• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.2. Penanganan Tahap II A. Pengeringan gabah

Gabah-gabah yang telah diangkut ke tempat penyimpanan sementara (belum dimasukkan gudang atau lumbung) perlumendapat penanganan lebih lanjut, seperti pengeringan, pembersihan akhir, pengepakan dan penggudangan.

Tujuan pengeringan yaitu untuk mendapatkan gabah kering yang tahan untuk disimpan dan memenuhi persyaratan kualitas gabah yang akan dipasarkan, yaitu dengan cara mengurangi air pada bahan (gabah) sampai kadar air yang dikehandaki.

Dengan demikian maka pengeringan merupakan daya upaya untuk mengurangi atau menurunkan kandungan kadar air pada bahan (gabah) sampai pada kadar air tertentu. Tujuan pengeringan gabah (seperti telah dikemukakan di atas) kalau dijabarkan lebih lanjut yaitu : untuk memudahkan penggarapan/pengelolaan selanjutnya, mencegah kerusakan karena perkembangan hama dan jamur, mencegah kemunduran sifat-sifat fisik dan biologis gabah dan mempertahankan nilai gizi pada gabah.

Mengapa gabah selepas panen harus segera dikeringkan. Hal ini perlu diperhatikan, sebab kadar air pada gabah selepas dipanen masih cukup tinggi sekitar 25% - 30%, bahkan kadang-kadang lebih. Kalau gabah itu terus disimpan

35 tanpa pengeringan terlebih dahulu maka gabah jelas akan mengalami kerusakan-kerusakan sebagai berikut :

(1). kerusakan karena gabah terangsang daya pertumbuhannya yang dalam hal ini gabah akan berkecambah.

(2). kerusakan karena mikroba akan terangsang perkembangannya, sehingga praktis gabah dalam penyimpanan akan mengalami serangan-serangannya, seperti terlihat pada penjelasan berikut :

(a) kadar air gabah 16% - 30% menjadikan gabah itu busuk yang disebabkan oleh panas akibat respirasi yang berlangsung terus, pembusukan mana ternyata berkaitan dengan pertumbuhan jamur yang serba cepat.

(b) kadar air gabah yang sedikit turun sampai sekitar 12% - 16% masih memberi kesempatan besar kepada jamur untuk tumbuh pada gabah dan serangga dapat berkembang.

(c) tetapi apabila kadar itu dapat diturunkan sampai sekita 9% - 12% (karena pengeringan) jamur tidak dapat tumbuh pada gabah, dan kalau kadar air ini lebih diturunkan lagi sampai di bawah 9% maka hama serangga (kutu-kutuan) tidak akan dapat berkembang baik dalam gabah.

(3) Kerusakan karena kehilangan berat dan turunnya nilai gizi, yang dalam hal ini perlu diketahui bahwa kadar air gabah yang masih cukup tinggi (belum mendapat pengeringan) yaitu sekitar 25% ke atas dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan (biasanya bertemperatur sekitar 280C – 300C) aktivitas pernafasannya akan terangsang sehingga cukup besar, akibat dari kejadian ini temperatur ruangan menjadi tinggi, uap air dan gas asam arang makin banyak

36 dikeluarkan gabah dan dengan demikian kehilangan berat dan turunnya nilai gizi tidak dapat dihindarkan.

Demikianlah, maka pengeringan itu harus diperhatikan, dan jangan sekali-kali menyimpan gabah langsung selepas panen tanpa mendapat perlakuan pengeringan terlebih dahulu. Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara alami dan secara mekanis. Pengeringan secara alami mengandalkan pada teriknya sinar matahari, sedang pengeringan secara mekanis dengan menggunakan alat bantu seperti mesin pengering.

(1). Pengeringan Secara Alami

Pengeringan gabah secara alami dilakukan di atas lantai yang terbuat dari semen, yang dalam hal ini lantai bersih dan tidak ada genangan-genangan air.

Gabah dihamparkan di atasnya setebal 3 – 5 cm pada pagi hari (sekitar jam 08.00) kalau keadaan udara cerah. Sekiranya lapisan atas gabah telah kering lakukan pembalikan baik dengan menggunakan tangan atau sekop, pembalikan hendaknya dilakukan secara berulang-ulang. Sore hari sekitar jam 16.00 dilakukan pengumpulan gabah dengan bantuan alat penggaruk sehingga merupakan gunungan kecil, kemudian gunungan kecil ditutup dengan lembaran plastik yang lebar, sehingga tidak ada bagian yang terbebas, untuk melindunginya kalau-kalau turun hujan dan dari pengaruh embun. Tetapi sekiranya jumlah yang dikeringkan tidak terlalu banyak, angkutlah gabah ke tempat penyimpanan sementara.

Lakukan pengeringan seperti di atas selama 2 sampai 3 hari. Setelah itu dilakukan dengan cara menggenggam dan melepaskan sekumpulan gabah atau menggosok-gosoknya dan apabila suaranya gemeresik tandanya gabah telah kering, pengujian

37 selanjutnya dilakukan dengan cara menggigit gabah atau memutarnya di atas lantai dengan tumit dan apabila gabah patah dengan kulit terkelupas, yakinlah gabah telah kering setingkat dengan yang dikendaki.

Dalam pengeringan gabah secaraalami ini hendaknya diperhatikan aktivitas pembalikan gabah, karena hamparan gabah yang menerima teriknya sinar matahari yang lama tidak dibalik-balikkan, maka lapisan bawah dekat alantai akan mengalami kerusakan yang biasa disebut kasus pengerasan bahkan ada yang mengalami kegosongan. Penjemuran yang terlalu lama sedang cuaca sukar terkontrol, juga dapat menimbulkan kerusakan, yaitu dengan terjadinya kontaminasi oleh jamur atau penyakit lainnya. Pengawasan perlu pula diperhatikan untuk mencegah kehilangan, misalnya terhadap unggas (ayam dan burung). Kehilangan pada waktu pengeringan cukup banyak, yaitu sekitar 1,5% - 2% dari jumlah gabah yang dikeringkan.

(2). Pengeringan Secara Mekanik

Kalau pengeringan secara alami tidakbisa dilakukan karena adanya gangguanalami, seperti hari-hari hujan, cuacamendung sepanjang hari, dan lainsebagainya, pada waktu sekarang tidak perlulagi merisaukan para petani atau industri-industripengolahan gabah karena parateknisi pertanian telah dapat menciptakan alatpengering gabah mekanis, seperti BatchDryer dan Continue.

38 Tabel 11: Rekapitulasi Hasil pengeringan padi di Desa Paraikatte Kecamatan

Bajeng Kabupaten Gowa

NO Pengeringan gabah Jumlah

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2014

Dari Tabel 11 hasil pengeringan gabah di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa berkategori rendah karena petani hanya menggunakan tempat pengeringan yang sederhana seperti ruang terbuka atau lapangan yang berkategori sedang karena petani akantakut kehilangn hasil yang banyak apabila terjadi hujan ini bisa menyebabkan gabah basah sampai hasil yang didapatkan petani kurang.Dalam penggunaan alat pengeringan gabah berkategori sedang karena petani di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa hanya menggunakan alat pengeringan yang secara mekanis seperti: Batch Drayer.

Dokumen terkait