Penanda kohesi leksikal yang ditemukan dalam antologi cerkak “Wiring
Kuning” karya Trinil ini berupa repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata),
antonimi (lawan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas-bawah), dan ekuivalensi (kesepadanan). Berikut merupakan uraian msing-masing penanda kohesi leksikal.
a. Repetisi (Pengulangan)
Repetisi atau pengulangan adalah penyebutan kembali unsur suatu proposisi pada proposisi berikutnya. Peristiwa pengulangan ini dimaksudkan untuk memperjelas pesan dan memberi penekanan yang disampaikan oleh pernyataan dalam sebuah wacana, meskipun dalam penggunaan bahasa terkadang kurang ekonomis. Di dalam penelitian ini hanya ditemukan dua macam repetisi, yaitu repetisi epizeuksis dan repetisi tautotes.
Repetisi epizeuksis adalah pengulangan satuan lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Kata yang diulang dalam repetisi
commit to user
epizeuksis adalah kata dasar. Dalam penelitian ini yang mengandung beberapa penanda kohesi leksikal repetisi epizeuksis dapat dilihat dalam wacana-wacana berikut.
(38/559) Sajerone turu, Pak Yitno ngimpi kaya weruh ana pitik jago tarung.
Sing siji wulune abang sembur ireng, sijine wiring kuning. Pitik loro mau padha rosane, tarung keket. Jalune padha lincipe, dedege padha, kengkenge padha. (WK/H5/P22)
‘Di dalam tidurnya, Pak Yitno bermimpi seperti melihat ada ayam jantan bertarung. Yang satu bulunya merah campur hitam, yang satunya berbulu dan berkaki kuning. Kedua ayam itu sama kuatnya, bertarung ketat. Jalunya sama runcing, gagahnya sama, badannya
sama.’
Pada data (38/559) di atas terdapat repetisi epizeuksis yaitu pengulangan pada kata padha ‘sama’ yang diulang sebanyak empat kali. Pengulangan kata
padha ‘sama’ ini berfungsi untuk menjelaskan bahwa kata tersebut sangat penting
dalam kalimat. Kata padha ‘sama’ berfungsi menerangkan bahwa kedua ayam tersebut sama kuatnya, sama-sama mempunyai jalu yang tajam, sama gagah dan besar tubuhnya. Kemudian data (38/559) dibagi unsur langsungnya sebagai berikut.
(38/559a) Sajerone turu, Pak Yitno ngimpi kaya weruh ana pitik jago tarung.
Sing siji wulune abang sembur ireng, sijine wiring kuning.
‘Di dalam tidurnya, Pak Yitno bermimpi seperti melihat ada ayam jantan bertarung.’
(38/559b) Sing siji wulune abang sembur ireng, sijine wiring kuning.
‘Yang satu bulunya merah campur hitam, yang satunya berbulu dan berkaki kuning.’
(38/559c) Pitik loro mau padha rosane, tarung keket. ‘Kedua ayam itu sama kuatnya, bertarung ketat.’ (38/559d) Jalune padha lincipe, dedege padha, kengkenge padha.
commit to user
Setelah dibagi unsur langsungnya, data (38/559c) dan (38/559d) diuji dengan teknik lesap. Pengujian ini untuk menentukan seberapa kadar keintian dari repetisi tersebut.
(38/559e) Pitik loro mau Ø rosane, tarung keket. ‘Kedua ayam itu Ø kuatnya, bertarung ketat.’ (38/559f) Jalune Ø lincipe, dedege Ø , kengkenge Ø.
‘Jalunya Ø runcing, gagahnya Ø, badannya Ø.’
Setelah dianalisis dengan teknik lesap wacana di atas menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima. Oleh karena itu, kata padha ‘sama’ wajib hadir dalam kalimat tersebut.
Data lain yang mengandung repetisi epizeuksis dapat disimak pada data berikut ini.
