III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN
3.1.5 Penanganan Telur
Pengambilan telur dilakukan dengan menggunakan mesin penarik telur dari sangkar yang disebut dengan conveyor. Penggunaan conveyor ini bertujuan untuk menarik telur dari sangkar yang ada di dalam kandang sampai keluar kandang. Alat ini dianggap lebih efisien daripada mengambil telur satu persatu dari
kandang. Telur-telur tersebut ditarik dari sangkar tempat ayam bertelur. Di dalam satu kandang ada kurang lebih 78 sangkar, setiap sangkar ada 20 lubang jadi total seluruh lubang sangkar yaitu 1560 lubang. Rasio untuk satu sangkar dengan jumlah ayam betina yaitu 1 : 6,5 ekor. Satu sangkar dapat digunakan untuk kurang lebih 6 ekor.
Pengambilan telur dengan menggunakan conveyor tersebut dilakukan sebanyak 3 kali sehari yaitu pukul 08.00, 10.00, dan 14.00. Pengambilan pada pagi hari lebih banyak dibandingkan dengan pengambilan pada waktu lainnya, ini dikarenakan pada pagi hari adalah jumlah telur yang didapatkan pada hari tersebut dan hari sebelumnya setelah pukul 16.00 yaitu saat masa kerja karyawan habis. Sekitar 16 jam telur dibiarkan menumpuk setelah pukul 16.00 sampai dengan pengambilan pada pagi harinya. Telur yang menumpuk ini terkadang membuat
conveyor mengalami kemacetan, selain itu kejadian ini membuat banyak telur
mengalami kerusakan.
Ayam tidak selalu bertelur pada sangkar yang sudah disediakan, banyak dari ayam-ayam tersebut yang lebih menyukai bertelur di sekam dan slat. Kejadian demikian membuat banyak sekali telur yang tercecer, oleh karena itu pekerja selalu masuk kandang selain untuk mengecek keadaan kandang juga untuk mengambil telur yang tercecer agar hasil PE (Production Eggs) sebanding dengan jumlah ayam yang bertelur. PE diketahui dari jumlah telur dari kandang pada hari tersebut.
Gambar 30. Pengambian telur di litter
Hasil PE 92,3% dianggap normal untuk produksi pada masa puncak produksi. PE disebut juga dengan HDP (Hen Day Production) nilai PE 92,3% pada masa produksi dianggap masih rendah dibandingkan dengan penelitian menurut Malik dan Rahmawati (2006) bahwa ayam strain Isa pada puncak produksi persen HDP nya adalah 94%. Hasil tersebut didapat dari suatu perlakuan penyeragaman bobot badan, dan seleksi, jika tidak dilakukan penyeragaman dan seleksi maka hasilnya rendah yaitu 90%. Hasil HDA ( Hen Day Average) dan
92% dan HHA 88,92% menurut buku panduan SOP Chereon Pokhpand masih dianggap cukup tinggi dan mencapai target produksi.
3.1.5.2 Fumigasi
Telur setelah diambil maka dilakukanlah fumigasi. Fumigasi bertujuan untuk menghilangkan mikroba yang ada di bagian kerabang telur, karena telur dari kandang tidak selamanya bersih, pasti akan ada kotoran maupun mikroba yang hidup, karena telur ini akan ditetaskan maka kebersihannya harus terjaga oleh karena itu dilakukanlah fumigasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kartasudjana (2001) fumigasi adalah upaya membunuh bakteri yang ada dipermukaan dengan menggunakan bahan fumigasi. Fumigasi berbentuk seperti gas yang cara kerjanya akan masuk ke tiap celah walaupun partikel kecil, oleh karena itu ini efisien untuk membunuh bakteri yang ada di luar telur, terutama bakteri yang menyelinap di bagian celah celah kutikula.
Gambar 31. Persiapan fumigasi
Fumigasi menggunakan campuran antara forcen dan formalin. Forcent yang digunakan yaitu sebanyak 76 g, dan formalin yaitu sebanyak 155 ml.
Fumigasi dilakukan selama 20 menit, selama 20 menit tersebut campuran forcent
dan formalin tersebut berubah menjadi gas yang dapat menyesakan jika dihirup
dan pedih di mata.
