• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Penyakit Tuberkulosis

2.3.9. Penanggulangan TB

2.3.9.1. Rencana Global Penanggulangan TB

Menurut Depkes (2006), Rencana Global 2006-2015 mencakup enam elemen

utama dalam strategi baru Stop TB-WHO yang terdiri dari :

1. Memperluas meningkatkan penemuan kasus dan kesembuhan melalui pendekatan

ekspansi DOTS yang berkualitas, terfokus pada penderita agar pelayanan DOTS

yang berkualitas dapat menjangkau seluruh penderita, khususnya kelompok

masyarakat yang miskin dan rentan.

2. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya, dengan cara

meningkatkan kolaborasi TB/HIV, DOTS-Plus dan pendekatan lainnya.

3. Berkontribusi dalam memperkuat sistem kesehatan melalui kerjasama dengan

berbagai program dan pelayanan kesehatan lainnya, misalnya dalam memobilisasi

sumber daya manusia dan finansial untuk implementasi dan mengevaluasi

hasilnyaserta pertukaran informasi dalam keberhasilan pencapaian dalam program

4. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan kesehatan, pemerintah, lembaga swadaya

masyarakat (LSM) dan swasta, dengan cara memperluas pendekatan berbasis

public-private mix (PPM).

5. Melibatkan penderita TB dan masyarakat untuk memberikan kontribusi dalam

penyediaan pelayanan yang efektif. Hal ini meliputi perluasan pelayanan TB di

masyarakat, menciptakan kebutuhan masyarakat akan pelayanan TB, advokasi

yang spesifik; komunikasi dan mobilisasi sosial; serta mendukung pengembangan

piagam pasien TB dalam masyarakat, dan memberdayakan dan meningkatkan

penelitian operasional.

2.3.9.2. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse)

Strategi DOTS adalah strategi penanggulangan TB Paru nasional yang telah

direkomendasikan oleh WHO, yang dimulai pelaksanaannya di Indonesia pada Tahun

1995/1996. Sebelum pelaksanaan strategi DOTS (1969-1994) angka kesembuhan TB

Paru yang dapat dicapai oleh program hanya 40-60% saja. Dengan strategi DOTS

diharapkan angka kesembuhan dapat dicapai minimal 85% dari penderita TB Paru

BTA positif yang ditemukan (Aditama, 2002).

Pengertian DOTS dimulai dengan keharusan pengelola program TB untuk

memfokuskan perhatian dalam usaha menemukan penderita. Dalam arti deteksi kasus

dengan pemeriksaan mikroskopik, yaitu dengan keharusan mendeteksi kasus secara

baik dan akurat. Kemudian, setiap pasien harus diobservasi dalam memakan obatnya,

setiap obat yang ditelan pasien harus di depan seorang pengawas. Pasien juga harus

penyediaan obat secara baik. Kemudian setiap pasien harus mendapat obat yang baik,

artinya pengobatan jangka pendek standard yang telah terbukti ampuh secara klinik.

Akhirnya, harus ada dukungan dari pemerintah yang penanggulangan TB mendapat

prioritas yang tinggi dalam pelayanan kesehatan (Aditama, 2002).

Prinsip DOTS adalah mendekatkan pelayanan pengobatan terhadap penderita

agar secara langsung dapat mengawasi keteraturan menelan obat dan melakukan

pelacakan bila penderita tidak datang mengambil obat sesuai dengan yang ditetapkan.

Strategi DOTS mempunyai lima komponen :

1. Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana.

2. Diagnosa TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.

3. Membuat program.

4. Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan

pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

5. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin.

6. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan

evaluasi program penanggulangan TB.

