• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh. Erida Agriani

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh. Erida Agriani"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN GURU BK BAGI SISWA AUTISME DI SMP NEGERI 2 BUKITTINGGI

Skripsi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Prodi Pendidikan Bimbingan Dan Konseling

Oleh Erida Agriani

2614.235

PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

TAHUN 2018 M/ 1439 H

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini atas nama ERIDA ANGRIANI, NIM. 2614.235 dengan judul

”Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2 Bukittinggi” Telah diperiksa dan dapat disetujui untuk dimunaqasahkan.

Demikian persetujuan pembimbing ini diberikan untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Bukittinggi, Agustus 2018

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Charles, S.Ag, M.Pd.I Alfi Rahmi, M.Pd

NIP. 19770411 200312 1 002 NIP. 19790723 200604 2 002

(3)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama/ NIM : ERIDA ANGRIANI/ 2614.235

Tempat/ Tanggal Lahir : Koto Tangah/ 06 Agustus 1995

Fakultas/ Jurusan : Tarbiyah/ Bimbingan Konseling

Judul : Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme

Menyatakan dengan sesungguhnya karya ilmiah (skripsi) dengan judul di atas adalah benar asli karya penulis. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini bukan karya sendiri. Maka penulis bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku dengan gelar kesarjanaan penulis dicopot sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Demikianlah surat pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Bukittinggi, Agustus 2018 Penelitian

ERIDA ANGRIANI NIM. 2614.235

(4)

ABSTRAK

ERIDA ANGRIANI, NIM 2614.235, Judul Skripsi “Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2 Bukittinggi” Prodi Bimbingan dan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi tahun 2018.

Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme sangat penting karena guru BK berperan dalam membantu peserta didik untuk mengatasi setiap permasalahnnya, mengarahkan peserta didik ke arah yang lebih baik lagi sehingga peserta didik dapat menjalankan tugas perkembangnnya dengan semestinya. Dalam hal ini SMP Negeri 2 Bukitinggi memiliki salah seorang peserta didik yang dikategorikan autisme, dimana peserta didik ini adalah salah satu dari peserta didik yang berkebutuhan khusus (inklusi).

Maka dari itu peneliti melakukan penelitian tentang Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan mengambarkan kejadian yang terjadi dilapangan dengan secara sistematis. Dalam pengambilan data ini yang menjadi informan kuncinya adalah Guru BK dan menjadi informan pendukung adalah orangtua siswa dan siswa autisme SMP Negeri 2 Bukittinggi.

Pengumpulan data yang dilakukan peneneliti iyalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Data tersebut diolah dengan cara traingulasi data dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan data dokumentasi.

Hasil dari temuan peneliti mengenai Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme adalah guru BK berperan untuk membantu pencapaian tugas perkembangan peserta didik dalam bersosialisasi, yaitu dengan cara guru BK memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang autisme sama dengan peserta didik lainnya (peserta didik yang normal) karena tidak ada perbedaan antara peserta didik yang inklusi dengan reguler dalam pemberian layanan BK di sekolah sehingga dengan keadaan tersebut peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Kemudian guru BK berperan untuk mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik, yaitu dengan cara melihat bagaimana peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas dan melakukan tes diagnostik terhadap peserta didik yang digunakan untuk melihat kesulitan belajar peserta didik, dengan keadaan tersebut guru BK dapat membantu peserta didik dalam mengatasi kesulitan belajarnya sehingga peserta didik dapat meningkatkan prestasinya dalam belajar.

(5)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Kemudian shalawat dan salam peneliti ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mewariskan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk kebenaran sampai akhir zaman.

Penghargaan dan cinta terbesar peneliti tujukan kepada Ayahanda Feri Andra dan Ibunda Erna Waty yang telah memberikan cinta kasih, mengasuh, mendidik dan memberikan motivasi dalam mencapai cita-cita peneliti. Hal ini juga peneliti sampaikan kepada kakak-kakak dan adik-adik yang telah memberikan semangat dalam menyelesaikan pendidikan peneliti. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Pd dan Bapak Asyari, S.Ag, M.SI selaku Rektor dan Wakil Rektor IAIN Bukittinggi

2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc, M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

3. Ibu Alfi Rahmi, M.Pd selaku Ketua Prodi Pendidikan Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan fasilitas kepada peneliti dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi ini.

(6)

4. Ibu Dr. Zulfani Sesmiarni, selaku Penasehat Akademik (PA) yang telah memberikan dorongan kepada peneliti untuk menyelesaikan studi di IAIN Bukittinggi.

5. Bapak Charles, S.Ag, M.Pd.I selaku pembimbing I dan Ibu Alfi Rahmi, M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberikan arahan, bimbingan, saran serta masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan dan karyawati IAIN Bukittinggi yang telah membekali peneliti dengan berbagai ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

7. Pimpinan karyawan dan karyawati perpustakaan IAIN Bukittinggi yang telah menyediakan fasilitas kepada peneliti untuk mengadakan studi kepustakaan.

8. Kepada Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Bukittinggi Masrinal, S.Pd yang telah mengizinkan peneliti melakukan penelitian dan majelis guru terutama guru BK khusunya kepada Ibu Rahm Refalinai, S.Pd yang telah membimbing dan memberi arahan kepada peneliti dalam melakukan penelitian.

Atas segala bantuan yang telah diberikan, peneliti ucapkan terima kasih, semoga amalan dan jasa baik yang telah diberikan mendapat balasan pahala disisi Allah SWT. Akhirnya hanya kepada Allah SWT peneliti berserah diri dan mohon ampun dari dosa dan kekhilafan.

Bukittinggi, Agustus 2018 Peneliti

ERIDA ANGRIANI 2614.235

(7)

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN PEMBIMBING...i

SURAT PERNYATAAN...ii

ABSTRAK...ii

KATA PENGANTAR...iv

DAFTAR ISI...vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 11

C. Batasan Masalah... 12

D. Rumusan Masalah ... 12

E. Tujuan Penelitian ... 12

F. Kegunaan Penelitian... 12

G. Penjelasan Judul ... 13

H. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Guru BK 1. Pengertian Guru BK... 15

2. Kompetensi Guru BK... 16

3. Syarat-Syarat Guru BK...18

4. Peranan Guru BK ... 20

B. Anak Autisme 1. Pengertian Autisme ... 22

2. Ciri-Ciri Anak Autisme ... 25

3. Faktor-Faktor Penyebab Autisme ... 30

4. Penanganan Anak Autisme...33

C. Peranan Guru Bagi Siswa Autisme...36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 41

B. Lokasi Penelitian... 42

C. Informan... 42

(8)

D. Teknik Pengumpulan Data... 44

E. Teknik Analisis Data... 47

F. Teknik Keabsahan Data ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Membantu Pencapaian Tugas Perkembangan Dalam Bersosialisasi 1. Memberikan Layanan BK...50

2. Memberikan Layanan Informasi...52

3. Membimbing Dalam Pemilihan Karir...54

B. Mengungkapkan Kesulitan Belajar 1. Melakukan Obesrvasi...56

2. Melakukan Interview...58

3. Melakukan Tes Diagnostik...59

4. Melakukan Dokumentasi...61

BAB V A. Kesimpulan...63

B. Saran...64

DAFTAR KEPUSTAKAAN...66 LAMPIRAN

(9)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan bagi umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Pendidikan pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia untuk membantu mengarahkan fitrah manusia supaya berkembang secara maksimal sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, masyarakat, bangsa dan negara.1

