• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan Negara kesatuan yang berdaulat. Indonesia mempunyai tujuan pokok yang tertera dalam Undang-undang 1945 yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Untuk mencapai tujuan ini dilaksanakan pembangunan nasional dalam berbagai aspek antara lain pembangunan dalam aspek fisik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

Pada pencapaian kesejahteraan masyarakat dilalui dengan jalan perubahan-perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya, perubahan-perubahan tersebut dilakukan melalui pembangunan. Tujuan pembangunan masyarakat ialah perbaikan kondisi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat, sehingga kemiskinan dan lingkungan hidup masyarakat mengalami perubahan dasarnya. Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan yang terencana terhadap kondisi sosial budaya dan lingkungan. Pembangunan diterapkan guna menjangkau keseimbangan pengetahuan yang ada pada seluruh anggota masyarakat yang hidup dalam satu lingkungan hidup yang sama, sehingga dengan demikian dapat tercipta suatu pengetahuan yang sama atau mirip terhadap masing-masingnya dan juga terhadap lingkungan hidupnya.

Pembangunan wilayah dianggap mampu apabila sarana dan prasarana dasar tersedia dan masyarakatnya memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dalam kehidupan mereka, baik fisik maupun nonfisik. Masyarakatnya secara umum memiliki tingkat pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan ekonomi, kesempatan dan gizi, pendidikan, perumahan dan lingkungan hidup. Namun pembangunan dapat menjadi sebuah dilema bagi pemerintah daerah, terutama bagi daerah yang masih tergolong dalam status ekonomi lemah. Banyaknya kepentingan masyarakat yang terlibat, maka tidak semua kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi karena benturan berbagai kepentingan. Solusi yang paling sering di tempuh untuk menyelesaikan benturan kepentingan tersebut adalah mengambil keputusan yang menguntungkan lebih banyak pihak dan tidak ada pihak yang menjadi korban. Perencanaan dilakukan pada masalah-masalah yang menjadi pioritas dan disusun kedalam skala utama dengan jangka waktu dan biaya yang realistis.

Harus diakui banyak sekali yang dirasakan oleh pembangunan misalnya saja pembangunan fisik dan non fisik. Contoh pembangunan fisik yaitu infrastruktur seperti listrik, jalan, jembatan, irigasi, fasilitas umum dan sebagainya. Dan contoh non fisik yaitu salah satunya dengan adanya program Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Suatu skema baru otonomi daerah yang didalamnya termuat semangat melibatkan masyarakat, dengan menekankan bahwa kualitas otonomi daerah akan ditentukan oleh sejauh mana keterlibatan masyarakat, maka dengan sendirinya harus adanya seluruh aspirasi masyarakat semenjak dini. Lahirnya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah

Daerah merupakan langkah baru untuk membenahi penyelenggaraan pemerintah, melalui otonomi dan desentralisasi yang diharapkan mampu melahirkan partisipasi aktif masyarakat dan menumbuhkan kemandirian pemerintah daerah.

Dalam pelaksanaan pembangunan di daerah menghadapi hambatan dan kendala yang tidak ringan dilihat dari aspek geografis, topografis, demografis, ketersedian prasarana dan sarana, kelemahan dalam akses terhadap modal informasi pasar, kemampuan sumberdaya manusia (SDM) yang lemah, partisipasi masyarakat yang belum secara proaktif, kemampuan kelembagaan daerah masih lemah, dan banyak kelemahan operasional dan fungsional lainnya. Memperhatikan berbagai hambatan, kenadala dan kelemahan-kelemahan diatas salah satu upaya yang dianggap sangat penting yaitu mendorong, meningkatkan, mengembangkan dan mengaktualisasikan kekuatan dan kemampuan yang bersumber di dalam masyarakat itu sendiri yaitu yang disebut partisipasi masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintah juga harus ada, sebab masyarakat adalah pemilik kedaulatan, masyarakat adalah membayar pajak dan masyarakat adalah subjek dalam pembangunan. Selain itu, program-program yang di rumuskan dan dilaksanakan secara partisipasi turut memberikan kesempatan secara langsung kepada masyarakat dalam perencanaan yang menyangkut kesejahteraan mereka dan melaksanakan sendiri serta memetik hasil program yang dicapai. Dalam pembangunan, partisipasi masyarakat merupakan salah satu elemen proses pembangunan desa/kelurahan, oleh karena itu partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu dibangkitkan terlebih dahulu oleh pihak

lain seperti pemerintah desa/kelurahan, sehingga dengan adanya keterlibatan pemerintah desa besar kemungkinan masyarakat akan merasa diberi peluang atau kesempatan ikut serta dalam pembangunan, karena pada dasarnya menggerakkan partisipasi masyarakat desa merupakan salah satu sasaran pembangunan desa/kelurahan itu sendiri.

Masyarakat sebagai objek pembangunan berarti masyarakat terkena langsung atas kebijakan dan kegiatan pembangunan. Dalam hal ini perlu ikut masyarakat dilibatkan baik dari segi formulasi kebijakan maupun aplikasi kebijakan tersebut, sebab merekalah yang dianggap lebih tahu kondisi lingkungannya. Dimana dominasi Negara berubah menjadi institusi lokal, untuk itu peran serta langsung masyarakat sangat diperlukan dan terus diperkuat dan diperluas. Dengan demikian istilah partisipasi tidak sekedar menjadi retorika semata tetapi diaktualisasikan secara nyata dalam berbagai kegiatan dan pengambilan kebijakan pembangunan.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan mutlak diperlukan, tanpa adanya partisipasi masyarakat pembangunan hanyalah menjadikan masyarakat sebagai objek semata. Salah satu kritik adalah masyarakat merasa “tidak memiliki” dan “acuh tak acuh” terhadap program pembangunan yang ada. Penempatan masyarakat sebagai subjek pembangunan mutlak diperlukan sehingga masyarakat akan dapat berperan serta secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pembangunan, terlebih apabila kita akan melakukan pendekatan pembangunan dengan semangat kualitas.

