G. Analisis Alokasi Penggunaan Lahan Menggunakan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Penggunaan Lahan di Kota Sukabumi
5.2.2. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan
Pemusatan perubahan penggunaan lahan merupakan lokasi terjadinya konsentrasi perubahan penggunaan lahan sedangkan pergeseran penggunaan lahan menunjukkan terjadinya pengurangan atau penambahan luas penggunaan lahan. Identifikasi pemusatan perubahan penggunaan lahan dianalisis dengan menggunakan metode analisis Location Quotient (LQ) dimana nilai LQ >1
menjelaskan lokasi yang menjadi konsentrasi aktivitas perubahan penggunaan lahan tertentu. Pergeseran penggunaan lahan dianalisis dengan menggunakan metode Shift-share Analysis (SSA) dimana komponen yang digunakan adalah komponen proportional shift (untuk menjelaskan pergeseran perubahan penggunaan lahan secara agregat di Kota Sukabumi) dan komponen differential shift (untuk menjelaskan pergeseran perubahan penggunaan lahan di sub wilayah). Hasil analisis LQ maupun analisis SSA yang dilakukan memiliki tujuan untuk menjelaskan perubahan masing-masing penggunaan lahan pada tahun 2002 dan tahun 2007 (Tabel 22) dikarenakan matriks transformasi hanya menjelaskan luas perubahan suatu penggunaan lahan menjadi penggunaan lahan lainnya tanpa menjelaskan dimana lokasi terjadinya perubahan tersebut.
Berdasarkan hasil analisis SSA, nilai proportional shift penggunaan lahan di Kota Sukabumi selama kurun waktu 2002-2007 ditampilkan pada Tabel 24.
Tabel 24. Nilai Proportional Shift Penggunaan Lahan di Kota Sukabumi dalam Kurun Waktu 2002-2007
No. Jenis Penggunaan Lahan Nilai Proportional Shift
1 Infrastruktur Kota 0.061
2 Pemukiman 0.036
3 Sawah -0.014
4 Tegalan -0.021
5 Kolam Ikan Air Tawar 0.000
6 Peternakan 0.037
7 RTH Non-Pertanian -0.022
8 Sungai 0.000
Sumber : Hasil Analisis (2012)
Berdasarkan nilai pada komponen proportional shift, penggunaan lahan yang mengalami pergeseran secara agregat di Kota Sukabumi berupa penambahan luas adalah infrastruktur kota, pemukiman dan peternakan sedangkan yang mengalami pergeseran berupa pengurangan luas adalah tegalan, RTH Non- Pertanian dan sawah. Hasil pada komponen proportional shift akan dijadikan sebagai dasar dalam analisis pemusatan dan pergeseran perubahan penggunaan lahan.
Pemusatan dan pergeseran penggunaan lahan dianalisis dengan menggunakan metode analisis LQ dan SSA (komponen differential shift). Kelurahan yang menjadi lokasi pemusatan perubahan penggunaan lahan memiliki nilai LQ>1 sedangkan pergeseran penggunaan lahan memiliki nilai DS negatif (-) untuk laju pengurangan luas atau nilai DS positif (+) laju penambahan luas. Secara spasial dapat dilihat pula pola pemusatan yang terjadi yaitu :
1. Pola Menyebar apabila area (polygon) yang mengalami perubahan di lokasi pemusatan perubahan penggunaan lahan bersifat tidak konsentris atau mengumpul di salah satu bagian lokasi, dan
2. Pola Terpusat apabila area (polygon) yang mengalami perubahan di lokasi pemusatan perubahan penggunaan lahan bersifat konsentris atau mengumpul di salah satu bagian lokasi.
Lokasi pemusatan dan pergeseran perubahan penggunaan lahan ditampilkan pada Tabel 25 sedangkan hasil analisis LQ dan DS secara lengkap ditampilkan pada Lampiran 13.
Tabel 25. Lokasi Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Sukabumi
No Penggunaan Lahan Kelurahan Lokasi Pemusatan Pola Pemusatan Pengurangan Luas
1 Tegalan Baros, Cikole, Cikondang, Dayeuhluhur,
Gedongpanjang, Nanggeleng, Selabatu,
Sindangpalay, Situmekar, Sudajaya Hilir, Warudoyong
Tersebar
2 RTH Non- Pertanian
Gunungparang, Karamat, Kebonjati, Limusnunggal, Selabatu, Sriwedari, Subangjaya, Tipar
Terpusat
3 Sawah Babakan, Benteng, Cibeureum Hilir, Citamiang, Cipanengah, Nyomplong
Terpusat
Penambahan Luas
4 Infrastruktur Kota Baros, Benteng, Cikondang, Cikundul, Cipanengah,
Gedongpanjang, Karangtengah, Sudajaya Hilir,
Sukakarya.