2.4. Kepatuhan

2.4.1. Definisi Kepatuhan

Menurut Drennan (2000), kepatuhan (Compliance) dalam pengobatan dapat

diartikan sebagai perilaku pasien yang mentaati semua nasehat dan petunjuk yang

dilakukan untuk mencapai tujuan pengobatan, salah satu diantaranya adalah

kepatuhan dalam minum obat. Hal ini merupakan syarat utama tercapainya

keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Sarafino (2006) mendefinisikan kepatuhan

(ketaatan) sebagai tingkat penderita melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang

disarankan oleh dokternya atau yang lain.

Kepatuhan terhadap pengobatan adalah kesetiaan mengikuti program yang

direkomendasikan sepanjang pengobatan dengan pengambilan semua paket obat yang

ditentukan untuk keseluruhan panjangnya waktu yang diperlukan Untuk mencapai

kesembuhan diperlukan kepatuhan atau keteraturan berobat bagi setiap penderita.

Penderita yang patuh berobat adalah yang menyelesaikan pengobatannya secara

teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 8 bulan,

sedangkan penderita yang tidak patuh datang berobat dan minum obat bila frekuensi

minum obat tidak dilaksanakan sesuai rencana yang ditetapkan. Penderita dikatakan

lalai jika datang lebih dari 3 hari - 2 bulan dari tanggal perjanjian dan dikatakan drop

out jika lebih dari 2 bulan terturut-turut tidak datang berobat setelah dikunjungi

petugas ksehatan (Depkes, 2002).

Faktor karakteristik personal dan dukungan keluarga memiliki pengaruh

terhadap pengobatan TB Paru. Besarnya angka ketidakpatuhan berobat akan

mengakibatkan tingginya angka kegagalan pengobatan penderita TB paru dan

menyebabkan makin banyak ditemukan penderita TB paru dengan BTA yang resisten

dengan pengobatan standar. Hal ini akan mempersulit pemberantasan penyakit TB

penyebab ketidakpatuhan minum obat penderita TB Paru, dapat disimpulkan bahwa

faktor manusia, dalam hal ini penderita TB paru sebagai penyebab utama dari ketidak

patuhan minum obat.

Pada umumnya alasan responden menghentikan pengobatan karena paket obat

terlalu banyak dan besar-besar, merasa sudah sembuh yang ditandai dengan batuk

berkurang,perasaan sudah enak badan, sesak napas berkurang, nafsu makan baik.

Secara umum, hal-hal yang perlu dipahami dalam meningkatkan tingkat kepatuhan

adalah bahwa:

1. Pasien memerlukan dukungan, bukan disalahkan.

2. Konsekuensi dari ketidakpatuhan terhadap terapi jangka panjang adalah tidak

tercapainya tujuan terapi dan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan.

3. Peningkatan kepatuhan pasien dapat meningkatkan keamanan penggunaan obat.

4. Kepatuhan merupakan faktor penentu yang cukup penting dalam mencapai

efektifitas suatu sistem kesehatan.

5. Memperbaiki kepatuhan dapat merupakan intervensi terbaik dalam penanganan

secara efektif suatu penyakit kronis.

6. Sistem kesehatan harus terus berkembang agar selalu dapat menghadapi berbagai

tantangan baru.

7. Diperlukan pendekatan secara multidisiplin dalam menyelesaikan masalah

2.4.2. Faktor - faktor yang Memengaruhi Kepatuhan

Dalam hal kepatuhan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan

adalah segala sesuatu yang dapat berpengaruh positif sehingga penderita tidak

mampu lagi mempertahankan kepatuhanya, sampai menjadi kurang patuh dan tidak

patuh. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan diantaranya:

a. Pemahaman tentang Instruksi

Tidak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang

diberikan padanya. Ley dan Spelman dalam Crofton (2002) menemukan bahwa

lebih dari 60% responden yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter

salah mengerti tentang instruksi yang diberikan kepada mereka. Kadang kadang

hal ini disebabkan oleh kegagalan profesional dalam memberikan informasi

lengkap, penggunaan istilah-istilah medis dan memberikan banyak instruksi yang

harus diingat oleh penderita.

