B. Analisis dan Pembahasan
1. Sebab-sebab Munculnya Kecurangan Restitusi Pajak
Penyalahgunaan Faktur Pajak merupakan suatu tindakan kejahatan dan dapat dikenakan sanksi pidana. Tindakan kejahatan didasari atas adanya niat dan kesempatan. Niat berasal dari diri Wajib Pajak atau dorongan dari pihak lain sedangkan kesempatan timbul karena adanya kelemahan dalam peraturan perundang-undangan serta kejadian atau perbuatan berulang-ulang yang tidak diketahui.
Selama kurun waktu 10 tahun terakhir telah terjadi begitu banyak tindakan penyalahgunaan Faktur Pajak ini terutama dalam rangka memohon restitusi. Penyalahgunaan Faktur Pajak terjadi berulang kali dan di tempat yang berbeda dan menimbulkan kerugian negara yang cukup besar. Hal ini membuktikan bahwa sistem administrasi Kantor Pelayanan Pajak utamanya seksi Pajak Pertambahan Nilai kurang tertata dengan baik. Menurut Direktur Pemeriksan, Penyelidikan, dan Penyidikan Pajak Direktorat Jenderal Pajak, Gunadi, banyaknya kasus restitusi pajak terjadi karena tiga hal, yakni transparansi keuangan perusahaan wajib pajak, moral pengusaha wajib pajak, dan integritas petugas pajak.18
Uraian berikut ini mencoba membahas sebab-sebab munculnya kecurangan restitusi Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan melalui penyalahgunaan Faktur Pajak sesuai dengan kondisi yang sering terjadi seperti yang diuraikan pada Bab III.
18
Majalah Trust, “Restitusi Tanpa Transaksi,” Majalah Trust, 2, No.35 (Tanggal 31 Mei-6 Juni 2004)
a. Penyalahgunaan Faktur Pajak sebagai Pajak Masukan
1) Melakukan transaksi dengan Pengusaha Kena Pajak Fiktif
Beberapa sebab terjadinya penyalahgunaan Faktur Pajak dengan melakukan transaksi dengan Pengusaha Kena Pajak fiktif, yaitu:
a) Pengusaha Kena Pajak merasa keberatan untuk menyetor Pajak Pertambahan Nilai yang telah dipungut dan/atau ingin memperoleh jumlah restitusi yang lebih besar daripada yang seharusnya.
b) Adanya penelitian yang kurang mendalam terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai terutama untuk Pajak Masukan selama Pengusaha Kena Pajak tidak memohon restitusi.
c) Pengusaha Kena Pajak mengetahui bagaimana sistem administrasi dalam rangka restitusi. Hal ini biasanya dilakukan kerjasama dengan konsultan pajak dan oknum fiskus yang memberitahukan celah mana saja yang bisa ditembus, terutama dalam sistem konfirmasi Pajak Keluaran dan Pajak Masukan. Sehingga pembuatan perusahaan fiktif untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak fiktif dapat berjalan dengan baik.
d) Adanya kerjasama dengan oknum fiskus dalam proses restitusi. Misalnya memberikan bantuan untuk mempercepat proses restitusi dengan tidak melakukan konfirmasi terhadap semua Faktur Pajak Masukan sehingga proses restitusi dapat berjalan dengan cepat dan meminimalisasi terbongkarnya kejahatan ini.
e) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
f) Ancaman hukuman yang kurang berat terhadap penyalahgunaan jenis ini yaitu ancaman pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling tinggi 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohon dan atau kompensasi.