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai harganya bagi individu dan masyarakat, yang merupakan proses esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu. Selain itu pendidikan merupakan proses yang melibatkan berbagai faktor dalam upaya mencapai kehidupan yang bermakna, baik bagi kehidupan individu itu sendiri ataupun masyarakat. Konstribusi pendidikan yang diharapkan bagi perkembangan para peserta pendidikan yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan potensi peserta didik agar menjadi manusia berilmu, cakap, kreatif dan mandiri. Hal ini menunjukkan dapat membentuk karakter peserta didik.2

1 Prayitno, Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung Konseling, (Padang: FIP- UNP, 2012), hal. 5

2Syamsu Yusuf, Juntika Nurhisan, Landasan Bimbingan Konseling, (Bandung:

Remaja Rosda Karya, 2008)

(10)

Bahkan di dalam Islam jauh sebelum itu manusia yang berilmu telah dijanjikan oleh Allah SWT akan diangkat derajatnya seperti yang terdapat dalam QS Al-Mujadalah : 11



















“...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat....”( QS Al-Mujadalah/ 58 : 11)

Karenanya manusia dituntut untuk belajar dan menuntut ilmu dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dalam berbagai bentuk pendidikan, baik itu pendidikan formal, informal ataupun melalui pendidikan biasa maupun luar biasa, karena pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam menciptakan kelangsungan hidup manusia.

Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak yang memiliki kelainan fisik dan mental disebut dengan istilah anak berkebutuhan khusus.3 Kemudian dalam Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3) menetapkan bahwa peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan motorik, menjadi korban

3 Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 17

(11)

penyalah gunaan narkotika, obat terlarang, zat adiktif lain, dan memiliki kelainan lain.4

Pengertian “luar biasa” dalam dunia pendidikan mempunyai ruang lingkup pengertian yang lebih luas dari pada pengertian “berkelainan atau cacat” dalam percakapan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan istilah luar biasa mengandung pengertian ganda, yaitu mereka yang menyimpang ke atas karena mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dibanding dengan orang normal pada umumnya dan mereka yang menyimpang ke bawah, yaitu mereka yang menderita kelainan atau ketunaan dan kekurangan yang tidak diderita oleh orang normal pada umumnya.5

Hallahan dan Kauffman mengatakan dalam buku Abdul Hadis bahwa anak yang berkebutuhan khusus (dulu disebut sebagai anak luar biasa) didefenisikan sebagai anak yang memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara sempurna. Anak luar biasa juga dapat didefenisikan sebagai anak yang berkebutuhan khusus, karena dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, anak ini membutuhkan bantuan layanan pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling dan berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.6 Dalam Wikipedia Anak berkebutuhan khusus disebut juga heward yang artinya adalah anak yang

4Wikipedia bahasa Indonesia https://id.m.wikipedia. org

5 Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, (Bandung:

Alfabeta, 2006), hal. 5

6Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 5-6

(12)

berbeda dengan anak lain pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidak mampuan mental, emosi, atau fisik.7 Adapun salah satu dari jenis anak yang berkebutuhan khusus ini adalah anak yang autisme.

Dimana autisme adalah istilah bagi anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan kemampuannya. Gejala autis sebenarnya sudah tampak sejak masa awal kehidupannya. Misalnya saja, ketika bayi tidak merespon kehadiran orangtuanya, bahkan menolak sentuhan orangtuanya atau melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak dilakukan oleh bayi normal lain pada umumnya.8

Autisme adalah salah satu (yang paling dikenal) diantara beberapa gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan keterlambatan dan gangguan yang parah pada beberapa area perkembangan, seperti pada interaksi sosial, komunikasi dengan orang lain, perilaku bermain, aktivitas sosial dan minat sehari-hari.9

Gangguan autisme juga merupakan salah satu gangguan terparah dimasa kanak-kanak yang bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup. Cara berfikir autistik adalah kecenderungan untuk memandang diri

7 Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, ... hal. 17

8Nini Subini, Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak, (Jogjakarta: Javalitera, 2015), hal. 88

9Lusi Nuryanti, Psikologi Anak, (PT Macanan Jaya Cemerlang, 2008), hal. 83

(13)

sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri.10

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan pada perkembangan anak yang disebabkan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi, perilaku dan juga minat sehari-hari anak sehingga dengan keadaan tersebut mengakibatkan anak sulit untuk berinteraksi sosial dan menjalin hubungan dengan orang lain ataupun dengan orang yang ada dilingkungkan sekitarnya.

Maka dari itu biasanya anak yang mengalami gangguan autisme memerlukan pendidikan yang berbeda dari anak-anak yang lainnya (anak yang normal), dimana biasanya anak yang autisme ini dimasukkan ke sekolah yang lebih khusus, seperti sekolah luar biasa (SLB). Namun walaupun demikian tidak semua anak yang berkebutuhan khusus harus dimasukkan ke sekolah yang khusus pula, dimana anak-anak tersebut juga bisa dimasukkan ke sekolah yang biasa pada umumnya, seperti sekolah umum yang inklusi.

Sekolah inklusi merupakan sekolah yang dapat menerima anak- anak yang memilki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah. Bagi sebagian besar pendidik, istilah ini dilihat sebagai deskripsi yang lebih positif dalam usaha-usaha

10Jefrey S. Nevid dkk, Psikologi Abnormal Edisi 5, (Jakarta: Erlangga, 2002), Jil Ke 2, hal. 145

(14)

menyatukan anak-anak yang memiliki hambatan dengan cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh.11

Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 70 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Upaya Pemerintah untuk melaksanakan pendidikan inklusi ini dituangkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional tentang pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas, serta surat Edaran Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendiknas Nomor 380/C.C6/MN/2003, Tanggal 20 Januari 2003, yakni setiap kabupaten/ kota diwajibkan menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan inklusi disekurang- kuranya 4 sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA, SMK.12

11 David Smith, Sekolah Inklusif Konsep dan Penerapan Pembelajaran, (Bandung: Nuansa, 2006), hal. 45

12 Peni Puspito, Kebijakan Pendidikan Inklusi di Indonesia, (Blog: Seni Pertunjukan, Sabtu , 21 Februari 2015, penpenk26.blogspot.co.id)

(15)

Hal ini juga sesuai dengan firman Allah SWT seperti yang terdapat dalam QS Az-Zukhruf : 32









































“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan

sebagian yang lain.”(QS Az-Zukhruf/ 43 : 32)

Berdasarkan ayat di atas menunjukkan bahwa setiap kita haruslah berfungsi dan bermanfaat bagi makhluk lain khusus bagi sesama manusia karena kebutuhan kita sebagai manusia untuk menuntut dan memperoleh ilmu sangatlah urgent dan wajib, oleh karena itu setiap yang memiliki ilmu maka haruslah memberikan dan mengajarkannya kepada orang lain dan tidak terkecuali bagi orang berstatus menyandang cacat maupun yang berkebutuhan khusus.

