• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCAPAIAN PRIORITAS PENDIDIKAN

Dalam dokumen 01 Evaluasi RPJMD Kab Tegal 2012 (Halaman 38-46)

SASARAN

SATU AN

TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI

URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

SDH TERCA PAI AKAN TERC APAI PERLU USAHA KERAS Tumbuhnya budaya Litbang masyarakat a. Jumlah kelompok/lembaga Litbang masyarakat Kelom pok

2 3 4 5 6 N/A N/A N/A b. Jumlah hasil kajian

masyarakat yang terpublikasikan

Paket 5 5 5 5 5 N/A N/A N/A c. Partisipasi masyarakat

dalam kreanova

Thema 25 25 25 25 25 40 33 45

Sasaran “tumbuhnya budaya litbang masyarakat” terdiri dari 3 indikator kinerja. Dari 3 indikator, hanya ada 1 indikator yang dapat diukur kinerjanya. Dua indikator yaitu jumlah kelompok/lembaga litbang masyarakat dan jumlah hasil kajian masyarakat yang terpublikasikan tidak terukur karena tidak ada data yang tersedia. Pada dasarnya, kedua indikator tersebut telah berjalan di masyarakat; hanya saja tidak ada data yang valid yang dapat meng-cover indikator bersangkutan. Diperlukan

usaha yang keras untuk menggali basis data mengenai kelompok litbang di masyarakat dan hasil kajian masyarakat yang terpublikasikan.

Sementara, partisipasi masyarakat dalam kreanova selalu melebihi target kinerja, meskipun sempat turun pada tahun 2011. Kreanova merupakan kegiatan resmi tahunan di Bappeda Kabupaten Tegal yang berusaha untuk menghimpun kreasi dan inovasi yang ada pada masyarakat (melalui lomba kreanova) dan

35

mengaplikasikannya. Peminat lomba kreanova relatif tinggi pada tiap tahun pelaksanaan, dan hal ini harus dipertahankan dan jika

memungkinkan dapat ditingkatkan.

SASARAN

SATU AN

TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI

URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

SDH TERCA PAI AKAN TERC APAI PERLU USAHA KERAS Tercapainya kualitas pendidikan

a. Angka melek huruf % 94,60 95,20 95,80 96,30 96,90 94,60 95,53 95,68 b. Angka rata-rata lama

sekolah

Tahun 6,61 6,70 6,80 6,90 7,00 6,61 6,73 6,84 c. Angka partisipasi murni %

SD/MI 98,8 99,4 99,8 100 100 98,8 97,12 97,43 SMP/MTs 56,12 56,93 58,73 59,01 60,68 76,12 76,92 78,12 SMA/MA/SMK 49 50,3 51,6 52,9 54,2 49,23 50,22 53,16 d. Angka partisipasi kasar %

SD/MI 109,43 109,75 110,19 110,73 111,39 109,20 107,90 109,71 SMP/MTs 97,2 97,91 98,91 99,05 100 97,25 97,51 97,86 SMA/MA/SMK 59,77 60,82 60,77 61,82 61,77 59,79 60,11 60,54 e. Angka partisipasi sekolah

dasar

92,7 94,74 96,74 98,74 100 98,36 98,39 98,42 f. Jumlah perpustakaan Unit

Jml perpustakaan daerah 1 1 2 2 3 1 1 1 Jml perpustakaan khusus (SKPD) 15 24 33 42 51 9 9 9 Jml perustakaan tempat ibadah 13 16 19 22 25 4 5 5 Jml perpustakaan desa/kel. 30 48 66 84 102 11 28 34 Jml Perpustakaan Keliling 2 3 4 4 4 1 1 1

36

SASARAN

SATU AN

TARGET KINERJA REALISASI PREDIKSI

URAIAN INDIKATOR KINERJA 2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

SDH TERCA PAI AKAN TERC APAI PERLU USAHA KERAS Perpustakaan Silang Terpadu 6 11 16 21 26 1 1 1 Jml perpustakaan sekolah 414 414 414 Jml perpustakaan perguruan tinggi 6 6 6 6 6 3 3 3 g. Pustakawan 1 1 3 7 15 5 5 5 h. Anggota Perpustakaan 5.971 6.271 6.871 7.471 7.571 8.271 6.519 6.785 7.186 i. Jumlah pengunjung

perpustakaan per hari

Orang (200)

