BAB II : PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA
C. Pencemaran Nama Baik Dalam UndangUndang Nomor Nomor 40
Pers adalah pilar demokratis.Kebebasan merupak unsure penting dalam pembentukan suatu sistem bernegara yang demokratis, terbuka dan transparan.Pers sebagai media informasi berjalan seiring dengan penegakan hukum untuk terciptanya keseimbangan dalam suatu Negara.Penting untuk menjaga obyektifitas dan transparan dalam dunia pers, sehingga dapat dituangkan secara sebenar-benarnya tanpa ada rasa takut atau dibawah ancaman.
Pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tersendiri mengenail Pers yang terdapat dalam Undang-undang No 40 tahun 1999 mengenai pers, dengan maksud dan tujuan untuk melindungi segala hal yang berhubungan dengan pers, baik subjek dan lain sebagainya dan meminta pertanggungjawaban atas pemberitaan yang disiarkan adalah sebagai salah satu wujud kedaulatan rakyat.
Meurut para ahli, delik pers adalah setiap pengumuman atau penyebarluasan pikiran melalui penerbitan pers. Terdapat tiga unsur atau criteria
yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan yang dilakukan melalui pers dapat dikategorikan sebagai delik pers :46
46AS Haris Sumadria, Jurnalistik Indonesia Menulis Beritadan Feature: Panduan Praktik Jurnalis Profesional.Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2005, hal 232.
a. Adanya pengumuman pikiran dan perasaan yang dilakukn melalui barang cetakan;
b. Pikiran dan perasaan yang diumumkan atau disebarluaskan melaui barang cetakan itu harus merupakan perbuatan yang dapat dipidana menurut hukum;
c. Pengumuman pikiran dan perasaan yang dapat dipidana tersebut serta yang dilakukan melalui barang cetakan tadi harus dapat dibuktikan telah disiarkan kepada masayarakat umum atau publikasikan. Jadi, syarat atau unsure terpenting adalah publikasi.
Undang-undang pers lebih banyak mengatur tentang pelaksanaan dan penggunaan hak konstitusional di bidang pers dan perlindungan hukum terhadap pelaksanaan dan penggunaan gak konstitusional, tetapi tidak tampak pengaturan mengenai aspek penyalahgunaan hak konstitusional di bidang pers.
Sanksi pidana lebih ditujukan kepada orang lain yang melakukan perbuatan yang dapat mengganggu atau menghambat pelaksanaan atau penggunaan hak konstitusional berupa kebebasan berekpresi/kebebasan pers seperti didalam Pasal 4 UU Pers yaitu :
1. Kebebasan pers dijamin sebagai hak asasi warga Negara.
2. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelanggaran penyiaran.
3. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
4. Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai hak tolak.
UU Pers No. 40 tahun 1999 tentang Pers memuat masalah pemidanaan pers hanya pada Pasal 18, yaitu :
Ayat 1. Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalang pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) yaitu :
(2) terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelanggaran penyiaran.
(3) untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp.
500.000.000.00 ( lima ratus juta Rupiah)
Ayat 2. Perusahaan pers yang melanggar ketentun pasal 5 ayat (1) dan (2) yaitu :
(1) Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asa praduga tak bersalah.
(2) Pers wajib melayani Hak Jawab.
Serta pasal 13 yaitu:
Perusahaan iklan dilarang memuat iklan :
1. Yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antar umat beragama serta bertentangan denga rasa kesusilaan masyarakat;
2. Minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
3. Peragaan wujud rokok dan penggunaan rokok.
Dipidana dengan pidana denda paling banya Rp. 500.000.000.00 ( lima ratus juta Rupiah )
Ayat 3. Perusahaan pers yang melanggar ketentuan pasal 9 ayat (2), yaitu :
(2) Setiap perusahaan harus berbentuk badan hukum Indonesia
Dan pasal 12, yaitu :
Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamat dan penanggung jawab acara serta terbuka melalui media yang bersangkutan, khusus untuk penerbitan ditambah nama dan alamat percetakan, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000.00 (seratus juta Rupiah )
Menurut UU No. 40 tahun 1999 yang dapat dikenai pertanggung jawaban adalah :
