• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENATAAN KELEMBAGAAN

Dalam dokumen ASMAH Nomor Stambuk : (Halaman 40-46)

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PROFIL RESPONDEN

1.2. PENATAAN KELEMBAGAAN

Penataan atau menstukturkan suatu unit organisasi sudah merapakan tuntutan yang harus dilakukan oleh setiap organisasi mana pun sesuai dengan tuntutan perubahan lingkungan dan untuk menjaga kelangungan organisasi terutama efektivitas dan efisiensi dalam melayani stakeholders. Begitu pula di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar yang dibentuk dengan Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 dari waktu ke waktu selalui menyesuaikan diri dengan menata kembali organisasinya, terutama sejak masa Orde Baru hingga masa Reformasi.

Tuntutan terakhir dalam penetaan kelembagaan pemerintah daerah adalah sejak Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 mengenai penataan organisasi pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 ini mengatur organisasi perangkat daerah (sekretariat daerah, inspektorat, dinas daerah, badan perencanaan pembangunan daerah, dan lembaga teknis daerah). Besarnya organisasi daerah yang akan dibentuk menurut peraturan pemerintah ini adalah sesuai dengan variabel jumlah penduduk, luas daerah, dan jumlah APBD sehingga nantinya akan ada organisasi dengan struktur minimal,

sedang, dan maksimal.

Kelembagaan dibentuk pemerintah daerah pada dasarnya mewadahi sejumlah kewenangan urusan yang dimilki pemerintah daerah, baik wajib maupun pilihan. Selanjutnya kewenangan-kewenangan pemerintah daerah tersebut mendasar dasar penentuan organisasi dan struktur organisasi serta Prosedur Operasional Standar (POS) untuk melaksanakan kewenangan-kewenangan tersebut secara efektif. Penataan kelembagaan atau organisasi di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar memiliki konsekunesi penentuan organisasi dan perubahan struktur organisasi. Perubahan yang dilakukan terhadap sebagian ataupun secara keseluruhan struktur organisasi dalam rangka mencari bentuk yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan organisasi atau dikenal dengan restrukturisasi organisasi. Menurut Sedermayanti (2000:60) restrukturisasi dalam suatu organisasi dapat dilakukan melalui upaya manajemen dengan cara melakukan penataan ulang atau rekayasa ulang (reengineering) sehingga perusahaan dapat melakukan adaptasi terhadap pengaruh perubahan lingkungannya, sehingga perusahan akan tetap bertahan hidup. Penataan kelembagaan sudah merupakan tuntutan dari suatu perubahan khususnya pelaksanaan otonomi daerah secara luas dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan padanangan Wastistiono (2001:49) bahwa perubahan kebijakan otonomi perlu diikuti dengan penataan kembali organisasi pemerintah daerah secara mendasar. Penataan tersebut dapat berupa :

1. Perubahan unit organisasi;

2. Pengabungan organisasi yang sudah ada;

3. Penghapusan unit-unit organisasi yang sudah ada, dan

4. Perubahan bentuk unit-unit yang sudah ada.

Sejak awal era reformasi dan otonomi daerah ada kecendrungan umum untuk melakukan pemekaran kelembagaan di lingkungan pemerintah daerah.

Hasil penelitian Hidjaz (2011: 53) menegaskan bahwa pemekaran yang dilakukan lebih dikarenakan untuk mengakomodasikan tekanan dari birokrasi yang berkembang terus dibandingkan untuk mengakomodasikan perkembangan fungsi karena kebutuhan riil masyarakat yang harus dilayani. Lebih lanjut ditegaskan bahwa hal tersebut lebih dipicu oleh karena tidak adanya kewajiban Pemerintah Daerah secara langsung untuk membiayai Daerah dan pejabat akibat pemekaran lembaga tersebut.

