatan berasal dari kata rawat atau merawa
artinya mengumpulkan atau merawat yaitu mengumpulkan seluruh masyarakat
kampung yang tujuannya sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan
78
juga dapat berfungsi sebagai ritual ngeruwat desa atau yang dikenal dengan
sebutan bersih desa. Masyarakat percaya bahwa ritual pertunjukan reogini dapat memberi ketentraman hidup, jauh dari mara bahaya dan segala gangguan penyakit
yang kemungkinan dapat terjadi.
3.2.3 Pendukung Pertunjukan Seni Reog 3.2.3.1 Kelompok Pemain/Penari
Pemain atau penarireogyang ada di Jawa Timur memainkan 5 penari, yaitu:jathilan, warok, bujangganong, barongan,dan prabu Klono Sewandono(Fauzannafi, 2005). Sedangkan reog di desa Bangko Lestari sudah berbeda dan digabung dengan kesenian lainnya. Para penarinya terdiri dari 4
penari yaitu: kuda kepang, hanoman (kera putih), bujangganong, dan barongan.
Hal ini dilakukan agar penonton tidak bosan sehingga dipadukan dengan seni
lainnya.
3.2.3.2 Kelompok Pemukul Gamelan
Kelompok ini berada di belakang kelompok penari. Jumlah anggotanya
terdiri dari: satu orang penggendang, dua orang penyaron, satu orang pemukul
kethuk kenong, satu orang pemukul gong, satu orang pemukul demung, dua orang pemukul bonang, dan satu orang pemuku kempulatau gong.
3.2.3.3 Kostum dan riasan
Dalam buku ―Reyog Ponorogo‖ tulisan Hartono, (1980) dikatakan bahwa
79
peserta kesenian reog, baik pemain, maupun pemain gamelan mengenakan pakaian daerah tersebut. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
a. Ikat kepala ( udheng, iket, blangkon).
b. Baju hitam potong gulon (tak berleher). Cara memakainya: buah baju tidak dikancingkan sehingga dadanya tampak jelas. Hal ini adalah lambang
adanya sifat keterbukaan. Pakaian ini digunakan oleh pemain warok dalam kesenian reog.
c. Celana panjang gombyok sampai tumit, berwarna hitam, bergombyok merah dan kuning dengan potongan ukuran besar.Atau celana hitam
dengan ukuran tanggung, sampai dibawah lutut yang dipakai oleh
pembarong, bujangganong dan pemain gamelan. Gombyok terbuat dari benang songket.
d. Koloran, yaitu celana yang dilengkapi dengan ikat pinggang yang
berwarna putih. Kedua ujungnya panjang dan menjulai yang digunakan
oleh semua pemain dalam kesenian reog.
Sedangkan di desa Bangko Lestari,pakaian kostumyang digunakan para
pemainseperti ciri khas dari pakaian daerah Ponorogo hanya sebahagian saja yang
memakainya. Kemudian para pemain gamelannya sudah tidak menggunakan
pakaian khas daerah Ponorogo melainkan hanya menggunakan pakaian bebas
saja. Pakaian yang digunakan para pemain tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Ikat kepala
b. Celana panjang gombyok sampai tumit, berwarna hitam, bergombyok merah dan kuning dengan potongan ukuran tidak begitu besar yang
80
c. Kostum tokoh hanoman berwarna putih dan memakai gelung supit urang yang bermakna identitas hanoman kesatria.
3.2.3.4 Ilmu Mistik dalam Kesenian Reog
Bagi pemain-pemain kesenian reog, barongan adalah satu-satunya instrumen yang mendapatkan tempat utama. Ia dianggap sebagai benda keramat.
Sehingga pada hari-hari tertentu, dan pada setiap akan dipakai, sering membakar
dupa (kemenyan) di hadapannya (Fauzannafi, 2005).
Setiap Jumat Legi dan Jumat Wage,2reog ini wajib diberi sajen yang berupa bunga mawar, kenanga, dan melati kemudian membakar kemenyan, rokok
diselipkan ditelinga topeng dhadhak merak yang dipercaya agar nantinya
pembarongketika menarikan tarian ini dapat menyatu dengan Reog. Semua sesajen diletakkan didepan topeng dhadhak merak dan sajen tersebut disampingmemiliki sifat mistis juga memiliki makna simbolik yang syarat dengan
berbagai ajaran berharga warisan leluhur dan juga berfungsi sebagai sarana
penghubung antara manusia dan dunia gaib.
Reog yang ada pada grup Sri Karya Manunggal diberi nama dengan
Gembong Bawono yang artinya raja harimau atau preman alas(penguasa hutan). Nama Gembong Bawono tersebut berasal dari si pembuat Reogyang ada di
2
Istilah hari-hari dalam sistem kelander masyarakat Jawa berdasar kepada kalender Jawa, yang memiliki persamaan dengan kalender Islam. Keduanya berakar pada sistem kalender perputaran bulan (lunar). Adapun bulan-bulan dalam kalender Jawa dan padanannya dalam kalender Islam adalah: (1) Sura (Muharram); (2) Sapar (Shafar); (3) Mulud (Rabiul Awal); (4) Bakda Mulud (Rabiul Akhir); (5) Jumadil Awal (Jumadil Ula); (6) Jumadil Akhir (Jumadil
Tsaniah); (7) Rejeb (Rajab); (8) Ruwah (Sya’ban; (9) Pasa (Ramadhan); (10) Sawal (Syawal); (11)
81
Kisaran (ibukota Kabupaten Asahan, Propinsi Sumatera Utara). Grup Sri Karya
Manunggal dulunya membeli reog di Kisaran karena harganya terjangkau yang waktu itu mereka beli dengan harga Rp 3.000.000. Pertama kali dibeli topeng
dhadhak merak tersebut beratnya mencapai sekitar 45 kg namun lama kelamaan sudah semakin susut sehingga sekarang beratnya hanya sekitar 38 kg.
