B. Analisis dan Pembahasan
3. Pencegahan dan Penanganannya
Setelah pembahasan mengenai penyebab timbulnya kecurangan restitusi Pajak Pertambahan Nilai dan juga mengetahui akibat-akibat yang mungkin dapat ditimbulkan dari kecurangan tersebut, pada pembahasan kali ini penulis mencoba untuk mencari
alternatif pencegahan dan penanganan kecurangan restitusi Pajak Pertambahan Nilai melalui penyalahgunaan Faktur Pajak.
Alternatif pencegahan dan penanganan ini dibahas secara keseluruhan untuk semua jenis penyalahgunaan Faktur Pajak. Beberapa alternatif pencegahan dan penanganan yang coba diberikan penulis antara lain:
a. Pengukuhan Wajib Pajak sebagai Pengusaha Kena Pajak harus dilaksanakan dengan ketat dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Meskipun saat ini Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak sama dengan Nomor Pokok Wajib Pajak tetapi pemberiannya harus selektif dan ketat. Hal ini agar tidak timbul banyak Pengusaha Kena Pajak tetapi mereka tidak aktif, mereka hanya aktif pada tahun-tahun awal berdirinya perusahaan. Peningkatan Pengusaha Kena Pajak haruslah diiringi dengan peningkatan penerimaan negara dari pajak jenis Pajak Pertambahan Nilai, hal ini sesuai dengan asas efficiency dalam Four Maxims dari Adam Smith.
b. Perlunya peningkatan pengawasan terhadap Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak baik yang skalanya kecil, menengah, atau besar. Pengawasan ini dapat dilakukan baik melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi.
Kegiatan ekstensifikasi sesuai dengan sasaran yaitu mencari yang tersembunyi untuk mengamankan penerimaan negara.20 Kegiatan ini dapat dilakukan antara lain dengan melakukan penjaringan Pengusaha Kena Pajak baru. Sedangkan kegiatan intensifikasi
20
Direktorat Jenderal Pajak, Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep-178/PJ/2004 tentang “Cetak Biru (Blue Print) Kebijakan Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2001 sampai dengan 2010, tanggal 22 Desember 2004.
dilakukan untuk mengungkapkan suatu kondisi yang tidak jujur.21 Kegiatan ini dapat dilakukan antara lain dengan:
1. Pemeriksaan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai indikasi melakukan kegiatan penyalahgunaan Faktur Pajak baik penyalahgunaan Faktur Pajak Masukan maupun Faktur Pajak Keluaran dalam rangka memohon restitusi maupun kompensasi Pajak Pertambahan Nilai. Perlu ditekankan apakah barang-barang dalam Faktur Pajak benar-benar dijual dengan melakukan pemeriksaan kepada catatan bukti penyerahan barang dan tidak hanya dengan konfirmasi. Dengan kata lain dilakukan pemeriksaan secara acak terhadap Pajak Keluaran disamping Pajak Masukan yang sudah sering biasa dilakukan dalam pemeriksaan Pajak Pertambahan Nilai.
2. Penelitian dan pemeriksaan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang kegiatan usahanya sangat fluktuatif dan mempunyai deviasi sangat besar terlebih jika Pengusaha Kena Pajak tersebut memohon restitusi atau kompensasi. Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang melakukan kompensasi terus-menerus disamping yang sering memohon restitusi juga harus dilakukan karena potensi penyimpangan terhadap Wajib Pajak yang melakukan kompensasi tersebut juga sama besarnya. Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang sering melakukan kompensasi tersebut juga harus memperhatikan tingkat kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
21
dari Wajib Pajak terhadap jenis pajak lainnya seperti Pajak Penghasilan Pasal 21, Pasal 23, dan Pasal 25 serta Pajak Bumi dan Bangunan.
3. Terhadap Pengusaha Kena Pajak yang sering menjadi rekanan pemerintah perlu dilakukan equalisasi antara Pajak Penghasilan Pasal 22 dan Pasal 25 dengan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang, perlu dinilai kewajaran apakah jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang disetor ke Kas Negara sudah benar. Hal ini terutama terhadap Pengusaha Kena Pajak di daerah, karena penyalahgunaan sering terjadi. 4. Kebanyakan proses penyelesaian permohonan restitusi hanya dilakukan melalui
Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK) dimana kegiatan PSK ini hanya lebih bersifat penelitian bukan pemeriksaan yang mendalam. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam misalnya dengan melakukan Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL) agar hasil pemeriksaan lebih akurat dan dapat mengetahui ada tidaknya kecurangan yang dilakukan Wajib Pajak.
5. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada masa-masa akhir pada suatu tahun pajak seperti yang sudah sering dilakukan karena beban pemeriksaan pada akhir tahun pajak sangat berat dan hal ini akan mempermudah Pengusaha Kena Pajak untuk melakukan penyalahgunaan Faktur Pajak dalam rangka memohon restitusi atau kompensasi.
6. Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang tergabung dalam satu kelompok usaha untuk mencari adanya kemungkinan penyelundupan pajak baik Pajak Pertambahan Nilai maupun Pajak Penghasilan.
7. Pemeriksaan terhadap permohonan restitusi melalui mekanisme ekspor perlu lebih mendalam karena hal ini berkaitan dengan dokumen yang harus diperiksa yang lebih banyak dan kompleks. Kebenaran dokumen ekspor yang dilampirkan harus diperiksa kebenarannya dengan melakukan konfirmasi dengan pihak yang berkaitan. Beberapa dokumen ekspor yang harus dilakukan pemeriksaan adalah PEB, Letter of Credit (L/C), Bill of Lading (B/L), Price List, Packing List, Dokumen Surveyor, Surat Sertifikasi dari Departemen Perdagangan atau Departemen Perindustrian atau Departemen Kehutanan, Nota Kredit dari Bank, Invoice, Kontrak Penjualan, Kuota, dan Biaya Muat untuk menguji kebenaran transaksi ekspor.
c. Pada bab II telah disebutkan bahwa Faktur Pajak dapat digunakan sebagai alat pengawasan dalam penerimaan Pajak Pertambahan Nilai. Hal ini sangatlah penting karena Faktur Pajak merupakan sarana utama dalam mekanisme pengkreditan Pajak Pertambahan Nilai dan sebagai alat kelengkapan untuk memohon restitusi atau kompensasi.
Kebenaran material dalam Faktur Pajak sangat penting, oleh karena itu pengawasan dimulai dari proses penerimaan sampai dengan proses perekaman agar data yang dimasukkan ke dalam sistem perpajakan benar-benar valid. Kantor Pelayanan Pajak terutama seksi Pajak Pertambahan Nilai sering menggunakan tenaga honorer untuk melakukan perekaman Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, hal ini dapat juga menjadi salah satu penyebab adanya penyalahgunaan dalam rangka
restitusi, harus ada pengawasan terutama pemberian login dan password kepada tenaga honorer itu. Sebab hal ini juga menyangkut kerahasiaan negara dan juga kerahasiaan negara menjaga data dari Wajib Pajak.
Dengan data yang valid akan mempermudah dalam melakukan proses konfirmasi terhadap kebenaran Faktur Pajak jika terdapat permohonan restitusi atau kompensasi dari Pengusaha Kena Pajak sehingga jangka waktu penyelesaian dapat segera terpenuhi.
d. Sistem konfirmasi Pajak Keluaran dan Pajak Masukan di Direktorat Jenderal Pajak sekarang ini sudah dilakukan secara langsung antar Kantor Pelayanan Pajak (on-line system). Hal ini sudah menjadi suatu kebutuhan dimana dengan sistem teknologi informasi yang berkembang pesat maka kegiatan konfirmasi juga dapat lebih dipercepat.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan sistem konfirmasi Pajak Keluaran dan Pajak Masukan secara on-line ini benar-benar sudah dioptimalkan? Sekarang ini data yang direkam hanyalah untuk Pajak Pertambahan Nilai dengan jumlah diatas Rp 200.000,00 sedangkan yang wajib dilakukan konfirmasi dalam rangka restitusi adalah Pajak Pertambahan Nilai dengan jumlah di atas Rp 500.000,00.
Hal ini tentu akan menimbulkan pemborosan dalam space kapasitas penyimpanan data karena Pajak Pertambahan Nilai dengan jumlah antara Rp 200.000,00 sampai dengan Rp 500.000,00 tidak akan dikonfirmasi. Belum lagi jika Pengusaha Kena Pajak sengaja memecah nilai nominal Pajak Pertambahan Nilai menjadi di bawah
Rp 200.000,00 sehingga tidak akan terekam dalam sistem dan jika Pengusaha Kena Pajak tersebut melakukan restitusi atau kompensasi tentu dengan mudah akan terlewatkan karena banyak data yang tidak terekam. Oleh karena itu sebaiknya perlu kebijakan yang sama antara jumlah yang direkam dengan jumlah yang dikonfirmasikan.
Salah satu cara untuk memudahkan perekaman sekarang ini adalah penggunaan media elektronik sebagai lampiran Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai terutama untuk Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai volume transaksi sangat besar (atau disebut e-filling) dimana otomatis dari hasil pembukuan Pengusaha Kena Pajak akan masuk ke dalam lampiran Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.
