• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Hasil Panen Telur Puyuh

Dalam dokumen BUDIDAYA DAN SALURAN PEMASARAN TELUR PUY (Halaman 37-43)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Penanganan Hasil Panen Telur Puyuh

Dalam penanganan hasil telur puyuh yang hasilkan untuk telur konsumsi tentu sangatlah mudah proses penanganannya. Di peternakan puyuh milik Bapak Juhandri setiap harinya menghasilkan telur puyuh 4200 - 4500 butir yang dilakukan pengumpulan telur sebanyak dua kali sehari yakni pagi dan sore hari dan langsung dilakukan kegiatan penyortiran. Tidak semua burung puyuh menghasilkan telur sebanyak dua kali dalam sehari, tergantung burung puyuh.

31

Pengumpulan telur dilakukan menggunakan keranjang plastik yang dialasi dengan jerami kering tujuannya agar mengurangi tekanan berat telur saat berbenturan langsung. Selanjutnya telur yang berada di dalam keranjang plastik

dikumpulkan lagi dengan menggunakan eeg tray (papan telur) dengan

menempatkan sudut tumpul telur dibagian atas dengan kapasitas satu eeg tray 100 butir telur puyuh dan sisanya dikemas dengan menggunakan plastik dengan kapasitas 20-25 butir/plastik. Setelah semua telur dikemas selanjutnya simpan di tempat yang bersih dan jauh dari benda-benda berbau seperti obat-obatan. Pada akhirnya telur puyuh siap dipasarkan di Kampung-Kampung yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk telur yang ditempatkan pada papan telur biasanya agen-agen yang langsung datang ke Peternakan Puyuh milik Bapak Juhandri, sedangkan sisanya yang menggunakan plastik dipasarkan langsung oleh pekerja ke warung-warung atau konsumen rumah tangga.

4.6. Saluran Pemasaran Telur Puyuh

Pemasaran merupakan proses kegiatan menyalurkan produk dari produsen kekonsumen. Pemasaran merupakan puncak dari kegiatan ekonomi dalam agribisnis peternakan. Subsistem pemasaran dari agribisnis peternakan puyuh petelur yakni kegiatan-kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas peternakan berupa telur segar. Peternakan yang telah menghasilkan produk menginginkan telur-telur yang dihasilkan diterima oleh konsumen. Kegiatan pemasaran yang didalamnya termasuk kegiatan distribusi untuk memperlancar arus komoditas dari sentral produksi ke sentral konsumsi, informasi pasar, penyimpanan, pengangkutan, penjualan, promosi.

Saluran pemasaran sangat penting dalam memasarkan produksi yang dihasilkan karena saluran pemasaran dapat mempengaruhi kelancaran penjualan, alternatif biaya, tingkat keuntungan dan lainnya. Dalam kegiatan pemasaran barang dan jasa dari produsen ke konsumen terdapat perantara-perantara yang menjadi jembatan penghubung antara peternak dengan konsumen akhir.

Semakin panjang rantai pemasaran, biaya pemasaran juga akan semakin besar. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini proses saluran pemasaran telur puyuh pada Peternakan milik Bapak Juhandri yang terletak di Desa Benua Raja Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut :

Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran Telur Puyuh di Desa Benua Raja Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang

Gambar diatas menjelaskan ada 3 (tiga) tipe saluran pemasaran telur puyuh pada peternakan milik Bapak Juhandri di Desa Banua Raja Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang yaitu :

Produsen Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen

33

Tipe I : Produsen menjual telur puyuh langsung ke konsumen.

Pada saluran ini Peternakan milik Bapak Juhandri tidak berhubungan langsung dengan pedagang pengumpul, karena konsumen datang sendiri ke tempat peternakan untuk membeli telur puyuh. Kebanyakan konsumen yang terlibat yaitu dari masyarakat sekitar peternakan yang langsung membeli sendiri sesuai seberapa banyak kebutuhan. Namun biasanya konsumen masyarakat sekitar peternakan hanya membeli telur puyuh untuk konsumsi sehari makan sehingga telur puyuh yang dibeli tidak begitu banyak seperti agen-agen. Harga jual telur puyuh yang dijual produsen kepada konsumen rumah tangga (masyarakat sekitar) sudah dilakukan pemotongan harga, yang biasanya dijual ke konsumen lain Rp. 200/butir namun dijual ke konsumen rumah tangga Rp. 150 s/d Rp. 180 / butir. Tipe II : Produsen menjual telur puyuh ke pedagang pengecer dan pedagang

pengecer langsung ke konsumen.

