BAB II KAJIAN TEORI
3. Pencatatan Perkawinan Menurut Hukum Islam
Seperti diketahui dalam hukum Islam, perkawinan merupakan ikatan atau akad yang sangat kuat/kokoh (miitsaaqan gholiidhan), karena itu suami isteri diwajibkan untuk menjamin kelangsungan dan kelanggengan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Rukun perkawinan adalah segala hal yang harus terwujud dalam suatu perkawinan (Dalilah Candrawati, 2014: 37). Menurut Jumhur Ulama rukun perkawinan ada lima dan masing-masing rukun itu memiliki syarat-syarat tertentu. Adapun rukun beserta syarat-syaratnya yaitu :
a. Calon suami, syarat-syaratnya:
1) Beragama Islam 2) Laki-laki
3) Jelas orangnya
4) Dapat memberikan persetujuan 5) Tidak terdapat halangan perkawinan b. Calon istri, syarat-syaratnya:
1) Beragama Isam 2) Perempuan 3) Jelas orangnya
4) Dapat dimintai persetujuan
5) Tidak terdapat halangan perkawinan c. Wali nikah, syarat-syaratnya:
1) Laki-laki 2) Dewasa
3) Mempunyai hak perwalian
4) Tidak terdapat halangan perwaliannya.
d. Saksi nikah, syarat-syaratnya:
1) Minimal dua orang laki-laki 2) Hadir dalam ijab qabul 3) Dapat mengerti maksud akad 4) Islam
5) Dewasa
e. Ijab qabul, syarat-syaratnya:
1) Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
2) Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai
3) Memakai kata-kata nikah, tazwij atau terjemahan dari kedua kata tersebut.
4) Antara ijab dan qabul bersambungan.
5) Antara ijab dan qabul jelas maksudnya.
6) Orang yang terkait dengan ijab dan qabul tidak sedang ihram haji atau umrah.
7) Majlis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimum empat orang yaitu calon mempelai atau wakil mempelai, wali dari mempelai wanita dan dua orang saksi (Amir Nuruddin dan Akmal Tarigan, 2004: 63).
Perlunya dilakukan pencatatan perkawinan dalam al-Qur’an dapat dipahami dari Q.S al-Baqarah 2 ayat 282) yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil;
dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Ayat ini memang hanya memerintahkan untuk menuliskan transaksi bisnis, akan tetapi tujuan atau maqasid asy syari’ dari ayat ini adalah untuk menghindari terjadinya pengingkaran-pengingkaran oleh pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi dikemudian hari. Perkawinan memiliki kesamaan illat dengan transaksi bisnis sebagai sebuah transaksi yang juga menimbulkan hak dan kewajiban bagi yang terlibat (Musarrofa, 2014: 35).Mencatatkan perkawinan mengandung kemaslahatan dan kebaikan yang besar dalam kehidupan masyarakat.
Sebaliknya apabila perkawinantidak diatur secara jelas melalui peraturan perundangan dan tidak dicatatkan akandisalahgunakan oleh pihak-pihak yang melakukan perkawinan untuk kepentinganpribadi dan merugikan pihak lain, terutama isteri dan anak-anak. Penetapanhukum atas dasar kemaslahatan merupakan salah satu prinsip dalam
penetapanhukum Islam, sebagaimana disebutkan dalam qaidah :“tashorruful imam „alarro‟iyyahmanuthu bil-mashlahah”. Artinya:
Suatu tindakan pemerintah berintikanterjaminnya kepentingan dan kemaslahatan rakyatnya.
Cukup masuk akal bila dikatakan bahwa untuk transaksi bisnis saja Allah memerintahkan untuk menuliskan, apalagi untuk akad perkawinan yang bahkan Allah mengatakan sebagai perjanjian yang kuat atau misaqan ghalizan sebagaimana dalam Q.S. an-Nisa ayat 21 yang berbunyi:
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri.
dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.”
Kamal Mukhtar mengatakan bahwa mengqiyaskan akad nikah dengan akad mu’amalah dapat dikategorikan kedalam qiyas aula (qiyas yang utama) karena al-Qur’an sudah menyatakan bahwa akad nikah adalah perjanjian yang kuat. Jika dalam mu’amalah yang diakadkan adalah barang, dalam akad nikah yang diakadkan adalah diri sendiri yang diikat dengan orang lain. Akad perkawinan juga menimbulkan hak dan kewajiban yang lebih besar dan luas dari akad mu’amalah. Hak dan kewajiban yang timbul dari perkawinan tidak hanya antara suami dan istri, tetapi juga antara suami istri dengan anak-anaknya, cucu-cucunya juga dengan keluarganya. Tidak hanya saat suami istri hidup, tetapi juga saat suami istri itu meninggal dunia, seperti waris-mewarisi, hubungan kekerabatan, mahram, dan lain sebagainya (Musarrofa, 2014:
36).
Dalam fikih klasik juga sama sekali tidak menyinggung masalah pentingnya dilakukan pencatatan perkawinan untuk diwujudkan sebagai
syarat ataupun rukun perkawinan. Ketentuan ini luput dari perhatian ulama klasik dimungkinkan karena beberapa sebab berikut ini :
a. Adanya larangan dari Rasulullah untuk menuliskan sesuatu hal selain al-Qur’an karena khawatir akan tercampur dengan al-Qur’an.
Akibat dari ini budaya tulis menulis kurang begitu berkembang apabila dibandingkan dengan budaya menghafal.
b. Berkembangnya tradisi menghafal, maka menghafal peristiwa perkawinan dianggap sesuatu yang remeh karena sangat mudah dilakukan sehingga sama sekali tidak membutuhkan bantuan tulisan.
c. Tradisi walimatul ursy yang biasa dilakukan dianggap sebagai pengumuman nikah sekaligus penyaksian peristiwa pernikahan sehingga tidak perlu ditulis (Amir Nuruddin dan Akmal Tarigan, 2004: 121). Bukti otentik pada masa-masa awal kelahiran Islam memang belum terlalu dibutuhkan, akan tetapi adanya kewajiban untuk mengumumkan pernikahan menjadi spirit awal dilakukannya pencatatan perkawinan.
Saat ini kondisi masyarakat telah berubah, di mana terdapat pergeseran bentuk keluarga dalam masyarakat, dari keluarga besar (extended family) menjadi keluarga kecil (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Selain itu, tingkat mobilitas masyarakat semakin tinggi seiring dengan revolusi industri dan perkembangan sarana transportasi dan komunikasi. Dalam konteks seperti ini, maka masyarakat tanpa disadari sebenarnya telah kehilangan perannya untuk melakukan fungsi kontrol atas ikatan perkawinan anggota-anggotanya.
Di samping itu, konsep negara bangsa yang menggejala hampir di semua negara pasca era kolonialisme juga telah memberikan otoritas bagi negara untuk melindungi hak-hak setiap warga negara dengan melakukan penerbitan administrasi kependudukan termasuk dalam hukum perkawinan. Di sinilah pencatatan perkawinan menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari dalam rangka memberikan perlindungan
hukum bagi pasangan yang menikah maupun anak-anak yang lahir dari perkawinan itu (hifzun nasl). Oleh karena itu, sudah sepatutnya pencatatan nikah menjadi salah satu rukun perkawinan (Wahyudi. M. I, 2014: 38).
B. Pencatatan Kependudukan