• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Anak Autisme

Dalam dokumen Oleh. Erida Agriani (Halaman 41-76)

BAB II LANDASAN TEORITIS

B. Anak Autisme

4. Penanganan Anak Autisme

Beberapa penaganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang autisme, yaitu:

a. Terapi perilaku

Terapi ini merupakan terapi penting bagi anak usia dini yang mengalami gangguan autisme. Terapi perilaku ini mudah dilakukan dan terbukti dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Bahkan akan menjadi lebih baik lagi hasilnya jika dipadukan dengan terapi lainnya seperti, terapi wicara, terapi okupasi dan pendidikan khusus. Terapi perilaku bertujuan untuk:

1) Mempelajari cara anak autisme bereaksi terhadap suatu stimulus dan apa yang terjadi sebagai akibat dari reaksi spesifik tersebut. Kemudian, apakah terapi ini juga memengaruhi atau mengubah perilaku yang akan datang.

2) Membangun kemampuan secara sosial yang tidak dimilki dan mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menjadi masalah bagi anak dengan gangguan autisme.

3) Mengajarkan anak dengan gangguan autisme tentang bagaimana belajar dari lingkungan yang normal, bagaimana merespon lingkungan dan mengajarkan perilaku yang sesuai agar anak dapat membedakan berbagai hal tertentu dari

berbagai macam stimulus. Jadi pada dasarnya terapi perilaku ini mengajarkan anak untuk belajar.

b. Terapi bermain

Dunia anak adalah dunia bermain dan kegiatan bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Setiap anak pasti menginginkannya dan melakukannya untuk mendapatkan berbagai kesenangan. Melalui kegiatan bermain, pertumbuhan fisik anak dan perkembangan mentalnya (kognitif, bahasa, emosi, moral dan sosial) dapat berkembang optimal. Sementara itu jika seorang anak selalu dibatasi dalam bermain, anak akan menjadi individu yang pasif, mudah ragu, tidak percaya diri dan tidak memilki inisiatif karena cenderung suka menunggu perintah. Bahkan sangat dimungkinkan anak jadi lemah fisiknya dan tidak memiliki teman.

c. Terapi wicara

Terapi wicara ini menjadi suatu keharusan dalam penangan anak dengan gangguan autisme karena semua penyandang autisme memiliki keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa, baik yang bersifat verbal, non-verbal, maupun kombinasi antara keduanya.

Terapi wicara dapat dilakukan oleh pendidik dengan melakukan penyusunan bahasa, yaitu dengan meminta kepada anak untuk menyebutkan nama benda-benda yang ada dihadapnnya atau ditemukannya pada suatu kondisi tertentu.

Pendidik hendaknya tidak memberitahu nama-nama benda tersebut dengan harapan anak dapat meniru dan menyebutkannya.

Hal itu dikarenakan pada saat anak meniru dan menyebutkan benda tersebut, anak hanya membeo tanpa mengetahui maknanya. Selain itu, pendidik juga dapat menyusupkan kata-kata yang terkait dengan kondisi yang sedang melingkupi anak. Untuk mempermudah anak dalam memahami makna kata yang disusupkan, sebaiknya kata yang disusupkan tersebut merupakan kata yang memilki konsep konkret atau nyata.

Jika anak sudah dapat menyebutkan satu kata, langkah selanjutnya pendidik dapat memintanya untuk menyebutkan dua atau tiga kata dan seterusnya sehingga anak dengan gangguan autisme dapat memiliki kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif.

Keberhasilan penyusupan pada anak usia dini dengan gangguan autisme sangat dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi anak. Itulah sebabnya dalam melakukan terapi wicara pendidik harus dapat menciptakan suasana yang tenang dan hening ditempat terapi wicara dilakukan.39

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun penanganan bagi anak yang autisme ini adalah pertama dengan menggunakan terapi perilaku dimana tujuannya yaitu untuk melatih anak

39Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, ... hal. 200-207

dapat mengembangkan kemampuan pada dirinya dan mengajarkan anak untuk dapat menjalin interaksi dan berkomunikasi dengan orang yang ada di lingkungan sekitarnya, kemudian terapi bermain dimana tujuannya melalui kegiatan bermain, pertumbuhan fisik anak dan perkembangan mentalnya baik itu kognitif, bahasa, emosi, moral dan sosialnya dapat berkembang secara optimal dan kemudian dengan menggunakan terapi wicara yaitu agar anak dapat berbicara dengan lancar dan dapat menyusun kata-kata yang baik ketika bicara baik yang secara verbal ataupun non-verbal.

C. Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme

Aktivitas bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah memiliki peranan yang sangat besar dalam membantu peserta didik untuk mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang dialami. Jenis-jenis kesulitan yang sering dialami oleh peserta didik di sekolah ialah kesulitan dalam menyesuailkan diri dilingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, kesulitan dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah, kesulitan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dialami dan kesulitan dalam menentukan atau mengambil keputusan untuk memilih jenis karir tertentu sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.40

Ke 4 jenis kesulitan tersebut adalah umum dialami oleh peserta didik yang normal di sekolah-sekolah biasa diberbagai jenjang pendidikan

40Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78

mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai kepada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Jenis-jenis kesulitan yang dialami oleh sebagian peserta didik yang normal, juga dialami oleh peserta didik yang berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah biasa yang menerapkan sistem pendidikan inklusi.41

Anak autistik sebagai bagian integral dari anak yang berkebutuhan khusus, juga mengalami jenis-jenis kesulitan tersebut. Oleh karena itu, anak autistik sangat membutuhkan layanan bimbingan dan konseling yang difasilitasi oleh guru BK.42

Adapun peranan guru BK bagi peserta didik autisme, yaitu:

1. Guru BK berperan membantu pencapaian tugas perkembangan peserta didik dalam bersosialisasi:

a. Memberikan layanan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat peserta didik.

b. Memberikan layanan informasi terkait dengan peran gender disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

c. Membimbing peserta didik untuk memilih karir di sekolah, yaitu membantu peserta didik dalam memahami diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan, merencanakan dan pengarahan kegiatan-kegiatan yang menuju kepada karir dan cara hidup yang akan memberikan rasa kepuasan karena sesuai, serasi, dan seimbang dengan dirinya dan lingkungnnya.

41Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78

42Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78-79

2. Guru BK berperan mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik:

a. Melakukan observasi, yaitu cara memperoleh data secara langsung peserta didik, bagaimana sikap peserta didik dalam mengikuti pelajaran dan melihat kelengkapan catatan dalam pelajaran.

b. Melakukan interview, adalah cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap peserta didik atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki (guru, orang tua dan teman sebaya).

c. Melakukan tes diagnostik, adalah suatu cara untuk mengumpulkan data peserta didik untuk mengungkap kesulitan belajar peserta didik.

d. Melakukan dokumentasi, adalah cara mengetahui kesulitan dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip yang berhubungan dengan peserta didik. Untuk mengetahui lebih jauh tentang peserta didik yang dapat dilihat dari riwayat hidup peserta didik, kehadiran dalam mengikuti pelajaran, memiliki daftar pribadinya, daftar hadir di sekolah dan melihat hasil rapor.43

Melalui pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik autistik tersebut diharapkan peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Selain itu, dengan bantuan layanan bimbingan dan konseling, peserta didik autistik diharapkan dapat memecahkan kesulitan belajarnya sehingga dapat belajar dengan baik, memilih dan memutuskan suatu jenis

43 Desje Lattu, Peran Guru Bimbingan dan Konseling Pada Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi, (Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 20 Desember 2017, http://ojs.unpatti.ac.id/index.php/bkt)

karir tertentu secara tepat sesuai bakat, minat dan kemampuannya dan mengatasi masalah-masalah pribadi yang dialami atas kemampuan sendiri dengan bantuan petugas bimbingan dan konseling.44

Untuk peserta didik autistik, masalah tujuan pemberian bimbingan dan konseling lebih diarahkan kepada pembentukan kompensasi secara positif dari kekurangan atau kelainan yang diderita peserta didik. Melalui layanan bimbingan dan konseling, peserta didik autistik diharapkan dapat tidak terganggu dengan kelainan yang diderita, melainkan pada diri peserta didik diharapkan ada usaha optimalisasi untuk mengaktualisasikan sisa potensi yang dimiliki.45

