• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIK KERJA TATA LAKSANA PEMEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIK KERJA TATA LAKSANA PEMEL"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

i

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN AYAM BIBIT INDUK PETELUR PERIODE PRODUKSI DI PT. CENTRAL AVIAN PERTIWI

PS. BREEDER LAYER UNIT SUKAJAYA 2 LAMPUNG

Oleh : IIS ISTICHAROH

NIM. D1E013216

LAPORAN PRAKTIK KERJA

Untuk memenuhi salah satu persyaratan kurikuler Pada Program Studi Peternakan

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PETERNAKAN

PROGRAM STUDI PETERNAKAN PURWOKERTO

(2)

ii

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN AYAM BIBIT INDUK PETELUR PERIODE PRODUKSI DI PT. CENTRAL AVIAN PERTIWI

PS. BREEDER LAYER UNIT SUKAJAYA 2 LAMPUNG

Oleh :

IIS ISTICHAROH NIM. D1E013216

Diterima dan disetujui

Pada tanggal : ………..

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. H. Imam Suswoyo, M. Agr. Sc Dr. Ir. Bambang Hartoyo, M.Si NIP. 19611024 198601 1 001 NIP. 19601031 198703 1 001

Pembantu Dekan I Ketua Program

Studi Peternakan

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT atas rahmat, taufik dan hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Kerja

yang berjudul “Tatalaksana Ayam Bibit Induk Petelur Periode Produksi di PT.

Central Avian Pertiwi PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung”. Laporan praktik kerja disusun untuk memenuhi persyaratan kurikuler pada program S1 Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.

Selesainya Praktik Kerja dan Laporan Praktik Kerja ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung diantaranya :

1. Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq M.Sc, Agr selaku Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman dan penanggung jawab Praktik Kerja. 2. Ir. Endro Yuwono, MS selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Peternakan

Universitas Jenderal Soedirman.

3. Ir. Pambudi Yuwono, M.Sc selaku Ketua Program Studi Produksi Ternak. 4. Ir. H. Imam Suswoyo, M. Agr. Sc dan Ir. Bambang Hartoyo, M.Si selaku

dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahannya dalam penyusunan laporan Praktik Kerja.

5. Tatang Heryana, S.Pt selaku manajer PT. Central Avian Pertiwi Unit Sukajaya 2 Lampung beserta jajarannya.

6. Seluruh karyawan PT. Central Avian Pertiwi Unit Sukajaya 2 Lampung.

(4)

iv

8. Teman-teman seperjuangan kelompok Praktik Kerja yang telah bekerja sama dalam kegiatan praktik kerja.

9. Seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan Praktik Kerja.

Penulis menyadari bahwa dalam Laporan Praktik Kerja ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Semoga Laporan Praktik Kerja ini dapat menjadi acuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi semua pihak.

Purwokerto, Juli 2016

(5)

v

1.3 Bidang Usaha yang Dijalankan ... 2

1.4 Tujuan ... 3

III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN ... 7

3.1 Kegiatan Rutin ... 7

3.1.1 Kegiatan Biosecurity ... 7

3.1.2 Pengamatan Kandang ... 10

3.1.3 Pemberian Pakan ... 16

3.1.4 Pemberian Air Minum ... 21

3.1.5 Penanganan Telur ... 25

3.1.6 Ventilasi ... 32

3.1.7 Pencahayaan ... 36

3.2 Kegiatan Insidental... 39

(6)

vi

3.2.2 Penanganan Alas Kandang ... 40

3.2.3 Bedah Bangkai ... 41

3.2.4 Culling ... 43

3.3 Kegiatan Penunjang ... 45

IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 47

(7)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar ... Halaman

1. Shower Gate Way ... 8

2. Dipping ... 8

3. Proses desinfektan roda empat ... 8

(8)

viii

43. Pembakaran di insenator ... 39

44. Bangkai ayam ... 42

45. Proses Bedah bangkai ... 42

46. Yolk Peritonitis ... 43

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kebutuhan Ayam Petelur ... 20

2. Grade Telur PT Chareon Pokphand ... 29

3. Repot Ayam ... 51

(10)

x

DAFTAR RUMUS

Rumus Halaman

1. Feeder space ... 52

2. Point feed ... 53

3. Kapasitas nipple ... 53

4. PE ... 53

5. HE ... 53

6. HDA ... 54

7. HHA ... 54

(11)

xi RINGKASAN

Kerja praktik dilaksanakan di PT. Central Avian Pertiwi PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung yang berlokasi di Desa Sukajaya, Kecamatan Ketibung, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dimulai pada tanggal 14 Januari 2016 sampai dengan 13 Februari 2016. PT. CAP PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung berdiri sejak tahun 2011 dan resmi menjadi anak perusahaan PT. Chareon Pokhpand Jaya Farm yang memelihara ayam bibit induk petelur dengaan strain

Isa Brown. Perusahaan ini memiliki 8 kandang yang dibagi menjadi 2 flock

dengan kapasitas 12.500 ekor perkandang. Tipe kandang yang digunakan yaitu tipe kandang close house. Ayam yang dipelihara di PT CAP PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung merupakan ayam bibit petelur fase produksi yang memiliki umur 32 minggu. Fase ini ayam diberi pakan dengan kode pakan 534 H. pemberian pakan dilakukan dengan menggunakan feeder trough yang otomatis diputar selama 6 menit. Pemutaran dilakukan sebanyak 3 kali sehari. Kegiatan rutin yang dilakukan meliputi biosecurity, manjemen pakan, manajemen kandang, manajemen air minum, manajemen penanganan telur (pengambilan telur, fumigasi, dan grading), pencahayaan, sistem ventilasi, pengamatan kandang, penanganan alas kandang, dan kegiatan penunjang yaitu diskusi dengan manajer,

dan supervisor.Kegiatan difokuskan pada kandang 5 flock 2 memelihara 11.033

(12)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peternakan merupakan bagian lain dari pertanian yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan.Perunggasan menjadi salah satu komoditas paling popular dalam dunia peternakan.Unggas menghasilkan telur dan daging sebagai salah satu sumber protein hewani bagi masyarakat.Di Indonesia industri pembibitan unggas (Breeder Farm) Parent Stock sudah mulai banyak berdiri di berbagai daerah dan telah menjadi suatu bisnis yang menjanjikan.

Merajuk pada keuntungan hasil unggas yang potensial tersebut, maka dewasa ini banyak didirikan peternakan unggas terutama ayam di berbagai tempat, persaingan pun semakin terlihat. Perusahaan yang paling terkenal dan memiliki banyak cabang yaitu PT. Chareon Pokhpand Indonesia, salah satu cabangnya berada di daerah Lampung yang bernama PT. Central Avian Pertiwi.

PT Central Avian Pertiwi merupakan Breeder Parent Stock Layer yang bertujuan untuk menghasilkan telur tetas khusus final stock layer.Managemen yang diterapkan berbeda dengan manajemen pada Breeder Parent Stock Broiler. Perbedaan tersebut terletak pada tatalaksana pemeliharaan, manajemen pakan, dan manajemen kesehatan.

