• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2016"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHI R

PENYEDI AAN DAN PENYEBARLUASAN BENI H

SUMBER VARI ETAS UNGGUL BARU PADI

MELALUI UNI T PENGELOLA BENI H SUMBER

DI PROVI NSI BENGKULU

SHANNORA YULI ASARI

BALAI PENGKAJI AN TEKNOLOGI PERTANI AN BENGKULU

BADAN PENELI TI AN DAN PENGEMBANGAN PERTANI AN

2016

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga Laporan Akhir Tahun 2016 Kegiatan Penyediaan dan Penyebarluasan Benih Sumber Varietas Unggul Baru (VUB) melalui Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) BPTP Bengkulu dapat diselesaikan. Laporan ini dibuat sebagai salah satu pertanggungjawaban terhadap hasil pelaksanaan kegiatan mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun 2016.

Kegiatan UPBS pada tahun 2016 bertujuan untuk (1) Pemutakhiran basis data kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu, (2) Memproduksi benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih FS (label putih), serta memfasilitasi proses sertifikasi benih tanaman padi ke BPSB-TPH bagi petani kooperator, dan (3) Mempercepat proses penyebaran VUB spesifik lokasi melalui berbagai media dan metode penyampaian informasi teknologi di Provinsi Bengkulu.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Kepala BPTP Bengkulu atas arahan-arahannya dalam kegiatan ini, demikian juga kepada rekan-rekan BPTP Bengkulu yang telah memberikan sumbangan tenaga dan pemikiran sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Harapan kami semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bengkulu, Desember 2016 Penanggungjawab Kegiatan,

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul RPTP/ RDHP : Penyediaan dan Penyebarluasan Benih Sumber Varietas Unggul BaruPadi Melalui Unit Pengelola Benih Sumber di Provinsi Bengkulu

2. Unit Kerja : BPTP Bengkulu

3. Alamat Unit Kerja : Jl. I rian Km. 6.5 Kel. Semarang Kota Bengkulu 38119

4. Sumber Dana : DI PA BPTP Bengkulu 5. Status (L/ B) : Lanjutan

11. Output Tahunan : 1. I nformasi dan basis data terkini mengenai kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu.

2. Benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih Benih Dasar (label putih) serta memfasilitasi proses sertifikasi benih padi ke BPSB bagi petani kooperator.

3. Peningkatan jumlah pengguna VUB yang diproduksi oleh UPBS.

12. Output Akhir : 1. Harmonisasi dan sinergi dari lembaga perbenihan (UPBS, BBI , BBU, UPTD Perbenihan, petani penangkar) dalam penyediaan benih unggul yang berkualitas bagi petani pengguna di Provinsi Bengkulu. 2. VUB berkualitas yang spesifik lokasi dipahami

dan diadopsi secara masif oleh petani dalam upaya peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan strategis (padi).

3. Data base yang akurat tentang kebutuhan benih, dan penyebaran benih VUB padi spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu.

(4)

aktif serta sinergis dengan lembaga perbenihan daerah.

13. Biaya : Rp. 139.200.000,- (Seratus Tiga Puluh Sembilan Juta Dua Ratus Ribu Rupiah)

Koordinator Program Penanggungjawab RPTP/ RDHP

Dr. Shannora Yuliasari, S.TP., MP Dr. Shannora Yuliasari, S.TP., MP NI P. 19740731 2001312 2 001 NI P. 19740731 2001312 2 001

Mengetahui,

Kepala BBP2TP, Kepala BPTP Bengkulu,

(5)

DAFTAR I SI

Halaman

KATA PENGANTAR... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

DAFTAR I SI ... iv

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPI RAN ... vi

RI NGKASAN DAN SUMMARY ... vii

I .... ... ... ...PENDAH ULUAN ... 1

1.1.... ... ... ...Latar Belakang ... 1

1.2.... ... ... ...Tujuan ... 3

1.3... ... ... ...Luaran ... 3

1.4.... ... ... ...Perkiraan Dampak dan Manfaat ... 3

I I .... ... ... ...TI NJAUA N PUSTAKA... 5

I I I .... ... ... ...METODO LOGI ... 8

3.1.... ... ... ...Lokasi dan Waktu ... 8

3.2.... ... ... ...Alat dan Bahan ... 8

3.3.... ... ... ...Ruang Lingkup Kegiatan ... 8

3.4.... ... ... ...Metode Pelaksanaan Pengkajian ... 9

I V.... ... ... ...HASI L DAN PEMBAHASAN... 18

4.1.... ... ... ...Koordinas i I nternal dan Antarinstitusi... 18

(6)

4.3.... ... ... ...Produksi

Benih Sumber ... 30

V.... ... ... ...KESI MPU LAN DAN SARAN ... 44

KI NERJA HASI L DI SEMI NASI ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46

ANALI SI S RI SI KO ... 48

JADWAL KERJA... 50

PEMBI AYAAN ... 51

PERSONALI A ... 53

LAMPI RAN ... 55

DAFTAR TABEL

Halaman 1.... ... ... ...S ebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi per varietas di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2015 ... 20

2.... ... ... ...K ebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015... 22

3.... ... ... ...L uas penangkaran dan produksi benih di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015... 25

4.... ... ... ...L uas tanam dan persentase sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu ... 26

5.... ... ... ...S ebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2013 – 2015 ... 28

(7)

7.... ... ... ...N ilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa

Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma ... 35 8.... ... ... ...N

ilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten

Seluma ... 36 9.... ... ... ...N

ilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu

Utara ... 37 10... ... ... ...K

omponen PTT dan teknologi yang diterapkan pada kegiatan

penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 ... 38 11.... ... ... ...R

ekomendasi pemupukan di lokasi penangkaran kegiatan UPBS

BPTP Bengkulu tahun 2016 ... 40 12.... ... ... ...H

asil prosesing calon benih sumber produksi UPBS BPTP Bengkulu

tahun 2016... 41 13.... ... ... ...P

roduksi benih sumber pada masing-masing Kelompok Tani

Penangkar Kooperator Tahun 2016... 41 14... ... ... ...D

aftar resiko pelaksanaan kegiatan Produksi Benih/ UPBS tahun

2016 ... 48 15.... ... ... ...D

aftar penanganan resiko dalam pelaksanaan kegiatan Produksi

Benih/ UPBS tahun 2016... 49 16.... ... ... ...J

adwal Kerja Kegiatan UPBS/ Perbenihan Tahun 2016 ... 50 17.... ... ... ...R

encana Anggaran Belanja Kegiatan ... 51 18... ... ... ...R

ealisasi Anggaran Belanja Kegiatan... 52 19.... ... ... ...P

ersonalia Kegiatankegiatan UPBS/ Perbenihan Tahun 2016 ... 53

DAFTAR GAMBAR

(8)

1.... ... ... ...P ersentase sebaran luas tanam VUB padi di Provinsi Bengkulu

Tahun 2013 – 2015 ... 26 2.... ... ... ...P

eta sebaran lahan penangkaran kegiatan UPBS di Desa Taba,

Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma ... 30

(9)

Halaman 1....Matriks Kegiatan Penangkaran Benih Sumber Padi UPBS

BPTP Bengkulu Tahun 2016 ... 55 2....Dokumentasi kegiatan UPBS BPTP Bengkulu Tahun 2016 ... 58

(10)

1. Judul : Penyediaan dan Penyebarluasan Benih Sumber Varietas Unggul Baru Padi Melalui Unit Pengelola Benih Sumber di Provinsi Bengkulu

2. Unit Kerja : BPTP Bengkulu

3. Lokasi : Provinsi Bengkulu

4. Agroekosistem :

-5. Status(L/ B) : Lanjutan

6. Tujuan : 1. Pemutakhiran basis data kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu.

2. Memproduksi benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih Benih Dasar (label putih) serta memfasilitasi proses sertifikasi benih tanaman pangan strategis (padi) ke BPSB bagi petani kooperator.

3. Mempercepat proses penyebaran VUB spesifik lokasi melalui berbagai media dan metode penyampaian informasi teknologi di Provinsi Bengkulu.

7. Keluaran : 1. I nformasi dan basis data terkini mengenai kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu.

2. Benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih Benih Dasar (label putih) serta memfasilitasi proses sertifikasi benih tanaman pangan strategis (padi) ke BPSB bagi petani kooperator.

3. Peningkatan jumlah pengguna VUB yang diproduksi oleh UPBS. I npara dan I npago) sebanyak 33.150 kg, jagung 1.950 kg, dan kedelai 400 kg.

3. Pada tahun 2014 telah diproduksi benih sumber verietas unggul baru padi (I npari, I npara dan I npago) sebanyak 4.746 kg (kelas benih FS dan SS).

(11)

padi kelas Benih Pokok (label ungu), dan sekitar 4.550 kg benih sumber VUB padi yang terdiri atas 1.640 kg varietas I npari 6, 370 kg varietas I npara 2, I npara 4 sebanyak 590 kg, dan varietas I npari 18 sebanyak 1.950 kg dengan kelas benih SS.

9. Prakiraan Manfaat : 1. Tersedia informasi yang akurat mengenai kebutuhan benih, varietas, kelas benih, waktu produksi dan penyebaran VUB di Provinsi Bengkulu.

