TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA SOSIAL
( StudiKasus Putusan Nomor 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat – Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh :
ELMAS CATUR RISKY RAMADHAN NIM : 150200345
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAKSI
Prof. Dr. Alvi Syahrin. SH., M.S*
Syafruddin, S.H., M.H., D.F.M*
Elmas Catur Risky Ramadhan
Pada hakikatnya, teknologi diciptakan untuk memenuhi kebuthan tertentu manusia.
Setelah diciptakan, teknologi dikembangkan agar dapat semakin efektif dan efesien untuk memenuhi kebutuhan, teknologi terus berkembang sehingga teknologi lamapun akan ditinggalakan dan membuat teknologi yang baru. Setelah teknologi diciptakan dan dikembangkan, penggunaan teknologi tersebut dapat sesuai dengan tujuan penciptaan dan pengembangannya maupun diluar tujuan awalnya. Demikian dengan teknologi informasi dan komunikasi, perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi tanpa batas dan menyebabkan perubahan sosial secara signifikan berlangsung secara cepat
Dalam penyusunan skripsi ini Penulis mempergunakan jenis metode penelitian normatif, yaitu metode studi kepustakaan. Dengan metode studi kepustakaan dilakukan pengumpulan data sebanyak mungkin yang berasal dari referensi yang relevan dan berhubungan dengan permasalahan, yaitu meliputi buku, teks, artikel, maupun berita dari internet, dan putusan dari Pengadilan Negeri Medan, maka didapatlah hasil yang dapat menjawab semua permasalahan berhubungan dengan judul skripsi ini.
Hukum yang mengatur tentang Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di Indonesia di atur di dalam Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) pada Pasal 310 ayat (1), Pasal 311 ayat (1), Pasal 315, Pasal 317 ayat (1), Pasal 318 ayat (1), Pasal 320 ayat (1). Analisa Hukum Pidana Terhadap Kasus Pencemaran Nama Baik melalui media sosial ( Studi Putusan Nomor 3006/PID.SUS/2017PN.MDN ) adalah penerapan Hukum Pidana Materiil terhadap pelaku tindak pidana pencemaran nama baik dalam putusan tersebut telah sesuai karena telah memenuhi unsur – unsur sebagaimana diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU No. 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Kata Kunci : Teknologi Informasi, Pencemaran Nama Baik
* Dosen Pembimbing I Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Dosen Pembimbing II Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan jidayah-Nya serta kesehatan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Salawat beriring salam diberikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kebaikan dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.
Berdasarkan yang tercatumdalamhalamandepandariskripsiini, judul yang telahdipilihialah"TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PUTUSAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA SOSIAL (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN” adalah gua untuk memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Terselesaikannya tugas akhir ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang. Untuk itu melalui kesempatan ini dan dengan seluruh kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara ;
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Prof. Dr. O.K. Saidin, S.H, M.Hum. selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,
4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H, M.Hum. selaku Wakil Dekan II dan selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis yang telah membimbing penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum. selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Dr. H M. HAMDAN, S.H., M.H. selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Ibu Liza Erwina selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
8. Bapak Prof. Dr Alvi Syahrin, SH., MS selaku Dosen Pembimbing I penulis.
9. Bapak Syafruddin, S.H., M.H., DFM selaku Dosen pembimbing II 10. Segenap Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang
telah membimbing penulis selama masa perkuliahan ;
11. Seluruh staf dan pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
yang telah memberikan pelayanan dan arahan yang baik terkait dengan
kegiatan perkuliahan ;
ayah pasti liat perjuangan ami dari sana, ami sayang ayah dan ibuk Elmita untuk setiap hari memberi doa, kasih sayang dan dukungan yang selalu diberikan kepada ami untuk selalu belajar dan menimba ilmu dengan gigih.
13. Secara khusus juga Penulis persembahkan kepada kakak-kakak kandung Penulis Elmas Eka Muliani S.H, Elmas Dwi Ainsyah S.H dan Elmas Yuliantri S.H yang selalu mendukung dan menyayangi dan juga mengerti Penulis sebagai adik laki-laki satu-satunya .
14. Sahabat-sahabat saya Wikye, Mutek, Eki, Rendra, icuk, aiy, ibal, tika apis, sandra dan wika terima kasih banyak karena selalu mendukung dan selalu menghibur saya dan selalu memberi suka cita kepada saya dalam menjalani hari-hari saya selama ini. Terima kasih selalu ada dalam suka dan duka. Terimakasih telah banyak mengajarkan banyak pelajaran hidup dan mengajarkan bagaimana mencintai diri sendiri, mengingatkan untuk tetap hidup di dunia ini.
15. Sahabat-sahabat saya genk “UDA JUARA/ GGS” Anggi, Tio, Said, Aldi, Doni, Gugi, Imam yang selalu berada bersama saya baik senang maupun susah dan selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan perspektif saya tentang dunia dan hal-hal yang tidak banyak orang dapat mengerti dan dapat memaklumi kekurangan saya.Terima kasih karena selalu menjadi Rumah, sejauh apapun saya pergi saya akan selalu rindu pulang, rindu Rumah karena kalian lebih dari sahabat melainkan keluarga yang saya jadikan Rumah untuk berpulang.
16. Sahabat saya Dedi Syahputra Daulay dan Lady Nadya untuk selalu menghibur dan memberi semangat serta tidak hentinya memberi nasihat-nasihat yang membangun. Semoga kita selalu bisa bersama dan selalu menjadi sahabat baik kedepannya. Terima kasih telah banyak membantu dan berjuang bersama selama 3 tahun lebih di kampus kita.
17. Sahabat-sahabat pertemanan “SH” Icha, Nadya Temi, Nadu, Alep, Adit Dedi. Terima Kasih atas waktunya selama kita kuliah ini untuk membagi cerita, membantu dalam kulih ini serta kebahagiaan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Terima Kasih untuk waktu dan kenangan yang tak tergantikan.
18. Teman-teman saya Olak, ryan, najah, vina, nomik, yasmin, satria, Gabriel. Terima kasih atas waktunya untuk membagi cerita serta kebahagiaan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Terima Kasih untuk waktu dan kenangan yang tak tergantikan.
19. Sahabat-sahabat Genk emot brokoli yang nama grupnya sering
berubah-ubah Mirza, rani, bagas, jajak, terimakasih uda mau jadi
sahabat baruku.
