• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemutakhiran Basis Data Perbenihan di Provinsi Bengkulu

Dalam dokumen Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2016 (Halaman 35-58)

I I TI NJAUA

4.2. Pemutakhiran Basis Data Perbenihan di Provinsi Bengkulu

Pemutakhiran basis data perbenihan dilakukan terhadap data primer dan sekunder melalui desk study dan koordinasi. Data yang diperlukan dalam pemutakhiran basis data perbenihan diantaranya adalah (1) Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu, (2) Sebaran varietas padi yang dikembangkan/ dibudidayakan di 10 Kabupaten/ Kota di Provinsi Bengkulu, (3) Persentase sebaran varietas unggul baru (VUB) padi di Provinsi Bengkulu, dan (4) Jumlah ketersediaan benih sumber padi di Provinsi Bengkulu berdasarkan vaietas dan kelas benih. Basis data ini bermanfaat dalam perencanaan produksi benih.

1. Sebaran luas tanam per varietas padi

Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi per varietas di 10 Kabupaten/ Kota di Provinsi Bengkulu pada t ahun 2015 disajikan pada Tabel 1. Data menunjukkan bahwa total luas tanam padi di Provinsi Bengkulu pada t ahun 2015 sebesar 138.848 ha. Varietas padi yang digunakan di Provinsi Bengkulu didominasi oleh varietas padi yang dirilis sebelum tahun 2004, antara lain seperti Ciherang, Mekongga, dan Situ Bagendit serta varietas lokal sebesar 78,86% . Tiga varietas padi yang paling banyak digunakan di Provinsi Bengkulu adalah varietas Cigeulis (19,92% ), Ciherang (17,76% ), dan Mekongga (12,06% ). Penggunaan ketiga varietas tersebut sudah berkurang jika dibandingkan dengan dat a sebaran luas tanam tahun 2014. Menurut Wibawa, et al. (2015),sebaran luas tanam padi pada tahun 2014 untuk varietas Cigeulis sebanyak 38.46% dan Mekongga sebanyak 26.23% .

Tabel 1. Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi per varietas di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2015

No. Varietas Rincian Sebaran Luas Tanam Per Varietas (Ha) Jumlah (Ha) Jumlah Kebutuhan Benih (Ton) Bengkulu Utara Bengkulu

Selatan RejangLebong

Muko muko

Seluma Kaur Kepahiang Lebong Bengkulu Tengah Kota Bengkulu 1 Ciherang 4.384 3.654 11.813 153 371 34 1.798 - 1.970 486 24.663 616,58 2 Mekongga 4.922 3.455 - 2.488 45 459 3.342 - 1.693 346 16.750 418,75 3 Cigeulis 1.166 5.444 10.153 1.042 484 1.622 5.602 - 2.148 - 27.661 691,53 4 I R 64 736 - 13.462 - 174 - - - 913 - 15.285 382,13 5 PB 42 287 - - 1.952 31 - - - 2.270 56,75 6 Situ Bagendit 1.776 - 8.622 112 96 2 233 - 142 86 11.069 276,73 7 Bestari 93 - - 57 - - - - 124 - 274 6,85 8 Diah Suci 152 - - - 152 3,80 9 Rojolele - - - 325 - - - 325 8,13 10 Cilemaya Muncul 49 - - - 49 1,23 11 Ciliwung - - 3.379 - - - 3.379 84,48 12 Musi - - 303 - - - 303 7,58 13 Caredek Merah - - 556 - - - 556 13,90 14 I npari 2 - - - 86 - 86 2,15 15 I npari 3 - - - 101 76 - - - 177 4,43 16 I npari 5 Merawu 26 - - - 56 - - - 82 2,05 17 I npari 6 - - - - 5 - - - - 3 8 0,20 18 I npari 8 - - 5.486 114 - - - 5.600 140,00 19 I npari 10 Laeya - - 4.182 - 16 - - - 15 - 4.213 105,33 20 I npari 11 - - 20 129 - - - 149 3,73 21 I npari 12 - - 5.964 19 - - - 119 6.102 152,55 Sumber : BPSB-TPH (2016)

