• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori Pendukung

2. Penalaran Moral

Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari moral dan norma-norma sosial dalam memutuskan suatu tindakan yang akan diambil. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2001), penalaran diartikan sebagai cara berpikir logis dengan mengembangkan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman. Sedangkan moral berasal dari bahasa latin yaitu moralia (mos); adat istiadat dan mores; perilaku. Moralitas dapat diartikan sebagai sistem nilai bagaimana manusia harus hidup baik (Keraf, 1998).

Penalaran moral adalah konsep dasar individu untuk menganalisa masalah sosial-moral dan menilai terlebih dahulu tindakan apa yang akan dilakukan (Rest, 1979). Sementara itu, Velasquez (2012) mengemukakan bahwa penalaran moral merupakan proses untuk menilai perilaku manusia, organisasi, dan apakah kebijakan yang ada sesuai atau tidak dengan standar moral.

Menurut Kohlberg (1981, 1984) dalam Welton et al. (1994) mengidentifikasi tiga level perkembangan moral, dimana setiap levelnya memiliki dua tahap. Level pertama, prakonvensional (pre-conventional) terdiri dari dua tahap, yaitu: (1) orientasi hukuman dan ketaatan (the punishment and obedience orientation) dan (2) pandangan individualistik (the instrumental-relativist orientation). Level kedua, konvensional (conventional) terdiri dari dua tahap, yaitu: (3) orientasi kesesuaian interpersonal (the interpersonal concordance or “good boy or nice girl” orientation) dan (4) orientasi aturan dan tatanan (the law and order orientation). Level ketiga pascakonvensional (post-conventional) terdiri dari dua tahap, yaitu: (5) orientasi kontrak sosial dan legalistic (the social-contract, legalistic orientation) dan (6) orientasi prinsip etis universal (the universal ethical principle orientation). Penjelasan mengenai tahapan pengembangan moral Kohlberg dapat dilihat dalam tabel:

Tabel 2.1

Tahapan Cognitive Moral Development Kohlberg

Level Tahap Apa yang “right” dan “why”

Level 1 pre-conventional

Tahap 1 : orientasi hukuman dan ketaatan (the punishment and obedience

orientation)

Individu menghindari aturan dengan tujuan terhindar dari hukuman atau kerugian. Adanya kekuatan otoritas superior juga akan menentukan hal yang benar untuk dilakukan.

Tahap 2 : pandangan individualistik (the

instrumental-relativist orientation)

Individu mengikuti aturan ketika aturan tersebut sesuai dengan kepentingan pribadi dan membiarkan pihak lain melakukan hal yang sama. Hal yang benar didefinisikan dengan equal exchange, suatu kesepakatan yang fair.

Level 2 conventional Tahap 3 : Orientasi kesesuaian interpersonal (the interpersonal concordance or “good boy or nice girl” orientation)

Individu memperlihatkan stereotype perilaku yang baik dan berbuat sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pihak lain.

Tahap 4 : orientasi aturan dan tatanan (the law and order orientation)

Individu menganggap bahwa kepentingan masyarakat lebih penting daripada kepentingan individu. Mematuhi hukum karena memiliki prinsip apabila individu tersebut melanggar hukum, maka orang lain juga akan melanggar hukum.

Tabel 2.1 Tahapan Cognitive Moral Development Kohlberg (Lanjutan)

Level Tahap Apa yang “right” dan “why”

Level 3 post-conventional

Tahap 5 : orientasi kontrak sosial dan legalistic (the social-contract, legalistic orientation)

Individu dipandang sebagai entitas yang memiliki kepentingan, nilai dan pendapat yang berbeda-beda, sehingga pengambilan keputusan akan ditunjukkan untuk kebaikan sebanyak-banyaknnya individu. Bahkan apabila terdapat hukum yang tidak sesuai dengan kepentingan banyak individu, hukum dapat disesuaikan dengan kepentingan banyak individu.