20. Teman-teman saya Endang Dwi Handayani,SH (Tatan) dan Muhammad Khaidir Batubara,SH yang telah banyak mendukung saya sejak pertama masuk di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih uda jadi acuan buat semangat ngejar seperti kalian.
21. Teman-teman Klinis saya Ira, veby, kimi, anggi, icha, melfita, tika, risma, audi, fanni. Terima kasih untuk perjuangan klinis yang tiada tergantikan keseruannya.Terima kasih untuk memilih saya sebagai anggota kelompok klinis. Saya merasa sangat beruntung karena dapat menjadi bagian dari kelompok klinis teman-teman sekalian. Semoga kita sukses selalu.
22. Terima Teman-teman seangkatan tahun 2015 , terkhusus Grup c.
Medan, Februari 2019 Hormat Penulis
ELMAS CATUR RISKY R
NIM.150200345
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ...
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan dan manfaat Penulisan ... 6
D. Keaslian Penulisan ... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 8
1. Pengertian Tindak pidana ... 8
2. Pengertian Pencemaran Nama Baik ... 10
3. Pengertian Internet ... 13
F. Metode Penelitian ... 17
G. Sistematika Penulisan ... 19
BAB II : PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK ... 21
A. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Berdasarkan Ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP) ... 21
B. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik dalam undang-undang nomor 19 tahun 2016 tantang informasi dan transaksi elektronik .. 34
C. Pencemaran Nama Baik Dalam UndangUndang Nomor Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ... 52
BAB III : PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK PENCEMARAN NAMA BAIK MELAUI MEDIA SOSIAL ... 59
A. Pembuktian berdasarkan Kitap Undang-Undang Hukum Acara Pidana ... 59
B. Pembuktian berdasarakan UU No 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi eletronik ... 87
BAB IV :PENERAPANHUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA
PENCEMARAN NAMA BAIK MELALUI MEDIA SOSIAL (
BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MEDAN
NO 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN) ... 94
A. Kasus ... 94
1. Kronologis ... 94
2. Dakwaan ... 103
3. Tuntutan ... 103
4. Fakta-fakta hukum ... 108
5. Pertimbangan hukum ... 118
6. Vonis hakim ... 137
B. Analisi Putusan ... 139
BAB V : PENUTUP ... 145
A. Kesimpulan ... 145
B. Saran ... 146
Daftar Pustaka ... 147
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada hakikatnya, teknologi diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tertentu manusia. Setelah diciptakan, teknologi dikembangkan agar dapat semakin efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan, teknologi terus berkembang sehingga teknologi yang lamapun akan ditinggalkan dan membuat teknologi yang baru.
Menurut Didik J. Rachbini, teknologi informasi dan media elektronika dinilai sebagai simbol pelopor, yang akan mengintegrasikan seluruh sistem dunia, baik dalam aspek sosial, budaya, ekonomi dan keuangan.
1Tetapi setelah teknologi diciptakan dan dikembangkan, penggunaan teknologi tersebut dapat sesuai dengan tujuan penciptaan dan pengembangannya maupun di luar tujuan awalnya.Demikian pula dengan teknologi informasi dan komunikasi.
Era globalisasi yang kita lalui menjadi tanda perkembangan teknologi itu sendiri.Globalisasi telah menjadi pendorong lahirnya era perkembangan teknologi informasi.
21Dikdik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum TeknologiInformasi, (Refika Aditama, Bandung, 2005), hal, 1-2
2Budi Suharyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cyber Crime) : UrgensiPengaturan dan Celah Hukumnya (Jakarta : Rajawali Pers, 2013), hal 1.
Dampak dari globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini dapat
kita lihat sendiri yaitu memudahkan kehidupan manusia seperti mudah
memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan, dapat mengembangakn cara
berpikir.Dimana melalui alat-alat elektronik tersebut kita dapat memasuki dunia
yang seolah nyata melalui jaringan internet yang lebih sering kita kenal dengan
dunia maya.Dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang sedemikian
rupa, dunia telah memasuki era baru komunikasi, Dengan demikian, teknologi informasi ini telah mengubah perilaku masyarakat global.Di samping itu perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial secara signifikan berlangsung demikian cepat.Sehingga dapat dikatakan teknologi informasi saat ini telah menjadi pedang bermata dua, karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif bagi terjadinya perbuatan-perbuatan melawan hukum.
3Dengan terjadinya perbuatan melawan hukum tersebut, maka ruang lingkup hukum harus diperluas untuk dapat menjangkau perbuatan-perbuatan tersebut.
4Belakangan ini kita sering mendengar revolusi industry 4.0, industry 4.0
ini adalah industry yang menghubungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi
cyber, ini merupakan tren otomastisasi dan pertukaran data dalam teknologi
manufaktur. Prinsip-prinsip industry 4.0 memungkinkan produsen untuk
menyelidiki transformasi potensi untuk teknologi industry 4.0, antara lain
Imteroperabilitas, Virtualisasi, Desentralisasi, Kemampuan Real-Time, Orientasi
Layanan, Modularitas. Mungkin dalam era teknologi informasi ini setiap manusia
dalam dunia maya memiliki kebebasan mendasar antara lain untuk tidak memakai
identitas asli mereka ( menggunakan identitas palsu atau samara), untuk
berinteraksi dengan manusia yang berada di dunia maya tersebut. Penggagas
ideologi ini melihat bahwa internet adalah milik bersama dan oleh karena itu
setiap orang memiliki hak penuh untuk berada dan melakukan interaksi di
dalamnya.Pemerintah tidak perlu turut campur dengan membuat regulasi yang
membatasi kebebasan mereka.Sehingga di dalam dunia maya sering terjadi kejahatan seperti pengancaman, pencurian, pencemaran nama baik, pornografi, perjudian, hingga penipuan. Akan tetapi, kemajuan teknologi informasi (internet) dan segala bentuk manfaat di dalamnya membawa konsekuensi negatif tersendiri di mana semakin mudahnya para penjahat melakukan aksinya yang semakin merisaukan masyarakat. Penyalahgunaan yang terjadi dalam cyber space ini yang kemudian dikenal dengan cyber crime atau dalam literatur lain digunakan istilah computer crime.
Menurut Walden, cybercrimes adalah bagian dari computer crimes.