Tabel 1. Lanjutan

No. Varietas Rincian Sebaran Luas Tanam Per Varietas (Ha) Jumlah (Ha) Jumlah Kebutuhan Benih (Ton) Bengkulu Utara Bengkulu

Selatan RejangLebong

Muko muko

Seluma Kaur Kepahiang Lebong Bengkulu Tengah Kota Bengkulu 22 I npari 13 - - - 36 19 - 108 - - 173 336 8,40 23 I npari 14 Pakun 238 - - 608 23 - - - 994 1.863 46,58 24 I npari 16 - - - 2 2 0,05 25 I npari 18 665 117 - - - - 5 787 19,68 26 I npari 20 - - 6.751 - 15 - - - 6.766 169,15 27 I npari 22 - - - - 8 - - - 8 0,20 28 I npari 30 Ciherang sub 1 6,75 - - - 189 - - 2 198 4,94 29 I npari Sidenuk - 5 - - - - 371 - - - 376 9,40 30 I npara 1 8 - - - 8 0,20 31 I npara 2 - - - 625 - - - - 655 - 1.280 32,00 32 I npara 6 53 - - 64 147 - - - 97 361 9,03 33 I npago 1 SHS 31 - - - 31 0,78 34 I npago 3 SHS 63 - - - 63 1,58 35 I npago 8 - - - 191 - 659 - 850 21,25 36 Lokal 1.077 75 3.020 37 219 70 63 - 1.701 504 6.766 169,15

Luas Tanam per Kabupaten/ Kota (ha) 15.068 12.633 74.356 7.639 2.145 2.187 11.897 - 11.197 1.726 138.848 3.471,19 Kebutuhan benih per Kabupaten/ Kota (Ton) 376,69 315,83 1.858,90 190,98 53,63 54,68 297,43 - 279,93 43,15 Sumber : BPSB-TPH (2016)

Berdasarkan data sebaran VUB tersebut, dapat diperoleh perkiraan kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu. Kebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu mencapai 3.471,19 Ton. Luas tanam padi terbesar di Provinsi Bengkulu berada di Kabupat en Rejang Lebong sebesar 74.356 ha, diikuti dengan Kabupaten Bengkulu Utara (15.068 ha) dan Bengkulu Selatan (12.633 ha). Kebutuhan benih padi di Kabupaten Rejang Lebong mencapai 1.858,90 Ton dengan varietas yang didominasi oleh Ciherang, Cigeulis, dan I R 64. VUB padi yang sudah mulai digunakan oleh masyarakat, antara lain I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 12, I npari 18, dan I npari 20.

Tabel 2. Kebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015

No. Kabupaten/ Kota Luas

Tanam (Ha)

Jumlah Kebutuhan Benih (Ton) *)

Sebaran Varietas

1 Bengkulu Utara 15.068 376,69 I npari 30 Ciherang Sub1,

I npari 5, I npari 14, I npara 1, I npara 6, I npago 1 SHS, I npago 3 SHS, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, I R 64, PB 42, Situbagendit, Diah Suci, Bestari, Cilemaya Muncul, Lokal

2 Bengkulu Selatan 12.633 315,83 I npari Sidenuk, Ciherang,

Mekongga, Cigeulis, Lokal

3 Rejang Lebong 74.356 1.858,90 I npari 8, I npari 10 Laeya,

I npari 12, I npari 18, I npari 20, Ciherang, Cigeulis, I R 64,

Situbagendit, Ciliwung, Musi, Caredek Merah, Lokal

4 Mukomuko 7.639 190,98 I npari 3, I npari 11, I npari

12, I npari 13, I npari 14, I npara 1, I npara 2, I npara 6, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, PB 42, Situbagendit, Bestari, Rojolele, Lokal

Tabel 2. Lanjutan

No. Kabupaten/ Kota Luas Tanam (Ha)

