Manggis merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan Indonesia, baik untuk pasar domestik maupun internasional. Nilai ekspor buah manggis Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Nilai ekspor buah manggis tahun 2008 sebesar US $ 5 832 534 meningkat menjadi US $ 6 451 932 pada tahun 2009 (Badan Pusat Statistik 2010).
Peningkatan nilai ekspor tersebut menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan produksi dan volume ekspor buah manggis Indonesia cukup tinggi. Persentase buah manggis yang dapat diekspor masih rendah dibandingkan produksinya. Produksi buah manggis Indonesia tahun 2008 sebanyak 78 674 ton,sedangkan volume ekspornya hanya 9 466 ton (Badan Pusat Statistik 2010). Buah manggis yang dapat diekspor hanya 12 % dari total produksi yang dihasilkan, dan sisanya dipasarkan di dalam negeri baik di pasar swalayan maupun tradisional.
Rendahnya volume ekspor buah manggis Indonesia disebabkan kualitas buah yang rendah. Salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya kualitas buah manggis adalah cemaran getah kuning. Getah kuning pada kulit buah menyebabkan penampilan buah tidak menarik. Getah kuning yang mencemari aril (daging buah) menyebabkan warna aril berubah menjadi kekuningan dan rasanya pahit. Buah manggis yang bergetah kuning tidak
memenuhi standar mutu, baik untuk pasar domestik maupun
internasional.Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI),getah kuning pada kulit buah dan arilmanggistidak lebih dari 5 % (Badan Standardisasi Nasional 2009).
Getah kuning sebenarnya merupakan metabolit yang secara alami terdapat pada tanaman manggis, seperti tanaman Famili Guttiferae lainnya (Asano et al. 1996; Pankasemsuk et al. 1996). Saluran getah kuning pada tanaman manggis ditemukan pada hampir seluruh bagian tanaman,yaitu pada bunga, kulit buah (perikarp) yang terdiri atas eksokarp, mesokarp dan endokarp, aril, tangkai buah dan daun, kecuali akar. Saluran getah kuning berbentuk kanal yang memanjang dan bercabang. Struktur saluran getah kuning terdiri atas lumen besar yang dikelilingi oleh sel-sel epitelium yang khas (Dorly 2009). Getah
kuning dapat mencemari aril dan perikarp buah manggis jika saluran epitelium tersebut rusak, sehingga getah keluar dari salurannya (Poerwanto et al. 2010).
Kerusakan saluran getah kuning pada kulit buah manggis dapat disebabkan oleh faktor perkembangan buah dan faktor lingkungan. Rusaknya saluran getah kuning akibat faktor perkembangan buah, terjadi karena perbedaan perkembangan aril dan biji dengan kulit buah selama pertumbuhan (Dorly 2009).Perkembangan biji dan aril yang lebih cepat daripada kulit buah menyebabkan adanya tekanandari dalam terhadap kulit, sehingga saluran getah kuning yang terdapat di eksokarp maupun di aril rusak.
Faktor lingkungan yang menyebabkan rusaknya saluran getah kuning adalah hama dan penyakit (Syah et al. 2007),terjadinya peningkatan potensial air tanah secara tiba-tiba.Perubahan potensial air tanahsecara tiba-tiba menyebabkan peningkatan penyerapan air pada sel-sel epitel saluran getah kuning yang terdapat di kulit buah, sehingga meningkatkan tekanan terhadap dinding sel-sel epitel. Apabila dinding sel-selepitel tersebut lemah karena kekurangan kalsium, maka sel-sel tersebut mudah pecah sehingga getah kuning keluar dari salurannya dan mencemari aril dan kulit buah (Poerwanto et al. 2010).
Rusaknya saluran getah kuning dapat dicegah apabila kalsium tersedia, karena kalsium merupakan unsur penting pada dinding sel.Kalsium menentukan kekakuan (rigidity) dinding sel, sesuai fungsi ion Ca2+sebagai penghubung antara rantai pektin pada dinding sel (Taiz dan Zeiger 1991).Ca2+juga merupakan kation untuk anion organik dan anorganik di vakuola (Marschner, 1995).Defisiensi kalsium dapat menyebabkan dinding sel rapuh dan mudah rusak.Defisiensi kalsium menyebabkan kerusakan fisiologis pada berbagai tanaman buah(Bangerth, 1979).
Defisiensi kalsium terbukti meningkatkan cemaran getah kuning pada buah manggis (Pludbuntong et al. 2007). Perikarp buah manggis yang tercemar getah kuning mengandung lebih sedikit kalsium dibandingkan buah normal. Cemaran getah kuning pada buah manggis berkaitan dengan kadar kalsium tanah. Cemaran getah kuning buah dapat berkurang jika kandungan kalsium tanah tinggi (Poerwanto et al. 2010).