5Walden melihat bahwa pengklasifikasian computer crimes dapat didasarkan pada teknologi (technology-based), motivasi (motivation-based), hasil (outcome-based), dan komunikasi (communication-based), serta informasi (information-based). Tindak kejahatan dunia maya atau Cybercrime merupakan tindakan yang banyak mendapatkan perhatian. Sebelum mengurai pengertian Cyber Crime secara terperinci, maka terlebih dahulu akan dijelaskan “induk”
cybercrimes yaitu cyber space.Cyber space dipandang sebagai sebuah duniakomunikasi berbasi komputer.Dalam hal ini, cyber space di anggap sebuah realitas dalam kehidupan manusia yang dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan internet. Realitas baru ini dalam kenyataannya terbentuk melalui jaringan komputer yang menghubungkan antarnegara atau antarbenua yang berbasis protokol transmission control protocol/internet protocol.
65Josua Sitompul, CyberSpace,CyberCrimes,Cyberlaw Tinjauan Aspek HukumPidana, Jakarta, PT. Tatanusa, Hal 37.
6Maskun,kejahatan siber ( Cyber Crime) suatu pengantar,( Jakarta : kencana,2013), hal.
46.
Dalam perkembangan
selanjutnya kehadiran teknologi canggih komputer dengan jaringan internet telah membawa manfaat besar bagi manusia.
Cyber crime di sisi lain, bukan hanya menggunakan kecanggihanteknologi komputer, akan tetapi juga melibatkan teknologi telekomunikasi di dalam pengoperasiannya. Untuk lebih jelasnya posisi cyber space dapat dilihat pada bagian evolusi cyberlaw (hukum cyber yang merupakan aturan dalam (cyberspace) di halaman berikut ini.
7Perbedaanmendasar cyber crimes dan computer crime sebagaimana yang dikemukakan oleh Nazura Abdul Manaf adalah adanyaunsur komputer yang terkoneksi melalui perangkat telekomunikasi dalam bentuk internet online yang menjadi media bagi seseorang atau kelompok untukmelakukan pelanggaran dan/atau kejahatan.
8Heidegger berpendapat bahwa di satu sisi teknologi dapat dilihat sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi, di sisi lain teknologi juga dapat dilihat sebagai aktivitas manusiawi. Pada dasarnya, setiap teknologi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dan melalui teknologi itu diberikan suatu manfaat dan layanan bagi manusia termasuk meningkatkan keefisienan dan keefektivitasan kerja.
9Untuk mengatasi masalah cybercrime ini pemerintah membuat Undang- undang khusus untuk cybercrime ini, yaitu Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik selanjutnya disebut sebagai UU ITE.
Undang-undang ini sebagai aturan-aturan atau pedoman-pedoman untuk
menggunakan internet dengan baik dan benar, serta memberikan batasan-batasan apa saja yang boleh diperbuat di internet.
Undang-undang ini menjadi dasar hukum bagi semua aktivitas dan transaksi di internet dan media elektronik, Dalam UU ITE ini terdapat bagian tersendiri mengenai perbuatan yang dilarang, yaitu dalam Bab VII dengan rincian sebagai berikut :
Pasal 27: asusila, perjudian, penghinaan, pemerasan
Pasal 28: berita bohong dan menyesatkan, beritakebencian permusuhan Pasal 29: ancaman kekerasan dan menakut-nakuti
Pasal 30: akses komputer pihak lain tanpa Izin, cracking Pasal 31: penyadapan, perubahan, penghilangan informasi
Pasal 32: pemindahan, perusakan dan membuka informasi rahasia Pasal 33: virus, membuat sistem tidak bekerja
Pasal 35: menjadikan seolah dokumen otentik
Maka terlihat bahwa media internet sekarang sering terjadi penghinaan/pencemaran nama baik yang dilakukan oleh masyarakat, UU ITE ini memiliki pasal khusus mengenai penghinaan/pencemaran nama baik yaitu pasal 27 ayat (3). Pasal ini merupakan ancaman bagi seseorang yang dengan sengaja melakukan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik kepada orang lain dengan menggunakan akses informasi elektronik atau dokumen elektronik.
Oleh karena itu, dalam skripsi ini akan diuraikan mengenai tindak pidana
pencemaran nama baik melalui media sosial. Dalam menguraikan hal tersebut
maka penulis akan menguraikan mengenai tindak pidana pencemaran nama baik
berdasrakan KUHP dan upaya penanggulangan terjadinya tindak pidana
pencemaran nama baik melalui media sosial. Kemudian akan diulas juga tentang
penerapan hukum yang telah ada dalam penanganan tindak pidana teknologi
informasi, dengan menganalisis Putusan Pengadilan Negeri Medan dengan
Register Nomor : 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN
B. Rumusan Masalah
Setelah menguraikan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan, yaitu:
1. Bagaimana Tindak Pindana Pencemaran Nama Baik Berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia?
2. Bagaimana pembuktian Tindak Pindana Pencemaran Nama Baik Penemaran Nama Baik Melalui Media Sosial?
3. Penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melaui Media Sosial (Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Medan No.3006/Pid.sus/2017/PN.MDN)?
C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana tindak pindana pencemaran nama baik berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia.
2. Untuk mengetahui bagaimana pembuktian Tindak Pindana Pencemaran Nama Baik Penemaran Nama Baik Melalui Media Sosial
3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melaui Media Sosial (Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Medan No.3006/Pid.sus/2017/PN.MDN)
Manfaat penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Penulis berharap penulisan ini akan menjadi bahan untuk penelitian lebih
lanjut dalam bidang hukum pidana pada umumnya dan tentang Tindak Pidana
bahanmasukan bagi mahasiswa serta dapat memperluas dan menambah pengetahuan mengenai hukum pidana pada umumnya dan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Tindak Pidana Cybercrime pada khususnya.
2. Manfaat praktis
Penulis berharap penulisan skripsi ini dapat menambah wawasan bagi pihak-pihak yang terkait dan sebagai masukan bagi masyarakat serta aparat penegak hukum khususnya kepolisian, agar tidak hanya mengacu kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam menyelesaikan suatu kasus.Khususnya dibidang Cybercrime.