ReogGembong Bawono tersebut mempunyai makna yang sakral dan dipercaya sebagai nama reogyang tingkatnya tertinggi. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Tukijo (Mbah Bolong) berikut ini:
Reog ini yang ngasih nama ya dari yang pembuat Reognya yang di Kisaran. Ini Reog tempahan dari Kisaran karena kalo beli di Jawa ya nggak sanggup. Sebelum dibuat kepala harimau, yang buat Reog ini udah dijumpai dulu sama arwah yang pingin masuk ke Reog ini supaya reognya diberi nama Gembong Bawono. Jadi yang buat reog bilang nama Gembong Bawono ini jangan diganti. (Tukijo, 63 tahun, pemimpin Reog di Desa Bangko Lestari)
82 3.2.3.5 ReogMemiliki Lagu-lagu Khusus
Pada mulanya dahulu kesenian reog memiliki lagu-lagu khusus
Panoragan, misalnya:Ijo-ijo, Potrojayan, Sampak, Iring-iring, dan sebagainya. Grup reog Sri Karya Manunggal setiap kali tampil, membawakan lagi khusus
seperti untuk penari jathilan menggunakan lagu Dawet Ayu, penari anoman
menggunakan lagu GelangsaranatauSampak Songo, dan Reog menggunakan lagu
Ponoragan.
3.3Tokoh-tokoh dalam Seni Reog
Ada beberapa tokoh yang dimainkan dalam setiap
pertunjukanReogPonorogo danmasing-masing tokoh mempunyai sifat yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya. Namun tokoh-tokoh dalam seni reog
yang ada pada grup Sri Karya Manunggal sudah ditambah dengan tokoh
hanoman. Adapun tokoh-tokoh yang terdapat dalam pertunjukan reog pada grup tersebut adalah sebagai berikut:
3.3.1 Jathil
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni
reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di
mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan.
Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan
83
Jathilan ini mulanya ditarikan oleh laki-laki yang berprofesi sebagai
seorang gemblak yang dipelihara oleh warok yang berparas ganteng atau mirip dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun lebih cenderung feminim. Ciri-ciri
kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah. Hal ini didukung oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti
antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
Gambar 3.3:Penari Jathil Laki-laki
3.3.2 Barongan dan Dhadhak Merak
Barongan dan dhadhak merak merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian reog. Barongan berwujud kepala harimau, sedang
dhadhak berupa berupa merak yang sedang menari. Dhadhak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50
84
Menurut Tjokrodibroto, kata barongan sebenarnya sudah merupakan persenyawaan. Asalnya dari: singa barongan, yang artinya singa barong tiruan.
Singadalam bahasa Jawa artinya ialah harimau. Barong ialah suri atau gimbal. Jadi, singa barong artinya harimau yang berambut gimbal.
Topeng dhadhak merakdipercaya oleh warga Jawa di Desa Bangko Lestari sebagai perantara doa paling cepat kepada nenek moyang agar diberikan izin
dalam melaksanakan pertunjukan kesenian ReogPonorogo dan diberi kelancaran selama pertunjukan. Topeng ini diwujudkan dengan bentuk campuran binatang
harimau dan merak sehingga membentuk binatang khayal yang membentuk
simbolisasi karakter khayalan.
Pembarong atau pemakai topeng dhahdak merak ini pastinya bukan sembarang orang yang menjadi pembarong karena ada syarat-syarat tertentu yang harus dilakukan seperti: kekuatan ekstra yaitu seorang pembarong disamping punya rahang yang kuat, mereka juga dibekali susuk yang dipasang dileher.
Kemudian adanya wahyu. Tanpa ini tarian yang ditampilkan tidak akan menarik
85
Gambar 3.4:Tokoh Penari Topeng Dhadhak Merak
3.3.3 Bujangganong (Ganongan)
Bujangganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri
sehingga disetiap penampilannya senantiasa ditunggu-tunggu oleh
penontonkhususnya anak-anak.Patih Bujangganong adalah patih dari Prabu
Kelono Sewandono, merupakan tokoh protagonis dalam tarian ini. Dia digambarkan sebagai patih yang bertubuh kecil dan pendek, namun cerdik dan lincah. Patih Bujangganong disebut juga penthulan. Penarinya tidak memakai baju, hanya rompi berwarna merah dan topeng berwarna merah juga.
Untuk memainkan peran sebagai Bujangganong tidak mudah. Karena peran tersebut mengharuskan pemainnya untuk pintar beratraksi salto dan
berbadan atletis. Apabila tidak sesuai dengan persyaratanya akan menyebabkan
86
Gambar 3.5:Tokoh Bujangganong
3.3.4 Hanoman
Hanoman biasa digunakan untuk salah satu karakter yang terkenal dari pementasan wayang Ramayana. Hanoman atau dapat disebut Hanumat, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis
dalam cerita Ramayana. Dalam cerita Ramayana, Ia digambarkan sebagai seekor
kera putih yang merupakan putra Batara Bayu dan Anjani. Namun dalam
pertunjukan Hanoman yang ada pada grup Sri Karya Manunggal ini tidak dimainkan dalam bentuk wayang melainkan diperankan langsung oleh seorang
yang menggunakan topeng hanoman beserta kostumnya.
87 3.4 Instrumen atau Peralatan Reog
Dalam kesenian reog terdapat dua macam alat yang dipergunakan yaitu alat-alat untuk pemain dan yang kedua ialah instrumen pengiring atau gamelan.
3.4.1 Peralatan Pemain
Peralatan yang digunakan meliputi: topeng Singobarong, dhadak merak, topeng Bujangganong, dan kuda kepang (istilah lokal: eblek).Topeng yang digunakan dalam pertunjukannya hanya 3 topeng saja tidak seperti di Jawa yang
menggunakan 5 topeng. Ketiga topeng tersebut berupa, topeng dhadhak merak, topeng Bujangganong, dan kuda kepang (eblekan).
