• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan dengan Musik 1 Pengertian

Penatalaksanaan dengan musik atau yang lebih dikenal sebagai intervensi musik terdiri dari dua kata, yaitu “intervensi” dan “musik”. Kata “intervensi” berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk membantu atau menolong orang. Biasanya kata tersebut digunakan dalam konteks pada masalah fisik. Kata “musik” dalam intervensi musik digunakan untuk menjelaskan media yang secara khusus digunakan dalam rangkaian proses terapi. Intervensi musik

adalah sebuah terapi yang bersifat nonverbal karena dengan bantuan musik, pikiran klien dibiarkan untuk mengenang hal-hal yang membahagiakan, membayangkan ketakutan yang dirasakan, mengangankan hal-hal yang dicita- citakan. (Djohan, 2006)

Intervensi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah intervensi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Perlu diingat bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu ber-irama. Sebagai contoh, nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama (Pusat Riset Intervensi musik, 2011).

2.3.2 Manfaat musik

Manfaat musik antara lain : 1) Musik merangsang fungsi otak

Musik dapat memberi rangsangan pertumbuhan fungsi pada otak (fungsi ingatan, belajar, bahasa, mendengar dan bicara, serta analisis, intelek, dan fungsi kesadaran) dan merangsang pertumbuhan gudang ingatan. (Satyadarma, 2002). Efek Mozart adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan

intelegensia seseorang (Satyadarrna, 2002). Penelitian menunjukkan bahwa gelombang otak dapat dimodifikasi oleh musik dan suara-suara yang ditimbulkannya. Semakin lamban gelombang otak, individu semakin merasa rileks, puas, dan tenang. Seperti halnya meditasi, yoga, sugesti dan latihan lain untuk menyatukan fisik dan pikiran. Musik dengan tempo lambat sekitar 60 beat / menit, dapat mengubah tingkat kesadaran dari susunan gelombang beta ke gelombang alfa, sehingga meningkatkan tingkat rileks dan ketenangan (Campbell,2002).

2) Musik mempengaruhi detak jantung, nadi, dan tekanan darah

Detak jantung manusia berespon terhadap beberapa variabel musik seperti frekuensi, tempo, volume, dan cenderung cepat atau lambat sesuai irama musik. Seperti halnya dengan pernafasan, detak yang lambat membuat tekanan darah dan stres menurun, membantu tubuh menyembuhkan diri sendiri dan dapat menenangkan pikiran (Barnason, 1995).

3) Musik mempengaruhi sistem respirasi

Bernafas dengan pola lambat dan dalam dapat menimbulkan rasa ketenangan, kontrol emosi, berpikir dalam dan metabolisme tubuh menjadi lebih baik. Dengan memperlambat tempo musik, pada umumnya seseorang mampu memperlambat pernafasan, sehingga pikiran menjadi tenang (Campbell,2002).

4) Musik mempengaruhi suhu tubuh

Musik mempengaruhi suhu tubuh dan berpengaruh terhadap kemampuan tubuh beradaptasi pada perubahan suhu. Musik yang lembut

dengan tempo lambat dan berefek menurunkan suhu tubuh dan membuat suhu tubuh stabil. Musik mengatur suhu tersebut melalui sirkulasi, detak nadi, pernafasan, dan keringat (Campbell, 2002).

5) Musik menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan kemampuan gerak serta koordinasi.

Persarafan auditorik menghubungkan telinga tengah dengan sistem otot seluruh tubuh melalui sistem saraf otonomik, karena hal itu kekuatan otot, fleksibilitas dan tonus otot dipengaruhi oleh musik dan vibrasinya (Campbell, 2002).

Dalam Indrawanto (1997), dijelaskan bahwa musik jenis klasik dan pop, dapat menurunkan ketegangan otot dan membuat individu menjadi rileks. Selain itu dijelaskan juga bahwa musik dengan frekuensi 40-66 hertz, beresonansi pada regio punggung bawah pelvis, paha, dan kaki. Sedangkan semakin tinggi frekuensi musik, akan berefek lebih terasa pada dada atas, leher, dan kepala.