D. Keaslian Penulisan
Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang sama, maka peneliti melakukan pemeriksaan data tentang judul skripsi, ”Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Sosial ( Studi Kasus Putusan Nomor 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN). Berdasarkan data yang diperoleh mengenai judul yang persis sama dengan judul di dalam penelitian ini, di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, ternyata penelitian ini belum pernah dilakukan peneliti lain dalam topik dan permasalahan yang sama.
Dengan demikian, maka penelitian ini dapat dikatakan memiliki keaslian,
dan jauh dari unsur plagiat serta sesuai dengan asas-asas keilmuan yang harus
dijunjung tinggi yaitu kejujuran, rasional, objektif dan terbuka. Hal ini sesuai
dengan implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah sehingga dengan
demikian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara
ilmiah.
E. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Tindak Pidana
Tindak Pidana ialah perbuatan yang melanggar larangan yang diatur oleh aturan hukum yang diancam dengan sanksi pidana.Dalam rumusan tersebut bahwa tidak boleh dilakukan adalah perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang dan yang diancam sanksi pidana bagi orang yang melakukan perbuatan tersebut.Menurut Andi Hamzah tindak pidana adalah perbuaatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang-Undang.
10Tindak Pidana dalam kamus hukum artinya adalah suatu perbuatan yang merupakan suatu tindak pidana yang dapat dijatuhi hukuman.
11Moelyatno, tidak menggunakan istilah tindak pidana rumusan diatas, tetapi mengunakan kata “perbuatan pidana” kata perbuatan dalam perbuatan pidana mempunyai arti abstrak yaitu suatu pengertian yang merujuk pada 2 (dua) kejadian yang konkret yaitu:
Tiap-tiap perbuatan pidana harus terdiri atas unsur-unsur lahir, oleh karena itu perbuatan yang mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan adalah suatu kejadian dalam alam lahir.Disamping kelakuan dan akibat untuk adanya perbuatan pidana, biasanya diperlukan juga adanya hal ihwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan.
12
a. Adanya kejadian tertentu yang menimbulkan akibat yang dilarang; dan b. Adanya orang yang berbuat dan menimbulkan kejadian itu.
10Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), hal. 16.
Sedangkan pembentuk undang-undang telah menggunakan perkataan
“strafbaarfeit” untuk menyebutkan apa yang dikenal sebagai tindak pidana di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP) tanpa memberikan suatu penjelasan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan perkataan
“strafbaarfeit”. Perkataan feit sendiri di dalam bahasa Belanda berarti sebahagian dari suatukenyataan, sedangkan “strafbaarfeit” itu dapat diterjemahkan sebagai suatu kenyataan yang dapat dihukum, yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak akan diketahui bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan atau tindakan.
Hazewinkel-Suringa membuat rumusan yang umum dari strabaar feit sebagai perilaku manusia yang pada suatu saat tertentu telah ditolak dalam sesuatu pergaulan hidup tertentu dan dianggap sebagai perilaku yang harus diadakan oleh hukum pidana dengan menggunakan yang sarana-sarana yang bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya.
13Menurut Pompe perkataan strafbaarfeit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu: “pelanggaran norma atau gangguan terhadap tertib hukum yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, di mana penjatuhan hukuman terhadap pelaku itu adalah penting demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum”. Sangatlah berbahaya untuk mencari suatu penjelasan mengenai hukum positif yakni semata-mata dengan menggunakan pendapat secara teoritis.Perbedaan antara hukum positif dengan teori adalah semu.Oleh karena itu, yang terpenting dalam teori itu adalah tidak seorang pun dapat dihukum kecuali tindakannya benar-benar melanggar hukum
13P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 1.
dan telah dilakukan dalam bentuk schuld, yakni dengan sengaja atau tidak dengan sengaja.Adapun hukum kita juga mengenal adanya schuld (kesalahan) tanpa adanya suatu wederrechtelijk heid (perbuatan melawan hukum).
14J.E Jonkers memberikan dua pengertian mengenai strafbaar feit yaitu:
11a. Definisi pendek memberikan pengertian “strafbaar feit” adalah suatu kejadian (feit) yang dapat diancam pidana oleh Undang-Undang;
b. Definisi panjang atau lebih mendalam yang memberikan pengertian
“strafbaar feit” adalah suatu kelakuan yang melawan hukum berhubung dilakukan dengan sengaja atau culpa oleh orang yang dapat di pertanggungjawabkan.
Setelah melihat berbagai definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang disebut dengan tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarangan dan diancam pidana, dimana pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) juga perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatau yang sebenarnya diharuskan oleh hukum).
2. Pengertian Pencemaran Nama Baik
Secara umum pencemaran nama baik (Defamation) adalah tindakan mencermarkan nama baik seseorang dengan cara menyatakan sesuatu baik melaui lisan ataupun tulisan. Pencemaran nama baik terbagi ke dalam beberapa bagian :
151. Secara lisan, yaitu pencemaran nama baik yang diucapkan
2. Secara tertulis, yaitu pencemaran nama baik yang dilakukan dengan
tulisan.
Delik dalam pencemaran nama baik merupakan delik yang bersifat subyektif yang artinya penilaian terhadap pencemaran sangat bergantung pada pihak yang diserang nama baiknya. Oleh karenanya, delik dalam pencemaran merupakan delik aduan yang hanya bisa diproses oleh pihak yang berwenang jika ada pengaduan dari korban pencemaran. Pencemaran nama baik merupakan delik penyebaran. Artinya, substansi yang berisi pencemaran disebarluaskan kepada umum atau dilakukan di depan umum oleh pelaku. Orang yang melakukan pencemaran nama baik dengan menuduh suatu hal yang dianggap menyerang nama baik seseorang atau pihak lain harus diberi kesempatan untuk membuktikan tuduhan itu.
Bagi bangsa indonesia, pasal pencemaran nama baik dianggap sesuai
dengan karakter bangsa ini yang menjunjung tinggi adat dan budaya timur,
pencemaran nama baik dianggap melanggar norma sopan santun bahkan bisa
melanggar norma agama jika yang dituduhkan mengandung unsur fitnah. Sampai
saat ini di Indonesia belum ada definisi hukum yang tepat dan jelas tentang apa
yang disebut pencemaran nama baik. Dalam bahasa inggris pencemaran baik
diartikan sebagai defamation, slander, dan libel. R. Soesilo dalam bukunya yang
berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasaldalam penjelasan Pasal 310KUHP,
menerangkan bahwa, “menghina” adalah “menyerang kehormatan dan nama baik
seseorang”. Yang diserang ini biasanya merasa “malu” “kehormatan” yang
diserang disini hanya mengenai kehormatan tentang “nama baik”, bukan
“kehormatan” dalam lapangan seksual, kehormatan yang dapat dicemarkan karena tersinggung anggota kemaluannya dalam lingkungan nafsu birahi kelamin.
