BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Program Beras Bagi Keluarga Miskin
2.4.2. Penanggung Jawab Raskin
Penanggung jawab pelaksanaan dan pemantauan Raskin di tingkat propinsi adalah Gubernur dan di Kabupaten/Kota adalah Bupati/Walikota. Dalam pelaksanaannya secara fungsional didukung oleh Tim Koordinasi Raskin tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten/Kota yang terdiri dari instansi terkait dan berbagai pihak yang dipandang perlu (Perguruan tinggi, LSM, dan institusi kemasyarakatan lainnya).
Penanggung jawab penyediaan dan pendistribusian beras Raskin dari gudang Perum Bulog sampai titik distribusi, maupun penyelesaian administrasi dan penyelesaian administrasi dan penyelesaian pembayarannya adalah Kasub Divre/Kakanlog sesuai tingkatan wilayah operasionalnya. Dalam pelaksanaannya, Kasub Divre/Kakanlog membentuk Satgas Raskin, Pemkab/Pemko setempat sesuai
tingkatan wilayahnya turut bertanggung jawab dalam penyelesaian administrasi dan pembayaran Raskin.
Penanggung jawab data dasar untuk penetapan keluarga sasaran penerima manfaat Raskin adalah Kepala BKKBN setempat. Penanggung jawab penetapan jumlah keluarga miskin dan kuantum beras adalah Gubernur/Bupati/Walikota sesuai tingkatan wilayahnya sebagai hasil konsultasi teknis dengan instansi terkait dengan mempertimbangkan kondisi objektif daerah yang bersangkutan.
Penanggung jawab pengesahan keluarga miskin yang menerima Raskin di setiap titik distribusi adalah camat sebagai hasil musyawarah desa yang ditetapkan oleh kepala desa yang ditetapkan oleh Kepala Desa/Lurah Setempat. Penanggung jawab penanganan pengaduan masyarakat adalah kepala Dinas/Badan BPM bersama-sama unsur-unsur inspektorat dan pengawasan Divre/Sub Divre/Kanlog Bulog. Penentuan Pagu dan Alokasi :
a) Kuantum pagu Raskin nasional ditetapkan berdasarkan besarnya subsidi pangan (Raskin) yang disediakan pemerintah dalam APBN
b) Gubernur selaku Penanggungjawab Tim Koordinasi Program Raskin Provinsi, mengalokasikan kuantum pagu Raskin kepada masing-masing Kabupaten/Kota dengan mengacu pada data kemiskinan BPS yang ditetapkan dalam keputusan Gubernur
c) Berdasarkan pagu Raskin Kabupaten/Kota, Tim Koordinasi Program Raskin masing-masing Kabupaten/Kota mengalokasikan kuantum pagu Raskin kepada masing-masing Kecamatan dan Desa/Kelurahan, dengan mengacu pada data RTM dari BPS, dengan mempertimbangkan kondisi obyektif daerah, yang ditetapkan dalam keputusan Bupati/Walikota.
d) Tim Raskin Provinsi dapat mengusulkan kepada Gubernur untuk me-realokasi pagu Raskin ke Kabupaten/Kota yang dinilai tidak dapat mendistribusikan beras Program Raskin sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
2.4.3 Biaya Operasional Raskin
1. Biaya Operasional Raskin disediakan untuk memenuhi kebutuhan biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan Raskin sampai dengan di titik distribusi menjadi perum Bulog
2. Pengeluaran biaya Operasional Raskin dilakukan secara efisien
3. Biaya Raskin terdiri dari biaya umum dan biaya operasional, termasuk pajak. Biaya umum antara lain digunakan untuk pembuatan, brosur, leaflet, poster dan lain-lain
4. Biaya Operasional terdiri dari biaya distribusi dan biaya pendukung. Biaya distribusi meliputi biaya angkutan, pengemasan bila diperlukan, susut, cadangan resiko. Biaya pendukung selanjutnya pembuatan laporan, honor, biaya koordinasi dan biaya rapat, biaya sosialisasi, monitoring, dan evaluasi (yang tidak dibiayai dari APBN)
5. Ongkos dari titik distribusi sampai ke penerima manfaat di alokasikan dari APBD setempat atau swadaya masyarakat
6. Pengeluaran biaya operasional Raskin harus dipertanggungjawabkan dengan dilengkapi bukti-bukti pengeluaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan realisasi biaya operasional Raskin dilaporkan ke Divre Sumut Perum Bulog (www.bulog.co.id/studiraskin_v2.php)
Pembiayaan distribusi beras Raskin meliputi :
a) Dari gudang Perum Bulog sampai di titik distribusi menjadi beban perum Bulog