(39/564) Kocapa Pak Salam, sajerone turu iku saka rumangsane dheweke
ditekani sawijining wong bagus gedhe dhuwur, menganggo busana kaya begawan sarwa putih, jarite parang putih, udhenge putih, lan tangane kiwa mondhong kain putih. (JB/H60/P25)
‘Diceritakan Pak Salam, di dalam tidurnya itu dari perasaannya dia didatangi seseorang yang tampan besar tinggi, mengenakan busana seperti dewa serba putih, selendangnya bermotif parang putih, ikatnya
putih, dan tangan kiri memegang kain putih yang ditempel di dada.’
Repetisi epizeuksis pada data (39/564) di atas ditunjukkan dengan kata
putih ‘putih’ yang diulang sebanyak empat kali untuk menjelaskan bahwa
kedudukan kata tersebut sangat penting dalam kalimat. Kata putih ‘putih’ sangat penting karena berfungsi menerangkan bahwa yang dipakai orang misterius itu identik dengan pakaian serba putih. Selanjutnya data (39/564) dibagi unsur langsungnya yaitu sebagai berikut.
commit to user
(39/564a) Kocapa Pak Salam, sajerone turu iku saka rumangsane dheweke
ditekani sawijining wong bagus gedhe dhuwur,
‘Diceritakan Pak Salam, di dalam tidurnya itu dari perasaannya dia didatangi seseorang yang tampan besar tinggi,’
(39/564b) menganggo busana kaya begawan sarwa putih, jarite parang putih,
udhenge putih, lan tangane kiwa mondhong kain putih.
‘mengenakan busana seperti dewa serba putih, selendangnya bermotif parang putih, ikatnya putih, dan tangan kiri memegang kain putih yang ditempel di dada.’
Setelah dibagi unsur langsungnya, data (39/564b) diuji dengan teknik lesap. Pengujian ini untuk menentukan seberapa kadar keintian dari repetisi tersebut.
(39/564c) menganggo busana kaya begawan sarwa Ø, jarite parang Ø, udhenge
Ø, lan tangane kiwa mondhong kain Ø.
‘mengenakan busana seperti dewa serba Ø, selendangnya bermotif parang Ø, ikatnya Ø, dan tangan kiri memegang kain Ø yang ditempel di dada.’
Hasil analisis dengan teknik lesap terhadap data (39/564c) ternyata wacana menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima. Hal itu disebabkan karena unsur yang penting dalam kalimat dihilangkan, sehingga wacana tidak kohesif. Dengan demikian, kata putih ‘putih’ mempunyai kadar keintian yang tinggi dan wajib hadir dalam kalimat.
Repetisi tautotes merupakan pengulangan satuan lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Adapun data yang menunjukkan repetisi tautotes adalah sebagai berikut.
(40/568) Mula ora kesuwen maneh, Sri langsung matur kanthi bebas, runtut lan
ngati-ati, alus nanging ngenani. Sri matur menawa runtike ibune kuwi dudu jalaran manuk nanging wanita. Sri uga matur bab pasrawungan sing keladuk antarane liya jinis kuwi nadyan ora adhedhasar rasa
commit to user
tresna antarane priya lan wanita nanging tetep gawe kapitunane liyan.
(NG/H40/P24)
‘Maka tidak kelamaan lagi, Sri langsung berbicara dengan bebas, urut dan berhati-hati, lembut tapi mengena. Sri berbicara jika masalah ibunya itu bukan karena burung tetapi wanita. Sri juga berbicara tentang pertemuan yang terlalu sering antara beda jenis kelamin itu walaupun bukan berdasarkan rasa cinta antara pria dan wanita tetapi tetap membuat kerugian orang.’
Data (40/568) di atas terdapat repetisi tautotes yang ditunjukkan pada kata
matur ‘berkata’. Kata tersebut diulangi sebanyak tiga kali untuk menekankan
sangat pentingnya kata tersebut dalam wacana. Selanjutnya data tersebut dibagi menurut unsur langsungya menjadi berikut.