2. Petani dan lembaga perbenihan daerah mendapatkan bimbingan teknis budidaya, prosesing benih, dan bahkan dapat menyaksikan langsung keunggulan varietas yang dikembangkan melalui berbagai kegiatan diseminasi (penangkaran, temu lapang, panen raya).

3. Petani menghargai dan memahami panjangnya proses untuk menghasilkan benih unggul berkualitas dan pentingnya penggunaan VUB spesifik lokasi.

4. Petani mendapatkan varietas adaptif yang sudah teruji dengan potensi hasil tinggi dan toleran terhadap berbagai cekaman lingkungan biotik dan abiotik, sebagai upaya untuk mengurangi resiko kegagalan dalam usaha tani.

5. Benih yang spesifik agroekosistem (dataran rendah, dataran tinggi, lahan kering, lahan rawa, lahan masam, lahan alkalis, lahan sawah irigasi, tadah hujan) dapat disediakan secara tepat, sehingga para pengguna/ petani mempunyai banyak pilihan atau alternatif VUB spesifik lokasi.

10. Prakiraan Dampak : Adopsi terhadap benih berkualitas yang spesifik lokasi berdampak pada peningkatan produksi dan produktivitas tanaman padi di Provinsi Bengkulu. Peningkatan tersebut akan menyebabkan meningkatnya pendapatan petani. Peningkatan produktivitas dan produksi padi dapat mendukung dan mewujudkan swasembada dan swasembada padi berkelanjutan di Provinsi Bengkulu.

(12)

lahan petani penangkar dengan pengawalan teknologi sesuai dengan kondisi spesifik lokasi. Kegiatan akan dilaksanakan pada bulan Januari– Desember 2016. Kegiatan Produksi Benih/ UPBS meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Persiapan kegiatan meliputi penyusunan dan perbaikan rencana kegiatan (RODHP dan juklak) dan koordinasi. Pelaksanaan kegiatan meliputi: (a) Pertemuan internal dan antar institusi (dinas/ instansi terkait di pusat dan daerah), (b) Pemutakhiran basis data perbenihan di Provinsi Bengkulu, meliputi kegiatan dan kinerja lembaga perbenihan daerah (BBI , BBU, dan petani), (c) Produksi benih/ pelaksanaan penangkaran di lahan petani penangkar, prosesing, sertifikasi, penyimpanan dan distribusi benih,dan (d) Pelaporan kegiatan. Adapun parameter yang diamati meliput i: (1) Basis data dan peta penyebaran varietas padi di Provinsi Bengkulu, (2) Produksi benih sumber padi, dan (3) Jumlah benih yang produksi dan disalurkan oleh UPBS BPTP Bengkulu.

12. Jangka Waktu : 1 (satu) tahun

13. Biaya : Rp. 139.200.000,- (Seratus Tiga Puluh Sembilan Juta Dua Ratus Ribu Rupiah).

(13)

1. Title : Supplying and Distribution of New I mproved Varieties by Management Unit for Breeding Seed in Bengkulu Province.

2. I mplementing Unit : Bengkulu AI AT

3. Location : Bengkulu Province

database seed needed, varieties, seed class, and distribution of high yielding varieties of rice in the province of Bengkulu.

2. Producing

rice seed source for agroecosystem fields as much as 7 tons with seed class Foundation seed (white label), and facilitate the certification process of strategic food crop seeds for farmers to BPSB cooperators.

3. Accelerate

the deployment site-specific VUB through a variety of media and methods of delivery of information technology in the province of Bengkulu.

b. Long term objectives

: 1. To create harmonize dan sinergy of breeding institution (UPBS, BBI ), BBU, UPTD, and breeders) and in supplying high quality of supperior seed for farmers in Bengkulu Province.

2. Farmers understand and adopt using high specific locations quality VUB in an effort to increase productivity and production of strategic food crops (rice).

3. Develop accurate data base on with seed needed, regional breeding institution, (BBI , BBU, penangkar), spreading seed of new improved varieties having site-specific in Bengkulu Province. class, distribution of high yielding varieties of rice in the Bengkulu Province.

(14)

b. End of activity

crop seeds (rice) to BPSB for farmer cooperators.

3. I ncreasing the number of users VUB produced by UPBS.

1. Harmonize dan sinergy of breeding institution (UPBS, BBI , BBU, UPTD, and breeders) and in supplying high quality of supperior seed for farmers in the province of Bengkulu users.

2. VUBspecific quality massively understood and adopted by farmers in an effort to increase productivity and production of strategic food crops (rice).

4. Germination UPBS be independent institutions, professional and able to collaborate actively and synergistically with local seed institutions.

6. Result/ Achievement : 1. On 2012 UPBS had produced and distributed 17.962 kg of rice breeding seed.

2. On 2013 UPBS had produced new improved varieties of rice (I npari, I npara, I npago) 33.150 kg, corn 1.950 kg, and soybean 400 kg.

3. On 2014 UPBS had produced new improved 4.746 kg ofrice breeding seed (I npari, I npara, I npago). Database seed needed, varieties, seed class, and distribution of high yielding varieties of rice in the province of Bengkulu 2014.

4. On 2015 UPBS had produced new improved varieties of rice (I npari 30) with production 3.100 kg of stock seed class, and 4.550 kg of stock seed class (I npari 6, I npara 2, I npara 4, and I npari 18).

(15)

3. Farmersandregional breeding institution get guidance in cultivation and seed proccessing and than they can see supperiorty of developed varieties directly on the field through various disemination activities. 4. Farmersgetadaptive varieties having high

potencial yield and tolerant for manykinds of extreem environment.

5. Specific agroecosystem of seeds/ varieties can be supplied fastly and axactly.

6. Regional breeding institution can do internal improvement as an effort to do duty and fanction as high quality of breeding institution in Bengkulu Province.

7. Farmers appreciate and understand the complexity proccess to produce improved seed having good quality and they aware that planting or using new improved varieties is important thing to increase rice production. 8. Seed having specific agroecosystem (low latitu, high latitu, dry land, swamp, acid soil, alcalic soil) can be supplied exactly, sothat farmers and breeders have many choiice in using new improved varieties.

8. Expected I mpact : Adoption for supperior seed has impact in increasing rice productivity and production in Bengkulu Province. The increasing of productivity will cause increasing of farmersincome. This condition will support rice self suficient.

9. Methodology : UPBS activities will be conducted in Bengkulu Province. Seed production will be conducted on farmers field with controling quality from AI AT and certification institute. UPBS activities consist of preparation, execution and evaluation. The preparation incluted activities of arrangment of proposal (RODHP and Guidance) and coordination. The excecution activities consists of a) Coordination between internal and external institution. b) Seed production. c) Assistance for breeders. d) Reporting and evaluation. .

10. Duration : 1 (one) year

(16)
(17)

139.200.000,-I . PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu target utama pembangunan pertanian ke depan adalah pencapaian swasembada berkelanjutan. Upaya pemerintah mewujudkan swasembada dan swasembada berkelanjutan untuk komoditas padi terus dilakukan. Pada tahun 2015 pemerintah menargetkan pencapaian swasembada dapat dicapai dalam tiga tahun ke depan, dengan pertumbuhan 2,21% / tahun. Pemerintah berupaya untuk mewujudkan peningkatan produksi padi pada tahun 2015 melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dan Upaya Khusus (Upsus) lainnya (Kementan, 2015).

Mengingat fungsi dan peran penting padi tersebut, ketersediaan benih bermutu menjadi penting karena sangat menentukan keberhasilan budidaya tanaman. Perannya tidak dapat digantikan oleh faktor lain karena benih sebagai bahan tanaman dan sebagai pembawa potensi genetik terutama untuk varietas-varietas unggul. Keunggulan varietas-varietas dapat dinikmati oleh konsumen bila benih yang ditanam bermutu (asli, murni, vigor, bersih dan sehat) (Padminingsih, 2006).

Benih sumber menempati posisi strategis dalam industri perbenihan nasional karena menjadi sumber bagi produksi benih kelas di bawahnya yang akan digunakan petani. Oleh karena itu, ketersediaan dan upaya pengendalian mutu benih sumber perlu ditingkatkan. Dalam upaya menjamin ketersediaan benih bermutu dari varietas unggul serta meningkatkan penggunaannya di kalangan petani maka program pengembangan perbenihan dari hulu sampai hilir harus lebih terarah, terpadu, dan berkesinambungan (Balitbangtan, 2011).

(18)

Lebih dari 60 persen benih padi yang digunakan oleh masyarakat berasal dari sektor informal yaitu berupa gabah yang disisihkan dari sebagian hasil panen musim sebelumnya yang dilakukan berulang-ulang (Daradjat, et al., 2008). Petani padi di Bengkulu umumnya belum menggunakan benih varietas unggul yang berlabel. Petani tidak mudah mengganti varietas eksisting ke varietas baru sebelum mereka yakin dan melihat bukti keunggulan varietas yang diintroduksikan (Ruskandar, 2012). Tingkat ketergantungan petani di Provinsi Bengkulu terhadap pembagian benih varietas unggul baru (VUB) padi masih cukup tinggi (63,75% ). Kesadaran petani untuk membeli VUB di kios masih rendah, sehingga jika tidak ada bantuan VUB dari pemerintah, para petani cenderung menggunakan benih yang dihasilkan dari pertanamannya sendiri (Wibawa,et al., 2011).