b) Dari titik distribusi sampai RTM sasaran penerima manfaat menjadi beban Bupati/Walikota
2.4.4. Indikator Keberhasilan Program
Indikator keberhasilan pelaksanaan program Raskin adalah tepat sasaran penerima manfaat, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, dan tepat administrasi. Tepat sasaran penerima manfaat, Raskin hanya diberikan kepada rumah tangga sasaran penerima hasil musyawarah Desa/Kelurahan yang terdaftar dalam Daftar Penerima Manfaat (DPM-1) dan diberi identitas. Tepat jumlah, jumlah beras Raskin yang merupakan hak Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima manfaat adalah sebanyak 10 kg netto per RTM per bulan sesuai dengan hasil Musyawarah Desa/Kelurahan. Tepat harga, harga beras Raskin adalah sebesar Rp.1.000,00 per kg netto di titik distribusi (
www.pontianakkota.go.id/?q=news/tepat-indikator-keberhasilan-raskin diakses pada tanggal 20 juni 2010 pukul 20.00 WIB)
2.4.5. Pengaduan Masyarakat
1. Pengaduan masyarakat berupa keluhan, kritik, saran dan pendapat untuk perbaikan pelaksanaan Program Raskin ditanggapi dan ditindaklanjuti secara fungsional yang dikoordinasikan oleh Tim Program Raskin Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai tingkatan wilayahnya
2. Tindak lanjut pengaduan masyarakat secara teknis diselesaikan oleh masing-masing Instansi, SKPD pelaksana Program Raskin dan stakeholder sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
3. Pengaduan masyarakat tentang pelaksanaan Raskin dapat berasal dari penerima Raskin atau masyarakat umum secara langsung, namun dapat juga melalui media massa (surat kabar, radio, dan televisi).
2.4.6 Pengawasan Dan Sosialisasi Program
Pengawasan pelaksanaan program Raskin dilakukan secara fungsioanal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pengawasan Masyarakat pada prinsipnya terbuka dan dilakukan melalui mekanisme kepedulian dan pengaduan melalui Unit Pengaduan Masyarakat (UPM) dan media massa. Sementara itu, sosialisasi program Raskin bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai program Raskin kepada RTM sasaran penerima manfaat, masyarakat, dan pelaksana program di tingkat provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan. Sosialisasi program Raskin dilakukan oleh Tim Program Raskin Tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan secara berjenjang dan dapat mengikut sertakan pihak lain bilamana diperlukan.
Materi program Raskin yang disosialisasikan meliputi kebijakan program dan pelaksanaan teknis tentang penetapan RTM sasaran penerima manfaat, mekanisme distribusi, tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing pelaksana program serta hak dan kewajiban RTM sasaran penerima manfaat, mekanisme dan administrasi pembayaran, penyampaian keluhan/pengaduan dari masyarakat serta penanganan tindak lanjutnya. Sosialisasi program Raskin dapat juga dilakukan melalui media massa (cetak & elektronik), penyebaran leaflet/brosur/poster/media luar ruang dan
berbagai forum pertemuan sosial kemasyarakatan lainnya. Sosialisasi program Raskin merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan program Raskin, yang dapat dilakukan melalui berbagai cara mana yang paling efektif dan memungkinkan, agar masyarakat umum dan khusunya masyarakat miskin mengetahui secara persis latar belakang, kebijakan, mekanisme, hak-hak dan kewajibannya. Untuk program Raskin,sosialisasi dilakukan melalui berbagai kegiatan dan media.
2.5 Kerangka Pemikiran
Kemiskinan merupakan konsep dan fenomena berwayuh wajah, bermantra multidimensional. Kemiskinan pada umumnya didefinisikan berdasarkan segi ekonomi, khususnya pendapatan berupa uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan non-material yang diterima seseorang. Kemiskinan juga merupakan masalah yang masih terus dihadapi oleh bangsa kita. Meskipun demikian pemerintah berusaha untuk mensejahterakan masyarakat miskin di Indonesia dengan berbagai program, salah satunya adalah dengan penyaluran Raskin.
