• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencegahan penyakit (preventif)

Dalam dokumen STATUS TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN NILAM (Halaman 76-81)

PENYAKIT PENTING PADA TANAMAN NILAM DAN USAHA PENGENDALIANNYA

II. PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA NILAM

2.6. Pencegahan penyakit (preventif)

Cara yang paling bijaksana untuk mengendalikan penyakit layu adalah dengan mencegah timbulnya penyakit di lapangan, mencegah agar penyakit tidak menular dari satu tanaman ke tanaman lain dan dari daerah satu ke daerah lainnya. Upaya pencegahan penyakit secara preventif dapat dilakukan sejak awal yaitu dari waktu evaluasi untuk kesesuaian lahan tempat penanaman, penentuan bahan tanaman, pemupukan, dan aspek-aspek lain yang dapat mencegah berkembangnya penyakit layu. Observasi kebun juga perlu dilakukan dan sebaiknya dilaksanakan secara rutin, sehingga dapat dilakukan pengendalian secara dini terhadap penyakit – penyakit yang mungkin berpotensi untuk berkembang (Barani 2008). Pengendalian penyakit yang bersifat pencegahan dapat dilakukan dengan memadukan beberapa komponen dengan menggunakan bibit sehat, varietas tahan atau toleran, lahan bebas patogen, melakukan sanitasi dan eradikasi, rotasi dan tumpangsari, serta memperbaiki teknik budidaya dan pengelolaan lingkungan.

a. Bibit sehat

Tanaman nilam biasa diperbanyak dengan setek batang. Oleh karena itu tanaman yang akan digunakan sebagai sumber bibit harus diseleksi dan dipilih yang sehat. Harus dihindari pengambilan setek dari tanaman yang terinfeksi dan tanaman di sekitarnya walaupun tanaman tersebut belum menunjukkan gejala sakit. Pada umumnya petani menggunakan bibit yang berasal dari tanaman dari kebunnya sendiri yang mungkin sudah terinfeksi untuk penanaman baru, sehingga penyakit akan timbul dan berkembang. Oleh karena itu perlu adanya pengadaan bibit yang dijamin bebas dari patogen.

Varietas tahan atau toleran

Penanaman varietas nilam tahan merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit layu. Nilam telah lama dibudidayakan di Indonesia, namun sampai saat ini belum tersedia varietas yang benar-benar tahan terhadap penyakit layu bakteri. Oleh karena itu penelitian dalam rangka menghasilkan varietas nilam yang tahan sangat diperlukan.

Di Indonesia terdapat 3 jenis nilam yaitu nilam aceh (Pogostemon

cablin Benth.), nilam jawa (P. heyneanus Benth), dan nilam sabun (P. Hortensis Becker). Diantara ketiga jenis nilam tersebut, nilam aceh paling

banyak dibudidayakan di Indonesia, karena mempunyai kadar minyak atsiri yang tinggi. Namun jenis nilam aceh yang biasa dibudidayakan di Indonesia sangat rentan terhadap R. solanacearum dan penyakit lainnya.

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor (Balittro) telah melepas 3 varietas nilam aceh yang unggul yaitu varietas Sidikalang, Tapak Tuan dan Lhoksemauwe (Nuryani 2005). Dari ketiga varietas unggul tersebut, varietas Sidikalang dinyatakan lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dibandingkan dengan varietas lainnya (Nasrun 2004a).

Tanaman nilam tidak manghasilkan bunga. Oleh karena itu nilam biasa diperbanyak secara vegetatif, sehingga keragaman genetiknya sangat sempit (Nuryani 2005). Dalam rangka untuk mendapatkan varietas nilam yang mempunyai kadar dan kualitas minyak yang tinggi selain tahan terhadap penyakit, telah dilakukan beberapa penelitian di Balittro yang pada dasarnya diarahkan pada kegiatan peningkatan keragaman genetik tanaman nilam. Hasilnya telah diperoleh 23 somaklon nilam yang 10 diantaranya mempunyai produksi terna dan kadar minyak tinggi diatas 3% (Nuryani et al. 2005). Uji ketahanan terhadap bakteri R. solanacearum yang dilakukan oleh Hartati et al. (2007) di rumah kaca, menunjukkan bahwa dari 10 somaklon nilam yang diuji tersebut satu diantaranya lebih tahan, 8 somaklon sama ketahanannya, dan satu somaklon lebih rentan terhadap penyakit layu dibandingkan dengan varietas Sidikalang yang telah dinyatakan paling toleran diantara varietas unggul lainnya yaitu Tapak Tuan, dan

Lhoksemauwe. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usaha peningkatan variasi genetik melalui variasi somaklonal memberi harapan untuk memperoleh varian varian baru yang lebih tahan terhadap penyakit layu bakteri.

Hadipoentiyanti et al. (2008) juga telah melakukan penelitian dalam rangka untuk mendapatkan varietas nilam yang tahan terhadap penyakit layu bakteri yang memanfaatkan variasi somaklonal dengan menginduksi kalus dan tunas dengan teknik irradiasi untuk meningkatkan keragaman genetiknya. Dari penelitian ini telah dihasilkan beberapa tunas nilam yang dalam pengujian secara in vitro tahan terhadap substrat R. solanacearum. Tunas-tunas yang tahan diaklimatisasi dan diuji ketahanannya terhadap R. solanaacearum di rumah kaca. Somaklon yang tahan dalam pengujian di rumah kaca selanjutnya diuji ketahanannya di daerah endemik penyakit layu bakteri. Dari beberapa somaklon yang diuji tersebut diharapkan ada somaklon yang tahan terhadap R. solanacearum.

b. Lahan bebas patogen

Tanaman nilam sebaiknya ditanam pada lahan yang masih bebas dari patogen. Beberapa jenis lahan yang mungkin bebas dari patogen diantaranya adalah lahan sawah beririgasi teknis, dimana R solanacearum yang bersifat aerobik tidak mampu hidup pada kondisi an-aerob seperti pada lahan-lahan sawah tersebut. Selain itu lahan yang mungkin bebas patogen adalah lahan bekas hutan dan lahan yang belum pernah ditanami nilam atau lahan yang ditanami tanaman bukan inang alternatif dari R. solanacearum.