Permasalahan lain terdapat pada kelembagaan produksi benih seperti Balai Benih I nduk (BBI ) dan Balai Benih Unggul (BBU). Lembaga perbenihan tersebut belum berfungsi secara optimal sehingga belum dapat diharapkan sebagai penyedia benih sumber. Berdasarkan hasil survei lembaga perbenihan yang tercakup dalam kegiatan UPBS pada tahun 2015, dari 10 kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Bengkulu, hanya 7 kabupaten yang memiliki balai benih padi. Terdapat tiga kabupaten, yakni Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Tengah yang belum memiliki lembaga perbenihan. Apabila ditinjau dari segi produktivitas hasil padi, Kabupaten Seluma dan Kabupaten Bengkulu Utara merupakan sentra penghasil padi di Provinsi Bengkulu.

(19)

Balai Besar Penelitian/ Balit komoditas, minimnya stok dan logistik benih VUB adaptif serta jauhnya rentang kendali antara produsen (sumber benih: Balai Besar Penelitian dan Balit Komoditas) dan pengguna benih (BBI , BBU dan petani penangkar). Pada tahun 2016, UPBS BPTP Bengkulu menargetkan untuk memproduksi benih sumber untuk komoditas padi dengan total produksi benih sumber 7 ton dengan kelas benih FS. VUB padi yang akan diproduksi di Provinsi Bengkulu, antara lain varietas I npari 30 Ciherang Sub 1, I npari 6, dan Situ Bagendit.

1.2. Tujuan

Tujuan kegiatan UPBS pada tahun 2016 adalah:

1. Pemutakhiran basis data kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu.

2. Memproduksi benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih FS (label putih), serta memfasilitasi proses sertifikasi benih tanaman pangan strategis (padi) ke BPSB bagi petani kooperator. 3. Mempercepat proses penyebaran VUB spesifik lokasi melalui berbagai media

dan metode penyampaian informasi teknologi di Provinsi Bengkulu.

1.3. Luaran

Luarankegiatan UPBS pada tahun 2016 adalah:

1. I nformasidan basis data terkini mengenai kebutuhan benih, varietas, kelas benih, dan sebaran varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu.

2. Benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih FS (label putih), serta memfasilitasi proses sertifikasi benih padi ke BPSB bagi petani kooperator.

3. Peningkatan jumlah pengguna VUB yang diproduksi oleh UPBS.

1.4. Perkiraan Manfaat dan Dampak

Manfaat dari UPBS BPTP Bengkulu bagi stakeholders, antara lain:

1. Memberikan informasi yang akurat mengenai kebutuhan benih, varietas, kelas benih, waktu produksi dan penyebaran VUB di Provinsi Bengkulu.

(20)

keunggulan varietas yang dikembangkan melalui kegiatan penangkaran dan sosilasasi/ temu lapang.

3. Petani menghargai dan memahami panjangnya proses untuk menghasilkan benih unggul berkualitas dan pentingnya penggunaan VUB spesifik lokasi. 4. Petani mendapatkan varietas adaptif yang sudah teruji dengan potensi hasil

tinggi dan toleran terhadap berbagai cekaman lingkungan biotik dan abiotik, sebagai upaya untuk mengurangi resiko kegagalan dalam usaha tani.

5. Benih yang spesifik agroekosistem (dataran rendah, dataran tinggi, lahan kering, lahan rawa, lahan masam, lahan alkalis, lahan sawah irigasi, tadah hujan) dapat disediakan secara tepat, sehingga para pengguna/ petani mempunyai banyak pilihan atau alternatif VUB yang spesifik lokasi.

(21)

I I . TI NJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerangka Teoritis

Penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan dan toleran terhadap serangan hama penyakit utama telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas (Nugraha, et al., 2007). Sistem perbenihan yang tangguh (produktif, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan penyediaan benih padi dan peningkatan produksi beras nasional.

Kesadaran petani untuk menggunakan benih bermutu dari VUB spesifik lokasi sudah mulai muncul di Provinsi Bengkulu. VUB (I npari, I npara, dan I npago) yang dilepas sejak tahun 2008 masih belum dominan di petani. Hal ini menunjukkan bahwa sistem diseminasi masih lemah. Wahyuni (2011) melaporkan bahwa lambatnya adopsi VUB juga dipicu oleh terbatasnya ketersediaan benih sumber serta belum dapat dilayaninya permintaan VUB dari stakeholdersmaupun petani secara tepat waktu, jumlah, varietas, tempat, harga, dan kualitas.

Penyebarluasan informasi tentang keunggulan VUB padi spesifik lokasi serta ketersediaan benih sumber berpengaruh terhadap percepatan proses adopsi. Keunggulan suatu varietas akan dapat dirasakan manfaatnya apabila tersedia benih dalam jumlah cukup untuk ditanam oleh petani (Daradjat , et al., 2008).

Selain tersedia benih dalam jumlah yang cukup, untuk mendorong percepatan penggunaan benih bermutu diperlukan upaya penangkaran dan sertifikasi benih. UPBS dilembagakan sebagai bentuk tindakan reponsif atas lemahnya kinerja kelembagaan perbenihan di daerah, kurangnya promosi dan diseminasi VUB oleh sumber inovasi, serta minimnya stok dan logistik benih VUB spesifik lokasi. UPBS di BPTP mempunyai mandat untuk menghasilkan benih sumber kelas FS dan SS dengan jumlah dan varietas yang disesuaikan dengan kebutuhan, permintaan, preferensi serta karakteristik agroekosistem dan sosial budaya setempat (BBP2TP, 2013).

(22)

produktivitas tinggi, toleran terhadap serangan OPT, berumur genjah, dan nasinya pulen (Wibawa,et al., 2012). Konsekuensi dari peningkatan kesadaran petani dalam penggunaan benih bermutu dan VUB spesifik lokasi adalah: (1) Perlu peningkatan intensitas, kualitas dan jangkauan informasi/ penyuluhan yang berkaitan dengan keunggulan VUB yang spesifik lokasi (2) Perlu perencanaan dan prediksi yang akurat berkaitan dengan kebutuhan benih, varietas, kelas benih, waktu produksi dan sebaran varietasnya (3) Penguatan sinergi dan kolaborasi antar lembaga perbenihan daerah (BBI , BBU) dan kelompok/ petani penangkar (4). Penyediaan (logistik) benih sesuai kebutuhan masyarakat tani secara tepat waktu, tempat, jumlah, varietas, harga, dan kualitas.

2.2. Hasil Penelitian Terkait

Perubahan iklim global berpengaruh terhadap produksi pertanian, dampaknya dapat berupa peningkatan munculnya hama dan penyakit, fluktuasi ketersediaan air, salinitas, penurunan/ perubahan luas area tanam, penurunan hasil (produksi dan produktivitas), dan lain-lain. Manajemen pertanian dalam menghadapi perubahan iklim global yang dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan varietas yang toleran (Haryanto, 2014).

Terkait dengan hal tersebut, Kementerian Pertanian hingga saat ini telah melepas 233 Varietas Unggul Baru (VUB) padi, yaitu 144 VUB padi sawah inbrida, 35 VUB padi hibrida, 30 VUB padi gogo, dan 24 VUB padi rawa/ pasang surut (Sudarwati, et al., 2014). Lebih lanjut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian telah menyiapkan dan menyediakan VUB yang toleran menghadapi musim kekeringan pada tahun 2015. Karakteristik beberapa varietas unggul tersebut adalah umur genjah, tahan dan adaptif terhadap kekeringan dan dapat bertahan pada dua kondisi iklim yang berbeda yaitu lahan kering dan lahan genangan (Amfibi) . Varietas-varietas padi tersebut adalah Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, I npari 10 Laeya, I npago 4, I npago 5, I npago 6, I npago 7, I npago 8, dan I npago 9.

(23)
(24)

I I I . METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu

Kegiatan Produksi Benih/ UPBS pada tahun 2016 dilaksanakan di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil dan Desa Gunung Kembang Kecamatan Semidang Alas Maras Kabupaten Seluma, serta Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Pemilihan lokasi didasarkan pada beberapa kriteria, yaitu (1) merupakan daerah sentra pertanian tanaman pangan di masing-masing kabupaten/ kota, (2) lahan sawah mudah dijangkau dan didukung irigasi teknis yang memadai melalui kerjasama dengan petani penangkar, dan (3) Dekat dengan lokasi prosesing benih. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Januari–Desember 2016.

3.2. Alat dan bahan

Peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan ini, antara lain timbangan, alat pengukur kadar air, alat pengebor tanah, sealer, terpal penjemuran, sead cleaner, sead blower, dan gerobak sorong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah benih Varietas Unggul Baru (VUB) padi inpari kelas Benih Penjenis (BS) dan Benih Dasar (FS), saprodi pupuk (pupuk ponska, urea), pestisida (herbisida, insektisida, fungisida), karung untuk hasil panen, karung kemasan 20 kg, plastik kemasan 5 kg, tali, dan elpiji.

3.3. Ruang Lingkup Kegiatan

Pada tahun 2016 UPBS menargetkan untuk memproduksi 7 ton produksi benih padi kelas benih FS (label putih). Varietas yang diproduksi adalah varietas yang sudah pernah dikaji, memiliki adaptasi baik dan diminati oleh petani, yaitu varieas I npari 30 Cihrang Sub 1, I npari 6, Situ Bagendit, dan Gilirang.