161. Unsur “barangsiapa”.
Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008 harus di jo Pasal 310 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana tentang pencemaran nama baik.
Pasal 310 ayat (2) Kitab Undang – Undang Hukum Pidana yang unsur – unsurnya sebagai berikut :
2. Unsur “sengaja”.
3. Unsur “merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan tulisan atau gambar”.
4. Unsur “disiarkan, dipertunjukan pada umum atau ditempel”.
Sedangkan Pasal 311 ayat (1) Kitab Undang – Undang Hukum Pidana unsur- unsurnya adalah :
1.Unsur “barangsiapa”.
2.Unsur “melakukan kejahatan atau menista dengan tulisan”.
3. Unsur “membuktikan tuduhannya benar atau tidak”.
Pasal 27 ayat (3) Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan “dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan /atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.
3. Pengertian Internet
Dengan masuknya media internet dalam dunia perdagangan/bisnis, banyak hal – hal mengalami perubahan, seperti pendekatan para pihak dalam bertransaksi menjadi semakin renggang, karena masing – masing pihak praktis tidak mengenal secara dekat satu sama lain (pengenalan hanya diketahui melalui media komputer), ketidakjelasan mengenai barang yang ditawarkan, terlebih bila barang yang ditawarkan membutuhkan pengenalan secara fisik (seperti parfum, obat – obatan), kepastian bahwa barang yang dikirim sesuai dengan barang yang dipesan, padahal kita ketahui bahwa hubungan yang timbul antara konsumen dengan pelaku usaha senantiasa dimaksud agar kedua belah pihak menikmati keuntungan.
Kondisi inilah yang sering timbul dalam setiap transaksi dengan mempergunakan internet.Sebaliknya undang – undang perlindungan konsumen yang sekarang berlaku di Indonesai masih berbasis pada sesuatu yang sifat fisiknya belum kepada virtual/maya.
Semakin pesatnya sistem teknologi ilmu komunikasi dan semakin mengglobalnya segala sistem, semakin memperpendek jarak dan batas antar negara telah mempermudah segala hal.Sistem komunikasi dengan media internet telah mendominasi berbagai pola bentuk kehidupan manusia, terutama dibidang model yang inovatif dan kreatif yang mengikuti perkembangan teknologi canggih dibidang sarana komunukasi dan telemunikasi.Hal ini ditandai dengan munculnya internet, cybernet atau world wide web (www), yakni teknologi yang memungkinkan adanya transformasi secara cepat keseluruh jaringan dunia melalui dunia maya.
1717Nidyo Pramono, “Beberapa Aspek Penting Terkait Dengan Pengembangan Konsentrasi Hukum Bisnis Dala Era Global.” Makalah disampaikan pada Workshop Program Ilmu DoktorIlmu Hukum UII, Yogyakarta, Rabu 1 November 2000, hal. 5
Menurut Soerjono Soekanto, kemajuan di bidang teknologi akan berjalan bersamaan dengan munculnya perubahan – perubahan di bidang kemasyarakatan.
Perubahan-perubahan di dalam masyarakat dapat mengenai nilai sosial, kaidah – kaidah sosial, pola – pola perikelakuan, organisasi, dan susunan lembaga kemasyarakatan.
18Pesatnya perkembangan teknologi itu telah membentuk masyarakat informasi internasional, termasuk di Indonesia. Sehingga, satu sama lain menjadikan belahan dunia ini sempit dan berjarak pendek. Berbisnis pun begitu mudahnya, seperti membalikkan telapak tangan saja.
19Menurut mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi pada Kabinet Indonesia Bersatu I, Syamsul Muarif, teknologi telah mengubah pola kehidupan manusia di berbagai bidang, sehingga secara langsung telah mempengaruhi munculnya perbuatan hukum baru di masyarakat.Bentuk – bentuk perbuatan hukum itu perlu mendapatkan penyesuaian, seperti melakukan harmonisasi terhadap beberapa perundangan yang sudah ada, mengganti jika tidak sesuai lagi, dan membentuk ketentuan hukum yang baru.
20Pembentukan peraturan perundang – undangan di era teknologi informasi ini harus dilihat dari berbagai aspek. Misalnya dalam hal pengembangan rule of law dan internet, jurisdiksi dan konflik hukum, pengakuan hukum terhadap
18Soejono Soekanto, Pokok- pokok Sosiologi Hukum, ( Jakarta :Rajawali Pers, 1980),hal.
87-88.
dokumen serta tanda tangan elektronik, perlindungan dan privasi konsumen, cybercrime, pengaturan konten dan cara-cara penyelesaian sengketa domain.
21Nama domain sebagai unsur penting dalam internet merupakan alamat jati diri seseorang, perkumpulan, organisasi, atau badan usaha, yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi melalui internet, yang berupa kode atau susunan karakter yang bersifat unik dan menunjukkan lokasi tertentu dalam internet.
22Secara teknis, nama domain adalah konversi dari alamat IP (Internet Protocol) yang merupakan alamat (dalam angka) suatu host, server atau komputer yang terhubung pada jaringan internet yang dikelola oleh institusi yang memiliki jaringan global.
23Kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya penemuan- penemuan baru seperti internet, merupakan salah satu penyebab munculnya perubahan sosial, disamping penyebab lainnya seperti bertambah atau berkurangnya penduduk, pertentangan – pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri.
24Hal yang sama dikemukakan oleh Satjipto Raharjo bahwa. “Dalam kehidupan manusia banyak alasan yang dapat dikemukakan sebagai penyebab timbulnya suatu perubahan di dalam masyarakat, tetapi perubahan dalam penerapan hasil- hasil teknologi modern dewasa ini banyak disebut – sebut sebagai salah satu sebab bagi terjadinya perubahan sosial”.