Ketersediaan kalsium berkaitan dengan pH tanah. Tanaman manggis membutuhkan pH tanah antara 5.5-7.0 untuk pertumbuhan yang optimal (Yaacob dan Tindall 1995). Lokasi penelitian memiliki pH tanah 5.4 yang masih perlu
3
ditingkatkan untuk mengendalikan cemaran getah kuning pada buah manggis, oleh karena itu aplikasi kalsium melalui tanah perlu dilakukan.
Aplikasi kalsium pada tanaman manggis melalui pemberian 17.5 ton dolomit ha-1 (3.5 ton Ca ha-1) di tanah dapat mengendalikan getah kuning pada perikarp buah manggis, tetapi tidak efektif mengendalikan getah kuning pada aril(Dorly 2009). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kalsium buah belum terpenuhi melalui aplikasi kalsium yang dilakukan. Penyediaan kalsium bagi tanaman dipengaruhi oleh sumber kalsium dan dosis yang diberikan.
Sumber kalsium dolomit (CaMg(CO3)2) mengandung 32 % CaO dan 18 % MgO.Kandungan unsur magnesium pada dolomit dapat berpengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif dapat terjadi karena tersedianya unsur magnesium bagi tanaman, yang merupakan komponen dari rantai klorofil sehingga berpengaruh terhadap fotosintesis. Pengaruh negatifnya adalah kompetisi antara kalsium dan magnesium dalam penyerapan oleh akar tanaman, yang dapat menghambat penyerapan kalsium oleh tanaman.Penyerapan kalsium oleh akar tanaman dipengaruhi oleh rasio antara ion Ca2+, Mg2+dan K+.
Penelitian ini menggunakan sumber kalsiumdolomit dan sumber kalsium lainyang tidak mengandung magnesium, yaitu kaptan. Kandungan kalsium dalam kaptan adalah 85% CaCO3(34 % Ca). Kandungan kalsium kaptan yang lebih tinggi daripada dolomit menyebabkan kaptan lebih efisien daripada dolomit, karena dapat diberikan dalam jumlah yang lebih sedikit untuk dosis kalsium yang sama. Perlu dilakukan perbandingan antara sumber kalsium kaptan dan dolomit terhadap keefektifan penyerapannya oleh tanaman.
Dosis kalsium yang diaplikasikan pada penelitian ini mulai dari taraf yang lebih rendah hingga taraf lebih tinggi daripada dosis yang diaplikasikan pada penelitian sebelumnya oleh Dorly (2009).Dosis 3.5 ton Ca ha-1 pada penelitian Dorly (2009) diasumsikan belum mencukupi kebutuhan buah untuk mengurangi cemaran getah kuning pada aril. Aplikasi kalsium pada penelitian ini dilakukan pada saat antesis, karena antesis merupakan tahap awal perkembangan buah. Tahap pertama perkembangan buah berlangsung cepat pada umur 1 hingga 8 MSA (Minggu Setelah Antesis) (Poovaradom dan Sumitra 2009). Kebutuhan kalsium buah pada tahap tersebut sangat tinggi, maka kalsium perlu diberikan sejak antesis.
Kombinasi antara sumber dan dosis kalsium diduga berpengaruh terhadap pengendalian getah kuning pada buah manggis. Pengendalian cemaran getah kuning merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas buah manggis, karena cemaran getah kuning merupakan salah satu parameter untuk menilai kualitas buah manggis.
Tujuan
1. Membandingkan sumber kalsium kaptan dan dolomitdalammencegah cemaran getah kuning sehingga meningkatkan kualitas buah manggis.
2. Mempelajari dosis kalsium yang tepat untuk masing-masing sumber kalsium sehingga dapatmencegah cemaran getah kuning dan meningkatkan kualitas buah manggis.
3. Mempelajari kombinasi sumber dan dosis kalsium yang tepat untuk mencegah cemaran getah kuning dan meningkatkan kualitas buah manggis.
Hipotesis
1. Salah satu sumber kalsium dapat mencegah cemaran getah kuning sehingga meningkatkan kualitas buah manggis.
2. Terdapat dosis kalsium yang tepat dalam mencegah cemaran getah kuning dan meningkatkan kualitas buah manggis.
3. Terdapat interaksi antara sumber dan dosis kalsium dalam penurunan cemaran getah kuning dan peningkatan kualitas buah manggis.
5