1.2 Lokasi Peternakan

(13)

105° - 105,45°BT dan 5,15 – 6,10°LS. Batas wilayah kabupaten ini yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur, sebelah selatan berbatasan dengan Selat Sunda, sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia. Kabupaten lampugn selatan memiliki luas wilayah 2.109,74 km2 dengan ketinggian ± 30-60 m di atas permukaaan laut dan berpenduduk sebanyak ± 923.002 jiwa. Suhu rata-rata berkisar antara 27° - 33°C. Suhu maksimum 33°C dan suhu minimum 22°C. Kelembaban udara antara 70-80% dan pada daerah yang lebih tinggi kelembaban juga akan lebih tinggi.

Perusahaan ini berjarak 2 km dari jalan raya Trans Lampung dan memiliki batas wilayah yaitu sebelah barat Desa Padasuka, sebelah timur berbatasan dengan Desa Tanjung Ratu, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tanjung Ratu, dan sebelah utara berbatasan dengan Desa Gerbang Mataram. PT. CAP PS Breeder Layer Unit Sukajaya 2 Lampung memiliki luas wilayah farm 13.362,5 m2.

1.3 Bidang Usaha yang Dijalankan

PT. Central Avian Pertiwi Unit Sukajaya 2 Lampung bergerak di bidang pemeliharaan ayam bibit induk petelur (parent stock) yang pada akhirnya menghasilkan final stock. Sistem perkandangan yang digunakan adalah kandang koloni dengan sistem close house tipe single. Area kandang terbagi menjadi 2

flock, yaitu flock 1 yang terdiri atas kandang 1,2,3,4 dan flock 2 yang terdiri atas

(14)

Production) pada kandang 1, 33W/11 WOP pada kandang 2, 33 W/10 WOP pada kandang 3, 32 W/10 WOP pada kandang 4, 32 W/10 WOP pada kandang 5, 31 W/9 WOP pada kandang 6, 31 W/9 WOP pada kandang 7 dan 30 W/8 WOP. Total ayam yang dipelihara ketika itu adalah 87.395 ekor betina dan 9.045 ekor jantan. Sistem yang digunakan adalah All in All out mulai periode DOC (Day Old

Chick) sampai periode afkir. Telur yang dihasilkan selanjutnya akan digrading

berdasarkan kriteria tertentu. Bagi telur yang memnuhi syarat selanjutya akan dikirim ke hatchery untuk ditetaskan menjadi final stock.

1.4Tujuan

1.4.1 Mengetahui tata laksana pemeliharaan ayam bibit petelur di PT. Central Avian Pertiwi PS Layer unit Sukajaya 2 Lampung.

1.4.2 Membandingkan teori yang telah didapat di perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lokasi.

1.5Manfaat

1.5.1 Meningkatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam tatalaksana pemeliharaan ayam bibit petelur yang kelak dapat menjadi bekal yang berguna untuk mengembangkan dunia peternakan khususnya mengenai ayam bibit petelur.

(15)
(16)

II. MATERI DAN METODE

2.1 Materi

Materi yang digunakan pada saat praktik kerja di usaha pemeliharaan ayam bibit induk (parent stock), antara lain;

1) Ayam bibit induk petelur dengan strain Isa Brown umur 31-34 minggu dari keseluruhan kandang namun lebih difokuskan ke kandang 5. Rata-rata jumlah ayam betina per kandang yaitu sebanyak 11.033 ekor sedangkan untuk jantan 1.120 ekor. Bobot rata-rata ayam jantan 2 kg-2,3 kg, sedangkan untuk betina 1,5 kg-1,7 kg.

2) Delapan kandang close house lengkap dengan peralatan di dalamnya; 3) Pakan periode produksi 534 H serta air minum;

4) Desinfektan untuk biosecurity dan sanitasi beserta peralatannya; 5) Vaksin dan perlatan pendukung vaksinasi;

6) Fasilitas pendukung lain seperti : truk pengangkut, obat-obatan, dan vitamin;

2.2 Prosedur Kerja 2.2.1 Kegiatan Rutin

(17)

telur, fumigasi, dan grading), manajemen pakan dan air minum, penanganan limbah, manajemen sistem ventilasi, dan manajemen pencahayaan (lighting).

2.2.2 Kegiatan Insidental

Kegiatan insidental yang dilakukan yaitu penanganan alas kandang (penanganan litter dan slat), culling, vaksin, dan bedah bangkai.

2.2.3 Kegiatan Penunjang

Kegiatan penunjang yang dilakukan yaitu diskusi yang dilakukan bersama

manager, supervisor, anak kandang, serta staf tenaga kerja lainnya.

2.2.4 Waktu dan Tempat

(18)

III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

3.1Kegiatan Rutin 3.1.1 Kegiatan Biosecurity

Kegiatan biosecurity adalah suatu kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk meminimalisir kontaminasi mikroba pada ternak, sehingga ternak dapat berproduksi secara optimal. Program biosecurity di PT. CAP PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung dilakukan mulai dari pintu masuk area farm sampai dengan pintu kandang. Biosecurity ini dilakukan berdasarkan komponen sarana fisik dan prosedur. Sarana fisik meliputi batas kawasan peternakan, bentuk kandang, ruang isolasi, dan lain-lain, sedangkan komponen prosedur seperti alur masuk dan keluar kandang, desinfektasi saat masuk dan keluar kandang, ganti pakaian dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Adjid dkk., (2006) yang menyatakan bahwa

biosecurity merupakan upaya agar agen tidak masuk atau keluar dari area

peternakan yang didukung oleh komponen sarana fisik dan prosedur.

(19)

Gambar 3. Proses desinfektan roda empat

Masuk ke range 2 yaitu area kantor maka harus melewati shower 1.Di dalam

shower 1 setiap orang diwajibkan membuka seluruh pakaiannya ditaruh di tempat

yang sudah disediakan kemudian melewati penyemprotan desinfektan dan mandi, setelah itu memakai baju yang disediakan oleh pihak Farm.Adapun tempat untuk menaruh barang bawaan seperti handphone, tas, kaca mata, maupun barang lain

(20)

yang tidak bisa dibawa mandi maka ditaruh di box UV.Desinfektan yang dipakai yaitu bromo kuat dengan perbandingan 1 :1000.

Gambar 4. Box UV

Range 3 adalah area kandang, untuk memasuki area ini maka setiap orang

harus memasuki shower 2. Shower 2 memiliki prosedur yang sama dengan shower 1, hanya obat yang digunakan berbeda. Shower 2 memakai bromo kuat untuk menyemprot perbandingannya yaitu 1:1000. Keluar dari shower 2 maka pekerja harus berganti pakaian menjadi pakaian kandang lengkap dengan sepatu boots jalan. Pakaian kandang dapat diambil di loker yang telah disediakan biasanya warna pakaian kandang dari setiap flock berbeda, biasanya untuk flock satu pakaian jalan kandang berwarna kuning, sedangkan flock dua berwarna cokelat. Pakaian kandang ini hanya berlaku bagi pegawai biasa, sedangkan untuk manager, GM, dan petinggi lainnya memakai pakaian kandang khusus berwarna biru.

(21)

alkohol dan injak kapur juga dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk memutus segala macam bibit penyakit yang akan masuk ke kandang.