Menurut Niven (2002), pendekatan praktis untuk meningkatkan kepatuhan

penderita antara lain :

a. Buat instruksi tertulis yang jelas dan mudah diinterpretasikan.

b. Berikan informasi tentang pengobatan sebelum menjelaskan hal-hal lain.

c. Jika seseorang diberikan suatu daftar tertulis tentang hal-hal yang harus

diingat maka akan ada efek “keunggulan”, yaitu mereka berusaha mengingat

hal-hal yang pertama kali ditulis.

d. Instruksi-instruksi harus ditulis dengan bahasa umum (non medis) dan hal-hal

1. Kualitas Interaksi

Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dengan penderita merupakan

bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Meningkatkan

interaksi profesional kesehatan dengan penderita adalah suatu hal penting untuk

memberikan umpan balik pada penderita setelah memperoleh informasi tentang

diagnosis. Penderita membutuhkan penjelasan tentang kondisinya saat ini, apa

penyebabnya dan apa yang mereka lakukan dengan kondisi seperti itu.

2. Isolasi Sosial dan Keluarga

Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan

keyakinan dan nilai kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang

program pengobatan yang dapat mereka terima. Keluarga juga memberi

dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota keluarga

yang sakit.

3. Keyakinan, Sikap, Kepribadian

Ahli psikologi telah menyelidiki tentang hubungan antara pengukuran-

pengukuran kepribadian dan kepatuhan. Mereka menemukan bahwa data

kepribadian secara benar dibedakan antara orang yang patuh dengan orang yang

gagal. Orang-orang yang tidak patuh adalah orang-orang yang lebih mengalami

depresi, ansietas, sangat memerhatikan kesehatannya, memiliki kekuatan ego

yang lebih lemah dan yang kehidupan sosialnya lebih memusatkan perhatian pada

Menurut Niven (2002), faktor yang berhubungan dengan ketidaktaatan, secara

sejarah, riset tentang ketaatan penderita didasarkan atas pandangan tradisional

mengenai penderita sebagai penerima nasihat dokter yang pasif dan patuh. Penderita

yang tidak taat dipandang sebagai orang yang lalai, dan masalahnya mengidentifikasi

kelompok-kelompok penderita yang tidak patuh berdasarkan kelas sosio ekonomi,

pendidikan, umur, dan jenis kelamin. Pendidikan penderita dapat meningkatkan

kepatuhan, sepanjang bahwa pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif

seperti penggunaan buku-buku dan kaset oleh penderita secara mandiri. Usaha-usaha

ini sedikit berhasil, seorang dapat menjadi tidak taat kalau situasinya memungkinkan.

Teori-teori yang lebih baru menekankan faktor situasional dan penderita sebagai

peserta yang aktif dalam proses pengobatannya. Perilaku ketaatan sering diartikan

sebagai suatu usaha penderita untuk mengendalikan perilakunya, bahkan jika hal

tersebut bisa menimbulkan risiko mengenai kesehatannya.

Macam-macam faktor yang berkaitan dengan ketidaktaatan disebutkan :

1. Ciri-ciri kesakitan dan ciri-ciri pengobatan

Perilaku ketaatan lebih rendah untuk penyakit kronis (karena tidak ada akibat

buruk yang segera dirasakan atau risiko yang jelas), sarana mengenai gaya hidup

umum dan kebiasaan yang lama, pengobatan yang kompleks, pengobatan dengan

efek samping, perilaku yang tidak pantas.

Menurut Sarafino (2006), tingkat ketaatan rata-rata minum obat untuk

78% untuk kesakitan kronis dengan cara pengobatan jangka panjang tingkat

tersebut menurun sampai 54%.

2. Komunikasi antara penderita dan dokter.

Berbagai aspek komunikasi antara penderita dengan dokter memengaruhi tingkat

ketidakpuasan terhadap informasi aspek hubungan dengan pengawasan

emosional yang kurang, dengan dokter, ketidakpuasan terhadap pengobatan yang

diberikan.

