TINJAUAN PUSTAKA A. Kanker Paru-paru
B. Mual – muntah 1.Definisi
4. Penatalaksanaan mual-muntah
a. Tujuan
Terapi mual- muntah digunakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian
mual- muntah selama atau sesudah proses kemoterapi. Selain itu terapi
mual- muntah juga bertujuan mengurangi muntah pada awal kemoterapi
sehingga dapat memberikan rasa nyaman pada pasien dan meningkatkan
keefektifan kemoterapi.
b. Sasaran
Pencegahan terbaik untuk mual- muntah adalah dengan mengendalikan
langsung dipusatnya. Pusat muntah beradapada dasar ventrikel otak, pusat
muntah tersebut akan menerima rangsang dari chemoreceptor trigge zone (CTZ) yang nantinya akan menyebabkan muntah. Antiemetik merupakan
obat yang diindikasikan untuk mencegah mual- muntah. Antiemetik
mengontrol mual- muntah yang bekerja dengan memblok sinyal pada otak
c. Strategi Farmakologi
Strategi farmakologi untuk mengatasi mual- muntah adalah dengan
memberikan obat antiemetik. Terdapat berbagai pilihan antiemetik dengan
dosis dan rute pemberian yang berbeda-beda. Faktor yang mendasari
pemilihan antiemetik meliputi penyebab terjadinya mual- muntah;
frekuensi, durasi, serta keparahan mual- muntah yang terjadi; kemampuan
pasien untuk menerima obat oral, rectal, injeksi, atau transdermal; serta
kualitas kerja dari antiemetik yang diberikan (DiPiro, 2005). Antiemetik
paling baik diberikan sebelum pasien menerima kemoterapi. Pemberian
antiemetik dapat dikombinasikan dua atau lebih obat (Anonim, 2006b).
Penatalaksanaan mual- muntah berdasarkan NCCN 2009 dan NCI 2006
sebagai berikut:
1) Mual- muntah kelas IV (tinggi)
a). Hari 1 : aprepitan 125 mg p.o, hari 2-3 80 mg p.o, dan
b). Hari 1 : dexamethasone 12 mg p.o atau i.v, hari 2-4, 80 mg p.o atau
i.v, dan antagonis 5HT3.
c). Lorazepam ± 0,5 – 2 p.o atau i.v atau sublingual setiap 4-6 jam pada hari 1 – 4.
Tabel III. Terapi antagonis 5-HT3 untuk mual- muntah kelas IV (salah satu)
Obat Dosis
Ondansetron 16-24 mg p.o atau 8-12 mg i.v
Granisetron 8 mg p.o atau 1 mg p.o bid atau
0,01 mg/kg (maks. 1 mg i.v)
Dolasetron 100 mg p.o atau 2,8 mg/kg i.v atau
100 mg i.v
2) Mual- muntah kelas III (sedang)
Tabel IV. Terapi untuk mual- muntah kelas III (sedang)
Hari 1 Hari 2-4
Aprepitan 125 mg p.o (untuk pasien tertentu)
Aprepitan 80 mg p.o untuk hari 2-3, apabila digunakan pada hari 1 ± dexamethasone 8 mg/i.v atau
Dexametasone 12 mg p.o atau i.v dan
Dexametasone 8 mg p.o/i.v atau 4 mg p.o/i.v bid atau
Antagonis 5-HT3
Palonosetron 0,25 mg i.v
Ondanosetron 16-24 mg p.o tau 8-12 mg i.v (maks. 32 mg)
Granisetron 1-2 mg p.o atau 1 mg p.o bid atau 0,01 mg/kg (maks. 1 mg) i.v
Dolasetron 100 mg p.o atau 1,8 mg/kg i.v atau 100 mg i.v dan
Antagonis 5-HT3
Ondanosetron 8 mg p.o id atau 16 mg p.o atau 8 mg i.v (maks. 32 mg) Granisetron 1-2 mg p.o atau 1 mg p.o bid atau 0,01 mg/kg (maks. 1 mg) i.v
Dolasetron 100 mg p.o atau 1,8 mg/kg i.v atau
± Lorazepam 0,5-2 mg p.o atau i.v atau sublingual setiap 4-6 jam
± Lorazepam 0,5-2 mg p.o atau i.v atau sublingual setiap 4-6 jam 100 mg i.v
3) Mual- muntah kelas II (rendah)
Diberikan sebelum kemoterapi dan diberikan sesuai jadwal kemoterapi.
a) Dexamethasone 12 mg p.o atau i.v
b)Proklorperazin 10 mg p.o atau i.v setiap 4-6 jam.
c) Metochlopramide 20-40 mg p.o setiap 4-6 jam 12 mg/kg i.v dengan
atau tanpa diphenhydramine.
4) Mual- muntah kelas I (minimal)
Tidak diberikan antiemetik profilaksis, namun apabila terjadi mual/
muntah maka sebagai akan digunakan terapi sama seperti terapi untuk
emesis kelas rendah.
Pencegahan mual- muntah juga perlu dilakukan disamping terapi yang telah
disebut di atas.
1) Pencegahan mual- muntah tipe akut
Terapi antiemetik diberikan sebelum kemoterapi kemudian diulang
dalam waktu 24 jam. Untuk mual- muntah kelas tinggi, sedang, rendah,
dan minimal seperti tertulis diatas.