200 250 500 600 700 50 20 33 Jumlah pengunjung

perpustakaan keliling per hari

100 225 375 500 500 525 8 11 12

Sasaran “tercapainya kualitas pendidikan” terdiri dari 9 indikator kinerja. Sumber data dari kesembilan indikator kinerja tersebut adalah Dinas Dikpora (indikator a-e) dan Kantor Perpusarda (indikator f-i). Secara umum, penentuan indikator kinerja akan lebih baik jika memasukkan indikator kesetaraan gender dalam pendidikan. Pada lingkup nasional hal ini sudah diakomodir, sedangkan pada RPJMD Kabupaten Tegal 2009-2014 belum dimasukkan sebagai salahsatu indikator kinerja.

Data yang bersumber dari DInas Dikpora adalah data yang dihimpun dari Laporan Individu Sekolah yang dikompilasi oleh UPTD Kecamatan. Beberapa data memiliki perbedaan dengan

data BPS; hal ini karena laporan Dinas Dikpora bersifat real time dan tidak menggunakan sampel (sedangkan BPS menggunakan sampel). Di satu sisi, hal ini akan meningkatkan validitas data untuk memotret kondisi eksisting yang ada; sedangkan di sisi lain data yang diperoleh akan menjadi tidak bemanfaat (bahkan dapat menimbulkan misinterpretasi) jika kompetensi pengambil data diragukan.

Kinerja Pemerintah Kabupaten Tegal tentang angka melek huruf (AMH) pada tahun 2012 tidak memenuhi target meskipun kinerja pada tahun 2010 dan 2011 telah berhasil memenuhi target. Hal ini mayoritas disebabkan oleh adanya beberapa orang

37

yang dulunya menjadi target pemberantasan buta huruf (dan akhirnya berhasil melek huruf), tetapi kemudian menjadi buta huruf lagi. Kondisi ini kebanyakan terjadi pada orang lanjut usia – yang jarang mempergunakan kemampuan baca-tulis— sehingga menjadi lupa untuk menggunakannya lagi. Untuk mengatasi masalah buta huruf di Kabupaten Tegal, telah dilakukan beberapa usaha yaitu kejar paket (pendidikan setara SD, SMP, dan SMA), gerakan desa tuntas buta aksara yang melibatkan tokoh agama, kerjasama dengan perguruan tinggi dalam bentuk KKN Tematik, pemberdayaan taman baca masyarakat yang dikelola oleh masyarakat, dan optimalisasi fungsi perpustakaan daerah yang dikelola oleh pemerintah. Di sisi lain, dibutuhkan juga kegiatan penyuluhan keaksaraan fungsional. Jika pemberantasan buta huruf hanya menyasar masyarakat yang belum bisa baca-tulis, maka penyuluhan keaksaraan fungsional mendidik masyarakat untuk memahami simbol-simbol dan tanda-tanda yang mengatur ketertiban masyarakat; sebagai contoh adalah ketika ada lampu lalulintas berwarna merah, maka tidak boleh menyerobot.

Berkenaan dengan indikator angka rata-rata lama sekolah, terdapat perbedaan standar perhitungan antara BPS dengan Dinas Dikpora. Metode perhitungan menurut BPS adalah “rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan formal yang pernah dijalani”, dan angka rata-rata lama sekolah pada tahun 2012 adalah 6,6. Sementara, perhitungan berdasar Dinas Dikpora adalah “jumlah anak yang mampu menyelesaikan pendidikan dari kelas 1 hingga kelas 5 SD / jumlah anak yang

bersekolah dari kelas 1 SD”. Penghitungan dilakukan dengan mempergunakan metode Cohort. Angka yang didapat merupakan rasio; minimal 0 dan maksimal 10. Pada dasarnya, indeks ini adalah indeks bertahan (dan bukan angka rata-rata lama sekolah), tetapi perhitungan di Dinas Dikpora hanya mengenal indeks yang bersangkutan sehingga digunakan untuk mengukur capaian kinerja rata-rata lama sekolah.

