• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanaman Tomat

Dalam dokumen BIOMULSA PADA BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Halaman 23-38)

BAHAN DAN METODE

4. Penanaman Tomat

Penanaman bibit tomat dilakukan dengan membuat lubang tanam terlebih dahulu. Pada bedengan dengan MPHP, pembuatan lubang tanam menggunakan kaleng berdiameter 10 cm. Jarak tanam yang digunakan 50 cm x 60 cm.

5. Pemupukan

Pupuk Urea diberikan satu kali yaitu sebelum penanaman A. pintoi dengan dosis 100 kg N/ha. Setelah tanaman tomat ditanam dilapang, kemudian diberi

starter solution yaitu Gandasil D dengan konsentrasi 20 gram per 10 liter.

Pemupukan Gandasil D dengan konsentrasi 2 g/l dan NPK 16-16-16 sebesar 100 gram per 10 liter dilakukan seminggu sekali selama fase vegetatif. Setelah fase generatif tanaman tomat diberi pupuk Gandasil B dengan konsentrasi 2 g/l.

6. Pemeliharan

Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, pengendalian hama dan penyakit, pengajiran pada tanaman tomat. Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh. Penyiangan gulma dilakukan sebelum penanaman tomat dan setelah tanaman tomat mulai berbuah.

7. Panen

Pemanenan tomat dilakukan pada tanaman yang telah berumur 60 – 100 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah yang sudah masak ‘merah tua’.

8. Pengamatan

A. Komponen pertumbuhan tanaman tomat diamati pada 10 tanaman contoh, peubah yang diamati antara lain:

1. Tinggi tanaman. Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai pucuk tertinggi. Pengukuran dilakukan sampai tanaman berbunga dari 1 minggu setelah tanam (MST) hingga 7 MST.

13 2. Jumlah daun. Jumlah daun dihitung pada semua daun majemuk.

Pengamatan dilakukan dari 2 MST hingga sebelum dipangkas tunas airnya, yaitu umur 5 MST. Pengukuran dilakukan dua minggu sekali. 3. Umur berbunga. Waktu berbunga diamati setelah 75% dari populasi

tanaman tomat berbunga.

4. Jumlah ruas. Jumlah ruas diukur dari atas permukaan tanah sampai titik tumbuh. Pengukuran dilakukan dari 2 MST hingga 7 MST.

5. Panjang ruas. Panjang ruas diamati dari 2 MST hingga 7 MST. B. Pengamatan komponen hasil pada tomat:

1. Jumlah buah. Jumlah buah diperoleh dari panen pertama hingga panen terakhir dari tiap tanaman dan tiap petak.

2. Bobot panen. Bobot panen diperoleh dari jumlah bobot total pada tiap tanaman dan tiap petak.

3. Bobot per buah. Bobot per buah diperoleh dengan membagi bobot buah dengan total buah yang dihasilkan.

4. Bobot buah layak pasar. Bobot buah layak pasar diperoleh dari bobot total buah yang memenuhi standar pasar dan tidak berpenyakit.

5. Bobot buah tidak layak (penyakit/ulat). Bobot buah tidak layak pasar diperoleh dari bobot total buah yang tidak memenuhi standar pasar (berpenyakit atau terserang hama).

C. Pengamatan pada Arachis pintoi meliputi:

1. Persentase tumbuh. Persentase tumbuh dihitung berdasarkan jumlah stek yang dapat hidup di lahan. Pegukuran dilakukan mulai 1 MST sampai 2 MST.

2. Persentase penutupan. Persentase penutupan diamati menggunakan kuadrat 0.5 m x 0.5 m. Penutupan A. pintoi diamati pada 30, 45, 60, 75, dan 90 hari setelah tanam (HST).