3.1.2 Pengamatan Kandang

Kandang berjumlah 8 buah yang dibagi menjadi 2 flock, masing-masing

flock terdiri atas 4 kandang. Kandang dibuat sejajar, flock 1 kandang menghadap

ke timur, sedangkan flock 2 kandang menghadap ke barat. Kandang dibuat dengan tipe close house, menurut Primaditya dkk.,(2015) kandang tipe “Closed House”, merupakan tipe kandang yang tertutup dan mempunyai pengaturan ventilasi udara yang baik dengan bantuan control panel otomatis.

Gambar 7. Farm

(22)

Seluruh kandang memiliki ukuran yang sama yaitu dengan panjang 120 m, lebar 12 m, dan tinggi 3 m. Bangunan kandang merupakan bangunan permanen sehingga ketahanan kandang tetap terjaga. Kandang menggunakan atap tipe gable yang memiliki bahan astino perbandingan 1 : 2. Lantai dasar kandang yang digunakan adalah plester. Alas kandang yang digunakan kombinasi slat dan litter. Keuntungan dari penggunaan lantai slat yaitu kotoran tidak menumpuk, sehingga kadar amonia rendah, kelembabaan terjaga dan sumber penyakit berkurang. Fungsi dari penggunaan lantai litter adalah untuk mandi pasir untuk mengeluarkan panas tubuh ayam, selain itu lantai litter berfungsi sebagai tempat

exercise ayam (animal wellfare). Area yang menggunakan alas litter berada

ditengah dengan lebar 4 meter, sedangkan area yang menggunakan slat yang terbuat dari plastik mempunyai lebar 4 meter untuk masing masing sisi kanan dan kiri. Pramudyati dan Agung Prabowo (2009) juga berpendapat bahwa kandang dengan lantai campuran litter dan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas litter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).

(23)

Setiap kandang terdiri atas 5 pen, panjang dan lebar yang digunakan yaitu 24 m x 12 m. Setiap pen dilengkapi sebuah pintu untuk keluar masuk, dan sebuah sekat dari pagar BRC. Penyekatan ini dilakukan untuk memudahkan dalam manajemen, khususnya untuk mengetahui tingkat kepadatan masing-masing kandang agar ayam yang dipelihara dapat nyaman dan berproduksi dengan baik. Tingkat kepadatan ayam di perusahaan ini yaitu sebesar 7,5-8,4 m2. Hasil tersebut diketahui dari jumlah ayam dibagi dengan luas kandang.

Kepadatan kandang = 12153 ekor/1440m2 = 8,4 ekor/m2

Kepadatan kandang sebesar 8,4 ekor/m2 adalah setiap 1m2 dapat ditempati oleh 8 ekor ayam, kepadatan kandang fase laying sudah berdasar pada bahwa kepadatan kandang ayam ISA Brown periode produksi adalah sebanyak 8 ekor/m2. Artinya kepadatan kandang tersebut sesuai, ayam dapat hidup dengan nyaman dan berproduksi dengan baik.

Kandang dilengkapi dengan beberapa peralatan yang menunjang manajemen berlangsung antara lain :

1) Automatic feeder through, feeder manual dan hopper yang berfungsi

sebagai serangkaian alat pemberian pakan.

2) Nipple yang terdiri atas cup nipple dan nozzle nipple. Peralatan tersebut

(24)

3) Shocker, terdiri atas shocke rnipple dan shocker litter, kedua alat ini berfungsi untuk alat penyetrum agar ayam tetap kondusif dalam situasi yang berbahaya misalnya dalam keadaan dingin, petir, dan suara lain yang menyebabkan ayam berkumpul karena ini dapat menimbulkan penumpukan ayam dan meningkatkan mortalitas.

Gambar 10. Feeder Trough Gambar 11. Feeder Manual

(25)

Gambar 14. Shocker Litter

4) Cooling pad berfungsi sebagai pendingin kandang, cara kerjanya seperti

AC yaitu jika keadaan di dalam sudah melebihi suhu normal maka

cooling pad yang terbuat dari kertas akan tersirami air dari atas

kemudian angin dari luar akan masuk ke ruang cooling pad lalu memasuki celah jendela yang nantinya akan mendinginkan area dalam kandang.

5) Blower berfungsi untuk mendinginkan ruangan cara kerjanya yaitu

menyerap panas dari dalam agar udar dari luar masuk.

6) Temptron dan control panel lihat pada yaitu control panel listrik suhu,

kelembaban, pencahayaan, dan lainnya agar tetap dalam keadaan nyaman.

(26)

blower dan cooling pad misalnya dalam keadaan listrik mati sampai lebih dari 15 menit.

8) Lampu sebagai sumber cahaya dalam kegiatan manajemen, biasanya lampu yang digunakan yaitu lampu dengan cahaya kuning berdaya 5-7 watt. Lampu ini diatur dengan daya tersebut karena jika lampu terlalu terang akan menimbulkan kanibalisme, sementara jika lampu terlalu redup maka ayam tidak akan bertelur secara maksimal mengetahui salah satu faktor pengeluaran telur itu adalah pencahayaan yang baik.

Gambar 15.Cooling pad Gambar 16. Blower

(27)

9) Sangkar, memiliki fungsi untuk tempat bertelur ayam berukuran kurang lebih 20 cm x 20 cm. sangkar ini memiliki kemiringan sebesar 5o agar telur dapat turun ke conveyor.

10) Conveyor dapat dilihat pada gambar 20, alat ini memiliki fungsi untuk

menarik telur sampai keluar kandang untuk digrading.

3.1.3 Pemberian Pakan

Pakan adalah salah satu faktor terpenting dalam suatu manajemen pemeliharaan. Pakan yang diberikan untuk ternak harus seimbang dan memenuhi

Gambar 19. Sangkar Gambar 20. Conveyor

(28)

kebutuhan tubuh ternak. Nutrien dalam pakan harus memenuhi kandungan protein dan energi untuk produksi telur. Kecukupan kedua nutrient tersebut sangat penting, menurut Allama, dkk (2011) apabila ayam kekurangan energi maka protein yang masuk pada tubuh akan diubah menjadi energi yang menyebabkan ayam kekurangan protein untuk tumbuh.

Feeder trough memanjang disebelah kanan dan kiri, setiap jalur terdapat

satu hopper. Pendistribusian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pukul 04.00, 10.00, dan 14.00 diputar selama 6 menit. Pemberian yang merata menghindarkan ternak saling berebut pakan yang akan mengakibatkan adanya kanibalisme.

Feeder trough di dalamnya ada sebuah rante sebagai penggerak pakan, rantai ini

juga berfungsi sebagai pengaduk pakan. Pakan akan berjalan sesuai jadwal dengan bantuan control panel yang ada di luar kandang yang telah diatur oleh pekerja.

Feeder Trough untuk satu kandang terdapat dua line secara melingkar

dengan ukuran setiap line lebar 10 cm dengan kedalaman 9 cm dan panjang 120 meter. Feeder dilengkapi dengan corner, kawat grill dan dua bak penampung pakan (hopper) dapat dilihat di Gambar 12. Hopper memiliki kapasitas pakan sebanyak 450 kg dengan tinggi hopper 57 cm dengan tinggi tambahan 113 cm, panjang 122 cm dan lebar 66 cm.

Feeder space adalah ruang kosong agar ayam dapat mengkonsumsi pakan.