Tahap 6 : orientasi prinsip etis universal (the universal ethical principle

orientation)

Penalaran moral dilakukan berdasarkan pada penalaran yang abstrak dengan menggunakan prinsip etika universal. Dalam tahap ini, sebuah tindakan yang diambil bukan lagi menjadi sebuah cara, namun menjadi sebuah hasil

Sumber : Kohlberg (1981) dalam Dalimunthe (2015) 3. Retaliasi

Menurut Kaplan et al. (2012), retaliasi merupakan biaya potensial yang terjadi akibat whistleblowing yang dilakukan dan retaliasi yang dialami oleh whistleblower menjadi sinyal bagi whistleblower selanjutnya untuk mengevaluasi apakah mereka juga akan mengalami retaliasi. Retaliasi atau pembalasan adalah suatu gangguan yang terjadi pada seseorang karena seseorang tersebut melakukan tindakan

penentangan, membuat pengaduan, bersaksi, berpartisipasi pada proses pengadilan atau hukum. Menurut Harassment and Discrimination Policy Portland University, adanya pembalasan dapat juga berarti adanya tindakan intimidasi, gangguan, ancaman, dan diskriminatif terhadap orang lain.

Sedangkan menurut Rehg et al. (2008), retaliasi merupakan tindakan tidak menyenangkan yang diterima oleh pelapor kecurangan (whistleblower) dan sebagai bentuk respon langsung terhadap pelaporan kecurangan yang melaporkan kecurangan baik secara internal maupun eksternal.

Menurut Lyanarachchi dan Newdick (2009) terdapat beberapa bentuk retaliasi, diantaranya adalah:

a. Tindakan merendahkan.

b. Pemberian pekerjaan di luar tanggung jawab whistleblower. c. Pemberian pekerjaan tambahan.

d. Pemberian pekerjaan yang memerlukan keahlian baru.

Parmerlee et al. (1982) mengemukakan bahwa organisasi dalam merespon informasi yang diberikan whistleblower bergantung pada apakah top management setuju atau tidak pada keutamaan dalam dan hak karyawan untuk melakukan whistleblowing. Beberapa respon yang diberikan organisasi antara lain:

b. Pembuat kebijakan menunjukkan sikap tidak suka dengan aduan karyawan, namun tidak memberikan retaliasi atas whistleblowing yang dilakukan.

c. Pembuat kebijakan memberikan respon tidak suka atas aduan, namun seolah-olah bertindak setuju dengan aduan yang disampaikan karyawan.

d. Pembuat kebijakan menganggap bahwa aduan dapat diselesaikan pada tingkat low management.

e. Pembuat kebijakan tidak ingin bekerjasama dengan pihak luar untuk menyelesaikan aduan.

f. Pembuat kebijakan melakukan tekanan hukum dalam berkomunikasi dengan whistleblower. Kemudian diikuti dengan pencemaran nama baik, isolasi dan pengucilan whistleblower dalam organisasi.

g. Pembuat kebijakan mengucilkan whistleblower saat rapat organisasi dan menghilangkan insentif whistleblower.

Retaliasi menjadi dua kategori, yaitu penalti (penalty) dan afiliasi (affiliation). Penalti merupakan konsekuensi hukuman dengan bentuk ancaman terhadap orang maupun properti, tuntutan hukum, pemutusan hubungan kerja atau penjara. Sedangkan afiliasi merupakan maninfestasi diri dalam hubungan dengan orang lain baik di dalam maupun di luar organisasi (Arnold dan Ponemon, 1991 dalam Liyanarachchi dan Newdick, 2009).

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian Kiki Istyanti (2016) mengenai pengaruh penalaran moral, retaliasi dan kolektivisme terhadap niat mahasiswa melakukan whistleblowing. Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh penalaran moral, retaliasi dan kolektivisme terhadap niat melakukan whistleblowing dengan menggunakan sampel penelitian mahasiswa S1 akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM yang sedang atau telah lulus mata kuliah Etika Bisnis dan Profesi dan telah mengambil mata kuliah Pengauditan I dan Pengauditan II sehingga dianggap familiar dengan istilah whistleblowing. Berdasarkan hasil pengujian statistik menggunakan regresi linear berganda, kesimpulan yang didapatkan adalah penalaran moral tidak berpengaruh terhadap niat melakukan whistleblowing, retaliasi tidak berpengaruh terhadap niat melakukan whistleblowing dan kolektivisme berpengaruh terhadap niat melakukan whistleblowing.