(40/568a) Mula ora kesuwen maneh, Sri langsung matur kanthi bebas, runtut lan
ngati-ati, alus nanging ngenani.
‘Maka tidak kelamaan lagi, Sri langsung berbicara dengan bebas, urut dan berhati-hati, lembut tapi mengena.’
(40/568b) Sri matur menawa runtike ibune kuwi dudu jalaran manuk nanging
wanita.
‘Sri berbicara jika masalah ibunya itu bukan karena burung tetapi wanita.’
(40/568c) Sri uga matur bab pasrawungan sing keladuk antarane liya jinis kuwi
nadyan ora adhedhasar rasa tresna antarane priya lan wanita nanging tetep gawe kapitunane liyan.
‘Sri juga berbicara tentang pertemuan yang terlalu sering antara beda jenis kelamin itu walaupun bukan berdasarkan rasa cinta antara pria dan wanita tetapi tetap membuat kerugian orang.’
Setelah dibagi unsur langsungnya, data (40/568a), (40/568b), dan (40/568c) diuji dengan teknik lesap. Pengujian ini untuk menentukan seberapa kadar keintian dari repetisi tersebut.
(40/568d) Mula ora kesuwen maneh, Sri langsung Ø kanthi bebas, runtut lan
ngati-ati, alus nanging ngenani.
‘Maka tidak kelamaan lagi, Sri langsung Ø dengan bebas, urut dan berhati-hati, lembut tapi mengena.’
commit to user
(40/568e) Sri Ø menawa runtike ibune kuwi dudu jalaran manuk nanging
wanita.
‘Sri Ø jika masalah ibunya itu bukan karena burung tetapi wanita.’ (40/568f) Sri uga Ø bab pasrawungan sing keladuk antarane liya jinis kuwi
nadyan ora adhedhasar rasa tresna antarane priya lan wanita nanging tetep gawe kapitunane liyan.
‘Sri juga Ø tentang pertemuan yang terlalu sering antara beda jenis kelamin itu walaupun bukan berdasarkan rasa cinta antara pria dan wanita tetapi tetap membuat kerugian orang.’
Hasil analisis dengan teknik lesap terhadap data (40/568d), (40/568e), dan (40/568f) ternyata wacana menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima.. Dengan demikian, kata matur ‘berbicara’ mempunyai kadar keintian yang tinggi dan wajib hadir dalam kalimat.
Repetisi mesodiplosis merupakan pengulangan satuan lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam sebuah konstruksi. Adapun data yang menunjukkan repetisi mesodiplosis adalah sebagai berikut.
(41/571) Sing dibagekake maune sajak kaya ora ngewaki, nanging bareng wis
rada sawetara, tangane wiwit saya semrikut anggone mbukaki tas
kresek gawane saka Sumobito iku. Wis kabeh tas kresek iku
dibukak-bukaki, nanging sing digoleki meksa ora ketemu. Lha tas kresek sing isi ari-ari neng njero kendhil iki mau neng ngendi, batine.
(AR/H49/P18)
‘Yang dipersilakan tadinya kelihatan seperti tidak membantu, namun setelah beberapa waktu, tangannya mulai semakin panik membuka-buka kantong plastik bawaannya dari Sumobito itu. Sudah semua
kantong plastik itu dibuka-buka, tetapi yang dicari tetap tidak
ketemu. La Kantong plastik yang berisi tembuni di dalam periuk ini tadi dimana, batinnya.’
Data (41/571) di atas terdapat repetisi mesodiplosis yang ditunjukkan pada frasa tas kresek ‘kantong plastik’. Kata tersebut diulangi sebanyak tiga kali untuk menekankan betapa pentingnya frasa tersebut dalam wacana dalam data (41/571).
commit to user
Frasa tas kresek ‘kantong plastik’ penting karena frasa tersebut merupakan benda yang menjadi pusat perhatian pada penggalan paragraf dalam cerita tersebut. Selanjutnya data tersebut dibagi menurut unsur langsungya menjadi berikut. (41/571a) Sing dibagekake maune sajak kaya ora ngewaki, nanging bareng wis
rada sawetara, tangane wiwit saya semrikut anggone mbukaki tas
kresek gawane saka Sumobito iku.