Satuan pendidikan tertentu yang menyelenggarakan pendidikan inklusi sebagai sistem pendidikan khusus yang akan diberlakukan secara nasional juga akan menggunakan kurikulum yang berbasis kompetensi.

Namun perlu diingat bahwa pelaksanaan atau penetapan kurikulum yang berbasis kompetensi tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus diberbagai jenjang pendidikan, yaitu mulai dari jenjang pendidikan Taman Kanak- Kanak Luar Biasa, Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah-Sekolah

(16)

Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB).13

Melalui pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik autistik diharapkan peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Selain itu, dengan bantuan layanan bimbingan dan konseling, peserta didik autistik diharapkan dapat memecahkan kesulitan belajarnya sehingga dapat belajar dengan baik, memilih dan memutuskan suatu jenis karir tertentu secara tepat sesuai bakat, minat dan kemampuannya dan mengatasi masalah- masalah pribadi yang dialami atas kemampuan sendiri dengan bantuan petugas bimbingan dan konseling.14

Adapun peranan guru BK bagi peserta didik autisme, yaitu guru BK berperan membantu pencapaian tugas perkembangan peserta didik dalam bersosialisasi dengan memberikan layanan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat peserta didik. Memberikan layanan informasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta membimbing peserta didik untuk memilih karir di sekolah. Kemudian guru BK berperan mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik dengan melakukan observasi untuk memperoleh data peserta didik secara langsung. Melakukan interview dengan wawancara langsung terhadap peserta didik atau terhadap orang lain yang dapat memberikan

13Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 34

14Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 79

(17)

informasi tentang peserta didik. Melakukan tes diagnostik untuk mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik serta melakukan dokumentasi untuk mengetahui lebih jauh tentang kesulitan belajar peserta didik.15

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang terletak di Jalan Pendidikan, Tarok Dipo, Bukittinggi, Kecamatan Guguk Panjang Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 17 Mei 2018. Sekolah ini merupakan sekolah yang inklusi menerima siswa yang berkebutuhan khusus, salah satu dari siswa yang berkebutuhan khusus yang ada di sekolah ini adalah siswa yang autisme.

Adapun jumlah peserta didik yang berada di SMP tersebut kurang lebih sebanyak 1275 peserta didik, dengan jumlah lokal sebanyak 29 kelas yang tiap kelasnya berisi sekitar 30-35 orang peserta didik perkelas. Namun jumlah peserta didik yang autisme di sekolah tersebut hanya ada 1 orang peserta didik.16

Pada wawancara awal ini penulis menemui salah seorang guru BK yang ada di sekolah tersebut untuk meminta informasi mengenai jumlah peserta didik yang autisme. Dari informasi yang penulis dapatkan jumlah peserta didik yang termasuk kategori autisme ada 1 orang, yaitu peserta didik pada kelas 3.

15 Desje Lattu, Peran Guru Bimbingan dan Konseling Pada Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi, (Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 20 Desember 2017, http://ojs.unpatti.ac.id/index.php/bkt)

16Wawancara Awal Dengan Guru BK Di SMP Negeri 2 Bukittinggi Tanggal 17 Mei 2018

(18)

Kemudian, disini penulis mengobservasi langsung peserta didik yang autisme tersebut. Dari hasil pengamatan yang penulis dapatkan di lapangan terlihat bahwa peserta didik yang autisme ketika dalam proses pembelajaran ia bisa memahami pelajaran yang dijelaskan oleh guru, akan tetapi ia sangat membutuhkan konsentrasi dan arahan dari guru ketika belajar, apabila ada gangguan sedikit saja konsentrasi dari peserta didik tersebut bisa hilang dan akan sulit memahami pelajaran kembali. Ketika jam istirahat terlihat bahwa peserta didik tidak mau bermain dengan teman sebayanya, ia lebih suka menyendiri dan sibuk dengan kegiatannya sendiri.17

Disini penulis juga melakukan observasi ke rumah peserta didik yang berada di Jln Pendidikan Tarok N0. 5B Bukittinggi Tanggal 17 Mei 2018 untuk melihat bagaimana kondisi peserta didik di rumah dan melakukan wawancara dengan orangtua dari peserta didik. Dimana dari hasil observasi yang penulis lakukan terlihat bahwa peserta didik di rumah ia suka sibuk dengan kegiatannya sendiri, apa yang ia minta harus dipenuhi oleh orangtuanya apabila tidak dipenuhi maka ia akan marah- marah. Dan dari penjelasan orangtuanya bahwa peserta didik tersebut memang tidak mau bermain dengan teman sebayanya, ia lebih suka bermain di rumah sendiri dari pada di luar dengan teman sebayanya.18

17Observasi Peserta Didik Di SMP Negeri 2 Bukittinggi Tanggal 17 Mei 2018

18 Observasi Ke Rumah Peserta Didik Di Jln Pendidikan Tarok N0. 5B Bukittinggi Tanggal 17 Mei 2018

(19)

Adapun peranan dan pelayanan yang diberikan guru BK di sekolah bagi peserta didik autisme tersebut yaitu sama dengan peserta didik yang lainnya (peserta didik yang normal), hanya saja terkadang apabila peserta didik mendapat gangguan belajar seperti ketika hilang konsentrasi belajarnya ketika jam pelajaran maka guru BK akan membimbingnya kembali di luar jam pelajaran, yakni ketika jam istirahat.19

Berdasarkan fenomena di atas membuat penulis ingin mengetahui lebih dalam mengenai peranan guru BK bagi peserta didik autisme di sekolah tersebut. Sehingga penulis membuat judul tulisan ini menjadi

“Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2

Bukittinggi”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas dapat dikemukakan identifikasi masalah dalam penelitian ini, antara lain:

1. Peserta didik autisme membutuhkan konsentrasi dalam belajar.

2. Peserta didik tidak mau ataupun sulit menjalin interaksi dengan teman sebaya.

3. Peserta didik sibuk dengan kegiatannya sendiri.

4. Kurang efektifnya pelayanan dan bimbingan guru BK bagi peserta didik autisme.

19Observasi Peserta Didik Di SMP Negeri 2 Bukittinggi Tanggal 17 Mei 2018

(20)

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis membatasi penelitian dengan pokok permasalahannya sebagai berikut: Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

D. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah di atas dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Bagaimana Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi?

E. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan bagi penulis dalam melakukan penilitian ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

F. Guna Penelitian

Dari tujuan yang di maksudkan di atas, peneliti dapat memperoleh kegunaan sebagai berikut:

1. Sebagai pemikiran untuk guru BK dalam mengentaskan masalah peserta didik yang autisme.

2. Sebagai bahan referensi bagi peniliti selanjutnya setelah menyelesaikan permasalahan ini.

3. Untuk melengkapi salah satu syarat guna mendapatkan gelar sarjana (S1) pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Bimbingan dan Konseling IAIN Bukittinggi.