Topeng Singobarong yang ada di Jawa Timur terbuat dari bahan utama kulit harimau dan bulu merak asli. Topeng Singobarong Dhadak Merak
merupakan ciri khusus Reog Ponorogo yang membedakan dengan jenis Reog
lainnya. Sedangkan topeng dhadhak merak yang ada di Desa Bangko Lestari terbuat dari kepala harimau dan bulu merak yang tidak asli (―caplokan‖) yang
dibeli dari kota Kisaran.
Topeng Bujangganong diperoleh langsung dari pulau Jawa.Topeng ini terbuat dari kayu, rambutnya dari bulu ekor sapi dan topeng ini disambung dengan
kain warna merah yang digunakan sebagai penutup kepala. Pada ujung kiri dan
kanannya diberi tali yang dapat diikatkan dileher pemain. Topeng Bujangganong
yang menyerupai wajah raksasa, hidung besar, mata melotot, mulut terbuka dan
88
Gambar 3.7:Topeng Bujangganong
Sementara kuda kepang (eblek) dibuat sendiri yang terbuat dari anyaman yang dibuat dari rautan bambu yang halus dengan dihiasi rambut tiruan dari
plastik atau sejenisnya. Anyaman tersebut dihias dengan cat yang beraneka warna
seperti warna putih, hitam, dan merah.
Gambar 3.8:Kuda Kepang (Eblek)
3.4.2 Peralatan Musik Pengiring atau Gamelan
Gamelan atau instrumen pengiring yang digunakan dalam pertunjukan seni
reog yaitu berupa:
(a) Kendang, yang salah satu ujungnya lebih kecil dari ujung yang lain, ujung yang kecil dimainkan dengan tangan kiri dan yang besar dengan tangan
kanan. Kendang ini berukuran besar dengan panjang 1,5 m, sedangkan
89
pengatur tempo dan pemberi tekanan pada gerak tari. Alat musik ini
dimainkan dengan tangan tanpa adanya alat bantu sehingga tukang
kendang sering disebut sebagai ―pemimpin‖ orkes gamelan dan kendang
dianggap sebagai alat yang paling sulit dimainkan.
Kendang ini dipercaya oleh mereka bisa membuat ramai penontonnya. Jika pertunjukan sedang berlangsung, pemain kendang ini
menyebut nama ―dewi kunti‖ agar nantinya penonton berdatangan.
Apabila disebut namanya maka ramailah penontonnya. Dewi Kunti
merupakan makhluk halus yang dipercaya oleh Grup Sri Karya Manunggal
dapat meramaikan penontonnya apabila disebut namanya. Mahkluk halus
tersebut sangat rahasia bagi mereka dan tidak sembarang orang tahu.
Kendang ini juga di beri sesajen seperti bunga kantil, mawar, dan kenanga.
Pemain kendang ini biasanya paling dibayar lebih mahal dari pemain
lainnya karena sulit memainkannya.
Gambar 3.9:Kendang atau Gendang
(b) Dua alat kenong (idiofon) yang tebuat dari bahan logam besi, kuningan, atau perunggu. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul
90
double. Kenong merupakan alat musik yang bentuknya sama dengan bonang, tetapi ukuranya lebih besar dari bonang. Setiap pencon memiliki satu nada, namun kenong berfungsi sebagai penanda ketukan tertentu atau
berfungsi kolotomik, bukan sebagai pembawa melodi.
Gambar 3.10:Kenong
(c) Ada dua buah saron semacam gambang logam yang ketujuh nadanya dipikul sekali pada saatnya dengan pemukul dari kayu serta kemudian
dipegang segera untuk menghindari nada tambahan. Alat ini berukuran
sedang dan beroktaf tinggi. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, dua saron
memainkan lagu jalin menjalin yang bertempo cepat. Dengan demikian,
melodi inti diperdengarkan dengan serangkaian nada-nada yang jelas,
berbeda dari yang mendasar, yang satu mengikuti yang lain dalam sebuah
ritme yang terus mengalir dan hampir semuanya tanpa tekanan.
91
(d) Dua alat bonang yaitu bonang barung dan bonang panerus. Bonangbarung adalah salah satu bagiaan dari seperangkat Gamelan
Jawa.Bonang terbagi menjadi dua yaitu bonang barung dan bonang penerus. Bonang barung berukuran sedang, beroktaf tengah sampai tinggi, adalah salah satu dari instrumen-instrumen pemuka dalam
ensambelgamelan. Pada jenis gendhing bonang, bonang barung
memainkan pembuka gendhing (menentukan gendhing yang akan dimainkan) dan menuntun alur lagu gendhing. Pada teknik tabuhan imbal-imbalan, bonang barung tidak berfungsi sebagai lagu penuntun; ia membentuk pola-pola lagu jalin-menjalin dengan bonang panerus, dan pada aksen aksen penting bonang boleh membuat sekaran (lagu-lagu
hiasan), biasanya di akhiran kalimat lagu. Sedangkan bonang panerus
memiliki ukuran yang lebih kecil bila dibandingkan dengan bonang barung. Bonang jenis ini dimainkan setengah ketukan dari bonang barung
yang apabila mereka dibunyikan secara bersama-sama akan membuat efek
suara yang bersahutan. Nada dari bonang panerus lebih tinggi 1 oktaf dari
92
Gambar 3.12:Bonang Barung dan Bonang Panerus
(e) Kemudian alat musik kempul. Kempul berbentuk layaknya seperti gong namun ukurannya lebih kecil. Kempul berfungsi sebagai penanda aksen-aksen yang penting dalam kalimat lagu gendhing. Pada saat melantunkan lagu gendhing kempul dimainkan dengan nada yang sama seperti nada
balungan, walau terkadang kempul bisa juga mendahului nada balungan.