Penelitian Riza Nugraha Permana Dalimunthe (2015) mengenai pengaruh penalaran moral dan kolektivisme terhadap niat melakukan whistleblowing. Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh penalaran moral dan kolektivisme terhadap niat melakukan whistleblowing, menggunakan data primer yang diperoleh dari mahasiswa akuntansi menggunakan pendekatan survei dengan menyebarkan kuesioner, sampel dari penelitian ini adalah 188 mahasiswa akuntansi dari salah satu universitas unggulan di Indonesia yang terdiri dari 115 mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah etika bisnis dan 73 mahasiswa yang belum

mengambil etika bisnis. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mahasiswa yang sudah menempuh mata kuliah etika bisnis dan mahasiswa yang belum menempuh mata kuliah etika bisnis. Dipilihnya dua kelompok mahasiswa tersebut sebagai responden dikarenakan peneliti ingin membandingkan tingkat penalaran moral dan niat untuk melakukan whistleblowing antar dua kelompok mahasiswa tersebut. Metode analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penalaran moral dan kolektivisme berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat melakukan whistleblowing. Namun, tingkat penalaran moral dan whistleblowing intention mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah etika bisnis tidak berbeda secara siginifikan dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah etika bisnis.

Penelitian Meita Larasati (2015) mengenai pengaruh penalaran moral, retaliasi dan emosi negatif terhadap kecenderungan individu melakukan whistleblowing bertujuan untuk menguji pengaruh penalaran moral, retaliasi, rasa bersalah dan rasa malu terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing. Hasil penelitian ini memberikan bukti secara empiris bahwa penalaran moral, retaliasi dan rasa bersalah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing. Tingkat penalaran moral mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing. Jadi, individu dengan tingkat penalaran moral yang tinggi mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk melakukan

whistleblowing daripada individu dengan tingkat penalaran moral yang rendah. Kekuatan retaliasi mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing.

Penelitian Liyanarachchi dan Newdick (2009) mengenai the impact of moral reasoning and retaliation on whistle-blowing. Penelitian dilakukan degan metode eksperimen untuk menguji pengaruh kekuatan retaliasi dan tingkat penalaran moral mahasiswa akuntansi, atas kecenderungan mereka untuk mengungkapkan kecurangan saat dihadapkan dengan kesalahan serius, responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sejumlah lima puluh satu siswa akuntansi senior yang mendaftarkan diri di sebuah kursus audit yang ditawarkan oleh universitas besar Selandia Baru. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kedua tingkat penalaran moral peserta dan kekuatan retaliasi memiliki efek utama yang signifikan pada pegungkapan kecurangan, sedangkan efek interaksi variabel yang sama pada pengungkapan kecurangan tidak signifikan. Efek interaksi gender memiliki hasil yang signifikan terhadap hubungan antara tingkat penalaran moral dan pengungkapan kecurangan.

C. Perumusan Hipotesis

1. Penalaran Moral Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing

Penalaran moral adalah konsep dasar individu untuk menganalisa masalah sosial-moral dan menilai terlebih dahulu tindakan apa yang akan dilakukan (Rest, 1979). Near dan Miceli (1996) dalam Liyanarachchi dan Newdick (2009) menyebutkan keputusan seseorang untuk melakukan whistleblowing dipengaruhi oleh:

a. Karakter kepribadian individu.

b. Lingkungan yang berada disekitar individu. c. Ketakutan akan pembalasan.

Penelitian terdahulu telah banyak dilakukan untuk melihat hubungan penalaran moral dengan niat melakukan whistleblowing. Penelitian-penelitian tersebut mengindikasikan tingkat pengembangan moral memilik hubungan langsung dengan perilaku etis. Hasil penelitian Liyanarachchi dan Newdick (2009) menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat penalaran moral yang lebih tinggi akan melakukan whistleblowing dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat penalaran moral yang lebih rendah. Seseorang tidak akan cenderung untuk melakukan whistleblowing apabila mereka memiliki penalaran moral yang tinggi ataupun sesorang tidak akan cenderung untuk tidak melakukan whistleblowing apabila indivdu tersebut memiliki penalaran moral yang rendah (Istyanti, 2016). Tingkat penalaran moral mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap

kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing (Larasati, 2015). Dari uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H1: Penalaran moral berpengaruh terhadap niat mahasiswa melakukan whistleblowing.