6) Musik menstimulasi pencernaan

Menurut Campbell (2002), menjelaskan bahwa musik rock membuat orang makan dengan cepat dan tidak terasa dalam jumlah banyak. Sedangkan pada musik klasik dan berirama lambat dapat membuat orang makan dengan perlahan dan menikmati makanan tersebut.

2.3.3 Mekanisme mendengar

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau

tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membrane tektoria (Guyton, 2007). Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadi defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis (Iskandar Nurbaiti, dkk., 2007).

Menurut Chandra (2007) Dalam Harnita (1995) Telinga manusia hanya mampu menangkap suara yang ukuran intensitasnya 80 dB (batas aman) dan dengan frekuensi suara sekitar bekisar antara 20-20.000Hz. Lebar responden telinga manusia diantara 0 dB-140 dB yang dapat didengar. Dan batas intensitas suara tertinggi adalah 140 dB dimana untuk mendengarkan suara itu sudah timbul perasaan sakit pada alat pendengaran (Doelle, 1993).

2.3.4 Musik sebagai terapi

Penggunaan musik sebagai terapi didasarkan pada beberapa alasan berikut menurut Djohan (2005), yaitu :

1) Sebagai fokus perhatian dan atau mengatur latihan. Contohnya seorang wanita yang menggunakan musik dalam proses persalinan sesuai dengan pilihan musik dan disesuaikan dengan metode melahirkan, atau dapat pula pada pasien yang menggunakan musik sebagai sebuah motivasi untuk terapi latihan fisik

2) Meningkatkan hubungan terapi seorang pasien dan atau keluarga. Contohnya seorang terapis mengembangkan hubungan yang terbuka dengan seorang penderita remaja dengan menggunakan musik kegemaran remaja tersebut.

3) Memprakarsai proses belajar. Contohnya seorang anak diajarkan mengatur diri untuk membiasakan belajar disiplin diri oleh terapis dengan mengajarkan tahapannya melalui sebuah lagu.

4) Sebagai audioanalgesik atau penenang atau sebaliknya untuk menimbulkan pengaruh biomedis yang positif atau psikososial. Pada penderita penyakit kronis misalnya, diajarkan menggunakan musik untuk menurunkan gejala fisiologis dan kadar stres dengan mengalihkan perhatian dari rasa sakit, dan atau mengubah persepsi secara langsung dengan menurunkan tingkat persepsi terhadap rasa sakit.

5) Sebagai penata kesehatan dalam hal keterampilan fisiologis, emosi, dan gaya hidup. Seorang klien belajar memainkan piano untuk

mengatasi depresi yang dialami. Orang yang berpartisipasi dalam kelompok kebugaran akan lebih mudah melaksanakan perintah jika musik latar yang dipergunakan sesuai dengan gerakannya.

6) Mengatur kegembiraan dan interaksi personal yang positif. Contohnya anggota keluarga klien sebagai kelompok penunjang, melakukan diskusi tentang sebuah lirik lagu, penulisan lagu, bernyanyi dan berimprovisasi untuk meningkatkan rasa saling percaya dan kerjasama satu sama lain dengan panduan seorang fasilitator.

2.3.5 Musik sebagai pengantar tidur

Musik dengan tempo lamban memberikan rangsangan pada korteks serebri (korteks auditorius primer dan sekunder) sehingga dapat menyeimbangkan gelombang otak menuju gelombang otak α yang menandakan ketenangan dan mengurangi ketegangan otot (Nursalam, 2007). Rangsangan musik pada korteks serebri akan diteruskan ke serat saraf nuklei rafe sehingga dapat menghambat sinyal nyeri yang masuk dan mampu menstimulus sekresi serotonin yang merupakan bahan transmitter utama yang berkaitan dengan timbulnya keadaan tidur (Guyton&hall, 1997). Musik yang memiliki karakteristik lembut dan santai dapat membantu menjaga keseimbangan homeostasis tubuh melalui jalur HPA axis, yang dapat merangsang produksi β endorphin dan enkephalin yang merupakan neurotransmitter tidur. Β endorphin dan enkephalin mampu membuat tubuh menjadi rileks, rasa nyeri berkurang, dan menimbulkan rasa senang sehingga lansia dapat lebih mudah tertidur (Nursalam, 2007).