Jumlah Kebutuhan Benih (Ton) *)

Sebaran Varietas

5 Seluma 2.145 53,63 I npari 3, I npari 5

Merawu, I npari 6, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 13, I npari 14, I npari 18, I npari 20, I npari 22, I npara 6, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, I R 64, PB 42, Situbagendit, Lokal

6 Kaur 2.187 54,68 Ciherang, Mekongga,

Cigeulis, Situbagendit, Lokal

7 Kepahiang 11.897 297,43 I npari 13, I npari 30

Ciherang Sub 1, I npago 8, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, Situbagendit, Lokal

8 Lebong - - -

9 Bengkulu Tengah 11.197 279,93 I npari 2, I npari 10

Laeya, I npari 14, I npara 1, I npara 2, I npara 6, I npago 8, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, I R 64, Situbagendit, Bestari, Lokal

10 Kota Bengkulu 1.726 43,15 I npari 8, I npari 12,

I npari 13, I npari 16, I npari 18, I npari 22, Ciherang, Mekongga, Situbagendit, Lokal

Jumlah 138.848 3.471,19

Sumber : BPSB-TPH (2016) ; *)Data primer (diolah), 2016.

Demikian juga halnya di Kabupaten Bengkulu Utara yang merupakan lokasi kegiatan penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016, varietas padi yang ditanam didominasi oleh varietas Mekongga dan Ciherang. VUB padi sudah mulai digunakan oleh petani di Kabupaten Bengkulu Utara, antara lain I npari 5 Merawu, I npari 14, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npara 1, I npara 6, I npago 1, dan I npago 3. Sedangkan di Kabupaten Seluma, varietas dominan adalah Cigeulis dan Ciherang. VUB padi yang sudah digunakan oleh petani di Kabupaten Seluma,

antara lain I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 13, I npari 14, I npari 18, I npari 20, I npari 22, dan I npara 6.

2. Ketersediaan benih sumber di Provinsi Bengkulu

Beberapa permasalahan perbenihan yang ada pada saat ini, antara lain (1) belum semua varietas yang dilepas dapat diadopsi oleh petani/ pengguna benih, (2) ketersediaan benih sumber dan benih secara 6 (enam) tepat belum dapat dipenuhi, dan (3) belum semua petani menggunakan benih unggul bermutu/ bersertifikat (Wahyuni, 2011). Permasalahan tersebut juga dialami oleh petani/ pengguna benih di Provinsi Bengkulu. Peningkatan luas tanam dan jumlah kebutuhan benih tidak diimbangi dengan peningkatan ketersediaan benih.

Berdasarkan data luas penangkaran dan produksi benih di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 dapat dianalisis kecukupan ketersediaan benih berlabel di Provinsi Bengkulu (Tabel 3). Hasil menunjukkan bahwa total benih yang diproduksi oleh Lembaga/ I nstansi/ Perusahaan Perbenihan di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 hanya sebesar 121,95 ton dengan luas lahan penangkaran sebesar 115,21 ha. Dari total produksi benih tersebut tidak semua calon benih lulus seleksi. Jumlah benih berlabel yang diproduksi pada tahun 2015 hanya sebanyak 58,21 ton, sedangkan kebutuhan benih mencapai 3.471,19 ton. I ni berarti jumlah benih yang diproduksi oleh lembaga perbenihan yang ada di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 hanya mampu memenuhi sebanyak 1,7% dari total kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu tahun 2015. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa petani/ pengguna benih di Provinsi Bengkulu sangat mengalami kesulitan untuk mendapatkan benih bermutu karena ketersediaannya yang sangat terbatas. Pada Tahun 2015, UPBS BPTP Bengkulu berkontribusi terhadap penyediaan benih sumber padi di Provinsi Bengkulu sebanyak 7.650 kg benih padi dengan kelas benih SS atau sebesar 0,22% dari kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu.

Tabel 3. Luas penangkaran dan produksi benih di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015.

