• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanaman Nasionalisme Pada Paskibraka DIY

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Penanaman Nasionalisme Pada Paskibraka DIY

a. Pelaksanaan Kegiatan dan Cara Penanaman Nasionalisme Paskibraka

Pelaksanaan kegiatan Paskibraka di Daerah Istimewa Yogyakarta apabila dilihat dari awal proses seleksi hingga akhir kegiatan telah sesuai dengan tahap-tahap yang telah diatur dalam Peraturan Menteri 0065 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pembentukan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Bentuk kegiatan sesuai dengan apa yang seharusnya dilaksanakan, yaitu terdiri atas tiga kegiatan utama, antara lain: rekrutmen dan seleksi, pemusatan pendidikan dan latihan, serta pelaksanaan dan penurunan bendera. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan sesuai aturan. Seleksi meliputi beberapa rangkaian tes seperti tes fisik, tes kesehatan, tes Bahasa Inggris, tes kepribadian, kesenian, tes kesamaptaan, tes parade, dan tes kemampuan PBB. Selanjutnya pelaksanaan pemusatan pendidikan dan pelatihan anggota Paskibraka juga sudah berjalan sesuai dengan aturan yang seharusnya dari jadwal/tahapan kegiatan, penggunaan pendekatan Desa Bahagia, pendidikan dan latihan berdasarkan kurikulum Desa Bahagia dan komponen-komponen yang terlibat dalam Paskibraka. Ketika bertugas pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Paskibraka melaksanakan tugasnya dengan sukses, tidak ada

130

kesalahan baik saat pengibaran maupun penurunan duplikat bendera pusaka.

Monitoring yang dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan pembentukan Paskibraka sudah baik, meskipun tim yang ditunjuk terbatas dari segi personil. Evaluasi Diklat juga sudah cukup baik karena setiap ada permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan selalu diselesaikan dan didiskusikan dalam musyawarah desa, sehingga apa yang dirasa kurang maksimal dapat menjadi catatan perbaikan dalam evaluasi. Monitoring dan evaluasi program secara keseluruhan sudah dilaksanakan dengan baik dari awal kegiatan, selama kegiatan berlangsung, hingga kegiatan usai dilaksanakan.

Paskibraka harus memiliki jiwa nasionalis, seperti apa yang diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia pada laman beritasatu.com, maka dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dan latihannya harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan dan meningkatkan rasa nasionalisme pada setiap anggota Paskibraka. Penanaman nasionalisme tersebut difokuskan dalam pendidikan dan pelatihan (Diklat) Paskibraka tingkat provinsi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendidikan dan pelatihan dilaksanakan di Pondok Pemuda Ambarbinangun dan Alun-alun Kidul, Yogyakarta.

Pendidikan dan pelatihan Paskibraka memiliki dua bentuk kegiatan utama yaitu latihan fisik dan pembinaan mental.

Masing-131

masing kegiatan memiliki tujuan yang berbeda. Latihan fisik dalam bentuk pelatihan baris-berbaris (PBB) yaitu untuk membentuk fisik prima, melatih kemampuan baris-berbaris, dan menanamkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, persatuan, seangat kebangsaan, dan lain sebagainya. Latihan fisik dilakukan dari pagi hingga sore hari dengan sistem semi militer. Sedangkan pembinaan mental bertujuan untuk membentuk kepribadian dan karakter nasionalis pada Paskibraka. Banyak pula nilai-nilai yang ditanamkan dalam pembinaan mental, antara lain : jujur, berani, disiplin, bekerja keras, persatuan dan kesatuan, cinta tanah air, dan lain-lain. Apabila dilihat secara keseluruhan, penanaman nasionalisme pada Paskibraka diwujudkan dalam kegiatan pendidikan dan latihan (Diklat).

