• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Mual Muntah

Dalam dokumen Standar Presiden (Halaman 80-88)

DIABETES DIABETES PUASA 70-110 mg/dl ≥ 100 mg/dl ≥ 126 mg/dl

4.5 Anti Emetika .1. Pengertian

4.5.3. Penanganan Mual Muntah

Penanganan mual dan muntah antara lain : 1. Mengubah mindset

2. Pemberian obat

Penggolongan obat anti emetika berdasarkan mekanisme kerjanya bisa dibedakan sebagai berikut :

a. Golongan Antagonis Reseptor 5HT3

-Obat anti emetik ini menghambat reseptor serotonin pada sistem saraf serebral dan saluran pencernaan. Sehingga obat golongan ini dapat digunakan untuk mengobati mual dan muntah setelah operasi dan penggunaan obat sitostatika.

Makanan mengandung rangsangan mual muntah melewati usus kemudian menempel di 5HT3-, serotonin keluar kemudian menuju CTZ (Chemoreseptor Trigger Zone) kemudian ke reseptor mual muntah. Daan obat dari golongan ini bertugas menghalangi serotonin keluar dari 5HT3- menuju CTZ. Obat ini paling kuat dan merupakan lini terakhir saat obat lain sudah tidak mempan, biasanya untuk penyakit kronik.

Obat ini terbagi atas 3 yakni : 1. Granisteron

Obat jenis ini tersedis dalam bentuk tablet dan sirup untuk diminum secara oral. Untuk pencegahan mual dan muntah pada kemoterapi. Granisteron biasanya diminum satu jam sebelum kemoterapi dijalankan. Dosis kedua diberikan setelah 12 jam dari dosis pertama. Konsumsi obat ini harus sesuai dengan resep dokter. Tidak boleh kuang maupun lebih.

2. Ondansentron

Obat ini diperuntukkan untuk mencegah mual dan muntah yang disebabkan kemoterapi kanker atau setelah operasi. Ondansentron bekerja dengan memblokade hormon serotonin yang menyebabkan muntah. Selain itu, obat ini juga digunakan pada klien pecandu alkohol.Obat ini digunakan sebelum atau sesudah makan. Obat ini juga dapat diminum bersama antasida.

Pada kemoterapi obat ini diberikan pada 30 menit pertama sebelum kemoterapi. Dosis selanjutnya sesuai anjuran dokter. Biasanya 1 sampai 2 hari setelah kemoterapi selesai.Pada kasus lain pemberian obatnya pun berbeda.

Hal yang perlu diketahui seorang dokter, perawat atau pun seorang apoteker sebelum melakukan pemberian obat ini adalah riwayat penyakit perut atau usus, penyakit hati, dan alergi. Selain itu, pecandu alkohol sebaiknya mengurangi konsumsi alkoholnya saat mengkonsumsi obat ini karena dapat meningkatkan efek sampingnya. Obat ini juga diketahui dapat mengganggu konsentrasi konsumen dan dapat berpengaruh pada janin dalam kandungan serta mempengaruhi ASI pada Ibu produktif menyusui kerena obat ini disekresikan melalui ASI, salah satunya.

3. Tropisetron

Obat jenis ini digunakan pada mual karena kemoterapi atau muntah pada anak. Indikasi dari obat ini adalah radiasi, obat golongan opiat, obat sitotoksik dan anstesi umum.

Selain dopamin, ada juga obat yang disebut Metoclopramide yang juga bekerja pada salura pencernaan sebagai prokinetik namun kurang berguna pada rasa ingin muntah karena sitotoksik dan anastesi umum.

Yang harus diperhatikan sebelum mengkonsumsi metoclopramid adalah:

1. Konsultasikan ke dokter mengenai obat resep dan non-resep yang anda konsumsi yang mengandung amobarbital, insulin, narkotika, phenobarbital, sedative, transquilizer, dan vitamin.

2. Kemukakan pada dokter bila anda pernah mengidap atau masih mengidap tumor adrenal, penyakit kejiwaan, parkinson, hipertensi, penyakit hati, liver atau ginjal.

3. Kemukakan pada dokter tentang kehamilan maupun rencana kehamilan dan menyusui anda.

4. Saat anda masa operasi termasuk operasi dentist, kemukakan pada sentist tersebut mengenai konsumsi metoclopramid anda.