‘Yang dibagikan tadinya kelihatan seperti tidak membantu, namun setelah beberapa waktu, tangannya mulai semakin panik membuka-buka kantong plastik bawaannya dari Sumobito itu.’
(41/571b) Wis kabeh tas kresek iku dibukak-bukaki, nanging sing digoleki meksa
ora ketemu.
‘Sudah semua kantong plastik itu dibuka-buka, tetapi yang dicari tetap tidak ketemu.’
(41/571c) Lha tas kresek sing isi ari-ari neng njero kendhil iki mau neng ngendi,
batine.
‘La Kantong plastik yang berisi tembuni di dalam periuk ini tadi dimana, batinnya.’
Setelah dibagi unsur langsungnya, data (41/571a), (41/571b), dan (41/571c) diuji dengan teknik lesap. Pengujian ini untuk menentukan seberapa kadar keintian dari repetisi tersebut.
(41/571d) Sing dibagekake maune sajak kaya ora ngewaki, nanging bareng wis
rada sawetara, tangane wiwit saya semrikut anggone mbukaki Ø gawane saka Sumobito iku.
‘Yang dibagikan tadinya kelihatan seperti tidak membantu, namun setelah beberapa waktu, tangannya mulai semakin panic membuka-buka Ø bawaannya dari Sumobito itu.’
(41/571e) Wis kabeh Ø iku dibukak-bukaki, nanging sing digoleki meksa ora
ketemu.
‘Sudah semua Ø itu dibuka-buka, tetapi yang dicari tetap tidak ketemu.’
(41/571f) Lha Ø sing isi ari-ari neng njero kendhil iki mau neng ngendi, batine. ‘La Ø yang berisi tembuni di dalam periuk ini tadi dimana, batinnya.’
commit to user
Hasil analisis dengan teknik lesap terhadap data (41/571d), (41/571e), dan (41/571f) ternyata wacana menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima.. Oleh karena itu, kata tas kresek ‘kantong plastik’ mempunyai kadar keintian yang tinggi dan wajib hadir dalam wacana tersebut supaya informasi lebih jelas dan lengkap.
Data-data pengulangan/repetisi yang telah dianalisis di atas masing-masing berjumlah 1 untuk repetisi tautotes dan mesodiplosis, serta 2 untuk repetisi epizeuksis. Di dalam antologi cerkak “Wiring Kuning” karya Trinil ditemukan data pengulangan sebanyak 13 dengan rincian yaitu 6 data repetisi epizeuksis, 5 data repetisi tautotes, dan 2 data repetisi mesodiplosis. Sementara itu, dalam penelitian ini tidak ditemukan data repetisi anafora, epistrofa, simploke, epanalepsis, dan anadiplosis. Data-data yang lebih lengkap mengenai pengulangan/repetisi dapat dilihat pada lampiran nomor 559 sampai 571.
b. Sinonimi (Padan Kata)
Sinonimi merupakan suatu bentuk bahasa atau satuan lingual yang maknannya mirip atau sama dengan bentuk lain, baik kata, kelompok kata ataupun kalimat. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana. Sinonimi yang ditemukan pada antologi cerkak “Wiring Kuning” karya Trinil antara lain sinonimi morfem (bebas) dengan morfem (terikat), kata dengan kata, dan kata dengan frasa.
commit to user
Wacana yang di dalamnya terdapat penanda kohesi leksikal yang berupa sinonimi morfem (bebas) dengan morfem (terikat) adalah sebagai berikut.
(42/572) Aku lagi rumangsa yen ana rasa tresna mili neng dalane getihku.