Respon Masyarakat adalah tingkah laku balas/tindakan masyarakat yang merupakan wujud dari persepsi, sikap dan partisipasi masyarakat dimana masyarakat dapat memahami dan menilai positif atau negatif, menerima/menolak dan juga mengharapkan/menghindari suatu program yang telah dilaksanakan namun masyarakat juga hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan saling berinteraksi menurut sistem adat istiadat, hukum, agama maupun sosial budaya yang bersifat kontiniu dan juga terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Program Raskin adalah program pemerintah yang bertujuan untuk membantu rumah tangga miskin dalam memenuhi kecukupan kebutuhan pangan, mengurangi
beban finansial dan meningkatkan ketahanan pangan dan juga memberikan perlindungan kepada rumah tangga miskin melalui pendistribusian beras bersubsidi.
Tujuan program Raskin berdasarkan Pedoman Umum (Pedum) adalah meningkatkan/membuka akses pangan rumah tangga miskin dan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin melalui pemberian bantuan pemenuhan sebagian kebutuhan pangan dalam bentuk beras. Dapat diketahui bahwa keseluruhan program yang dibuat oleh pemerintah pasti menimbulkan respon dari masyarakat. Begitu juga program Raskin yang dibuat oleh pemerintah dan sedang berlangsung di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur.
Untuk memperjelas alur pemikiran diatas, dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut : Masyarakat Respon 1. Penglihatan dan pendengaran 2. Atensi 3. Pengetahuan 1. Penilaian 2. Penolakan /penerimaan 3. Mengharapkan/ Menghindari 1. Menikmati 2. Melaksanakan 3. Memelihara 4. Menilai 5. Frekuensi 6. Kualitas Program Raskin Partisipasi Sikap Persepsi
2.6 Definisi Konsep dan Definisi Operasioanal 2.6.1 Definisi Konsep
Konsep adalah suatu makna yang berada dialam pikiran atau didunia kepahaman manusia yang dinyatakan kembali dengan sarana lambang perkataan atau kata-kata (Suryanto, 2008 : 49)
Adapun yang menjadi batasan konsep dalam penelitian ini adalah :
1. Respon Masyarakat adalah Tingkah laku balas atau tindakan masyarakat yang merupakan wujud dari persepsi, sikap dan partisipasi masyarakat dimana masyarakat dapat memahami dan menilai positif atau negatif suatu program yang telah dilaksanakan dan masyarakat juga hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan saling berinteraksi menurut sistem adat istiadat, hukum, agama maupun sosial budaya yang bersifat kontiniu dan juga terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
2. Program Raskin adalah Program pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan kepada keluarga miskin atau rawan pangan melalui pendistribusian bahan pangan pokok (beras), dengan ketentuan maksimal 20 kg/KK/Bulan netto dengan harga 1.000 kg (Harga dititik distribusi) 3. Keluarga Miskin adalah suatu unit masyarakat yang terkecil yang
mempunyai hubungan biologis yang hidup dan tinggal dalam satu rumah yang standart ekonominya lemah atau tingkat pendapatannya relatif kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar pokok seperti sandang, pangan dan papan
Dengan demikian dapat diambil definisi konsep secara keseluruhan. Yang dimaksud dengan Respon Masyarakat Terhadap Program Raskin di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur adalah tingkah laku balas atau tindakan masyarakat yang merupakan wujud dari persepsi, sikap dan partisipasi masyarakat terhadap suatu program pemerintah dalam upaya memberikan perlindungan melalui pendistribusian bahan pangan pokok (beras) kepada keluarga miskin yang mempunyai hubungan biologis yang hidup dan tinggal dalam satu rumah yang standart ekonominya lemah atau tingkat pendapatannya relatif kurang.
2.6.2 Definisi Operasional
Definisi Operasioanal adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara mengukur suatu variabel (Singarimbun, 1989 : 46).
Respon masyarakat terhadap program Raskin diukur dari :
1. Persepsi/pemahaman masyarakat mengenai program Raskin dapat diukur melalui:
a. Penglihatan dan pendengaran adalah suatu proses dimana masyarakat dapat mencermati, memahami dan menilai program raskin yang dilaksanakan oleh pemerintah
b. Atensi adalah suatu proses penyeleksian masyarakat terhadap program raskin yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan program sebelumnya yang pernah dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan.
c. Pengetahuan adalah informasi yang diperoleh masyarakat mengenai program raskin yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui keterpaparan informasi dimana pemerintah mengumumkan adanya informasi program tersebut melalui media elektronik maupun media cetak.