Ruang lingkup kegiatan UPBS pada tahun 2016 meliputi :

(25)

varietas unggul padi di Provinsi Bengkulu, dan kontribusi UPBS BPTP Bengkulu terhadap penyediaan benih sumber di Provinsi Bengkulu.

2) Produksi benih sumber padi untuk agroekosistem sawah sebanyak 7 ton dengan kelas benih FS (label putih), serta memfasilitasi proses sertifikasi benih tanaman padi bagi petani kooperator.

3) Update sistem informasi UPBS BPTP Bengkulu dan promosi melalui pameran launching produk bekerjasama dengan kegiatan diseminasi lain untuk mempercepat proses penyebaran VUB spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu.

3.4. Metode pelaksanaan pengkajian

a. Persiapan

Kegiatan persiapan meliputi penyusunan RODHP, petunjuk pelaksananaan (juklak) dan koordinasi awal ke stakeholders di Kabupaten/ kota. RODHP disusun untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan di lapangan sebagai penjabaran dari proposal/ RDHP. RODHP lebih rinci memuat aspek administrasi/ keuangan dan kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan teknis di lapangan dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan ( juklak) yang berisi tahapan teknis kegiatan secara rinci dan detail sebagai acuan pelaksanaan kegiatan di lapangan. Juklak dijadikan acuan bersama dalam pelaksanaan kegiatan. Tim kegiatan Produksi Benih/ UPBS melakukan pengawalan pelaksanaan penangkaran sesuai dengan juklak yang telah disosialisasikan kepada petani. Seluruh tahapan kegiatan sejak koordinasi awal dengan petani, sosialisasi juklak, penerapan juklak teknologi di lapangan sampai dengan panen dikawal oleh Tim. Penangkaran benih menjadi inti dari kegiatan di lapangan.

b. Pelaksanaan kegiatan

(26)

Tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Koordinasi internal dan antar institusi

Koordinasi internal dilaksanakan secara rutin dalam bentuk pertemuan di BPTP Bengkulu. Dalam pertemuan dievaluasi kemajuan dan tindak lanjut kegiatan di masing-masing lokasi kegiatan UPBS/ Perbenihan.

Koordinasi tingkat regional (stakeholders di Provinsi dan Kabupaten) dan nasional. Koordinasi di tingkat regional dilakukan dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten, Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Bengkulu (BPSB-TPH), dan petugas lapang BPSB-TPH di Kabupaten. Koordinasi di tingkat nasional dilakukan dengan Balai Besar/ Balit lingkup Badan Litbang pertanian dalam bentuk pertemuan/ workshop/ rapat kerja.

2) Pemutakhiran basis data perbenihan di Provinsi Bengkulu

Pemutakhiran basis data dilakukan terhadap data primer dan sekunder melalui desk study, wawancara, pengisian kuisioner, dan survey. Data yang diperlukan dalam pemutakhiran basis data perbenihan diantaranya adalah (1) Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu, (2) Sebaran varietas padi yang dikembangkan/ dibudidayakan di 10 Kabupaten/ Kota di Provinsi Bengkulu, (3) Persentase sebaran varietas unggul baru (VUB) padi di Provinsi Bengkulu, dan (4) Jumlah ketersediaan benih padi berdasarkan varietas dan kelas benih. Basis data ini bermanfaat dalam perencanaan produksi benih berkaitan dengan jumlah/ volume, varietas, kelas benih, lokasi dan waktu penggunaan benih.

Basis data ini bermanfaat dalam perencanaan produksi benih berkaitan dengan jumlah/ volume, varietas, kelas benih, lokasi dan waktu penggunaan benih. Basis data perbenihan dapat digunakan untuk mengevaluasi kecukupan dan kinerja UPBS dan lembaga perbenihan daerah dalam penyediaan dan penyebarluasan benih sumber dari VUB spesifik lokasi.

3) Pelaksanaan produksi benih sumber

(27)

pembatas keberhasilan kegiatan karena pelaksanaan penangkaran dilakukan di lahan petani.

Pelaksanaan produksi benih sumber meliputi :

a. Penentuan Lokasi dan Petani Kooperator

Penentuan lokasi dan petani penangkar sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan. Petani yang dipilih adalah petani yang kooperatif dan bersedia untuk mengikuti semua petunjuk teknis yang telah ditentukan.

UPBS perannya tidak hanya memproduksi benih tetapi sekaligus sebagai media diseminasi. Pemilihan lokasi untuk perbanyakan benih harus memperhatikan prinsip agronomik dan prinsip genetik. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi diantaranya adalah: kemudahan akses ke lokasi produksi (kondisi jalan) dan kondisi fisik lahan. Lahan untuk produksi benih sebaiknya adalah lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama atau varietas lain yang karakteristik pertumbuhannya berbeda nyata, kondisi lahan subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik dan bebas dari sisa-sisa tanaman/ varietas lain. I solasi jarak minimal antara 2 varietas yang berbeda adalah 3 meter. Apabila tidak memungkinkan, untuk memperoleh waktu pembungaan yang berbeda bagi pertanaman produksi benih dari varietas yang umurnya relatif sama perlu dilakukan isolasi waktu tanam sekitar 4 minggu.

BPTP Bengkulu tidak mempunyai kebun percobaan (KP), maka untuk produksi benih sumber dilakukan kerjasama dengan petani penangkar. Sistem kerjasama yang disepakati antara UPBS BPTP Bengkulu dan petani kooperator adalah sistem investasi, dengan cara UPBS BPTP Bengkulu memberikan investasi berupa benih, saprodi, dan UHL yang dikembalikan dalam bentuk calon benih sesuai dengan jumlah investasi (jumlah anggaran) yang diberikan kepada petani/ penangkar.

b. Budidaya Benih Sumber Padi

1) Penyiapan lahan

(28)

Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pratumbuh dan dibiarkan selama 7-10 hari atau sesuai dengan anjuran.

2) Persemaian

Tanah diolah, dicangkul atau dibajak dan dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 2 hari, kemudian dibiarkan mengering sampai 7 hari agar gabah yang ada dalam tanah tumbuh. Setelah itu, tanah diolah kembali sekaligus membersihkan lahan dari tanaman padi yang tumbuh. Bedengan dibuat dengan tinggi 5-10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petakan sawah dan kebutuhan. Luas lahan untuk persemaian adalah 2-4% dari luas areal pertanaman atau sekitar 200-400 m2 per hektar pertanaman. Benih ditabur secara merata pada persemaian. Pupuk persemaian dengan urea, TSP dan KCl masing-masing sebanyak 15 g/ m2 atau NPK Phonska 60 g/ m2. Benih direndam selama 24 jam, kemudian diperam selama 24 jam., lalu disebarkan di persemaian. Kebutuhan benih untuk 1 ha areal pertanaman adalah 20-25 kg. Benih yang telah mulai berkecambah ditabur dengan kerapatan 25-50 g/ m2 atau 0,5-1 kg benih per 20 m2 lahan.

3) Penanaman

Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 15-21 hari dengan 1-3 bibit per lubang.Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki umur fisiologi yang sama (dicirikan oleh jumlah daun yang sama, misal 2 atau 3 daun/ batang). Tanam tegel (20 x 20 cm atau 25 x 25 cm) atau jajar legowo 2: 1 / 4: 1 (tergantung kondisi lahan dan varietas yang ditanam). Bibit ditanam pada kedalaman 1-2 cm. Sisa bibit yang telah dicabut diletakkan di bagian pinggir dari petakan, untuk digunakan dalam penyulaman. Penyulaman dilakukan pada 7 hari setelah tanam dengan bibit dari varietas dan umur yang sama. Setelah ditanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3 cm) selama 7-10 hari.

4) Pemupukan

(29)

5) Pengairan

Selesai tanam, ketinggian air diatur sekitar 3 cm selama tiga hari. Setelah periode tersebut, air pada petak pertanaman dibiarkan pada kondisi macak-macak dan dipertahankan selama 10 hari. Pengairan selanjutnya dilakukan secara intermitan (selang-seling).

Seminggu menjelang panen, lahan mulai dikeringkan agar proses pematangan biji relatif lebih cepat dan lahan produksi benih tidak becek sehingga memudahkan saat panen(Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2013b).

6) Penyiangan dan pengendalian OPT

Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu oleh gulma. Penyiangan dilakukan dua atau tiga kali tergantung pada keadaan gulma secara khemis, landak atau gasrok. Penyiangan dilakukan menjelang pemupukan susulan pertama dan kedua. Tujuannya agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi secara optimal.

Hama dan penyakit merupakan faktor pembatas yang dapat menyebabkan penurunan hasil. Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu berdasar pada prinsip-prinsip PHT yaitu 1) Budidaya tanaman sehat, 2) pelestarian dan pembudidayaan musuh alami, 3) Pengamatan lahan/ monitoring secara t eratur. Penggunaan pestisida harus dilakukan dengan bijaksana.

7) Roughing

(30)

a) Roughing pada fase vegetatif awal ( 35 – 45 HST) •Tanaman yang tumbuh di luar jalur/ barisan.