Diklat bagi anggota Paskibraka menggunakan pendekatan dan kurikulum Desa Bahagia, pendekatan ini mampu menekankan nilai-nilai moral, demokrasi dan kebiasaan bergotong royong untuk membentuk pribadi yang mandiri. Pelaksanaan demokrasi dalam Desa Bahagia dilakukan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang 1945. Ada sistem pemilu untuk memilih pemimpin desa (Lurah) dan penyampaian aspirasi dilakukan sesuai dengan sistem organisasi atau biasa disebut perangkat desa. Selain itu, seluruh kegiatan dalam keluarga bahagia dilaksanakan sesuai dengan sila-sila Pancasila-sila. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi

132

dasar bahwa setiap anggota harus melaksanakan kewajiban beribadah sesuai dengan kepercayaannya secara tepat waktu. Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi dasar agar setiap anggota Paskibraka harus saling tolong-menolong dengan sesamanya. Sila ketiga Persatuan Indonesia, adalah dasar bahwa seluruh warga di Desa Bahagia walaupun berbeda-beda latar belakang dan asalnya tetapi mampu bersatu dalam kehidupan yang harmonis. Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, penerapannya di Desa Bahagia adalah segala sesuatu atau masalah yang dihadapi diselesaikan dan direncanakan berdasarkan musyawarah desa. Terakhir, sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia menjadi dasar bahwa seluruh warga Desa Bahagia diperlakukan sama, adil, tidak memihak pada siapa saja.

Penanaman nasionalisme pada Paskibraka Daerah Istimewa Yogyakarta ini erat kaitannya dengan pendidikan nilai pada generasi muda khususnya siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), karena melalui Diklat Paskibraka tersebut dibina agar dapat mengembangkan nilai-nilai sosial dan menerapkannya dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Sastrapradja bahwa pendidikan nilai adalah proses penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada seseorang(Rahmat Mulyana, 2004). Melihat cara yang diterapkan dalam Pendidikan dan latihan

133

Paskibraka ini dapat dikatakan sebagai bentuk pendidikan semi indoktrinatif, karena selain terdapat penanaman nilai didalamnya juga diterapkan cara-cara mendidik dengan cara demokratis. Pendidikan nilai dalam kegiatan Paskibraka banyak dilakukan dengan penguatan nilai positif atau negatif dan keteladanan dari pelatihnya sesuai dengan pendekatan penanaman nilai yang diungkapkan oleh Superka bahwa pendekatan penanaman nilai adalah pendekatan yang menekankan pada penanaman nilai-nilai sosial pada diri siswa (Zaim Elmubarok, 2013: 61). Penguatan nilai positif atau negatif dilakukan ketika anggota Paskibraka melaksanakan latihan fisik dan aktivitas sehari-hari di Desa Bahagia, sedangkan keteladanan selalu didapatkan setiap saat selama anggota Paskibraka menjalani masa karantina. Pada dasarnya, pendidikan menjadi alat untuk mencapai tujuan utama dalam kegiatan Paskibraka yaitu meningkatkan dan mengembangkan rasa kesadaran nasional untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendidikan yang diterapkan untuk menanamkan atau meningkatkan kesadaran nasional dalam Paskibraka ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Muhammad Takdir Ilahi bahwa pendidikan dalam konteks kekinian adalah upaya untuk mengembangkan, mendorong, dan mengajak manusia agar tampil lebih progresif dengan berdasarkan pada nilai yang tinggi dan

134

kehidupan yang mulia agar terbentuk pribadi yang sempurna baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan (Muhammad Takdir Ilahi, 2012: 27). Upaya menanamkan nasionalisme pada Paskibraka diwujudkan dengan cara pembiasaan dan keteladanan dalam pendidikan dan latihan, baik pada latihan fisik ataupun pembinaan mentalnya.

Pelatihan baris-berbaris dan pembinaan mental dalam Diklat Paskibraka ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang diungkapkan oleh Muhammad Takdir Ilahi bahwa pendidikan secara operasional mengandung dua aspek yaitu menjaga atau memperbaiki dan aspek menumbuhkan atau membina (Muhammad Takdir Ilahi, 2012: 29). Jadi, Diklat dalam Paskibraka ini bertujuan untuk menjaga nilai-nilai yang telah ada pada diri setiap siswa seperti nilai disiplin dan sebagainya, serta menumbuhkan atau membina rasa nasionalisme anggota Paskibraka.