3. Variabel-variabel sosial

Hubungan antara dukungan sosial dengan ketaatan telah dipelajari. Secara umum,

orang-orang yang merasa mereka menerima penghiburan, perhatian, dan

pertolongan yang mereka butuhkan dari seseorang atau kelompok biasanya

cenderung lebih mudah mengikuti nasihat medis, daripada penderita yang kurang

mendapat dukungan sosial. Jelaslah bahwa keluarga memainkan peranan yang

sangat penting dalam pengelolaan medis. Misalnya, penggunaan pengaruh

normatif pada penderita, yang mugkin mengakibatkan efek yang memudahkan

atau menghambat perilaku ketaatan.

4. Ciri-ciri individual

Variabel-variabel demografis juga digunakan untuk meramalkan ketidaktaatan.

Sebagai contoh : di Amerika serikat, kaum wanita, kaum kulit putih, dan orang

2.5. Landasan Teori

Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh mahluk hidup, baik yang diamati secara

langsung atau tidak langsung perilaku manusia dapat dilihat dari 3 aspek yaitu: aspek

fisik, psikis dan sosial yang secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak

kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya, yang

ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan

sosial budaya masyarakat. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, berpersepsi dan

emosi juga merupakan perilaku manusia (Notoatmodjo, 2010).

Sejalan dengan batasan perilaku menurut Skinner maka Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mewujudkan kesehatan seseorang diselenggarakan dengan empat macam pendekatan yaitu pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit (preventive), penyembuhan penyakit (curative) dan pemulihan kesehatan (rehabilitative). Respon atau reaksi manusia dibedakan menjadi dua kelompok yaitu yang bersifat pasif dan bersifat aktif. Bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), bersifat aktif (tindakan yang nyata atau practice). Perilaku terhadap pelayanan kesehatan adalah respon seseorang terhadap pelayanan kesehatan baik pelayanan kesehatan yang modern maupun pelayanan kesehatan yang tradisional. Perilaku ini menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatannya, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan pengguna fasilitas, petugas, dan obat-obatan. Perilaku seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari

dalam dan dari luar individu itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain ; susunan saraf pusat, persepsi, motivasi, emosi, proses belajar, lingkungan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007) menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan, kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu :

a. Faktor perilaku (behavioral causes)

b. Faktor diluar perilaku (non behavioral causes)

Selanjutnya faktor perilaku di pengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu faktor- faktor predisposisi (predisposing factors), faktor-faktor pemungkin (enabling factors), dan faktor-faktor penguat (reinforcing factors). Faktor-faktor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya. Hal di atas dapat berkaitan dengan kepatuhan minum obat pada pasien. Sebagai contoh kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru, akan dipermudah jika pasien mengetahui manfaat yang dilakukan. Demikian juga, penerimaan perilaku baru atau adopsi melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran,dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting).

Faktor-faktor pemungkin mencakup ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, untuk berperilaku sehat masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung untuk mewujudkan perilaku kesehatan, maka faktor ini disebut dengan faktor pendukung

atau faktor pemungkin. Misalnya termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit.

Faktor-faktor penguat meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas terutama petugas kesehatan. Demikian juga halnya kepatuhan pasien dalam menjalankan hemodialisa diperlukan dukungan dari keluarga dan petugas kesehatan. Dukungan keluarga meliputi dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan Instrumental dan dukungan emosional.

Gambar 2.1. Kerangka Teori

Faktor Predisposisi - Pengetahuan - Sikap - Nilai - Pendidikan - Penghasilan Faktor Penguat - Dukungan Keluarga

- Dukungan Petugas Kesehatan - Dukungan Tokoh Masyarakat Faktor Pemungkin

- Ketersediaan Fasilitas - Ketrampilan Petugas

Dokumen terkait