Secara khusus layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan agar peserta didik dapat, memahami dirinya dengan baik, yaitu mengenal segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki berkenaan dengan bakat, minat, sikap, perasaan dan kemampuan anak, memahami lingkungannya dengan baik mencakup lingkungan pendidikan di sekolah, lingkungan di rumah, lingkungan di asrama dan lingkungan sosial di masyarakat, menentukan pilihan dan keputusan yang bijaksana, yaitu pilihan dan keputusan yang didasarkan kepada pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri dan lingkungannya, mengatasi masalah-masalah yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah maupun dimasyarakat.46

44Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 79

45Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 87

46Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 87

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan guru BK bagi siswa autisme adalah guru BK berperan membantu peserta didik dalam mengembangkan tugas-tugas perkembangnnya dan membantu peserta didik dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dialaminya sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif.

Deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengambarkan kejadian yang terjadi dilapangan. Sesuai dengan data dan informasi atau penelitian yang berusaha untuk mengumpulkan data-data, menyajikan data, menganalisis data, menggambarkan pemecahan masalah yang ada.47Penelitian kualitatif yaitu sebuah penelitian yang berusaha mengungkapkan keadaan yang bersifat alamiah yang bukan hanya menggambarakan variabel-variabel tunggal melainkan dapat menggabungkan antara variabel dengan variabel lain.48

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu untuk mencoba mengambarkan fenomena secara detail.49 Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian lapangan (fied research), yaitu “penelitian yang dilakukan disuatu lokasi, ruangan yang luas atau di tengah-tengah masyarakat”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif

47S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet Ke 6, hal. 36

48U. Maman, Metodologi Penelitian Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 70

49A. Muri Yusuf, Metodologi Penelitian, ( Padang: UNP, 1987), hal. 28

kualitatif. Penelitian ini menggambarkan peranan guru BK bagi siswa autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

B. Lokasi Penelitian

Penulis menetapkan lokasi penelitian ini di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang terletak di Jalan Pendidikan, Tarok Dipo, Bukittinggi, Kecamatan Guguk Panjang Provinsi Sumatera Barat. Adapun alasan penulis memilih lokasi penelitian ini karena pada lokasi ini penulis menemukan adanya siswa yang termasuk dalam kategori siswa autisme.

Dimana lokasi ini merupakan sekolah yang inklusi menerima siswa yang berkebutuhan khusus, salah satu dari siswa yang berkebutuhan khusus yang ada di sekolah ini adalah siswa yang autisme. Oleh karena itu penulis ingin meneliti bagaimana peranan guru BK bagi siswa autisme di sekolah ini.

C. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi, ia memiliki banyak pengalaman tentang latar belakang penelitian, ia berkewajiban secara sukarela menjadi anggota tim penelitian, walaupun bersifat informal.50 Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.51 Jadi informan ini orang yang banyak mengetahui latar belakang penelitian dan orang-orang yang dimanfaatkan

50Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal.

310

51 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), hal. 124

untuk memberikan informasi tentang situasi yang sesuai dengan tujuan peneliti.

Jadi informan mempunyai banyak pengalaman tentang latar belakang penelitian ini. Ia berkewajiban secara sukarela menjadi anggota tim penelitian walaupun hanya bersifat informal. Sebagai anggota tim tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian setempat.52

Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah guru BK, siswa serta orangtua yang bersangkutan dengan keterangan sebagai berikut:

1. Informan kunci adalah orang yang dijadikan informasi utama dalam penelitian, dalam hal ini yang menjadi sumber informasi utama yaitu guru BK.

2. Informan pendukung adalah informasi tambahan, dalam hal ini yang menjadi informan pendukung yang pertama yaitu siswa yang termasuk dalam kategori siswa autisme .

