E. Tujuan Penelitian
3. Pengertian Nilai dan Sikap
18
21). Nilai merupakan sesuatu yang diresapi, dimaknai, dijadikan landasan dan ukuran dalam bersikap atau berperilaku. Hal tersebut tidak lepas dari refleksi pengalaman yang terjadi di masa lalu setiap individu. Tidak tertutup kemungkinan bahwa nilai bukan berasal dari pengalaman pribadi, nilai dapat pula berasal dari pengalaman orang lain. Pengalaman orang lain itu dianggap layak oleh individu untuk dijadikan panutan dalam hidupnya.
Setelah mengetahui beberapa pengertian mengenai nilai, dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai adalah sesuatu yang diyakini oleh seseorang berkaitan dengan baik atau tidak baik dan dijadikan landasan dalam bersikap. Dengan kata lain, nilai tersebut menjadi sebuah acuan atau patokan dalam bersikap sehari-hari.
Sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki oleh seorang individu (Gita Enggarwati, 2014: 9). Keyakinan yang dianggap baik atau buruk dalam sebuah nilai tersebut direfleksikan oleh sikap yang diambil seseorang. Seseorang akan bersikap baik apabila ia meyakini dari nilai yang dianggap baik, begitu pula sebaliknya.
Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (Gita Enggarwati, 2014: 9) bahwa sikap sebagai kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik. Kecenderungan dalam menerima nilai tersebut dapat di latar belakangi oleh agama yang dianut, maupun budaya yang ada dalam lingkungan
19
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang diyakini dalam kehidupan. Perwujudan dari nilai-nilai yang diyakini dapat dilihat dari bagaimana seorang individu bersikap dalam kehidupan di lingkungannya. Sikap-sikap tersebut nantinya akan membentuk kepribadian seseorang. 4. Klarifikasi Nilai
Pemahaman setiap orang mengenai nilai itu memang berbeda-beda. Tidak semua yang dianggap baik atau tidak baik oleh seseorang berarti dianggap demikian juga bagi orang lain. Setiap orang berhak memiliki definisi dan pemahaman sendiri tentang mana nilai yang penting dan mendesak untuk diperjuangkan dan ditumbuhkan dalam hidup mereka (Doni Koesoema, 2012: 31).
Perbedaan pemahaman tentang nilai pada masing-masing orang dapat memicu timbulnya konflik nilai. Nilai sangat erat hubungannya dengan kebaikan, meskipun keduanya dapat dibedakan sesuai dengan konteks hidup (Andreas Doweng Bolo, 2012: 42). Konteks hidup itu pula yang mempengaruhi bagaimana pandangan yang berbeda pada setiap orang. Perbedaan pemahaman yang terjadi perlu adanya sebuah klarifikasi agar seseorang dapat mengetahui apa nilai yang dianggap benar dan harus diyakini.
Klarifikasi nilai adalah istilah untuk mengatasi perbedaan-perbedaan paham mengenai nilai (Sudiarja, 2014: 123). Perbedaan paham mengenai nilai muncul karena adanya perbedaan latar belakang
20
keluarga dan agama. Adanya klarifikasi nilai ini dimaksudkan agar apabila terjadi perdebatan mengenai nilai dapat dijelaskan secara rasional. Selanjutnya, seseorang dapat memilih nilai yang baik untuk diterapkan.
Darmiyati Zuchdi dalam bukunya yang berjudul Humanisasi Pendidikan (2008: 10) menyatakan:
Pendekatan klarifikasi nilai digunakan untuk untuk mengajarkan suatu bentuk inkuiri nilai, yang melibatkan proses berikut.
1. Menghargai kepercayaan dan perilaku pribadi a. menghargai dan menjunjung tinggi; b. menyatakan secara terbuka.
2. Memilih kepercayaan dan perilaku pribadi a. Memilih dari berbagai alternatif;
b. Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensi; c. Memilih secara bebas.
3. Bertindak sesuai dengan kepercayaan pribadi a. Bertindak;
b. Bertindak menurut pola, konsisten, dan berulang-ulang (Hermin, 1988).
Pendekatan klarifikasi nilai nantinya akan menuntun pemikiran individu untuk menemukan pemahaman yang benar terhadap suatu nilai yang diyakini. Proses-proses yang dilibatkan dalam klarifikasi nilai membuat individu menemukan atau memecahkan sendiri perbedaan pemahaman nilai yang ada. Konsekuensi dan pola yang diyakini seseorang menuntunnya pada pengambilan tindakan dan sikap sebagai wujud keyakinan terhadap nilai yang dianggap benar.
21 5. Pengertian Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai pada dasarnya terdiri atas dua unsur penting, yaitu pendidikan dan nilai. Keterkaitan pendidikan dan nilai tersebut menumbuhkan makna baru mengenai apa itu pendidikan nilai. Pengertian pendidikan nilai menurut Rahmat Mulyana (2004: 119), pendidikan nilai adalah pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten.
Pendidikan nilai adalah pengajaran dan penanaman nilai-nilai yang ada dalam kehidupan kepada peserta didik. Sejalan dengan pendapat Sastrapradja (Rahmat Mulyana, 2004: 119) bahwa pendidikan nilai adalah penanman dan pengembangan nilai-nilai pada seseorang. Penanaman nilai pada peserta didik tidak dapat dilakukan tanpa adanya pendidik yang memberikan pengajaran atau bimbingan tentang nilai tersebut.