Ruang dapat dihitung dengan cara jumlah ayam dibagi panjang trough. Feeder

space di kandang lima sebesar 26,78 ekor/meter trough. Artinya setiap satu meter

(29)

Pemberian pakan periode laying menurut standar perusahaan PT. Chereon Pokhpandmenggunakan standar point feed 10,5. Point feed 10,5 berarti setiap 100 ekor ayam mendapat 10,5 kg untuk pertumbuhan dan produksi telur per hari. Akan tetapi, bila nafsu makan ayam berkurang biasanya pemakaian pakan tidak sesuai point feed sehingga diberikan jumlah sesuai kemampuan ayam makan. Point feed dapat diartikan jumlah pakan yang diberikan untuk menghasilkan 1 butir telur.

Point feed pada kandang lima antara 11,5-11,6, hasil ini lebih tinggi

dibanding dengan point feed standar perusahaan sebesar 10,5. Factor yang mempengaruhi point feed menurut Tierzucth (2011) penggunaan point feed didasarkan masa pemeliharaan atau berdasar umur pemeliharaan, karena umur merupakan salah satu faktor pengaruh konsumsi pakan unggas. Selain umur, konsumsi pakan juga dipengaruhi berat badan, temperature kandang, periode pencahayaan, tersedianya air, kompetisi dalam kandang, potong paruh waktu periode brooding, status kesehatan ayam. Berat badan yang lebih tinggi akan mengkonsumsi pakan lebih banyak dari berat badan yang rendah. Temperatur yang panas membuat ayam lebih banyak mengkonsumsi air. Tekstur pakan, kondisi bulu dan kandungan energi dalam juga mempengaruhi konsumsi pakan.

Pakan yang diberikan saat masa laying adalah jenis 534 H dengan bentuk

(30)

growing 532 H. Pemberian pakan jantan dan betina tidak dibedakan. Semua jenis pakan yang digunakan memililki komposisi bahan dan kandungan nutrien, tetapi pihak perusahaan tidak memberikan informasi tersebut karena sebuah rahasia perusahaan.

Gambar 23. Pakan 534 H bentuk pellet

Bahan baku pakan yang dipakai harus bebas dari residu dan zat kimia yang membahayakan seperti pestisida dan bahan lain yang tidak diinginkan ( SNI 01-3929-2006). Pakan yang diberikan untuk ayam bibit petelur ini harus mengandung cukup gizi bertujuan untuk produksi telur yang tinggi dan berkualitas. Penggolongan secara umum bahan pakan antara lain protein, karbohidrat (terutama serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen), lemak, vitamin, mineral, serta air yang dapat saling berhubungan dan membentuk zat nutrisi lain (Yunianto, 2001).

(31)

pakan, mengontrol ukuran dan kelunakan pakan, tidak terlalu besar dan tidak keras (Kovler, 2009). Kebutuhan pakan menurut SNI (2006) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan Ayam Petelur

No Parameter Satuan Persyarat

1 Kadar air % Maks 14,0

Sumber : Standar Nasional Indonesia (2006)

(32)

tetap pakan 534 H, karena dapat mengganggu performa ayam. Menurut Pramudyati dan Agung Prabowo (2009) bahwa mengganti sebagian pakan layer dengan pakan yang akan menurunkan kemampuan ayam dalam memproduksi telur.

Penggunaan feeder gantung digunakan untuk tempat grit yang pemberiannya dilakukan sebanyak 2 kali seminggu. Pemberian ini dilakukan pada hari senin dan kamis. Pemberian grit dimulai dari umur 6 minggu untuk menyuplai asupan kalsium (Ca) dan phosphor (P). Pemberian grit pada umur lebih dari 20 minggu diberikan sebanyak 10 g/ekor/ hari, pemberian ini lebih tinggi dari pemberian grit yang dilakukan oleh Sari (2012) pemberian grit untuk ayam petelur yaitu 3,5 g/ekor. Pemberian grit ini berguna untuk pembentukan tulang dan kerabang telur.

3.1.4 Pemberian Air Minum

Air minum adalah hal terpenting kedua setelah pakan. Perbandingan air minum dengan pakan adalah sebesar 2 : 1. Secara fisiologis, air berfungsi sebagai media berlangsungnya proses kimia di dalam tubuh ayam. Selain itu, air juga berperan sebagai media pengangkut, baik mengangkut zat nutrisi maupun zat sisa metabolisme, mempermudah proses pencernaan dan penyerapan ransum, respirasi, pengaturan suhu tubuh, melindungi sistem syaraf maupun melumasi persendian. Hampir semua proses di dalam tubuh ayam melibatkan dan memerlukan air.

(33)

2-3 hari saja. Ayam akan tetap bertahan saat kehilangan sebagian besar lemak di dalam tubuhnya atau 50% dari jumlah protein tubuhnya, namun saat ayam kehilangan 20% cairan tubuh bisa mengakibatkan kematian. Ketersediaan air minum yang kurang akan menyebabkan hambatan produktivitas ayam, baik pertumbuhan maupun produksi telur. Selain itu, proses pembuangan zat sisa metabolisme juga terhambat, akibatnya bisa meracuni tubuh ayam sendiri.

Sumber air minum yang digunakan oleh PT. CAP Layer Unit Sukajaya 2 Lampung berasal dari sumur bor yang ditampung dalam bak penampung (tendon air) dapat dilihat pada gambar kemudian dilakukan penyaringan dan disalurkan ke tower penampungan air yang terletak ± 100 m dari area kandang dapat dilihat pada Gambar 24. Penyaringan dilakukan agar air dapat steril dari bahan-bahan berbahaya yang akan merusak pencernaan ayam. Tendon air yang dimiliki yaitu sebanyak 2 tendon berkapasitas 100.000 liter.

Gambar 24.Tendon

(34)

Bak medicine berisi campuran air dan obat dapat berupa vaksin yang diberikan secara air minum atau berisi obat jika ayam terkena penyakit. Bak air biasa berisi air dengan kaporit ini diberikan tiap hari dengan cara disalurkan ke nipple air minum. Penggunaan kaporit yang berlebihan berbahaya bagi ternak, maka untuk meminimalisir konsumsi kaporit diadakan pengecekan kadar kaporit. Pengetesan air ini memakai suatu alat yang disebut dengan Clorin tester. Pengecekan ini diambil dari air di kandang didapat hasil rata-rata pH nya yaitu sebesar 6,8 dengan pemberian klorin 3,0 ppm. Hasil ini dianggap masih sesuai berada dalam batas normal, karena menurut Munfiah (2013) pH air minum adalah 6,5 – 8,5 namun menurut Khumaini (2012) menambahkan bahwa pH dibawah 6,6 akan menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme patogen. Berdasarkan standar dari PT. CAP Layer unit Sukajaya 2 Lampung pemberian clorin masih dapat ditolerasi adalah dari 1,0-3,0 ppm, sehingga hasil pengujian clorin masih layak untuk dikonsumsi oleh ternak.

(35)

Jalur (pipa) nipple di dalam kandang berjumlah empat jalur yang berada disisi kiri dan kanan area litter. Jarak antara nipple yaitu 30 cm, jumlah nipple dalam satu kandang terdapat 1356 buah nozzle nipple yang di gunakan untuk minum ayam. Nipple merupakan tempat air minum otomatis yang dilengkapi cup

nipple dan dot nipple atau nozzle. Kapasitas nipple 8-9 ekor/ nozzle. Perthitungan

kapasitas nipple dihitung dari perbandingan antara jumlah ayam dan jumlah

nipple. Ayam ketika minum sedapat mungkin 45° ke arah nozzle.