2.3.6 Musik instrumental

Instrumental adalah memainkan musik tanpa syair. (Hendro, 2005). Musik instrumental adalah musik yang memiliki media atau sarana utama berupa bunyi-bunyian dari alat musik, baik alat musik tunggal maupun berbagai alat musik yang dikomposisikan sedemikian rupa sehingga menghasilakn karya seni musik yang menawan.

Menurut Kate dan Richard Mucci (2008), seseorang harus menemukan nada yang bisa menstimulasi bagian tubuh yang kurang sehat. Biarkan tubuh menyerap getaran tersebut ketika seseorang memusatkan perhatian pada gelombang suara yang memasuki bagian tubuhnya. Seseorang dianjurkan untuk mencoba beberapa nada dan secara intuitif akan dapat merasakan nada seperti apa yang dapat membantu. Seseorang juga diminta untuk memainkan suatu alat musik untuk membunyikan rangkaian nada tersebut selama dua puluh satu menit setiap periodenya.

Jenis musik instrumental ada berbagai macam seperti musik klasik, jazz, perkusi, rock dan musik tradisional. Diantara semua jenis musik instrumental tersebut, jenis musik yang dapat digunakan sebagai intervensi relaksasi seseorang adalah musik klasik.

1) Jenis Suara Instrumen Musik

Memahami jenis suara/kesan suara yang dihasilkan oleh instrumen musik dibutuhkan kepekaan rasa. Menurut jenisnya suara instrumen musik dibedakan menjadi :

1. Instrumen bersuara Tunggal (Ritmik)

Instrumen musik yang bunyinya tidak bernada/tidak menghasilkan nada

Contoh : Marawis, snar drum dll

2. Instrumen bersuara majemuk (Melodik)

Instrumen musik yang bunyinya menghasilkan nada Contoh: gitar, piano, biola dsb.

2) Macam – macam instrumen musik menurut sumber bunyi

Dalam memainkan alat musik diperlukan pengetahuan yang memadai, bakat dan kreativitas pemain. Macam-macam instrumen musik menurut sumber bunyinya :

1. Idiofon

Bunyi yang dihasilkan dari badan instrumen tersebut. Contoh :triangle, castanyet, gong

2. Membranofon

Bunyi yang dihasilkan dari membran/selaput yang ditegangkan. Contoh:, gendang, marawis, drum dan sebagainya.

3. Kardofon

Bunyi yang dihasilkan dari dawai/snar yang ditegangkan. contoh, gitar, biola, cello dan sebagainya.

4. Aerofon

Bunyi yang dihasilkan oleh udara/satuan udara dalam instrumen tsb. Contoh: seruling.

5. Elektrofon

Instrumen musik yang bunyinya dibantu dengan rangkaian elektronik dan menggunakan daya listrik.

Contoh: gitar listrik, keyboard dsb. 3) Musik klasik

Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengarah pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21 (Oxford, 2007).

Musik klasik mempunyai fungsi menenangkan pikiran dan katarsis emosi, serta dapat mengoptimalkan tempo, ritme, melodi, dan harmoni yang teratur dan dapat menghasilkan gelombang alfa serta gelombang beta dalam gendang telinga sehingga memberikan ketenangan yang membuat otak siap menerima masukan baru, efek rileks, dan menidurkan (Nurseha dan Djaafar, 2002). Selain itu musik klasik berfungsi mengatur hormon-hormon yang berhubungan dengan stres antara lain ACTH, prolaktin, dan hormon pertumbuhan serta dapat meningkatkan kadar endorfin sehingga dapat mengurangi nyeri juga kecemasan. (Champbell, 2001).

2.4 Sugesti

Dokumen terkait