2521Ibid
22Pasal 1 Angka 19 RUU ITE. Ketentuan tentang nama domain juga diatur dalam Pasal 23 RUU ITE versi 20 Agustus 2004
23Ahmad M. Ramli, Cyber Law dan HAKI, (Bandung : PT Refika Aditama, 2006), hal.12
24Soejono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, ( Jakarta : Rajawali, 1992,) hal.352
25Satjipto Raharjo, Hukum dan Masyarakat,( Bandung : Angkasa, 1980), hal.96.
Didik J. Rachbini, dalam pelaksanaannya sistem teknologi terpaksa berbenturan dengan nilai – nilai moral. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh produk teknologi informasi, seperti internet menyebabkan proses perkembangan teknologi informasi belum mencapai tingkat kemapanan.
26Walaupun kemajuan teknologi menimbulkan dampak negatif, tetapi justru menurut sebagaian orang, kemajuan teknologi seperti internet banyak memberikan manfaat, baik dari segi keamamanan maupun kenyamanan.Batas ruang dan waktu menjadi hilang atau tipis dengan adanya jaringan komputer internet.
27Pada mulanya jaringan internet hanya dapat digunakan oleh lingkungan pendidikan (perguruan tinggi) dan lembaga penelitian.Kemudian tahun 1995, internet baru dapat digunakan untuk publik. Beberapa tahun kemudian, Tim Berners – Lee mengembangkan aplikasi world wide web (www) yang memudahkan orang untuk mengakses informasi di internet. Setelah dibukanya internet untuk keperluan publik semakin banyak muncul aplikasi – aplikasi bisnis di internet.
28Aplikasi bisnis yang berbasiskan teknologi internet ini mulai menunjukkan adanya aspek finansial.
29Misalnya, internet digunakan sebagai sarana untuk memesan/reservasi tiket (pesawat terbang, kereta api), hotel, pembayaran tagihan, telepon, listrik, dan sebagainya. Hal ini ini mempermudah konsumen dalam menjalankan aktivitas/transaksi bisnisnya.Konsumen tidak perlu keluar rumah dan
26Didik J. Rachbini, “ Mitos dan Implikasi Globalisasi : Catatan Untuk Bidang Ekonomi dan Keuangan pengantar Edisi Indonesia dalam Hirst , Paul dan Grahame Thompson , Globalisasi Adalah Mitos. Jakarta, Yayasan Obor, 2001
antri untuk memperoleh layanan yang diinginkan karena dapat dilakukan di dalam rumah, begitu pula tingkat keamanannya yang relatif lebih terjaga.
30Umumnya suatu masyarakat yang mengalami perubahan akibat kemajuan teknologi, banyak melahirkan masalah – masalah sosial.Hal itu terjadi karena kondisi masyarakat itu sendiri yang belum siap menerima perubahan atau dapat pula karena nilai-nilai masyarakat yang telah berubah dalam menilai kondisi lama sebagai kondisi yang tidak lagi dapat diterima.
31Dalam penulisan ilmiah terdapat beraneka ragam jenis penelitian. Dari berbagai jenis penelitian, khususnya penelitian hukum, yang paling popular dikenal adalah sebagai berikut :
Dampak negatif terjadi pula kibat pengaruh penggunaan media internet dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Melalui media internet beberapa jenis tindak pidana semakin mudah untuk dilakukan seperti, tindak pidana pencemaran nama baik, pornografi, perjudian, pembobolan rekening, perusakan jaringan cyber (hacking), penyerangan melalui virus (virus attack) dan sebagainya.
Seiring dengan kemudahan untuk melakukan transformasi secara cepat melalui internet ternyata dari segi hukum membawa konsekwensi tersendiri.Konsekwensi hukum yang terlihat yakni, lahirnya berbagai bentuk pelanggaran hukum yang mengarah pada suatu perbuatan kriminal.
F. Metode Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian:
1. Jenis Penelitian
45
30Dikdik M. Arief Mansur, Elisatris Gultom, Op.Cit , hal 5
31Horton, Paul B. dan Chester L. hunt, Sosiologi, (Jakarta : Erlangga, 1984) hal 237.
a. Penelitian hukum normatif (yuridis normatif) atau penelitian hukum kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan kepustakaan atau hanya menggunakan data sekunder belaka.
b. Penelitian hukum empiris yang dilakukan dengan cara terutama meneliti data primer yang diperoleh di lapangan selain juga meneliti data sekunder dari perpustakaan.
Sesuai dengan tujuan skripsi ini, maka penelitian hukum yang digunakan adalah penelitian hukum normatif atau disebut juga dengan studi kepustakaan (libraryresearch).
2. Jenis Data
Jenis data yang dipakai dalan penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari :
a. Bahan hukum primer yaitu ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat, baik peraturan yang diadaptasi oleh Pemerintah Republik Indonesia, yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) maupun peraturan yang sedang dirancang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan hukum yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer seperti seminar-seminar, jurnal-jurnal hukum, majalah- majalah, koran-koran, karya tulis ilmiah, dan beberapa sumber dari internet yang berkaitan dengan persoalan di atas.
c. Bahan hukum tersier yaitu semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan
keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan skripsi ini digunakan metode Library Research (penelitian kepustakaan) yaitu melakukan penelitian dengan berbagai sumber bacaan seperti: peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, internet, pendapat sarjana, dan bahan lainnya yang sangat berkaitan dengan skripsi ini.
4. Analisa Data
Data yang diperoleh melalui studi pustaka dikumpulkan dan diurutkan, kemudian diorganisasi dalam satu pola, kategori dan satu uraian dasar. Analisa data dalam skripsi ini adalah analisa dengan cara kualitatif yaitu menganalisa secara lengkap dan komprehensif keseluruhan data sekunder yang diperoleh sehingga dapat menjawab permasalahan-permasalahan dalam skripsi ini.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan Karya ilmiah ini secara garis besar terdiri dari V (lima) Bab, dimana masing-masing berisikan tentang :
BAB I : Pendahuluan. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan penulisan, dan sistematika penulisan
BAB II : merupakan pembahasan dari rumusan masalah yang pertama. Dimana
dalam bab ini akan ditinjau secara umum definisi dari tindak pidana pencermaran
nama baik melalui media sosial. Kemudian pada bab ini juga akan dibahas perihal
pengaturan tindak pidana pencemaran nama melalui teknologi informasi dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi
elektronik.
