• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

3. Penanaman Modal Asing

a. Konsep dan Pengertian

Penanaman modal atau lebih sering disebut investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian

Dalam prakteknya, dalam usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam suatu tahun tertentu, yang digolongkan sebagai investasi meliputi pengeluaran/ pembelanjaan yaitu:

1) Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan

2) Perbelanjaan untuk membangun rumah tinggal, bangunan kantor dan lainnya.

3) Pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun penghitungan pendapatan nasional (Sadono Sukirno, 2000)

commit to user

Michael P.Todaro, menyatakan sumber daya yang akan digunakan untuk meningkatkan pendapatan dan konsumsi dimasa yang akan datang disebut investasi.

Investasi diartikan sebagai:

Pengeluaran atau pembelanjaan penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi disebut juga dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal

Menurut Lewis (1993) investasi adalah permintaan barang dan jasa untuk menciptakan atau menambah kapasitas produksi atau pendapatan di masa mendatang. Investasi dapat dilakukan oleh swasta maupun pemerintah. Investasi yang dilakukan oleh pemerintah disebut dengan pengeluaran pemerintah yaitu semua pembelian barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah (Boediono, 2003).

Barang dan jasa dalam hal ini adalah merupakan hasil proses produksi. Pengeluaran aparatur misalnya pembelian tanah oleh Pemerintah dan pembayaran gaji pegawai tidak termasuk dalam pengeluaran investasi pemerintah.

Setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal (gedung-gedung, peralatan, material yang

commit to user

rusak). Namun jika untuk menumbuhkan perekonomian diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Jika menganggap bahwa ada hubungan ekonomis secara langsung antara besarnya stok modal (K) dan output total (Y), maka setiap tambahan bersih terhadap stok modal (investasi baru) akan mengakibatkan kenaikan output total sesuai dengan rasio modal-output tersebut. Dengan diasumsikan bahwa perekonomian berada dalam kondisi full employment maka peningkatan output secara otomatis akan berdampak terhadap peningkatan kebutuhan faktor produksi yang berupa penambahan kapital dan tenaga kerja.

b. Jenis-jenis Investasi

Secara umum didalam pembangunan ekonomi terdapat 4 jenis investasi, yaitu:

1) Investasi yang terdorong (Induced Investment) dan investasi otonom (automous Investment)

Investasi yang terdorong (Induced Investment) yakni investasi yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan baik itu pendapatan daerah ataupun pendapatan pusat atau nasional.Investasi ini diadakan akibat adanya pertambahan permintaan yang mana adalah akibat pertambahan pendapatan. Jelasnya apabila pendapatan bertambah maka pertambahan konsumsi, sedangkan pertambahan konsumsi pada dasarnya adalah tambahan permintaan, dan apabila ada tambahan permintaan maka

commit to user

akan mendorong berdirinya pabrik baru atau memperluas pabrik lama untuk dapat memenuhi tambahan permintaan tersebut.

Investasi otonom (automous Investment) yakni investasi yang dilakukan oleh pemerintah karena disamping biayanya sangat besar juga investasinya ini tidak memberikan keuntungan, dimana besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan pusat atau nasional tetapi dapat berubah karena adanya perubahan-perubahan faktor-faktor diluar pendapatan seperti tingkat teknologi, kebijakan pemerintah, harapan para pengusaha, dan sebagainya. Investasi ini dilaksanakan atau diadakan bukan karena pertambahan permintaan efektif. Besarnya investasi otonom tidak tergantung kepada besar kecilnya pendapatan nasional atau daerah. Investasi otonom berarti pembentukan modal yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Dengan perkataan lain tinggi rendahnya pendapatan nasional tidak menentukan investasi yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Contohnya investasi bendungan untuk saluran irigasi tidak akan memberikan keuntungan langsung kepada pemerintahan, tetapi dengan irigasi akan dapat meningkatkan produksi hasil pertanian. Pembukaan dan Pembangunan prasarana jalan merupakan investasi otonom (Mulia Nasution, 1997).