Beberapa sebab putus sekolah adalah masalah ekonomi (membantu orangtua bekerja), akses sekolah yang sulit dicapai, pola pikir orangtua yang menganggap bahwa setelah anaknya bisa baca tulis maka sudah cukup masa bersekolahnya, dan malas bersekolah. Untuk meningkatkan angka lama sekolah, telah dilakukan beberapa program diantaranya adalah beasiswa prestasi, beasiswa miskin, bantuan dana BOS (seragam, sepatu, dan transportasi), dan pendekatan sosial (merubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya sekolah).

Beberapa pertanyaan yang muncul mengenai capaian kinerja rata-rata lama sekolah versi Dinas Dikpora (yaitu angka bertahan) adalah komponen penghitungan; kenapa hanya menghitung lama sekolah antara kelas 1-5 SD, sedangkan program nasional adalah wajar dikdas 9 tahun. Secara logika, perhitungan angka bertahan seharusnya dilakukan antara kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP. Berdasarkan penjelasan dari DInas Dikpora, standar penghitungan (yang hanya 5 tahun) adalah standar yang sudah ditetapkan dari Pusat, dan semua Kabupaten/Kota hanya mengikuti ketentuan yang ada. Indikator ini merupakan salahsatu indikator MDGs di bidang pendidikan yang dikenal dengan nama “survival rate” (Kemendiknas

38

menggunakan nama “angka bertahan”) kelas 5, dan digunakan untuk mengukur keberhasilan sistem pendidikan yang dapat mengantar murid naik dari satu kelas ke kelas berikutnya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pada dasarnya “angka rata-rata lama sekolah” dan “angka bertahan” adalah dua indikator yang berbeda, yang pada dasarnya dapat saling melengkapi. Hanya saja, terdapat miskomunikasi sehingga Dinas Dikpora menggunakan “angka bertahan” sebagai pengisi data “angka rata-rata lama sekolah”. Hal ini karena publikasi data resmi yang dimiliki Dinas Dikpora adalah “angka bertahan”, sedangkan “angka rata-rata lama sekolah” dipublikasikan oleh BPS.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah jika demikian standar yang ditentukan oleh Pusat, apakah pengukuran indikator bisa diperpanjang dari 5 tahun menjadi 10 tahun untuk mengakomodir wajar dikdas 9 tahun. Seharusnya hal ini dapat dilakukan, karena data yang dipakai untuk melakukan perhitungan adalah data yang bersumber dari Laporan Individu Sekolah. Penjelasan lanjut yang diberikan Dinas Dikpora adalah hal itu membutuhkan tambahan dana, sehingga sulit untuk dilaksanakan.

Indikator selanjutnya, angka partisipasi murni (APM), dianggap tidak perlu masuk dalam indikator kinerja karena lebih cocok ketika digunakan sebagai potret kondisi eksisting, tetapi kurang tepat jika digunakan sebagai penilaian kinerja. Nilai APM bisa bias karena ada anak sebelum umur minimal yang sudah masuk sekolah, ada anak setelah umur maksimal yang masih bersekolah, dan ada anak yang pindah sekolah dari daerah satu ke daerah

lain. Hal ini menjadi polemik karena berdasarkan BPS, APM justru dianggap sebagai indikator yang lebih baik daripada APK karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa APM juga merupakan indikator kinerja dalam pemenuhan target MDGs, maka sebaiknya APM tetap digunakan sebagai indikator kinerja dalam evaluasi RPJMD Kabupaten Tegal.

Selanjutnya, angka partisipasi kasar (APK) dirasa lebih dapat dipakai sebagai instrumen penilaian kinerja. Angka mengulang dan angka putus sekolah juga dapat dipakai sebagai indikator. Target APK untuk SD minimal 100, sedangkan SMP minimal 95. Kondisi suatu daerah dianggap wajar apabila APM < angka partisipasi sekolah < APK.