No Varietas Kelas Benih Luas Tanam (Ha)

Produksi (Ton)

Jumlah Benih yang Dilabel (Ton)

1 Ciherang FS 0,5 3,5 0,9 SS 2 11 8,3 2 Mekongga FS 1 7 2,1 SS 50,47 17,54 9,04 3 Cigeulis SS 4,38 11,5 10,135 4 I npari Sidenuk FS 0,5 0 0 5 I npari 4 SS 0,25 4 0,55 6 I npari 6 SS 3,25 1,275 1,275 7 I npari 15 SS 0,75 1,5 0 8 I npari 16 FS 5,2 0 0 SS 1,5 0 0 9 I npari 18 SS 5 0 0 10 I npari 22 FS 1 5 5 SS 22 0 0 11 I npari 30 FS 0,5 3,5 3,5 SS 9,86 46,6 6 12 I npara 2 FS 0,8 8 8 13 Situ Bagendit SS 3,25 1,5 0,96 14 I npago 8 SS 3 3,5 2,45 Jumlah 115,21 121,915 58,21 Sumber : BPSB-TPH (2016)

3. Penggunaan benih sumber VUB padi di Provinsi Bengkulu

Berbagai varietas VUB padi yang telah dirilis oleh Balitbangtan, antara lain varietas I nbrida Padi Sawah I rigasi (I npari), I nbrida Padi Rawa (I npara), I nbrida Padi Gogo (I npago), dan Hibrida Padi (HI PA) (Balitbangtan, 2015). Penggunaan varietas yang adaptif dan spesifik lokasi sangat diperlukan dalam mendukung peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan di Provinsi Bengkulu. Penggunaan VUB yang berdaya hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan dan toleran terhadap serangan hama penyakit utama telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan kecukupan pangan (Suprihatno, et al., 2010; Wahyuni, 2011).

Luas tanam VUB padi yang dirilis set elah tahun 2008 di Provinsi Bengkulu mencapai 29.346 ha (Tabel 4). Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa VUB padi yang dirilis setelah tahun 2008 paling banyak ditanam di Kabupaten Rejang Lebong, yaitu sebanyak 23.048 ha. Jika dibandingkan dengan luas tanam

masing-masing Kabupaten/ Kota, persentase luas tanam VUB padi yang tertinggi berada di Kabupaten Seluma dan Rejang Lebong, yaitu sebesar 33,8% dan 31,0% . Rata-rata persentase VUB padi di Provinsi Bengkulu adalah 21,14% .

Jika dibandingkan dengan sebaran luas tanam VUB di Provinsi Bengkulu pada 2 tahun sebelumnya, penggunaan VUB padi di Provinsi Bengkulu sudah mengalami peningkatan dari 7,95% (Tahun 2013) dan 11,01% (Tahun 2014). Persentase sebaran luas tanam VUB padi di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2013 – 2015 disajikan pada Gambar 1.

Tabel 4. Luas tanam dan persentase sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu Tahun 2015

No. Kabupaten/ Kota Luas Tanam

(Ha)

Luas Tanam VUB (Ha)*)

Persentase Sebaran Padi VUB per Kabupaten/ Kota (% )*) 1 Bengkulu Utara 15.068 426 2,83 2 Bengkulu Selatan 12.633 5 0,04 3 Rejang Lebong 74.356 23.048 31,00 4 Mukomuko 7.639 1.473 19,28 5 Seluma 2.145 725 33,80 6 Kaur 2.187 - 0 7 Kepahiang 11.897 859 7,22 8 Lebong - - 0 9 Bengkulu Tengah 11.197 2.506 22,38 10 Kota Bengkulu 1.726 304 17,61 Jumlah 138.848 29.346 Rata-rata Provinsi Bengkulu 21,14 Sumber : BPSB-TPH (2016); *)Data primer (diolah), 2016.