BAB III : merupakan pembahasan dari permasalahan yang kedua yaitu mengenai pembuktian tindak pidana pencemaran nama baik melalui media sosial dalam penanganan tindak pidana teknologi informasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Pada awal bab akan terlebih dahulu dibahas terkait alat bukti secara umum, yakni pengaturan kejahatan di internet yang tentunya diatur dalam KUHAP. Kemudian akan dilanjutkan kepada pembahasan upaya pencegahan tindak pidana pencemaran nama baik di media sosial melalui kebijakan hukum pidana dan kebijakan non-hukum pidana.
BAB IV : Dalam bab ini akan ditinjau secara yuridis putusan pengadilan terhadap perkara pidana pengcemaran nama baik melalui media sosial. dalam hal ini, akan ditinjau putusan Nomor : 3006/PID.SUS/2017/PN.MDN
BAB V : merupakan bagian akhir dalam penulisan skripsi ini. Sebagai bagian
akhir atau penutup penulis akan menguraikan beberapa kesimpulan sebagai hasil
dari penelitian dan pembahasan dalam bab-bab sebelumnya, serta akan
memberikan beberapa saran bagi perbaikan dan perubahan di masa yang akan
datang mengenai tindak pidana cyber terutama terkait pada media sosial yang
diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait.
BAB II
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK
A. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Berdasarkan KUHPidana
Tindak pidana merupakan terjemahan dari istilah bahasa Belanda disebutstrafbaarfeit atau delict. Banyak juga ahli yang menerjemahkan degan istilah “perbuatan pidana” atau “perbuatan yang dapat dipidana”. Menurut Moeljatno, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu.
Tidak semua pebuatan manusia dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.
Simons mengemukakan tentang unsur-unsur tindak pidana (strafbaar feit) yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana, yaitu: perbuatan manusia (baik perbuatan positif (melakukan) atau negative ( tidak melakukan atau membiarkan diancam dengan pidana (statbaar gesteld);
melawan hukum (onrechtmatig); dilakukan secara bersalah (met schuld in verband stand); dilakukan oleh orang yang mampu dipertanggung jawabkan secara hukum pidana (toerekeningsvatoaar person).
Penghinaan ( Beleediging) atau pencemaran nama baik dapat diartikan
sebagai suatu tindakan menyerang kehormatan dan nama baik seseorang
dengan cara menuduh dia melakukan suatu perbuatan. Undang-udang sendiri
tidak memberikan penjelasan yang tentang pencemaran nama baik atau
penghinaan ini. Di dalam penghinaan atau pencemaran nama baik ini hal yang
harus dilindungi adalah kehormatan seseorang dan nama baik seseorang,
karena setiap orang memiliki harga diri mengenai kehormatan dan harga diri mengenai nama baik. Adapun persamaan antara penghinaan dan pencemaran nama baik, maka dapat dilihat dulu dari pengertiannya, pasal 310 KUHPidana menerangkan bahwa, “menghina” adalah “menyerang kehormatan dan nama baik seseorang”, yang diserang disini biasanya merasa malu. Pencemaran nama baik sangat erat kaitannya dengan kata penghinaan yang dimana penghinaan itu sendiri memiliki pengertian perbuatan menyerang nama baik dan kehormatan seseorang.
Menyerang kehormatan seseorang dalam hal ini bukan kehormatan dalam artian seksual, menyerang kehormatan di pencemaran nama baik atau penghinaan ini secara umum adalah menyerang kehormartan dari sesorang.
Rasa kehormatan ini diobjektifkan sedemikian rupa bahwa harus ditinjau apa dengan suatu perbuatan tertentu seseorang pada umumnya akan merasa tersinggung atau tidak. Dapat dikatakann pula bahwa seorang anak yang masih sangat muda belum dapat merasakan perasaan tersinggung ini, dan bahwa seorang yang sangat gila tidak tidak dapat merasakan tersinggung itu.Maka, tidak mungkin ada tindak pidana penghnaan terhadap kedua jenis orang tadi.
32Dalam kenyataannya rasa tersinggung ini tidak dapat diukur karena
setiap individu mempunyai tingkatan harga diri yang berbeda satu dengan yang
lain, tersinggung bukan hanya dengan soal wujud yang diserang, tetapi peranan
yang penting adalah pada cara mengeluarkan kalimat atau kata-kata tertentu,
misalnya “tolol” atau “tidak berguna”. Meraka yang berbuat penghinaan bukan
hanya dapat melalui lisan saja tetapi bisa juga melalui media masa. Sepanjang
perbuatan penghinaan bersifat menyerang harga diri seseorang maka tampak sifat objektif dari penghinaan, yaitu sampai mana nama baik seseorang itu di mata khalayak ramai menurun sebagai akibat perbuatan penghinaan tersebut.
A. Menista/smaad ( pasal 310 KUHPidana )
Tindak pidana pencemaran nama baik sering menjadi perdebatan di dalam masyarakat. Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, pencemaran nama baik atau penghinaan diatur dan dirumuskan dalam pasal 310 KUHPidana yang terdiri dari 3 ayat.
3333Moeljatno, kitap undang-undanghukum pidana, Bumi Aksara, Jakarta, 2007, hal, 144.
Dalam ayat (1) dinyatakan bahwa barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduh suatu hal, yang maksudnya terang supaya supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran, dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Selanjutnya ayat (2) menyatakan bahwa apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukan atau di tempelkan di muka umum, maka yang bersalah, karena pencemaran tertulis, diancam pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak tiga ratus ribu rupiah. Sebaliknya ayat (3) menegaskan bahwa tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan terang dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk bela diri.
Dari kententuan-ketentuan dari pasal 310 KUHP dapat dirumuskan tindakan pencemaran nama baik itu dapat berupa :
1. Menista dengan lisan (smaad) – pasal 310 ayat (1)
2. Menista dengan surat(smaadschrift) – pasal 310 ayat (2).
Sedangkan perbuatan yang dilarang adalah perbuatan yang dilakukan
“dengan sengaja” untuk melanggar kehormatan atau menyerang kehormartan atau nama baik orang lain.