Konsekunensi dari pemekaran organisasi dan struktur adalah biaya organisasi yang membebani APBN dan APBD. Untuk itu restrukturisasi organisasi pemerintah daerah mutlak harus dilakukan tanpa mengabaikan atau mengurangi tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam bidang pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 pasal 19 ditegaskan bahwa variabel besaran organisasi perangkat daerah ditetapkan berdasarkan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, dan jumlah Anggaran Pendapat-an dan Belanja Daerah (APBD). Selanjutnya besaran organisasi ditentukan berdasarkan perhitungan kriteria dari ketia variabel di atas. Untuk Kabupaten Takalar besaran organisasi perangkat daerah dengan nilai antara 40 sampai dengan 70 terdiri dari: sekretariat daerah, yang terdiri dari paling banyak 3

(tiga) asisten, sekretariat DPRD, dinas paling banyak 15; dan lembaga teknis paling banyak 10.

Selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tersebut ditindak lanjuti dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten Takalar terdiri dari 3 Asisten, 10 Biro, 41 Bagian dan 120 Sub Bagian. Kemudian Perda Nomor 10 Tahun 2008 yang mengatur tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Takalar menetapkan 16 Dinas Daerah, dan Perda Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda dan Lembaga Teknis Daerah yang semuanya berjumlah 12 lembaga.

Dengan mensandingkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 pasal 19 dan pasal 20 ayat 2 dengan kedua Perda yang mengatur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar dapat jelaskan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Takalar membentuk Organisasi Perangkat Daerah khususnya Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Dinas Daerah seharusnya hanya 15 ditentukan dan ditetapkan 16 lembaga, begitu pula Lembaga Teknis Daerah yang seharusnya 10 lembaga saja dibentuk dan ditetapkan 12 unit lembaga teknis.

Berdasarkan wawancara dengan responden yaitu Lucius W. Luly dan Adrianus Resi ( 1 6 dan 23 November 2012) masing-masing sebagai Kepala Sub Bagian pada Biro Organisasi Setda Kabupaten Takalar menyatakan;

"bahwa Besaran Organisasi Perangkat Daerah perlu disesuaikan dengan

karakteristik kepulauan Kabupaten Takalar. Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Kabupaten Takalar memenuhi syarat untuk klasifikasi B namun dengan melihat kondisi geografis Kabupaten Takalar, maka ada pertimbangan khusus oleh pemerintah daerah untuk membentuk 16 Dinas Daerah dan 12 Lembaga Teknis walaupun membebani APBD Kabupaten Takalar".

Sementara itu restrukturisasi kelembagaan pada lingkup Sekretariat Daerah khususnya biro-biro, maka dapat dikemukakan sebagaimana tabel berikut dibawah ini:

Tabel 4.5

Restrukturisasi Biro pada Sekretariat Daerah kabupaten Kabupaten Takalar

No 1 2

4

Sesuai PP 8 Tahun 2003 Biro Pemerintahan Biro Hukum Biro Bina Sosial

Biro Perekonomian

Sesuai PP 41 Tahun 2007 Biro Pemerintahan

Biro Hukum

Biro Kesejahteraan Rakyat

Biro Perekonomian

Ket

Berubah nomenklatur

6

Biro Pemerintahan Desa Biro Perlengkapan Sumber: Biro Kepegawaian dan Setda Kabupaten Takalar, 2011

Perlu dijelaskan bahwa penataan kelembagaan dengan dasar hukum Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 terdapat 13 biro namun dengan pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 yang dijabarkan dalam Perda Nomor 8 Tahun 2008 hanya terdapat 10 biro di lingkup Setda Kabupaten Takalar. Biro Humas dan Biro Perlengkapan digabungkan dengan Biro Umum, dan kedua biro yang di gabung tersebut masing-masingnya satu bagian dari biro tersebut. Sementara itu, tugas dan fungsi Biro Pemerintahan Desa dirumpunkan sebagian ke Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa dan sebagiannya ke Biro Pemerintahan.

Dalam dokumen ASMAH Nomor Stambuk : (Halaman 40-46)

Dokumen terkait