1. Pemimpin Umum/ Redaksi
2. Redaktur Pelaksana.
3. Redaktur
4. Reporter/ Keresponden
Dalam KUHP tidak ada delik khusus mengenai pers, untuk adanya kepastian hukum dan perlindungan hukum dan perlindungan hukum untuk jenis-jenis penyalahgunaan fungsi pers, maka dalam kaitannya dengan delik pidana yang diatur KUHP akan dicari hubungan yang sesuai dengan delik ini, khususnya pasal-pasal tentang komunikasi, penyebaran informasi dan media massa, yang terdiri dari jenis-jenis :
1) Delik Penyebar Kenbencian
Haatzai Artikelen adalah pasal-pasal yang mengancam dengan hukuman kepada siapapun yang menyebarkan rasa permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap pemeritah Belanda, yang diatur dalam pasal 154-157 dari Wetboek van Strafrcht.47
Penghinaan merupakan kumpulan berbagai jenis kejahatan terhadap kehormatan seseorang, yang menista secara lisan, tulisan, memgitnah, mengadu secara memfitnah, menuduh secaa memfitnah.Penghinaan merupakan perkosaan terhadapa kehormatan.Kehormatan adalah perasaan pribadi yang berati harga diri Pasal 154 s/d 157 adalah yang biasa disebut delik-delik penyebar kebencian yang maksudny untuk menjaga ketentraman dan ketertiban umum dikalangan penduduk jangan sampai terkena hasutan yang mengacu dan memecah belah dengan jalan berpidato, tulisan, gambar, dan lain sebagainya di depan umum atau disurat kabar. Pasal 154 memutuskan delik pers sedangkan pasal 155 delik penyebaran.
2. Delik Penghinaan ( Pencemaran Nama Baik )
atau martabat dari seseorang.KUHP memberikan kemungkinan juga perbuatan terhadap kehormatan dari seseorang yang sudh meninggal dunia dan suatu badan resmi.48
Delik kabar bohong diatur dalam pasal 14 dan 15 UU No. 1 tahun 1946 tentang ketentuan-ketentuan pokok pers. Dalam RUU KUHP selain mengatur tentang penyebaran berita bohog pada pasal 307, juga diatur pidana penyiaran berita yang tidak pas, tidak lengkap dan berlebihan dalam pasal 308. RUU KUHP membuat secara khusus tentang tindak pidana berupa menyiarkan berita bohong dan berita yang tidak akurat. Meskipun diatur secara khusus, tetapi terdapat ketidakjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan berita bohonh, sehingga pasal-pasal tersebut potensial dapat disalah gunakan. Narasumber yang tidak suka dengan pers atau pemberitaan mengenai dirinya bisa menyeret pers ke pengadilan dengan tuduhan menyiarkan berita bohong.
Kejahatan penghinaan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok :
a. penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, diatur dalam pasa 134, 136 bis dn 137 KUHP. Termasuk dalam kelompok ini penghinaan terhadap penguasa atau badan hukum, yang diatur dalam pasal 207, 208 dan 209 KUHP.
b. penghinaan umum, diatur dalam pasal-pasal 310 dan 315 KUHP.
3. Delik penyebaran kabar bohong.
49
48 H.A.K. Moch. Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP Buku II ), Bandung, Alumni, 1980, Hal 135.
49Eriyanto dan Anggara, Kebebasan Pers Dalam Rancangan KUHP, Jakarta, Aji dan Aliansi Nasional Reformasi KUHP, 2007, Hal 26.
4. Delik Kesusilaan
Tindak pidana menyebarluaskan, mempertunjukan secara terbuka suatu tulisan, gambar atau benda yang menyinggung kesusilaan itu oleh undang-undang telah diatur dalam pasal 282 ayat (1) sampai dengan ayat (3) KUHP. Ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 282 KUHP itu melarang dilakukannya tiga macam perbuatan: 50
Pada pasal 483 KUHP dan 484 KUHP diatur mengenai kejahatan denga alat cetak.Kejahatan ini merupakan kejahatan khusus yang hanya diperlakukan bagi orang-orang tertentu yang dilarang adalah menerbitkan tulisan dan gambar yang memuat isi bersifat tindak pidana.Dengan perbuatan penerbit belum dapat dihukum. Penerbit dapat dihukum, apabila memenuhi 2 (dua) syarat yaitu:
a. Menyiarkan, mempertontonkan atau menempelkan dengan terang-terangan tulisan dan sebagainya;
b.Membuat, membawa masuk, mengirim langsung, membaw keluar atay menyediakan tulisan dan lain sebagainya untuk disiarkan, dipertontonkan atau ditempelkan dengan terang-terangan;
c. Dengan terang-terangan atau dengan menyiarkan suatu tulisan menawarkan dengan tindak dimintak atau menunjukan, bahwa tulisan dan sebagainya itu boleh didapat.