D. Pengamatan pada gulma

Pengamatan gulma menggunakan kuadrat berukuran 0.5 m x 0.5 m dan dilakukan 30 dan 60 HST tomat. Pengamatan pada gulma meliputi:

1. Jenis gulma yang tumbuh. Gulma yang telah diambil dari lahan dipisahkan berdasarkan spesies masing-masing

14 2. Jumlah gulma. Gulma dihitung berdasarkan jumlah individu per spesies 3. Bobot kering. Perhitungan bobot kering dilakukan dengan cara

mengoven gulma pada suhu 80 0C selama tiga hari kemudian ditimbang bobotnya.

4. Dominasi gulma. Dominasi gulma dianalisis dengan menggunakan NJD (Nisbah Jumlah Dominasi). Nilai NJD dicari berdasarkan rata-rata 3 nilai penting, yakni kerapatan nisbi, frekuensi nisbi, dan bobot kering nisbi. E. Analisis tanah sebelum dan sesudah percobaan

Analisis tanah sebelum dan sesudah percobaan dilakukan secara komposit dengan mengambil tanah sedalam ± 20 cm dari beberapa titik pada masing-masing perlakuan.

HASIL

Kondisi Umum

Hasil analisis Laboratorium Balai Penelitian Tanah menunjukkan bahwa kondisi tanah awal tergolong masam (pH H2O 5.00). Kandungan C-organik dan N-total tergolong rendah masing-masing bernilai 1.11 % dan 0.12 %. Demikian

juga dengan P2O5 (Bray) dan K tergolong rendah dengan 5.6 ppm dan

0.17 me/100 g. Kriteria penilaian analisis tanah disajikan pada Lampiran 6. Hal ini sedikit berbeda dengan hasil penelitian Nursyamsi dan Suprihati (2005), jenis tanah di areal penelitian (Kecamatan Dramaga, Bogor) merupakan jenis tanah Latosol-inceptisol. Tipe tanah inceptisol memiliki kriteria: tanah agak masam, kandungan N-organik, C-organik, P total, K, Ca, dan Mg tergolong rendah namun kandungan Al dan Fe tergolong tinggi. Sifat kimia dan mineralogi tanah termasuk baik karena masih mengandung mineral mudah lapuk sehingga potensi kesuburannya masih relatif tinggi. Pada jenis tanah ini, ketersediaan P sangat rendah karena P difiksasi oleh Al dan Fe bebas membentuk senyawa Al-P dan Fe-P yang tidak larut sehingga tidak tersedia bagi tanaman.

Hasil analisis tanah yang dilakukan setelah perlakuan menunjukkan bahwa C-organik dan N-total pada perlakuan biomulsa Arachis pintoi meningkat dua kali lebih tinggi. Namun, nilai rasio C/N dalam tanah pada perlakuan biomulsa A.

pintoi tidak menunjukkan perubahan. Peningkatan yang sangat tinggi terjadi pada

kandungan P2O5 dan K2O pada semua perlakuan terutama perlakuan mulsa plastik hitam perak masing-masing 136.0 dan 137.0 ppm. Hasil analisis tanah sebelum dan setelah perlakuan disajikan pada Lampiran 1.

Menurut data Stasiun Klimatologi Darmaga, jumlah curah hujan rata-rata selama penelitian berlangsung adalah sebesar 300.7 mm/bulan dengan suhu rata-rata 23.2-31.8oC dan kelembaban rata-rata 84.3 %. Data curah hujan disajikan pada Lampiran 2.

Pertumbuhan A. pintoi menunjukkan nilai yang paling rendah pada perlakuan 4 minggu sebelum tanam (MSbT). Persentase tumbuh A. pintoi pada perlakuan tersebut sebesar 20 % sehingga diperlukan penanaman ulang. Persentase tumbuh meningkat sebesar 90.71 % setelah dilakukan penanaman

16 ulang. Rendahnya persentase tumbuh A. pintoi diduga akibat rendahnya ketersediaan air pada waktu penanaman sehingga dilakukan penyiraman secara manual untuk mengurangi evapotranspirasi dan penyulaman A. pintoi. Selain itu, dilakukan penyiangan gulma sebelum penanaman tomat untuk mengurangi kompetisi penyerapan unsur hara antara tanaman dengan gulma. Pada masa pertumbuhan vegetatif A. pintoi, terjadi serangan hama dan penyakit. Hama dominan yang menyerang Arachis pintoi adalah lundi. Hama tersebut memotong akar Arachis pintoi tepat di bawah permukaan tanah sehingga banyak tanaman yang mati. Selain itu penyakit yang menyerang yaitu bercak daun yang disebabkan cendawan Cercospora personata.