Penyakit layu bersifat endemik sehingga untuk mencegah terjadinya penyakit dan untuk menjaga kesuburan tanah dianjurkan untuk tidak menanam nilam secara terus menerus pada lahan yang sama. Lahan yang sudah terinfeksi sebaiknya diberakan selama 2-3 tahun atau ditanami tanaman lain yang bukan inang dari R. solanacearum misalnya tanaman padi dan jagung (Asman 2000). Penanaman nilam di daerah yang memenuhi syarat misalnya lahan yang tidak tergenang akan mencegah dan mengurangi serangan penyakit layu (Barani 2008).

c. Sanitasi dan eradikasi

Sanitasi harus dilakukan secara ketat dari awal, karena sanitasi tidak efektif apabila dilakukan pada saat serangan sudah meluas dan parah. Sanitasi sebaiknya dilakukan mulai dari pemilihan lahan dan pengadaan bibit. Apabila ada tanaman nilam yang terserang di lapang harus segera dicabut dan dibongkar. Tanaman yang sakit segera dimusnahkan dengan cara dibakar. Selanjutnya lubang bekas tanaman yang sakit disiram dengan antibiotik atau ditaburi dengan kapur.

Tanaman nilam telah dibudidayakan di Indonesia lebih dari satu abad yang lalu terutama di NAD. Sebagian besar petani menanam nilam dengan sistem budidaya yang berpindah-pindah. Hal ini dilakukan untuk mencegah turunnya produktivitas tanaman dan menghindari serangan penyakit (Asman 2000). Sistem budidaya nilam secara berpindah secara teori baik sebagai tindakan sanitasi lahan. Namun sistem budidaya tersebut akan merusak lingkungan dan penggundulan hutan. Dengan sistem tanaman secara berpindah banyak lahan hutan yang ditebang dan setelah ditanami nilam lahan tersebut ditinggalkan dan dibiarkan menjadi ladang alang-alang. Pada saat ini telah banyak diterapkan sistem budidaya nilam secara menetap, namun sistem budidaya tersebut mempunyai resiko turunnya produksi karena penyakit akan menjadi lebih endemik. Oleh karena itu pada budidaya secara menetap sebaiknya diterapkan juga sistem rotasi dan tumpang sari.

d. Rotasi dan tumpangsari

Pada saat ini telah banyak dilakukan penanaman nilam pada lahan secara menetap. Namun karena penyakit layu bersifat endemik, maka pada sistem budidaya nilam secara menetap, penyakit layu terjadi lebih parah setelah penanaman yang kedua pada kebun yang telah terkontaminasi. Oleh karena itu penanaman nilam secara berturut-turut pada lahan yang sama sebaiknya dihindari.

Pada sistem penanaman secara menetap sebaiknya diterapkan rotasi tanaman atau tumpang sari. Rotasi tanaman dilakukukan untuk mengurangi

populasi patogen di dalam tanah. Cara ini juga berfungsi untuk memotong siklus hidup patogen dan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Rotasi tanaman sebaiknya dilakukan setiap selesai satu siklus tanam nilam dan diganti dengan tanaman lain seperti jagung, padi, atau tanaman lainnya yang bukan inang dari R. solanacearum.

e. Pengelolaan lahan dan lingkungan

Penyakit layu bakteri akan berkembang dengan baik pada kondisi kebun yang lembab dan panas, sehingga penyakit sering terjadi di daerah-daerah tropis humid dan sub tropis (Haywards 1986). Untuk mencegah timbulnya penyakit, maka pengelolaan lahan dan lingkungan perlu dilakukan untuk menjaga agar kondisi kebun tidak terlalu lembab, misalnya dengan mengatur jarak tanam, menyiangi gulma di sekitar tanaman nilam dan pemberian mulsa. Hasil penelitian Asman (2000) di Sumatera Barat dan Jawa Barat membuktikan bahwa pemberian mulsa ampas nilam dapat menekan perkembangan penyakit layu sampai 60 %. Pemberian mulsa dan pupuk organik dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal dari tanaman dan setelah nilam dipanen. Selain itu pemberian mulsa juga dapat menekan serangan penyakit layu. Irigasi kebun juga harus diperhatikan agar lahan mempunyai drainase yang baik. Apabila ada areal yang terinfeksi, sebaiknya dibuat selokan yang membatasi antara areal tersebut dengan areal yang masih sehat untuk mencegah penularan penyakit melalui akar, tanah, dan air.

Untuk mencegah masuknya patogen ke daerah yang masih sehat, maka semua pekerjaan di kebun yang dilakukan baik oleh manusia maupun hewan dimulai dari daerah yang masih sehat selanjutnyta berjalan kearah daerah yang sudah terinfeksi. Demikian juga alat-alat pertanian yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

Dalam dokumen STATUS TEKNOLOGI HASIL PENELITIAN NILAM (Halaman 76-81)

Dokumen terkait