2) Transaksi Fiktif
Penyebab penyalahgunaan Faktur Pajak jenis ini hampir sama dengan jenis yang sebelumnya yaitu antara lain:
a) Pengusaha Kena Pajak merasa keberatan untuk menyetor Pajak Pertambahan Nilai yang telah dipungut dan/atau ingin memperoleh jumlah restitusi yang lebih besar daripada yang seharusnya.
b) Terdapat Pengusaha Kena Pajak lain yang mau diajak kerjasama untuk membuat Faktur Pajak yang sebenarnya tidak pernah terjadi transaksi antara penjual dan pembeli.
c) Penelitian yang kurang mendalam terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai terutama untuk Pajak Masukan selama Pengusaha Kena Pajak tidak memohon restitusi dan terhadap daftar lampiran pembelian juga tidak dilakukan penelitian secara seksama.
e) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
f) Pengusaha Kena Pajak menganggap ancaman hukuman pidana yang diberikan tidak terlalu berat. Biasanya hukuman yang dijatuhkan lebih rendah daripada yang diancamkan dalam perundang-undangan.
3) Faktur Pajak Fiktif
Terdapat beberapa kesamaan penyebab penyalahgunaan Faktur Pajak jenis ini dengan kedua jenis sebelumnya, yaitu:
a) Adanya niat dan kesempatan yang dilakukan oleh pengusaha untuk melakukan kejahatan perpajakan ini.
b) Faktur Pajak yang yang diterima atas pembelian barang dan/atau jasa mudah untuk dibuat sendiri tanpa sepengetahuan Pengusaha Kena Pajak pembuat Faktur Pajak yang asli.
c) Pengusaha Kena Pajak mengetahui dengan baik mengenai prosedur penelitian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dan pemeriksaan dalam rangka restitusi.
d) Adanya kerjasama dengan oknum fiskus yang dengan sengaja ingin memperoleh imbalan atau gratifikasi.
e) Kurangnya sosialisasi mengenai beberapa jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
f) Pengusaha Kena Pajak menganggap ancaman hukuman pidana yang diberikan tidak terlalu berat. Biasanya hukuman yang dijatuhkan lebih rendah daripada yang diancamkan dalam perundang-undangan.
4) Transaksi dengan Penjual Non Pengusaha Kena Pajak
Penyalahgunaan Faktur Pajak jenis ini memiliki latar belakang antara lain:
a) Pengusaha Kena Pajak berniat mengurangi Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya disetor. Transaksi pembelian dari penjual non Pengusaha Kena Pajak tidak akan dibuatkan Faktur Pajak, oleh karena itu Pengusaha Kena Pajak sengaja membuat Faktur Pajak fiktif (Pajak Masukan) untuk dikreditkan dengan Pajak Keluaran sehingga jumlah yang seharusnya disetor lebih sedikit. b) Pengusaha Kena Pajak mengetahui bahwa terhadap Surat Pemberitahuan
Masa Pajak Pertambahan Nilai yang kurang bayar dengan jumlah yang sedikit tidak akan diteliti secara mendalam.
c) Kemudahan dalam membuat Faktur Pajak fiktif, baik dengan membuat sendiri maupun bekerja sama dengan Pengusaha Kena Pajak lain.
d) Adanya kerjasama dengan oknum fiskus yang dengan sengaja ingin memperoleh imbalan atau gratifikasi.
e) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
f) Pengusaha Kena Pajak menganggap ancaman hukuman pidana yang diberikan tidak terlalu berat. Biasanya hukuman yang dijatuhkan lebih rendah daripada yang diancamkan dalam perundang-undangan.
5) Transaksi dalam Satu Kelompok Usaha
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyalahgunaan Faktur Pajak dengan melalui cara transaksi dalam satu kelompok usaha dapat dikarenakan oleh beberapa alasan, antara lain:
a) Pengusaha Kena Pajak berniat mengurangi Pajak Pertambahan Nilai yang seharusnya disetor bahkan jika bisa tidak menyetor Pajak Pertambahan Nilai ke Kas Negara.
b) Terdapat banyak pembeli Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang tidak menginginkan terhadap Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang mereka beli dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
c) Pengawasan terhadap pengukuhan Pengusaha Kena Pajak yang kurang ketat karena untuk usaha yang sama terkadang tidak semua perusahaan dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. Biasanya atas permohonan Wajib Pajak sendiri baru dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
d) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
e) Pengusaha Kena Pajak menganggap ancaman hukuman pidana yang diberikan tidak terlalu berat. Biasanya hukuman yang dijatuhkan lebih rendah daripada yang diancamkan dalam perundang-undangan.
