A. Dasar Hukum Penanganan Benturan Kepentingan
Dasar hukum penanganan benturan kepentingan BPR Ronabasa:
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola Bagi Bank Perkreditan Rakyat
B. Penanganan Benturan Kepentingan
Berdasarkan ketentuan Pasal 69 POJK Penerapan Tata Kelola BPR, benturan kepentingan antara lain adalah perbedaan antara kepentingan ekonomis BPR dengan kepentingan ekonomis pribadi pemilik, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, Pejabat Eksekutif, dan/atau pihak terkait dengan BPR. Berdasarkan Bab V Pasal 3 SEOJK Penerapan Tata Kelola BPR, untuk menghindari pengambilan keputusan yang berpotensi merugikan atau mengurangi keuntungan Bank, maka bank harus memiliki dan menerapkan kebijakan intern mengenai :
1. Pengaturan penanganan benturan kepentingan yang mengikat setiap pengurus dan pegawai Bank, antara lain tata cara pengambilan keputusan. 2. Administrasi pencatatan, dokumentasi dan pengungkapan benturan
kepentingan dalam risalah rapat.
Sebagai bentuk implementasi POJK dan SEOJK tentang Penerapan Tata Kelola BPR mengenai benturan kepentingan, BPR Ronabasa telah menyusun dan menerbitkan ketentuan internal terkait penanganan benturan kepentingan yang bertujuan untuk menghindarkan anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan Pejabat Eksekutif dari pengambilan keputusan dalam situasi dan kondisi dimana terdapat benturan kepentingan, yang meliputi :
34 Laporan Tata Kelola 2020
1. Surat Keputusan Direksi Nomor 008/Skep-Dir/BPR-RB/IV/2019 yang tertuang dalam Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank (PKPB)
Untuk menghindari benturan kepentingan kepada pihak terkait (pemilik, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, Pejabat Eksekutif, dan/atau pihak terkait dengan BPR Ronabasa, maka diatur ketentuan sebagai berikut : a. Pemberian suku bunga simpanan kepada pihak terkait mengacu pada
ketentuan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
b. Pemberian suku bunga pinjaman kepada pihak terkait mengacu pada perhitungan Base Lending Rate intern BPR Ronabasa.
c. Pemberian fasilitas kredit kepada pihak terkait tetap mengacu pada kebijakan dan pedoman perkreditan BPR Ronabasa.
d. Seluruh karyawan tidak diperkenankan menerima bingkisan/imbalan dalam bentuk apapun dari nasabah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perusahaan.
e. Pemberian fasilitas kepada komisaris, direksi dan pihak terkait sesuai dengan ketentuan perusahaan/kebijakan remunerasi yang berlaku.
Selama tahun 2020, BPR Ronabasa tidak memiliki transaksi/tindakan yang mengandung benturan kepentingan.
C. Permasalahan Hukum Dan Penanganan Fraud 1. Dasar Hukum
Peraturan OJK Nomor 4/POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola bagi BPR.
Surat Edaran OJK Nomor 5/SEOJK.03/2016 tentang Penerapan tata Kelola bagi BPR.
2. Permasalahan Hukum dan Penanganan Fraud
Fraud merupakan tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu, atau memanipulasi Bank, nasabah, atau pihak lain, yang terjadi dilingkungan Bank dan/atau menggunakan sarana Bank sehingga mengakibatkan Bank, nasabah, atau pihak lain menderita kerugian dan/atau pelaku Fraud memperoleh keuntungan
35 Laporan Tata Kelola 2020
keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam rangka memperkuat sistem pengendalian intern, khususnya untuk mengendalikan Fraud, Bank wajib memiliki dan menerapkan strategi anti Fraud yang efektif. BPR Ronabasa telah memiliki ketentuan internal yang mengatur mengenai penerapan strategi anti fraud yang tercantum dalam Manual HCM, yang mengatur mengenai kategori fraud, klasifikasi fraud, strategi anti fraud, struktur organisasi unit kerja anti fraud, tugas dan tanggung jawab unit kerja anti fraud dan prosedur pelaporan indikasi fraud Selama tahun 2020 BPR Ronabasa tidak terdapat penyimpangan/kecurangan terkait keuangan yang dilakukan oleh Direksi, Dewan Komisaris, pegawai tetap dan tidak tetap. BPR Ronabasa juga tidak sedang menghadapi kasus hukum, baik perdata maupun pidana.
D. Pemberian Dana Kegiatan Sosial Dan Kegiatan Politik 1. Kegiatan Sosial & Pemberian Dana
Sebagai perusahaan yang telah berdiri selama 15 (lima belas tahun), BPR Ronabasa cukup dikenal di Kalimantan Timur, khususnya di Kota Balikpapan. Selama berdirinya, BPR Ronabasa sudah terbiasa melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial dan berkontribusi nyata pada kehidupan bermasyarakat.