5. Pertanggungjawaban penerbit.
51
a. Pembuat tidak diketahu namanya dan juga tidak diketahu siapa orangnya oleh penerbit pada peringatan yang pertana sesudah penuntutan berjalan terhadapnya.
b. Penerbit sudah tau atau dapat menduga, bahwa si pembuat ini tidak dapat dituntut dimuka pengadilan menurut hukum pidana atau akan menetap (berkedudukan ) diluar Indoneisa pada ketiak tulisan atau gambar itu diterbitkan.
BAB III
PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK PENCEMARAN NAMA BAIK MELAUI MEDIA SOSIAL
A. Pembuktian Berdasarkan Kitap Undang-Undang Hukum Acara Pidana Makna hukum pembuktian adalah suatu rangkaian peraturan tata tertib yang harus dipedomani Hakim dalam proses persidangan untuk menjatuhkan putusan bagi pencari keadilan.
Lebih lanjut, Munir Fuady mendefinisikan hukum pembuktian itu sebagai suatu proses dalam hukum acara Pidana, hukum acara Perdata, maupun hukum acara lainnya yakni penggunaan prosedur kewenangan Hakim menilai fakta atau pernyataan yang dipersengketakan di pengadilan untuk dapat dibuktikan kebenarannya.
Pembuktian tentang benar atau tidaknay terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan , merupakan bagian terpenting dalam hukum acara pidana dalam hal ini juga hak asasi manusia dipertaruhkan. Bagaimana akibatnya jika seseorang yang didakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang disertai dengan keyakinan hakim,
padahal tidak benar.Untuk itu maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup dengan kebenaran formal.Sejarah perkembangan hukum acara pidana menunjukan bahwa ada beberapa sistem atau teori untuk membuktikan perbuatan yang didakwakan.Sistem dan teori pembuktian ini bervariasi menurut waktu dan tempat (Negara). Indonesia sama dengan Belanda dan Negara-negara Eropa Continental yang lain, menganut bahwa hakimlah yang menilai alat bukti yang diajukan dengan keyakinan sendiri dan bukan jury seperti di Amerika serikat dan Negara-negara Anglo Saxon.52
Sejalan dengan hal tersebut Prof. Mr. J. Vant Kant, melihat hukum acara semata-mata sebagai pengabdi terhadap hukum materiil, oleh karena itu melihat keduduka hukum acara itu dalam lapangan hukum tidak sebagai suatu bagian yang merdeka dan terlepas dari hukum acara itu dalam lapangan hukum tidak sebagai suatu bagian yang merdeka dan terlepas dari hukum materiel.
Hukum acara pidana pada umumnya tidak terlepas dari hukum pidana materiil, artinya masing-masing saling memerlukan satu sama lain, hukum pidana (materiil) memerlukan hukum acara pidana (formiil) untuk menjalankan ketentuan hukum pidana, demikian pula sebaliknya hukum acara pidana tidak berfungsi tanpa adanya hukum pidana.
53
Bila dilihat hukum acara pidana, setelah berlaku Undang-undang No. 8 Tahun 1981 (KUHP) terdapat beberapa ketentuan yang sifatnya bukan mempertahanakan ketentuan pidana materiel, namun lebih luas lagi sepertinya misalnya, ketentuan tentang penggabungan perkara gugatan ganti kerugian,
terdapat dalam pasal 98 s/d pasal 101 KUHP. Ketentuan tersebut menunjukan bahwa hukum acara pidana melalui pasal 98 s/d pasa 101 KUHP telah memperhatikan korban tindak pidana ( victim ), tanpa diatur sebelumnya di dalam ketentuan pidana.
Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, SH. Merumuskan hukum acara pidana sebagai suatu rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa, yaitu kepolisian, kejaksaan dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana.54
Simon merumuskan hukum acara pidana mengatur bagaimana Negara dengan alat-alat perlengkapannya mempergunakan haknya unutk menghukum dan menjatuhkan hukuman.
Rumusan ini menitik beratkan cara bagaimana badan-badan pemerintah bertindak untuk mencapai tujuan Negara.
55
54 Wirjono Prodjodikoro, hukum Acara Pidana di Indonesia, Sumur, Bandung, 1967, hal.
13.
55 Wirjono Prodjodikoro, op, cit
Dengan beberapa definisi di atas jelaslah bahwa hukum acara pidana merupakan aturan yang mengatur tentang cara-cara untuk menyelesaikan suatu perkara pidana dan atau yang berkaitan dengan tindak pidana oleh penegak hukum, mulai dari adanya sangkaan sampai dengan pengawasaan terhadap pelaksaan hukuman yang telah dijatuhkan.
Hukum acara pidana bertujuan untuk memperoleh kebenaran materiel, kebenaran yang sesungguhnya, sehingga yang dijatuhi hukuman adalah mereka betul-betul telah mencoba dan atau melakukan tindak pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku.
Dalam pedoman pelaksanaan KUHAP memberikan penjelasan tentang tujuan hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidaknya-tidaknya mendekati kebenaran material, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat diperiksa.
Tujuan hukum acara pidana menurut rumusan pedoman pelaksanaan KUHAP tersebut menunjukan bahwa kebenaran materiel atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiel dalam rumusan terseut dirasa kurang tepat sebab mendekati kebenaran belumlah dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran, oleh karena hukuman yang mungkin dijatuhkan dalam perkara pidana terdapat hukuman badan maka kebenaran materiel tersebut harus diperoleh untuk menghindari terjadinya kekeliruan dalam menjatuhkan hukuman.
Menemukan kebenaran materiel merupakan hal yang penting sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam KUHAP, maksudnya jangan sampai terjadi lagi apa yang pernah dialami dan telah dinyatakan bersalah dan menjalani hukuman kemudian harus dibebaskan karena terdapat bukti baru yang membuktikan mereka tidak bersalah.
Hukum pembuktian (law of evidence) proses berperkara adalah bagian sentral dalam penegakan hukum , sistm pembuktian dalam hukum acara pidana
berkaitan dengan berbagai aspek antara lain menyangkut teori pembuktian, asas-asas hukum acara dan juga sistem peradilan di Indonesia.
Dalam hukum acara pidana memuat 2 ( dua ) asas hukum yang dituangkan Syaiful Bakhri : 56
56 H.P. Panggabean, Hukum Pembuktian Teori- Praktik Dan Yurisprudensi Indonesia, Alumni, Bandung, Thn 2002, hlm,77.
1. Asas-asas umum
a. Asas kebenaran materiil
Asas ini mengandung prinsip kebenaran materiil yaitu pemeriksaan perkara pidana yang ditujukan untuk menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh sesuai dengan kenyataan.
b. Asas peradilan cepat, sederhana dan biaya murah
asas peradilan cepat menghendaki agar peradilan dilakukan dengan cepat yang artinya dalam pelaksanaan peradilan diharapkan dapat disesuaikan sesegera mungkin dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Sederhana mengandung arti bahwa dalam menyelenggarakan peradilan dengan mudah, singkat dan tidak berbelit-belit.
Biaya ringan berarti biaya penyelenggaraan peradilan ditekankan agar dapat terjangkau oleh pencari keadilan.
c. Asas praduga tak bersalah dan praduga bersalah
Asas ini dikenal dengan istilah “presumption of innocent” yang artinya suatu asas yang menghendaki agar setiap orang yang terlibat dalam perkara pidana harus dianggap belum bersalah sebelum ada putusan ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahanya itu ( pasal 8 Undang-undang No. 4 Tahun 2004 tentang Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman).
Segi positif asas “presemption of innocent” adalah sangat member perhatian terhadap perlindungan HAM, sebab semua tindakan yang dilakukan harus benar berdasarkan aturan-aturan hukum.Segi negative asas ini adalah kesulitan mengendalikan kejahatan jika kejahatan itu sudah sampai pada tingkat jumlah yang banyak.
d. Asas inquisitoir dan accusatoir
Penerapan asas inquisitoir cenderung menempatkan tersangka sebagai objek pemeriksaan tanpa memperoleh hak untuk melakukan kontak dengan keluarga termasuk pendampingan penasihat hukum.
