• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3.1. Pencatatan Keuangan Oleh Industri Kecil Rumahan

Informasi akuntansi mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi pencapaian keberhasilan usaha, termasuk bagi usaha kecil (Megginson et al., 2000) dalam Pinasti (2007). Informasi akuntansi dapat menjadi dasar yang andal bagi pengambilan keputusan ekonomis dalam pengelolaan usaha kecil, antara lain keputusan pengembangan pasar, penetapan harga, mengajukan permohonan kredit, dan lain-lain.

Sub bab ini merupakan jawaban dari mini research question pertama mengenai apakah dalam menjalankan usahanya, Ibu Sunarti melakukan pencatatan keuangan. Dalam wawancara dengan ibu Sunarti diketahui bahwa pencatatan keuangan sudah dilakukan, tetapi apabila ingat saja.

Berikut pemaparan yang diungkapkan oleh Ibu Sunarti pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 10:59 :

“ kadang diterapkan, kadang tidak mbak. Nek lupa ndak ” (kalau lupa tidak)

(informan Ibu Sunarti)

Informan selanjutnya yaitu ibu Haji Mas masih dengan pertanyaan yang sama, berikut pemaparan dari ibu Haji Mas pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:59 :

(informan Ibu Haji Mas)

Berdasarkan pemaparan tersebut, ibu Haji Mas mengatakan bahwa tidak melakukan pencatatan keuangan dengan alasan bahwa setiap hasil penjualan dipakai sendiri dan tidak melibatkan orang lain sehingga tidak memerlukan pencatatan keuangan, walaupun produksinya terus meningkat sebanyak lima puluh kilogram.

Informan selanjutnya yaitu ibu Sriminarni. Masih dengan pertanyaan yang sama, berikut pemaparan ibu Sriminarni pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:25 :

“ tidak, dulu pernah sekarang tidak pernah ”

(informan Ibu Sriminarni)

Berdasarkan pemaparan di atas menyatakan bahwa ibu Sriminarni pernah melakukan pencatatan keuangan pada awal produksi, dan untuk saat ini tidak pernah melakukan pencatatan keuangan. Alasan Ibu Sriminarni tidak melakukan pencatatan keuangan karena produksinya tidak banyak. Koordinator industri tempe “Tegar Mandiri” yaitu Ibu Listyani merupakan informan selanjutnya. Dengan pertanyaan yang sama yaitu apakah anda melakukan pencatatan keuangan, berikut pemaparan ibu Listyani pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 13.05 :

pengeluaran tempe trus kita ada pemasukan dari tempe, kita waktu membeli alat-alat ini ya kita catet kok. Jadi tiap kita belanja mesti kita catet, misalnya tanggal brapa beli apa, kedelai harganya brapa soale kedelai hargae naik turun. Trus kita misalnya LPG, LPG habis berapa, tanggal berapa belinya, kita catet plastiknya tanggal berapa, kita catet semuanya mbak soalnya terbatas ini memorinya jadi kita pakai ini dari awal sebelum diperintahkan oleh ketua komunitas, saya sudah mencatat semuanya biar ga lupa. Kita namanya kelompok dan biar ga eker-ekeran gitu lho…….semua yang terjadi mesti kita catet ”

(informan Ibu Listyani)

Berdasarkan pemaparan Ibu Listyani di atas dijelaskan bahwa Ibu Listyani telah melakukan pencatatan keuangan yaitu setiap pengeluaran dan pemasukan yang terjadi setiap harinya walaupun hanya sederhana, dan pencatatan ini dilakukan oleh Ibu Listyani sebagai pengingat setiap pengeluaran dan pemasukan yang terjadi selain itu untuk mencegah perselisihan antara satu dengan lainnya karena industri tempe Tegar Mandiri ini didirikan secara kelompok.

Untuk informan selanjutnya dengan pertanyaan yang masih sama peneliti melakukan wawancara dengan pemilik tempe Kelompok 19 yaitu Ibu Nurmasita. Berikut pemaparan Ibu Nurmasita pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 10:59 :

(informan Ibu Nurmasita)

Menurut keterangan Ibu Nurmasita, beliau tidak pernah melakukan pencatatan keuangan dalam industrinya dengan alasan karena sibuk dan tidak adanya waktu.. Berdasarkan pemaparan dari kelima pemilik industri kecil rumahan, hanya satu pemilik yaitu Ibu Listyani yang melakukan pencatatan keuangan dari awal berdiri sampai saat ini yaitu pencatatan hasil produksi tempe yang sudah jadi, pengeluaran tempe yang diambil oleh para pelanggan, pengeluaran untuk membeli bahan-bahan tambahan dan absensi anggota.