•Tanaman/ rumpun yang tipe pertunasan awalnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang warna kaki atau daun pelepahnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman/ rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok).

b) Roughing pada fase vegetatif akhir/ anakan maksimum ( 50 – 60 HST) •Tanaman yang tumbuh di luar jalur/ barisan.

•Tanaman/ rumpun yang tipe pertunasan menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang bentuk dan ukuran daunnya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang warna kaki atau helai daun dan pelepahnya berbeda dar i sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman/ rumpun yang tingginya sangat berbeda (mencolok).

c) Roughing pada FaseGeneratif Awal / Berbunga (85 – 90 HST)

•Tanaman/ rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang bentuk dan ukuran daun benderanya berbeda dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman/ rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda.

•Tanaman/ rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah berbeda.

d) Roughing pada generatif akhir / masak (100 – 115 HST)

•Tanaman/ rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

(31)

•Tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun-rumpun lain.

•Tanaman/ rumpun yang terlalu cepat matang.

•Tanaman/ rumpun yang memiliki eksersi malai berbeda.

•Tanaman/ rumpun yang memiliki bentuk dan ukuran gabah warna gabah dan ujung gabah (rambut / tidak berambut) berbeda.

c. Panen Calon Benih Padi

Saat panen yang tepat adalah pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90-95% malai telah menguning. Mutu benih padi setelah panen biasanya berasosiasi dengan mutu fisiologis, mutu fisik dan kesehatan benih. Salah satu variabel dari mutu fisiologis benih yang mulai menarik perhatian petani adalah status vigor benih. Vigor benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh cepat, serempak dan berkembang menjadi tanaman normal dalam kisaran kondisi lapang yang lebih luas. Panen pada waktu yang tepat akan mendapatken benih dengan mutu fisik dan mutu fisologis yang baik.

1) Persiapan panen

Lahan pertanaman untuk produksi benih dapat dipanen apabila sudah dinyatakan lulus sertifikasi lapangan oleh BPSB. Semua malai dari kegiatan roughing harus dikeluarkan dari areal yang akan dipanen. Hal ini untuk menghindari tercampurnya calon benih dengan malai sisa roughing. Persiapkan peralatan yang akan digunakan panen (sabit, karung, terpal, alat perontok (threser), karung dan tempat/ alat pengering) serta alat -alat yang akan digunakan untuk panen dibersihkan.

2) Waktu panen

Panen dilakukan pada waktu biji telah masak fisiologis, atau apabila sekitar 90-95% malai telah menguning.

3) Proses panen

(32)

ke ruang pengolahan benih. Laporan hasil panen dibuat secara rinci yang berisi tentang tanggal panen, nama varietas, kelas benih, bobot calon benih dan kadar air benih saat panen.

d. Penanganan Pascapanen Calon Benih Sumber

Penanganan pascapanen calon benih sumber meliputi pengeringan, pembersihan, penimbangan, pengujian mutu benih, dan pengemasan. Hasil panen dikeeringkan untuk menurunkan kadar airnya. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air benih sampai dengan kadar air yang aman untuk diproses lebih lanjut sehingga benih dapat disimpan dan dapat diolah, memiliki mutu fisik dan fisiolosis yang baik. Penjemuran dapat dilakukan dengan menggunakan lantai jemur atau menggunakan alat pengering (dryer). Penjemuran sebaiknya dihentikan apabila suhu hamparan benih lebih dari 43oC. Pengeringan dilakukan hingga mencapai kadar air yang memenuhi standar mutu benih bersertifikat (13% atau lebih rendah).

Calon benih yang telah dijemur lalu dibersihkan dan dipilah untuk memisahkan kotoran berupa tanah, kotoran burung, jerami dan batang padi dari calon benih. Hasil panen yang sudah diproses kemudian diuji mutunya di laboratorium pengujian mutu BPSB. Parameter pengujian mutu benih meliputi kadar air, benih murni, benih varietas lain, kotoran benih, dan daya tumbuh. Persyaratan mutu benih mengacu pada standar mutu benih. VUB dengan kelas label ungu harus memenuhi kadar air maksimal 13% , benih murni 98% , kotoran benih maksimal 1 % , adanya benih dari varietas lain maksimal 0.1% , dan daya tumbuh minimal 80% .

e. Promosi dan Sosialisasi kegiatan Produksi Benih/ UPBS

(33)

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk promosi dan distribusi hasil benih UPBS BPTP Bengkulu, antara lain (1) Melakukan promosi benih bersama dengan Dinas, penangkar, penjual beras dan masyarakat dalam bentuk kunjungan lapang dan panen bersama, (2) Pemberian bantuan benih kepada petani melalui dinas pertanian kabupaten/ kota dan/ atau badan pelaksana penyuluhan pertanian kabupaten/ kota setempat untuk dimanfaatkan dalam kegiatan uji adaptasi varietas, demonstrasi benih unggul (dembul), demplot, display varietas unggul baru (VUB), kaji terap varietas unggul, dan sebagainya, (3) Pemberian bantuan benih VUB kepada penangkar benih melalui ikatan penangkar dan pedagang benih (I PPB) atau gabungan penangkar dan pedagang benih (GPPB) atau asosiasi perbenihan yang ada di masing-masing kabupaten/ kota. Monitoring oleh UPBS dalam hal pemanfaatan benih bantuan perlu dilakukan agar tepat sasaran.

f. Parameter yang Diukur dan Analisis Data

(34)

I V.

HASI L DAN PEMBAHASAN

4.1. Koordinasi I nternal dan Antar I nstitusi

Koordinasi kegiatan UPBS BPTP Bengkulu Tahun 2016 telah dilaksanakan secara internal dan antarinstitusi. Koordinasi internal dalam bentuk pertemuan dengan anggota tim kegiatan. Pertemuan tim dilaksanakan untuk membahas pelaksanaan dan perkembangan kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016. Dalam pertemuan tim juga dievaluasi kemajuan kegiatan, hambatan dan kendala, tingkat serapan dana, pencapaian dan rencana tindak lanjut kegiatan UPBS.

Koordinasi antar institusi ditingkat regional (stakeholders) dilaksanakan pada tingkat provinsi dan kabupaten. Kegiatan koordinasi bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan UPBS, mengidentifikasi calon lokasi kegiatan penangkaran UPBS, serta mengidentifikasi kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu. Selain itu, koordinasi bertujuan untuk membangun sinergitas dan kerjasama antar lembaga/ institusi dan stakeholder. Koordinasi pada tingkat provinsi dilakukan dengan Dinas Pertanian dan Balai Pengawas Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Provinsi Bengkulu. Ditingkat kabupaten, koordinasi dilaksanakan dengan Dinas Pertanian dan Peternakan serta petugas lapang BPSB-TPH Kabupaten Seluma dan Bengkulu Utara. Dari hasil koordinasi diperoleh informasi bahwa Dinas Pertanian dan BPSB-TPH Provinsi Bengkulu sangat mendukung kegiatan UPBS BPTP Bengkulu dan menyarankan lokasi kegiatan penangkaran UPBS tahun 2016 ini menggunakan lokasi kegiatan tahun 2015. Melalui hasil koordinasi diperoleh beberapa data yang digunakan untuk pemutakhiran basis data perbenihan di Provinsi Bengkulu.

(35)

tersedia. Berdasarkan informasi tersebut, dapat ditentukan kebutuhan VUB yang ditangkarkan oleh UPBS BPTP Bengkulu.

4.2. Pemutakhiran Basis Data Perbenihan di Provinsi Bengkulu

Pemutakhiran basis data perbenihan dilakukan terhadap data primer dan sekunder melalui desk study dan koordinasi. Data yang diperlukan dalam pemutakhiran basis data perbenihan diantaranya adalah (1) Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu, (2) Sebaran varietas padi yang dikembangkan/ dibudidayakan di 10 Kabupaten/ Kota di Provinsi Bengkulu, (3) Persentase sebaran varietas unggul baru (VUB) padi di Provinsi Bengkulu, dan (4) Jumlah ketersediaan benih sumber padi di Provinsi Bengkulu berdasarkan vaietas dan kelas benih. Basis data ini bermanfaat dalam perencanaan produksi benih.

