• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Drainase Belum Terpadu

Dalam dokumen 6.1. Pengembangan Permukiman (Halaman 74-82)

A. Isu Strategis

6. Penanganan Drainase Belum Terpadu

Pembangunan sistem drainase utama dan lokal yang belum terpadu, terutama masalah peil banjir, disain kala ulang, akibat banjir terbatasnya masterplan drainase sehingga pengembang tidak punya acuan untuk sistem lokal yang berakibat pengelolaan sifatnya hanya pertial di wilayah yang dikembangkannya saja.

Isu strategis pengelolaan drainase di Kabupaten Natuna dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6.23 Isu-isu Strategis Drainase di Kab. Natuna

Isu Strategis Keterangan

Belum ada perencanaan sistem drainase yang terintegrasi, terbukti dari belum adanya Masterplan Drainase Kabupaten Natuna

Pembangunan jaringan drainase masih mengikuti jaringan jalan Ketersediaan jaringan drainase primer

masih terbatas

Jaringan drainase primer hanya terdapat di Kecamatan Bunguran Timur

Pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase belum berjalan optimal

Banyak sarana dan prasarana drainase yang dirusak oleh warga

Masih banyaknya saluran yang mempunyai fungsi ganda baik sebagai saluran irigasi, saluran drainase maupun tempat pembuangan limbah sehingga cukup sulit dalam pemeliharaanya

Tidak adanya pemisahan saluran irigasi, drainase maupun limbah di Kabupaten Natuna Belum adanya kebiijakan/peraturan

pemerintah Kabupaten Natuna terkait dengan drainase

Belum disusunnya SSK Kabupaten Natuna

Keterbatasan anggaran untuk subsektor

drainase Pembangunan drainase murni mengandalkan APBN dan APBD

B. Kondisi Eksisting

 Air Limbah

Untuk menggambarkan kondisi eksisting pengembangan air limbah yang telah dilakukan pemerintah Kabupaten Natuna, diuraikan hal-hal sebagai berikut:

a. Aspek teknis

Sampai dengan saat ini Kabupaten Natuna belum memiliki jaringan perpipaan air limbah. Air dari bekas mandi, mencuci, dan memasak yang dialirkan ke saluran drainase, sungai melalui saluran terbuka ataupun tertutup. Sedangkan air limbah yang berupa tinja diolah sementara melalui septic tank atau cubluk.

Sarana dan Prasarana air limbah di Kabupaten Natuna menjadi sangat penting khususnya pada kawasan yang dikembangkan di wilayah pesisir dan kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk sedang sampai tinggi. Secara umum tujuan perencanaan pengelolaan air limbah di Kabupaten Natuna sampai dengan akhir tahun perencanaan adalah untuk meminimalkan tingkat pencemaran air tanah dan meningkatkan, serta meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan.

Gambar 6.13 : Kondisi Permukiman Dengan Pembuangan Limbah Ke Laut

Dari gambar diatas dapat terlihat rumah-rumah di Kabupaten Natuna mayoritas masih belum menggunakan sistem pembuangan air limbah langsung ke laut tanpa ada sistem pengolahan terlebih dahulu.

Kondisi eksisiting jaringan air limbah secara teknis dapat ditampilkan pada tabel-tabel berikut:

Tabel 6.24 Cakupan Pelayanan Sistem On Site No Kecamatan

Jumlah PS Sanitasi Sistem Onsite

Pengumpulan Pengolahan

Jamban

Keluarga MCK Lainnya Septiktank Cubluk Lainnya

1 Midai 65% 35% 60% 40% 2 Bunguran Barat 70% 30% 60% 40% 3 Bunguran Utara 65% 35% 50% 50% 4 Pulau Laut 75% 15% 50% 50% 5 Pulau Tiga 75% 15% 50% 50% 6 Bunguran Timur 80% 20% 60% 40%