Tersebar
5 Pemukiman Babakan, Cibeureum Hilir, Limusnunggal, Nanggeleng, Sindangpalay, Subangjaya
Terpusat
6 Peternakan Situmekar Terpusat
Lokasi yang menjadi pemusatan perubahan dan pengurangan luas lahan tegalan sekaligus merupakan lokasi pemusatan perubahan dan penambahan luas infrastruktur kota adalah Kelurahan Baros, Kelurahan Cikondang dan Kelurahan Gedongpanjang dengan pemusatan perubahan yang terjadi memiliki pola tersebar. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi adalah lahan tegalan menjadi infrastruktur kota. Pembangunan infrastruktur kota di Kelurahan Cikondang dan Kelurahan Gedongpanjang (wilayah Hirarki II) serta Kelurahan Baros (wilayah Hirarki II) adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan salah satu bentuk dari upaya peningkatan perkembangan wilayah di ketiga kelurahan tersebut. Secara spasial, pemusatan perubahan penggunaan lahan tegalan ditampilkan pada Gambar 13 sedangkan pemusatan perubahan penggunaan lahan menjadi infrastruktur kota ditampilkan pada Gambar 14.
Gambar 14. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan Menjadi Infrastruktur Kota
Lokasi yang menjadi pemusatan pengurangan luas lahan sawah dan RTH Non-Pertanian sekaligus merupakan lokasi pemusatan perubahan dan penambahan luas pemukiman adalah Kelurahan Babakan, Kelurahan Cibeureum Hilir, Kelurahan Limusnunggal dan Kelurahan Subangjaya dengan pemusatan perubahan yang terjadi memiliki pola terpusat. Pembangunan pemukiman di Kelurahan Limusnunggal dan Kelurahan Subangjaya (wilayah Hirarki II) menunjukkan adanya kecenderungan dari masyarakat untuk mendekati pusat pelayanan sedangkan pembangunan pemukiman di Kelurahan Babakan dan Kelurahan Cibeureum Hilir (wilayah Hirarki III) lebih diakibatkan karena masih tingginya area non terbangun berupa lahan pertanian dengan pola pembangunan pemukiman mendekati jaringan jalan. Secara spasial, perubahan penggunaan lahan sawah, RTH Non-Pertanian dan pemukiman ditampilkan masing-masing pada Gambar 15, 16 dan 17.
Gambar 15. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan Sawah
Gambar 16. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan RTH Non- Pertanian
Gambar 17. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan Menjadi Pemukiman
Lokasi yang menjadi pemusatan pengurangan luas lahan tegalan sekaligus merupakan lokasi pemusatan penambahan luas peternakan adalah Kelurahan Situmekar dengan pola memusat. Secara spasial pemusatan perubahan penggunaan lahan peternakan ditampilkan pada Gambar 18.
Gambar 18. Pemusatan dan Pergeseran Perubahan Penggunaan Lahan Peternakan
Berdasarkan hasil analisis LQ dan nilai DS pada Tabel 24, pemusatan pengurangan luas terjadi pada areal non-terbangun (sawah, tegalan dan RTH Non- Pertanian) sedangkan pemusatan penambahan luas mayoritas terjadi pada areal terbangun (pemukiman dan infrastruktur). Apabila dikaitkan dengan hasil analisis Skalogram, pemusatan perubahan penggunaan lahan dari areal non terbangun yang diiringi pemusatan penambahan luas areal terbangun terjadi pada wilayah Hirarki II dan Hirarki III. Jumlah desa terbanyak yang menjadi pemusatan perubahan terdapat di wilayah Hirarki III sebagaimana tertera pada Tabel 26.
Tabel 26. Jumlah Desa Tiap Hirarki pada Masing-masing Tipe Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Sukabumi
Tipe Perubahan Jumlah Desa
Hirarki I Hirarki II Hirarki III Pengurangan luas areal non-terbangun 4 8 12
Penambahan luas areal terbangun 6 10
Pembangunan pemukiman di wilayah Hirarki II terjadi sebagai hasil adanya dorongan dari masyarakat untuk tinggal mendekati pusat pelayanan (Hirarki I) dan sebagai akibatnya infrastruktur pun dibangun mengikuti pertumbuhan penduduk yang ada di wilayah tersebut. Pemusatan perubahan yang banyak terjadi di wilayah Hirarki III terjadi dikarenakan karakteristik utama wilayah Hirarki III adalah pertanian sehingga masih memiliki areal non terbangun berupa lahan pertanian yang masih luas sehingga dari sisi luasan areal masih sangat memungkinkan dibangun fasilitas pemukiman dan infrastruktur lain. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) di wilayah Hirarki III yang secara relatif lebih tinggi dari LPP Kota Sukabumi (3.83 di Kecamatan Cibeureum, 2.84 di Kecamatan Baros, 2.72 di Kecamatan Gunungpuyuh dan 2.26 di Kecamatan Lembursitu) telah meningkatkan kebutuhan fasilitas berupa pemukiman dan infrastruktur pendukung lainnya. Selain hal tersebut, adanya strategi penataan bipolar dengan membangun pusat pelayanan baru di bagian selatan Kota Sukabumi untuk mendorong perkembangan wilayah Kota Baru juga telah meningkatkan perubahan penggunaan lahan dari areal non terbangun menjadi areal terbangun. Nama desa tiap hirarki pada masing-masing tipe perubahan penggunaan lahan di Kota Sukabumi secara lengkap terdapat pada Lampiran 14.