commit to user

2) Public Investment dan Private Investment

Public Investment adalah investasi atau penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan pemerintahan disini adalah baik pemerintah pusat atau daerah dan sifatnya resmi. Sedangkan private investment adalah investasi yang dilakukan swasta, dimana keuntungan yang menjadi prioritas utama berbeda dengan public investment yang diarahkan untuk melayani dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat banyak. 3) Domestic Investment dan Foreign Investment

Domestic Investment adalah penanaman modal negeri sedangkan Foreign Investment adalah penanaman modal asing. Sebuah negara yang memiliki banyak sekali faktor-faktor produksi alam namun tidak memiliki faktor produksi modal (capital) yang cukup untuk mengolah sumber-sumber yang dimilikinya itu, akan mengundang modal asing ini, agar supaya sumber-sumbernya yang ada dapat dimanfaatkan sepenuhnya.

4) Gross Investment dan Net Investment

Gross investment adalah total seluruh investasi yang diadakan atau dilaksanakan pada suatu waktu. Jadi mencakup segala jenis investasi, baik itu automous maupun included, baik private maupun public, pendek kata seluruh investasi yang dilakukan suatu negara (daerah) pada atau selama sesuatu periode waktu tertentu dinamakan groos investment.

commit to user

Neti investment (investmen netto) adalah selisih antara investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya investasi bruto tahun ini adalah dua puluh lima juta sedangkan penyusutan yang terjadi selama tahun yang lalu adalah sebesar sepuluh juta maka itu berarti bahwa investasi netto adalah sebesar limabelas juta.

c. Penentu-penentu Tingkat Investasi

Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi adalah:

1) Keuntungan yang diramalkan

Ramalan mengenai keuntungan masa depan akn memberikan gambaran kepada para pengusaha mengenai jenis-jenis investasi yang kelihatannya mempunyai prospek yang baik dan dapat dilaksanakan dan besarnya investasi yang harus dilakukan untuk mewujudkan tambahan barang-barang modal yang diperlukan.

2) Tingkat bunga

Tingkat bunga menentukan jenis-jenis investasi yang akan memberi keuntungan kepada para pengusaha dan dapat dilaksanakan. Para pengusaha hanya akan melaksanakan keinginan untuk menanam modal apabila tingkat pengembalian modal dari penanaman modalnya itu, yaitu persentasi keuntungan netto(tetapi

commit to user

sebelum dikurangi bunga uang yang dibayar) modal yang diperoleh lebih besar dari tingkat bunga.

3) Ramalan mengenai keadaan ekonomi dimasa depan

Dalam membuat ramalan mengenai keadaan masa depan pada hakikatnya para pengusaha harus bertanya: apakah keadaan masa depan menunjukan bahwa keuntungan yang cukup besar akan diperoleh dari pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang dibuat atau direncanakan. Ramalan yang menunjukan bahwa keadaan perekonomian akan menjadi lebih baik lagi pada masa depan yaitu diramalkan bahwa harga-harga akan tetap stabil dan pertumbuhan ekonomi maupun pertambahan pendapatan masyarakat akan berkembang dengan pesat, merupakan keadaan yang akan mendorong pertumbuhan investasi

4) Kemajuan teknologi

Kegiatan para pengusaha untuk menggunakan teknologi yang baru dikembangkan didalam kegiatan produksi atau manajemen dinamakan mengadakan pembaharuan atau inovasi. Pada umumnya makin banyak perkembangan teknologi yang dibuat, makin banyak pula kegiatan pembaharuan yang akan dilakukan oleh pengusaha untuk melaksanakan pembaharuan-pembaharuan, para pengusaha harus membeli barang-barang modal yang baru, dan adakalanya juga harus mendirikan bangunan-bangunan pabrik /industri yang baru. Maka makin banyak

commit to user

pembaharuan yang akn dilakukan, makin tinggi tingkat investasi yang akan tercapai.

5) Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya

Dalam kebanyakan analisis mengenai penentu pendapatan nasional pada umumnya dianggap investasi yang dilakukan para pengusaha adalah berbentuk investasi otonomi. Tingkat pendapatan nasional yang tinggi akan mempebesar pendapatan masyarakat, dan selanjutnya pendapatan masyarakat yang tinggi tersebut akan memperbesar permintaan terhadap barang-barng dan jasa-jasa. Maka keuntungan perusahaan akan bertambah tinggi dan ini akan mendorong dilakukannya lebih banyak investasi. Dengan perkataan lain, apabila pendapatan nasional bertambah tinggi, mak investasi akan bertambah tinggi pula.(Mulia Nasution,1997)

d. Teori Investasi

1) Teori Konvensional (klasik)

Teori konvensional (klasik) tentang investasi pada pokoknya didasarkan atas teori produktivitas batas (Marginal Productivity) dari faktor produksi modal.

Menurut teori ini besarnya kapital yang akan diinvestasikan dalam proses produksi ditentukan oleh produktivitas marginalnya dibandingkan dengan tingkat bunga. Sehingga investasi itu akan terus dilakukan bilamana produktifitas batas dari investasi itu masih lebih tinggi daripada tingkat yang akan diterimanya bila

commit to user

seandainya modal itu dipinjamkan dan tidak diinvestasikan (Sobri, 1984). Teori klasik dapat disederhanakan sebagai berikut:

a) Suatu investasi akan dijalankan bilamana pendapatan dari investasi itu lebih besar dari tingkat bunga. Dalam membandingkan antara pendapatan riil investasi (I) dengan tingkat suku bunga, maka tidaklah boleh dilupakan bahwa untuk barang-barang modal umumnya mempunyai masa penggunaan yang panjang (durable) dan tidak hanya sekali pakai. Sehingga pendapatan dari investasi adalah terdiri dari jumlah-jumlah pendapatan yang akan diterima setiap akhir tahun, selama penggunaan barang modal itu dalam produksi. (Sobri, 1984).

b) Investasi dalam suatu barang modal adalah menguntungkan bilamana biaya (ongkos) plus bunga, lebih kecil dari hasil pendapatan yang diharapkan dari investasi.

2) Teori J.M Keynes

Masalah investasi, baik penentuan jumlah maupun kesempatan untuk melakukan investasi, oleh keynes didasarkan atas konsep Marginal Efficienci Of Invesment (MEI), yaitu bahwa investasi itu dijalankan oleh seorang pengusaha bilamana MEI masih lebih tinggi daripada tingkat bunga. Jelaslah investasi ditentukan oleh faktor-faktor lain diluar interest rate, (Sobri, 1984). Secara grafis maka MEI itu digambarkan sebagai suatu kurva yang menurun. Kurva ini menggambarkan jumlah investasi

commit to user

yang akan terlaksana pada setiap bunga. Menurunnya kurva MEI ini antara lain disebabkan oleh dua hal yaitu :

a) Bahwa semakin banyak jumlah investasi yang terlaksana dalam masyarakat, makin rendahlah efisiensi marginal investasi itu. Sebab makin banyak investasi yang terlaksana dalam berbagai lapangan ekonomi, maka semakin sengitlah persaingan para investor sehingga MEI itu menurun.

b) Biaya semakin banyak investasi dilakukan, maka ongkos dari barang modal menjadi lebih tinggi. Dari grafik MEI ini dapatlah dinyatakan bahwa semakin rendah pendapatan maka banyaklah investasi yang dijalankan. (Sobri, 1987 ).

Gambar 2.1 : Kurva Marginal Effisiensi of invesment

Sumber : (H. Sobri, 144)

Menurut teori Keynes tentang investasi, jelas bahwa pertimbangan pokok untuk terlaksananya investasi adalah faktor efisien marginal itu sendiri. Efisiensi marginal dari investasi ini

MEI GNP

Y Investasi

commit to user

sangat penting tergantung dari perkiraan-perkiraan dan perhitungan pengusaha terhadap perkembangan situasi ekonomi masa depan. Sebab tingkat MEI tidak dapat ditentukan secara pasti.