Dhuh Gusti, kula nyuwun pangaksama […] (KKM/H67/P11)
‘Aku sedang merasa bahwa ada rasa cinta yang mengalir di jalan darahku. Duh Tuhan, saya minta maaf […]’
Pada data (42/572) di atas terdapat sinonimi jenis morfem bebas dengan morfem terikat. Morfem bebas aku ‘aku’ bersinonim dengan morfem terikat –ku ‘-ku’ pada kata getihku ‘darahku’. Kata getihku ‘darahku’ mempunyai arti getih ‘darah’ kepunyaan aku ‘aku’. Kemudian data tersebut dibagi menurut unsur langsungnya menjadi berikut.
(42/572a) Aku lagi rumangsa yen ana rasa tresna mili neng dalane getihku. ‘Aku sedang merasa bahwa ada rasa cinta yang mengalir di jalan darahku.’
(42/572b) Dhuh Gusti, kula nyuwun pangaksama […] ‘Duh Tuhan, saya minta maaf […]’
Data (572) telah dibagi menurut unsur langsungnya. Kemudian data (42/572a) diuji dengan teknik lesap menjadi berikut.
(42/572c) Ø lagi rumangsa yen ana rasa tresna mili neng dalane getihØ.
‘Ø sedang merasa bahwa ada rasa cinta yang mengalir di jalan darahØ.’
Hasil analisis dari data (42/572a) menjadi (42/572c) ternyata jika penanda kohesi leksikan sinonimi aku ‘aku’ dan –ku ‘-ku’ pada getihku ‘darahku’ dilesapkan, maka kalimat menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima. Sehingga kehadiran kedua penanda kohesi leksikal sinonimi tersebut wajib.
Wacana yang di dalamnya terdapat penanda kohesi leksikal yang berupa sinonimi kata dengan kata adalah sebagai berikut.
commit to user
(43/576) Sejatine Menis ora pati seneng dijak blakrakan mrana-mrana,
nanging Shomad pinter ngepek atine Menis supaya gelem ngancani
mblarah mrana-mrana. (F/H12/P10)
‘Sesungguhnya Menis tidak begitu suka diajak berpetualang kemana-mana, tetapi Shomad pandai mengambil hati Menis supaya mau menemani berpetualang kemana-mana.’
Pada data (43/576) di atas, dilihat dari kekohesifan paragrafnya, terlihat bahwa pada kalimat-kalimatnya terdapat kohesi leksikal yang berupa sinonimi. Satuan lingual yang menunjukkan sinonimi itu dapat dilihat pada pemakaian kata
blakrakan ‘berpetualang’ dengan kata mblarah ‘berpetualang’. Kedua kata
tersebut memiliki makna yang sepadan. Kemudian data dianalisis dengan teknik BUL.
(43/576b) Sejatine Menis ora pati seneng dijak blakrakan mrana-mrana,
‘Sesungguhnya Menis tidak begitu suka diajak berpetualang kemana-mana,’
(43/576b) nanging Shomad pinter ngepek atine Menis supaya gelem ngancani
mblarah mrana-mrana.
‘tetapi Shomad pandai mengambil hati Menis supaya mau menemani
berpetualang kemana-mana.’
Setelah dibagi unsur langsungnya, data (576a) dan (576b) diuji dengan teknik lesap menjadi berikut.
(43/576c) Sejatine Menis ora pati seneng dijak Ø mrana-mrana,
‘Sesungguhnya Menis tidak begitu suka diajak Ø kemana-mana,’ (43/576d) nanging Shomad pinter ngepek atine Menis supaya gelem ngancani Ø
mrana-mrana.
‘tetapi Shomad pandai mengambil hati Menis supaya mau menemani
Ø kemana-mana.’
Tampak pada data (43/576a) dan (43/576b) di atas setelah dianalisis dengan teknik lesap wacana tidak gramatikal dan namun tidak berterima. Oleh karena itu, kata blakrakan ‘berpetualang dan mblarah ‘berpetualang’ wajib hadir
commit to user
untuk mendukung kepaduan wacana. Analisis dengan teknik ganti tidak perlu diterapkan, karena kedua kata tersebut sudah saling menggantikan.