Bagian lain dalam sistem pengairan pada kandang adalah regulator dapat dilihat pada Gambar 28. Regulator berfungsi untuk mengatur tekanan air. Mekanisme sistem saluran air kedalam nipple yaitu ketika nozzle ditekan oleh ayam maka air akan keluar karena ada tekanan dari regulator. Jika air didalam galon fiber habis maka alarm akan berbunyi. Motor penggerak atau mesin penyedot air yang dilengkapi dengan swicth, apabila air kosong pompa air akan hidup secara otomatis namun bila tower kosong, swicth akan menempel dan alarm akan berbunyi.

(36)

Ayam petelur yang ada di PT. Central Avian Pertiwi membutuhkan air seharinya yaitu rata-rata sebanyak 2900 liter untuk kapasitas ayam kurang lebih 12000 ekor, artinya untuk satu ekor ayam kurang lebih mengkonsumsi air minum sebanyak 241 ml. Konsumsi air minum tersebut dianggap masih normal menurut ISA-A Hendrix Genetic Company (2006) bahwa untuk kisaran suhu 25oC konsumsi air minum ayam Isa yaitu sebesar 230 ml/ekor, karena konsumsi air minum dipengaruhi oleh suhu maka semakin tinggi suhu konsumsi air minum semakin banyak.

Ayam meminum air dari nipple, oleh karena itu nipple harus dalam kondisi bersih. Pembersihan nipple sering dilakukan oleh pekerja, hal ini dilakukan selain untuk pembersihan air juga untuk mencegah adanya penyumbatan. Penyumbatan akan menghambat proses distribusi air minum dan hal ini dapat membuat ayam menjadi dehidrasi. Air minum merupakan salah satu bagian terpenting dalam suatu usaha peternakan ayam bibit petelur. Hal ini dikarenakan air yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi proses stimulasi pakan, air juga digunakan sebagai proses produksi telur, sehingga jika ayam kekurangan air maka akan mempengaruhi proses produksi telur.

3.1.5 Penanganan Telur 3.1.5.1 Pengambilan Telur

(37)

kandang. Telur-telur tersebut ditarik dari sangkar tempat ayam bertelur. Di dalam satu kandang ada kurang lebih 78 sangkar, setiap sangkar ada 20 lubang jadi total seluruh lubang sangkar yaitu 1560 lubang. Rasio untuk satu sangkar dengan jumlah ayam betina yaitu 1 : 6,5 ekor. Satu sangkar dapat digunakan untuk kurang lebih 6 ekor.

Pengambilan telur dengan menggunakan conveyor tersebut dilakukan sebanyak 3 kali sehari yaitu pukul 08.00, 10.00, dan 14.00. Pengambilan pada pagi hari lebih banyak dibandingkan dengan pengambilan pada waktu lainnya, ini dikarenakan pada pagi hari adalah jumlah telur yang didapatkan pada hari tersebut dan hari sebelumnya setelah pukul 16.00 yaitu saat masa kerja karyawan habis. Sekitar 16 jam telur dibiarkan menumpuk setelah pukul 16.00 sampai dengan pengambilan pada pagi harinya. Telur yang menumpuk ini terkadang membuat

conveyor mengalami kemacetan, selain itu kejadian ini membuat banyak telur

mengalami kerusakan.

(38)

Ayam tidak selalu bertelur pada sangkar yang sudah disediakan, banyak dari ayam-ayam tersebut yang lebih menyukai bertelur di sekam dan slat. Kejadian demikian membuat banyak sekali telur yang tercecer, oleh karena itu pekerja selalu masuk kandang selain untuk mengecek keadaan kandang juga untuk mengambil telur yang tercecer agar hasil PE (Production Eggs) sebanding dengan jumlah ayam yang bertelur. PE diketahui dari jumlah telur dari kandang pada hari tersebut.

Gambar 30. Pengambian telur di litter

Hasil PE 92,3% dianggap normal untuk produksi pada masa puncak produksi. PE disebut juga dengan HDP (Hen Day Production) nilai PE 92,3% pada masa produksi dianggap masih rendah dibandingkan dengan penelitian menurut Malik dan Rahmawati (2006) bahwa ayam strain Isa pada puncak produksi persen HDP nya adalah 94%. Hasil tersebut didapat dari suatu perlakuan penyeragaman bobot badan, dan seleksi, jika tidak dilakukan penyeragaman dan seleksi maka hasilnya rendah yaitu 90%. Hasil HDA ( Hen Day Average) dan

(39)

92% dan HHA 88,92% menurut buku panduan SOP Chereon Pokhpand masih dianggap cukup tinggi dan mencapai target produksi.

3.1.5.2 Fumigasi

Telur setelah diambil maka dilakukanlah fumigasi. Fumigasi bertujuan untuk menghilangkan mikroba yang ada di bagian kerabang telur, karena telur dari kandang tidak selamanya bersih, pasti akan ada kotoran maupun mikroba yang hidup, karena telur ini akan ditetaskan maka kebersihannya harus terjaga oleh karena itu dilakukanlah fumigasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kartasudjana (2001) fumigasi adalah upaya membunuh bakteri yang ada dipermukaan dengan menggunakan bahan fumigasi. Fumigasi berbentuk seperti gas yang cara kerjanya akan masuk ke tiap celah walaupun partikel kecil, oleh karena itu ini efisien untuk membunuh bakteri yang ada di luar telur, terutama bakteri yang menyelinap di bagian celah celah kutikula.

Gambar 31. Persiapan fumigasi

(40)

Fumigasi dilakukan selama 20 menit, selama 20 menit tersebut campuran forcent

dan formalin tersebut berubah menjadi gas yang dapat menyesakan jika dihirup

dan pedih di mata.

Fumigasi dilakukan pada ruangan khusus berukuran 3 x 1,5 m2. Ruang fumigasi tersebut dapat menampung sebanyak 11.000 butir telur. Ruangan fumigasi memiliki corong keluar kandang untuk tempat pembuangan gas agar asap tidak menyerang pekerja yang berada di dalam.

3.1.5.3 Grading

Telur setelah melalui tahap fumigasi maka akan dilanjutkan pada tahap

grading. Tahap grading tersebut bertujuan untuk menyeleksi telur menjadi

beberapa tipe dan grade. Telur dibagi menjadi 3 grade, yaitu grade A1, A2, dan A3. Pembagian grade tersebut dilihat dari berat yang dimiliki telur. Grade telur daisajikan pada Tabel. 2.