2. Sikap masyarakat terhadap program Raskin dapat diukur melalui:
a. Penilaian adalah pengetahuan/informasi yang dimiliki masyarakat tentang program raskin. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tentang bagaimana menilai program tersebut positif/negatif. b. Penolakan atau Penerimaan adalah berhubungan dengan rasa senang/ tidak
senangnya masyarakat terhadap program raskin yang dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa masyarakat menolak/menerima terhadap adanya program tersebut.
c. Mengharapkan atau Menghindari adalah kesiapan masyarakat untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan adanya program raskin yang dilaksanakan oleh pemerintah dan dalam hal ini dapat diketahui bahwa masyarakat mengharapkan/menghindari terhadap adanya program
3. Partisipasi terhadap program Raskin dapat diukur melalui :
a. Menikmati adalah masyarakat berperan serta dalam menikmati hasil program raskin dimana masyarakat tinggal menerima berupa hasil program seperti menerima bahan pangan pokok (beras), dengan ketentuan maksimal 20 kg/KK/Bulan/Netto.
b. Melaksanakan adalah masyarakat berperan serta dalam melaksanakan program raskin dengan penuh persiapan, perencanaan, pemahaman dan evaluasi agar pelaksanaan program tersebut berjalan dengan lancar
c. Memelihara adalah masyarakat berperan serta dalam memelihara hasil program raskin agar tidak krisis pangan yang berakibat pada munculnya kasus kurang gizi dan gizi buruk yang dapat menimbulkan masalah pembangunan.
d. Menilai adalah masyarakat berperan serta dalam menilai hasil program dimana masyarakat dapat menilai positif atau negatif hasil program tersebut e. Frekuensi adalah keterlibatan masyarakat dalam melaksanakan program
raskin dengan penuh persiapan, perencanaan, pemahaman dan evaluasi dimana keterlibatan harus memiliki frekuensi yang baik dan teratur.
f. Kualitas adalah keterlibatan masyarakat dalam berperan serta melaksanakan program raskin yaitu bertata laku dengan baik maka masyarakat akan menjadi terinternalisasi dengan sikap dan nilai pribadi yang kondusif terhadap kualitas.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian
Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu penelitian yang sekadar untuk melukiskan atau menggambarkan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti, tanpa mempersoalkan hubungan antar variabel atau jalin menjalinnya antar variabel (Faisal : 2008 : 20)
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu membuat gambaran secara menyeluruh tentang bagaimana respon masyarakat terhadap program Raskin di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur merupakan salah satu kelurahan yang melaksanakan program Raskin dan aktif dalam pelaksanaannya sehingga peneliti tertarik untuk meneliti secara langsung bagaimana respon masyarakat terhadap Raskin di daerah tersebut.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.2 Populasi
Populasi adalah jumlah total dari seluruh unit atau elemen dimana penyelidik tertarik. Populasi dapat berupa organisme, orang atau kelompok orang, masyarakat, organisasi, benda, objek, peristiwa atau laporan yang semuanya memiliki ciri dan harus didefinisikan secara spesifik dan tidak secara mendua (Silalahi, 2009 : 253). Berdasarkan pengertian diatas maka yang menjadi populasi dalam penelitian adalah seluruh masyarakat yang mendapat Raskin di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai yang berjumlah 102 Kepala Keluarga.
3.3.2 Sampel
Menurut suharsimi arikunto jika jumlah populasi lebih dari seratus, maka dianjurkan untuk menentukan jumlah sampel antara 10-15% dan 20-25% dari jumlah populasi dan ini di anggap representative (arikunto,1993:149). Maka peneliti menetapkan besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 25 % dari jumlah populasi yaitu 25% x 102= 25,5 dibulatkan jadi 26 KK. Di Kelurahan Dataran Tinggi Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai terbagi dalam 4 lingkungan, maka penulis menetapkan pada lingkungan I diambil 6 KK, lingkungan II diambil 8 KK, lingkungan III diambil 7 KK dan lingkungan IV diambil 5 KK. Sedangkan teknik dalam pengambilan sampel penelitian ini dengan menggunakan teknik simple random sampling, dimana setiap populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi sampel.