Penanaman bibit atau transplanting dilakukan saat bibit tomat berumur 35 hari. Seharusnya penanaman bibit tomat dilakukan ketika bibit berumur 21 hari – 30 hari, namun pertumbuhan bibit masih belum optimal. Hal ini diduga karena media tanam organik yang digunakan masih memiliki C/N tinggi sehingga nitrogen yang tersedia kurang mencukupi untuk pertumbuhan bibit.

Rata-rata persentase hidup tanaman tomat di lapang pada 3 MST mencapai 84 %. Pada awal penanaman, persentase kematian tertinggi terjadi pada perlakuan mulsa plastik hitam perak (MPHP) sebesar 25 %, sedangkan pada perlakuan tanpa mulsa sebesar 23 % serta biomulsa A. pintoi 10, 7, 4, dan 1 MSbT masing-masing sebesar 20 %, 13.3 %, 8.3 %, dan 6.7 %. Kondisi lahan setelah penanaman tomat dapat dilihat pada Lampiran 8.

Salah satu penyebab rendahnya persentase hidup tanaman tomat di lapang adalah banyaknya hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Hama yang menyerang antara lain belalang hijau (Nympahea sp.), rayap (Macrotermes

gilvus), dan ulat buah tomat (Helicoperva armigera). Pengendalian hama

dilakukan dengan cara pemberian Decis 2.5 EC (Deltamethrin) pada 2 MST. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah layu Fusarium (Fusarium oxysporum Schlecth) dan bercak coklat. Gejala yang ditimbulkan adalah pucatnya tulang-tulang daun, menguningnya daun-daun bagian bawah, dan terjadi kelayuan tanaman (Semangun, 1994). Penyakit Fusarium menyerang tanaman rata-rata pada 2 MST. Serangan tersebut lebih banyak terjadi pada perlakuan tanpa mulsa

17 dengan persentase kejadian sebesar 31 %, sedangkan pada perlakuan lain menunjukkan nilai yang lebih rendah (Tabel 1).

Tabel 1. Pengaruh Perlakuan Mulsa pada Serangan Penyakit Layu Fusarium

Perlakuan Serangan (%) Tanpa Mulsa 31.00 MPHP 27.00 10 MSbT 3.00 7 MSbT 4.00 4 MSbT 14.00 1 MSbT 21.00

Keterangan: MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak MSbT = Minggu Sebelum Tanam

Tanaman mulai berbunga saat 5 MST. Selama periode pembungaan, dilakukan pemangkasan pada tandan bunga pertama dan tunas air. Tanaman mulai panen pada umur 10 MST. Pemanenan tomat dilakukan dengan masa panen satu bulan. Pemanenan tomat dilakukan delapan kali pemetikan, dengan frekuensi panen 3-5 hari sekali.

Pertumbuhan Arachis pintoi

Persentase Tumbuh Arachis pintoi

Penanaman Arachis pintoi dilakukan secara bertahap sesuai perlakuan, yaitu pada 10 Minggu Sebelum Tanam (MSbT) tomat, 7 MSbT tomat, 4 MSbT tomat dan 1 MSbT tomat. Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase tumbuh tanaman

A. pintoi rendah dengan rata-rata kurang dari 80 %.  

Arachis pintoi dapat tumbuh baik pada suhu 22oC dan 28oC dengan curah hujan > 1 000 mm/tahun (Tropical Forage, 2010) . Rendahnya daya tumbuh

Arachis pintoi terutama pada perlakuan 1 MSbT dikarenakan pada awal

pertumbuhan A. pintoi curah hujan pada bulan April yaitu sebesar 42.9 mm. Akibatnya pertumbuhan Arachis pintoi kurang optimal karena kurang tersedianya air untuk awal pertumbuhan.

