• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencegahan primer adalah cara yang paling sulit karena yang menjadi sasaran adalah orang-orang yang belum sakit artinya mereka masih sehat atau mencegah orang normal atau pengidap prediabetes agar tidak menjadi diabetes (Sudoyo dkk, 2010).

Upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan, yaitu : a. Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan diperlukan karena penyakit diabetes adalah penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup. Pencegahan DM tipe 2 pada orang-orang yang berisiko atau orang dengan prediabetes pada prinsipnya adalah dengan mengubah gaya hidup yang meliputi olah raga, penurunan berat badan, dan pengaturan pola

makan. Penyuluhan sangat penting perannya dalam upaya pencegahan primer.Masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya harus diikutsertakan. Demikian pula pemerintah melalui semua jajaran terkait seperti Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan perlu memasukkan upaya pencegahan primer DM dalam program (Yulianti, 2009).

b. Penyuluhan dan pendidikan kesehatan

Sejak masa prasekolah hendaknya telah ditanamkan pengertian mengenai pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola dan jenis makanan yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi kesehatan (Yulianti,2009).

c. Berolah raga teratur atau melakukan kegiatan fisik

Akitivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolah raga rutin, minimal 150 menit perminggu, dibagi 3-4 kali seminggu. Olah raga dapat memperbaiki resistensi insulin yang terjadi pada pasien prediabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan membantu mencapai berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga lebih aktif saat beraktivitas sehari-hari, misalnya dengan memilih menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki ke pasar daripada menggunakan mobil (Regina, 2012).

d. Penurunan berat badan

Berdasarkan analisis terhadap sekelompok orang dengan perubahan gaya hidup intensif, pencegahan diabetes paling berhubungan dengan penurunan

berat badan. Menurut penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM tipe 2 (Regina, 2012).

e. Pengaturan pola makan

Untuk mencegah DM sangat dianjurkan pula melakukan pola makan yang sehat, yakni terdiri dari karbohidrat kompleks, mengandung sedikit lemak jenuh dan tinggi serat larut. Asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal (Regina, 2012). Perencanaan makanan yang dianjurkan seimbang dengan komposisi energi yang dihasilkan oleh karbohidrat, protein dan lemak, seperti karbohidrat = 45-60%, protein = 10-20% dan lemak = 20-25%. Prinsipnya adalah makan yang teratur dalam Jadwal, Jumlah dan Jenis makanan (3J) Ditjen PP dan PL (2008).

Diet seimbang menurut Ditjen PP dan PL (2008), yaitu :

1. Penggunaan karbohidrat dibatasi, terutama menghindari penggunaan karbohidrat sederhana (gula pasir, gula merah, madu, gula batu), protein cukup menggunakan lemak tak jenuh dan tinggi serat.

2. Bahan makanan yang diperbolehkan mengandung protein hewani rendah lemak/ kolesterol (daging kurus, ayam tanpa telur rendah kolesterol, ikan dari laut dalam) sedangkan protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan) 2-3 porsi sehari.

3. Menghindari makanan dan minuman yang diawetkan dan manis (abon, dendeng, dodol, kurma, sirup, es krim, permen, coklat, bumbu-bumbu manis (kecap) dan buah-buahan manis yang diawetkan (kurma, durian, manisan buah. 4. Menghindari zat atau obat yang dapat mencetus timbulnya diabetes

2.7.2 Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder bertujuan untuk mencegah timbulnya komplikasi. Komplikasi DM banyak terjadi karena penderita DM tidak menyadari secara dini bahwa mereka telah terkena penyakit DM. 46,8% kasus DM tidak terdiagnosis terjadi di dunia. Diagnosis DM ditegakkan berdasarkan gejala klinik utama dan pemeriksaan glukosa darah. Gejala klinik utama berupa trias poli yaitu poli uri, poli dipsi, dan poli phagia dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Disamping itu keluhan lemas, gatal-gatal, penurunan libido, kesemutan dan mata kabur juga menjadi keluhan lain yang dipertimbangkan (Hotma, 2014).

Menurut PERKENI (2006), diagnosis diabetes ditegakkan melalui cara, yaitu :

a. Jika keluhan klasik (+), keluhan lainnya (+) dan kadar glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl

b. Jika keluhan klasik (+),keluhan lainnya (+) dan kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl

c. Tes toleransi glukosa (TTG) dengan beban 75g glukosa, kadar glukosa darah ≥ 200 mg/dl.

Syarat untuk mencegah komplikasi adalah kadar glukosa darah harus terkendali mendekati angka normal setiap hari setiap tahun. Beberapa pencegahan sekunder, yaitu

a. Melakukan skrining untuk mencari penderita baru harus dilakukan karena kelompok tidak terdiagnosa tidak sedikit jumlahnya. Sehingga jika

diketahui lebih dini komplikasi dapat dicegah. Skrinning direkomendasikan untuk orang- orang yang mempunyai keluarga diabetes, orang-orang dengan kadar glukosa abnormal pada saat hamil, orang-orang yang mempunyai gangguan vaskuler, dan orang-orang yang gemuk (Yuliyanti, 2009).

b. Tidak Merokok. Walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2. Oleh karena itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok. Sebuah universitas di Swiss membuat suatu analisis 25 kajian yang menyelidiki hubungan antara merokok dan DM yang disiarkan antara 1992 dan 2006, dengan sebanyak 1,2 juta peserta yang ditelusuri selama 30 tahun. Mereka mendapati risiko bahkan lebih tinggi bagi perokok berat. Mereka yang menghabiskan sedikitnya 20 batang rokok sehari memiliki risiko terserang diabetes 62% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Merokok dapat mengakibatkan kondisi yang tahan terhadap insulin. Itu berarti merokok dapat mencampuri cara tubuh memanfaatkan insulin. Kekebalan tubuh terhadap insulin biasanya mengawali terbentuknya DM tipe 2 (Yuliyanti, 2009)..

c. Tetap melakukan pengendalian gula darah agar tidak terjadi komplikasi diabetes (Suiraoka, 2012).

2.7.3 Pencegahan Tersier

Upaya pencegahan tersier menurut Regina (2012) ditujukan kepada kelompok penderita DM yang telah mengalami komplikasi dalam upaya mencegah kecacatan lebih lanjut. Beberapa upaya sekunder, yaitu :

a. Mencegah berlanjutnya (progresi) komplikasi untuk tidak menjurus kepada penyakit organ.

b. Mencegah terjadinya kecacatan disebabkan oleh karena kegagalan organ atau jaringan.

c. Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal.

d. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, podiatris, penyuluh, dan lain-lain.) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.

Dalam upaya ini diperlukan kerja sama yang baik sekali antara pasien dengan tenaga kesehatan baik dokter maupun penyuluh diabetes.

Dokumen terkait