b. Penyalahgunaan Faktur Pajak sebagai Pajak Keluaran 1) Melakukan Kegiatan Ekspor Fiktif
Kegiatan ekspor fiktif dilakukan dengan sebab antara lain:
a) Pengusaha Kena Pajak ingin memperoleh kembali Pajak Masukan yang telah dipungut pada saat pembelian. Hal ini disebabkan terhadap ekspor dikenakan tarif 0% (nol persen) sehingga Pajak Masukan akan lebih besar daripada Pajak Keluaran dan dapat menimbulkan kelebihan bayar pajak.
b) Adanya kerjasama dengan instansi terkait lain seperti pihak Bea dan Cukai, Departemen Perdagangan, bank, Kantor Pelayanan Pajak dan pihak-pihak lain yang terkait guna memperoleh dokumen asli tetapi palsu berkaitan dengan kegiatan ekspor yang sengaja digunakan untuk permohonan restitusi.
Penyalahgunaan Faktur Pajak dengan melakukan kegiatan ekspor fiktif ini memerlukan administrasi yang baik dan kompleks dari Pengusaha Kena Pajak karena banyak berkaitan dengan banyak pihak dan dokumen yang harus disiapkan
oleh karena itu mungkin tidak terlalu banyak penyalahgunaan jenis ini. 2) Pemungutan oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai
Penyebab mengapa terjadi penyalahgunaan Faktur Pajak jenis ini antara lain: a) Banyak Wajib Pajak yang hanya mengandalkan penghasilannya dari proyek
pemerintah sehingga sering menimbulkan kelebihan Pajak Masukan. Terhadap kelebihan Pajak Masukan ini, Pengusaha Kena Pajak enggan untuk memperoleh kembali kelebihan bayar Pajak Masukan tersebut dikarenakan anggapan proses yang akan terlalu lama dan biaya yang akan jauh lebih besar jika memohon restitusi.
b) Wajib Pajak merasa takut terhadap adanya pemeriksaan terhadap kegiatan usahanya karena fiskus akan mengetahui keadaan Wajib Pajak yang sebenarnya dan akan menimbulkan biaya yang lebih besar.
c) Adanya Pengusaha Kena Pajak lain yang mau membeli Faktur Pajak Keluaran fiktif yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak tersebut.
d) Proses pembuatan Faktur Pajak Keluaran relatif mudah dan sederhana dan tidak diperlukan pengetahuan lebih dalam Pajak Pertambahan Nilai.
e) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
3) Pembuatan Faktur Pajak Ganda
Pembuatan Faktur Pajak Keluaran ganda merupakan perbuatan yang sengaja dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak sendiri. Terdapat beberapa sebab mengapa dilakukan pembuatan Faktur Pajak ganda, antara lain:
a) Pengusaha Kena Pajak sengaja ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dari Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut olehnya dan tidak disetorkan ke Kas Negara.
b) Pengetahuan yang cukup dari Pengusaha Kena Pajak mengenai prosedur administrasi dari Pajak Pertambahan Nilai.
c) Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
d) Ancaman hukuman yang tidak terlalu berat dan sering adanya negosiasi antara Pengusaha Kena Pajak dengan oknum fiskus untuk melancarkan usaha ini. 4) Tidak Membuat Faktur Pajak
Pengusaha Kena Pajak tidak membuat Faktur Pajak disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a) Niat dari Pengusaha Kena Pajak untuk memperoleh keuntungan bagi diri Pengusaha Kena Pajak sendiri. Hal ini dilakukan kepada konsumen yang tidak mengerti mengenai Pajak Pertambahan Nilai, Pengusaha Kena Pajak
memungut Pajak Pertambahan Nilai dari konsumen tetapi tidak dibuatkan Faktur Pajak dan konsumen sendiri tidak mengetahui mengenai haknya.