Data lain yang menunjukkan sinonimi kata dengan kata adalah sebagai berikut.
(44/577) Sajake kok ngundamana, pancen aku paling mbeling, arang mulih
nanging atiku ora lila yen dikira aku ora tresna marang sanak-kadang. Aku banjur nyritakake olehku nakal marang Limaran […]
(L/H33/P17)
‘Kelihatannya memang menghasut, memang aku yang paling nakal, jarang pulang tetapi hatiku tidak rela jika dikira aku tidak cinta terhadap saudara. Aku kemudian menceritakan nakalku kepada Limaran […]’
Pada data (44/577) di atas terdapat sinonimi kata dengan kata yang mendukung kepaduan wacana yaitu pada kata mbeling ‘nakal’ pada kalimat pertama dengan kata nakal ‘nakal’ pada kalimat kedua. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sepadan. Selanjutnya data (44/577) dibagi unsur langsungnya sebagai berikut.
(44/577a) Sajake kok ngundamana, pancen aku paling mbeling, arang mulih
nanging atiku ora lila yen dikira aku ora tresna marang sanak-kadang.
‘Kelihatannya memang menghasut, memang aku yang paling nakal, jarang pulang tetapi hatiku tidak rela jika dikira aku tidak cinta terhadap saudara.’
(44/577b) Aku banjur nyritakake olehku nakal marang Limaran […] ‘Aku kemudian menceritakan nakalku kepada Limaran […]’ Kemudian kedua data di atas diuji dengan teknik lesap sebagai berikut. (44/577c) Sajake kok ngundamana, pancen aku paling Ø, arang mulih nanging
atiku ora lila yen dikira aku ora tresna marang sanak-kadang.
‘Kelihatannya memang menghasut, memang aku yang paling Ø, jarang pulang tetapi hatiku tidak rela jika dikira aku tidak cinta terhadap saudara.’
commit to user
(44/577d) Aku banjur nyritakake olehku Ø marang Limaran […] ‘Aku kemudian menceritakan Øku kepada Limaran […]’
Tampak pada data (44/557c) dan (44/557d) di atas, kalimat menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima setelah diuji dengan teknik lesap. Oleh karena itu, kedua unsur tersebut wajib hadir dalam wacana. Pengujian dengan teknik ganti tidak perlu dilakukan, karena kata tersebut sudah saling menggantikan.
Di bawah ini merupakan data yang di dalamnya terdapat penanda kohesi leksikal yang berupa sinonimi kata dengan frasa, berikut uraiannya.
(45/583) […] rumangsa bungah dipercaya ngemban jejibahan penting
minangka darma-baktine marang bendarane mau, Si Suryatmi sedhela-sedhela malah terus rumangsa kudu guyuh lan ngising wae. Eling-eling anggone ngabdi marang Pak Kamituwa mau wis luwih saka sepuliuh taun suwene. (AR/H45/P5)
‘[…] Merasa senang dipercaya mengemban kewajiban penting sebagai
darma baktinya kepada majikannya tadi, Si Suryatmi sedikit-sedikit
malah terus merasa harus buang air kecil dan buang air besar. Diingat-ingat dalam mengabdi kepada Pak Kamituwa tadi sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya.’
Tampak pada data (45/583) di atas, kepaduan wacana didukung dengan adanya aspek leksikal yang berupa sinonimi antara kata dengan frasa. Kata
ngabdi ‘mengabdi’ pada kalimat kedua bersinonim dengan frasa darma-baktine
‘darma baktinya’ pada kalimat pertama. Kedua satuan lingual tersebut mempunyai makna yang sepadan. Data (45/583) selanjutnya dibagi unsur langsungnya sebagai berikut.
