BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Diabetes Melitus
2.2.5 Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Diabetes melitus jika tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya berbagi penyulit menahun, seperti penyakit serobro vaskuler, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, ginjal dan saraf. Jika kadar glukosa dapat selalu dikendalikan maka penyakit menahun dapat dicegah atau dihambat. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha untuk memperbaiki kelainan metabolik yang terjadi pada diabetes (Waspadji et al., 2009).
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam penatalaksanaan DM menurut Perkeni (2006), yaitu :
a. Diet
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein, dan lemak yang sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut karbohidrat 45-60%, protein 10-12% dan lemak 20-25%. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur stres akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan idaman. Untuk kepentingan klinik praktis dan untuk penentuan jumlah kalori dengan menggunakan rumus Broca yaitu : BB idaman = (TB-100)-10%. Berat badan kurang :<90% BB idaman, Berat badan normal : 90-110% BB idaman, Berat badan lebih : 110-120 BB idaman, dan Gemuk : > 120% BB idaman.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi
dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%) serta 2-3
porsi (makanan ringan 10-15%). Pembagian porsi tersebut disesuaikan dengan
kebiasaan pasien untuk kepatuhan pengaturan makanan yang baik. Untuk pasien DM
yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit
penyertanya (Soegondo, et al., 2007). Kepatuhan jangka panjang terhadap
perencanaan makan merupakan salah satu aspek yang menimbulkan tantangan dalam
penatalaksanaan diabetes. Bagi pasien obesitas, tindakan membatasi kalori yang
moderat lebih realistis. Bagi pasien yang yang berat badannya sudah turun, upaya
untuk mempertahankan berat badan sering lebih sulit. Untuk membantu pasien ini
keikutsertakan kebiasaan diet yang baru dalam terapi perilaku, dukungan kelompok dan penyuluhan gizi yang berkelanjutan sangat dianjurkan (Smeltzer & Bare, 2002).
Pola hidup sehat pada penderita diabetes melitus perlu dijaga dalam (a) perencanaan makan dengan menjaga asupan makan yang seimbang yaitu diet diabetes melitus untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah komplikasi akut dan kronik dengan memperhatikan 3 J yaitu jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal makan yang harus diikuti dan jenis makanan yang harus diperhatikan, mengkonsumsi aneka ragam makanan agar terpenuhi kecukupan sumber zat tenaga (beras, jagung, tepung), zat pembangun (kacang-kacangan, tempe, tahu) dan zat pengatur (sayuran dan buah-buahan). Selain itu membatasi konsumsi lemak, minyak dan santan yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner (Soegondo, et al., 2009).
b. Olah raga
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko kardivaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga (Smeltzer & Bare, 2002).
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai CRIPE (continous, rhythmical, interval,
progressive, endurance training). Sedapat mungkin mencapai sasaran 75-85% denyut nadi maksimal, disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyertanya, olahraga yang disarankan adalah olah raga ringan seperti berjalan kaki biasa selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan cepat selama 20 menit dan olahraga berat misalnya jogging (Soegondo, et al., 2007).
c. Farmakologi
Pada diabetes tipe 1, tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin, dengan demikian insulin eksogenus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. Pada diabetes tipe 2, insulin diberikan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali per hari untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari, karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing pasien ditentukan oleh kadar glukosa dalam darah, maka pemantauan glukosa darah yang akurat sangat penting. Pemantauan mandiri kadar glukosa darah telah menjadi dasar dalam memberikan terapi insulin.
d. Perawatan Kaki
Masalah kaki pada penderita diabetes melitus merupakan salah satu komplikasi
yang sering terjadi pada penderita diabetes, kaki diabetes yang tidak dirawat dengan
menyebabkan ganggren dan amputasi. Dari semua amputasi tungkai bawah, 40-70% berkaitan dengan perawatan kaki pada penderita diabetes (Waspadji, et al, 2007).
Menurut Soegondo, et al., (2009) bahwa perawatan kaki yang perlu dilakukan pada penderita diabetes melitus, terdiri dari pemeriksaan kaki sehari-hari dan perawatan kaki sesehari-hari-sehari-hari, yaitu
1) Pemeriksaan kaki sehari-hari yakni periksa bagian atas atau punggung, telapak, sisi-sisi kaki dan sela-sela jari. Untuk melihat telapak kaki, tekuk kaki (bila sulit, gunakan cermin atau minta bantuan orang lain untuk melihat bagian bawah kaki) dan untuk memeriksa kaki yaitu periksa ada kulit retak atau melepuh dan periksa ada luka dan tanda infeksi seperti bengkak, kemerahan, hangat, nyeri, darah atau cairan lain yang keluar dari darah. 2) Perawatan kaki sehari-hari yakni (1). Bersihkan kaki setiap hari pada waktu
mandi dengan air bersih dan sabun mandi, bila perlu gosok kaki dengan sikat
lembut dan bersih, terutama sela jari kaki ketiga-keempat dan keempat-kelima;
(2). Berikan pelembab pada daerah kaki yang kering agar kulit tidak menjadi
retak, tetapi jangan berikan pelembab pada sela-sela jari, karena akan menjadi
lembab dan menimbulkan tumbuhnya jamur; (4). Gunting kuku kaki mengikuti
bentuk normal jari kaki, tidak terlalu pendek atau dekat dengan kulit, kemudian
kikir kuku agar tidak tajam. Bila kuku keras dan sulit dipotong, maka rendam
kaki dengan air hangat (37º) selama 5 menit, bersihkan dengan sikat kuku.
Bersihkan kuku setiap hari pada waktu mandi; (5). Gunakan sepatu atau sandal
karena dapat menyebabkan luka disela jari pertama dan kedua. Syarat sepatu untuk kaki penderita diabetes adalah ukuran sepatu lebih dalam, panjang sepatu ½ inchi lebih panjang dari jari-jari kaki terpanjang saat berdiri, ujung sepatu lebih lebar, tinggi tumit kurang dari 2 inchi, bagian bawah sepatu tidak kasar dan licin, terbuat dari bahan karet dan ruang dalam sepatu longgar, sesuai bentuk kaki; (6). Periksa sepatu sebelum dipakai, ada kerikil atau benda-benda tajam seperti jarum atau duri. Lepas sepatu setiap 4-6 jam, serta gerakan pergelangan dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah tetap baik terutama pada pemakaian sepatu baru.
e. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)
Pemantauan kendali glikemik pada penderita diabetes merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan DM. hasil pemantauan digunakan untuk menilai manfaat pengobatan dan sebagai penyesuaian diet, olah raga, dan obat-obatan untuk mencapai kadar glukosa darah senormal mungkin, terhindar dari keadaan hiperglikemia dan hipoglikemia (Waspadji, et al., 2007).
Pemantauan glukosa darah mandiri saat ini telah dilakukan lebih dari 40% penderita diabetes, indikasi dilakukan PGDM pada kondisi (a). mencapai dan memelihara kendali glikemi; (b). mencegah dan mendeteksi hipoglikemia; (c). mencegah hiperglikemia berat; (d). menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup: memberikan informasi kepada penderita DM mengenai kendali glikemik, sehingga penderita dapat menyesuaikan diet dan pengobatan; (e). menentukan kebutuhan untuk memulai terapi insulin pada penderita DM (Soegondo, et al., 2009 ).
Memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi insulin. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi, tergantung pada terapi. Waktu yang dianjurkan adalah, pada saat sebelum makan, 2 jam setelah makan (menilai ekskursi maksimal glukosa), menjelang waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia), dan diantara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala), atau ketika mengalami gejala seperti
hypoglycemic (Perkeni, 2006).