Penanaman nilai kepada seseorang memerlukan pembiasaan atau keteladanan pendidik baik dari seorang guru, orang yang lebih tua dan siapapun dalam lingkungannya. Pendidikan yang diupayakan tidak dapat berlangsung maksimal apabila tidak ada keteladanan dari seorang pendidik. Nilai adalah sesuatu yang dianggap berharga dan berkaitan dengan baik-buruknya suatu objek.
Adanya pendidikan nilai diharapkan dapat membuat seseorang memiliki kepribadian yang baik, memiliki sopan-santun, bersikap hormat
22
dan menanamkan nilai moral dalam setiap aspek kehidupannya. Pendidikan nilai membantu seseorang memahami, meyakini dan menanamkan nilai-nilai yang ada dalam budaya bangsa kita. Sejalan dengan apa yang diungkapkan Aceng Kosasih (tanpa tahun: 12) bahwa pendidikan nilai adalah pendidikan yang mempertimbangkan objek dari sudut moral dan sudut pandang nonmoral, yang meliputi estetika yaitu menilai objek dari sudut pandang keindahan secara pribadi, dan etika yaitu menilai benar atau salahnya dalam hubungan antarpribadi.
Pendidikan nilai berkaitan dengan pendidikan dalam konteks umum, hal yang menjadi titik temunya adalah membentuk perilaku manusia berdasarkan nilai etika dan moral yang diwujudkan melalui keteladanan. Keteladanan yang ditonjolkan dalam menanamkan nilai kepada seseorang dilakukan oleh pendidik, baik itu di sekolah atau di luar lingkungan sekolah. Pendidikan ini biasa disebut pendidikan indoktrinatif karena pendidikan nilai bersifat menanamkan paham mana yang dinilai baik dan mana yang tidak baik.
Pendidikan nilai membutuhkan keteladanan dari seorang pendidik, keteladanan itu sebaiknya terus ditunjukkan dan dibiasakan agar tidak hanya didapat dalam kelas atau di dalam keluarga saja. Pembiasaan yang dilakukan tersebut diharapkan membuat pendidikan nilai berjalan dengan maksimal dimanapun seseorang berada. Dengan demikian, pendidikan nilai yang dimaksudkan adalah pendidikan yang dilakukan untuk menanamkan atau memberikan pemahaman kepada
23
seseorang mengenai apa yang baik dan apa yang buruk melalui keteladanan atau pembiasaan dari pendidik.
Menanamkan pengetahuan mengenai apa yang baik dan buruk ini merupakan salah satu tujuan diadakannya pendidikan nilai. Tujuan pendidikan nilai menurut Rahmat Mulyana (2004: 119) adalah untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, dan mengalami nilai-nilai dan mampu menerapkannya secara integral dalam kehidupan. Tugas pendidik menjadi ujung tombak keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan nilai itu sendiri.
Setelah mengetahui beberapa definisi pendidikan nilai di atas, dalam penelitian ini peneliti memaknai pendidikan nilai yang mengacu pada pendapat Sastrapradja, pendidikan nilai merupakan proses penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada seseorang atau siswa. 6. Landasan Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai memiliki beberapa landasan yang harus diketahui sebagai dasar agar pelaksanaan pendidikan nilai dapat berjalan dengan baik. Landasan pendidikan nilai menurut Rahmat Mulyana (2004: 124) terdiri atas empat bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan estetik.
Landasan filosofis pendidikan nilai cenderung menekankan pada aspek hakikat manusia dan hakikat nilai itu sendiri secara filosofis. Dijelaskan lebih lanjut menurut Rahmat Mulyana (2004: 126) :
24
Landasan filosofis pendidikan nilai menekankan pada dua kemungkinan yaitu : 1) filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran karena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2) filsafat pendidikan nilai berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia yang dicapai oleh suatu pemikiran tertentu, karena nilai selain sebagai esensi hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku kontekstual dan situasional.
Landasan yang kedua yaitu landasan psikologis. Landasan psikologis pendidikan nilai menekankan pada aspek psikologis. Aspek psikologis yang dimaksud adalah kaidah perkembangan mental manusia dan ciri-ciri perilakunya. Aspek-aspek psikis manusia berkembang secara dinamis, perbedaan individu ditarik berdasarkan perkembangan yang mewakili setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia. Kaidah umum psikologi inilah yang menjadi landasan psikologis pendidikan nilai.
Landasan pendidikan nilai yang ketiga adalah landasan sosial. Pendidikan nilai merupakan proses penyadaran nilai pada peserta didik, maka pendidikan nilai perlu dirancang berdasarkan nilai-nilai kehidupan sosial yang aktual dan kontekstual. Peserta didik memiliki kesempatan memeriksa, mempertimbangkan, dan membuat keputusan isu-isu sosial serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Membangun kesadaran interpersonal yang mendalam menjadi target utama pendidikan nilai. Peserta didik diajarkan agar mampu menjalin hubungan sosial yang harmonis dengan orang lain melalui sikap dan perilakunya. Peserta didik
25
dilatih agar berprasangka baik kepada orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan.
Landasan pendidikan nilai yang keempat adalah landasan estetik. Landasan estetik ini menekankan bahwa manusia memiliki cita rasa keindahan. Cita rasa keindahan ini menilai objek-objek yang bernilai seni atau menuangkan karya seni. Nilai estetik perlu diajarkan kepada peserta didik agar tahu bagaimana cara belajar yang bermakna. Pendidikan nilai dalam penerapannya melibatkan pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tata bentuk yang berkaitan dengan karakteristik nilai estetika.