Sementara itu, indikator kinerja f – i merupakan indikator yang ada pada Kantor Perpusarda. Dalam penentuan indikator, jumlah taman bacaan masyarakat (TBM) juga dapat dimasukkan dalam indeks pengukuran kinerja, selain jumlah perpusda. Secara umum, jumlah perpustakaan di Kabupaten Tegal masih belum memenuhi target dan cenderung stagnan. Tren yang cukup bagus hanya ada pada jumlah perpustakaan desa/perpustakaan keliling, meskipun belum memenuhi target kinerja. Akan diperlukan upaya yang sangat keras untuk mencapai target yang telah ditentukan.

Di sisi lain, perpusda terus berusaha untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Salahsatu caranya adalah penyediaan katalog elektronik untuk memudahkan pencarian

39

buku dan melihat status peminjaman buku. Sayangnya, jumlah pustakawan yang ada di perpusda masih sangat kurang. Dari kebutuhan minimal 7 pustakawan, hanya ada 5 pustakawan. Sarana prasarana penunjang perpusda juga dirasa masih belum memenuhi kebutuhan. Komputer sirkulasi hanya ada 3 buah (dari minimal 5 buah), komputer yang terhubung dengan jaringan internet hanya ada 3 buah (dari seharusnya minimal 9 buah), dan AC belum terpasang di semua ruangan layanan (ruang baca dewasa, ruang baca anak, ruang referensi, ruang koran/majalah, ruang internet). Kekurangan lain adalah perpusling dan perpusda memiliki koleksi buku yang fixed (satu sama lain tidak berhubungan); seharusnya koleksi buku dapat fleksibel sehingga jika ada masyarakat yang memesan buku tertentu bisa diantarkan lewat perpusling.

Terkait jumlah mobil yang digunakan untuk perpusling, jumlah yang ada sangat kurang (hanya ada 2 buah); dan itupun mobil kecil yang tidak dapat menampung buku dalam jumlah banyak. Karena satu dan lain hal, mobil perpusling terkadang tidak dapat berkeliling menuju desa; hal yang membuat Kades marah karena sudah mengundang masyarakat untuk datang tetapi ternyata perpusling justru tidak datang. Minat baca masyarakat untuk membaca di perpusling cukup baik, dan buku yang menjadi favorit adalah buku tentang pertanian.

Ditinjau dari segi jumlah, perpusda yang hanya ada satu buah dan berada di Slawi sangat tidak mendukung bagi masyarakat yang tempat tinggalnya jauh untuk datang. Solusi yang mungkin dilakukan adalah membangun perpustakaan baru; juga dapat dengan menitipkan pesanan buku di perpusling (dan perlu

penambahan mobil perpusling). Selain itu, lokasi perpusda yang berada di jalur regional berbahaya bagi anak kecil. Pengunjung anak SD turun drastis setelah perpusda pindah di lokasi yang baru. Sebagai perbandingan, Kota Tegal bahkan memindahkan lokasi perpusda dari pantura ke sebelah selatan alun-alun Kota Tegal. Alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah memfungsikan jalingkos sehingga arus regional dapat dialihkan (merupakan solusi jangka panjang), dan membangun jembatan (atau sarana lain) penyeberangan. Jika memungkinkan, waktu pelayanan perpusda akan lebih baik apabila diperpanjang hingga malam hari.

Ditilik dari jumlah koleksi buku, perpusda relatif hanya memiliki sedikit koleksi dan perlu ditambah. Setiap tahun ada kegiatan penambahan buku untuk perpusda, tetapi hal ini sebaiknya tidak dijadikan sebagai satu-satunya sumber penambahan buku. Alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah dengan membuka konter-konter penyumbangan buku atau “pemaksaan” bagi pegawai yang mendapat kenaikan pangkat dan guru yang mendapat sertifikasi untuk menyumbangkan buku; cukup 2 buku saja bagi tiap persona. Hal ini dapat dikoordinasikan dengan BKD untuk legalisasi kegiatan (yang berarti bahwa kegiatan ini dapat dilaksanakan dan tidak melanggar peraturan); Kantor Perpusarda seharusnya dapat melakukan inisiasi hal tersebut.