1. Sebaran luas tanam per varietas padi

(36)

Tabel 1. Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi per varietas di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2015

No. Varietas Rincian Sebaran Luas Tanam Per Varietas (Ha) Jumlah (Ha)

Jumlah Kebutuhan Benih (Ton) Bengkulu

Utara

Bengkulu

Selatan RejangLebong

Muko muko

Seluma Kaur Kepahiang Lebong Bengkulu Tengah

Kota Bengkulu

1 Ciherang 4.384 3.654 11.813 153 371 34 1.798 - 1.970 486 24.663 616,58 2 Mekongga 4.922 3.455 - 2.488 45 459 3.342 - 1.693 346 16.750 418,75 3 Cigeulis 1.166 5.444 10.153 1.042 484 1.622 5.602 - 2.148 - 27.661 691,53 4 I R 64 736 - 13.462 - 174 - - - 913 - 15.285 382,13 5 PB 42 287 - - 1.952 31 - - - 2.270 56,75 6 Situ Bagendit 1.776 - 8.622 112 96 2 233 - 142 86 11.069 276,73 7 Bestari 93 - - 57 - - - - 124 - 274 6,85 8 Diah Suci 152 - - - 152 3,80 9 Rojolele - - - 325 - - - 325 8,13 10 Cilemaya Muncul 49 - - - 49 1,23 11 Ciliwung - - 3.379 - - - 3.379 84,48

12 Musi - - 303 - - - 303 7,58

13 Caredek Merah - - 556 - - - 556 13,90 14 I npari 2 - - - 86 - 86 2,15 15 I npari 3 - - - 101 76 - - - 177 4,43 16 I npari 5 Merawu 26 - - - 56 - - - 82 2,05

17 I npari 6 - - - - 5 - - - - 3 8 0,20

18 I npari 8 - - 5.486 114 - - - 5.600 140,00 19 I npari 10 Laeya - - 4.182 - 16 - - - 15 - 4.213 105,33 20 I npari 11 - - 20 129 - - - 149 3,73 21 I npari 12 - - 5.964 19 - - - 119 6.102 152,55

(37)

Tabel 1. Lanjutan

No. Varietas Rincian Sebaran Luas Tanam Per Varietas (Ha) Jumlah (Ha) 36 Lokal 1.077 75 3.020 37 219 70 63 - 1.701 504 6.766 169,15

Luas Tanam per Kabupaten/ Kota (ha)

15.068 12.633 74.356 7.639 2.145 2.187 11.897 - 11.197 1.726 138.848 3.471,19

Kebutuhan benih per Kabupaten/ Kota (Ton)

376,69 315,83 1.858,90 190,98 53,63 54,68 297,43 - 279,93 43,15

(38)

Berdasarkan data sebaran VUB tersebut, dapat diperoleh perkiraan kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu. Kebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015 disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 menunjukkan kebutuhan benih di Provinsi Bengkulu mencapai 3.471,19 Ton. Luas tanam padi terbesar di Provinsi Bengkulu berada di Kabupat en Rejang Lebong sebesar 74.356 ha, diikuti dengan Kabupaten Bengkulu Utara (15.068 ha) dan Bengkulu Selatan (12.633 ha). Kebutuhan benih padi di Kabupaten Rejang Lebong mencapai 1.858,90 Ton dengan varietas yang didominasi oleh Ciherang, Cigeulis, dan I R 64. VUB padi yang sudah mulai digunakan oleh masyarakat, antara lain I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 12, I npari 18, dan I npari 20.

Tabel 2. Kebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015

1 Bengkulu Utara 15.068 376,69 I npari 30 Ciherang Sub1,

I npari 5, I npari 14,

2 Bengkulu Selatan 12.633 315,83 I npari Sidenuk, Ciherang,

Mekongga, Cigeulis, Lokal

3 Rejang Lebong 74.356 1.858,90 I npari 8, I npari 10 Laeya,

I npari 12, I npari 18,

4 Mukomuko 7.639 190,98 I npari 3, I npari 11, I npari

12, I npari 13, I npari 14,

(39)

Tabel 2. Lanjutan

6 Kaur 2.187 54,68 Ciherang, Mekongga,

Cigeulis, Situbagendit, Lokal

7 Kepahiang 11.897 297,43 I npari 13, I npari 30

Ciherang Sub 1, I npago 8, Ciherang, Mekongga, Cigeulis, Situbagendit, Lokal

8 Lebong -

-9 Bengkulu Tengah 11.197 279,93 I npari 2, I npari 10

Laeya, I npari 14,

10 Kota Bengkulu 1.726 43,15 I npari 8, I npari 12,

I npari 13, I npari 16, I npari 18, I npari 22, Ciherang, Mekongga, Situbagendit, Lokal

Jumlah 138.848 3.471,19

Sumber : BPSB-TPH (2016) ; *)Data primer (diolah), 2016.

(40)

antara lain I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 13, I npari 14, I npari 18, I npari 20, I npari 22, dan I npara 6.

2. Ketersediaan benih sumber di Provinsi Bengkulu

Beberapa permasalahan perbenihan yang ada pada saat ini, antara lain (1) belum semua varietas yang dilepas dapat diadopsi oleh petani/ pengguna benih, (2) ketersediaan benih sumber dan benih secara 6 (enam) tepat belum dapat dipenuhi, dan (3) belum semua petani menggunakan benih unggul bermutu/ bersertifikat (Wahyuni, 2011). Permasalahan tersebut juga dialami oleh petani/ pengguna benih di Provinsi Bengkulu. Peningkatan luas tanam dan jumlah kebutuhan benih tidak diimbangi dengan peningkatan ketersediaan benih.

(41)

Tabel 3. Luas penangkaran dan produksi benih di Provinsi Bengkulu pada tahun 2015.

No Varietas Kelas Benih Luas Tanam (Ha)

3 Cigeulis SS 4,38 11,5 10,135

4 I npari Sidenuk FS 0,5 0 0

13 Situ Bagendit SS 3,25 1,5 0,96

14 I npago 8 SS 3 3,5 2,45

Jumlah 115,21 121,915 58,21

Sumber : BPSB-TPH (2016)

3. Penggunaan benih sumber VUB padi di Provinsi Bengkulu

Berbagai varietas VUB padi yang telah dirilis oleh Balitbangtan, antara lain varietas I nbrida Padi Sawah I rigasi (I npari), I nbrida Padi Rawa (I npara), I nbrida Padi Gogo (I npago), dan Hibrida Padi (HI PA) (Balitbangtan, 2015). Penggunaan varietas yang adaptif dan spesifik lokasi sangat diperlukan dalam mendukung peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan di Provinsi Bengkulu. Penggunaan VUB yang berdaya hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan dan toleran terhadap serangan hama penyakit utama telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan kecukupan pangan (Suprihatno, et al., 2010; Wahyuni, 2011).

(42)

masing-masing Kabupaten/ Kota, persentase luas tanam VUB padi yang tertinggi berada di Kabupaten Seluma dan Rejang Lebong, yaitu sebesar 33,8% dan 31,0% . Rata-rata persentase VUB padi di Provinsi Bengkulu adalah 21,14% .

Jika dibandingkan dengan sebaran luas tanam VUB di Provinsi Bengkulu pada 2 tahun sebelumnya, penggunaan VUB padi di Provinsi Bengkulu sudah mengalami peningkatan dari 7,95% (Tahun 2013) dan 11,01% (Tahun 2014). Persentase sebaran luas tanam VUB padi di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2013 – 2015 disajikan pada Gambar 1.

Tabel 4. Luas tanam dan persentase sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu Tahun 2015

No. Kabupaten/ Kota Luas Tanam

(Ha)

Luas Tanam VUB (Ha)*)

Persentase Sebaran Padi VUB per Kabupaten/ Kota

(% )*)

1 Bengkulu Utara 15.068 426 2,83

2 Bengkulu Selatan 12.633 5 0,04

3 Rejang Lebong 74.356 23.048 31,00

4 Mukomuko 7.639 1.473 19,28

5 Seluma 2.145 725 33,80

6 Kaur 2.187 - 0

7 Kepahiang 11.897 859 7,22

8 Lebong - - 0

9 Bengkulu Tengah 11.197 2.506 22,38

10 Kota Bengkulu 1.726 304 17,61

Jumlah 138.848 29.346

Rata-rata Provinsi Bengkulu

21,14

Sumber : BPSB-TPH (2016); *)Data primer (diolah), 2016.

(43)

Kondisi ini menggambarkan bahwa pada tahun 2013-2014, tingkat pemanfaatan inovasi yang dihasilkan Balitbangtancenderung lambat padahal sejak tahun 2008 hingga 2015 Balitbangtan telah melepas berbagai VUB padi spesifik untuk semua agroekosistem budidaya. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya sosialisasi dan ketersediaan benih bermutu, serta preferensi konsumen terhadap VUB padi (Senewe dan Alfons, 2011). Alasan utama petani mengadopsi suatu varietas unggul adalah rasa nasi disukai petani, produktivitas tinggi, harga jual tinggi, umur genjah, serta benih mudah diperoleh (I shak, et al., 2012).

Pada Tabel 4 terlihat belum sebaran VUB di Kabupaten Kaur dan Lebong (0% ). Jika dikonfirmasi dengan kegiatan UPSUS, maka diketahui bahwa terdapat penggunaan VUB di Kabupaten Kaur dan Lebong seluas 406 ha di Kabupaten Kaur dan 978 ha di Kabupaten Lebong pada periode tanam bulan April sampai dengan September 2016.

4. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu

Peningkatan persentase penggunaan VUB padi tidak hanya dalam hal luas tanam, tetapi juga dalam jenis varietas. Berdasarkan data tahun 2013 – 2015, penggunaan VUB padi yang dirilis setelah tahun 2008 di Provinsi Bengkulu semakin meningkat jenisnya. Hal ini menunjukkan VUB padi semakin diminati dan semakin banyak digunakan oleh petani di Provinsi Bengkulu. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2013 – 2015 disajikan pada Tabel 5.

(44)

Tabel 5. Sebaran VUB padi di Provinsi Bengkulu pada t ahun 2013 – 2015.