Tabel 2. Grade Telur PT Chareon Pokphand

No Grade Berat (g)

1 A1 50-52

2 A2 53-60

3 A3 60-65

Grading telur yang dilakukan di PT CAP Layer Unit Sukajaya 2 Lampung

(41)

melukai bagian kutikula telur. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Rachmawan (2001) bahwa penggosokan telur menyebabkan pelebaran pori-pori kulit yang dapat mempercepat penguapan, mencairnya putih telur karena goyangan. Banyak kekurangan yang ditimbulkan jika menggosok kerabang telur, namun akan lebih banyak lagi kerugian yang didapatkan jika tidak dilakukannya pengelapan, karena telur akan kotor, menjadi sarang mikroba, lebih dari itu telur tidak akan diterima oleh hatchery karena untuk masuk ke hatchery telur harus terlihat bersih. Telur bersih adalah telur yang terhindar dari kotoran yang akan menjadi sarang mikroba sehingga menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan embrio di dalamnya terhambat.

s

Gambar 32. Hasil grading telur

(42)

pada salah satu grade, seperti telur kecil, telur rusak, telur jumbo, telur kerabang tipis, dan beberapa telur yang mengalami kerabang yang tidak beraturan. Hal tersebut dapat disebabkan karena ayam yang kurang sehat, keadaan organ reproduksi yang sedang bermasalah, kurangnya asupan grit, dan juga dari manajemen pengambilan telur yang kurang baik. Hasil HE kandang 5 dari pengamatan setiap hari menunjukan bahwa telur dengan grade A3 lebih mendominasi daripada telur dengan grade yang lain, itu artinya telur tetas berada dalam kondisi baik dengan bobot yang cukup yaitu rata-rata sebesar 60 g-65 g. Hasil ini sesuai dengan pendapat Ardiansyah (2012) bahwa ayam ISA pada puncak produksi menghasilkan telur yang rata-rata bobotnya sekitar 62,9 g.

Hasil HE untuk kandang 5 adalah 96,99%. hasil ini diaggap baik karena dapat diartikan dari 100% telur PE hanya 3% yang tidak lolos seleksi. Misalnya diambil contoh dari 1000 telur PE maka yang lolos selesksi yaitu sebesar 9700 butir. Sisa yang tidak terselesksi termasuk pada telur yang mengalami kerusakan.

(43)

3.1.5.4 Penyimpanan Telur

Telur disimpan pada suatu ruangan yang disebut dengan holding room. Suhu pada holding room berkisar antara 18-20oC. Suhu tersebut dianggap sesuai untuk telur karena di dalam telur terdapat embrio yang membutuhkan suhu yang sesuai untuk terus hidup. Penyimpanan dalam holding room hanya sementara sampai telur tersebut dikirim ke hatchery.

Gambar 37. Holding room

3.1.6 Ventilasi

Ventilasi adalah salah satu penunjang utama dalam pemeliharaan ayam bibit petelur tipe close house, karena tanpa ventilasi yang baik maka ayam tidak akan bernafas dengan nyaman, hal ini dapat menyebabkan ketidakberlagsungan

(44)

proses manajemen. Pentingnya ventilasi diperkuat oleh pendapat Wurlina et al., (2012) dan Ratnani et al., (2009) prinsip kandang tertutup yaitu pertama menyediakan udara yang sehat. Membangun kandang ayam dengan menyediakan udara yang sehat dengan sistem ventilasi yang baik dan pergantian udara yang lancar (mengediakan udara yang sehat bagi ayam yang ada didalam kandang) yaitu menghadirkan udara yang sebanyak banyaknya mengandung oksigen dan mengeluarkan sesegera mungkin gas yang berbahaya (karbon dioksida dan amoniak).

Ventilasi pada kandang close house terdiri dari seperangkat peralatan yang mendukung satu sama lain. Alat-alat tersebut terdiri atas blower, cooling pad, tirai, dan temptron. Serangkaian alat tersebut berguna untuk menciptakan suhu kandang yang sesuai untuk pertumbuhan dan produktivitas ayam bibit petelur sesuai dengan kondisi kecepatan angin.

Cooling pad diatur oleh plastik putih yang dilapisi tirai hitam (inlet) pada

(45)

Gambar 38. Cooling pad

Blower merupakan kipas besar yang terletak di bagian belakang kandang.

Blower pada periode produksi jumlahnya ada 8 buah memiliki diameter 1,5 m.

blower berfungsi untuk menarik suhu panas yang ada di dalam kandang, selain itu

pula sebagai pembuang debu dan gas-gas sisa seperti amoniak, selain itu blower juga berfungsi sebagai penyerap oksigen dari luar melalui cooling pad. Kerja

blower diatur oleh temptron sehingga ada blower yang berputar direct, dan in

direct.

Blower direct merupakan blower yang berputar secara terus menerus

selama 24 jam. Blower direct terdiri atas blower ke-1, ke-3, ke-4, ke-6, dan ke-8.

Blower in direct, merupakan blower yang digunakan apabila digunakan saat

mencapai set atau suhu yang telah ditentukan sebelumnya. Blower indirect yaitu

(46)

Gambar 39. Blower

Temptron digunakan untuk mengukur suhu dalam kandang. Temptron

yang digunakan adalah temptron 607 A-C yang dipasang bersebelahan dengan panel listrik servis room. Temptron mengetahui suhu dalam kandang melewati sensor yang digantung 70 cm di atas permukaan lantai. Sensor suhu ini digunakan untuk mengaktifkan blower indirect dan cooling pad.

Gambar 40. Temptron

(47)

keadaan panas di dalam kandang tidak dapat diatasi oleh blower dan cooling pad. Tirai akan ditutup kembali jika kondisi di dalam dan peralatan ventilasi lain dapat bekerja seperti semula. Penutupan ini harus dilakukan untuk mencegah kotoran masuk secara berlebih ke dalam kandang.

Gambar 40. Tirai

3.1.7 Pencahayaan

(48)

pada saat pembentukan kerabang telur sehingga kebutuhan nutrisinya tercukupi terutama kalsium. Pemberian sumber kalsium dan cahaya perlu dilakukan untuk melihat kualitas kerabang telur.

Program pencahayaan yang perlu diperhatikan pada periode laying adalah intensitas cahaya. Pada periode produksi tidak menggunakan pencahayaan yang terlalu terang. Hal ini dikarenakan pada periode ini sudah kurang diperlukan cahaya untuk menstimulasikan pembentukan telur seperti pada awal produksi. Penggunaan cahaya yang terlalu terang akan menyebabkan ternak menjadi kanibal.

Kandang 5 mendapatkan sumber cahaya dari lampu pijar berdaya 5 watt, dengan kapasitas yang dihasilkan adalah 6 lux yang diukur dengan suatu alat yaitu

luxmeter. Daya lampu tersebut dianggap pas karena jika lampu terlalu terang

maka akan menimbulkan kanibalisme, sebaliknya jika terlalu gelap maka akan menghambat sekresi telur. Lampu dipasang menggantung dengan jarak antar lampu 4 m. Di dalam kandang terdapat 3 jalur lampu yang setiap jalurnya terdiri dari 30 lampu. Sehingga dalam satu kandang terdapat 90 lampu.

(49)

Gambar 41. Pencahayaan

3.1.8 Penanganan Bangkai

Bangkai merupakan barang yang sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Bangkai yang dihasilkan oleh peternakan ini berupa bangkai ayam dan bangkai telur. Bangkai ayam merupakan bangkai yang berasal dari ayam yang sudah mati, sedangkan bangkai telur yaitu beberapa telur yang mengalami kerusakan dalam pengambilan telur atau dalam kegiatan lain.