5. Obat ini menekan saraf sadar anda sehingga dapat menyebabkan kantuk, jadi usahakan untuk tidak berktivitas

berkendara selama mengkonsumsi obat ini dan jangan mengkonsumsi alkohol bersama obat ini.

c. Golongan Antihistamin

Golongan antihistamin ini juga disebut golongan antagonis reseptor H1 histamin. Obat ini efektif untuk beberapa kondisi seperti mabuk perjalanan dan rasa mual di pagi hari pada ibu hamil. Obat golongan ini digunakan ketika main set seseorang tentang mual muntah tidak dapat diubah atau tidak berhasil mengubah main set. Efek samping dari obat golongan ini adalah mengantuk kemudian pasien akan tengang atau tertidur sehingga tidak muntah. Obat dari golongan antihistamines diantaranya :

a. Dimenhydramine ® selain sebagai anti emetik juga konvulsi, halusinasi bahkan kematian pada anak. Obat ini juga menyebabkan kantuk dan tidak dianjurkan pada BUMIL dan Ibu Menyusui.

d. Betahistine

Betahistin dihidroklorida adalah obat yang sangat mirip senyawa histamin alami. Betahistine bekerja secara langsung berikatan dengan reseptor histamin yang terletak pada dinding aliran darah, termasuk didalam telinga.

Dengan mengaktifkan reseptor ini dapat menyebabkan vasokontraksi. Dengan peningkatan sirkulasi darah,

mengurangi tekanan di telinga. Betahistine fungsi utamanya sebagai obat penyakit Meniere.

Obat ini membantu menghilangkan tekanan didalam telinga dan mengurangi frekuensi dan keparahan serangan mual dan pusing. Betahistine juga mengurangi bunyi mendenging di telinga (tinitus) dan membantu fungsi pendengaran menjadi normal.

4.5.4. Obat generik, indikasi, kontra indikasi, efek samping 1. Sinarizin

Indikasi : kelainan vestibuler seperti vertilago, tinnitus, mual dan muntah.

Kontra indikasi : kehamilan/ menyusui, hipotensi, dan serangan asma

Efek samping : gejala ekstra pyramidal, mengantuk, sakit kepala

2. Dimenhidrinat

Indikasi : mual, muntah, vertigo, mabuk perjalanan dan kelainan labirin

Kontra indikasi : serangan asma akut, gagal jantung dan kehamilan

Efek samping : mengantuk dan gangguan psikomotor

3. Klorpromazin HCl

Indikas : mual dan muntah

Kontra indikasi : gangguan hati dan ginjal

Efek samping : mengantuk, gejala ekstra piramidal

4. Perfenazin

Indikasi : mual dan muntah berat Kontra indikasi : gangguan hati dan ginjal

Efek samping : mengantuk, gejala ekstra piramidal

5. Proklorperazin

Indikasi : mual dan muntah akibat gangguan pada labirin

Kontra indikasi : gangguan hati dan ginjal

Efek samping : mengantuk, gejala ekstra piramidal

6. Trifluoperazin

Indikasi : mual dan muntah berat Kontra indikasi : gangguan hati dan ginjal

Efek samping : mengantuk, gejala ekstra piramidal

Analisa Resep Resep 1

Obat pada resep yang berhubungan dengan mual muntah : a. Ondansetron

Kandungan : ondansetron 4 mg/2 ml, 8 mg/4 ml

Indikasi : penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi atau radioterapi dan setelah operasi Mekanisme kerja : ondansetron adalah suatu antagonis reseptor 5HT3

yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah tingkat berat akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi maupun induksi lainnya.

Dosis :

- Pencegahan mual dan muntah setelah operasi :

Dosis pertama 8 mg, tablet diberikan satu jam sebelum pembiusan dilanjutkan pemberian 2 dosis berikutnya 8 mg tablet dengan interfal waktu masing-masing 8 jam. Atau 4 mg injeksi i.m.

sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan.

- Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi : dosis awal 8 mg melalui injeksi i.v. secara lambat atau infus selama 15 menit segera sebelum kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg/jam secara terus – menerus selama < 24 jam atau 2 injeksi 8 mg secara i.v.

lambat atau infus selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam.

Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg/ oral sehari 2x selama < 5 hari

- Mual dan muntah karena radioterapi : 8 mg per oral sehari 3 kali dimulai 1-2 jam sebelum radioterapi. Anak : 5 mg/ ml secara injeksi i.v. selama 15 menit segera sebelum kemoterapi, diikuti dengan 4 mg/ oral tiap 12 jam selama kurang 5 hari. Penderita dengan gangguan fungsi hati diberikan dosis tunggal harian tidak boleh > 8 mg

4.6. LAKSATIVA

Dalam dokumen Standar Presiden (Halaman 80-88)

Dokumen terkait