No Kabupaten/ Kota Sebaran Varietas pada Tahun

2013 2014 2015

1 Bengkulu Utara I npari 10 Laeya, I npari 13

2 Bengkulu Selatan I npari Sidenuk I npari Sidenuk

3 Rejang Lebong I npari 13 - I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 12, I npari 18, I npari 20

4 Mukomuko I npari 2, I npari 13, I npari 14, I npara 1

I npari 3, I npari 11, I npari 12, I npari 13, I npari 14, I npara 1, I npara 2, I npara 6

5 Seluma I npara 1 I npari 5 Merawu, I npari 10 Laeya, I npari 13, I npari 14, I npari 20

I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 13, I npari 14, I npari 18, I npari 20, I npari 22, I npara 6 6 Kaur I npari 13 I npari 13 I npari 6, I npari 10, I npari

13,I npari 14, I npari 22, I npari 30, I npara 1, I npara 2, I npara 3

7 Kepahiang I npari 13 I npari 10 Laeya, I npari 13, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npari 32, I npari Sidenuk, I npago 8

I npari 13, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npago 8

8 Lebong - - I npari 6, I npari 7, I npari 10 , I npari 13, I npari 22, I npari 30, I npara 1, I npara 2

9 Bengkulu Tengah I npari 3, I npara 2

10 Kota Bengkulu I npari 8, I npari 12, I npari 13, I npari 16, I npari 18, I npari 22

Sumber : BPSB-TPH (2014-2016)

(45)

sedang (mudah dirontok), dan tekstur nasi pulen (kadar amilosa sekitar 22-23% ). Karakteristik tersebut dimiliki oleh varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 yang dirilis oleh Balitbangtan pada tahun 2012. Pada tahun 2013, Balitbangtan juga merilis VUB padi yang diseleksi dari Ciherang dengan keunggulan karakteristiknya yaitu tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) (Balitbangtan, 2015). Berdasarkan data pada Tabel 5 diketahui bahwa pada tahun 2014 varietas I npari 30 Ciherang Sub 1 dan I npari 32 sudah mulai digunakan oleh petani di Kabupaten Kepahiang.

Pada tahun 2015, penggunaan jenis VUB padi rilis setelah tahun 2008 yang digunakan di Provinsi Bengkulu semakin mengalami peningkatan mejadi 22 varietas, yaitu I npari 2, I npari 3, I npari 5 Merawu, I npari 6 Jete, I npari 8, I npari 10 Laeya, I npari 11, I npari 12, I npari 13, I npari 14, I npari 16, I npari 18, I npari 20, I npari 22, I npari 30 Ciherang Sub 1, I npara 1, I npara 2, I npara 6, I npago 1, I npago 3, dan I npago 8. I npari 20 dan I npari 22 mulai dikenal oleh petani di Kabupaten Seluma melalui kegiatan display varietas Pendampingan PTT Padi BPTP Bengkulu pada tahun 2014.

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa Kabupaten Kaur merupakan wilayah di Provinsi Bengkulu yang mengalami penurunan sebaran varietas VUB. Pada tahun 2013 tercatat masih terdapat varietas I npari 13 yang digunakan oleh petani di Kabupaten Kaur, namun pada tahun 2014 dan 2015 tidak ada lagi VUB padi rilis setelah tahun 2008 yang digunakan oleh petani. I npari 13 memiliki karakteristik yang diminati oleh masyarakat Bengkulu, antara lain umur tanaman genjah (±99 hari), tekstur nasi yang pulen, dan tahan terhadap hama wereng (Balitbangtan, 2015). Akan tetapi, varietas I npari 13 memiliki kerontongan sedang atau dengan kata lain susah dirontok, sehingga menurunkan minat dan kepercayaan petani terhadap VUB padi. Petani beranggapan semua jenis VUB padi varietas I npari dan I npara memiliki karakteristik yang sama.

(46)

pupuk yang lebih sedikit, umur tanaman lebih genjah, produktivitas lebih tinggi, ketahanan terhadap HPT lebih baik, penampakan gabah lebih baik, dan daya adaptasi baik. Faktor pendorong yang paling dominan mempengaruhi minat petani mengadopsi VUB karena produktivitasnya tinggi, umurnya lebih pendek, penggunaan pupuk dan ketahanan terhadap hama.

4.3. Produksi Benih Sumber

1. Penentuan lokasi dan petani kooperator

Kegiatan penangkaran benih sumber pada kegiatan UPBS Tahun 2016 dilaksanakan di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil dan Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma serta di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Peta sebaran lahan penangkaran kegiatan UPBS di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma ditampilkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta sebaran lahan penangkaran kegiatan UPBS di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma.

(47)

Tabel 6. Lokasi kegiatan penangkaran, luasan lahan dan jumlah petani kooperator yang terlibat pada kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016. Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma adalah varietas I npari 6, sesuai dengan preferensi petani. Berdasarkan pengalaman kegiatan penangkaran pada tahun 2015, menurut petani varietas tersebut cocok di lahan sawah petani dan tahan terhadap serangan HPT. Selain itu, petani menyukai tekstur beras I npari 6 karena memiliki karakteristik tekstur nasi yang pulen. Kelas benih yang digunakan adalah kelas Benih Penjenis (Breeder Sheet/ BS). Dan varietas benih padi yang digunakan oleh petani penangkar di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara adalah varietas I npari 30 Ciherang Sub 1, sesuai dengan preferensi petani. Menurut petani varietas tersebut cocok di lahan sawah petani dan tahan terhadap serangan HPT. Selain itu, petani menyukai tekstur beras I npari 30 Ciherang Sub 1 karena memiliki karakteristik tekstur gabah dan nasi dengan varietas Ciherang yang selama ini diminati oleh petani.

(48)

BPTP Bengkulu dalam memproduksi benih padi yang bermutu dan bersertifikat. Varietas benih padi yang digunakan adalah Situ Bagendit dengan kelas benih BS. Pemilihan varietas tersebut karena tipe lahan yang dimiliki petani adalah lahan sawah tadah hujan. Kondisi lahan petani kooperator di Desa Gunung Kembang sebetulnya kurang memenuhi syarat untuk dijadikan lokasi penangkaran benih sumber karena merupakan lahan sawah tadah hujan dan tidak memiliki saluran irigasi yang memadai. Akan tetapi, keterlibatannya dalam kegiatan penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016 adalah sebagai bentuk pembinaan kepada petani oleh BPTP Bengkulu.

Kegiatan penangkaran yang dilaksanakan di Desa Rimbo Kedui, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma bekerjasama dengan Kegiatan Model Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis I ntegrasi Padi – Sapi yang dilaksanakan di Kabupaten Seluma. Peran UPBS BPTP Bengkulu pada kegiatan penangkaran tersebut adalah dalam penyediaan benih sumber dan fasilitasi proses sertifikasi.

2. Pertemuan dengan calon petani kooperator

Pertemuan dengan calon petani kooperator bertujuan untuk menyampaikan teknologi budidaya penangkaran padi dan sistem kerjasama yang diterapkan dalam kegiatan UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016. Komponen teknologi budidaya padi yang disampaikan meliputi sistem olah tanah, semai (pemupukan lahan persemaian), tanam (sistem tanam dan waktu tanam), pemupukan (dosis dan waktu pemupukan), dan roughing. Penyampaian materi teknologi budidaya padi dengan pendekatan PTT Padi melalui pertemuan ini sangat membantu memberikan pemahaman kepada petani tentang teknologi budidaya padi yang dianjurkan, karena beberapa orang petani kooperator yang baru terlibat pada kegiatan UPBS tahun 2016 belum pernah mengetahui teknologi tersebut. Melalui pertemuan ini petani menjadi paham tentang sistem tanam legowo 2: 1, dosis dan waktu pemupukan yang dianjurkan, organisme pengganggu tanaman (OPT) padi dan cara penanganannnya, serta frekuensi dan waktu roughing.

(49)

teknologi budidaya padi dengan pendekatan PTT Padi, pertemuan tersebut bertujuan untuk menjelaskan sistem kerjasama yang diterapkan pada kegiatan UPBS tahun 2016. Sistem kerjasama yang diterapkan adalah sistem pengembalian investasi dalam bentuk gabah. Kegiatan UPBS BPTP Bengkulu akan memberikan benih, pupuk, dan sebagian pestisida, yang nilainya dihitung sebagai investasi. I nvestasi yang telah diberikan kepada petani tersebut nantinya harus dikembalikan oleh petani dalam bentuk gabah.

3. Penetapan nilai investasi dalam sistem kerjasama kegiatan penangkaran

Sistem kerjasama yang diterapkan pada kegiatan UPBS tahun 2016 adalah sistem pengembalian investasi dalam bentuk gabah. Kegiatan UPBS BPTP Bengkulu memberikan sarana produksi dalam bentuk benih, pupuk, dan sebagian pestisida, yang nilainya dihitung sebagai investasi. I nvestasi yang telah diberikan kepada petani tersebut nantinya harus dikembalikan oleh petani dalam bentuk gabah.Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 7. Jumlah saprodi yang diberikan kepada petani kooperator dihitung berdasarkan luas lahan masing-masing petani. Total nilai investasi yang diberikan adalah Rp 24.700.000,- dan perkiraan jumlah gabah yang harus dikembalikan petani sebanyak 4.490 kg gabah kering panen.

Total nilai investasi yang diberikan kepada Kelompok tani penangkar Permata Hamparan Ajan di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma adalah Rp 4.358.500,- dan perkiraan jumlah gabah yang harus dikembalikan petani sebanyak 1.000 kg gabah kering panen. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma disajikan pada Tabel 8.