b) Banyak konsumen yang merasa senang jika atas pembelian yang dilakukannya tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai. Terutama jika konsumen tersebut bukan Pengusaha Kena Pajak maka sangat ingin menghindari pemungutan Pajak Pertambahan Nilai.
c) Pengawasan yang kurang dari Direktorat Jenderal Pajak dan Kurangnya sosialisasi mengenai jenis penyalahgunaan Faktur Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak yang lain sehingga Kantor Pelayanan Pajak di wilayah lain terlambat mengetahui dan kurang mengantisipasinya.
d) Ancaman hukuman yang tidak terlalu berat dan sering adanya negosiasi antara Pengusaha Kena Pajak dengan oknum fiskus untuk melancarkan usaha ini. Dari beberapa sebab-sebab penyalahgunaan Faktur Pajak di atas maka akan dapat kita tarik suatu kesimpulan mengenai sebab-sebab penyalahgunaan Faktur Pajak, antara lain:
a. Lemahnya pengawasan terhadap Wajib Pajak, baik pada saat Wajib Pajak mulai dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak maupun setelah Wajib Pajak menjadi Pengusaha Kena Pajak. Hal ini yang menyebabkan Wajib Pajak menyalahgunakan Faktur Pajak dalam rangka memohon restitusi maupun kompensasi.
b. Kerja sama antara Wajib Pajak dengan pihak-pihak lain yang dengan sengaja menyalahgunakan Faktur Pajak untuk memohon restitusi maupun kompensasi. Pihak-pihak lain tersebut adalah Pengusaha Kena Pajak lain baik yang fiktif maupun tidak fiktif, konsultan pajak, dan oknum fiskus sendiri.
c. Pengetahuan dari Wajib Pajak yang dibantu oleh konsultan pajak maupun oknum fiskus yang dengan sengaja memberitahukan mengenai celah yang dapat ditembus dalam memohon restitusi. Hal ini terutama berhubungan dengan sistem konfirmasi Pajak Masukan dan Pajak Keluaran yang masih terdapat kelemahan. Misalnya penyalahgunaan dengan membuat Pengusaha Kena Pajak fiktif, mereka sengaja mendirikan suatu perusahaan untuk sementara waktu dengan maksud untuk melakukan restitusi fiktif.
Perusahaan ini juga memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan juga Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak yang tercatat di administrasi Kantor Pelayanan Pajak. Hal ini dilakukan karena sistem konfirmasi yang sekarang dilakukan sudah on-line antar Kantor Pelayanan Pajak dan sudah banyak diketahui oleh Pengusaha Kena Pajak. Sehingga mereka sengaja mendirikan perusahaan fiktif ini agar proses konfirmasi berjalan lancar.
d. Fiskus yang tidak profesional dalam pekerjaannya. Permohonan restitusi sengaja dibuat sebagai ajang bagi oknum fiskus untuk meminta imbalan atau gratifikasi.
Sudah menjadi rahasia umum jika hasil dari restitusi akan dicairkan maka fiskus akan meminta bagian dari hasil restitusi tersebut.19
e. Pemeriksaan umumnya diutamakan kepada pemeriksaan terhadap Surat Pemberitahuan Masa pada akhir tahun pajak dimana beban pemeriksaan sangat besar sehingga ketelitian dalam pemeriksaan sering kurang mendalam. Disamping itu, pemeriksaan hanya dilakukan jika terdapat permohonan restitusi, kalaupun tidak biasanya bersamaan dengan pemeriksaan segala jenis pajak terhadap Wajib Pajak yang telah memenuhi kriteria tertentu.
Banyak kemungkinan akan lolosnya restitusi fiktif jika fiskus tidak melakukan pemeriksaan terutama terhadap Wajib Pajak yang mempunyai peredaran usaha yang sangat fluktuatif jika hanya mengandalkan pemeriksaan pada akhir tahun atau secara bersamaan dengan jenis pajak yang lain.