Fumigasi dilakukan pada ruangan khusus berukuran 3 x 1,5 m2. Ruang fumigasi tersebut dapat menampung sebanyak 11.000 butir telur. Ruangan fumigasi memiliki corong keluar kandang untuk tempat pembuangan gas agar asap tidak menyerang pekerja yang berada di dalam.
3.1.5.3 Grading
Telur setelah melalui tahap fumigasi maka akan dilanjutkan pada tahap
grading. Tahap grading tersebut bertujuan untuk menyeleksi telur menjadi
beberapa tipe dan grade. Telur dibagi menjadi 3 grade, yaitu grade A1, A2, dan A3. Pembagian grade tersebut dilihat dari berat yang dimiliki telur. Grade telur daisajikan pada Tabel. 2.
Tabel 2. Grade Telur PT Chareon Pokphand
No Grade Berat (g)
1 A1 50-52
2 A2 53-60
3 A3 60-65
Grading telur yang dilakukan di PT CAP Layer Unit Sukajaya 2 Lampung
bukan hanya memisahkan antara yang besar dan yang kecil, namun ada beberapa yang dilakukannya pembersihan kotoran dengan cara dilap, hal ini memang bertentangan dengan teori bahwa telur dilarang untuk digosok karena itu akan
melukai bagian kutikula telur. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Rachmawan (2001) bahwa penggosokan telur menyebabkan pelebaran pori-pori kulit yang dapat mempercepat penguapan, mencairnya putih telur karena goyangan. Banyak kekurangan yang ditimbulkan jika menggosok kerabang telur, namun akan lebih banyak lagi kerugian yang didapatkan jika tidak dilakukannya pengelapan, karena telur akan kotor, menjadi sarang mikroba, lebih dari itu telur tidak akan diterima oleh hatchery karena untuk masuk ke hatchery telur harus terlihat bersih. Telur bersih adalah telur yang terhindar dari kotoran yang akan menjadi sarang mikroba sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan embrio di dalamnya terhambat.
s
Gambar 32. Hasil grading telur
Hasil telur yang sudah digrading akan dihitung persentasinya atau yang disebut dengan HE (Hatching Eggs), telur hatching eggs adalah telur yang memenuhi kriteria A1, A2, dan A3. Hasil telur PE tidak selamanya baik untuk ditetaskan maka dari itu grading telur dilaksanakan untuk memisahkan antara telur komersial dan telur tetas (HE). Telur komersial adalah telur yang tidak termasuk
pada salah satu grade, seperti telur kecil, telur rusak, telur jumbo, telur kerabang tipis, dan beberapa telur yang mengalami kerabang yang tidak beraturan. Hal tersebut dapat disebabkan karena ayam yang kurang sehat, keadaan organ reproduksi yang sedang bermasalah, kurangnya asupan grit, dan juga dari manajemen pengambilan telur yang kurang baik. Hasil HE kandang 5 dari pengamatan setiap hari menunjukan bahwa telur dengan grade A3 lebih mendominasi daripada telur dengan grade yang lain, itu artinya telur tetas berada dalam kondisi baik dengan bobot yang cukup yaitu rata-rata sebesar 60 g-65 g. Hasil ini sesuai dengan pendapat Ardiansyah (2012) bahwa ayam ISA pada puncak produksi menghasilkan telur yang rata-rata bobotnya sekitar 62,9 g.
Hasil HE untuk kandang 5 adalah 96,99%. hasil ini diaggap baik karena dapat diartikan dari 100% telur PE hanya 3% yang tidak lolos seleksi. Misalnya diambil contoh dari 1000 telur PE maka yang lolos selesksi yaitu sebesar 9700 butir. Sisa yang tidak terselesksi termasuk pada telur yang mengalami kerusakan.
3.1.5.4 Penyimpanan Telur
Telur disimpan pada suatu ruangan yang disebut dengan holding room. Suhu pada holding room berkisar antara 18-20oC. Suhu tersebut dianggap sesuai untuk telur karena di dalam telur terdapat embrio yang membutuhkan suhu yang sesuai untuk terus hidup. Penyimpanan dalam holding room hanya sementara sampai telur tersebut dikirim ke hatchery.
Gambar 37. Holding room