(50)

Tabel 7. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma No Nama Petani Luas lahan

(ha)

Benih (Rp)

Pupuk (Rp)

Pestisida (Rp)

UHL (Rp)

Total Nilai I nvestasi

(Rp)

Jumlah Pengembalian

GKP (Kg)

Produksi Riil GKP (Kg)

1 Khalimi 0,8 690.000 1.046.500 396.750 800.000 2.933.250 530 3.190

2 Syahbudin 0,6 517.500 713.000 299.000 600.000 2.129.500 380 2.475

3 I wan Harjo 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 2.035

4 Maryono 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.320

5 Kusman 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.540

6 Wahab 0,5 431.250 690.000 299.000 600.000 2.020.250 370 1.100

7 Sapto Widodo 0,6 517.500 713.000 299.000 600.000 2.129.500 380 1.320

8 Sauman 0,8 690.000 1.046.500 396.750 800.000 2.933.250 530 2.310

9 I din 0,3 258.750 356.500 299.000 450.000 1.364.250 250 990

10 Toton 0,2 172.500 333.500 299.000 450.000 1.364.250 230 770

11 Harto Karyo 0,2 172.500 333.500 299.000 450.000 1.364.250 230 770

12 Bastam 0,2 172.500 333.500 299.000 450.000 1.364.250 230 660

13 Syakhateli 0,3 258.750 356.500 299.000 450.000 1.364.250 250 935

Jumlah 6,0 5.175.000 7.992.500 4.082.500 7.450.000 24.700.000 4.490 19.415

(51)

Tabel 8. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Seluma

No Nama Petani Luas lahan (ha)

Benih (Rp)

Pupuk (Rp)

Pestisida (Rp)

Total Nilai I nvestasi

(Rp)

Jumlah Pengembalian

GKP (Kg)

Produksi Riil GKP (Kg)

1 Zainul Amri 1 862.500 920.000 396.750 2.179.250 500 2.920

2 Masdin 1 862.500 920.000 396.750 2.179.250 500 2.880

Jumlah 2,0 1.725.000 1.840.000 793.500 4.358.500 1.000 5.880

(52)

Tabel 9. Nilai investasi yang diberikan kepada petani kooperator di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

No Nama Petani Luas lahan (ha)

Benih Pupuk Pestisida UHL Total Nilai

I nvestasi (Rp)

Jumlah Pengembalian

GKP (Kg)

Produksi Riil GKP(Kg)

1 Tasman 0,4 345.000 402.500 356.500 550.000 1.654.000 300 1.679

2 I skandar 0,8 690.000 805.000 598.000 800.000 2.893.000 530 2.000

3 Sudarmanto 0,6 517.500 603.750 500.250 600.000 2.221.500 400 1.719

4 Trubus 1 862.500 1.006.250 741.750 1.000.000 3.610.500 650 2.000

5 Sukiman 0,5 431.250 603.750 454.250 600.000 2.089.250 400 1.000

6 Saman 0,4 345.000 402.500 356.500 550.000 1.654.000 300 1.888

7 Salut 1 0,2 172.500 258.750 258.750 450.000 1.140.000 200 998

8 Salut 2 0,3 172.500 402.500 310.500 450.000 1.335.500 250 1.453

9 Saruntung 1 0,3 258.750 402.500 310.500 450.000 1.421.750 250 1.500

10 Saruntung 2 0,2 172.500 258.750 258.750 450.000 1.140.000 200 801

11 Feri 0,4 345.000 402.500 356.500 550.000 1.654.000 300 2.200

12 Nyardi/ Bawor 0,6 517.500 603.750 500.250 600.000 2.221.500 400 2.367

13 Sudarwanto 0,8 690.000 805.000 598.000 800.000 2.893.000 530 4.385

14 Ponidi 0,8 690.000 805.000 598.000 800.000 2.893.000 530 2.500

JUMLAH 7,3 6.210.000 7.762.500 6.198.500 8.650.000 28.821.000 5.240 26.490

(53)

4. Budidaya benih sumber padi

Kegiatan penangkaran padi pada lahan UPBS dilakukan dengan pendekatan 2 komponen teknologi utama yaitu Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan Kalender Tanam (Katam) . Komponen PTT dan teknologi yang diterapkan disajikan pada Tabel 10. Matriks kegiatan budiaya padi pada setiap lokasi penangkaran dapat dilihat pada Lampiran 1.

Tabel 10. Komponen PTT dan teknologi yang diterapkan pada kegiatan penangkaran UPBS BPTP Bengkulu tahun 2016.

No Komponen PTT Teknologi Yang Diterapkan

1 Varietas Unggul Baru I npari 6, I npara 2 dan I npara 4

2 Bibit bermutu dan sehat Kelas benih BS dan FS (label kuning dan

4 Penggunaan bibit muda Umur kurang dari 21 hari setelah semai

5 Jumlah bibit per lubang 1-3 batang

6 Pemupukan berimbang dan

8 Pengolahan Tanah Olah tanah sempurna (maximum tillage)

9 Pengelolaan air Berselang (intermitten)

10 Penanganan panen dan

pascapanen

Tepat waktu dan segera dirontok

Pengolahan lahan milik kelompok tani penangkar Mandiri di Kelurahan Kemumu, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara telah dilakukan dengan menggunakan hand tractor. Pada lahan milik petani kooperator di Desa Gunung Kembang, Kecamatan Semidang Alas Maras, Kabupaten Bengkulu Utara telah dilakukan pengolahan tanah (penggemburan) dengan bajak rotari dan penggaruan. Namun kondisi tanah belum jenuh air karena saluran air di sekitar lahan dalam keadaan kering dan belum ada hujan.

(54)

produktivitas tanaman.Berbeda dengan sistem tanam tegel yang barisan tanamannya rapat, sehingga ketika tanaman padi sudah mulai tinggi dan besar, tanaman yang berada ditengah kurang mendapatkan sinar matahari sehingga pertumbuhan tidak serempak. Petani merespon dengan baik sistem tanam jarwo dan penggunaan caplak roda. Hal ini karena penggunaan caplak roda lebih memudahkan petani dalam mempersiapkan lahan penanaman padi. Oleh karena itu, pada kegiatan penangkaran tahun 2016 ini seluruh petani kooperator di Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma menggunakan sistem tanam jarwo 2: 1 dengan bantuan alat caplak roda. Kegiatan tanam dilaksanakan secara serentak oleh 13 orang anggota petani kooperator dengan total luas lahan 6 ha.

Pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah. Dengan sistem tanam jarwo, pangkal tanaman tidak ternaungi karena sinar matahari langsung dapat menyinari bagian pangkal tanaman.Dengan keadaan seperti demikian, hama/ penyakit dan gulma yang dapat hidup dalam suasana lembab seperti wereng dapat ditekan keberadaannya. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna. Pemberian pupuk yang dilakukan pada sistem tanam jarwo yaitu pupuk hanya ditaburkan ditengah barisan antara tanaman. Jika pupuk diberikan dengan cara ditaburkan di atas tanaman seperti yang biasa petani lakukan justru akan membuat pupuk banyak yang menempel pada tengah batang tanaman, sehingga pupuk yang diperlukan akan lebih banyak. Selain itu, pemberian pupuk dengan sistem legowo dapat menghambat pertumbuhan gulma karena pupuk hanya diberikan ditengah baris dalam pertanaman saja, sedangkan pada baris legowonya tidak. Dengan demikian gulma yang berada di sekitar baris legowo pertumbuhannya tidak terlalu pesat karena kurang menyerap pupuk.

Gambar

Tabel 1. Sebaran luas tanam dan total kebutuhan benih padi per varietas di Provinsi Bengkulu pada Tahun 2015
Tabel 1. Lanjutan
Tabel 2.  Kebutuhan benih dan sebaran varietas di Provinsi Bengkulu pada tahun2015
Tabel 2.  Lanjutan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka menyediakan benih varietas unggul bersertifikat padi dan kedelai guna memenuhi kebutuhan benih untuk pelaksanaan budidaya tanaman pangan secara

Peningkatan produktivitas padi dilakukan melalui peningkatan penggunaan benih bermutu dari varietas unggul spesifik lokasi dengan produktivitas tinggi termasuk benih

menerapkan sistem pengendalian hama terpadu, mengatur penyediaan dan penyaluran benih padi dari varietas unggul tahan wereng, dan merencanakan kebutuhan dan

Tujuan kegiatan UPBS pada tahun 2014 meliputi : 1) Menyediakan benih sumber (logistik) Varietas Unggul Baru (VUB) padi spesifik lokasi untuk lembaga perbenihan dan

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Inovasi varietas unggul padi rawa dalam bank pengetahuan tanaman pangan Indonesia. BPS Provinsi Bengkulu. Bengkulu dalam Angka. Pengkajian

1) Benih varietas padi lokal Bali yang masih dibudidayakan sampai saat ini oleh petani di beberapa daerah di Bali. 2) Data tentang karakteristik morfologi varietas padi lokal

Pelaksanaan Demfarm Kedelai di 5 kabupaten di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Mukomuko dengan menggunakan Varietas Tanggamus, sedangkan Kabupaten Kaur, Bengkulu Tengah,

01 Tersedianya Benih Sumber, Varietas Unggul Baru, dan Peningkatan Inovasi Teknologi Tanaman Pangan Mendukung Pencapaian Swasembada Padi dan peningkatan produksi Tanaman Pangan