Gambar 1. Persentase sebaran luas tanam VUB padi di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2013 – 2015

Kondisi ini menggambarkan bahwa pada tahun 2013-2014, tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan Balitbangtancenderung lambat padahal sejak tahun 2008 hingga 2015 Balitbangtan telah melepas berbagai VUB padi spesifik untuk semua agroekosistem budidaya. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya sosialisasi dan ketersediaan benih bermutu, serta preferensi konsumen terhadap VUB padi (Senewe dan Alfons, 2011). Alasan utama petani mengadopsi suatu varietas unggul adalah rasa nasi disukai petani, produktivitas tinggi, harga jual tinggi, umur genjah, serta benih mudah diperoleh (I shak, et al., 2012).

Pada Tabel 4 terlihat belum sebaran VUB di Kabupaten Kaur dan Lebong (0% ). Jika dikonfirmasi dengan kegiatan UPSUS, maka diketahui bahwa terdapat penggunaan VUB di Kabupaten Kaur dan Lebong seluas 406 ha di Kabupaten Kaur dan 978 ha di Kabupaten Lebong pada periode tanam bulan April sampai dengan September 2016.

4. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu

Peningkatan persentase penggunaan VUB padi tidak hanya dalam hal luas tanam, tetapi juga dalam jenis varietas. Berdasarkan data tahun 2013 – 2015, penggunaan VUB padi yang dirilis setelah tahun 2008 di Provinsi Bengkulu semakin meningkat jenisnya. Hal ini menunjukkan VUB padi semakin diminati dan semakin banyak digunakan oleh petani di Provinsi Bengkulu. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2013 – 2015 disajikan pada Tabel 5.

Pada tahun 2013, jenis VUB padi rilis setelah tahun 2008 yang digunakan di Provinsi Bengkulu hanya 5 (lima) varietas, yaitu I npari 3, I npari 10 Laeya, I npari 13, I npara 1 dan I npara 2. Selanjutnya, pada tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi 10 (sepuluh) varietas, antara lain I npari 2, I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 10 Laeya, I npari 13, I npari 14, I npari 20, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npari 32, I npari Sidenuk, I npara 1, I npara 2, I npago 1, dan I npago 8. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa petani telah mulai mengenal VUB I npari 30 Ciherang sub 1, I npari 32, dan I npago.

Tabel 5. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu pada t ahun 2013 – 2015.

No Kabupaten/ Kota Sebaran Varietas pada Tahun

2013 2014 2015

1 Bengkulu Utara I npari 10 Laeya, I npari 13

I npari 3, I npari 14, I npara 1, I npara 2

I npari 30 Ciherang Sub1, I npari 5, I npari 14, I npara 1, I npara 6, I npago 1 SHS, I npago 3 SHS

2 Bengkulu Selatan I npari Sidenuk I npari Sidenuk

3 Rejang Lebong I npari 13 - I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 12, I npari 18, I npari 20

4 Mukomuko I npari 2, I npari 13, I npari 14, I npara 1

I npari 3, I npari 11, I npari 12, I npari 13, I npari 14, I npara 1, I npara 2, I npara 6

5 Seluma I npara 1 I npari 5 Merawu, I npari 10 Laeya, I npari 13, I npari 14, I npari 20

I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 13, I npari 14, I npari 18, I npari 20, I npari 22, I npara 6 6 Kaur I npari 13 I npari 13 I npari 6, I npari 10, I npari

13,I npari 14, I npari 22, I npari 30, I npara 1, I npara 2, I npara 3

7 Kepahiang I npari 13 I npari 10 Laeya, I npari 13, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npari 32, I npari Sidenuk, I npago 8

I npari 13, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npago 8

8 Lebong - - I npari 6, I npari 7, I npari 10 , I npari 13, I npari 22, I npari 30, I npara 1, I npara 2

9 Bengkulu Tengah I npari 3, I npara 2

I npari 2, I npari 10 Laeya, I npari 14, I npara 1, I npara 2

I npari 2, I npari 10 Laeya, I npari 14, I npara 1, I npara 2, I npara 6, I npago 8