2. Retaliasi Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing

Retaliasi merupakan tindakan tidak menyenangkan yang diterima oleh pelapor kecurangan (whistleblower) dan sebagai bentuk respon langsung terhadap pelaporan kecurangan yang melaporkan kecurangan baik secara internal maupun eksternal (Rehg et al., 2008). Penelitian terdahulu telah banyak dilakukan untuk meneliti pengaruh retaliasi terhadap niat melakukan whistleblowing. Penelitian yang dilakukan oleh Liyanarachchi dan Newdick (2009) menunjukkan bahwa individu akan melakukan whistleblowing dan mengantisipasi terjadinya retaliasi. Menurut Istyanti (2016) retaliasi tidak berpengaruh terhadap niat melakukan whistleblowing. Kekuatan retaliasi mempunyai pengaruh negatif yang signifikan terhadap kecenderungan individu untuk melakukan whistleblowing (Larasati, 2015). Dari uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan adalah:

H2: Retaliasi berpengaruh terhadap niat mahasiswa melakukan whistleblowing.

D. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka pemikiran

Mahasiswa akuntansi yang telah menempuh mata kuliah

etika bisnis

Penalaran

Moral Retaliasi

23

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif menggunakan metode studi empiris. Penelitian asosiatif digunakan untuk mengetahui pengaruh penalaran moral dan retaliasi terhadap niat mahasiswa melakukan whistleblowing yang disajikan dalam bentuk angka dan tabel yang kemudian dijelaskan dan diinterprestasikan dalam suatu uraian. Studi empiris menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma angkatan 2015 yang telah menempuh mata kuliah etika bisnis.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu Penelitian : Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2018. Tempat Penelitian : Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Ekonomi

Program Studi Akuntansi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

C. Objek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma angkatan 2015 yang telah menempuh mata kuliah etika bisnis.

D. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Total Population Sampling (Etikan et al., 2016) dengan kriteria yaitu mahasiswa akuntansi semester 6 di Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang telah menempuh mata kuliah Etika Bisnis. Metode tersebut dipilih karena populasi yang memenuhi kriteria tersebut cukup kecil dan bisa dijangkau seluruhnya (Etikan et al., 2016). Sampel tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa mahasiswa telah memiliki kemampuan dan pemahaman yang baik mengenai Etika Bisnis.

E. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data penelitian ini adalah data primer yang diambil secara langsung dari responden. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei menggunakan instrument kuesioner. Kuesioner yang digunakan berasal dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Istyanti (2016) yang mengadopsi dari instumen penelitian Lyanarachchi dan Newdic (2009). Dengan pilihan jawaban atau respon berupa skala likert lima poin.

F. Variabel Penelitian

Variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:

1. Variabel dependen yaitu niat melakukan whistleblowing.

Whistleblowing merupakan suatu pengungkapan yang dilakukan oleh anggota organisasi atas suatu praktik illegal, tidak bermoral, atau tanpa legitimasi hukum di bawah kendali pimpinan kepada individu atau organisasi yang dapat menimbulkan efek tindakan perbaikan (Near dan Miceli, 1985).

Pengukuran variabel niat melakukan whistleblowing diadopsi dari penelitian Istyanti (2016) mengembangkan instrument pengukuran niat melakukan whistleblowing penelitian Schultz et al. (1993) yang terdiri dari tiga skenario kasus. Dalam penelitian ini hanya akan digunakan satu skenario kasus, agar responden tidak mengalami kejenuhan karena harus membaca dan memahami skenario yang panjang. Skenario menilai persepsi responden mengenai tingkat keseriusan kasus, tingkat tanggung jawab dalam melaporkan kasus tersebut dan dampak resiko pribadi pelapor kecurangan (whistleblower). Penilaian dilakukan menggunakan skala likert lima poin (1= sangat rendah, 2= rendah, 3= netral, 4= tinggi, dan 5= sangat tinggi). Tiap skenario kasus juga menilai tingkat keinginan responden dalam melaporkan kasus pelanggaran. Penilaian akan menggunakan skala likert lima poin (1= sangat tidak mungkin, 2= tidak mungkin, 3= netral, 4= mungkin, dan 5= sangat mungkin).