3.4 Tehnik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah : 1. Data Primer
Data Primer diperoleh dari penelitian lapangan yang dilakukan turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data melalui :
a) Penyebaran angket langsung (kuesioner), yaitu alat mengumpulkan data dengan menyebarkan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan atau angket secara tertulis yang harus diisi oleh responden
b) Wawancara yaitu pengumpulan data dengan cara memberikan pertanyaan langsung kepada responden guna memperoleh keterangan dalam menyimpulkan data yang terkumpul
c) Observasi yaitu mengumpulkan data tentang gejala tertentu yang dilakukan dengan mengamati, mendengar, mencatat kejadian yang berkaitan dengan penelitian
2. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dengan studi kepustakaan yaitu dengan membuka, mencatat, mengutip, data dari buku-buku, laporan-laporan penelitian, jurnal-jurnal, pendapat-pendapat para ahli/pakar dan sebagainya yang berhubungan dengan masalah penelitian dan dapat mendukung terlaksananya penelitian ini.
3.5 Teknik Analisa Data
Penelitian ini akan menggunakan teknik analisa deskriptif, yaitu dengan cara memeriksa data dari penelitian, kemudian dicari frekuensi dan persentasenya untuk disusun dalam bentuk tabel tunggal serta selanjutnya dijelaskan secara kualitatif.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kelurahan Dataran Tinggi merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Binjai Timur Kota Binjai. Kelurahan Dataran Tinggi memiliki luas wilayah 81,06 HA dan jumlah penduduk 5380 jiwa dan terdiri dari 973 KK. Kelurahan Dataran Tinggi terdiri dari 4 lingkungan yaitu Lingkungan I, Lingkungan II, Lingkungan III dan Lingkungan IV.
Adapun batas-batas dari Kelurahan Dataran Tinggi adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan : Kelurahan Tanah Tinggi
Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kelurahan Timbang Langkat Sebelah Barat berbatasan dengan : Kelurahan Timbang Langkat Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Tunggorono
4.2. Kondisi Geografis
Kelurahan Dataran Tinggi merupakan salah satu kelurahan dari 4 kelurahan yang ada di Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai. Kelurahan Dataran Tinggi terletak di jalan Bejomuna No 1 Binjai. Menurut data yang diperoleh dari Profil Kelurahan Dataran Tinggi pada tahun 2009 terlihat bahwa ketinggian tanah dari permukaan laut adalah 28 meter. Banyaknya curah hujan yaitu 2.808 mm/tahun. Topografi Kelurahan Dataran Tinggi adalah dataran rendah. Suhu udara rata-rata di Kelurahan Dataran Tinggi yaitu 26C.
4.3. Kependudukan
Jumlah penduduk Kelurahan Dataran Tinggi tahun 2010 yaitu 5380 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 973 Kepala Keluarga. Penduduk Kelurahan Dataran Tinggi mempunyai komposisi penduduk sebagai berikut:
1. Penduduk berdasarkan lingkungan 2. Penduduk berdasarkan usia
3. Penduduk berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga 4. Penduduk berdasarkan jenis kelamin
5. Penduduk berdasarkan mata pencaharian 6. Penduduk berdasarkan agama
7. Penduduk berdasarkan suku
4.3.1 Penduduk Berdasarkan Lingkungan
Berdasarkan data-data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Dataran Tinggi tahun 2010 diketahui bahwa jumlah penduduk adalah sebanyak 5380 jiwa. Penduduk tersebut tersebar dari lingkungan I sampai lingkungan IV. Data penduduk Kelurahan Dataran Tinggi berdasarkan lingkungan dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.3.1.1
Data Penduduk Berdasarkan Lingkungan
No Lingkungan Frekuensi Persentase 1 2 3 4 I II III IV 1699 986 1850 845 31,57 18,32 34,38 15,70 Jumlah 5380 100,00
Sumber : Data Kantor Kelurahan Tanah Tinggi Binjai 2009
Tabel 4.3.1.1 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Dataran Tinggi adalah 5380 jiwa. Data yang ada menunjukkan bahwa persebaran penduduk di kelurahan tersebut dari lingkungan I sampai lingkungan IV hampir merata. Walaupun demikian jumlah penduduk terbanyak terdapat di lingkungan 1 dengan jumlah 1699 jiwa atau 31,57 %, sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di lingkungan IV yaitu 845 orang atau berjumlah 15,70 %.