10 Kota Bengkulu I npari 8, I npari 12, I npari 13, I npari 16, I npari 18, I npari 22

Sumber : BPSB-TPH (2014-2016)

Varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 merupakan VUB padi yang diseleksi dari varietas Ciherang. Varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 memiliki sifat yang hampir sama dengan varietas Ciherang yang selama ini sangat diminati oleh masyarakat Bengkulu. Karakteristik gabah dan beras yang diminati oleh masyarakat Bengkulu, antara lain bentuk gabah panjang ramping, kerontokan

sedang (mudah dirontok), dan tekstur nasi pulen (kadar amilosa sekitar 22- 23% ). Karakteristik tersebut dimiliki oleh varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 yang dirilis oleh Balitbangtan pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Balitbangtan juga merilis VUB padi yang diseleksi dari Ciherang dengan keunggulan karakteristiknya yaitu tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) (Balitbangtan, 2015). Berdasarkan data pada Tabel 5 diketahui bahwa pada tahun 2014 varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 dan I npari 32 sudah mulai digunakan oleh petani di Kabupaten Kepahiang.

Pada tahun 2015, penggunaan jenis VUB padi rilis setelah tahun 2008 yang digunakan di Provinsi Bengkulu semakin mengalami peningkatan mejadi 22 varietas, yaitu I npari 2, I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6 Jete, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 12, I npari 13, I npari 14, I npari 16, I npari 18, I npari 20, I npari 22, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npara 1, I npara 2, I npara 6, I npago 1, I npago 3, dan I npago 8. I npari 20 dan I npari 22 mulai dikenal oleh petani di Kabupaten Seluma melalui kegiatan display varietas Pendampingan PTT Padi BPTP Bengkulu pada tahun 2014.

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa Kabupaten Kaur merupakan wilayah di Provinsi Bengkulu yang mengalami penurunan sebaran varietas VUB. Pada tahun 2013 tercatat masih terdapat varietas I npari 13 yang digunakan oleh petani di Kabupaten Kaur, namun pada tahun 2014 dan 2015 tidak ada lagi VUB padi rilis setelah tahun 2008 yang digunakan oleh petani. I npari 13 memiliki karakteristik yang diminati oleh masyarakat Bengkulu, antara lain umur tanaman genjah (±99 hari), tekstur nasi yang pulen, dan tahan terhadap hama wereng (Balitbangtan, 2015). Akan tetapi, varietas I npari 13 memiliki kerontongan sedang atau dengan kata lain susah dirontok, sehingga menurunkan minat dan kepercayaan petani terhadap VUB padi. Petani beranggapan semua jenis VUB padi varietas I npari dan I npara memiliki karakteristik yang sama.

Penelitian Sugandi, et al., (2011) menyatakan secara umum petani memiliki persepsi yang baik terhadap VUB padi dan dipengaruhi secara nyata oleh pengalaman berusahatani padi, luas lahan, dan intensitas ke lahan sawah. Ketersediaan benih yang kurang tersedia, sistem pemeliharaan yang lebih sulit, dan harga VUB yang masih lebih mahal menjadi faktor penghambat minat petani untuk mengadopsi VUB.Walaupun demikian ada banyak faktor yang dapat mendorong petani untuk mengadopsi/ menggunakan VUB seperti penggunaan

pupuk yang lebih sedikit, umur tanaman lebih genjah, produktivitas lebih tinggi, ketahanan terhadap HPT lebih baik, penampakan gabah lebih baik, dan daya adaptasi baik. Faktor pendorong yang paling dominan mempengaruhi minat petani mengadopsi VUB karena produktivitasnya tinggi, umurnya lebih pendek, penggunaan pupuk dan ketahanan terhadap hama.

4.3. Produksi Benih Sumber

1. Penentuan lokasi dan petani kooperator

Kegiatan penangkaran benih sumber pada kegiatan UPBS Tahun 2016 dilaksanakan di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil dan Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma serta di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Peta sebaran lahan penangkaran kegiatan UPBS di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta sebaran lahan penangkaran kegiatan UPBS di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma.