Tabel 2. Persentase Tumbuh Tanaman Arachis pintoi

Perlakuan Persentase Tumbuh (%) (pada minggu 1-4 penanaman) Curah Hujan (mm)

10 MSbT 75.90 252.0

7 MSbT 79.97 460.7

4 MSbT 90.71 414.5

1 MSbT 61.76 42.9

18

Penutupan Arachis pintoi

Penutupan A. pintoi pada setiap petak perlakuan diamati secara visual dengan melihat persentase tanaman A. pintoi yang menutupi kuadrat ukuran 0.5 m x 0.5 m (Lampiran 9). Perlakuan 10 MSbT menunjukkan persentase penutupan A. pintoi tertinggi sebesar 98.33 % pada 90 hari setelah tanam (HST) (Gambar 1). Penutupan Arachis pintoi sebesar 100 % dapat diperoleh setelah umur tanaman lebih dari 90 HST. Kecepatan tumbuh Arachis pintoi pada percobaan ini lambat, sehingga pertumbuhan gulma lebih cepat karena daya saing

Arachis pintoi yang rendah.

Gambar 1. Persentase Penutupan A. pintoi

Rendahnya kecepatan Arachis pintoi menutup tanah diduga karena populasi

A. pintoi yang kurang rapat. Menurut Huang et al. (2004), penggunaan jarak

tanam Arachis pintoi dengan jarak 10 cm × 10 cm, penutupannya mencapai 49 % di daerah bukit (tanah tandus, 0.5 % BO) pada 30 HST, 87 % pada 45 HST, 91 % pada 60 HST, sedangkan di areal taman (tanah subur, 1.5 % BO) penutupannya mencapai 80 % pada 30 HST.

Pengaruh Perlakuan Biomulsa terhadap Pertumbuhan Gulma

Hasil analisis vegetasi yang dilakukan pada 30 HST dan 60 HST menunjukkan bahwa jenis gulma yang tumbuh pada setiap satuan percobaan didominasi oleh golongan rumput dan daun lebar. Jenis gulma yang tumbuh relatif sama pada setiap perlakuannya (Tabel 3).

0 20 40 60 80 100 120 30 45 60 75 90 Pers en tas e (% ) HST 10 MSbT 7 MSbT 4 MSbT 1 MSbT

19 Tabel 3. Jenis Gulma yang Tumbuh pada Lahan Percobaan

Golongan Rumput Golongan Daun Lebar

Axonopus compressus (Sw) P. Beauv Boreria alata (Aubl) DC

Brachiaria distachya (L) Staph Boreria laevis (Lamk) Griseb Digitaria ascendens (Kunth) Caladium sp.

Imperata cylindrical (L) Beauv Calopogonium sp.

Ottochloa nodosa (Kunth) Dandy Cleome rutidosperma DC. Paspalum comersonii Lam. Croton hirtus L. Herit Paspalum conjugatum Berg. Mimosa pudicca L. Pennisetum polystachyon (L) Schult Sida acuta Burmf

Pada umur 60 HST, mulsa plastik hitam perak relatif lebih efektif menekan pertumbuhan gulma terhadap bobot kering total (2.89 g), dibandingkan biomulsa

Arachis pintoi 10 MSbT (126.47 g) dan 7 MSbT (110.54 g) yang kurang efektif

menekan pertumbuhan gulma (Tabel 4). Demikian juga terhadap jumlah spesies gulma yang terdapat pada petak percobaan.

Perlakuan biomulsa Arachis pintoi tidak dapat menekan gulma secara efektif. Hal ini diduga karena kecepatan penutupan yang rendah memberikan peluang gulma untuk tumbuh dengan baik.