Pandangan kedepan bagi pengusaha sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomis maupun faktor-faktor psikologis. Menghubungkan antara pengusaha dengan kemungkinan untuk mengadakan investasi perlulah diketahui tentang keberanian ber-entrepreneur seorang pengusaha yang tidak dimiliki semua pengusaha yang lain (Sobri, 1984).

Melihat kondisi Indonesia yang demikian, maka meningkatnya modal sangat berperan penting untuk meningkatkan perekonomian. Oleh karenan itu, pemerintah dan swasta berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui perhimpunan dana yang diarahkan pada kegiatan ekonomi produksi yaitu dengan menambah penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing. Pemasukan modal asing sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Modal asing dalam industrialisasi pembangunan ekonomi dapat menciptakan kesempatan kerja. Modal asing juga membantu memodernisasi masyarakat dan memperkuat sektor negara maupun sektor swasta. Penggunaan modal asing yang demikian penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi negara-negara terbelakang (Jhingan, 2000)

commit to user 3) Teori Harrod Domar

Teori Harrod-Domar merupakan perluasan dari analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi secara nasional dan masalah tenaga kerja. Analisis Keynes dianggap kurang lengkap karena tidak membicarakan masalah-masalah ekonomi jangka panjang. Teori Harrod-Domar ini menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teori ini berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap (steady growth) (Arsyad, 1999). Teori Harrod-Domar ini mempunyai beberapa asumsi yaitu

(Arsyad, 1999):

1) Perekonomian dalam keadaan pengerjaan penuh (full employment) dan barang-barang modal yang terdiri dalam masyarakat digunakan secara penuh.

2) Perekonomian terdiri dari 2 (dua) sektor yaitu rumah tangga dan perusahaan.

3) Besarnya tabungan masyarakat adalah proporsional dengan besarnya pendapatan nasional, berarti fungsi tabungan dimulai dari titik nol.

4) Kecenderungan untuk menabung (Marginal Propensity to Save = MPS) besarnya tetap, demikian juga ratio antara modal-output (Capital-Output Ratio=COR) dan rasio pertambahan modal-output(Incremental Capital-Output Ratio = ICOR).

commit to user

Menurut teori Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal (gedung-gedung, peralatan, material) yang rusak. Namun demikian, untuk menumbuhkan perekonomian tersebut, diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Jika dianggap bahwa ada hubungan ekonomis secara langsung antara besarnya stok modal (K) dan output total (Y), maka setiap tambahan bersih terhadap stok modal (investasi baru) akan mengakibatkan kenaikan outputtotal sesuai dengan rasio modal-output tersebut.

Ada beberapa kelemahan dari teori Harrod-Domar ini yang patut untuk dikemukakan yaitu:

1) MPS dan ICOR Tidak Konstan. Menurut teori ini, kecenderungan untuk menabung (MPS) dan ICOR diasumsikan konstan. Padahal kenyataannya kedua hal tersebut mungkin sekali berubah dalam jangka panjang dan ini berarti memodifikasi persyaratan persyaratan pertumbuhan yang mantap yang diinginkan

2) Proporsi Penggunaan Tenaga Kerja dan Modal Tidak Tetap. Asumsi bahwa tenaga kerja dan modal dipergunakan dalam proporsi yang tetap tidaklah dapat dipertahankan. Pada umumnya tenaga kerja dapat menggantikan modal dan perekonomian dapat bergerak lebih mulus ke arah lintasan pertumbuhan yang mantap. Dalam kenyataannya, lintasan ini

commit to user

tidak begitu stabil sehingga perekonomian harus mengalami indasi kronis atau pengangguran kronis jika G tidak berhimpit dengan Gw.

3) Harga Tidak akan Tetap Konstan. Model Harrod-Domar ini mengabaikan perubahan-perubahan harga pada umumnya. Padahal perubahan harga selalu terjadi di setiap waktu dan sebaliknya dapat menstabilkan situasi yang tidak stabil. 4) Suku Bunga Berubah. Asumsi bahwa suku bunga tidak

mengalami perubahan adalah tidak re-levan dengan analisis yangbersangkutan. Suku bunga dapat berubah dan pada akhirnya akan mempengaruhi investasi.

Dokumen terkait