7 Bunguran Timur Laut 60% 40% 50% 50%

8 Bunguran Tengah 70% 30% 60% 40%

9 Bunguran Selatan 65% 35% 60% 40%

10 Serasan 60% 40% 50% 50%

11 Serasan Timur 60% 40% 50% 50%

12 Subi 65% 35% 40% 60%

Sumber : Hasil Indentifikasi Lapangan, 2014

Tabel 6.25 Parameter Teknis Wilayah

No Uraian Besaran Keterangan

Karakteristik Fisik Kota

1. Jumlah Penduduk 76.897 Jiwa

Tingkat Kepadatan

Sangat Tinggi (>400jiwa/Ha) -

Tinggi (300-400 jiwa/Ha) -

Sedang (200-300 jiwa/Ha) -

Rendah (<200 jiwa/Ha) 200.100 Ha

2. Tipe Bangunan Rumah Tangga

Permanen 60%

Semi Permanen 30%

Tidak Permanen 10%

3. Badan Air

Nama Sungai/danau/waduk Air terjun Ranai

Air Hijau-1 Air Sirih Air Berlian Sungai Sebayar

Peruntukan Sumber air baku

Debit 67,60 - 245,25 Ltr/detik

Sumber : Hasil Indentifikasi Lapangan, 2014

b. Pendanaan

Pendanaan air limbah di Kabupaten Natuna masih sangat terbatas, masyarakat masih beranggapan penanganan air limbah tidak terlalu berguna, sehingga ada keengganan bagi masyarakat untuk membayar retribusi. Dari sudut pemerintah juga menganggap penanganan air limbah belum menjadi

prioritas, terutama mengenai penyelenggaraan sistem pengelolaan limbah secara off-site yang membutuhkan biaya yang sangat mahal. Selama ini pengembangan sistem air limbah mengandalkan dana APBD Kabupaten, APBD Provinsi maupun APBN.

c. Kelembagaan

Belum ada organisasi khusus yang menangani pengelolaan air limbah, kepengelolaan air limbah masih berada dibawah dinas PU berkoordinasi dengan dinas Lingkungan Hidup.

d. Peraturan Perundangan

Belum ada Perda maupun bentuk peraturan lainnya di tingkat Kabupaten Natuna yang mengatur mengenai air limbah.

e. Peran Serta Swasta dan Masyarakat

Peran serta masyarakat dan swasta di sektor air limbah sangat minim, kurangnya kesadaran dari masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan air limbah yang baik dan benar menyebabkan masyarakat tidak menerapkan sistem pengelolaan air limbah yang baik.

Untuk pihak swasta peran di sektor air limbah hingga saat ini belum ada, sektor swasta belum mau berinvestasi di sektor air limbah mengingat kemauan masyarakat untuk membayar retribusi sangat rendah.

 Persampahan

Untuk menggambarkan kondisi eksisting pengembangan persampahan yang telah dilakukan pemerintah Kota/Kabupaten, perlu diuraikan hal-hal berikut ini:

a. Aspek teknis Pewadahan

Merupakan suatu cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal. Ada beberapa tujuan dilakukan pewadahan ini yaitu memudahkan

pengumpulan dan pengangkutan, mengatasi timbulnya bau busuk dan menghindari perhatian dari binatang, menghindari air hujan dan menghindari pencampuran sampah.

Untuk saat ini di Ranai cara pewadahan sampah yang dilakukan adalah pola individual dan terbatas pada kegiatan komersial sementara kegiatan domestik belum dilakukan pewadahan. Wadah-wadah individual ini di tempatkan di depan bangunan di sepanjang jalan.

Wadah-wadah tersebut disediakan untuk setiap toko/warung tanpa dipungut biaya. Untuk sebagian toko, ukuran wadah tersebut terlalu kecil sehingga wadah ini juga tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, misalnya sampah berupa kardus ukurannya yang relatif besar sehingga tidak bisa masuk ke dalam wadah.

Gambar 6.14 : Kondisi Perwadahan di Kabupaten Natuna Pengumpulan dan Pengangkutan

Pengumpulan sampah dilakukan dari setiap sumber timbulan dengan menggunakan Dump Truck atau dikenal dengan pola individual langsung. Kegiatan ini dilakukan 2 kali dalam seminggu yaitu setiap hari Rabu dan sabtu.

Kegiatan pengumpulan dimulai dari lokasi yang terjauh dari lokasi pembuangan akhir terus menuju mendekat kearah lokasi pembuangan yaitu dimulai dari jalan Adam Malik, disini para kru muat menunggu mobil di pos yakni memanfaatkan pos siskamling. Pool mobil berada dekat lokasi pembuangan menuju lokasi terjauh.

Gambar 6.15 : Kondisi Sistem Pengangkutan di Kabupaten Natuna Tempat Pembuangan Akhir Sampah

Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi eksisting pengelolaan sampah di Kabupaten Natuna dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 6.16 : Kondisi TPA di Kabupaten Natuna

Gambar diatas menunjukkan kondisi TPA di Kota Ranai Kabupaten Natuna yang baru beroperasi, dengan luas 25 Ha dan ditunjang peralatan yang memadai untuk pengolahan sampah.

