• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Penanganan Trauma Gigi yang Dilakukan Dokter Gigi

2.4 Penanganan Trauma Gigi yang Dilakukan Dokter Gigi

Dokter gigi memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan, membedakan, dan menangani atau merujuk anak-anak yang mengalami trauma yang parah.14 Perawatan trauma untuk gigi dan jaringan sekitar dilakukan bila keadaan umum pasien telah baik, kemudian penentuan perawatan yang tepat didasarkan pada diagnosis serta anamnesis yang lengkap.2

Penetapan diagnosis dan rencana perawatan yang benar dokter gigi harus melakukan pemeriksaan yang benar dan sistematis. Pendekatan sistematis terhadap anak yang terkena trauma juga sangat diperlukan agar anak kooperatif sehingga mudah untuk menentukan tingkat keparahan injuri pada gigi, jaringan periodonsium dan jaringan sekitarnya. Pemeriksaan mencakup riwayat terjadinya trauma, pemeriksaan klinis dan radiografi, dan tes tambahan seperti perkusi dan palpasi, uji sensitivitas pulpa dan evaluasi mobilitas gigi. Radiografi ekstra oral dan intra oral juga sangat penting dilakukan guna untuk mengevaluasi trauma pada jaringan lunak dan jaringan keras.14,15

Rencana perawatan ditentukan berdasarkan pertimbangan status kesehatan pasien, kooperatif atau tidaknya pasien dan status perluasan injuri. Pengalaman yang tinggi dalam penanganan atau rujukan yang tepat dapat berguna untuk memastikan diagnosis dan perawatan yang tepat. Penanganan kasus trauma pada anak harus melibatkan orangtua baik pada saat perawatan dan menentukan rencana perawatan.

Penanganan dini trauma gigi sangat berpengaruh pada vitalitas pulpa, proses penyembuhan gigi serta jaringan sekitarnya. Langkah – langkah penanganan yang dilakukan oleh dokter gigi berupa penanganan umum untuk mendapatkan diagnosis yang tepat adalah sebagai berikut:

1. Pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang.

Salah satu cara untuk memeriksa bayi dan anak-anak yang terkena trauma yaitu menidurkan anak pada pangkuan ibu/ayah/atau pengasuh dengan pandangan ke atas. Tangan anak diletakkan di bawah tangan ibu dan dokter gigi duduk di depan ibu dengan kepala anak terletak pada pangkuannya. Posisi demikian dapat memungkinkan dokter gigi untuk dapat melihat kedua rahang anak. Dokter gigi dapat menggunakan molt mouth-prop atau mengikat jari tangannya dengan menggunakan bantalan dan adhesive tape (Gambar 5).2

Anamnesis secara lengkap dengan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan riwayat terjadinya trauma dilakukan dengan memberikan pertanyaan kapan terjadinya trauma, bagaimana trauma bisa terjadi, apakah ada luka di bagian tubuh

lainnya, perawatan apa yang telah dilakukan, apakah pernah terjadi trauma gigi pada masa lalu, dan imunisasi apa saja yang telah diberikan pada anak.2

Pemeriksaan luka ekstra oral dilakukan dengan cara palpasi pada bagian - bagian wajah sekitar. Palpasi dilakukan pada alveolus dan gigi, tes mobilitas, reaksi terhadap perkusi, transluminasi, tes vitalitas baik konvensional maupun menggunakan vitalitas tester, gigi-gigi yang bergeser diperiksa dan dicatat, apakah terjadi maloklusi akibat trauma, apakah terdapat pulpa yang terbuka, perubahan warna, maupun kegoyangan. Gigi yang mengalami trauma akan memberikan reaksi yang sangat sensitif terhadap tes vitalitas, oleh karena itu tes vitalitas hendaknya dilakukan beberapa kali dengan waktu yang berbeda-beda. Pembuatan foto periapikal dengan beberapa sudut pemotretan ataupun panoramik sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis.2

Gambar 5. Posisi pemeriksaan2

2. Perawatan darurat merupakan awal dari perawatan.

Pertolongan pertama dilakukan untuk semua luka pada wajah dan mulut. Jaringan lunak harus dirawat dengan baik. Pembersihan luka dengan baik merupakan tolak ukur pertolongan pertama. Pembersihan dan irigasi yang perlahan dengan saline akan membantu mengurangi jumlah jaringan yang mati dan resiko adanya keadaan anaerobik. Antiseptik permukaan juga digunakan untuk mengurangi jumlah bakteri, khususnya stafilokokus dan streptokokus patogen pada kulit atau mukosa daerah luka.2

3. Imunisasi Tetanus.

Salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan pada anak yang mengalami trauma yaitu melakukan imunisasi tetanus. Pencegahan tetanus dilakukan dengan membersihkan luka sebaik-baiknya, menghilangkan benda asing dan eksisi jaringan nekrotik. Dokter gigi bertanggungjawab untuk memutuskan apakah pencegahan tetanus diperlukan bagi pasien anak-anak yang mengalami avulsi gigi, kerusakan jaringan lunak yang parah, luka karena objek yang terkontaminasi tanah atau luka berlubang. Riwayat imunisasi sebaiknya didapatkan dari orang tua penderita. Umumnya anak-anak telah mendapatkan proteksi yang memadai dari imunisasi aktif berupa serangkaian injeksi tetanus toksoid. Apabila imunisasi aktif belum didapatkan, maka dokter gigi sebaiknya segera menghubungi dokter keluarga untuk perlindungan ini. Imunisasi dengan antitoksin tetanus dapat diberikan, tetapi imunisasi pasif ini bukan tanpa bahaya karena dapat menimbulkan anafilaktik syok. Pemberian antibiotik diperlukan hanya sebagai profilaksis bila terdapat luka pada jaringan lunak sekitar. Apabila luka telah dibersihkan dengan benar maka pemberian antibiotik harus dipertimbangkan kembali.2