93 BAB IV
KONTINUITAS DAN PERUBAHAN SENI REOG PADA GRUP SRI KARYA MANUNGGAL DAN MASYARAKAT PENDUKUNGNYA
4.1 Kontinuitas Seni Reog di Desa Bangko Lestari
Kesenian Reog Ponorogo memang sudah mendarah bagi masyarakat Ponorogo, serta masyarakat Jawa Timur. Reog juga merupakan salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik
dan ilmu kebatinan yang kuat. Kesenian Reog Ponorogo dapat berkembang karena memperoleh dukungan sangat besar dari masyarakat daerahnya. Sehingga
masyarakat Ponorogo mencari pekerjaan ataupun menetap, tetap membawa seni
dan budaya daerahnya yaitu kesenian Reog Ponorogo. Tidak jarang masyarakat Ponorogo yang tersebar di daerah-daerah baik didalam negeri ataupun
mancanegara membuat perkumpulan kesenian Reog Ponorogo. Kesenian ini dibentuk melalui perkumpulan-perkumpulan kesenian dalam upaya untuk
melestarikan seni dan budaya tradisional, ataupun hanya sebagai hiburan
masyarakat (Fajarianti, 2013).
Perkumpulan kesenian ini terdapat perbedaan dan keunikan tersendiri
didalamnya dan dipengaruhi oleh budaya setempat, tetapi tidak mengubah esensi
dari kesenian Reog Ponorogo itu sendiri hanya mengadopsi, menambahkan dan mengkreasikan sesuai kreatifitas perkumpulan-perkumpulan kesenian reog Ponorogo, hal ini sebagai kebutuhan dari pertunjukan seni (Fajarianti, ibid). Dalam hal ini Grup kesenian reog Sri Karya Manunggal mempunyai keunikan
94
berbeda dengan yang aslinya di Jawa Timur. Mereka mengkreasikan
kreatifitasnya dalam seni reog ini dengan cara menambahkan seni lainnya untuk membuat variasi tarian dalam pertunjukan seni reog tersebut agar para penonton
maupun penggemarnya tidak jenuh. Kesenian yang ditambahkan tersebut yaitu
kesenian hanoman (kera putih) dan kesenian kudakepang. Kesenian Reog yang ada di Bangko Lestari sudah mengadopsi kesenian reog yang aslinya yang ada di Jawa Timur. Hal ini dikarenakan para pemain dalam kesenian ini kebanyakan
berasal dari Putra Jawa kelahiran Sumatera sehingga memungkinkan membuat
penyajiannya sudah berbeda dengan yang aslinya yang ada di Jawa karena
pengaruh situasi yang berbeda di daerah perantauan.
Grup Reog Sri Karya Manunggal ini sangat terkenal namanya di
Kecamatan Bangko Pusako sehingga seringkali masyarakat ―menanggapnya‖
pada acara khitanan, upacara perkawinan, hari besar nasional, mengayunkan
(memberi nama pada bayi) dan juga perayaan ulang tahun. Dan terkadang
Masyarakat yang ada di desa Bangko Lestari meminta agar grup reog ini mengadakan pertunjukan di desanya karena sangat banyak yang menjadi
penggemar grup ini di desa tersebut. Jika grup ini tampil maka penontonnya pun
begitu banyak dari mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Seiring dengan seringnya grup reog tersebut melakukan pertunjukan, maka ada beberapa grup kesenian tradisional lainnya pun iri dengan grup tersebut
sehingga nama grup Sri Karya Manunggal ini sering ―dijual atau
dipakai‖namanya oleh grup lain karena merasa tersaingi. Grup tersebut juga
pernah mendapat kendala ketika tampil dalam acara hajatan. Kendala tersebut
95
menaruh jarum yang besar dan tajam di atas kendang agar pemain kendang
tersebut terluka dan dapat merusak pertunjukan mereka. Jarum tersebut ghaib dan
dipercaya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Namun pada waktu itu
masalah ini bisa diatasi oleh grup Sri Karya Manunggal dengan cara memanggil
roh leluhur yang mereka percaya dapat menjaga dan melindungi mereka ketika
ada bahaya yang datang dari luar. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Warsito
selaku pemain gamelan berikut ini:
―Kami pernah main di kota duri waktu itu ada acara nikahan. Sebelum kami mulai mainkan gamelannya rupanya pak Ebdi nampak jarum besar dan tajam di atas kendang kami. Jarum itu gak bisa ditengok dengan kasat mata cuma orang tertentu aja yang bisa nengok itu. Untungnya masalah itu masih bisa kami atasi. Ada salah satu anggota kami yang dengar kalo dilokasi itu ada orang yang gak suka sama grup kami karna ada grup yang dekat kenapa mesti milih yang jauh. Jadi orang itu ngerasa tersaingi. Padahal kami gak ada nganggap saingan.”
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hersapandi (2013) yang berjudul
―Sistem Pewarisan Penari Rol dalam Wayang Orang Panggung‖ mengungkapkan
bahwa persaingan antar penari rol merupakan fenomena zamannya sebab ketika
itu tidak jarang mereka mencelakakan seniman lain dengan cara menjatuhkan
lewat kekuatan gaib. Misalnya, penari rol tiba-tiba tidak mampu bersuara ketika
sedang berdialog dan penari rol secara mendadak tidak mampu menari di atas
pentas yang berakibat fatal pada penampilannya. Dalam menghadapi pengaruh
jahat yang bersifat gaib tersebut, maka keseimbangan penari rol tersebut dibekali
ilmu kebatinan yang memadahi agar memiliki tingkat kemampuan pengetahuan
dan keterampilan yang tinggi untuk membentengi diri mereka dari pengaruh jahat
tersebut. Hal tersebut seperti yang dialami oleh grup Sri Karya Manunggal yang
96
pemain kendang mereka hampir celaka dan untungnya masih bisa diatasi oleh
mereka.