(21)

G. Penjelasan Judul

Untuk menghindari kesalah pahaman akan maksud judul ini, maka peneliti akan memberi penjelasan istilah yang terdapat dalam judul sebagai berikut:

Peranan : Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Peranan juga dapat diartikan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.20

Guru BK : Guru BK adalah sebagai tenaga profesional yang telah dipersiapkan oleh lembaga atau instansi pendidikan yang berwenang untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalahnya, baik masalah pribadi sosial, akademik maupun karir.21

Autisme : Adalah salah satu (yang paling dikenal) diantara beberapa gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan keterlambatan dan gangguan yang parah pada beberapa area perkembangan, seperti pada interaksi sosial, komunikasi

20 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), hal. 242.

21Ulifa Rahma, Bimbingan Karir Siswa, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hal.

67

(22)

dengan orang lain, perilaku bermain, aktivitas sosial dan minat sehari-hari.22

Jadi dari penjelasan tersebut, adapun peneliti yang maksud dengan judul di atas adalah bagaimana Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

H. Sistematika Penulisan

Penulisan karya ilmiah ini terdiri dari tiga bagian, dan setiap bagian terdiri dari bab-bab yang berbeda yang mana antara yang satu saling berkaitan dengan yang lain.

Bab I merupakan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul dan sistematika penulisan.

Bab II merupakan landasan teori yang mengemukakan pembahasan secara teoritis dalam hal ini berkenaan dengan Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme Di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

Bab III memaparkan tentang metodologi penelitian yang mengemukakan tentang jenis penelitian, lokasi penelitian, informasi penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.

22Lusi Nuryanti, Psikologi Anak, ... hal. 83

(23)

BAB II

LANDASAN TEORITIS A. Guru BK

1. Pengertian Guru BK

SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No.0433/P/1993 dan No.25 Tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Pasal 1 ayat 4 mengatakan bahwa Guru BK adalah guru yang mempunyai tugas, tunggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.23 Guru BK adalah personil yang diberikan tugas penuh dalam bidang pelayanan bimbingan dan konseling.24

Guru BK adalah sebagai tenaga profesional yang telah dipersiapkan oleh lembaga atau instansi pendidikan yang berwenang untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalahnya, baik masalah pribadi sosial, akademik maupun karir.25

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru BK adalah seseorang yang mempunyai kemampuan, tanggung jawab dan wewenang dalam kegiatan bimbingan dan konseling untuk membantu perkembangan siswa atau klien. Keahlian guru BK dalam melaksanakan bimbingan dan konseling ini lah yang membedakan

23 Prayitno, Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah Dasar, (Jakarta:

PT.Ikrariabadi, 1997), hal. 9

24Prayitno, Profesionalitas Konseling dan Pendidikan Konselor, (IKIP Padang , 1999), hal. 7

25Ulifa Rahma, Bimbingan Karir Siswa, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), hal.

67

(24)

guru BK dengan guru biasa seperti guru mata pelalajaran, wali kelas dan lain-lain.

2. Kompetensi Guru BK

Sebagaimana Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor, maka untuk dapat diangkat sebagai konselor, seseorang wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor yang berlaku secara nasional.

Rumusan standar kompetensi konselor telah dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan eskpektasi kinerja konselor. Namun bila ditata ke dalam 4 kompetensi pendidik sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, maka rumusan kompetensi akademik dan profesional konselor dapat dipetakan dan dirumuskan ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagai berikut:

a. Kompetensi pedagogik

1) Menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya.

2) Mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran.

3) Menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan.

b. Kompetensi kepribadian

1) Menampilkan kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2) Konsisten dalam menjalankan kehidupan beragama dan toleran terhadap pemeluk agama lain.

3) Berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.

(25)

c. Kompetensi sosial

1) Memahami dasar, tujuan, organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/ madrasah, komite sekolah/ madrasah) di tempat bekerja.

2) Mengkomunikasi dasar, tujuan dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja.

3) Bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orangtua, tenaga administrasi).

d. Kompetensi profesional

1) Menguasai hakikat asesmen.

2) Memilih teknik asesmen, sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling.

3) Menyusun dan mengembangkan instrumentasi asesmen untuk keperluan bimbingan dan konseling.

4) Mengadministrasi asesmen untuk mengungkapkan masalah- masalah konseli.

5) Memilih dan mengadminitrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli.26

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun yang menjadi kompetensi seorang guru BK adalah pertama yaitu kompetensi pedagogik yang merupakan kompetensi seorang guru BK dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran, kompetensi kepribadian yang merupakan penampilan kepribadian seorang guru BK yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, kompetensi sosial yang merupakan kemampuan guru BK dalam bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru, orangtua dan tenaga administrasi dan kompetensi profesional yang merupakan kemampuan guru BK dalam memilih teknik asesmen sesuai

26 Daryanto. Bimbingan Konseling Panduan Guru BK dan Guru Umum, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hal. 13

(26)

dengan kebutuhan dalam menjalankan pelayanan bimbingan dan konseling.

3. Syarat-Syarat Guru BK

Arifin dan Eti Kartikawati dalam buku Tohirin menyatakan bahwa:

guru pembimbing dipilih atas dasar kualifikasi sebagai berikut:

a. Syarat yang berkenaan dengan kepribadian

Seorang guru BK harus memiliki kepribadian yang baik.

Pelayanan bimbingan dan konseling berkaitan dengan pembentukan prilaku dan kepribadian klien. Melalui konseling diharapakan terbentuk prilaku positif (akhlak baik) dan kepribadian yang baik pula pada diri klien. Hal itu akan sempurna dilakukan apa bila seorang guru BK memiliki kepribadian yang baik pula.

b. Syarat yang berkenaan dengan pendidikan

Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan pekerjaan yang profesional, setiap pekerjaan profesional menuntut persyaratan tertentu antara lain pendidikan. Seorang guru BK selayaknya memiliki pendidikan profesi, yaitu jurusan bimbingan dan konseling (S-1), S-2 maupun S-3 atau sekurang-kurangnya pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang bimbingan dan konseling.

c. Syarat yang berkenaan dengan pengalaman

Pengalaman memberikan pelayanan berkontribusi terhadap keleluasaan wawasan pembimbing/ konselor yang bersangkutan.

(27)

Syarat pengalaman bagi calon guru BK setidaknya pernah diperoleh melalui praktik mikro konseling, yakni praktik BK dalam laboratorium BK dan makro konseling yakni prektik pengalaman lapangan (PPL) bimbingan dan konseling. Setidaknya calon guru BK disekolah dan madrasah pernah berpengalaman memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.

d. Syarat yang berkenaan dengan kemampuan

Kepemilikan kemampuan atau kompetensi dan keterampilan oleh BK merupakan suatu keniscayaan, tanpa kemampuan dan keterampilan konselor tidak dapat melaksankan tugas dengan baik. Guru BK harus mampu mengetahui dan memahami secara mendalam sifat seorang, daya kekuatan pada diri seseorang, merasakan kekuatan jiwa dan mengembangkan potensi individu secara positif.27

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang guru BK atau konselor hendaklah memiliki syarat-syarat seperti yang dijelaskan di atas, karena hal itu sangat menentukan dan menjamin kualitas pribadi seorang konselor yang profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru BK.