Lokasi kegiatan penangkaran, luasan lahan dan jumlah petani kooperator yang terlibat pada kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa jumlah petani kooperator yang terlibat pada kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 sebanyak 30 orang dengan total luas lahan 16,1 ha. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan kegiatan penangkaran yang dilaksanakan pada tahun 2015.

Tabel 6. Lokasi kegiatan penangkaran, luasan lahan dan jumlah petani kooperator yang terlibat pada kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016.

No. Lokasi Kegiatan Jumlah Petani

Kooperator (orang) Luas Lahan (Ha) Varietas Kelas Benih

1 Desa Taba, Kecamatan Talo

Kecil, Kabupaten Seluma

13 6 I npari 6 BS

2 Desa Gunung Kembang,

Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma

2 2 Situ

Bagendit BS

3 Kelurahan Kemumu,

Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

14 7,3 I npari 30 BS

4 Desa Rimbo Kedui,

Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma

1 0,8 Gilirang BS

Jumlah 30 16,1

Sumber : Data primer, 2016.

Varietas benih padi yang digunakan oleh petani penangkar di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma adalah varietas I npari 6, sesuai dengan preferensi petani. Berdasarkan pengalaman kegiatan penangkaran pada tahun 2015, menurut petani varietas tersebut cocok di lahan sawah petani dan tahan terhadap serangan HPT. Selain itu, petani menyukai tekstur beras I npari 6 karena memiliki karakteristik tekstur nasi yang pulen. Kelas benih yang digunakan adalah kelas Benih Penjenis (Breeder Sheet/ BS). Dan varietas benih padi yang digunakan oleh petani penangkar di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara adalah varietas I npari 30 Ciherang Sub 1, sesuai dengan preferensi petani. Menurut petani varietas tersebut cocok di lahan sawah petani dan tahan terhadap serangan HPT. Selain itu, petani menyukai tekstur beras I npari 30 Ciherang Sub 1 karena memiliki karakteristik tekstur gabah dan nasi dengan varietas Ciherang yang selama ini diminati oleh petani.

Kegiatan penangkaran di Kabupaten Seluma juga melibatkan 2 orang petani kooperator dari Kelompok petani penangkar Permata Hamparan Ajan di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma dengan total luas lahan 2 ha. Keterlibatan Kelompok Tani tersebut dalam kegiatan penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 sebagai tindak lanjut permohonan Kelompok Tani untuk memperoleh bimbingan dan pembinaan dari

BPTP Bengkulu dalam memproduksi benih padi yang bermutu dan bersertifikat. Varietas benih padi yang digunakan adalah Situ Bagendit dengan kelas benih BS. Pemilihan varietas tersebut karena tipe lahan yang dimiliki petani adalah lahan sawah tadah hujan. Kondisi lahan petani kooperator di Desa Gunung Kembang sebetulnya kurang memenuhi syarat untuk dijadikan lokasi penangkaran benih sumber karena merupakan lahan sawah tadah hujan dan tidak memiliki saluran irigasi yang memadai. Akan tetapi, keterlibatannya dalam kegiatan penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 adalah sebagai bentuk pembinaan kepada petani oleh BPTP Bengkulu.

Kegiatan penangkaran yang dilaksanakan di Desa Rimbo Kedui, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma bekerjasama dengan Kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis I ntegrasi Padi – Sapi yang dilaksanakan di Kabupaten Seluma. Peran UPBS BPTP Bengkulu pada kegiatan penangkaran tersebut adalah dalam penyediaan benih sumber dan fasilitasi proses sertifikasi.