Pendidikan dan pelatihan Paskibraka menjadi salah satu program kepemudaan yang menjadi model pembinaan dan pengembangan kepemimpinan nasional untuk generasi muda. Pelaksanaan Pendidikan dan pelatihan Paskibraka dari awal hingga akhir menjadi wewenang pemerintah maupun pemerintah daerah untuk melaksanakan fungsinya di bidang kepemudaan. Sesuai dengan apa yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun

135

2009 tentang Kepemudaan, bahwa fungsi pemerintah di bidang kepemudaan yaitu mulai dari perumusan dan penetapan kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan, pengelolaan barang yang menjadi tanggungjawabnya, dan pengawasan atas pelaksanaan tugas.

Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Paskibraka Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wujud nyata kebijakan yang ada di Yogyakarta terkait dengan pelayanan kepemudaan di bidang pendidikan kepemudaan. Diklat Paskibraka menjadi program yang membina dan mengembangkan kepemimpinan pemuda melalui strategi bela negara untuk menumbuhkan patriotisme, dinamika, budaya prestasi, dan semangat profesionalitas. Sesuai dengan apa yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Pendidikan kepemudaan di bidang kepemimpinan melalui pendidikan dan pelatihan (Diklat) Paskibraka ini dilaksanakan untuk membentuk kualitas dan mengembangkan kemampuan pemuda sesuai dengan karakteristik pemuda, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Tahun 1945. Kegiatan atau program ini menjadi program kepemudaan yang mampu menumbuhkan nasionalisme pada diri generasi muda saat ini, penanaman nilai di seluruh tahapan kegiatan membuat rasa cinta tanah air para pemuda kembali meningkat.

136

Hasil yang didapat dari pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan (Diklat) Paskibraka secara keseluruhan setiap tahunnya diharapkan dapat menjadi bahan acuan dan bahan evaluasi untuk lembaga terkait dalam pelaksanaan program pada tahun-tahun selanjutnya. Dengan demikian, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat menyelenggarakan fungsinya di bidang kepemudaan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan dalam perundang-undangan, khususnya Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

b. Perwujudan Nilai dan Sikap Nasionalisme pada Paskibraka DIY

Pengetahuan dan penerapan nilai-nilai moral diberikan kepada anggota Paskibraka melalui Diklat. Penanaman nilai melalui pendekatan Desa Bahagia dapat membentuk jiwa pemuda yang disiplin, mandiri, dan menjunjung tinggi ideologi bangsa yaitu Pancasila. Tentu nilai-nilai yang berusaha ditanamkan kepada Paskibraka adalah nilai-nilai yang mampu membimbing dan dijadikan acuan untuk menjalani kehidupan dengan baik dan bermakna. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Rukiyati, dkk bahwa nilai dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak yang

137

untuk dijadikan landasan dalam setiap tindakan. Apabila seseorang menganggap sesuatu itu bernilai, maka akan diwujudkan dalam sebuah tindakan. Nilai yang dianggap baikoleh Paskibraka akan direfleksikan dalam sikap atau tindakannya sehari-hari. Sikap inilah yang dapat dilihat untuk mengetahui apakah nilai-nilai tentang nasionalisme sudah tertanam dengan baik pada anggota Paskibraka. Seperti yang diungkapkan Wina Sanjaya (dalam skripsi Gita Enggarwati, 2014: 9) bahwa sikap sebagai kecenderungan seeorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik.

Anggota Paskibraka berasal dari berbagai daerah, bahkan berbeda agama. Hal ini menimbulkan perbedaan-perbedaan kecil yang perlu disamakan agar tercipta persatuan dan kesatuan di dalamnya. Perbedaan yang terjadi memicu sedikit konflik nilai tentang apa yang mereka anut atau mereka yakini. Disinilah peran pelatih untuk memberikan pemahaman tentang pemahaman nilai yang baik secara rasional. Bimbingan yang diberikan ini menjadi sebuah klarifikasi nilai agar perbedaan-perbedaan yang memicu masalah tidak semakin melebar. Sejalan dengan apa yang diungkapkan A.Sudiarja bahwa klarifikasi nilai adalah penjelasan, pemberian pengetahuan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan paham mengenai nilai (Sudiarja, 2014: 123).