Dalam asas accusatoir, pembinaan terdakwa sudah dijadikan sebagai subyek, sehingga terdakwa telah diberikan hak hukum yang sama dengan jaksa penuntut umum, sementara hakim berada dalam posisi di atas kedua pihak untuk menyelesaikan perkara pidana menurut hukum pembuktian yang berlaku.
KUHAP sejak di berlakukan telah memperkenalkan asas inquisitoir karena meski pihak tersangka dalam status objek pemeriksaan dan dilakukan secara tertutup, tersangka telah diberi hak untuk didampingi oleh penasihat hukum termasuk dalam pemeriksaan tingkat penyidikan. Dalam proses penyelidikan dan penyidikan, penasihat hukum hanya berperan sebagai perlindungan tanpa hak memberikan nasihat dan pembelaan.
2. Asas-asas Khusus
a. Asas legalitas dan oportunitas
Asas legalitas ini menghendaki penuntut umu wajib menuntut semua perkara pidana yang terjadi tanpa memandang siapa dan sebagaimana keadaan pelakunya ke depan sidang pengadilan.
Asas oportunitas memberikan wewenang kepada penuntut umum untuk menuntut atau tidak menuntut seseorang atau suatu badan yang telah melakukan tindak pidana demi kepentingan umum.
b. Asas sidang terbuka untuk umum
Asas membuat prinsip agar setiap persidangan dilakukan secara terbuka untuk dapat disaksikan oleh umum.Masyarakat dapat menyaksikan dan mengontrol agar jalannya sidang dapat berjalan dengan tujuan tanpa ada pemihakan.
c. Asas peradilan dilakukan Hakim, karena jabatannya
Asas ini membuat prinsip bahwa setiap persidangan untuk memeriksa dan mengambil keputusan terhadap kasus perkara yang diajukan ke persidangan dikenakan kepada hakim, yakni jabatan yang bersifat tetap yang diangkat oleh Presiden (pasal 153 KUHAP).Hakim adalah jabatan pelaku kekuasaan kehakiman yang diatur dalam undang-undang.
d. Atas pemeriksaan langsung
Asas ini membuat prinsip yang menghendaki agar pemeriksaan dilakukan dengan menghadapkan terdakwa termasuk saksi-saksi yang ditunjuk di depan persidangan.
KUHAP ( pasal 154 dan 155 ) mengharuskan kehadiran terdakwa dan saksi di persidangan tersebut. Keharusan kehadiran itu berkaitan dengan hukum
pembuktian yang memerlukan informasi dan keterangan yang dapat dijamin kebenarannya, dan sekaligus member jaminan perlindungan HAM.
e. Asas komunikasi dengan Tanya jawab langsung
Asas ini memuat prinsip persidangan pengadilan dalam pengendalian hakim sebagai prinsip-prinsip sidang sesuai ketentuan pasa 164 ayat (2) KUHAP, tanya jawab diantara pihak-pihak yang terlibat perkara dilakukan dengan pemantauan hakim.
Terhadap asas-asas hukum acara tersebut diatas ada tambahan pendapat Bambang Purnomo yang menyatakan adanya 3 (tiga) manfaat/peranan asas tersebut, yaitu :
1. Asas keterbukaan persidangan itu adalah untuk kepentingan sosial control.
2. Asas pemeriksaan langsung untuk kepentingan HAM.
3. Asas komunikasi secara langsung antar dua pihak ( oral debat ) agar terdapat pembahasan yang jelas untuk memperoleh gambaran pembuktian perkara.
Tujuan hukum acara pidana adalah mencari kelemahan materiil dan untuk mencapai tujuan tersebut perlu dipahami adanya beberapa teori/sistem pembuktian. Hakim di Indonesia berperan untuk menilai alat-alat bukti yang diajukan dengan keyakinan sendiri ( yang berbeda dengan peradilan Jury di Amerika Serikat dan Negara-negara Anglo Saxon). Kewenangan hakim untuk menilai kekuatan alat-alat bukti didasari dengan dapat ditelusuri melalui pemahaman atau 4 (empat) klasifikasi teori/sistem pembuktian .