Sedangkan untuk dua orang pemilik industri kecil rumahan tempe yaitu Ibu Sunarti dan Ibu Sriminarni hanya awal usaha melakukan pencatatan keuangan sedangnya untuk sekarang tidak pernah melakukan pencatatan keuangan. Untuk dua orang pemilik industri kecil rumahan lainnya yaitu Ibu Haji Mas dan Ibu Nurmasita tidak pernah melakukan pencatatan keuangan sama sekali.

4.3.2. Pentingnya Pencatatan Keuangan Bagi Industri Kecil Rumahan

Pencatatan keuangan mempunyai peran yang sangat penting di dalam kelangsungan sebuah industri. Peranan pencatatan keuangan tidak hanya untuk industri yang besar saja namun untuk industri yang kecil

industri besar pencatatan yang sesuai Standart Akuntansi Keuangan mutlak dilakukan.

Sedangkan untuk industri yang berskala kecil pencatatan keuangan yang baik dan benar tentu akan sangat berperan di dalam perkembangan dan kelangsungan usahanya. Disini peneliti ingin mengetahui seberapa penting pencatatan keuangan dilakukan bagi industri kecil rumahan.

Peneliti melakukan wawancara dengan informan yang pertama yaitu Ibu Sunarti sebagai koordinator industri kue tempe. Peneliti bertanya apakah pentingnya pencatatan keuangan dilakukan. Berikut pemaparan Ibu Sunarti pada tanggal 20 Oktober 2011, pukul 10:41:

“ penting, penting sekali jadi kita tahu berapa keuntungan kita per bulan, kalau rugi berapa rugi kita per bulan ”

(informan Ibu Sunarti)

Berdasarkan pemaparan di atas, Ibu Sunarti mengatakan bahwa pencatatan keuangan sangat penting, dan menurut beliau untuk mengetahui kerugian setiap bulannya.

Peneliti kemudian mewawancarai informan selanjutnya yaitu Ibu Haji Mas. Masih dengan pertanyaan yang sama yaitu apakah pentingnya pencatatan keuangan dilakukan. Berikut pemaparan Ibu Haji Mas pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:59 :

“ seharusnya sich ya penting, tapi gimana mbak anaknya yang kecil kalau ambil uang ga karuan ”

(informan Ibu Haji Mas)

Berdasarkan pemaparan di atas Ibu Haji Mas beranggapan pencatatan keuangan penting untuk dilakukan walaupun penting namun Ibu Haji Mas belum melakukan pencatatan keuangan didalam industrinya. Wawancara berikutnya ditujukan kepada pemilik industri kecil rumahan milik Ibu Sriminarni. Peneliti menanyakan mengenai pentingnya pencatatan keuangan dilakukan. Berikut pemaparan Ibu Sriminarni pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:25 :

“ ya, penting ”

(informan Ibu Sriminarni)

Dari pemaparan di atas, Ibu Sriminarni mengatakan bahwa pencatatan keuangan penting bagi industri kecil rumahan dan sama dengan kutipan wawancara dari informan sebelumnya walaupun Ibu Sriminarni mengetahui pentingnya pencatatan keuangan namun hanya awal melakukan pencatatan keuangan dan saat ini sudah tidak melakukan pencatatan keuangan.

Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan yang sama pada informan ke empat yaitu Ibu Listyani (Jidan) selaku koordinator industri

tempe “Tegar Mandiri” pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 13.05. Berikut pemaparannya :

“ bagi saya sich penting, terutama kita bisa melihat sesuatu kejadian itu dari situ, kedua apa lagi kita kelompok kita kan ga tahu hati seseorang mbak jadi biar kita kelihatan fair atau gimana ya ini, ini catetannya bu ya ini tiap kejadian saya tulis disitu tujuannya biar ga saling grundel jadi kita idep-idep satu keluarga biar kerukunan terjalin ”

(informan Ibu Listyani)

Berdasarkan pemaparan di atas, menurut Ibu Listyani pencatatan keuangan sangat penting untuk mengetahui setiap kejadian dalam usaha/ industrinya selain itu untuk kejelasan setiap pemasukan dan pengeluaran supaya tidak terjadi perselisihan.

Untuk memperoleh informasi lebih banyak lagi, peneliti kemudian mewawancarai informan terakhir yaitu Ibu Nurmasita pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 10:59. Peneliti mengajukan pertanyaan yang sama, berikut pemaparannya :

“ penting sebenarnya ”

(informan Ibu Nurmasita)

Pemaparan oleh Ibu Nurmasita di atas menjelaskan bahwa pencatatan keuangan penting untuk dilakukan. Namun sampai saat ini Ibu

hasil wawancara dari kelima informan diatas disimpulkan bahwa, bagi pemilik industri kecil rumahan pencatatan keuangan sangat penting dilakukan untuk mengelola manajemen usahanya, namun demikian dari aktivitas usahanya sudah mampu memberikan informasi keuangan yang berguna bagi pengelolaan manajemen keuangannya.