Grup Sri Karya Mangunggal tidak ingin ada persaingan karena mereka
menganggap kesenian itu untuk bersatu (guyub) bukan untuk bersaing. Namun kenyataannya solidaritas antar grup kesenian di Desa Bangko Lestari tampaknya
masih kurang. Hal ini terlihat bahwa grup Sri Karya Manunggal tidak akrab
dengan beberapa grup kesenian yang baru muncul karena ada rasa iri terhadap
grup ini. Namun disamping itu ada juga beberapa grup lain yang ingin bergabung
dengan grup Sri Karya Manunggal karena sangat mengenal sosok Mbah Bolong
sebagai orang yang sudah lama membina grup tersebut.
Grup kesenian yang ada di desa Bangko Lestari awalnya hanya ada satu
grup kesenian saja yaitu grup Sri Karya Manunggal yang paling dikenal oleh
warga setempat. Awalnya grup tersebut dikelola oleh Bapak Tukijo dan
teman-temannya supaya kesenian tersebut dilestarikan dan berkembang di desa mereka.
Namun lama kelamaan para pengurusnya bubar. Hal ini disebabkan karena para
pengurusnya ingin membuat grup sendiri yang akhirnya berujung dengan
persaingan terhadap grup Sri Karya Manunggal tersebut. Persaingan di antara
pengurus kesenian tersebut berlomba-lomba untuk ―menonjolkan diri‖ supaya
keseniannya disenangi oleh masyarakat dan memperoleh ―nama‖ dari grup yang
mereka kelola masing-masing. Seperti yang diungkapkan oleh Mbah Bolong
berikut ini:
97
campur sama kuda kepang dan hanoman. Rupanya orang makin banyak yang seneng. Tapi ada juga yang gak seneng. Ada grup yang gak suka sama kami karna yang sering dipanggil sama masyarakat itu grup kami. Jadi grup kami ini sering dipake namnya sama grup lain karena grup kami ini lumayan terkenal disini.
Kesenian tradisional sekarang ini pengelolanya harus tanggap dalam
mengantisipasi perkembangan zaman yang semakin maju. Apabila kurang
tanggap maka akan mengalami kemunduran yang mengakibatkan satu persatu
gulung tikar karena kurang bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman
(Jazuli, 2000 dalam Rahzen). Seperti halnya yang ada di kecamatan Bangko
Pusako. Dulunya sangat banyak orang-orang Jawa transmigrasi yang mempunyai
sanggar kesenian. Sebelum mereka memperoleh pekerjaan yang pasti, kesenian ini
dijadikan mereka sebagai tambahan pekerjaan mereka. Namun seiring
perkembangan zaman maka satu persatu pengelolanya gulung tikar karena tidak
ada biaya untuk mengembangkan keseniannya dan juga uang yang diperoleh hasil
tanggapan tidak mencukupi kebutuhan mereka lagi sehingga mereka lebih
memilih pekerjaan yang lain dan meninggalkan keseniannya.
Grup Sri Karya Manunggal cukup mampu bertahan hingga sekarang.
Bertahannya grup ini juga dikarenakan oleh Bapak Tukijo atau lebih akrab disapa
Mbah Bolong oleh warga setempat yang sudah cukup lama membina kesenian ini.
Ia akan tetap mempertahankan keseniannya tersebut sampai akhir hayatnya. Ia dan
teman-temannya membuat ide agar keseniannya tetap disukai oleh orang lain
98
selalu bersikap terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Karenanya, kebudayaan
itu bersifat dinamis, akan selalu berkembang dan berubah dari waktu ke waktu.
Dalam hal ini, grup Sri Karya Manunggal telah membuat perubahan dalam seni
reog tersebut sehingga mengalami perkembangan dari seni tersebut demi kelangsungan seni reog yang ada di desa Bangko Lestari.
4.2 Upaya-Upaya Melestarikan Kesenian Reog dalam Konteks Perubahan Reog sebagai sebuah ritual dan tradisi bagi masyarakat Desa Bangko Lestari mengalami berbagai tantangan dan berbagai kendala untuk dapat bertahan
hingga saat ini baik dari grup-grup lain yang tidak menyukai grup Sri Karya
Manunggal ini maupun tantangan di zaman modern yang serba canggih yang
menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Masyarakat
lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan
dengan budaya lokal. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan oleh pelaku
kesenian reog pada grup Sri Karya Manunggal ini agar dapat mempertahankan keseniannya di zaman modern. Upaya-upaya yang dilakukan oleh para anggota
grup Sri Karya Manunggal antara lain sebagai berikut:
4.2.1 Menambahkan Kesenian Kuda Kepang dan Hanoman (Kera Putih) dalam Kesenian Reog
Salah satu usaha untuk mempertahankan kesenian reog yang dilakukan
oleh grup Sri Karya Manunggal adalah dengan menambah kesenian lainnya
99
penontonnya pasti tidak jenuh karena tariannya bermacam-macam dan juga
semenjak adanya penggabungan seni tersebut, maka banyak juga orang yang
berminat untuk menanggap kesenian tersebut karena sangat unik dan tidak terlalu
mahal biaya untuk tanggapannya.
4.2.2 Menjadikan Kesenian Sebagai Hobi dan Tidak Untuk Mencari Keuntungan
Kesenian Reog yang ada di Bangko Lestari mampu bertahan hingga sekarang karena salah satu upaya untuk melestarikannya yaitu dengan menjadikan
kesenian tersebut sebagai hobi dan tidak untuk mencari keuntungan semata.