4.3.2. Penduduk Berdasarkan Usia
Adapun komposisi penduduk Kelurahan Dataran Tinggi berdasarkan usia adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3.2.2
Data Penduduk Berdasarkan Usia
No Usia Frekuensi Persentase
1 2 3 4 5 6 7 0-06 tahun 7-12 tahun 13-18 tahun 19-24 tahun 25-55 tahun 56-79 tahun
Lebih dari 80 tahun
621 952 916 1136 1557 152 46 11,54 17,69 17,02 21,11 28,94 2,82 0,85 Jumlah 5380 100,00
Sumber: Data Kantor Kelurahan Dataran Tinggi Binjai 2009
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai adalah 5380 dan jumlah penduduk terbesar adalah berusia
25-55 tahun yaitu berjumlah 125-557 jiwa atau 28,94 %, kemudian diikuti 19-24 tahun sebanyak 1136 jiwa atau 21,11 %, sedangkan jumlah penduduk terkecil yaitu para lanjut usia yang berusia 80 tahun ke atas sebanyak 46 jiwa atau 0,85 %.
4.3.3. Penduduk Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Adapun Komposisi Penduduka berdasarkan jumlah anggota keluarga di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai dapat diperjelas tabel 4.3.3.1 berikut ini :
Tabel 4.3.3.3
Data Penduduk Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
No Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi Persentase 1 2 3 1-3 3-5 > 5 976 1558 2876 18,14 28,95 53,45 Jumlah 5380 100,00
Sumber : Data Kantor Kelurahan Dataran Tinggi Binjai 2009
Berdasarkan Tabel 4.3.3.1 dapat dilihat bahwa jumlah anggota keluarga di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai dilihat secara keseluruhan yang paling banyak adalah > 5 orang yaitu berjumlah 2876 jiwa atau 53,45%, kemudian 3-5 orang sebanyak 1558 jiwa atau 28,95 %, sedangkan jumlah anggota terkecil yaitu sebanyak 1-3 orang atau 18,14 %.
4.3.4. Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai dapat diperjelas tabel 4.3 berikut ini :
Tabel 4.3.4.4
Data Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase 1 2 Laki-laki Perempuan 2621 2759 48,71 51,28 Jumlah 5380 100,00
Sumber : Data Kantor Kelurahan Dataran Tinggi Binjai 2009
Dilihat dari jumlah penduduk secara keseluruhan di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Jumlah penduduk perempuan yaitu 2759 jiwa atau 51,28 % sedangkan laki-laki sebanyak 2621 jiwa atau 48,71 %.
4.3.5. Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Berdasarkan mata pencaharian, masyarakat di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai mempunyai jenis pekerjaan yang berbeda-beda, mulai dari sektor formal hingga nonformal, untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 4.3.5.5
Data Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
No Mata Pencaharian Frekuensi Persentase 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pegawai Negeri TNI Swasta Pedagang Tani Tukang Buruh Tani Pensiunan Jasa 226 175 436 600 42 71 13 218 21 12,54 9,71 24,19 33,29 2,33 3,94 0,72 12,09 1,16 Jumlah 1802 100,00
Sumber : Data Kantor Kelurahan Dataran Tinggi Binjai 2009
Melalui tabel 4.4 dapat dilihat bahwa sebahagian besar penduduk di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai mayoritas bermata pencaharian pedagang sebanyak 600 jiwa atau 33,29 %, kemudian diikuti dengan yang bermata pencaharian buruh/swasta sebanyak 436 jiwa atau 24,19 %, yang bermata pencaharian pegawai negeri sebanyak 226 jiwa atau 12,54 %, pensiunan sebanyak 218 jiwa atau 12,09 % dan frekuensi terkecil adalah yang bermata pencaharian jasa yaitu sebanyak 21 jiwa atau 1,16 %.
Berdasarkan tabel 4.4 variasi jenis pekerjaan ini dipengaruhi oleh luas lahan yang ada di Kelurahan Dataran Tinggi Binjai, dimana luas terbesar digunakan untuk pemukiman dan lainnya untuk lokasi pendidikan, sawah dan ladang, empang dan lain-lain. Selain itu penduduknya banyak yang bekerja diluar daerah kelurahan ini yaitu sebagai buruh atau swasta maupun negeri. Jenis pekerjaan yang dipilih penduduk juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk kelurahan ini.
4.3.6. Penduduk Berdasarkan Pendidikan
Masyarakat Dataran Tinggi Binjai memiliki tingkat pendidikan yang berbeda-beda, mulai dari tidak tamat SD hingga tingkat S1, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3.6.6
Data Penduduk Berdasarkan Pendidikan
No Pendidikan Frekuensi Persentase 1 2 3 4 5 6 7 8 Belum Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA D1-D3 S1 S2 512 362 1774 1563 678 293 148 50 9,51 6,72 32,97 29,05 12,60 5,44 2,75 0,92 Jumlah 5380 100,00