Tabel 4. Pengaruh Perlakuan Mulsa terhadap Jumlah Spesies dan Bobot Kering Total Gulma

Perlakuan 30 HST Jumlah Spesies 60 HST 30 HST Bobot Kering Total (gram) 60 HST

Tanpa Mulsa 9 8 21.85 90.83 MPHP 4 2 5.17 2.89 10 MSbT 12 11 84.38 126.47 7 MSbT 8 14 37.8 110.54 4 MSbT 10 9 87.58 89.27 1 MSbT 11 8 50.2 31.99

Keterangan: MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak MSbT = Minggu Sebelum Tanam

Pengaruh Biomulsa terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tomat

Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Tanaman Tomat

Pertumbuhan vegetatif tanaman tomat terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas,dan panjang ruas. Sedangkan pertumbuhan generatif pada percobaan ini dilihat dari umur berbunga tanaman tomat. Hasil rekapitulasi sidik ragam pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman tomat disajikan pada Lampiran 4.

20

1. Tinggi Tanaman

Penggunaan mulsa plastik hitam perak dan biomulsa Arachis pintoi secara nyata meningkatkan tinggi tanaman tomat. Gambar 2 memperlihatkan tinggi tanaman pada 7 MST pada perlakuan biomulsa 10 MSbT dan 7 MSbT masing-masing 43.14 cm dan 39.44 cm, tidak berbeda nyata dengan MPHP (41.66 cm), tetapi berbeda nyata dengan tanpa mulsa (23.91 cm).

Gambar 2. Rataan Tinggi Tanaman per Minggu pada Berbagai Perlakuan

2. Jumlah Daun

Penggunaan mulsa plastik hitam perak dan biomulsa Arachis pintoi secara nyata meningkatkan jumlah daun tanaman tomat setelah 4 MST. Tabel 5 menunjukkan jumlah daun tertinggi diperoleh pada perlakuan biomulsa 10 MSbT (7.57) berbeda nyata dengan tanpa mulsa (6.04).

Tabel 5. Rataan Jumlah Daun 2 MST dan 4 MST pada Berbagai Perlakuan

Perlakuan Waktu Pengamatan (MST) 2 4

Tanpa Mulsa 5.77a 6.04b MPHP 5.85a 7.07ab 10 MSbT 6.07a 7.57a 7 MSbT 6.07a 6.93ab 4 MSbT 6.12a 6.36b 1 MSbT 5.33a 5.33b

Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak bebeda nyata menurut uji DMRT 5%

MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak ; MSbT = Minggu Sebelum Tanam 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 50.00 1 2 3 4 5 6 7 cm MST Tanpa Mulsa MPHP 10 MSbT 7 MSbT 4 MSbT 1 MSbT

21

3. Jumlah Ruas

Perlakuan mulsa plastik hitam perak dan biomulsa A. pintoi nyata mempengaruhi jumlah ruas. Tabel 6 menunjukkan jumlah ruas terbanyak diperoleh perlakuan biomulsa 10 MSbT dan 7 MSbT pada umur 3 MST dan 4 MST, tidak berbeda nyata dengan perlakuan mulsa plastik hitam perak. Namun pada umur 5 MST, mulsa plastik hitam perak meningkatkan jumlah ruas dan diikuti oleh perlakuan biomulsa 10 MSbT dan 7 MSbT. Perlakuan tanpa mulsa konsisten menghasilkan jumlah ruas terendah.

Tabel 6. Rataan Jumlah Ruas per Minggu pada Berbagai Perlakuan

Perlakuan 2 3 4 5 6 7 MST Tanpa Mulsa 3.34a 3.06b 3.94bc 3.86c 4.46b 5.70c MPHP 2.93a 3.80ab 5.29ab 6.89a 7.72a 9.05a 10 MSbT 3.60a 4.45a 5.83a 5.93b 6.87a 7.70ab 7 MSbT 3.50a 4.33a 5.20ab 5.80b 6.84a 7.40b 4 MSbT 3.23a 3.76ab 4.25bc 4.59c 5.51b 6.71bc 1 MSbT 3.04a 3.03b 3.70c 3.97c 5.18b 6.38bc