Pada saluran ini produsen langsung mengantarkan telur puyuhnya ke pedagang pengecer dan kemudian pedagang pengecer langsung ke konsumen. Pedagang pengecer ini merupakan pedagang tetap yang menerima pasokan telur puyuh dari Bapak Juhandri. Di peternakan milik Bapak Juhandri ini, pemasaran telur puyuh ke pedagang pengecer di pasarkan oleh pekerjanya secara langsung dan upah yang didapatkan pekerjanya dari hasil penjualan telur puyuh Rp. 1.000,- / bungkus plastik. Jika Bapak Juhandri mematok harga telur puyuh Rp.5.000,- / bungkus plastik, maka tenaga kerjanya menjual ke pedagang pengecer dengan harga Rp. 6.000,- / bungkus plastik. Artinya Rp. 1.000,- diambil untuk biaya transportasi dan biaya-biaya lainnya.

Biasanya pekerja menjual telur puyuh sebanyak 150 - 200 bungkus untuk satu kali antar. Jika telur puyuh banyak berlebih maka dipasarkan dua kali pagi dan sore hari. Pemasaran telur di lakukan setiap harinya di tempat yang berbeda-beda.

Tipe III : Produsen menjual telur puyuh ke pedagang pengumpul kemudian dari pedagang pengumpul menjual ke pedagang pengecer dan dari pedagang pengecer langsung ke konsumen.

Pada saluran pemasaran ini pedagang pengumpul berperan sebagai pedagang yang mengumpulkan telur puyuh, untuk kemudian memasarkannya kembali ke pedagang pengecer dan dari pedagang pengecer di pasarkan ke konsumen akhir. Di peternakan puyuh milik Bapak Juhandri ini, pedagang pengumpul biasanya membeli telur puyuh dengan datang langsung ke peternakan. Pedaganng pengumpul biasa membeli dalam jumlah yang banyak, hingga terkadang 5 - 10 papan telur puyuh dengan harga Rp. 30.000,- / papan. Pedagang pengumpul membeli telur puyuh tidak setiap harinya, tergantung masih ada atau tidaknya persediaan yang disimpan oleh pedagang pengumpul karena jika persediaan telur sudah habis maka pedagang pengumpul membeli kembali telur.

Dari pedagang pengumpul di pasarkan ke pedagang pengecer tentunya dengan harga yang sudah berbeda dari awalnya Rp. 30.000,- , begitu juga dari pedagang pengecer ke konsumen juga sudah berbeda kembali harga jual telur puyuh. Di setiap masing-masing pedagang tentu mengambil keuntungan dari hasil penjualan telur puyuh.

35

Tipe saluran pertama produsen hanya sedikit mendapatkan harga jual dari penjualan telur puyuh karena konsumen yang membeli hanya berasal dari masyarakat sekitar peternakan puyuh, sehingga kuantitas pembelian telur juga terbilang sedikit. Dalam arti lain konsumen berasal dari ibu rumah tangga. Berdasarkan teori yang ada, semakin pendek saluran pemasaran maka semakin banyak harga jual yang didapatkan. Namun, pada tipe saluran pemasaran pertama produsen sangat sedikit mendapatkan harga jual dari hasil penjualan telur puyuh/ butirnya hanya berkisar Rp. 150 s/d Rp.180/butirnya. Hal tersebut terjadi dikarenakan pada tipe saluran pertama konsumen yang membeli telur puyuh di Peternakan Puyuh milik Bapak Juhandri berasal dari ibu-ibu rumah tangga disekitar peternakan sehingga banyak potongan harga yang diberikan oleh Bapak Juhandri kepada konsumen tersebut. Harga jual yang diterima Bapak Juhandri setelah melakukan pemotongan harga untuk konsumen rumah tangga sebesar Rp. 150 s/d Rp.180/butirnya.

Tipe saluran pemasaran kedua produsen hanya mendapatkan harga jual sebesar Rp. 200,-/butir. Pada tipe ini harga 1 bungkus sebesar Rp. 5.000,- dengan jumlah sebanyak 25 butir dalam 1 bungkusnya.

Tipe saluran pemasaran ketiga produsen lebih banyak mendapatkan uang dari hasil penjualan telur puyuh. Pada tipe saluran ini, produsen mendapatkan harga jual sebesar Rp.300,-/butir dengan harga penjualan Rp. 30.000 – Rp. 32.000 / papan. Dalam 1 papan sebanyak 100 butir telur puyuh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada tipe saluran ketiga produsen mendapatkan lebih besar harga jual telur puyuh dari pada tipe saluran lainnya.

36

Dalam dokumen BUDIDAYA DAN SALURAN PEMASARAN TELUR PUY (Halaman 37-43)

Dokumen terkait