Dulunya kesenian ini digunakan sebagai pekerjaan yang mereka geluti untuk
mencari nafkah karena susahnya untuk mencari pekerjaan, namun sekarang
kesenian ini tidak lagi digunakan untuk mencari uang semata tapi sudah menjadi
hobi bagi mereka karena mereka juga mempunyai jiwa seni dan juga kebanyakan
keturunan seniman. Hal ini dikarenakan pendapatan yang mereka peroleh dari
setiap kali tampil terkadang tidak cukup untuk membayar para pemain. Seperti
yang diungkapkan oleh Bang Beni selaku ketua dalam Grup Sri Karya
Manunggal:
100 4.2.3 Merekrut Anggota Baru
Kepengurusan grup Sri Karya Manunggal tidak membuat syarat-syarat
secara khusus untuk anggota yang ingin bergabung pada grup tersebut seperti
adanya biaya pendaftaran, harus bisa menari, dan sebagainya. Cara perekrutan
yang mereka lakukan yaitu dengan cara mengajak temannya dan tidak dipaksa
harus ikut bergabung melainkan dengan niat yang kuat ingin bergabung. Biasanya
mereka tidak susah payah untuk merekrut teman-temannya karena yang
berkeinginan untuk menjadi anggota baru bisa dikatakan banyak tetapi ada banyak
juga yang tidak konsisten karena ada yang hanya sekedar ikut-ikutan tidak dengan
niat yang kuat. Namun yang bertahan juga masih banyak karena mereka memang
sangat hobi dengan kesenian reog tersebut. Banyak dari mereka yang tetap
bertahan menjadi anggota grup Sri Karya Manunggal ini karena keturunan dari
orang tua yang juga seniman.
4.3 Pemungsian
Dalam konteks menjaga eksistensinya, maka para pendukung reog di Bangko Lestari ini, terutama kelompok reog Sri Karya Manunggal memiliki kebijakan yaitu memungsikannya dalam berbagai aktivitas kebudayaan. Strategi
pemungsian itu antara lain adalah: untuk siklus kehidupan (slametan), memenuhi
berbagai keperluan masyarakat pendukungnya yang bukan hanya orang Jawa saja
tetapi juga Melayu, mengobati penyakit karena hasad dengki manusia melalui
makhluk gaib, dan lain-lainnya. Pemungsian ini berkait erat dengan kesenian reog
101
Seperti dinyatakan Radcliffe-Brownbahawa fungsi sangat berkait erat
dengan struktur sosial masyarakat. Bahwa struktur sosial itu hidup terus,
sedangkan individu-individu dapat berganti setiap masa. Dengan demikian,
Radcliffe-Brown yang melihat fungsi ini dari sudut sumbangannya dalam suatu
masyarakat, mengemukakan bahwa fungsi adalah sumbangan satu bagian aktivitas
kepada keseluruhan aktivitas di dalam sistem sosial masyarakatnya. Tujuan fungsi
adalah untuk mencapai tingkat harmoni atau konsistensi internal, seperti yang diuraikannya berikut ini.
“By the definition here offered „function‟ is the contribution which a partial activity makes of the total activity of which it is a part. The function of a perticular social usage is the contribution of it makes to the total social life as the functioning of the total social system. Such a view implies that a social system ... has a certain kind of unity, which we may speak of as a functional unity. We may define it as a condition in which all parts of the social system work together with a sufficient degree of harmony or internal consistency, i.e., without producing persistent conflicts can neither be resolved not regulated” (1952:181).
Selaras dengan pandangan Radcliffe-Brown, maka reog di Desa Bangko Lestari Riau bisa dianggap sebagai bahagian dari struktur sosial masyarakat Jawa
yang berada di wilayah budaya Melayu. Seni pertunjukanreog ini adalah salah satu bahagian aktivitas yang bisa menyumbang kepada keseluruhan aktivitas,
yang padawaktunya akan berfungsi bagi kelangsungan kehidupan budaya
masyarakat pendukungnya (dalam hal ini Jawa dan Melayu). Fungsinya lebih jauh
adalah untuk mencapai tingkat harmoni dan konsistensi internal. Pencapaian kondisi itu, dilatarbelakangi oleh berbagai kondisi sosial dan budaya dalam
102
menghormati sebagai tuan rumah dan pendatang, serta membangun Riau secara
bersama, dan lain-lainnya.
4.3.1 Pertunjukan Reog yang Berkaitan dengan Siklus Hidup (Slametan) dan Memenuhi Keperluan Masyarakat Pendukungnya
Menurut Geertz, (1960) bahwa upacara yang berkaitan dengan siklus
hidup (slametan) manusia sampai sekarang masih dilaksanakan oleh orang-orang Jawa di desa Bangko Lestari dengan mengadakan pertunjukan reog yang
digunakan sebagai ritual yang diyakini untuk menolak mara bahaya. Slametan
terbagi ke dalam empat jenis:
(1) Yang berkisar di sekitar krisis kehidupan kelahiran, kematian, khitanan,
perkawinan, dan kematian;
(2) Yang ada hubungannya dengan hari raya Islam: Maulud Nabi, Idul Fitri, Idul
Adha dan sebagainya;
(3) Yang ada kaitannya dengan integrasi sosial desa, bersih desa (secara harfiah berarti ―pembersihan desa‖ yakni dari makhluk halus jahat); dan
(4) Slametan sela yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung kepada kejadian luar biasa yang dialami seseorang keberangkatan untuk
sebuah perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung dan
sebagainya.
Masyarakat yang ada di desa Bangko Lestari selain dihuni oleh orang
Jawa, desa tersebut juga dihuni oleh orang Melayu. Kesenian reog ini mendapat respon pro-kontra dari suku Melayu yang ada di desa tersebut. Sebagian suku
103
ini adalah kesenian yang membawa kepada kesyirikan. Hal ini disebabkan karena
ritual-ritual yang digunakan dalam kesenian reog tersebut dianggap melanggar peraturan agama Islam. Namun disamping itu ada juga orang Melayu yang senang
dengan kesenian reog ini. Mereka tidak hanya sekedar manjadi penonton dalam pertunjukan reog tapi juga menanggap kesenian reog tersebut. 1
Kesenian reog tentunya tidak lepas dari aspek sosiologisnya, seperti Sumandiyo mengatakan bahwa tari merupakan ekspresi manusia yang bersifat
estetis dan kehadirannya tidaklah bersifat independen.Aspek sosial yang dimaksud
berkaitan dengan masyarakat dan kehidupan sosialnya yang tentunya berperan
penting sebagai pendukung keberadaan tari reog sejak terciptanya serta proses pelestariannya. Ben Suharto mengedepankan bahwa sebuah tari tidak berdiri
secara mandiri tetapi luluh lekat berhubungan dengan adat setempat, pandangan
hidup, tata masyarakat, agama atau kepercayaan dan sebagainya dari lingkungan
di mana tarian tersebut lahir (Pertiwi, 2015).