Keterangan: MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak bebeda nyata menurut uji DMRT 5%

MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak ; MSbT = Minggu Sebelum Tanam

4. Panjang Ruas

Data pada Tabel 7 memperlihatkan perlakuan biomulsa 10 MSbT dan 7 MSbT pada awal pengamatan yaitu 2 MST – 5 MST nyata meningkatkan panjang ruas tanaman tomat. Namun pada umur 6 MST perlakuan mulsa plastik hitam perak tidak berbeda nyata (2.47 cm) dengan perlakuan biomulsa 10 MSbT dan 7 MSbT masing-masing 2.70 cm dan 2.38 cm.

Tabel 7. Rataan Panjang Ruas per Minggu pada Berbagai Perlakuan Perlakuan Waktu Pengamatan (MST) 2 3 4 5 6 7 Tanpa Mulsa 1.35bcd 1.41b 1.57c 1.52c 1.81c 2.05b MPHP 1.12d 1.35b 1.74c 1.84c 2.47a 3.03a 10 MSbT 1.71a 2.42a 2.58a 2.60a 2.70a 2.75a 7 MSbT 1.67ab 1.97a 2.17b 2.09b 2.38ab 2.64a 4 MSbT 1.52abc 2.01a 1.88bc 1.86bc 1.95bc 2.13b 1 MSbT 1.20dc 1.47b 1.63c 1.50c 1.82bc 2.11b

Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak bebeda nyata menurut uji DMRT 5%.

22

5. Waktu Berbunga

Perlakuan biomulsa A. pintoi dan mulsa plastik hitam perak nyata mempercepat pembungaan. Tabel 8 menunjukkan bahwa umur berbunga tanaman tomat berkisar antara 39-53 hari. Perlakuan biomulsa A. pintoi 10 MSbT menunjukkan umur berbunga tercepat (39 HST), tidak berbeda nyata dengan perlakuan MPHP (44 HST), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan tanpa mulsa (46 HST).

Tabel 8. Rataan Umur Berbunga Tanaman Tomat

Perlakuan Rata-rata Umur Bunga (HST) Tanpa Mulsa 46b MPHP 44bc 10 MSbT 39c 7 MSbT 41bc 4 MSbT 47ab 1 MSbT 53a

Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak bebeda nyata menurut uji DMRT 5%.

MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak ; MSbT = Minggu Sebelum Tanam Komponen Produksi Tanaman Tomat

Rekapitulasi hasil sidik ragam pada Lampiran 5 menunjukkan perlakuan mulsa berpengaruh nyata terhadap komponen produksi dan produksi buah tomat. Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa jumlah buah tertinggi diperoleh pada mulsa plastik hitam perak (6.34) berbeda nyata dengan tanpa mulsa (kontrol) dan seluruh perlakuan. Meskipun demikian, ukuran buah yang dipresentasikan oleh bobot buah menunjukkan bahwa nilai tertinggi diperoleh pada biomulsa yang ditanam pada 10 MSbT dan 7 MSbT, masing-masing 18.91 g dan 19.96 g, berbeda nyata dengan perlakuan tanpa mulsa (14.55 g). Penampakan visual buah tomat pada semua perlakuan disajikan pada Lampiran 10.

Sejalan dengan pengaruhnya terhadap komponen produksi, perlakuan mulsa berpengaruh nyata terhadap bobot panen per tanaman dan bobot panen per petak. Rata-rata bobot panen tertinggi diperoleh pada perlakuan mulsa plastik hitam perak (106.39 g), berbeda nyata dengan tanpa mulsa (35.19 g) dan seluruh perlakuan biomulsa. Demikian juga untuk bobot panen per petak nilai tertinggi

23 diperoleh pada mulsa plastik hitam perak (1 876.95 g), diikuti oleh perlakuan biomulsa 7 MSbT (1 139.73 g) dan 10 MSbT (903.14 g).