Bangkai ayam berada dalam kandang mula-mula diambil dan dikeluarkan dari dalam kandang. Bangkai kemudian dikumpulkan pada sebuah tong. Bangkai ayam tersebut dihitung untuk dimasukan ke dalam buku recording. Bangkai setelah terkumpul segera dibawa ke tempat pembuangan bangkai yang berada di sebelah pojok belakang peternakan untuk dibakar pada insenator. Pembuangan bangkai ini dilakukan pada pukul 15.00 WIB.

(50)

dibuang hanya tidak dibakar melainkan ditampung dalam suatu penampungan khusus didekat insenator, sebagai tempat limbah peternakan.

3.2Kegiatan Insidental 3.2.1 Vaksinasi

Vaksinasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit yang rentan menyerang pada umur-umur tertentu. Vaksin merupakan bibit penyakit yang sudah dilemahkan yang diberikan pada ternak. Tujuan dilakukannya vaksin untuk membuat ayam dapat memiliki kekebalan yang tinggi terhadap penyakit tertentu. Program vaksinasi di PT CAP PS layer unit Sukajaya 2 Lampung dilakukan sesuai jadwal, hal ini dikarenakan semua sudah diprogram dalam program vaksin. Program vaksinasi tidak kami dapatkan pada saat melakukan program kerja praktik, dikarenakan ayam sedang tidak melewati jadwal vaksin.

(51)

(intra nasal). Vaksin mati diberikan dengan cara injeksi yang dibagi menjadi beberapa metode injeksi yaitu intra muscular (di bawah otot), subcutan (bawah kulit), tusuk sayap.

Vaksinasi harus dilakukan secara serentak dalam satu kandang dan diusahakan jangan sampai ada yang terlewatkan. Hal tersebut sebagai upaya agar semua ayam dapat memiliki kekbalan yang sama. Vaksinasi harus dilakukan berkelanjutan agar dapat kuat dan kebal selama menjalani proses pemeliharaan.

3.2.2 Penanganan Alas Kandang

Alas kandang harus dalam keadaan kering, hal ini dikarenakan apabila lantai dalam keadaan basah maka akan memicu amoniak. Lantai yang digunakan dalam pemeliharaan yaitu berupa slat dan litter. Lantai litter menggunakan sekam yang ditaburkan di tengah-tengah kandang. Penaburan sekam dilakukan kurang lebih setinggi 10 cm.Litter disanitasi dengan menggunakan compressor dengan menyemprotkan formalin. Litter merupakan tempat aktivitas ayam untuk mandi pasir, perkawinan, dan tempat aktivitas lainnya. Litter senantiasa ditambah jika ketebalannya sudah berkurang. Ketebalan litter di kandang 5 biasanya dipertahankan antara 15-20 cm. Ketinggian sekam tersebut dianggap sesuai dengan SOP perusahaan Chereon Pokhpand karena berguna untuk tempat ayam

exsercise, tempat kawin, dan tempat bertelur bagi ayam yang tidak bisa bertelur di

sangkar.

(52)

yang harus perlu diperhatikan yaitu penambahan litter dan pergantian litter setelah proses periode produksi. Penambahan sekam dapat dilakukan dengan menabur kapur terlebih dahulu untuk membunuh mikroba patogen pemicu penyakit karena kapur berdifat panas, setelah itu baru ditabur sekam.

Lantai slat juga dapat memicu tingginya amoniak, hal ini dilihat dari bahan plastic yang tidak bias menyerap air sehingga banyak air tergenang di atasnya. Alasan lainnya yaitu tempat minum berada did aerah lantai slat sehingga genangan air mungkin saja banyak terlihat di tempat lantai slat. Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menabur kapur di atasnya.

3.2.3 Bedah Bangkai

Bedah bangkai dilakukan untuk mengidentifikasi penyakit pada suatu populasi dengan melihat kondisi patologi. Bedah bangkai dilakukan dengan cara membedah ayam dari paruh sampai kloaka. Setiap organ dibedah dan diamati apakah terjadi mukosa, eksudat, ataupun kejadian janggal lain. Hasil dari bedah bangkai yaitu kesimpulan tentang suatu penyakit yang sedang menyerang pada suatu populasi, yang selanjutnya akan dilakukan tindakan penanganan penyakit dan pemberian obat.

(53)

Deplesi pada saat produksi menjelang puncak hampir semua kandang setiap hari ada yang mati. Hasil bedah bangkai yang dilakukan rata-rata ayam yang mati (baru) selalu terjadi Yolk Peritonitis dan terjadi sedikit ketidaknormalan pada usus. Yolk peritonitis dipengaruhi oleh keadaan kandang yang terlalu padat, kanibalisme oleh pejantan dan goncangan yang cukup kuat sehingga kuning telur mengalami pecah. Ketidaknormalan usus terjadi karena ayam memakan benda asing selain pakan, misalnya saja sekam sehingga tidak ada makanan yang dicerna, selain itu adanya bakteri dan parasit lain yang menyebabkan usus ayam mengalami balloning (pembengkakan). Faktor lain yang menyebabkan deplesi terus terjadi yaitu karena ayam stress. Menurut Parede (2010) kondisi stress, dapat terjadi karena cuaca ekstrim, lingkungan yang tidak kondusif, infeksi virus atau bakteri lain. Pencegahannya dapat dengan meningkatkan biosecurity dan menghindarkan stress (kurang ventilasi, berdebu, akumulasi gas ammonia, kehujanan).

(54)

Beberapa langkah yang dilakukan oleh perusahaan untuk menangani penyakit di atas yaitu adalah tabur kapur dan sekam, pembalikan litter bertahap, seleksi ayam sakit ke small pen dan diberi perlakuan khusus, pemberian Nopstress pada saat tabur sekam, flushing air minum di nipple rutin, pembersihan doghouse

cooling pad 2-3 hari sekali, flushing Coolingpad 2-3 hari sekali.

3.2.4 Culling

Culling adalah pemisahan atau pengafkiran ayam yang dilihat secara

ekterior dan dinilai potensinya yang mungkin berpengaruh terhadap produksinya. Pengafkiran ialah menyisihkan ayam–ayam yang buruk dan tidak produktif dari kawanan (satu kelompok ayam). Culling biasanya dilakukan sepanjang tahun yaitu mulai dari starter dengan cara pemisahan ayam yang lemah, cacat, dan tidak sehat. Culling masa pertumbuhan, yaitu pemisahan ayam yang lambat tumbuhnya.

Culling menjelang produksi, yaitu ayam yang lambat dewasa kelamin, dan ayam

yang tidak mulai bertelur pada umur 30 minggu.

(55)

Setelah masa produksi culling diperlukan bila produksi turun drastis dan perlu juga dicari permasalahannya. Culling dilakukan juga pada ayam betina muda menjelang bertelur dan pada ayam dewasa menjelang produksi menurun. Di PT. Central Avian Pertiwi PS Layer unit Sukajaya 2 Lampung dilakukan culling pada pejantan untuk menghindari bibit yang kurang baik seperti sifat kebetina– betinaan yang dimiliki ayam jantan. Sifat kejantanan juga terdapat pada ayam betina, biasanya bentuk tubuh seperti jantan dan berkokok serta agresif.