1. Conviction In Time ( Pembuktian Berdasarkan keyakinan hakim )
Sistem ini yang menentukan kesalahan terdakwa semata-mata
keyakinan hakim tanpa dukungan alat bukti yang cukup.Ada kecenderungan hakim untuk menerapakan keyakinannya membebaskan terdakwa dari dakwaan tindak pidana walaupun kesalahannya telah terbukti.
Dengan sistem ini pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan pada alat-alat bukti dalm undang-undang. Sistem ini dianut dalam pengadilan Jury di Perancis, seperti juga di pengadilan adat,.Melalui sistem ini, hakim di pengadilan di zaman dulu banyak membebaskan terdakwa didasari keyakinan hakim yang sulit untuk diawasi.
2. Conviction Raisoning (keyakinan hakim atas alasan-alasan yang logis)
Sistem ini menerapkan keyakinan hakim dengan pembatasan adanya alasan-alasan yang jelas. Alasan-alasan itu harus dapat diterima akal sehat dan bersifat yuridis, sistem ini berpangkal talak pada keyakinan hakim dan pada sitem pembuktian beralasan Undang-undang secara negative.
3. Pembuktian menurut Undang-undang secara positif ( positief wettelijke bewijstheorie)
sistem ini menuntukan pembuktian itu hanya didasarkan kepada alat-alat pembuktian yang disebut undang-undang. Disebut secara positif karena pembuktian itu didasarkan kepada undang-undang, artinya jika telah terbukti suatu perbuatan dengan alat-alat bukti yang disebut undang-undang, aka keyakinan hakim sudah tidak diperlukan lagi.Sistem ini dapat disebut juga formele bewijstheorir yaitu teori pembuktian formal dengan tujuan menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat para hakim secara ketat menerapkan peraturan pembuktian undang-undang tersebut.
5. Pembuktian berdasarkan undang-undang secara negative (negatief wettelijke)
Sistem ini dianut KUHAP dan berdasarkan psal 183 KUHAP, ditentukan bahwa pembuktian harus didasarkan ketentan undang-undang, yakni alat bukti sah yang diatur dala pasal 184 KUHAP diserta keyakinan yang diperoleh dari alat-alat bukti tersebut.
Dengan penerapan sistem ini, pemidanaan itu telah berdasarkan pada sistem pembuktian ganda, yaitu pada peraturan undang-undang dan pada keyakinan hakim, dasar keyakinan hakim bersumber pada peraturan undang-undang.
Andi Hamzah menguti sikap mantan ketua Mahkamah Agung, Witjono Pradjodikoro yang mempertahankan sistem pembuktian ini atas 2 ( dua ) alasan yaitu :
1. Sudah selayaknya harus ada keyakina hakim tentang kesalahan terdakwa 2. Berfaedah jika ada aturan yang mengikat hakim dalam peraturan didasari patokan-patokan yang dibuat undang-undang dalam melakukan penilaian.
Sistem hukum acara pidana melalui ketentuan-ketentuan pasal 184 ayat ( 1 ) KUHAP telah menentukan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang, artinya diperlukan alat-alat bukti tersebut tidak dibenarkan pembuktian atas kesalahan terdakwa.
Jenis-jenis alat bukti dalam pasal 184 KUHAP diperinci sebagai berikut:57
1. Keterangan Saksi
Alat bukti keterangan saksi merupakan alat bukti paling utama dalam perkara pidana, harus hampir semua pembuktian perkara pidana selalu bersandar kepada pemeriksaan keterangan saksi.
Defini saksi dan definisi keterangan saksi secara tegas diatur dalam KUHAP.Berdasarkan pasal 1 angka 26 KUHAP dinyatakan, “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang perkara pidana yang ia dengar sendiri, dan ia alami sendiri”.Sementara itu pasal 1 angka 27 KUHAP menyatakan,”Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, liat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan
Defini saksi dan definisi keterangan saksi secara tegas diatur dalam KUHAP.Berdasarkan pasal 1 angka 26 KUHAP dinyatakan, “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang perkara pidana yang ia dengar sendiri, dan ia alami sendiri”.Sementara itu pasal 1 angka 27 KUHAP menyatakan,”Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, liat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan