• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Pencatatan Kependudukan

3. Pencatatan Kelahiran

Pencatatan kelahiran adalah pencatatan peristiwa penting tentang kelahiran yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana.

Anak merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Anak adalah aset bangsa, masa depan bangsa dan negara.

Negara juga mempunyai kewajiban dalam memperhatikan dan menjamin nasib seorang anak. Salah satu perhatian dan jaminan sebuah negara pada seorang anak adalah dengan kepemilikan akta kelahiran. Dalam Pasal 27 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anakmenerangkan bahwa :

1. Identitas diri setiap anak harus diberikan sejak kelahirannya.

2. Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam akta kelahiran.

3. Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membant proses kelahiran.

4. Dalam hal anak proses kelahirannya tidak diketahui, dan orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akta kelahiran anak tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukannya.

Dari ketentan diatas, maka dapat diketahui bahwa negara berkewajiban untuk melindungi dan memulihkan jati diri seseorang (nama, kewarganegaraan, dan ikatan keluarga) (Maidin, 2014: 103).

Pencatatan kelahiran anak merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tuanya, karna berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang No.23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.

24 Tahun 2013 diterangkan bahwa setiap penduduk wajib melaporkan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialaminya kepada Instansi Pelaksana dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Selanjutnya berdasarkan pasal 2 Peraturan Presiden No. 25 Tahun 2008 ditegaskan bahwa pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil bertujuan untuk memberikan keabsahan identitas dan kepastian hukum atas dokumen penduduk, perlindungan status hak sipil penduduk, dan mendapatkan data yang mutakhir, benar dan lengkap (Vivi, 2019: 4).

Dalam agama Islam anak adalah anugerah yang sangat mulia dansuci yang harus disyukuri kehadirannya dalam keluarga, Diantara rasa syukuradalah memperhatikan hak-hak anak diantara hak anak untuk memperoleh pengakuan sejak kelahirannya dengan cara mendaftarkan kelahiran anak diPendaftaran Kependudukan dan Catatan Sipil dalam bentuk Akta Kelahiran.

Akta merupakan dokumen negara yang sangat penting, karena dalam setiap peristiwa penting seperti kelahiran, kamatian, perkawinan, dan perceraian dengan adanya sebuah akta dapat membawa akibat hukum bagi kehidupan yang bersangkutan ataupun orang lain. Dengan adanya akta akan membawa kejelasan dan kepastian sesuatu hal secara mudah.

Akta kelahiran adalah tanda bukti yang berisi identitas diri anak yang wajib diberikan sejak kelahirannya,Akta kelahiran juga dapat membuktikan bahwa orang tersebut telahmencapai umur tertentu sebagaimana ditentukan oleh undang-undang agar iadapat melakukan suatu perbuatan hukum tertentu, misalnya Perkawinan. AktaKelahiran dapat pula dijadikan jati diri atau membuktikan dirinya, jati diri itudapat

diperoleh sebab suatu akta akan mencantumkan dengan jelas tentanghari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran serta ditegaskan pula nama orangtuanya yang melahirkan.

Menurut S,J. Fockema Andreae, dalam bukunya,

“Rechtsgeleerd Handwoordenboek”, kata akta itu berasal dari bahasa Latin “acta” yang berarti geschrift Atau surat ((Andreae, 1951: 9).

Sedangkan menurut R. Subekti dan Tjitrosoedibio dalam bukunya Kamus Hukum, bahwa kata “acta” merupakan bentuk jamak dari kata “actum” yang berasal dari bahasa Latin dan berarti perbuatan-perbuatan (Subekti.R, dan Tjitrosoedibjo,1980: 9)

Akta menurut Sudikno Mertokusumo adalah surat yang diberikan tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar dari pada suatu hak atau perikatan yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian (Mertokusumo, 2002: 106).

Sedangkan menurut A. Pitlo akta adalah surat-surat yang ditanda tangani dan dibuat untuk dipakai sebagai bukti yang bisa digunakan oleh seseorang untuk keperluan pembuat surat (A. Pitlo, 1978: 52).

Dari beberapa definisi diatas, maka sangat jelas jika tidak semua surat itu disebut dengan akta, melainkan surat-surat tertentu yang sudah memenuhi syarat yang bisa disebut dengan akta. Adapun syarat-syarat tersebut adalah:

d. Surat itu harus ditandatangani.

Pada pasal 1869 KUH Perdata telah diatur bahwa “suatu akta karena tidak berkuasa atau tidak cakapnya pegawai termasuk diatas atau karena suatu cacat dalam bentuknya tidak dapat diberlakukan sebagai akta autentik. Namun demikian mempunyai kekuatan sebagai tulisan dibawah tangan jika ditanda tangani oleh pihak”.

Dari bunyi pasal tersebut, jelas bahwa suatu surat untuk dapat disebut menjadi akta haruslah ditandatangani, dan jika ditandatangani oleh yang membuatnya maka surat tersebut bukanlah

akta. Akta haruslah ditandatangai oleh pejabat yang berwenang, dan sebuah tanda tangan jelas memiliki ciri sendiri dari setiap orangnya dan tidak mungkin sama dengan orang lain.

e. Surat itu harus memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hal atau perikatan.

Sesuai dengan kegunaannya suatu akta adalah sebagai alat pembuktian demi kepastian hukum setiap orang yang bersangkutan dengan akta tersebut. Maka jelas harus berisikan suatu keterangan yang dapat menjadi bukti yang dibutuhkan sepeti memuat tentang dasar dari suatu hak atau perikatan. Jika surat tidak memuat dasar dari suatu hak atau perikatan, maka surat tersebut tidak bisa disebut dengan akta.

f. Surat itu diturunkan sebagai alat bukti

Surat dapat disebut sebagai akta jika surat tersebut dibuat untuk dijadikan alat bukti. Karena tidak semua surat yang dibuat digunakan untuk alat bukti. Jika surat yang dibuat untuk dijadikan sebagai alat bukti tersebut walaupun hanya sehelai tetapi dapat menimbulkan keraguan (A. Pitlo, 1978: 53).

Akta kelahiran dicatat dan disimpan dikantor catatan sipil dan kependudukan. Akta kelahiran juga mempunyai arti penting bagi diri seorang anak, tentang kepastian hukum anak itu sendiri. untuk pelaporan kelahiran, diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang perubahan atas Undang-Undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependuduakan pasal 27 yang berisi bahwa : 1) Setiap kelahiran wajib dilaporkan oleh penduduk kepada instansi

pelasana setempat paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran.

2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pejabat pencatatan sipil mencatat pada register akta kelahiran dan menerbitkan akta kelahiran.

Dari penjelasan Undang-Undang No 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Pasal 27 akta kelahiran memiliki manfaat yang begitu besar karena dapat kita lihat hampir setiap urusan kita membutuhkan akta kelahiran. Namun tidak jarang masyarakat diluar sana yang enggan mengurusnya secara cepat.

Mereka sering menunda mengurusnya karena berbagai macam alasan. Padahal idealnya pembuatan akta kelahiran itu dilakukan dalam kurun waktu paling lambat 60 hari sejak hari pertama persalinan. Dengan demikian setiap kelahiran harus dilaporkan dengan cepat sehingga mendukung upaya pencacatan kependudukan secara akurat sebagaimana diamanahkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang perubahan atas Undang- Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi (Hertutik, 2018.)

Akta kelahiran pada dasarnya dapat dibedakan menjadi empat jenis (Mertokusumo, 2001: 42-43) yaitu:

e. Akta kelahiran umum

Akta kelahiran umum adalah akta kelahiran yang diterbitkan berdasarkan laporan kelahiran yang disampaikan dalam waktu yang ditentukan oleh perundang-undangan, yaitu 60 hari kerja sejak peristiwa kelahiran untuk semua golongan, kecuali golongan Eropa hanya selama 10 hari kerja.

f. Akta kelahiran istimewa

Akta kelahiran istimewa adalah akta kelahiran yang diterbitkan berdasarkan laporan kelahiran yang disampaikan setelah melewati batas waktu pelaporan yang ditentukan peraturan perundang-undangan. Adapun batasan waktu yang dilampaui adalah 60 hari kerja.

g. Akta kelahiran luar biasa

Akta kelahiran luar biasa adalah akta kelahiran yang diterbitkan oleh Kantor Catatan Sipil pada zaman revolusi antara1 Mei 1940 sampai dengan 31 Desember 1949 dan kelahiran tersebut tidak di wilayah hukum Kantor Catatan Sipil setempat.

h. Akta kelahiran tambahan

Akta kelahiran tambahan adalah akta kelahiran yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang terhadap orang yang lahir pada tanggal 1 Januari 1967 sampai dengan 31 Maret 1983, yang tunduk pada Stb.1920 No.751 jo.1927 No.564 dan Stb.1933 No. 75 jo. 1936 No. 607.

Adapun fungsi Akta Kelahiran yang dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil adalah (Henry S. Siswosoediro,2008: 15):

d) Menunjukkan hubungan hukum antara anak dan orang tuanya secara sah di depan hukum, karena didalam akta disebutkan nama bapak dan ibu dari anak tersebut.

e) Merupakan bukti kewarganegaraan dan identitas diri awal anak yang dilahirkan dan diakui oleh negara. Dengan adanyanya akta kelahiran ini, anak secara yuridis berhak mendapatkan perlindungan hak-hak kewarganegaraannya, seperti hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, hak atas pemukiman, dan hak atas perlindungan sosial.

Dalam proses pembangunan nasional akta kelahiran juga memiliki peranan yang sangat penting karena dapat memberikan manfaat bagi individu dan pemerintah adapun manfaat tersebut yaitu:

3) Pribadi/individu:

d) Menentukan status hukum seseorang.

e) Merupakan alat bukti yang paling kuat dimuka dan hadapan hakim.

f) Memberikan kepastian tentang peristiwa itu sendiri.

4) Pemerintah:

d) Meningkatkan tertib administrasi Negara.

e) Merupakan penunjang data bagi perencanaan pembangunan.

f) Pengawasan dan pengendalian.

Akta Kelahiran juga berfungsi sebagai legalitas tentang anak baik formal maupun material ini sangat penting untuk mencegah terjadinya pemalsuan identitas, kekerasan terhadap anak, perkawinandibawah umur, pekerja anak. Fungsi lainnya untuk kepastian umur untuk sekolah, paspor, Ktp, dan hak politik pada pemilu. Fungsi akta kelahiran untuk negara yaitu mengetahui data anak secara akurat di seluruh Indonesia untuk kepentingan perencanaan dan guna menyusun data statistik negara yang dapat menggambarkan demografi, kecenderungan dan karaktaristik penduduk serta arah perubahan sosial yang terjadi.

Dalam rangka mewujudkan kepastian hukum, maka semua akta-akta yang didaftar dan dikeluarkan oleh catatan sipil dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan tidak dapat dibantah oleh pihak ketiga. Karena akta yang dibuat oleh Lembaga Catatan Sipil bersifat mengikat terhadap mereka yang berkepentingan.

Dari semua fungsi di buatkannya akta lahir bagi anak di atas, semuanya bermuara untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anak. Kesejahteraan anak adalah suatu tata kehidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara rohani, jasmani maupun sosial (Darwan Prinst, 2003: 79).

Semua ini dilakukan juga sebagai upaya perlindungan anak. Menurut Maiden Gultom, perlindungan anak bermanfaat bagi anak dan orang tuanya serta pemerintah, oleh karena itu

koordinasi kerjasama perlindungan anak perlu diadakan dalam rangka mencegah ketidakseimbangan kegiatan perlindungan anak secara keseluruhan (Maidan Gultom, 1997: 53).

2. Prosedur Pencatatan Kelahiran

Persyaratan administrasi yang harus dipenuhi pemohon dalam pengurusan akta kelahiran adalah (Pasal 3 Permendagri No 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran):

a. Surat keterangan lahir dari dokter/bidan/penolong kelahiran;

b. Akta nikah/ kutipan akta perkawinan;

c. KK dimana penduduk akan didaftarkan sebagai anggota keluarga;

d. KTP-el orang tua/ wali/ pelapor; atau

e. Paspor bagi WNI bukan penduduk dan orang asing.

Bagi anak yang tidak diketahui asal usul atau keberadaan orang tuanya maka dilakukan dengan:

a. Melampirkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari Kepolisian;

atau

b. Menggunakan SPTJM kebenaran data kelahiran yang ditandatangani oleh wali/ penanggung jawab.

Pencatatan kelahiran bagi WNI yang bertempat tinggal diluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sedang berkunjung ke Indonesia harus memenuhi persyaratan (Pasal 33 ayat (4) Peraturan Presiden No 96 Tahun 2018 Tentang persyaratan dan tata cara pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil):

a. Surat keterangan kelahiran

b. Buku nikah/kutipan akata perkawinan atau bukti nikah/

perkawinan lainnya; dan

c. Dokumen perjalanan Republik Indonesia dan/atau Dokumen Perjalanan orang tua; atau

d. Surat pindah luar negeri.

Namun, apabila dalam hal persyaratan berupa surat keterangan lahir dari dokter/bidan/penolong kelahiran tidak terpenuhi, maka pemohon melampirkan SPTJM kebenaran data kelahiran. Dan jika dalam hal persyaratan berupa akta kelahiran tidak terpenuhi, maka pemohon melampirkan SPTJM kebenaran sebagai pasangan suami isteri. SPTJM yang dimaksud dalam hal ini adalah Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak yang dibuat oleh orang tua kandung/wali/pemohon dengan tanggung jawab penuh atas kebenaran data yang diberikan dengan ditandatangani oleh 2 orang saksi.

4. Dasar Hukum Pencatatan Kelahiran

Dasar hukum dalam Perundang-Undangan untuk melakukan pencatatan kelahiran ini adalah:

a. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

b. Undang-Undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

c. undang No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

e. Peraturan Presiden No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil.

f. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 19 Tahun 2010 tentang Formulir dan Buku yang Digunakan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil .

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran.

h. Peraturan Presiden No. 96 Tahun 2018 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

C. Penelitian yang Relevan

Peneliti H. Muhammad Amin Sayyad (2017), Studi Kritis Pemikiran Siti Musdah Mulia dan Khoiruddin Nasution Tentang Urgensi Pencatatan Nikah Masuk Dalam Rukun Nikah. Dalam skripsinya, ia membahas tentang bagaimana pemikiran, metode istinbat Siti Musdah dan Khoiruddin Nasution serta relevansinya pemikiran Siti Musdah dan Khoiruddin Nasution tentang urgensi Pencatatan Nikah masuk dalam rukun nikah. Hasil penelitiannya adalah bahwa Siti Musdah memandang Pencatatan Perkawinan masuk dalam rukun nikah karna banyak dampak dan mudorat yang timbul akibat pernikahan siri/bawah tangan. Khoiruddin Nasution memandang karna konteks pengakuan dan penjaminan pada zaman sekarang adalah Pencatatan Nikah.

Peneliti Muhammad Awaluddin (2018), berjudul Pencatatan Perkawinan Dalam Hukum Kekeluargaan Di Indonesia Dan Relevansinya Dengan Teori Mashlahah Al-Syatibi. Dalam skripsinya, ia membahas tentang tujuan dari Pencatatan Perkawinan dalam hukum nasional, dan bagaimana relevansinya dengan teori Al-Syatibi.Hasil penelitiannya adalah bahwa dalam hukum nasional, Pencatatan Perkawinan memiliki tujuan untuk mewujudkan ketertiban dalam perkawinan. Dan bahwa Pencatatan Perkawinan memiliki relevansi dengan teori Al-Syatibi yaitu terletak pada perlindungan hukum atas hak dan kewajiban suami istri.

Hasil penelitian adalah bahwa dalam pelayanan pencatatan kelahiran anak yang tidak diketahui asal-usulnya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lumajang ketika berdasarkan pasal 55 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 sudah tidak relevan dengan perlindungan anak. Pada Pasal 55 Undang- Undang No. 1 Tahun 1974 yang mewajibkan penetapan asal-usul anak oleh pengadilan, maka akan sedikit memperlambat proses anak tersebut dalam mendapakan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Dalam Permendagri No. 9 Tahun

2016 telah memberikan ruang lebih cepat bagi seorang anak yang tidak diketahui asal-sulnya untuk mendapatkan akta kelahiran sebagai salah satu alat bukti identitas baginya.

Peneliti Nela Asgari (2017), berjudul Kontroversi Pencatatan Perkawinan Perspektif Syekh Taqiyuddin An-Nabhani. Dalam skripsinya, ia membahas tentang kontroversi pendapat Syekh Taqiyuddin An-Nabhani terhadap undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Hasil penelitiannya adalah undang-undang No. 1 Tahun 1974 memberikan penegasan bahwa Pencatatan Perkawinan sangat urgen dalam sebuah perkawinan yang dilakukan.

Peneliti Adib Bahari (2010), berjudul Analisis Atas ketentuan Hukum Pencatatan Perkawinan Dalam Rancangan Undang-Undang Perkawinan Tahun 1973 Dan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dalam skripsinya, ia membahas tentang bagaimana ketentuan hukum dan dasar pemikiran ketentuan pencatatan perkawinan dan RUU Perkawinan Tahun 1973, UU No.1 Tahun 1974 serta pandangan hukum islam dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitiannya adalah bahwa Pencatatan Perkawinan Tahun 1974 sebagai ketentuan administratif belaka. Hal ini sangat berbeda dengan ketentuan dalam RUU Perkawinan Tahun 1973 yang secara tegas dan jelas dinyatakan sebagai syarat sah suatu perawinan. Sedangkan hukum Islam memandang bahwa Pencatatan Perkawinan merupakan ketentuan baru yang sejalan dengan hukum Islam.

Peneliti Marhayana (2017), berjudul Pendaftaran Akta Kelahiran Anak Hasil Nikah Tanpa Akta Nikah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 (Studi di Dinas Pendaftaran Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sinjai) . Dalam skripsinya, ia membahas tentang bagaimana pendaftaran serta kendala-kendala pendaftran Akta Kelahiran anak hasil nikah tanpa akta

nikah pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pendaftaran Akta Kelahiran anak hasil nikah tanpa Akta nikah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi N0.

46/PUUVIII/ 2010 yaitu dapat dilaksanakan dengan mudah dan nama Ayah yang tercantum sebagai orang tua pada Akta Kelahiran anak dengan syarat pasangan suami-istri tersebut dapat membuktikan perkawinannya secara sah dengan cara istbat nikah. (2) Kendala-kendala dalam Pendaftaran Akta Kelahiran Anak Hasil Nikah Tanpa Akta Nikah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010 yaitu: Rendahnya kesadaran masayarakat terhadap pentingnya administrasi kependudukan salah satunya akta kelahiran, lambatnya sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Maupun Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Sinjai, dan Kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesadaran hukum.

Peneliti Wayan Suditike (2018), berjudul Pelaksanaan Penerbitan Pencatatan Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Pada Kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampug. Dalam skripsinya, ia membahas tentang bagaimana pelaksanaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Pencatatan Kependudukan dan Pencatatan Sipil pada kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.