(45/583a) […] rumangsa bungah dipercaya ngemban jejibahan penting
minangka darma-baktine marang bendarane mau, Si Suryatmi sedhela-sedhela malah terus rumangsa kudu guyuh lan ngising wae.
‘[…] Merasa senang dipercaya mengemban kewajiban penting sebagai
darma baktinya kepada majikannya tadi, Si Suryatmi sedikit-sedikit
commit to user
(45/583b) Eling-eling anggone ngabdi marang Pak Kamituwa mau wis luwih
saka sepuliuh taun suwene.
‘Diingat-ingat dalam mengabdi kepada Pak Kamituwa tadi sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya.’
Kemudian data (45/583a) dan (45/583b) diuji dengan teknik lesap sebagai berikut.
(45/583c) […] rumangsa bungah dipercaya ngemban jejibahan penting
minangka Ø marang bendarane mau, Si Suryatmi sedhela-sedhela malah terus rumangsa kudu guyuh lan ngising wae.
‘[…] Merasa senang dipercaya mengemban kewajiban penting sebagai
Ø kepada majikannya tadi, Si Suryatmi sedikit-sedikit malah terus
merasa harus buang air kecil dan buang air besar.
(45/583d) Eling-eling anggone Ø marang Pak Kamituwa mau wis luwih saka
sepuliuh taun suwene.
‘Diingat-ingat dalam Ø kepada Pak Kamituwa tadi sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya.’
Hasil pada data (45/583c) dan (45/583d) di atas, wacana menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima, karena informasi yang disampaikan tidak jelas serta tidak ada kepaduan antarkalimatnya. Unsur-unsur yang dilesapkan tersebut hukumnya wajib hadir. Analisis dengan teknik ganti tidak perlu diterapkan karena kata ngabdi ‘mengabdi dengan frasa dharma-bektine ‘darma baktinya’ memiliki makna yang sepadan dan bisa saling menggantikan.
Data-data sinonimi yang telah dianalisis di atas masing-masing berjumlah 1 untuk padan kata/sinonimi morfem bebas dengan morfem terikat dan kata dengan frasa, serta 2 untuk sinonimi kata dengan kata. Di dalam penelitian ini ditemukan data padan kata sebanyak 12 dengan rincian yaitu 3 data sinonimi antara morfem bebas dengan morfem terikat, 7 data sinonimi antara kata dengan kata dan 2 data sinonimi antara kata dengan frasa. Sementara itu, dalam penelitian ini tidak ditemukan data sinonimi anatara frasa dengan frasa, klausa dengan frasa,
commit to user
maupun klausa dengan klausa. Data-data yang lebih lengkap mengenai padan kata/sinonimi dapat dilihat pada lampiran nomor 572 sampai 583.
c. Antonimi (Oposisi Makna)
Antonimi ialah hubungan antara kata yang satu dengan kata lain yang maknanya menyatakan kebalikan atau berlawanan. Jika dilihat berdasarkan sifatnya, antonimi dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) oposisi mutlak, (2) oposisi kutub, (3) oposisi hubungan, (4) oposisi hirarkial, dan (5) oposisi majemuk.
1) Oposisi Mutlak
Oposisi mutlak adalah pertentangan makna secara mutlak. Penanda kohesi leksikal yang berupa oposisi mutlak dapat dilihat dalam data berikut.
(46/588) Sri uga katut melu nangis, trenyuh marang kapribadene bapake sing
dingunguni wiwit cilik nganti tumekaning pati mbesuke. Mung siji kuwi manungsa sing dibiji dhuwur dening Sri ing selawase uripe […]
(NG/H41/P24)
‘Sri juga ikut menangis, terharu kepada kepribadian ayahnya yang dianut dari kecil sampai mati besok. Hanya satu itu manusia yang dinilai tinggi oleh Sri selama hidupnya […]’
Tampak pada data (46/588) di atas terdapat antonimi yang berupa oposisi mutlak antara kata pati ‘mati’ dan kata uripe ‘hidupnya’. Kehadiran antonimi