2. Variabel independen yaitu penalaran moral dan retaliasi.

a. Penalaran moral adalah konsep dasar individu untuk menganalisa masalah sosial-moral dan menilai terlebih dahulu tindakan apa yang akan dilakukan (Rest, 1979). Penelitian ini berfokus pada kemampuan seseorang dalam melakukan penalaran moral terkait dengan dilema etika yang dihadapi. Dalam penelitian ini, penalaran moral diukur dengan menggunakan Defining Issue Test (DIT), dari Rest (1979). Instrument tersebut juga telah digunakan dalam penelitian Liyanarachchi dan Newdick (2009). Instrument terdiri dari 3 skenario yang mereflesikan aspek lingkungan kerja akuntan. Namun demikian, penulis hanya menggunakan satu skenario saja. Penggunaan satu skenario DIT dalam pengukuran penalaran moral juga telah dilakukan oleh Larasati (2015) dan Istyanti (2016) dengan asumsi satu skenario tersebut relevan untuk digunakan dalam penelitian terkait penalaran moral, meminimalisir adanya non-respon bias, dan menjaga agar instrument penelitian tidak terlalu panjang sehingga responden tidak menghabiskan waktu terlalu banyak dalam pengisian kuesioner dan mengalami kejenuhan.

Pada pengambilan data, responden diminta membaca skenario tersebut, kemudian setelah membaca responden diminta memberikan rating untuk dua belas pertanyaan pada skala likert lima poin (1= sangat tidak mungkin, 2= tidak mungkin, 3= netral, 4= mungkin, dan 5= sangat mungkin). Setelah memberikan rating dari

dua belas pernyataan, responden memilih dan memeringkat item-item yang dianggap paling berpengaruh terhadap penyelesaian konflik, yaitu dari peringkat paling penting pertama sampai peringkat paling penting keempat dengan bobot skala 1= paling penting keempat, 2= paling penting ketiga, 3= paling penting kedua dan 4= paling penting pertama. Karena skenario memiliki empat peringkat, maka skenario tersebut memiliki total poin 10.

Hasil dari instrumen akan menjadi sebuah skor yang diklasifikasikan sebagai post-conventional level atau P-Score. Tingkat penalaran moral sesoarang dapat dilihat dari P-score tersebut (Welton et al., 1994, Liyanarachchi dan Newdick, 2009). Semakin tinggi nilai P-Score responden maka semakin tinggi pula tingkat moral reasoning-nya. P-score dihitung dengan menjumlahkan skor yang diberikan oleh responden pada skenario yang ada dan totalnya dibagi dengan 0,40, yaitu jumlah item yang diperingkat (Ahyaruddin dan Mizan, 2017). Dua level dari moral reasoning yaitu tinggi dan rendah diidentifikasi dengan menggunakan nilai median

P-score untuk total sampel. Skor di bawah nilai median diklasifikasikan

sebagai “rendah” dan skor yang di atas nilai median diklasifikasikan sebagai “tinggi” (Liyanarachchi & Newdick, 2009).

b. Retaliasi merupakan tindakan tidak menyenangkan yang diterima oleh pelapor kecurangan (whistleblower) dan sebagai bentuk respon langsung terhadap pelaporan kecurangan yang melaporkan kecurangan baik secara internal maupun eksternal (Rehg et al.,

2008). Pengukuran variabel retaliasi diadopsi dari penelitian Istyanti (2016) mengembangkan instrumen pengukuran retaliasi penelitian Liyanarachchi dan Newdick (2009) dari instrumen dalam metode eksperimen menjadi instrumen dalam metode survei. Instrumen tersebut terdiri dari tiga belas pertanyaan. Responden diminta memberikan rating untuk setiap pertanyaan pada lima skala likert (1= sangat tidak mungkin, 2= tidak mungkin, 3= netral, 4= mungkin, dan 5= sangat mungkin).

G. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji validitas bertujuan untuk menguji valid tidaknya kuesioner. Kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2016:52). Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi pearson product moment dengan ketentuan jika nilai r hitung > nilai r tabel dengan taraf signifikansi 0,05 (5%), maka item pertanyaan dinyatakan valid.

2. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Kuesioner dikatakan handal ketika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali 2016, 47). Data yang reliabel dalam instrumen penelitian berarti data tersebut dapat dipercaya. Untuk mengukur reliabilitas konsistensi internal, digunakan teknik Cronbach

Alpha. Variabel tersebut dikatakan reliabel apabila memiliki Cronbach Alpha > 0,60. Namun ada yang menggunakan 0,70 atau 0,80 atau 0,90 tergantung tingkat kesulitan data dan peneliti (Sunyoto, 2013:81)

H. Teknik Analisis Data

1. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data mahasiswa Akuntansi Universitas Sanata Dharma tahun 2015.

2. Menghitung jumlah sampel

Setelah mendapatkan data jumlah mahasiswa Akuntansi tahun 2015 yang aktif, dilakukan penghitungan jumlah sampel dengan metode purposive sampling.

3. Menyebarkan kuesioner

4. Melakukan analisis statistik deskriptif

Analisis statistik deskriptif berfungsi untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu data berupa tabel yang menjadi sebuah informasi yang jelas dan mudah untuk dipahami. Informasi yang disajikan dalam statistik deskriptif berwujud tabulasi data responden dari hasil pengisian kuesioner. Data yang akan dilihat adalah data dari rata-rata (mean), standar deviasi, nilai maksimum, nilai minimum dan jumlah data penelitian.

5. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi pearson product moment. Pengukuran reliabilitas menggunakan teknik Cronbach Alpha.

6. Uji Asumsi klasik a. Uji Normalitas

Pengujian dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah model yang mempunyai distribusi data normal. Penelitian ini menggunakan uji Kolmogrof-Simonov (K-S) yang membandingkan nilai probabilitas dengan nilai signifikansinya. Model dikatakan normal jika signifikansi berada diatas 0,05.

b. Uji Multikolinearitas

Bertujuan untuk menemukan korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi multikolinearitas, sehingga variabel independen membentuk variabel orthogonal. Pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah dengan melihat nilai dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) dalam model regresi. Jika VIF > 10 dan nilai tolerance < 0,1 maka terjadi gejala multikolinearitas. Jika VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1 maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas (Ghozali 2006, 91). Jika nilai VIF > 10 dan nilai tolerance < 0,1, maka dapat

dikatakan terbebas dari multikolinearitas. VIF = 1/tolerance. Semakin tinggi VIF, maka semakin rendah tolerance.

c. Uji Heteroskedastisitas

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya ketidaksamaan variansi dalam model regresi. Jika variansi tetap, maka disebut homokedastisitas. Jika variansi berbeda, maka disebut heteroskedastisitas. Dalam penelitian ini, uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser dengan cara meregresi variabel independen dengan nilai absolute residual. Jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan absolut residual > 0,05, maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

7. Menguji Hipotesis

Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda yang diolah menggunakan software SPSS 21 (Statistical Product and Service Solution 21) untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

Keterangan:

Y’ = Variabel dependen (niat melakukan whistleblowing) bₒ = Konstanta

b₁, b₂ = Koefisien regresi X₁ = Penalaran moral X₂ = Retaliasi

e = Error

Pengujian mengenai pengaruh penalaran moral, retaliasi dan kolektivisme terhadap niat mahasiswa melakukan whistleblowing dilakukan dengan menggunakan uji sebagai berikut:

a. Uji koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Jika nilai R² semakin mendekati 1, maka dapat dikatakan bahwa variabel-variabel independen telah memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. b. Uji F, dilakukan untuk mengetahui seberapa baik model penelitian

menguji pengaruh variabel dependen. Jika F hitung > F tabel dan nilai probalitas < 0,05, maka seluruh variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel dependen.

c. Uji t, dilakukan untuk mengetahui pengaruh setiap variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel dan nilai

probabilitas dengan tingkat signifikansinya. Jika t hitung > t tabel dan nilai probabilitas <0,05 maka hipotesis terdukung, sedangkan

Dokumen terkait