Antiemetik profilaksis diberikan sebelum kemoterapi sesuai dengan
kelas obat antineoplastik penyebab mual- muntah (tinggi, sedang, rendah,
dan minimal). Antiemetik profilaksis diberikan sebelum kemoterapi.
Rekomendasi untuk antiemetik primer meliputi dosis obat.
Mual- muntah kelas IV (tinggi) akibat kelas obat alteramin, carmustine >
250 mg/m2, cisplatin 50 mg/m2 atau lebih, cyclophosphamide 1500
mg/m2, dacarbazine, mechlorethamine, prokarbazin (oral), streptozocin
atau kombinasi doxorubicin/epirubicin dengan cyclophosphamide.
Antiemetik untuk mual kelas tinggi meliputi dexamethasone dan
antagonis 5-HT3 dengan atau tanpa lorazepam.
Mual- muntah kelas III (sedang) pada hari pertama diberikan
dexamethasone dan antagonis 5-HT3 dengan atau tanpa lorazepam,
antrasiklin dan cyclophosphamide, serta untuk pasien yang menerima
carboplatin, cisplatin, doxorubicin, epirubicin, ifosfamide, irinotecan,
atau methotrexate.
Mual- muntah kelas II (ringan) diberikan regimen non 5-HT3 antagonis
seperti dexamethasone, prochlorperazine, atau metochlopamide dengan
atau tanpa lorazepam. Regimen untuk pasien berpotensi tinggi
mengalami mual- muntah diberikan aprepitan 125 mg hari 1 dan 80 mg
pada hari 2 dan 3 p.o.
2) Pencegahan mual- muntah tipe delayed
Pilihan terapi terbaik untuk mual- muntah tipe delayed adalah dengan terapi pencegahan. Untuk mual- muntah kelas IV (tinggi), terapi utama
yaitu dengan melanjutkan terapi profilaksis sebelumnya hingga 2-3 hari
setelah kemoterapi. Mual- muntah tipe delayed untuk akibat obat antineoplastik kelas sedang, pencegahannya tergantung pada antiemetik
yang digunakan sebelum kemoterapi, misalnya ondansetron hanya
digunakan pada hari pertama, diberikan dengan atau tanpa deksametason
atau lorazepam.
3) Pencegahan mual- muntah tipe breakthrough
a). Tidak mual- muntah : terapi dilakukan sesuai dengan regimen
Tabel V. Terapi antiemetik untuk mual- muntah tipe breakthrough
Obat Dosis dan aturan pakai
Prochlorperazine 25 mg supp setiap 12 jam atau 10
mg p.o/i.v setiap 4-6 jam atau 15 mg spansul p.o setiap 8-12 jam
Metochlopramide 20-40 mg p.o setiap 4-6 jam atau
1-2 mg/kg i.v setiap 3-4 jam ± diphenhydramine 20-50 mg p.o/i.v setiap 4-6 jam
Lorazepam 0,5-2 mg p.o setiap 4-6 jam
Ondansetron 16 mg p.o atau 8 mg i.v
Granisetron 1-2 mg p.o atau 1 mg p.o bid atau
0,01 mg/kg (maks. 1 mg) i.v
Dolasetron 100 mg p.o atau 1,8 mg/kg i.v
setiap 4-6 jam
Haloperidol 1-2 mg p.o setiap 4-6 jam atau 1-3
mg i.v setiap 4-6 jam
Dronabriol 5-10 mg p.o setiap 3-6 jam
Nabilon 1-2 mg p.o bid
Dexametasone 12 mg p.o/i.v (hanya bila perlu)
Olanzapine 2,5-5 mg p.o bid
Prometazin 12,5-25 mg p.o/i.v setiap 4 jam
Apabila mual- muntah bisa teratasi, lanjutkan terapi untuk breakthrough emesis. Apabila mual- muntah tidak teratasi maka lanjutkan terapi antiemetik dengan level yang lebih tinggi.
4) Pencegahan mual- muntah tipe anticipatory
Terapi pencegahan bisa menggunakan antiemetik secara optimal setiap
kali sebelum kemoterapi. Terapi behavioral dengan relaksasi, hypnosis,
terapi musik, akupuntur/akupresur. Pemberian antiemetik dengan
alprazolam 0,5-2 mg p.o malam hari sebelum terapi diberikan serta
lorazepam pada malam sebelum dan pada pagi saat kemoterapi
d. Strategi non-farmakologis
Terapi non- farmakologis yang diberikan untuk mual- muntah dengan
pengaturan makanan, tindakan serta secara psikologis. Terapi tersebut
antara lain :
1) Minum cairan sepanjang hari seperti air dan jus, penting untuk
mengganti cairan yang hilang untuk menghindari dehidrasi.
2) Makan makanan dalam jumlah kecil sepanjang hari.
3) Hindari santapan berat, berlemak tinggi, dan berminyak tepat sebelum
kemoterapi.
4) Jangan rebah datar selama paling sedikit 2 jam setelah makan, istirahat
dengan duduk atau bersandar dengan kepala diangkat.
5) Jika muntah, berhentilah makan, apabila muntah sudah berhenti,
mulailah lagi makan dengan perlahan- lahan.
6) Hindari kafein (kopi, teh) dan merokok (Sati, 2007).