138

Adanya bimbingan dari pelatih ketika masa pendidikan dan latihan dapat mendukung penanaman nasionalisme lebih cepat tertanam pada diri anggota Paskibraka. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa sikap yang dapat diamati selama kegiatan berlangsung. Sikap tersebut antara lain:

a. Rela berkorban

Berdasarkan deskripsi data sebelumnya, diketahui bahwa perwujudan sikap rela berkorban anggota Paskibraka adalah pengorbanan dalam hal waktu, tenaga, dan pikiran yang mereka curahkan untuk mengikuti latihan dan kegiatan yang cukup berat. Sikap rela berkorban ini terwujud dengan cara pembiasaan pada saat latihan fisik di lapangan. Temuan lain yang dapat adalah anggota Paskibraka saling membantu dengan temannya bahkan dalam hal menghabiskan makanan milik teman yang tidak habis, hal ini termasuk rela berkorban bagi sesama anggota. Perilaku yang disebutkan diatas sejalan dengan pernyataan Dahlan (Siti Irene Astuti,dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.

b. Cinta tanah air

Perwujudan rasa cinta tanah air anggota Paskibraka dapat dilihat ketika mereka menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, menyanyikan lagu kebangsaan, lagu wajib, dan

139

lagu daerah dengan sungguh-sungguh, memperlakukan atribut lambang negara seperti Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila dengan baik, dan menjunjung tinggi budaya Bangsa Indonesia. Selain itu, ada temuan yang menunjukkan bahwa anggota Paskibraka benar-benar menjunjung tinggi budaya Daerah Istimewa Yogyakarta karena pada saat seleksi hari ke dua, siswa-siswi menampilkan kesenian Yogyakarta lengkap dengan baju adat dan gamelan jawa. Hal ini menunjukkan bahwa anggota Paskibraka sudah memiliki sikap nasionalisme. Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah cinta tanah air, bangsa, dan negara. Selalu menjunjung tinggi nama bangsa Indonesia dan merasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia.

c. Persatuan dan kesatuan

Perwujudan sikap persatuan dan kesatuan yang ditunjukkan siswa seperti menghargai pendapat teman dan rukun dengan sesama teman maupun pelatih. Temuan lain yang didapatkan peneliti adalah apapun kegiatan yang dilakukan, ada pembiasaan untuk melakukannya bersama-sama seperti setiap berjalan pasti berpasangan, setiap makan satu orang membawakan untuk satu teman yang lain, dan dalam satu meja antara anggota Paskibraka dan pelatih berbaur dalam satu meja

140

dan saling bercengkerama. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah menempatkan persatuan dan kesatuan serta kepentingan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan.

d. Disiplin

Bentuk sikap disiplin anggota Paskibraka diwujudkan dalam perilaku mereka yang selalu patuh terhadap peraturan misalnya aturan berseragam, mematuhi jadwal latihan dan mengikuti semua kegiatan yang telah diatur. Temuan lain ditemukan peneliti diantaranya para siswa selalu taat beribadah tepat pada waktunya bersama pelatih, semua atribut yang mereka kenakan tertata rapi dan tidak berantakan, dalam setiap kegiatan apapun dibiasakan antri. Selain itu, ketika anggota Paskibraka menikmati jamuan makan maupun kudapan mereka pasti dengan tertib mengembalikan alat makan di tempat semula dengan tertib. Hal ini sejalan dengan Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah memiliki disiplin diri, disiplin sosial, dan disiplin nasional yang tinggi.

e. Berani

Wujud sikap berani pada anggota Paskibraka dapat dilihat dari keberanian mereka memimpin barisan, memimpin

141

doa, maupun memimpin yel-yel pada saat kegiatan. Selain itu mereka juga berani mengakui kesalahan di depan teman-temannya apabila mereka memang melakukan kesalahan. Hal ini sejalan dengan Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah berani dan jujur dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

f. Jujur

Bentuk nilai kejujuran pada anggota Paskibraka diwujudkan dalam kehidupan mereka sehari-hari seperti jujur kepada pelatih apabila ada masalah, jujur apabila mengakui kesalahan. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa ketika ada barang yang ketinggalan di tempat latihan, mereka membawanya dan menanyakan siapa pemiliknya, tidak membiarkan barang tersebut tertinggal. Hal ini sejalan dengan Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah berani dan jujur dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

g. Bekerja keras

Wujud kerja keras anggota Paskibraka terlihat ketika mereka melakukan latihan di lapangan dari pagi hingga sore hari dengan kondisi lapangan yang panas dan berdebu. Terkadang mereka kelelahan, sakit, atau sekedar terkena iritasi mata, tetapi jika mereka tidak harus dibawa ke Rumah Sakit setelah

