• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Preeklamsia

7. Penanganan Preeklamsia

Penanganan preeklamsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklamsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal.

Pada preeklamsia ringan, penanganan simtomatis dan berobat jalan dengan memberikan: 1) Sedatif ringan (phenobarbital 3 x 30 mg, valium 3 x 10 mg); 2) Obat penunjang (vitamin B kompleks, vitamin c atau vitamin E, zat besi); 3) Nasihat

17 (garam dalam makanan dikurangi, lebih banyak istirahat baring ke arah punggung janin, segera datang memeriksakan diri, bila terdapat gejala sakit kepala, mata kabur, edema mendadak atau berat badan naik, pernapasan semakin sesak, nyeri pada epigastrium, kesadaran makin berkurang, gerakan jani melemah-berkurang, pengeluaran urine berkurang); 4) Jadwal pemeriksaan hamil dipercepat dan diperketat. Petunjuk untuk segera memasukkan penderita kerumah sakit atau merujuk penderita perlu memerhatikan hal berikut: Bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, protein dalam urine 1 plus atau lebih, kenaikan berat badan 1,5 kg atau lebih dalam seminggu, edema bertambah dengan mendadak, tardapat gejala dan keluhan subjektif.

Bidan yang mempunyai polindes dapat merawat penderita preeklamsia berat untuk sementara, sampai menunggu kesempatan melakukan rujukan sehingga penderita mendapat pertolongan yang sebaik-baiknya. Penderita diusahakan agar terisolasi sehingga tidak mendapat rangsanagn udara ataupun sinar, dipasang infus glukosa 5%, dilakukan pemeriksaan umum (pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu dan perapasan), pemeriksaan kebidanan (pemeriksaan leopold, denyut jantung janin), pemeriksaan dalam (evalusai pembukaan dan keadaan janin dalam rahim), pemasangan kateter, evaluasi keseimbangan cairan, pengobatan (sedatif: phenobarbita 3 x 100 mg, valium 3x 20 mg), menghindari kejang: magnesium sulfat (dosis awal 8 g IM, dosis ikutan 4 g/6 jam, obsevasi pernapasan tidak kurang 16 menit, refleks patela positif, urine tidak kurang dari 600 cc/ 24 jam), valium (dosis awal 20 mg IV, dosis ikutan 20 mg / drip 20 tetes/ menit; dosis maksimal 120 mg/ 24 jam), kombinasi pengobatan (pethidine 50 mg IM, klorpromazin 50 mg IM, diazepam [valium] 20 mg IM), bila terjadi oligouria diberikan glukosa 40% IV untuk menarik cairan dari jaringan, sehingga dapat merangsang diuresis.

Setelah keadaan preeklamsia berat dapat diatasi, pertimbangan mengakhiri kehamilan berdasarkan: kehamilan cukup bulan, mempertahankan kehamilan sampai mendekati cukup bulan, kegagalan mengobati preeklamsia berat kehamilan diakhiri tanpa memandang umur, merujuk penderita ke rumah sakit untuk pengobatan yang adekuat, mengakhiri kehamilan merupakan pengobatan utama untuk memutuskan kelanjutkan preeklamsia menjadi eklamsia. Dengan perawatan sementara dipolindes, maka melakukan rujukan penderita merupakan sikap yang paling tepat. (Manuaba, dkk, 2010).

Penanganan preeklamsia ringan dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni: 1) Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan, dengan cara: ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring tidur/miring), diet: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian sedativa ringan: tablet phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg peroral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang setiap 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hemotokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal; 2) Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsia ringan berdasarkan kriteria: setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.

Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat. Jika dalam perawatan dirumah sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.

19 Perawatan obstetri pasien preeklamsia ringan meliputi: 1) Kehamilan preterm (kurang 37 minggu); bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan, peralinan ditunggu sampai preterm; bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilan dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih; 2)Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih); persalinan di tunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan; 3) Cara persalinan: persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II.

Untuk penanganan preeklamsia berat dapat ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi: 1) perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal; 2) perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal.

Perawatan aktif, sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment yakni pemeriksaan Nonstress Test (NST) dan ultrasonografi (USG), dengan indikasi (salah satu atau lebih) yakni: 1) Ibu: usia kehamilan 37 minggu atau lebih; adanya tanda-tanda atau gejala impending eklamsia, kegagalan terapi konservatif yaitu selama 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medicinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan); 2) Janin: hasil fetal assesment jelek (NST dan USG): adanya tanda-tanda Intra Uterin Growt Retardation (IUGR); 3) Hasil laboratorium: adanya “HELP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia).

Perawatan konservatif atau Pengobatan medicinal pasien preeklamsia berat (dilakukan dirumah sakit dan atas instruksi dokter) yaitu: segera masuk rumah sakit;

tirah baring miring kesatu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam; infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125 cc/jam) 500 cc; berikan antasida; diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam; pemberian obat anti kejang MgSO4: deuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung kongesif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/IM.

Antihipertensi diberikan bila: tekanan darah sistolik lebih 180 mmHg, diastolik lebih 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan sistolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta, dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang bisa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah.

Bakri (1997 dalam Rukiyah dan Yulianti, 2010) mengatakan bahwa Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet anti hipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersamaan dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral. Pengobatan jantung jika ada indikasinya yakni ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D. Lain-lain: konsul bagian penyakit dalam/jantung, mata; obat-obat antipiretik diberikan jika suhu rectal lebih 38,50C dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2cc IM; antibiotik diberikan atas indikasi. Diberikan ampisilin 1gr/6jam/IV/hari; anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir.

21

Dokumen terkait