Ada suku Melayu yang percaya bahwa jika nanggap kesenian reog ini maka hidupnya akan menjadi lebih baik. Hal ini seperti yang terjadi di kecamatan
Bangko Pusako, tepatnya diBalam Kilometer 8, Kecamatan Bangko Pusako ada
orang Melayu yang nanggap kesenian reog karena ―sakit buatan manusia.‖ Ia
sakit karena terkena ―guna-guna‖ oleh orang lain yang iri dengannya karena ia
dikenal sebagai orang kaya yang sombong dan ditambah lagi dengan kemenangan
anaknya yang berhasil menjadi anggota legislatif sehingga banyak yang iri
dengannya. Di depan rumahnya terdapat tanaman yang bentuknya seperti boneka
1
104
lalu dibungkus dengan kapas dan dibalut lagi dengan kain kafan. Setelah dibuka
di dalamnya ada jarum dan paku. Kemudian disamping rumahnya diletakkan juga
bungkusan ramuan yang terdapat pisau silet, jarum pentul, lidi aren, dan ijok.2
Salah satu anggota kesenian reog dipanggil untuk membantu orang tersebut agar diobati dari sakitnya. Orang yang mengobati tersebut harus dalam
keadaan kesurupan. Kesurupan yang akar katanya berarti ―masuk,‖ ―memasuki
sesuatu.‖ Menurut Geertz, Kesurupan adalah jenis kerasukan makhluk halus yang
umum sekali. Penyakit tersebut dipercaya disembuhkan oleh makhluk halus
tersebut sehingga orang tersebut sembuh dari sakitnya. Setelah itu ia
melaksanakan slametan dengan nanggap kesenian reog sebagai ritual yang dipercaya dapat menjauhkan ia dari segala mara bahaya.
Kemudian ada juga orang Melayu yang nanggap kesenian reog karena ia tidak merasa betah dirumahnya, dalam arti tidak betah karena dirumahnya ia dan
suaminya diganggu oleh makhluk halus. Ia menganggap bahwa dengan nanggap
kesenian reog maka ia akan betah dirumahnya. Setelah mereka nanggap kesenian
reog maka mereka percaya bahwa ritual dari kesenian reog tersebut membawa hidup mereka menjadi tentram dan menjadi betah dirumahnya dan dijauhkan dari
mara bahaya. Mbah Bolong mengatakan sebagai berikut:
―Orang Melayu juga ada yang nanggap seni reog ini. Ada juga yang sukak nonton reog ini bahkan ada juga yang sampe „mabok.‟ Kalo yang nanggap itu dia kerumah saya dulu. Istrinya orang Melayu dan suaminya orang Jawa. Jadi yang pingin nanggep itu istrinya. Dia gak betah dirumah barunya. Bolak- balek berantem sama suaminya tanpa sebab. Dari situ dia ngadu ke saya. Saya tau kalo itu gangguan dari makhluk halus. Jadi dia minta nanggap seni reog ini supaya dihindarkan dari gangguan makhluk
2
105
halus tadi. Sesudah nanggap itu, tiga hari kemudian dia datang kerumah saya dan bilang ke saya kalo dia udah nyaman dirumahnya itu.
4.3.2 Pertunjukan Reog yang Digunakan Saat Mengayunkan (Memberi Nama Bayi)
Upacara semasa masih kecil dalam kandungan (kehamilan) dikenal
berbagai tahap atau macam. Slametan utama diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan. Tingkeban, yang diselenggarakan hanya apabila anak yang dikandung adalah anak pertama bagi si ibu, si ayah, atau keduanya, pada kelahiran
bayi itu sendiri (babaran atau brokohan), lima hari sesudah kelahiran (pasaran) dan tujuh bulan setelah kelahiran (pitonan) (Geertz, 1960).
Pasaran merupakan slametan yang agak lebih besar yang diselenggarakan lima hari sesudah slametan pertama untuk bayi. Pasaran ini berarti memberi nama
pada bayi atau yang sering disebut oleh masyarakat desa Bangko Lestari dengan
sebutan mengayunkan. Dalam pemberian nama pada bayi atau mengayunkan
biasanya tidak jarang mereka menanggap kesenian reog sebagai hiburan maupun sebagai doa agar dijauhkan dari marabahaya. Hal ini sudah menjadi lumrah di desa tersebut.
Waktu pelaksanaan pertunjukan biasanya sudah ditentukan jauh-jauh hari
sebelum dilaksanakan pertunjukannya tersebut. Biasanya si penanggap seni reog ini menghubungi atau datang langsung ke rumah Bapak Tukijo yang punya grup
Sri Karya Manunggal tersebut. Hal ini dilakukan agar bisa membicarakan tentang
pelaksanaan pertunjukan seperti dalam penentuan waktu yang akan
106
Kemudian pihak dari grup ini juga nantinya harus tau lokasi tempat pertunjukan
tersebut.