Tabel 9. Rataan Jumlah Buah dan Bobot panen Perlakuan

Rata-Rata Rata-Rata Rata-Rata Bobot

Jumlah buah Jumlah Bobot panen (gram) per

per Tanaman Tanaman Tanaman Petak Buah (gram)

Tanpa Mulsa 2.50b 7.00b 35.18c 247.99d 14.55c MPHP 6.34a 16.33a 106.39a 1 876.59a 17.47abc 10 MSbT 2.92b 17.00a 55.48bc 903.14bc 18.91ab 7 MSbT 3.53b 18.00a 63.96b 1 139.73b 19.96a 4 MSbT 3.46b 15.33a 53.92bc 702.37cd 16.86abc 1 MSbT 3.62b 13.67a 55.02bc 444.01cd 15.56bc

Keterangan: Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak bebeda nyata menurut uji DMRT 5%

MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak ; MSbT = Minggu Sebelum Tanam Buah Layak dan Tidak Layak Pasar

Bobot buah layak pasar merupakan bobot buah yang tidak cacat akibat terserang hama dan penyakit sehingga layak untuk dipasarkan. Bobot buah layak pasar dari semua perlakuan berkisar antara 204.90 g – 1 778.01 g. Gambar 3 menunjukkan bahwa persentase bobot layak dan tidak layak pasar perlakuan biomulsa 10 MSbT tidak berbeda (94.68 % dan 5.32 %) dengan perlakuan mulsa plastik hitam perak (94.75 % dan 5.25 %). Hasil rekapitulasi sidik ragam bobot buah tomat layak pasar dan tidak layak pasar disajikan pada Lampiran 5.

Keterangan: MPHP = Mulsa Plastik Hitam Perak MSbT = Minggu Sebelum Tanam

Gambar 3. Rataan Bobot Buah Layak dan Tidak Layak Pasar

82.62 94.75 94.68 90.74 91.56 88.22 17.38 5.25 5.32 9.26 8.44 11.78 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 Tanpa MulsaMPHP 10 MSbT 7 MSbT 4 MSbT 1 MSbT Pe rsentase (% ) Perlakuan layak pasar (g) Tidak Layak Pasar (g)

PEMBAHASAN

Perbedaan perlakuan mulsa pada tanaman tomat menyebabkan perbedaan jumlah spesies gulma dan sebarannya. Perlakuan mulsa plastik hitam perak menunjukkan jumlah spesies gulma terendah karena ruang tumbuh gulma lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan biomulsa A. pintoi maupun perlakuan tanpa mulsa. Di sisi lain, jumlah spesies gulma pada perlakuan biomulsa A. pintoi menunjukkan nilai yang sesuai dengan waktu tanam. Perlakuan biomulsa 10 minggu sebelum tanam menghasilkan jumlah spesies gulma yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan 7, 4, dan 1 minggu sebelum tanam (Tabel 4). Gulma dominan pada perlakuan biomulsa 10 minggu sebelum tanaman adalah Axonopus

compressus. Menurut Severino dan Pedro (2004), A. pintoi hanya efektif untuk

menekan pertumbuhan beberapa jenis gulma. Manglayang (2005) menambahkan bahwa salah satu kekurangan A. pintoi di lahan marjinal yaitu pertumbuhannya yang kurang pesat sehingga kalah berkompetisi dengan Axonopus compressus.

Selain dapat berperan dalam menekan pertumbuhan gulma, perlakuan mulsa juga mempengaruhi pertumbuhan dan produksi buah tomat. Perlakuan MPHP dan biomulsa Arachis pintoi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman tomat. Perlakuan biomulsa Arachis pintoi dapat meningkatkan komponen pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas, dan panjang ruas. Selain itu, perlakuan biomulsa dapat mempercepat pembungan tanaman tomat. Waktu tanam terbaik A. pintoi sebagai biomulsa adalah 7 atau 10 minggu dibandingkan 4 atau 1 minggu sebelum penanaman tomat. Hal tersebut dikarenakan penanaman A. pintoi pada perlakuan 7 atau 10 minggu sebelum tanam menyebabkan A. pintoi dapat tumbuh lebih baik dan penutupan tanah lebih tinggi sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kompetisi antara gulma dengan tanaman tomat.