Semua informasi diagnosis yang relevan, pengobatan, dan merekomendasikan perawatan tindak lanjut harus didokumentasikan dalam catatan pasien. Perawatan trauma yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan klasifikasi trauma yang terjadi. Berbagai jurnal menggambarkan penanganan dokter gigi dalam trauma gigi sulung.15

Penelitian yang dilakukan pada anak-anak prasekolah di Kuwait melaporkan bahwa jenis trauma yang paling umum adalah fraktur gigi sebanyak 70,6%. Laporan dari orangtua anak-anak diperoleh bahwa mereka tidak pernah mencari perawatan terhadap trauma jaringan lunak. Hasil penelitian ini secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara jenis trauma dan jenis pengobatan yang diberikan. Sepertiga (23 gigi) dari trauma tidak pernah dilakukan perawatan dan 13 gigi yang di ekstrasi (Tabel 5).18

Tabel 5. Jenis trauma dan pengobatan yang diberikan18

Jenis trauma Tidak Dirawat Konsultasi dengan pemberian antibiotik Konsultasi akibat tidak dirawat

Restorasi Ekstraksi Total

Luksasi Avulsi Fraktur enamel Fraktur enamel-dentin Complicated Crown Total 3 (17,6) 0 (0) 14(70,0) 6 (33,3) 0 (0) 23(33,8) 0 (0) 1 (33,3) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 1 (1,5) 10 (58,8) 2 (66,7) 0 (0) 2 (11,1) 0 (0) 14 (20,6) 0 (0) 0 (0) 6 (30) 10 (55,6) 1 (10,0) 17 (25,0) 4 (23,5) 0 (0) 0 (0) 0 (0) 9 (90) 13 (19,1) 17(100) 3(100) 20(100) 18(100) 10(100) 68(100)

Penelitian di Universitas Ankara Negara Turki mengatakan bahwa perawatan untuk anak usia dibawah 3 tahun yang tidak kooperatif diwajibkan melakukan pencabutan pada kasus fraktur akar. Hasil penelitian diatas dapat dilihat perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi di Turki terhadap kasus trauma gigi sulung. Hasil penelitian tersebut adalah pada fraktur enamel hanya dilakukan aplikasi fluor, untuk fraktur enamel-dentin tanpa keterlibatan pulpa dilakukan pulp capping dan restorasi, untuk kasus fraktur enamel-dentin yang mengenai pulpa dilakukan pencabutan dan perawatan saluran akar. Kasus subluksasi dan luksasi intrusif tidak dilakukan perawatan hanya observasi saja. Kasus luksasi ekstrusif dan luksasi lateral pada umumnya dilakukan observasi, ekstraksi dan perawatan saluran akar, sementara untuk avulsi sebagian besar tidak dilakukan perawatan.6 Pada penelitian lain, hampir 90,5% dokter gigi mengetahui bagaimana cara penangan kasus trauma gigi avulsi. Sebanyak 44,7% mengatakan bahwa gigi avulsi tersebut harus dipertahankan dengan cara direndam dalam susu atau larutan air garam. Pada kasus fraktur alveolus, 64,1% dokter gigi akan melakukan irigasi dan aspirasi dengan menggunakan saline solution. Setelah mereposisikan gigi avulsi ke dalam alveolus, 82,2% dokter gigi sepakat menggunakan splinting fleksibel untuk menjaga posisi gigi avulsi.19

Hasil evaluasi dari penelitian yang dilakukan di klinik bayi di Universitas Londrina menunjukkan bahwa perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi pada kasus luksasi pada gigi sulung adalah hanya observasi saja, pemasangan protesa, ekstraksi, reposisi dan splinting.Perawatan yang paling umum dilakukan adalah ekstraksi.20

Data riwayat trauma subluksasi gigi anterior rahang atas di Rumah Sakit Anak Montreal, Kanada dari tahun 1982 sampai 1993 terdapat 207 pasien dengan usia berkisar 0,8 tahun sampai 7,5 tahun. Laporan penanganan kasus subluksasi gigi anterior rahang atas yang dilakukan oleh dokter gigi dan staf rumah sakit adalah tidak dilakukannya perawatan 80,2%, ekstraksi 9,2%, splint 7,7%, memperbaiki oklusi 1%, memperbaiki dan splint 1,9%.21

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di program-program kedokteran di India hanya 24% dokter gigi yang pernah menemukan kasus avulsi gigi pada anak-anak prasekolah. Hasil survei menunjukkan 57% dokter gigi melakukan perawatan dengan mencuci mulut anak dan menyarankan mengambil gigi dengan kain basah. Hanya 5,5% dokter gigi yang ingin menempatkan kembali gigi ke dalam soket sebelum dirujuk. Sebanyak 36,5% akan langsung merujuk anak ke dokter spesialis.22

Dokumen terkait