Hal ini akan sangat membantu fiskus dan meminimalisasi adanya penyalahgunaan Faktur Pajak dan mempercepat pencarian data serta memudahkan administrasi. Tetapi tidak semua Pengusaha Kena Pajak terkomputerisasi pembukuannya bahkan yang sudah terkomputerisasi terkadang tidak sinkron dengan komputer di Kantor Pelayanan Pajak.
Oleh karena itu sebaiknya pihak Direktorat Jenderal Pajak membuat program perekaman Surat Pemberitahuan Masa dan dibagikan secara gratis kepada para Pengusaha Kena Pajak serta cara penggunaannya. Program ini juga harus disertai alat kontrol agar Pengusaha Kena Pajak yang akan menyalahgunakan Faktur Pajak tidak dapat melakukannya.
Selain proses konfirmasi terkadang perlu dilakukan proses klarifikasi jika jawaban konfirmasi menunjukkan ketidaklengkapan, sebaiknya hal ini juga dapat dilakukan secara on-line karena dalam praktik sering proses klarifikasi ini memakan waktu yang lama sehingga terkadang jangka waktu penyelesaian restitusi atau kompensasi menjadi sempit atau terlampaui.
e. Pengawasan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai-nya melalui sistem e-filing karena bukan tidak mungkin dapat terjadi penyalahgunaan melalui sistem ini. Harus terdapat pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap sistem ini, karena di masa yang akan datang akan banyak Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan sistem ini dan untuk mencegah adanya kebocoran penerimaan negara.
f. Banyak kasus penyalahgunaan Faktur Pajak melibatkan fiskus baik dalam rangka administrasi maupun pada saat pemeriksaan. Hal ini menunjukkan mental yang tidak baik dari fiskus dan akan semakin mengurangi kepercayaan dari masyarakat kepada fiskus yang sudah bersikap antipati sebelumnya.
Oleh karena itu, profesionalisme fiskus dalam melaksanakan pekerjaannya harus ditingkatkan. Kontak langsung dengan Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak sebisa mungkin dikurangi dan hanya untuk pembahasan yang penting saja, hal ini agar independensi fiskus tetap terjaga dan tidak terpengaruh dalam pengambilan keputusan baik untuk pekerjaan saat ini maupun untuk masa yang akan datang.
g. Hampir setiap tahun terjadi penyalahgunaan Faktur Pajak baik dalam rangka restitusi maupun kompensasi. Kejadian yang lebih sering terjadi dan sering diekspos oleh media kebanyakan adalah kasus restitusi fiktif dengan jumlah yang sangat besar. Jumlah ini akan bertambah besar jika tidak adanya kerjasama antar Kantor Pelayanan Pajak untuk menangulangi permasalahan ini dan mengamankan penerimaan negara dari sektor Pajak Pertambahan Nilai. Oleh karena itu perlu segera dilakukan penyebarluasan informasi mengenai adanya tindak kejahatan ini dan modus operandi yang sering dilakukan.
Meskipun restitusi fiktif lebih sering diberitakan sangat merugikan keuangan negara tetapi kompensasi fiktif juga sangat perlu diwaspadai karena bukannya tidak mungkin jumlah kompensasi fiktif bisa sama besar dengan restitusi fiktif. Walaupun uang negara tidak masuk ke kantong Pengusaha Kena Pajak nakal tetapi hal ini sama saja merugikan keuangan negara karena seharusnya penerimaan negara bertambah.
h. Penegakan hukum harus dilakukan terhadap kejahatan penyalahgunaan Faktur Pajak. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sanksi hukuman yang telah diatur harus ditegakkan baik kepada Pengusaha Kena Pajak yang melakukan tindakan kejahatan maupun kepada fiskus yang ikut serta memberikan kemudahan terhadap penyalahgunaan ini. Meskipun penegakan hukum di Indonesia dengan adil merupakan hal yang sangat sulit tapi hal ini menjadi suatu kewajiban. Berkaitan dengan tindakan kejahatan menyalahgunakan Faktur Pajak maupun jenis kejahatan perpajakan lainnya sebaiknya dikenakan sanksi hukuman yang berlapis
agar membuat jera para pelakunya dan mencegah adanya perbuatan yang sama dikemudian hari.
Pengenaan hukuman berkaitan dengan kejahatan perpajakan dapat pula dikenakan sanksi hukuman yang berlapis yaitu selain melalui Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mengatur mengenai sanksi dan/atau denda administrasi serta sanksi pidana, dapat juga dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-undang Korupsi karena kejahatan perpajakan merupakan tindakan yang merugikan keuangan negara.
SIMPULAN DAN SARAN