3. Informan pendukung yang kedua yaitu orangtua, yakni orangtua yang bisa berkomunikasi secara efektif.

Alasan peneliti mengambil guru BK, siswa serta orangtua yang bersangkutan, adalah karena hal yang akan diteliti ini merupakan tanggung jawab bersama antara guru BK serta orangtua memiliki pengaruh

52Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995), Cet Ke 6, hal. 158

yang cukup besar dalam memberikan peranan bagi siswa autisme, agar nantinya informasi yang dibutuhkan lebih valid dan akurat.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data yang lengkap dan tepat, penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.53Dengan demikian, observasi yang dilakukan oleh penulis untuk melihat dan mengamati suatu kegiatan yang terjadi di lapangan sehingga di peroleh data yang diperlukan dalam penelitian.

Observasi pada hakikatnya teknik pengumpulan data dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung perilaku-perilaku siswa.

Observasi dapat dilakukan secara berencana atau disebut juga dengan observasi yang bertujuan dengan memakai pedoman wawancara.54 Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses kegiatan biologis maupun psikologis.

Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu

53S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, ... hal. 158

54 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 219

dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.55

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa observasi adalah aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan.

Melalui observasi langsung oleh penulis maka akan memperoleh data yang sesuai dengan keinginan. Dalam penelitian ini penulis akan melaksanakan pengamatan dengan tujuan untuk memperoleh data atau gambaran bagaimana peranan guru BK bagi siswa autisme ini. Penulis mengamati siswa dengan tujuan untuk memperoleh data tentang bentuk perilaku siswa yang autisme. Kemudian juga mengamati peranan guru BK bagi siswa autisme.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada sumber data dan juga memberikan jawaban secara lisan. Dapat pula dikatakan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka antara pewawancara

55 Fadhilla Yusri, Instrumentasi Non-Tes Dalam Konseling, (Padang Panjang:

P3SDM Melati Publishing, 2015), hal. 140

dengan responden. Dimana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang telah dirancang sebelumnya.56

Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara tatap muka, pertanyaan diberikan secara lisan dan jawabannya pun diterima secara lisan pula.57 Penulis melakukan wawancara dengan seseorang untuk mendapatkan beberapa informasi terkait dengan masalah yang di teliti penulis.

Wawancara dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

a. Wawancara dengan cara melakukan pembicaraan informal.

b. Wawancara umum terarah.

c. Wawancara terbuka yang standar.58

Wawancara yang bertujuan untuk memperoleh data atau informasi.

Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara untuk mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan langsung dengan menggunakan panduan wawancara, yaitu kepada guru BK yang berguna untuk mengetahui bagaimana peranan guru BK bagi siswa autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

3. Studi Dokumentasi

Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang

56Fadhilla Yusri, Instrumentasi Non-Tes Dalam Konseling, ... hal. 156

57 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ... hal.

222

58Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2006), hal. 224

pendapat atau dokumentasi lainnya.59 Jadi dokumentasi ini sangat membantu penulis dalam mengumpulkan data atau informasi yang ada dilapangan tempat penelitian.

E. Teknik Analisis Data

Data adalah gambaran atau keterangan catatan tentang ada dan keadaan sesuatu.60 Data yang diperoleh oleh penulis didapatkan dari beberapa teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Data ini dikumpulkan sampai data tersebut jenuh. Data yang diperoleh dianalisis dengan kualitatif. Setelah data terkumpul maka peneliti melakukan penganalisaan data dengan menggunakan metode berfikir induktif, yaitu berangkat dari fakta yang bersifat khusus untuk mengambil keputusan yang bersifat umum.61

Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi kemudian dibuat kesimpulan sehingga mudah dipahami. Proses analisis data kualitatif merupakan suatu prosedur yang berkelanjutan dimulai dari mengorganisasi data melalui pemeriksaan data dengan cermat.62Dalam pengolahan data, mengolah data dengan cara menguraikan dan menghubungkan dengan aspek-apek yang lain lalu memberikan makna kemudian baru diambil kesimpulan.