Kondisi eksisting pengembangan persampahan sebagaimana diuraikan di atas dapat ditampilkan dalam tabel-tabel berikut ini.

Tabel 6.26 Teknis Operasional Pelayanan Persampahan Saat Ini

No Uraian Volume

1 Cakupan Pelayanan 35 %

2 Perkiraan Timbulan Sampah 153 M3/hari 3

Timbulan Sampah yang Terangkut : - Permukiman - Non Permukiman - Total 120 M3/hari 33 M3/hari 153 M3/hari 4 Kapasitas Pelayanan TPA 25 Ha

b. Pendanaan

Kegiatan pengelolaan sampah saat ini umumnya bersumber dari APBN dan APBD Kabupaten Natuna. Sedangkan untuk retribusi masih sangat minim dan belum sepenuhnya mampu menutup biaya operasional pengelolaan sampah di wilayah Kabupaten Natuna.

c. Kelembagaan

Pengelolaan persampahan di Kabupaten Natuna dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Natuna. Sedangkan untuk wilayah di luar Pulau Bunguran, pengelolaan sampah dikelola oleh kecamatan pada masing-masing wilayah.

d. Peran Serta Masyarakat

Menguraikan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan serta kondisi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di dalam masyarakat Kota/Kabupaten yang meliputi kesediaan masyarakat membayar retribusi, penerimaan masyarakat terhadap aturan terkait pengelolaan persampahan, perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah (apakah sudah melakukan 3R), kegiatan-kegiatan apa yang telah dilakukan dalam mendorong peran serta masyarakat misalnya saja kegiatan kampanye dan edukasi terkait pengelolaan persampahan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat/swasta, maupun peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sampah serta operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada.

 Drainase

Kondisi umum pembangunan Drainase di Indonesia dapat diuraikan secara garis besar adalah sebagai berikut:

a. Proporsi rumah tangga yang telah terlayani saluran drainase dengan kondisi berfungsi baik/mengalir lancar mencapai 52,83%

b. Proporsi rumah tangga dengan kondisi saluran drainase mengalir lambat atau tergenang mencapai 14,49%

c. Proporsi rumah tangga yang tidak memiliki saluran drainase 32,68%.

Kondisi drainase di Kabupaten Natuna masih sangat terbatas, hanya sebagian kecil jaringan jalan yang dilengkapi dengan jaringan drainase yang memadai, jariingan drainase di Kabupaten Natuna memiliki lebar antara 0,6-1 meter dan memiliki ketinggian rata-rata 1 m, berikut ini ialah gambaran mengenai kondisi jaringan drainase di beberapa jalan di Kabupaten Natuna

Gambar 6.17 : Kondisi Jaringan Drainase di Beberapa Ruas Jalan

Dapat dilihat pada gambar diatas jaringan drainase di ruas-ruas jalan di Kabupaten Natuna, diantaranya ruas jalan Pramuka, Hang Tuah, Adam Malik, Datuk Kaya Wan Moh, Sihotang dan Batu Hitam. Kondisi jaringan drainase secara keseluruhan banyak yang terputus dan terlalu sempit sehingga tidak mampu menampung air jika intensitas hujan tinggi.

Tabel 6.27 Kondisi Eksisting Pengembangan Drainase No Lokasi Saluran Nama Jalan/ Panjang (m) Dimensi Catchment Luas

Area (Ha)

Kondisi Tinggi

(m) Lebar (m)

1 Jalan Pramuka 1.500 m 1 1 1 Banyak drainase yang terputus jaringan

2 Jalan Hang Tuah 1.000 m 1 0,6 2

Terlalu sempit, menyebabkan air meluber ke jalan 3 Jalan Adam Malik 700 m 1 0,6 1

Terlalu sempit, menyebabkan air meluber ke jalan 4 Jalan Datuk Kaya Wan Mohd

Benteng

1.000 m 1 1 1 Banyak drainase yang terputus jaringan

5 Jalan Sihotang 1.200 m 1 1 1 Banyak drainase yang terputus jaringan

6 Jalan Batu Hitam 900 m 1 0,6 1 Terlalu menyebabkan sempit, air meluber ke jalan

Dalam dokumen 6.1. Pengembangan Permukiman (Halaman 74-82)

Dokumen terkait