142

kondisinya lebih baik mereka akan kembali mengikuti latihan hingga usai. Hal ini sejalan dengan Dahlan (Siti Irene Astuti, dkk, tanpa tahun: 175) bahwa ciri-ciri sikap nasionalisme adalah bekerja keras untuk keakmuran sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Setelah melihat beberapa wujud nilai dan sikap yang tertanam pada anggota Paskibraka diatas, dapat kita yakini bahwa nasionalisme sudah tertanam dengan baik melalui pendidikan dan pelatihan yang diadakan. Seperti apa yang diungkapkan Darmiyati Zuchdi, dkk (2012: 28) bahwa nasionalisme yakni cara berpikir, bersikap, dan berbuat menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. Pembiasaan dan keteladanan yang diberikan para pelatih, panitia dan seluruh komponen yang terlibat mampu melatih, menanamkan dan meningkatkan nilai atau sikap positif mereka menjadi lebih nasionalis.

c. Hasil Penanaman Nasionalisme pada Paskibraka DIY

Banyak sekali kegiatan-kegiatan pada pendidikan dan pelatihan Paskibraka yang dapat menanamkan nasionalisme untuk siswa. Didukung dengan pendekatan Desa Bahagia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, nilai-nilai luhur bangsa dapat semakin tertanam dengan baik. Pendekatan Desa Bahagia mampu membentuk nasionalisme dalam jiwa setiap anggota Paskibraka yang berdasarkan falsafah negara. Sejalan

143

dengan pernyataan Abdulgani (dalam Yodohusodo, dkk 1994: 35 dalam Joned Bangkit Wahyu Laksono) bahwa nasionalisme Indonesia, secara khusus dipertegas sebagai Nasionalisme Pancasila, yaitu nasionalisme yang:

1) ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

2) ber-Perikemanusiaan yang berorientasi internasionalisme. 3) ber-Perikemanusiaan Indonesia yang patriotik.

4) ber-Kerakyatan atau demokratis.

5) ber-Keadilan sosial untuk seluruh rakyat.

Nasionalisme yang baik terbukti dari sikap dan perilaku para anggota Paskibraka baik selama kegiatan maupun sesudahnya. Terbukti dengan aktivitas atau kegiatan anggota Paskibraka setelah selesai melaksanakan tugas mengibarkan bendera pusaka saat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, mereka pun masih berpartisipasi sebagai pengibar bendera ketika upacara hari-hari besar nasional. Selain itu, setelah anggota Paskibraka kembali ke sekolahnya, mereka melakukan hal-hal positif dan mengabdikan diri mereka sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing baik dalam organisasi maupun ekstrakurikuler di sekolah. Artinya, meskipun tidak lagi bertugas menjadi Paskibraka, nasionalisme mereka tetap terjaga.

Nasionalisme yang kuat dan tetap terjaga adalah modal utama untuk menjalankan tugas mereka sebagai generasi penerus bangsa, kader pemimpin di masa depan. Nasionalisme yang ditanamkan kepada

144

anggota Paskibraka adalah nasionalisme dalam arti positif, artinya para anggota Paskibraka diajarkan bagaimana mencintai dan menghargai bangsa sendiri, tanpa merendahkan bangsa lain. Rasa cinta tanah air, membanggakan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain atau biasa disebut dengan chauvinisme merupakan nasionalisme dalam arti negatif, hal itu tidak nampak sama sekali pada diri Paskibrak. Nasionalisme ditanamkan dengan memberikan pengetahuan yang lebih luas mengenai nilai-nilai, budaya dan kesenian lokal, serta wawasan kebangsaan agar rasa cinta tanah air semakin meningkat. Dengan nasionalisme yang kuat pada diri generasi muda, nantinya budaya dan globalisasi tidak akan dapat dengan menggoyahkan keberadaan bangsa kita di tengah keberadaan bangsa lain. Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh H.A.R Tilaar bahwa nasionalisme telah menjadi pemicu kebangkitan kembali dari budaya yang telah memberikan identitas sebagai anggota dari suatu masyarakat-bangsa.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penanaman Nasionalisme pada