2. Pertemuan dengan calon petani kooperator

Pertemuan dengan calon petani kooperator bertujuan untuk menyampaikan teknologi budidaya penangkaran padi dan sistem kerjasama yang diterapkan dalam kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016. Komponen teknologi budidaya padi yang disampaikan meliputi sistem olah tanah, semai (pemupukan lahan persemaian), tanam (sistem tanam dan waktu tanam), pemupukan (dosis dan waktu pemupukan), dan roughing. Penyampaian materi teknologi budidaya padi dengan pendekatan PTT Padi melalui pertemuan ini sangat membantu memberikan pemahaman kepada petani tentang teknologi budidaya padi yang dianjurkan, karena beberapa orang petani kooperator yang baru terlibat pada kegiatan UPBS tahun 2016 belum pernah mengetahui teknologi tersebut. Melalui pertemuan ini petani menjadi paham tentang sistem tanam legowo 2: 1, dosis dan waktu pemupukan yang dianjurkan, organisme pengganggu tanaman (OPT) padi dan cara penanganannnya, serta frekuensi dan waktu roughing.

Pertemuan dengan calon petani kooperator juga dilaksanakan di Kelompok tani penangkar Mandiri di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Selain bertujuan untuk menyampaikan materi

teknologi budidaya padi dengan pendekatan PTT Padi, pertemuan tersebut bertujuan untuk menjelaskan sistem kerjasama yang diterapkan pada kegiatan UPBS tahun 2016. Sistem kerjasama yang diterapkan adalah sistem pengembalian investasi dalam bentuk gabah. Kegiatan UPBS BPTP Bengkulu akan memberikan benih, pupuk, dan sebagian pestisida, yang nilainya dihitung sebagai investasi. I nvestasi yang telah diberikan kepada petani tersebut nantinya harus dikembalikan oleh petani dalam bentuk gabah.

3. Penetapan nilai investasi dalam sistem kerjasama kegiatan penangkaran

Sistem kerjasama yang diterapkan pada kegiatan UPBS tahun 2016 adalah sistem pengembalian investasi dalam bentuk gabah. Kegiatan UPBS BPTP Bengkulu memberikan sarana produksi dalam bentuk benih, pupuk, dan sebagian pestisida, yang nilainya dihitung sebagai investasi. I nvestasi yang telah diberikan kepada petani tersebut nantinya harus dikembalikan oleh petani dalam bentuk gabah.Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 7. Jumlah saprodi yang diberikan kepada petani kooperator dihitung berdasarkan luas lahan masing-masing petani. Total nilai investasi yang diberikan adalah Rp 24.700.000,- dan perkiraan jumlah gabah yang harus dikembalikan petani sebanyak 4.490 kg gabah kering panen.

Total nilai investasi yang diberikan kepada Kelompok tani penangkar Permata Hamparan Ajan di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma adalah Rp 4.358.500,- dan perkiraan jumlah gabah yang harus dikembalikan petani sebanyak 1.000 kg gabah kering panen. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 8.

Total nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara sebesar Rp 28.821.000,-. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara disajikan pada Tabel 9. Total nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Rimbo Kedui, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma sebesar Rp 517.500,- yang digunakan untuk pembelian benih sumber sebanyak 15 kg.

Tabel 7. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma No Nama Petani Luas lahan

(ha) Benih (Rp) Pupuk (Rp) Pestisida (Rp) UHL (Rp) Total Nilai I nvestasi (Rp) Jumlah Pengembalian GKP (Kg) Produksi Riil GKP (Kg) 1 Khalimi 0,8 690.000 1.046.500 396.750 800.000 2.933.250 530 3.190 2 Syahbudin 0,6 517.500 713.000 299.000 600.000 2.129.500 380 2.475 3 I wan Harjo 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 2.035 4 Maryono 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.320 5 Kusman 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.540 6 Wahab 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.100 7 Sapto Widodo 0,6 517.500 713.000 299.000 600.000 2.129.500 380 1.320 8 Sauman 0,8 690.000 1.046.500 396.750 800.000 2.933.250 530 2.310 9 I din 0,3 258.750 356.500 299.000 450.000 1.364.250 250 990 10 Toton 0,2 172.500 333.500 299.000 450.000 1.364.250 230 770

Dalam dokumen Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2016 (Halaman 35-58)

Dokumen terkait