Dari keterangan di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pembahasan yang dibahas dalam skripsi ini berbeda dengan pembahasan penelitian yang relevan di atas. Dalam skripsi ini penulis membahas mengenai Urgensi Pencatatan Perkawinan Dan Relevansinya Dengan Pencatatan Kependudukan.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (library research)dengan pendekatan yuridis normatif, yaitu menganalisis urgensi Pencatatan Perkawinan dan relevansinya dengan Pencatatan Kependudukan.

B. Waktu Penelitian

Waktu penelitian skripsi ini direncanakan selama 3 (tiga) bulan mulai dari bulan November 2019 sampai Januari 2020, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.1 Waktu Penelitian

No Kegiatan Bulan 2019-2020

Nov Des Jan

1 Penyusunan proposal

2 Bimbingan proposal pra seminar 

3 Seminar proposal 

4 Melakukan penelitian

5 Menganalisis dan membuat hasil

penelitian

6 Bimbingan hasil penelitian

7 Sidang Munaqasah

C. Instrumen Penelitian

Instrumen atau alat dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu berupa undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan Pencatatan Perkawinan dan Pencatatan Kependudukan. Sebagai instrumen penelitian, peneliti akan menetapkan batasan penelitian, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas/keabsahan data, menganalisis data dan membuat kesimpulan.

62

D. Sumber Data

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data yang digunakan adalah:

1. Data Primer

Data Primer adalah dalam skripsi ini adalah yaitu Undang-Undang No. 16 tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.Peraturan Presiden No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil.Undang-Undang No. 22 Tahun 1946.Peraturan Menteri Agama No. 19 Tahun 2018 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam skripsi ini adalahbuku-buku, artikel dan jurnal yang berkaitan dengan Pencatatan Perkawinan dan Pencatatan Kependudukan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah kegiatan untuk mencari, mencatat dan menghimpun data yang relevan terkait dengan permasalahan yang peneliti teliti. Selain demikian, peneliti juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui dokumen, yaitu undang-undang danperaturan yang berkaitan dengan Pencatatan Perkawinan dan Pencatatan Kependudukan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh selama proses pengumpulan data.

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari pengumpulan data dan dokumen. Setelah ditelaah dan dipelajari secara mendalam, maka langkah selanjutnya adalah menyusun dan mengelompokkan sesuai dengan pembahasan untuk diolah menjadi data informasi, kemudian menarik kesimpulan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Urgensi Pencatatan Perkawinan

Pencatatan perkawinan adalah perbuatan administrasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang dilakukan oleh instansi yang berwenang (Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam dan Kantor Catatan Sipil bagi yang beragama non Islam) yang ditandai dengan penerbitan Akta Nikah atau Buku Nikah dan Kartu Nikah untuk kedua mempelai (Musarrofa, 2014: 28).

Dari pengertian di atas dapat kita pahami pentingnya Pencatatan Perkawinan tersebut, selain untuk mematuhi hukum perundang-undangan yang berlaku dan sebagai akibat hukum nya, akan memperoleh Akta Nikah.

Akta Nikah merupakan bukti tertulis keperdataan bahwa telah terjadi perkawinan yang sah secara hukum, tidak ada larangan perkawinan antara keduanya dan telah memenuhi syarat dan rukun perkawinan. Tanpa adanya bukti Akta Nikah, maka suatu perkawinan dianggap tidak pernah ada.

Suatu perkawinan yang dilakukan semata-mata memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) pada undang-undang perkawinan, maka perkawinannya diakui sebagai perkawinan yang sah menurut ajaran agama, tetapi tidak diakui sebagai perbuatan hukum yang mempunyai akibat hukum oleh negara. Oleh sebab itu, perkawinan semacam ini tidak mendapat pengakuan dan tidak dilindungi secara hukum. Kedua unsur pada ayat tersebut Pasal 2 undang-undang perkawinan berfungsi secara kumulatif, bukan alternatif.

Unsur pertama pada Pasal 2 ayat (1) undang-undang perkawinan berperan

Unsur pertama pada Pasal 2 ayat (1) undang-undang perkawinan berperan

Dokumen terkait