Waktu yang diadakan untuk pertunjukan seni reog biasanya sering dilakukan pada malam hari pukul 20:00 WIB sampai dengan selesai. Namun
dalam penelitian yang dilakukan oleh Sitopu, (2008), bahwasanya waktu untuk
melaksanaan pertunjukan reog Ponorogo adalah pada saat siang menjelang sore hari berkisar antara jam 14.00 s/d 18.00 Wib. Pertunjukan reog Ponorogo tidak pernah dilakukan malam hari, jika dilakukan malam hari pertunjukan tidak dapat
berlangsung dengan baik karena dalam setiap pertunjukannya reog Ponorogo
dilakukan ditempat terbuka dan luas. Siang hari merupakan waktu yang efisien
karena para pemain dapat mengetahui lebih jelas lagi bagaimana tempat
pertunjukan dan bisa merasakan keberadaan penonton sehingga para pemain tidak
perlu khawatir akan mengenai penonton. Berbeda dengan waktu pertunjukan reog
yang ada di desa Bangko Lestari, bagi mereka pertunjukan reog yang dilakukan pada malam hari merupakan waktu yang sangat tepat karena suasanya lebih
menegangkan dan menarik sehingga penontonnya terbawa oleh suasana tersebut.3
Dan biasanya tidak pasti sampai pukul berapa selesai dari pertunjukan tersebut
karena terkadang penontonnya masih banyak. Jika banyak yang mabuk maka biasanya selesai sampai pukul 00:00 WIB. Pertunjukannya juga biasa dilakukan di
tempat-tempat terbuka seperti, lapangan atau pekarangan yang luas.
Sebelum melakukan pertunjukan, maka terlebih dahulu mempersiapkan
sesaji untuk kuda kepang yaitu terdapat empat macam cangkir yang berisi, air
kopi, air putih, santen dicampur dengan gula merah, dan teh. Kemudian untuk
3
107
hanoman sesajinya berupa bunga mawar merah dan mawar putih, dan untuk reog
yang terdiri dari kembang dicampur dengan melati, kenanga, dan mawar. Guna
dari semua sesaji tersebut adalah sebagai rasa syukur mereka kepada roh yang
telah menjaga mereka dari keselamatan dan juga syarat untuk memanggil roh
halus tersebut agar dapat merasuki tubuh pemain kesenian reog4.
Gambar 4.1: Sesaji untuk Ritual Pertunjukan
Para pemain gamelan memainkan musiknya sebelum para penari ditampilkan agar mengundang datangnya para penonton. Setelah penonton
berkumpul di area tersebut lalu satu persatu tarian pun ditampilakan. Setelah
penontonnya ramai kemudian tarian pun dimulai.
Pertunjukan dimulai dengan tarian Hanoman (Kera Putih). Tari hanoman
ini jarang dimainkan pada grup-grup yang lain. Maka pada grup Sri Karya
Manunggal ini menambahkan tari hanoman yang bertujuan untuk membuat penonton lebih terhibur dan tidak jenuh menyaksikan pertunjukaan tersebut.
4
108
Gambar 4.2: Penari Topeng Hanoman (Kera Putih)
Situasi penonton pada saat pertunjukan dimulai semakin ramai. Penonton
yang ada di tempat tersebut ditonton dari berbagai macam kalangan dan juga tidak
hanya orang Jawa melainkan juga ada suku Melayu yang senang dengan
pertunjukan ini. Setelah tarian hanoman, kemudian dilanjut lagi dengan tarian
Bujangganong (Ganongan).
Gambar 4.3: Penari topeng Patih Bujangganong
Tarian Bujangganongselalu ditampilkan dengan tarianreog. Setelah
109
bersamaan dengan Ganongan. Untuk memasangkan topeng dhadhak merak
tersebut, maka pemabarong pun harus dalam posisi terlentang untuk memasukkan
kepalanya dengan topeng tersebut.
Gambar 4.4: Pemain Topeng Dhadhak Merak Ketika Mulai Tampil
Setelah pemain topeng Dhadhak Merak tersebut bangkit, maka patih Bujangganong pun mengajak Reog tersebut beradu. Pada grup ini menganggap bahwa Patih Bujangganong adalah tokoh yang memainkan peran yang lucu, cerdik, dan adegannya juga selalu beradu dengan Reog. Kedua tarian ini sangat disukai oleh para penonton karena adegan yang dimainkan terkesan lucu dan
khususnya oleh anak-anak yang selalu berada di depan ketika adegan ini
dimainkan. Bujangganong tersebut seakan akan mengejek reog dan ingin mengajak Reoguntuk bertengkar. Namun pada akhirnya Bujangganong tersebut dapat ditaklukkan oleh Reog karena kalah.
110
Gambar 4.6: Pertarungan Bujangganong dan Reog
111
Gambar 4.8: Pertarungan yang dimenangkan oleh Reog
Biasanya setiap pembarong melakukan berbagai macam atraksi dengan mengangkat para penonton diatas dhadhak merak dan dibawa berkeliling, gerakan tarian yang ditampilkan seperti silat, selain itu juga para pembarong melakukan
atraksi seperti berguling-guling ditanah dengan topeng yang masih melekat.
112
Setelah tarian bujangganong dan reog selesai, maka dilanjutkan dengan tarian penari laki-laki berkuda (jathilan). Para penari jathilan ini berjumlah enam orang. Tarian ini berlangsung selama lebih kurang 20 menit.
Gambar 4.10: Penari Jathil laki-laki
Setiap kali tampil dalam pertunjukan kesenian ini selalu di penuhi dengan
penonton yang begitu ramai baik dari kalangan anak-anak sampai orang tua.
Penonton tersebut dapat bebas melibatkan diri dalam setiap pertunjukan tanpa ada
batas dan hambatan. Ada penonton yang kesurupan (mabuk) disaat aksi bermain
api dilakukan. Para penonton yang begitu antusias pun memasuki area lapangan
113
Gambar 4.11: Aksi Para Pemain di Api
Dari pertunjukan reog yang telah ditampilkan tersebut terlihat bahwa sudah terjadi perubahan yang mencolok dari bentuk penyajian, waktu pertunjukan,
dan juga aksi mereka di api yang merupakan kontinuitas dari perkembangan seni
reog tersebut. Tidak hanya itu, fungsi dari kesenian reog tersebut juga digunakan mereka sebagai sarana untuk melakukan praktik pengobatan. Dari
perubahan-perubahan tersebut terlihat bahwa Grup Sri Karya Manunggal telah
mengupayakan agar kesenian reognya tetap disenangi oleh masyarakat demi
keberlanjutan seni tersebut sebagai warisan dari leluhur mereka yang harusdijaga