Beberapa usulan indeks tambahan yang dapat digunakan sebagai indikator capaian kinerja di bidang pendidikan adalah nilai UN, tingkat pendidikan guru, dan kualitas sarana prasarana pendidikan. Sebagai tambahan, perangkingan sekolah berdasar metode yang dipakai saat ini dianggap kurang tepat karena

40

hanya dilakukan dengan melihat nilai akhir siswa. Penilaian seharusnya dilihat dari input dan output sekolah, yaitu berapa nilai siswa sebelum masuk dan berapa nilai siswa ketika lulus. Roadmap pengembangan perpusda juga menjadi suatu hal yang mendesak untuk dilakukan. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah menjadikan perpusda sebagai tempat yang nyaman untuk membaca dan lokasi favorit untuk beraktivitas. Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan adalah penambahan playground, kafe, dan koleksi buku sesuai request masyarakat.

2.2.3. PERMASALAHAN

Beberapa permasalahan yang ada terkait prioritas Pendidikan adalah:

1. Beberapa Indikator Kinerja perlu ditambahkan untuk mengakomodir Indikator Kinerja nasional.

2. Ada Indikator Kinerja yang dapat ditambahkan sebagai standar penilaian kinerja. Indikator lain yang seharusnya dimasukkan adalah SPM Bidang Pendidikan.

3. Ada standar penghitungan yang berbeda antara Dinas Dikpora dengan BPS, yaitu angka rata-rata lama sekolah. Angka rata-rata lama sekolah yang seharusnya dipakai adalah angka yang dipublikasikan oleh BPS.

4. Penghitungan angka lama bertahan di DInas Dikpora (yang digunakan sebagai pengganti angka lama sekolah) hanya dilakukan untuk menghitung indeks selama 5 tahun; idealnya dihitung selama 9 tahun sesuai dengan program wajar dikdas 9 tahun.

5. Tidak adanya roadmap pengembangan perpusda yang menyebabkan tingkat pelayanan perpusda kurang optimal. Absennya roadmap menjadikan perencanaan pengembangan perpusda kurang berkelanjutan dan bersifat sepotong-sepotong.

6. Koleksi buku perpusda dan perpusling yang terpisah dan tidak fleksibel.

7. Lokasi perpusda yang berada pada jalur regional rawan bagi anak kecil yang ingin mengunjungi perpusda.

2.2.4. RENCANA TINDAK LANJUT

Terkait kondisi eksisting dan permasalahan yang ada, perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut :

1. Penambahan beberapa Indikator Kinerja yang berkaitan dengan penilaian kinerja di tingkat Pusat, misalnya keterwakilan gender; juga indikator lain yang dianggap perlu yaitu nilai UN, tingkat pendidikan guru, sarpras pendidikan, angka bertahan, dan SPM bidang Pendidikan di Kabupaten Tegal.

2. Perlu penjelasan indeks yang digunakan dalam penilaian kinerja, yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh indeks dimaksud agar tidak ada kebingungan dalam mengisikan capaian kinerja.

3. Perlu dilakukan penghitungan angka lama bertahan selama 9 tahun (diperpanjang dari penghitungan metode lama yang hanya 5 tahun).

41

4. Perlu adanya usaha yang keras untuk meningkatkan angka lama sekolah, diantaranya dengan meng-cover opportunity

cost dan pemudahan akses menuju sekolah.

5. Perlu adanya crosscheck data dan standar penilaian Indikator Kinerja dengan Dinas Dikpora untuk memastikan validitas data.

6. Penyusunan roadmap pengembangan perpusda.

7. Penyatuan koleksi buku perpusda dan perpusling sehingga lebih fleksibel dalam tingkat pelayanan.

8. Penambahan SDM pustakawan sesuai kebutuhan yang ada.

42

BAB II.3. PRIORITAS 3

Dalam dokumen 01 Evaluasi RPJMD Kab Tegal 2012 (Halaman 38-46)

Dokumen terkait