59S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, ... hal. 181

60 Prayitno, Kegiatan Pendukung Konseling (Himpunan Data), (Padang: UNP, 2006), hal. 1

61 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, (Bandung:

Alfa Beta,2008), hal. 335

62 Nusa Putra, Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hal. 97

Adapun langkah yang digunakan dalam menganalisis data adalah:

1. Menelaah seluruh data yang diperoleh dari berbagai sumber, yaitu dari observasi, wawancara dan dokumentasi.

2. Reduksi data yang dilakukan dengan membuat abstraksi. Abtraksi ini merupakan usaha membuat rangkuman yang inti.63

F. Teknik Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data penulis menggunakan teknik tringulasi data. Tringulasi adalah teknik pengecekan data dengan cara pemeriksaan ulang. Pemeriksaan keabsaan data dengan cara tringulasi dilakukan untuk meningkatkan derjat kepercayaan dan akurat data. Teknik tringulasi ada 3 yaitu tringulasi sumber, metode dan waktu.64 Teknik tringulasi data yang paling banyak digunakan adalah tringulasi melalui sumber.

Melalui tringulasi sumber ini peneliti mencari informasi lain tentang masalah atau topik yang digalinya dari lebih satu sumber. Dengan berbagai sumber akan didapatkan informasi yang lebih akurat.Tringulasi dengan sumber berati membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif, hal ini dapat dicapai melalui:

1. Membandingkan data observasi dengan data hasil wawancara.

63Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ... hal. 190

64Nusa Putra, Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan, ... hal. 103

2. Membandingkan dengan apa yang dikatakan didepan umum dengan yang dikatakan secara pribadi.

3. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.65

65Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ... hal. 178

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada penulisan bab ini, peneliti akan mengungkapkan dan menggambarkan tentang Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2 Bukittinggi, yaitu membantu pencapaian tugas perkembangan dalam bersosialisasi dan mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik.

A. Membantu Pencapaian Tugas Perkembangan Dalam Bersosialisasi 1. Memberikan Layanan BK

Guru BK berperan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang autisme sesuai dengan kemampuan, bakat dan juga minat peserta didik. Dengan adanya pemberian layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru BK dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan tugas perkembangannnya secara optimal.

Dari hasil wawancara peneliti dengan guru BK di SMP Negeri 2 Bukittinggi mengatakan bahwa:

“layanan BK yang saya berikan kepada peserta didik yang autisme sama dengan peserta didik lainnya (peserta didik yang normal), dimana dalam proses pemberian layanan pembelajaran tidak ada perbedaan antara peserta didik yang inklusi dengan peserta didik yang reguler.

Seperti dalam pemberian layanan informasi, penguasaan konten, penempatan dan penyaluran dan jenis layanan BK lainnya yang dilaksanakan baik secara klasikal, kelompok maupun individual disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan juga minat peserta didik dengan menggunakan berbagai media pembelajaran seperti, infokus, papan tulis, spidol dan

media pembelajaran lainnya agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal”.66

Senada dengan hasil wawancara peneliti dengan orangtua peserta didik yang autisme juga mengatakan bahwa:

“Guru BK memberikan layanan belajar yang baik kepada anak saya, tidak membeda-bedakan anak saya dengan anak yang lainnya (anak yang normal). Dimana guru BK membimbing anak saya secara berlahan untuk bisa belajar seperti anak-anak lainnya dan tidak memaksakan anak saya untuk harus bisa seperti temannya karena guru BK dapat memahami bahwa anak saya adalah anak yang inklusi”.67

Senada dengan hasil wawancara peneliti dengan peserta didik yang autisme mengatakan bahwa:

“Guru BK mengajarkan saya bagaimana cara belajar yang baik dan menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya, guru BK tidak membeda-bedakan saya dengan teman lainnya dalam memberikan layanan belajar di kelas”.68

Dari hasil temuan di atas dapat dijelaskan bahwa adapun layanan BK yang diberikan oleh guru BK kepada peserta didik yang autisme, yaitu sama dengan peserta didik lainnya (peserta didik yang normal) karena tidak ada perbedaan antara peserta didik yang inklusi dengan

Dari hasil temuan di atas dapat dijelaskan bahwa adapun layanan BK yang diberikan oleh guru BK kepada peserta didik yang autisme, yaitu sama dengan peserta didik lainnya (peserta didik yang normal) karena tidak ada perbedaan antara peserta didik yang inklusi dengan

Dalam dokumen Oleh. Erida Agriani (Halaman 41-76)

Dokumen terkait