Alasan mengapa sebagian besar dari informan tidak melakukan pencatatan keuangan ialah tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan pencatatan keuangan, hal ini dikarenakan adanya perangkapan fungsi yaitu sebagai pemilik dan pelaksana usaha.

4.3.3. Pencatatan Keuangan Sebagai Bentuk Fungsi Kontrol Keuangan

Perusahaan

Setiap perusahaan (usaha) baik besar ataupun kecil sebaiknya menggunakan pencatatan keuangan yang dapat mengatur keuangan perusahaan secara berkala, sehingga perusahaan tersebut dapat menciptakan fungsi kontrol yang baik didalam perusahaan guna menunjang kegiatan perusahaan. Karena pencatatan keuangan memiliki peranan besar dalam setiap pengambilan keputusan.

Wawancara pertama oleh peneliti ditujukan kepada koordinator industri kue tempe yaitu Ibu Sunarti. Peneliti menanyakan apakah

Berikut pemaparan Ibu Sunarti pada tanggal 20 Oktober 2011, pukul 10:41:

“ ya, segalanya mbak, untuk mengontrol keuangan, untuk tahu keuntungan kita, anak-anak (karyawan) mendapat gaji berapa dalam sebulan. Kan kita gajiannya bukan bulanan jadi keuntungannya kita bagi sama rata sesudah kita ambil untuk kas ”

(informan Ibu Sunarti)

Dari pemaparan di atas menurut Ibu Sunarti, dengan pencatatan keuangan yang diterapkannya, beliau dapat mengetahui keuntungan yang didapat dan berapa gaji yang diperoleh para karyawan.

Wawancara berikutnya ditujukan kepada informan kedua yaitu Ibu Haji Mas pemilik industri tempe. Masih dengan pertanyaan yang sama apakah penggunaan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan perusahaan. Berikut pemaparan Ibu Haji Mas pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:59 :

“ ya sebenarnya iya mbak, kalau ga ada pembukuan ga terkontrol mbak ”

(informan Ibu Haji mas)

Dari pemaparan di atas menurut ibu Haji Mas bahwa dengan melakukan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan bahkan

terkontrol. Meskipun Ibu Haji Mas mengetahui fungsi pencatatan keuangan bahkan dampak yang terjadi apabila tidak melakukan pencatatan keuangan tetapi sampai saat ini Ibu Haji Mas belum melakukan penerapan pencatatan keuangan.

Selanjutnya peneliti melakukan wawancara pada informan ketiga yaitu pemilik industri tempe milik Ibu Sriminarni. Masih dengan pertanyaan yang sama yang diajukan oleh peneliti. Berikut pemaparan Ibu Sriminarni pada tanggal 25 Januari 2012, pukul 12:25 :

“ iya, dapat mengontrol ”

(informan Ibu Sriminarni)

Pemaparan Ibu Sriminarni di atas menjelaskan bahwa dengan melakukan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan usaha/ industrinya. Namun hanya awal saja Ibu Sriminarni melakukan pencatatan keuangan dan tidak dilakukan secara berkala sampai saat ini.

Wawancara selanjutnya ditujukan kepada koordinator industri tempe Tegar Mandiri yaitu Ibu Listyani. Dengan pertanyaan yang sama apakah penggunaan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan perusahaan. Berikut pemaparan Ibu Listyani pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 13.05 :

Pemaparan Ibu Listyani mengatakan bahwa penggunaan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan usaha/ industri karena merupakan pedoman dalam menunjang kegiatan dimasa depan dan pengambilan keputusan.

Masih dengan pertanyaan yang sama yaitu apakah penggunaan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan perusahaan peneliti ingin mengetahui informasi lebih dalam dengan mewawancarai informan terakhir yaitu pemilik industri tempe Kelompok 19 milik Ibu Nurmasita. Berikut pemaparan Ibu Nurmasita pada tanggal 26 Januari 2012, pukul 10:59 :

“ mula-mula yang uang tempe kan ada hasilnya tapi ya ndak dipisahkan, ya dimasukkan gitu “

(informan Ibu Nurmasita)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, Ibu Nurmasita beranggapan bahwa pengunaan pencatatan keuangan misalnya dengan mencatat setiap hasil dari penjualan tempe dapat mengontrol keuangan usaha/ industrinya.

Berdasarkan kutipan-kutipan pemaparan wawancara di atas, disimpulkan bahwa semua pemilik industri kecil rumahan tempe merasa dengan penggunaan pencatatan keuangan dapat mengontrol keuangan usaha/ industrinya. Walaupun sebagian besar tidak melakukan pencatatan keuangan dan dampak yang di akibatkan dari tidaknya menerapkan

Dokumen terkait