2. Literasi dan Edukasi Masyarakat
Berdasarkan ketentuan Peraturan OJK No. 76/POJK.07/2016 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan bagi Konsumen dan/atau Masyarakat, Surat Edaran OJK No. 30/SEOJK.07/2016 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan bagi Konsumen dan/atau Masyarakat dan Surat Edaran OJK No. 31/SEOJK.07/2017 tentang Pelaksanaan Kegiatan dalam Rangka Meningkatkan Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Keuangan.
Namun untuk tahun 2020 BPR Ronabasa tidak turut dalam pelaksanaan kegiatan Literasi dan Edukasi keuangan kepada masyarakat dikarenakan masa pandemi Covid-19.
36 Laporan Tata Kelola 2020
3. Pendanaan Politik
Terhadap kegiatan/aktifitas politik, BPR Ronabasa tidak pernah terlibat dalam kegiatan politik termasuk juga mendanai kegiatan/aktifitas politik.
E. Rasio Gaji Tertinggi Dan Terendah
Berdasarkan ketentuan Surat Edaran OJK Nomor 5/SEOJK.03/2016 tentang Penerapan Tata Kelola bagi Bank Perkreditan Rakyat, yang dimaksud dengan Gaji adalah hak pegawai yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari perusahaan kepada pegawai yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pegawai dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/jasa yang telah dilakukannya.
Berikut adalah Rasio Gaji Tertinggi dan Terendah, dalam skala perbandingan :
Keterangan Skala Perbandingan
Rasio gaji pegawai yang tertinggi dan terendah 2,3:1
Rasio gaji Direksi yang tertinggi dan terendah 1.3:1
Rasio gaji Komisaris yang tertinggi dan terendah 1.2:1
Rasio gaji Direksi tertinggi dan Komisaris tertinggi 1.6:1
Rasio gaji Direksi tertinggi dan pegawai tertinggi 4,8:1
Dari hasil penilaian (self assessment) pelaksanaan Good Governance (GCG) PT. BPR Ronabasa tahun 2020 yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa secara umum prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan telah diterapkan secara menyeluruh dan terstruktur terhadap tiga aspek tata kelola yaitu struktur, proses dan hasil penerapan tata kelola dengan predikat “Baik” dengan nilai komposisi peilaian “1,57”.
37 Laporan Tata Kelola 2020
No Faktor Penilaian Bobot (%) Nilai
1 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi 20,00 0,21
2 Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris 15,00 0,21
3 Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas atau Fungsi Komite 0,00 0,00
4 Penanganan Benturan Kepentingan 10,00 0,20
5 Penerapan Fungsi Kepatuhan Bank 10,00 0,13
6 Penerapan Fungsi Audit Intern 10,00 0,19
7 Penerapan Fungsi Audit Ekstern 2,50 0,03
8 Penerapan Fungsi Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern 10,00 0,17
9 Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) 7,50 0,15
10 Rencana Bisnis 7,50 0,13
11 Transparan Kondisi Keuangan dan Non Keuangan 7,50 0,15
Komposit 100 1,57
Demikian Laporan Tata Kelola 2020 ini kami susun dengan harapan sebagai pijakan untuk mengelola BPR Ronabasa yang lebih baik, terima kasih.
38 Laporan Tata Kelola 2020
Profil BPR
Profil BPR PT. BPR Ronabasa
Alamat BPR* Jl. Letjed S Parman No. 03 Rt. 23 Kel Sumber Rejo Balikpapan
Posisi Laporan* Desember 2020
Modal Inti BPR* Total Aset BPR*
Bobot Faktor BPR B
*) wajib diisi oleh BPR
Pengisian Faktor Tata Kelola BPR
Pengisian Indikator SEM PURNA
Terisi 106
Belum terisi 0
Sebelum Penerapan M anajemen Risiko Setelah Penerapan M anajemen Risiko
Nilai Komposit 1.55 Nilai Komposit 1.57
Predikat Komposit Sangat Baik Predikat Komposit Sangat Baik
Lihat Kertas Kerja Lihat Kertas Kerja
Cetak Laporan Cetak Laporan
Cetak Hasil Penilaian Cetak Hasil Penilaian
Rp7,506,814,684 Rp27,100,784,470 Penjelasan Umum
Mulai
PENILAIAN PENERAPAN TATA KELOLA BPR
Tata Cara
39 Laporan Tata Kelola 2020
1.
a. pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi;
b. pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris; c. kelengkapan dan pelaksanaan tugas atau fungsi komite; d. penanganan benturan kepentingan;
e. penerapan fungsi kepatuhan;
f. penerapan fungsi audit intern;
g. penerapan fungsi audit ekstern;
h. penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern;
i. batas maksimum pemberian kredit;
j. rencana strategis BPR; dan
k. transparansi kondisi keuangan dan non keuangan.
2. Penilaian terhadap penerapan Tata Kelola bagi BPR dilakukan untuk mengukur: a.
b.
c. hasil penerapan tata kelola (governance outcome) BPR.
3. Hasil penilaian penerapan tata kelola mencakup aspek kualitatif dan aspek kuantitatif, antara lain: a. kecukupan transparansi laporan;
b. kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan; c.