Culling perlu dilakukan bila rata–rata produksi pada suatu flock kurang dari

(56)

Faktor–faktor yang mempengaruhi produksi telur. Pada dasarnya, yang mempengaruhi produksi telur itu dibagi menjadi 2 bagian, yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar adalah makanan, rontok bulu / luruh (molting), temperatur sekeliling ,kandang, kegaduhan, penyakit.. Faktor dalam (keturunan) adalah merupakan faktor keturunan yang sulit diatasi. Pada umumnya bibit yang baik akan menurunkan ayam yang baik, yang produksi telurnya tinggi. Sebaliknya, dari keturunan ayam yang jelek akan menurunkan ayam yang produksinya rendah.

3.3 Kegiatan Penunjang

Kegiatan penunjang yang dilakukan adalah evaluasi dan diskusi. Diskusi dilakukan setiap hari ketika berada di lokasi kandang setelah berlangsungnya kegiatan kerja. Kegiatan ini dipandu oleh supervisor dan manajer. Evaluasi dilakukan pada akhir masa praktik kerja untuk mengetahui sejauh mana pemahaman yang telah didapatkan oleh anggota praktik kerja . Evaluasi ini juga bertujuan untuk memeberikan informasi mengenai perkembangan yang ada di

Farm, adapun masalah yang terjadi di Farm itu akan dievaluasi secara

musyawarah.

(57)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

4.1.1 Tatalaksana dalam pemeliharaan ayam bibit induk petelur di PT. Central Avian Pertiwi sudah baik, setiap kegiatan telah terjadwal dan dilakukan dengan seksama.

4.1.2 Manajemen perkandangan di PT. Central Avian Pertiwi sudah menerapkan sistem close house, dalam pelaksanan manajemen perkandangannya sudah sesuai dengan teori yang ada, namun ada hal-hal khusus yang tidak selalu mengacu pada teori sperti tingkat kelembaban dan suhu dalam kandang yang berbeda tiap kandang untuk menyuseuaikan kenyamanan ayam.

4.1.3 Kegiatan praktik kerja memberi pengalaman, pengetahuan dan wawasan tentang pemeliharaan ayam bibit induk petelur.

4.1.4 Kegiatan praktik kerja sudah sesuai dengan teori perkuliahan, hanya saja bertentangan saat grade telur, yaitu metode pengamplasan.

4.2 Saran

4.2.1 Kedisiplinan pekerja lebih ditingkatkan, sanksi berlaku bagi yang melanggar.

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Ardiyansyah. 2012. „Perbandingan Performa Dua Strain Ayam jantan Tipe

Medium yang Diberi Ransum Komersial Broiler”. Jurnal peternakan.

Adjid. R.M.A., R. Indriani, R. Damayanti, T. Aryanti, dan Darminto. 2006.

“Dukungan Teknologi Veteriner Dan Strategi Pengendalian Penyakit Unggas (Ayam) Di Sektor 3 Dan 4”. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi

Dalam Mendukung Usahaternak Unggas Berdayasaing . Balai Penelitian

Besar Veteriner. Bogor.

Allama, H., Sofyan., Widodo, E., Prayogi, H.S. 2011. “Penggunaan Tepung Ulat

Kandang (Alphiyobius diaperinus) dalam Pakan terhadap Penampilan

Produksi Ayam Pedaging”, Jurnal Imu-ilmu Peternakan. 22 (3):1-8.

Blakely, J and D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Company. Netherland.

ISA-A Hendrix Genetic Company. 2006. ISA-A Hendrix Genetic Company. http://www.hendrix_genetic.com. Tanggal akses : 13 Maret 2016.

Kartasudjana. R. 2001. Penetasan Telur. Modul Program Keahlian Budidaya Ternak Kode Modul Smk. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Dan Standar Pengelolaan Smk Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. Jakarta.

Khumaini, A., Roisu ,E.M., dan Hanung, D.A. 2012. “Pengaruh Penambahan Sari Kunyit (Curcuma Domestica Val) Dalam Air Minum Terhadap Konsumsi Pakan Dan Konsumsi Air Minum Ayam Broiler”, Jurnal Surya Agritama. 2(1): 85-93.

Kovler, D.V. 2009. Management Guide Parent Stock. Hendrix Genetic

Malik. A., dan Tiwuk, R. 2006. “Pengaruh Seleksi Bobot Badan Terhadap Umur

Puncak Produksi Ayam Petelur”, jurnal protein. 1 (13) : 124-127.

Munfiah. S, Nurjazuli, O. Setiani. 2013. “Kualitas Fisik dan Kimia Air Sumur Gali dan Sumur Bor di Wilayah Kerja Puskesmas Guntur II Kabupaten

Demak”, jurnal kesehatan lingkungan Indonesia. 2 (12) :154-159.

(59)

Parede, L., D, Zainuddin., dan H. Huminto. 2010. “Penyakit Menular Pada

Intensifikasi Unggas Lokal Dan Cara Penanggulangannya”, Lokakarya

Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. 1 Balai Penelitian

Veterine. Bogor.

Primaditya. F. Mitra., S. Hidanah., dan Soeharsono. 2015. “Analisis Pendapatan Dan Produktivitas Ayam Petelur Sistem “Closed House” dengan Penggunaan Mesin Pakan Otomatis dan Manual Di Kuwik Farm, Kecamatan Badas, Pare”, jurnal agroveteriner. No. 2 (3) : 99-106.

Rachmawan. O. 2001. Penanganan Telur dan Daging Unggas. Modul Program Keahlian Teknologi Hasil Ternak SMK. Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Dan Standar Pengelolaan Smk Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta. Jakarta.

Ratnani. H, H.A. Hermadi, S. Mulyati, D.K.Meles dan Wurlina. 2009.

“Memantapkan Jiwa Wirausaha Berorientasi Agribisnis melalui Magang Mahasiswa pada peternakan Ayam Potong. Program MKU-DP2M-DirjemDikti-KemDiknas.

Sari, M.L. 2012. “Pengaruh Pemberian Grit Kerang dan Cahaya Terhadap Kualitas Kerabang Telur Ayam Arab (Silver Brakel kriel)”, jurnal

Peternakan Sriwijaya. 1 (1) : 28-33.

Standar Nasional Indonesia. 2006. SNI.01-3929-2006: Pakan Ayam Ras Petelur

Masa Layer.

Tierzucth, L. 2011. Management Guide Layer. Lohmann Tierzucht. GmbH. Germany.

Wurlina, D.K. Meles dan E. Paramyta. 2011. “Peningkatan Usaha Peternakan

Ayam Potong Dengan Teknologi Kandang Tertutup (Closed House

Methode) di Kabupaten Jombang Melalui Kegiatan Iptekda”-LIPI.

(60)

LAMPIRAN

1. Layout PT. CAP PS Layer Unit Sukajaya 2 Lampung

(61)

2. Struktur Organisasi

(62)
(63)

Tabel 4. Repot Telur

3. Cara Perhitungan

Perhitungan feeder space

Feeder Space =

=

(64)
(65)

= 92%

Rumus 6. HDA

Hen House Average

HHA =

=

= 88,92%

Rumus 7. HHA

Mortalitas

Mortalitas dari 0-33 minggu =

=

= 3,43%

Gambar

Gambar  ......................................................................................................
Gambar  4. Box UV
Gambar  7. Farm
Gambar  11. Feeder Manual
+7

Referensi

Dokumen terkait