BAB XII ANALISIS PERILAKU NASABAH DALAM MEMILIH
A. Pendahuluan
Munculnya Bank Syariah didasarkan pada beberapa aspek yang prinsipil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim. Aspek yang menjadi dasar adalah untuk menghindari bunga (prohebit interest), menganggap bahwa Bank konvensional termasuk hukumnya haram karena masuk kategori riba yang dilarang agama, bukan saja pada agama Islam tetapi juga agama samawi lainnya (Antonio, 2001). Bank konvensional juga tidak memenuhi aspek keadilan karena penyerahan risiko usaha pada salah satu pihak.
Perkembangan bank syariah diberbagai belahan dunia didorong oleh dua alasan utama (Karim Business Consulting, 2001:1), yaitu:
1. Adanya kehendak sebagian masyarakat untuk melaksanakan transaksi perbankan atau kegiatan ekonomi secara umum yang sejalan dengan nilai dan prinsip syariah, khususnya riba. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Alquran:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Ali-Imran 130)
2. Adanya keunggulan sistem operasional dan produk perbankan syariah yang mengutamakan pentingnya moralitas, keadilan, dan transparansi dalam kegiatan operasional perbankan.
Kedua alasan tersebut berlaku di Indonesia, di samping beberapa alasan dalam pertimbangan lainnya seperti keinginan untuk meningkatkan mobilitas dana masyarakat yang belum terserap di sektor perbankan, meningkatkan ketahanan sistem perbankan nasional dan menyediakan sarana bagi investor internasional untuk melaksanakan kegiatan pembiayaan dan transaksi keuangan di Indonesia yang sesuai prinsip syariah.
Bank syariah berkembang sesuai dengan demand masyarakat Islam yang berpandangan bahwa bunga adalah riba yang dilarang dalam Islam. Konsep perbankan syariah yang berbeda dengan perbankan konvensional tidak hanya sesuai dengan ajaran Islam tetapi perbankan syariah menunjukkan kemampuannya tetap bertahan saat terjadi krisis di Indonesia tahun 1998. Sejak tahun 1991 bank syariah didirikan pertama kali dengan nama Bank Muamalat Indonesia (BMI). Sejarah perkembangan bank syariah di Indonesia Undang-undang No. 7 Tahun 1992 dengan Undang-undang tersebut prinsip
profit sharing.
Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang peluang pengembangan perbankan syariah, memberikan landasan yang kuat baik dari aspek kelembagaan maupun aspek operasional. Dalam UU tersebut, dinyatakan bahwa Bank Indonesia dapat menerapkan kebijakan moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah, sehingga Bank Indonesia dapat mempengaruhi likuiditas perekonomian melalui bank-bank syariah. Sejak dikeluarkannya perangkat UU Perbankan Syariah, telah terjadi perubahan dalam sistem perbankan di Indonesia, menjadi sistem perbankan berganda (dual banking system) yaitu dengan adanya dua sistem perbankan yang berjalan bersama-sama (Bank Konvensional dan Bank Syariah).
Kebijakan pengembangan Bank Syariah di Indonesia terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lapisan masyarakat yang meyakini bahwa sistem operasi perbankan konvensional tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Secara mendasar keberatan dari masyarakat muslim terhadap sistem perbankan konvensional dalam kegiatan operasionalnya terdapat usaha yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai syariah seperti kemungkinan penyaluran pembiayaan pada kegiatan yang bersifat spekulatif (maysir), perolehan keuntungan oleh pihak pemilik modal kepada peminjam secara tidak adil dan ketidak pastian dalam kontrak (jahala).
Dalam kurun waktu tahun 1998 sampai dengan tahun 2009, perbankan syariah telah mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dilihat dari sisi asset Rp 479 milyar menjadi Rp 40.584,849 milyar, dana pihak ketiga juga telah meningkat dari Rp 392 milyar menjadi Rp 35.582,329 milyar (Bank Indoneia, Februari 2010).
Sistem perbankan syariah telah pula mengalami pertumbuhan dalam hal kelembagaan. Jumlah bank umum syariah telah meningkat dari hanya satu bank umum syariah dan 78 BPRS pada tahun 1998 menjadi 4 bank umum syariah 19 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 122 BPRS pada Februari tahun 2010. Jumlah kantor cabang dari bank
umum syariah dan UUS dari 26 telah meningkat menjadi 203 kantor, juga 87 Kantor Cabang Pembantu dan 232 Kantor Kas dengan persebaran yang jauh lebih merata (Bank Indonesia, Februari, 2010).
Secara global industri keuangan syariah dunia juga telah mencapai volume operasi yang cukup signifikan. Tercatat lebih dari 220 lembaga keuangan telah didirikan di lebih dari 30 negara dengan total asset sebesar US$ 240 milyar pada tahun 2009. Pencapaian volume usaha tersebut merupakan suatu peluang yang baik untuk dimanfaatkan melalui proses aliansi strategis dengan lembaga keuangan yang bertaraf internasional.
Dalam prespektif pengembangan jangka panjang, Bank Syariah diharapkan mampu tumbuh dan berkembang secara profesional sehingga dapat bersaing dengan bank konvensional dalam pemberian kualitas pelayanan dan keuntungan finansial. Pada tahapan ini, perbankan syariah akan menjadi sistem perbankan alternatif bagi nasabah maupun calon nasabah. Secara teoritis banyak argumentasi yang mendukung tentang berbagai keunggulan sistem perbankan syariah, dan secara praktis hal ini telah dibuktikan bahwa Bank Syariah dapat bertahan dari dampak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada waktu lalu.
Kebijakan pengembangan Bank Syariah antara lain adalah mendukung pengembangan jaringan kantor perbankan syariah, khususnya pada wilayah-wilayah yang dinilai potensial. Dalam rangka mendukung program pengembangan jaringan perbankan syariah diperlukan data dan informasi yang lengkap perilaku nasabah terhadap produk dan jasa bank syariah.
Prospek perkembangan bank syariah akan berbeda dari bank umum sebagai akibat dari banyaknya peran bank konvensional yang mungkin tidak dapat dipraktekkan dalam perbankan syariah. Fungsi pokok bank umum sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran, menciptakan uang melalui penyaluran kredit, penghimpun dana, menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana, menyediakan fasilitas perdagangan internasional, memberikan pelayanan untuk penyimpanan barang-barang berharga, menawarkan jasa keuangan lainnya seperti ATM, transfer dan sebagainya (Siamat, 1993). Bank syariah juga akan melakukan peran yang mirip dengan bank umum dengan sifat khas dengan segala aktivitasnya harus berlandaskan syariah Islam, seperti sistem bagi hasil lebih menguntungkan, tingkat pelayanan yang cepat dan efisien, melakukan promosi, lokasi bank mudah dijangkau, tempat parkir luas dan aman, dan sebagainya.