27 Tohirin, BK di Sekolah dan Madrasah Berbasis Integrasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 117-122

(28)

4. Peranan Guru BK

Tugas dan peranan guru BK atau seorang konselor di masa depan semakin berat, tetapi menggairahkan. Tugas dan peranan yang sangat berat itu tidak dapat diselenggarakan dengan cara seadanya, melainkan memerlukan usaha yang benar-benar matang. Perwujudan tugas dan peranan guru pembimbing atau seorang konselor di masyarakat itu berupa unjuk kerja itulah yang akan menjadi ukuran, apakah konselor dengan pelayanan bimbingan dan konseling benar-benar mempunyai sesuatu yang berharga dan diharapkan oleh masyarakat yang selalu dinamis dan juga berkembang.

Untuk tugas atau kerja serta peranan yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

a. Mengajar dalam bidang psikologi dan bimbingan konseling.

b. Mengorganisasikan program bimbingan dan konseling.

c. Menyusun program bimbingan konseling.

d. Memasyarakatkan pelayanan bimbingan konseling.

e. Mengungkapkan masalah klien.

f. Menyelenggarakan pengumpulan data tentang minat, bakat, kemampuan dan kondisi kepribadian.

g. Menyusun dan mengembangkan himpunan data (Cummulative Records).

h. Menyelenggarakan konseling perorangan.

i. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling kelompok.

(29)

j. Menyelenggarakan orientasi kepada siswa baru.

k. Penyelenggaraan kegiatan Ko dan Ekstrakurikuler.

l. Membantu guru bidang studi dalam mendiagnosis kesulitan belajar.

m. Membantu guru bidang studi dalam penyelenggaraan pengajaran perbaikan dan program pengayaan.

n. Menyelenggarakan program bimbingan kelompok belajar.

o. Menyelenggarakan pelayanan penempatan dan penyaluran bagi siswa.

p. Menyelenggarakan bimbingan karier dan pemberian informasi pendidikan ataupun jabatan.

q. Menyelenggarakan konferensi kasus di sekolah.

r. Melakukan kunjungan rumah dan menyelenggarakan terapi kepustakaan.

s. Menyelenggarakan konseling keluarga.

t. Merangsang perubahan lingkungan klien.

u. Menyelenggarakan konsultasi khusus.28

Harold Alberty dalam buku Oemar Hamalik mengemukakan peran ahli bimbingan sebagai berikut:

a. Mengoordinasikan pengajaran kelompok dan pengejaran individual yang menjadi tanggung jawab pokok guru kelas.

28Prayitno. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), hal. 359

(30)

b. Mengadministrasikan program untuk lebih memahami para siswa melalui penyediaan data yang memadai.

c. Membantu penyaluran para siswa ke lapangan pekerjaan, baik yang bersifat honoren maupun tenaga penuh setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.

d. Berusaha memecahkan kasus yang sulit yang berkenaan dengan masalah gangguan fisik dan psikologis melalui latihan psikiatris.29 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun yang menjadi peranan seorang guru BK adalah menyusun dan menjalankan program penyelenggaraan bimbingan konseling dengan baik agar tercapainya suatu tujuan tertentu dalam proses bimbingan dan konseling.

B. Anak Autisme

1. Pengertian Autisme

Autisme (autism), atau gangguan autistik, adalah salah satu gangguan terparah dimasa kanak-kanak. Autisme bersifat kronis dan berlangsung sepanjang hidup. Kata autisme berasal dari Yunani, autos yang berarti “self.” Istilah ini digunakan pertama kali pada tahun 1906 oleh psikiater Swiss, Eugen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada penderita skizofrenia (autisme adalah salah satu dari

“empat A” Bleuler). Cara berfikir autistik adalah kecenderungan untuk

29Oemar Hamalik,Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung : Sinar Bandung Algensindo, 2009), hal. 198

(31)

memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian-kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri.30

Autisme adalah salah satu (yang paling dikenal) diantara beberapa gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan keterlambatan dan gangguan yang parah pada beberapa area perkembangan, seperti pada interaksi sosial, komunikasi dengan orang lain, perilaku bermain, aktivitas sosial dan minat sehari-hari.31

Dimana secara sederhana autisme juga dapat diartikan dengan sikap anak yang cenderung suka menyendiri karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Dengan kata lain anak yang sibuk dengan urusannya sendiri ketimbang bersosialisasi dengan orang lain disekitarnya.32

Autis adalah istilah bagi anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan kemampuannya. Gejala autis sebenarnya sudah tampak sejak masa awal kehidupannya. Misalnya saja, ketika bayi tidak merespon kehadiran orangtuanya, bahkan menolak sentuhan orangtuanya atau melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak dilakukan oleh bayi normal lain pada umumnya.

Selain itu, ketika memasuki usia tertentu ketika mereka seharusnya bisa mulai mengucapkan beberapa kata seperti ‘mam’, ‘yah’ ‘bu’ dan sebagainya, ia tidak mampu melakukannya. Anak autis juga

30Jefrey S. Nevid dkk, Psikologi Abnormal Edisi 5, (Jakarta: Erlangga, 2002), Jil Ke 2, hal. 145

31Lusi Nuryanti, Psikologi Anak, (PT Macanan Jaya Cemerlang, 2008), hal. 83

32Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 187

(32)

mengalami keterlambatan dalam beberapa pengembangan kemampuan lainnya. Saat itulah seharusnya orangtua menyadari adanya kelainan pada diri anaknya. Namun, terkadang orangtua baru menyadari dan berkonsultasi dengan dokter setelah anaknya mengalami keterlambatan yang cukup lama (paling tidak 3 tahun). Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap tingkat keparahan yang tampak dari gangguan autis.

Berkaitan dengan masalah sosial, anak autis lebih cenderung sibuk dengan dirinya sendiri dari pada berinteraksi dengan lingkungannya.

Anak yang menderita autis, jika berada dalam satu ruangan dengan orang lain cenderung akan menyibukkan diri dengan aktivitasnya sendiri (yang umumnya pada benda mati). Anak autis hanya memusatkan perhatiannya pada apa yang dilakukan oleh tangannya.

Jika orangtua atau siapapun mencoba mengalihkan perhatiannya saat bermain, ia akan menjadi emosional.33

Pada umumnya, anak tergolong autis mungkin disebabkan oleh gangguan fungsi otak yang ditandai oleh kesukaran kemampuan kognisi sosial, seperti tidak memahami pendapat orang lain, tidak memilki keterampilan sosial dan interaksi sosial. Anak autis mengalami gangguan pada proses perkembangannya yang terentang dari gangguan yang sangat berat yang disebut autistic disorder sampai tahap ringan yang disebut asperger syndrome.

33Nini Subini, Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak, (Jogjakarta: Javalitera, 2015), hal. 88-89

(33)

Dimana Autistic disorder ini adalah gangguan perkembangan yang tergolong berat dan gejalanya telah tampak pada usia 3 tahun yang diatandai antara lain oleh kesulitan berinteraksi dengan orang lain, komunikasi yang tidak normal, kemampuannya sangat terbatas, terjadi pengulangan dan bentuk perilakunya terpola. Sedangkan asperger syndrome adalah anak yang mengalami autis yang tergolong ringan,

memiliki kemampuan bahasa ujaran relatif baik tapi bahasa nonverbal sedikit mengalami masalah, serta memiliki keterbatasan dalam bidang minat tertentu dan kemampuan dengan orang lain.34

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan pada perkembangan anak yang disebabkan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku, yang mengakibatkan anak sulit untuk berinteraksi sosial dan menjalin hubungan dengan orang lain ataupun dengan orang yang ada dilingkungkan sekitarnya.