Dengan demikian, unsur-unsur pencemaran nama baik atau penghinaan menurut Pasal 310 KUHPidana adalah :
1. Dengan sengaja;
2. Menyerang kehormatan atau nama baik;
3. Menuduh melakukan suatu perbuatan;
4. Menyiarkan tuduhan supaya diketahui umum.
Apabila unsur-unsur penghinaan atau pencemaran nama baik ini hanya diucapkan ( menista dengan lisan ), maka perbuatan tersebut tergolong pasal 310 ayat (1) KUHPidana. Tapi, apabila unsur-unsur tersebut dilakukan dengan menggunakan gambar atau surat yang disiarkan, dipertunjukan atau ditempelkan ( menista dengan surat), maka pelaku dapat dijerat atau dikenakan sanksi hukum pasal 31 ayat (2). Unsur lain dari Menista jika si pelaku penghinaan bertujuan menyiarkan tuduhan itu kepada khalayak ramai. Untuk itu, tuduhan tidak perlu diucapkan di muka umum bahkan dapat dikatakan dimuka seorang saja tetapi tampak dimaksudkan agar orang itu meneruskan tuduhan tersebut kepada orang-orang lain.
34Pasal 310 ayat (3) menjelaskan hal-hal yang tidak bisa menjadikan
seseorang terkena hukuman dengan pasal pencemaran nama baik atau
1. Menyampaikan informasi itu ditujukan untuk kepentingan umum.
2. Untuk membela diri.
3. Untuk mengungkapkan kebenaran.
Dengan demikian orang yang menyampaikan informasi, secara lisan ataupun tertulis diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa tujuannya tersebut itu benar.Kalau dia tidak bisa membuktikan kebenarannya, maka itu dinamakan penistaan atau fitnah.
Berdasarkan rumusan pasal diatas dapat dikemukakan bahwa pencemaran nama baik bisa dituntut dengan pasal 310 ayat (1) KUHPidana, apabila perbuatan tersebut harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa, sehingga perbuatannya menuduhnya tersebut, membuat seolah-olah oyang dicemarkan ( dihina ) itu telah melakukan perbuatan tertentu, dengan maksud agar tuduhan itu tersiar ( diketahui oleh orang banyak ). Perbuatan yang dituduhkan itu tidak perlu perbuatan yang menyangkut tindak pidana ( menipu, pencuri dan sebagainya ) tetapi cukup dengan perbuatan sehari-hari seperti memanggil seorang pria dengan sebutan kemayu. Biarpun memanggil seseorang dengan sebutan kemayu tidak termasuk tindak pidana, tetapi dengan sebutan demikian dapat memalukan pada orang yang bersangkutan apabila hal tersebut diumumkan.Tuduhan tersebut harus dilakukan dengan lisan karena apabila dilakukan dengan tulisan atau gambar, maka perbuatan tersebut digolongkan pencemaran tertulis dan dikenakan pasal 310 ayat (2) KUHPidana.
3535Ibid,hal,331.
Kejahatan pencemaran nama baik ini juga tidak perlu dilakukan
dimuka umum, cukup apabila dapat dibuktikan bahwa terdakwa mempunyai maksud untuk menyiarkan tuduhan tersebut.
b. Memfitnah / Laster( Pasal 311 ayat (1) KUHPidana )
Pasal 311 ayat (1) KUHPidana berbunyi :
“Barang siapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukuman penjarara selama-lamanya empat tahun.”
Jika dibandingkan antara kejahatan memfitnah ( laster ) dan kejahatan menista ( smaad ) atau penghinaan/pencemaran nama baik, maka perbedaannya terletak dari ancaman hukumannya. Namun demikian, pada intinya, kejahatan memfitnah ini juga merupakan kejahatan pencemaran nama baik. Hanya saja, unsur memfitnah ini mempunyai unsur-unsur yang antar lain :
1.Sesorang melakukan kejahatan menista (smaad) atau menista dengan tulisan 2.Apabila orang melakukan kejahatan itu diberikan kesempatan untuk
membuktikan kebenaran dari tuduhannya, dan bila
3.Setelah diberikan kesempatan tersebut ia tidak dapat membuktikan kebenarannya daripada tuduhannya itu, dan
4.Melakukan tuduhan itu dengan sengaja walaupun diketahuinya tidak benar.
Salah satu delik fitnah ( lasterdelict ) ini adalah bahwa kepada orang
yang melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan itu diberi
kesempatan untuk membuktikan kebenaran daripada tuduhannya tersebut.
akandiberikan kesempatan itu atau tidak. Jadi, hakim bebas di dalam menentukan hal ini.
Mengenai kapan hakim memberikan kesempatan ini ?jawabanya adalah pada pasal 312 KUHPidana yang berbunyi:
“membuktikan kebenaran tuduhan itu hanya diizinkan dalam hal yang berikut dibawah ini
1e. kalau hakim menganggap perlu akan memeriksa kebenaran itu, supaya dapat menimbang perkataan siterdakwa, bahwa ia telah melakukan perbuata itu untuk kepentingan umum atau karena untuk mempertahankan dirinya sendiri 2e. kalau seorang pegawai negeri yang dituduh melakukan perbuatan dalam menjalankan pekerjaannya (jabatanya )
Jadi sebagaiman disebutkan dalam pasal 312 diatas, yakni hakim dapat memberikan kesempatan yakni diruang pengadilan.Meski demikian, perlu dipahami, bahwa kekuasaan hakim untuk memberikan kesempatan kepada si pelaku/penuduh itu untuk membuktikan kebenaran dari tuduhannya itu terbatas.
Pembatasan kekuasaan tersebut telah dirumuskan dalam pasal 313 KUHPidana, yang berbunyi “pembuktian yang dimaksudkan pada pasal 312 tidak diizinkan, jka perbuatan yang dituduhan itu hanya dapat dituntu karena pengaduan orang dan pengaduan itu tidak dimajukan.” Pengertian pasal 313 KUHPidana ini adalah : kekuasaan hakim dibatasi sedemikian rupa, yaitu apabila perbuatan dituduhkan oleh si penuduh itu merupakan suatu perbuatan yang hanya dapat dituntut jika terdapat pengaduan (klachtdelict) dan belum terdapat pengaduan mengenai perbuatan itu.
Menurut pasal 313, membuktikan kebenaran tuduhan ini juga tidak diperbolehkan apabila kepada si korban dituduhkan suatu tindak pidana yang hanya dapat dituntut atas pengaduan, dan pengaduan ini in concreto tidak ada.
3636 Projodikoro Wirjono,op,cit,hal,101.