Komponen pertumbuhan tanaman yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah ruas, dan panjang ruas. Pertambahan tinggi tanaman pada perlakuan biomulsa A. pintoi 10 dan 7 minggu sebelum tanam tomat menghasilkan tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (Gambar 2). Jumlah daun pada perlakuan biomulsa 10 minggu menunjukkan nilai

25 yang lebih tinggi secara nyata dibandingkan perlakuan tanpa mulsa dan MPHP pada umur 4 MST (Tabel 5). Gardner et al. (1991) menyatakan jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh faktor lingkungan.  Selanjutnya, jumlah dan panjang ruas pada perlakuan biomulsa 10 dan 7 minggu sebelum tanam serta perlakuan mulsa plastik hitam perak memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (Tabel 6 dan 7).

Peningkatan pertumbuhan tanaman tomat pada perlakuan biomulsa Arachis

pintoi diduga karena Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah berpotensi

untuk meningkatkan kesuburan tanah dari hasil fiksasi nitrogen secara biologi. Fiksasi N, yaitu perubahan nitrogen udara oleh bakteri-bakteri yang bersifat simbiotik menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman (Harjadi, 1979). Hal tersebut dapat dilihat peningkatan nilai N-total dari hasil analisis yang disajikan pada Lampiran 2. Nitrogen adalah unsur makro yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Selain dapat menambat nitrogen, Arachis pintoi yang tumbuh menutupi permukaan tanah dapat menjaga kelembaban tanah. Arachis pintoi mampu menahan air untuk mencegah evaporasi, sehingga memaksimalkan air yang tersedia bagi tanaman. Air merupakan salah satu komponen penting selain nutrisi yang diperlukan untuk perbesaran atau perluasan sel. Lebih banyaknya sel berpengaruh terhadap lebih luasnya organ tanaman antara lain daun yang lebih luas. Semakin tinggi luas daun, akan semakin luas pula tajuk tanaman. Tajuk tanaman yang lebar akan meningkatkan luas naungan, dimana naungan akan memacu kerja auksin yang berfungsi untuk perpanjangan sel. Dalam hal ini auksin akan menambah tinggi tanaman. Gardner et al. (1991) menambahkan bahwa nutrisi mineral dan ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan ruas, terutama oleh perluasan sel, seperti pada organ vegetatif atau organ pembuahan.

Produksi tomat pada perlakuan MPHP menunjukkan jumlah buah lebih tinggi dibandingkan perlakuan biomulsa A. pintoi (Tabel 9). Rendahnya jumlah buah pada tanaman tomat yang ditanam dengan perlakuan biomulsa A. pintoi diduga disebabkan oleh terjadinya kompetisi hara antara tanaman tomat dengan gulma, maupun A. pintoi. Kompetisi terutama terjadi pada penyerapan unsur hara makro seperti fosfor dan kalium yang diaplikasikan dengan cara disiramkan pada

26 daerah perakaran tanaman. Fosfor dan kalium diperlukan tanaman untuk mendukung pertumbuhan generatif. Fosfor sangat penting untuk mendukung pertumbuhan vegetatif dan reproduksi dan pengembangan tanaman, meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil, dan ketahanan tanaman dari penyakit (Havlin et

al,1999). Ketersediaan unsur fosfor dan kalium tidak dapat disubstitusi oleh unsur

lain sehingga kekurangan unsur-unsur tersebut dapat menurunkan produksi terutama untuk tanaman utama.

Perlakuan biomulsa A. pintoi 10 dan 7 MSbT menunjukkan bobot per buah dan rata-rata jumlah tanaman tomat lebih tinggi dibandingkan perlakuan MPHP (Tabel 9). Bobot per buah yang lebih tinggi pada perlakuan biomulsa A. pintoi

Dalam dokumen BIOMULSA PADA BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Halaman 23-38)

Dokumen terkait