2. Ciri- Ciri Anak Autisme

Depdiknas mendeskripsikan karakterristik anak autistik berdasarkan jenis masalah atau gangguan yang dialami oleh anak autistik. Ada 6 jenis masalah atau gangguan yang dialami oleh anak autistik, yaitu masalah komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, gangguan pola bermain, gangguan perilaku dan gangguan emosi. Ke 6 jenis masalah atau gangguan ini, masing-masing memiliki

34 I Nyoman Surna-Olga D. Pandeirot, PsikologI Pendidikan 1, (Erlangga: PT Gelora Aksara Prtama, 2014), hal. 212

(34)

karakteristik. Karakteristik dari masing-masing jenis masalah atau gangguan tersebut dideskripsikan sebagai berikut:

a. Masalah atau gangguan di bidang komunikasi, dengan karakter yang nampak pada anak autistik berupa:

1) Perekembangan bahasa anak autistik lambat atau sama sekali tidak ada. Anak tampak seperti tuli, sulit bicara, atau pernah berbicara lalu kemudian hilang kemampuan bicara.

2) Kadang-kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

3) Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

4) Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi. Senang meniru atau membeo (echolalia).

5) Bila senang meniru, dapat menghafal kata-kata atau nyanyian yang didengar tanpa mengerti artinya.

6) Sebagian dari anak autistik tidak berbicara (bukan kata-kata) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.

7) Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.

b. Masalah atau gangguan di bidang interaksi sosial, dengan karakteristik berupa:

1) Anak autistik lebih suka menyendiri.

2) Anak tidak melakukan kontak mata dengan orang lain atau menghindari tatapan muka atau mata dengan orang lain.

(35)

3) Tidak tertarik untuk bermain bersama dengan teman, baik yang sebaya maupun yang lebih tua dari umurnya.

4) Bila diajak bermain, anak autistik itu tidak mau dan menjauh.

c. Masalah atau gangguan di bidang sensoris, dengan karakteristik berupa:

1) Anak autistik tidak peka terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.

2) Anak autistik senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda yang ada di sekitarnya.

3) Tidak peka terhadap rasa sakit dan rasa takut.

d. Masalah atau gangguan di bidang pola bermain, dengan karekristiknya berupa:

1) Anak autistik tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.

2) Anak autistik tidak suka bermain dengan anak atau teman sebayanya.

3) Anak autistik tidak memiliki kreatifitas dan tidak memiliki imajinasi.

4) Anak autistik tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar.

5) Anak autistik senang terhadap benda-benda yang berputar seperti kipas angin, roda sepeda dan sejenisnya.

6) Anak autistik sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

(36)

e. Masalah atau gangguan di bidang perilaku, dengan karakteristiknya berupa:

1) Anak autistik dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku berkekurangan (hipoaktif).

2) Anak autistik memperlihatkan perilaku stimulus diri atau merangsang diri sendiri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung.

3) Berputar-putar mendekatkan mata ke pesawat televisi, lari-lari atau berjalan-jalan dengan bolak-balik dan melakukan gerakan yang diulang-ulang.

4) Anak autistik tidak suka kepada perubahan.

5) Anak autistik duduk bengong dengan tatapan kosong.

f. Masalah atau gangguan di bidang emosi, dengan karaktrtistiknya berupa:

1) Anak autistik sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa dan menangis tanpa alasan.

2) Anak autistik dapat mengamuk tak terkendali jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya.

3) Anak autistik kadang agresif dan merusak.

4) Anak autistik kadang-kadang menyakiti diri sendiri.

(37)

5) Anak autistik tidak memiliki empati dan tidak mengerti perasaan orang lain yang ada disekitarnya atau didekatnya.35 Meskipun autisme telah lama ada, Leo Kanner, seorang psikiater anak, adalah sosok yang pertama kali mengidentifikasi karakteristik autisme secara formal pada tahun 1943 dalam jurnalnya ‘Autistic distrubance of affective contact’. Kanner mengidentifikasi ciri-ciri

autisme sebagai berikut:

a. Sangat menarik diri.

b. Keinginan obsesif untuk menjaga sesuatu tetap sama.

c. Memiliki memori hafalan di luar kepala yang sangat baik.

d. Memiliki ekspresi cerdas dan termenung.

e. Sangat sensitif terhadap rangsangan.

f. Memiliki keterkarikan terhadap objek tertentu.36

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun ciri ataupun karakteristik dari anak yang autisme ini adalah anak mengalami masalah pada gangguan komunikasinya, mengalami masalah pada interaksi sosial, mengalami masalah pada gangguan sensoris, mengalami masalah pada gangguan pola bermain dan juga adanya masalah pada gangguan perilaku dan gangguan emosi anak.

Sehingga dengan keadaan tersebut membuat anak sulit menjalin

35 Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, (Bandung:

Alfabeta, 2006), hal. 46-48

36Jenny Thompson, Memahami Anak Berkebutuhan Khusus, (Penerbit Erlangga:

PT. Gelora Aksara Pratama, 2010), hal. 86

(38)

hubungan komunikasi dan juga interaksi yang baik dengan orang yang ada dilingkungan sekitarnya.

3. Faktor-Faktor Penyebab Autisme

Adapun faktor yang menjadi penyebab autisme pada anak usia dini, yaitu:

a. Gangguan susunan saraf pusat

Ditemukan adanya kelainan pada susunan saraf pusat pada beberapa tempat di dalam otak anak usia dini yang mengalami gangguan autisme. Pada otak mereka terdapat pengurangan jumlah sel purkinje di dalam otak. Alhasil, produksi serotonin kurang, dan hal itu tentu saja menyebabkan kekacauan proses penyaluran informasi antar otak. Selain itu, juga ditemukan adanya kelainan struktur pada pusat emosi di dalam otak sehingga emosi anak yang mengalami gangguan autisme sering terganggu.

b. Gangguan pada metabolisme (sistem pencernaan)

Ternyata ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gangguan autisme. Itulah sebabnya anak dengan gangguan autis mengalami kesulitan makan. Kesulitan makan dalam hal ini adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah,

(39)

menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin atau obat tertentu.

c. Peradangan dinding usus

Pada sejumlah anak yang mengalami gangguan autisme umumnya memiliki pencernaan yang buruk dan ditemukan adanya peradangan usus. Diduga peradangan tersebut disebabkan oleh virus, bisa berasal dari virus campak. Itulah sebabnya mengapa banyak orangtua menolak imunisasi MMR (measles, mumps, rubella) karena diduga dapat menjadi penyebab gangguan autisme

pada anak.

d. Faktor genetik

Faktor genetik merupakan penyebab umum dari gangguan autisme. Ada beberapa gen yang terkait dengan autisme. Tetapi, gejala autisme baru bisa muncul bila terjadi kombinasi banyak gen.

Bisa saja autisme tidak muncul meskipun anak membawa gen autisme.

e. Keracunan logam berat

Pada saat ini banyak sekali beredar makanan ringan dan mainan anak yang mengandung bahan logam berat. Kandungan logam berat tersebut diduga sebagai penyebab kurusan otak pada anak dengan gangguan autisme dengan ditemukannya kandungan logam berat dan beracun pada banyak anak gangguan autisme. Hal

(40)

tersebut bisa saja terjadi karena sekresi logam berat dari tubuh terganggu secara genetik.37

Depdiknas juga menyatakan lahirnya anak autistik juga dapat disebabkan oleh virus seperti rubella, toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, pendarahan dan keracuanan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi. Efek virus dan keracunan tersebut dapat berlangsung terus merusak pembentukan sel otak, sehingga anak kelihatan tidak memperoleh kemajuan dan gejala makin parah. Gangguan metabolisme, pendengaran dan juga penglihatan juga diperkirakan dapat menjadi penyebab lahirnya anak autistik.38

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun faktor penyebab dari anak autisme ini adalah pertama karena adanya gangguan pada susunan saraf pusat anak yang mengakibatkan kekacauan proses penyaluran informasi antar otak anak, kemudian adanya gangguan pada metabolisme (sistem pencernaan) anak yang mengakibatkan anak sulit untuk makan, adanya peradangan dinding usus pada anak yang disebabkan oleh virus yang bisa berasal dari virus campak, kemudian juga disebabkan oleh adanya faktor keturunan dan

37Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, ... hal. 197-198

38Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 44

(41)

juga keracunan logam berat pada anak tersebut, sehingga mengakibatkan anak mengalami gangguan autisme.

4. Penanganan Anak Autisme

Beberapa penaganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak yang autisme, yaitu:

a. Terapi perilaku

Terapi ini merupakan terapi penting bagi anak usia dini yang mengalami gangguan autisme. Terapi perilaku ini mudah dilakukan dan terbukti dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Bahkan akan menjadi lebih baik lagi hasilnya jika dipadukan dengan terapi lainnya seperti, terapi wicara, terapi okupasi dan pendidikan khusus. Terapi perilaku bertujuan untuk:

1) Mempelajari cara anak autisme bereaksi terhadap suatu stimulus dan apa yang terjadi sebagai akibat dari reaksi spesifik tersebut. Kemudian, apakah terapi ini juga memengaruhi atau mengubah perilaku yang akan datang.

2) Membangun kemampuan secara sosial yang tidak dimilki dan mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menjadi masalah bagi anak dengan gangguan autisme.

3) Mengajarkan anak dengan gangguan autisme tentang bagaimana belajar dari lingkungan yang normal, bagaimana merespon lingkungan dan mengajarkan perilaku yang sesuai agar anak dapat membedakan berbagai hal tertentu dari

(42)

berbagai macam stimulus. Jadi pada dasarnya terapi perilaku ini mengajarkan anak untuk belajar.

b. Terapi bermain

Dunia anak adalah dunia bermain dan kegiatan bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Setiap anak pasti menginginkannya dan melakukannya untuk mendapatkan berbagai kesenangan. Melalui kegiatan bermain, pertumbuhan fisik anak dan perkembangan mentalnya (kognitif, bahasa, emosi, moral dan sosial) dapat berkembang optimal. Sementara itu jika seorang anak selalu dibatasi dalam bermain, anak akan menjadi individu yang pasif, mudah ragu, tidak percaya diri dan tidak memilki inisiatif karena cenderung suka menunggu perintah. Bahkan sangat dimungkinkan anak jadi lemah fisiknya dan tidak memiliki teman.

c. Terapi wicara

Terapi wicara ini menjadi suatu keharusan dalam penangan anak dengan gangguan autisme karena semua penyandang autisme memiliki keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa, baik yang bersifat verbal, non-verbal, maupun kombinasi antara keduanya.

Terapi wicara dapat dilakukan oleh pendidik dengan melakukan penyusunan bahasa, yaitu dengan meminta kepada anak untuk menyebutkan nama benda-benda yang ada dihadapnnya atau ditemukannya pada suatu kondisi tertentu.

(43)

Pendidik hendaknya tidak memberitahu nama-nama benda tersebut dengan harapan anak dapat meniru dan menyebutkannya.

Hal itu dikarenakan pada saat anak meniru dan menyebutkan benda tersebut, anak hanya membeo tanpa mengetahui maknanya. Selain itu, pendidik juga dapat menyusupkan kata-kata yang terkait dengan kondisi yang sedang melingkupi anak. Untuk mempermudah anak dalam memahami makna kata yang disusupkan, sebaiknya kata yang disusupkan tersebut merupakan kata yang memilki konsep konkret atau nyata.

Jika anak sudah dapat menyebutkan satu kata, langkah selanjutnya pendidik dapat memintanya untuk menyebutkan dua atau tiga kata dan seterusnya sehingga anak dengan gangguan autisme dapat memiliki kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif.

Keberhasilan penyusupan pada anak usia dini dengan gangguan autisme sangat dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi anak. Itulah sebabnya dalam melakukan terapi wicara pendidik harus dapat menciptakan suasana yang tenang dan hening ditempat terapi wicara dilakukan.39

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa adapun penanganan bagi anak yang autisme ini adalah pertama dengan menggunakan terapi perilaku dimana tujuannya yaitu untuk melatih anak

39Novan Ardy Wiyani, Buku Ajar Penanganan Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus, ... hal. 200-207

(44)

dapat mengembangkan kemampuan pada dirinya dan mengajarkan anak untuk dapat menjalin interaksi dan berkomunikasi dengan orang yang ada di lingkungan sekitarnya, kemudian terapi bermain dimana tujuannya melalui kegiatan bermain, pertumbuhan fisik anak dan perkembangan mentalnya baik itu kognitif, bahasa, emosi, moral dan sosialnya dapat berkembang secara optimal dan kemudian dengan menggunakan terapi wicara yaitu agar anak dapat berbicara dengan lancar dan dapat menyusun kata-kata yang baik ketika bicara baik yang secara verbal ataupun non- verbal.

C. Peranan Guru BK Bagi Siswa Autisme

Aktivitas bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah memiliki peranan yang sangat besar dalam membantu peserta didik untuk mengatasi berbagai kesulitan-kesulitan yang dialami. Jenis-jenis kesulitan yang sering dialami oleh peserta didik di sekolah ialah kesulitan dalam menyesuailkan diri dilingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, kesulitan dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah, kesulitan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dialami dan kesulitan dalam menentukan atau mengambil keputusan untuk memilih jenis karir tertentu sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.40

Ke 4 jenis kesulitan tersebut adalah umum dialami oleh peserta didik yang normal di sekolah-sekolah biasa diberbagai jenjang pendidikan

40Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78

(45)

mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai kepada jenjang pendidikan perguruan tinggi. Jenis-jenis kesulitan yang dialami oleh sebagian peserta didik yang normal, juga dialami oleh peserta didik yang berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah biasa yang menerapkan sistem pendidikan inklusi.41

Anak autistik sebagai bagian integral dari anak yang berkebutuhan khusus, juga mengalami jenis-jenis kesulitan tersebut. Oleh karena itu, anak autistik sangat membutuhkan layanan bimbingan dan konseling yang difasilitasi oleh guru BK.42

Adapun peranan guru BK bagi peserta didik autisme, yaitu:

1. Guru BK berperan membantu pencapaian tugas perkembangan peserta didik dalam bersosialisasi:

a. Memberikan layanan bimbingan dan konseling yang disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat peserta didik.

b. Memberikan layanan informasi terkait dengan peran gender disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

c. Membimbing peserta didik untuk memilih karir di sekolah, yaitu membantu peserta didik dalam memahami diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan, merencanakan dan pengarahan kegiatan- kegiatan yang menuju kepada karir dan cara hidup yang akan memberikan rasa kepuasan karena sesuai, serasi, dan seimbang dengan dirinya dan lingkungnnya.

41Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78

42Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 78-79

(46)

2. Guru BK berperan mengungkapkan kesulitan belajar peserta didik:

a. Melakukan observasi, yaitu cara memperoleh data secara langsung peserta didik, bagaimana sikap peserta didik dalam mengikuti pelajaran dan melihat kelengkapan catatan dalam pelajaran.

b. Melakukan interview, adalah cara mendapatkan data dengan wawancara langsung terhadap peserta didik atau terhadap orang lain yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki (guru, orang tua dan teman sebaya).

c. Melakukan tes diagnostik, adalah suatu cara untuk mengumpulkan data peserta didik untuk mengungkap kesulitan belajar peserta didik.

d. Melakukan dokumentasi, adalah cara mengetahui kesulitan dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip yang berhubungan dengan peserta didik. Untuk mengetahui lebih jauh tentang peserta didik yang dapat dilihat dari riwayat hidup peserta didik, kehadiran dalam mengikuti pelajaran, memiliki daftar pribadinya, daftar hadir di sekolah dan melihat hasil rapor.43

Melalui pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik autistik tersebut diharapkan peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Selain itu, dengan bantuan layanan bimbingan dan konseling, peserta didik autistik diharapkan dapat memecahkan kesulitan belajarnya sehingga dapat belajar dengan baik, memilih dan memutuskan suatu jenis

43 Desje Lattu, Peran Guru Bimbingan dan Konseling Pada Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi, (Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 20 Desember 2017, http://ojs.unpatti.ac.id/index.php/bkt)

(47)

karir tertentu secara tepat sesuai bakat, minat dan kemampuannya dan mengatasi masalah-masalah pribadi yang dialami atas kemampuan sendiri dengan bantuan petugas bimbingan dan konseling.44

Untuk peserta didik autistik, masalah tujuan pemberian bimbingan dan konseling lebih diarahkan kepada pembentukan kompensasi secara positif dari kekurangan atau kelainan yang diderita peserta didik. Melalui layanan bimbingan dan konseling, peserta didik autistik diharapkan dapat tidak terganggu dengan kelainan yang diderita, melainkan pada diri peserta didik diharapkan ada usaha optimalisasi untuk mengaktualisasikan sisa potensi yang dimiliki.45

Secara khusus layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan agar peserta didik dapat, memahami dirinya dengan baik, yaitu mengenal segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki berkenaan dengan bakat, minat, sikap, perasaan dan kemampuan anak, memahami lingkungannya dengan baik mencakup lingkungan pendidikan di sekolah, lingkungan di rumah, lingkungan di asrama dan lingkungan sosial di masyarakat, menentukan pilihan dan keputusan yang bijaksana, yaitu pilihan dan keputusan yang didasarkan kepada pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri dan lingkungannya, mengatasi masalah- masalah yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah maupun dimasyarakat.46

44Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 79

45Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 87

46Abdul Hadis, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik, ... hal. 87

(48)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan guru BK bagi siswa autisme adalah guru BK berperan membantu peserta didik dalam mengembangkan tugas-tugas perkembangnnya dan membantu peserta didik dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dialaminya sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

(49)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif kualitatif.

Deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengambarkan kejadian yang terjadi dilapangan. Sesuai dengan data dan informasi atau penelitian yang berusaha untuk mengumpulkan data-data, menyajikan data, menganalisis data, menggambarkan pemecahan masalah yang ada.47Penelitian kualitatif yaitu sebuah penelitian yang berusaha mengungkapkan keadaan yang bersifat alamiah yang bukan hanya menggambarakan variabel-variabel tunggal melainkan dapat menggabungkan antara variabel dengan variabel lain.48

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu untuk mencoba mengambarkan fenomena secara detail.49 Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian lapangan (fied research), yaitu “penelitian yang dilakukan disuatu lokasi, ruangan yang luas atau di tengah-tengah masyarakat”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif

47S Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet Ke 6, hal. 36

48U. Maman, Metodologi Penelitian Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 70

49A. Muri Yusuf, Metodologi Penelitian, ( Padang: UNP, 1987), hal. 28

(50)

kualitatif. Penelitian ini menggambarkan peranan guru BK bagi siswa autisme di SMP Negeri 2 Bukittinggi.

B. Lokasi Penelitian

Penulis menetapkan lokasi penelitian ini di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang terletak di Jalan Pendidikan, Tarok Dipo, Bukittinggi, Kecamatan Guguk Panjang Provinsi Sumatera Barat. Adapun alasan penulis memilih lokasi penelitian ini karena pada lokasi ini penulis menemukan adanya siswa yang termasuk dalam kategori siswa autisme.

Dimana lokasi ini merupakan sekolah yang inklusi menerima siswa yang berkebutuhan khusus, salah satu dari siswa yang berkebutuhan khusus yang ada di sekolah ini adalah siswa yang autisme. Oleh karena itu penulis ingin meneliti bagaimana peranan guru BK bagi siswa autisme di sekolah ini.

C. Informan

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi, ia memiliki banyak pengalaman tentang latar belakang penelitian, ia berkewajiban secara sukarela menjadi anggota tim penelitian, walaupun bersifat informal.50 Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.51 Jadi informan ini orang yang banyak mengetahui latar belakang penelitian dan orang-orang yang dimanfaatkan

50Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal.

310

51 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2016), hal. 124

Referensi

Dokumen terkait

di Rumah Sakit Paru Kabupaten Jember, akan tetapi untuk memberikan pendidikan kepada pasien, perawat tidak memberikan pendidikan secara detail

Peranan guru BK dalam membentuk konsep diri peserta didik di SMP Negeri 11 Padang dilihat dari aspek harapan tergolong sangat baik yaitu sebanyak 79,31%, peranan guru BK

Berdasarkan hasil pene- litian dari temuan peneliti, bahwa bentuk pem-berian motivasi yang Guru BK berikan pada peserta didik tunarungu ketika merasa takut dan

Guru BK memberikan arahan pada peserta didik untuk mengemukakan pendapat tentang Cara belajar efektif dan efisien sesuai gaya belajar2. Guru BK meminta peserta didik mengisi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana bagi para guru- guru, khususnya guru BK dalam melihat fenomena-fenomena sosial Peserta didik, seperti Peserta didik yang

Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai kerjasama guru BK dan wali kelas dalam pengadministrasian kegiatan BK terkait dengan membuat catatan kejadian peserta

yang memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Potensi Erosi Permukaan Secara Kualitatif dengan Menggunakan

Pada saat akan dimulai fase pengeluaran bayi dan selama pengeluaran dengan penurunan (descent), gaya dorong berasal dari kontraksi uterus yang memiliki transmisi