Partisipasi masyarakat memiliki banyak bentuk, mulai dari yang berupa keikut sertaan langsung masyarakat dalam program pemerintahan maupun yang sifatnya tidak langsung, seperti berupa sumbangan dana, tenaga, pikiran, maupun pendapat dalam pembuatan kebijakan pemerintah. Namun demikian ragam dan kadar partisipasi seringkali ditentukan secara massa yakni dari banyaknya individu yang dilibatkan. Padahal partisipasi masyarakat pada hakikatnya akan berkaitan dengan akses masyarakat untuk memperoleh informasi. Hingga saat ini partisipasi masyarakat masih belum menjadi kegiatan tetap dan terlembaga khsususnya dalam pembuatan keputusan.Sejauh ini, partisipasi masyarakat masih terbatas pada keikutsertaan dalam pelaksanaan program program atau kegiatan pemerintah, padahal partisipasi masyarakat tidak hanya diperlukan pada saat pelaksanaan tapi juga mulai tahapan perencanaan bahkan pengambilan keputusan.

Krisis ekonomi yang diawali dari gejolak krisis moneter yang melanda Asia Tenggara, telah menjadi krisis yang bersifat multi dimensi. Pemulihan ekonomi yang terus dilakukan pemerintah hingga saat ini merupakan upaya pemerintah untuk meredam dampak dari krisis tersebut. Pemulihan ini dilakukan di semua sektor melalui masing-masing kebijakan untuk tiap-tiap sektor dengan menilik masalah-masalah yang sedang menjadi isu sentral saat ini. Salah satu isu sentral permasalahan di Indonesia hingga saat ini ialah masalah kemiskinan.

Pembangunan sektor industri yang dilakukan di Indonesia adalah pengembangan industri-industri yang berspektrum luas (broad based indusrty) yaitu strategi yang lebih menekankan pengembangan industri industri berbasis impor (footlose industry). Industri itu bersumber dari relokasi industri dan

perluasan pasar industri negara lain (seperti industri elektronik, tekstil, otomotif dan lain-lain) dengan industri berteknologi canggih berbasis impor (hi-tech industry), seperti industri pesawat terbang, persenjataan, kapal, dan industri lainnya. Artinya, industri yang dikembangkan di Indonesia adalah industri padat modal dan berbahan baku kebanyakan dari luar negeri.

Strategi pembangunan sektor industri macam yang diambil, berakibat kepada sektor pertanian dan pedesaan, dan menjamurlah sektor informal. Kredit dari perbankan yang dialokasikan untuk sektor industri demikian besar, sementara untuk sektor pertanian sangatlah minim. Belum lagi, ini perlu dicatat secara khusus, alokasi kredit untuk sektor industri sarat dengan budaya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Akibatnya banyak usaha yang mengalami kemacetan ketika krisis ekonomi dan keuangan.

Pada mulanya banyak negara berkembang mengidentikan bagaimana upaya meningkatan pembangunan ekonomi, adalah dengan cara meningkatkan pendapatan perkapita rakyatnya. Usaha tersebut dapat memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi negaranya. Keberhasilan ekonomi suatu negara semata-mata tiodak dapat diukur dari sisi tingkat pertumbuhan ekonominya saja, karena pembangunan ekonomi memiliki dimensi yang lebih luas dari sekedar pertumbuhan ekonomi, yang lebih berorientasi pada peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional.Indikator keberhasilan negara dalam hal pembanguna perekonomiannya juga perlu diukurdari bagaimana negara menangani permasalahan-permasalahan sosial secara komperhensif. Dalam upaya meningkatkan pembangunan ekonomi, sekaligus mengurus permasalahan sosial

tersebut, maka diperlukan suatu strategi yang dapat membantu negara untuk mengupayakan terwujudnya pembangunan perekonomian yang disertai dengan penyesuaian sosial secara tepat.

Strategi pembangunan ekonomi merupakan strategi yang dipandang tepat dalam menyikapi kondisi tersebut. Karena lebih memikirkan tidak hanya pada bagaimana negara dalam upaya meningkatkan perkapita yang diarahkan kepada bagaimana upaya negara dalam mengatasi persoalan pembangunan. Strategi pembangunan ekonomi meliputi: pertama, strategi pertumbuhan dengan distribusi. Kedua, strategi kebutuhan pokok. Ketiga strategi pembangunan mandiri. Keempat, strategi pembangunan berkelanjutan dan kelima strategi berdimensi etnik.

Strategi yang cukup besar terhadap pembangunan ekonomi suatu negara adalah strategi kebutuhan pokok.Karena strategi tersebut dipandang sebagai dasar utama dalam strategi pembangunan ekonomi dan sosial. Pemenuhan kebutuhan pokok lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan minimum konsumsi (sandang, pangan, papan) dan jasa umum (kesehatan, transportasi umum, air, dan fasilitas pendidikan). Kebutuhan dasar manusia tidak terlepas dari adanya pemenuhan kebutuhan pokok yang lebih menekankan pada keberlangsungan hidup dan proses regenerasi kehidupan manusia di dunia.

Miskin menurut kamus besar bahasa indonesia, berarti tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Kata miskin telah berkembang menjadi dapat diterapkan dalam berbagai aspek , yang penting syarat keadaan serba kekurangan. Keadaan serba kekurangan ini disebut dengan kemiskinan.

Kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa hadir ditengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun terus menerus dikembangkan untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena masalah ini masih hadir di tengah-tengah kita dan bahkan kini gejala semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Dalam program penanganan kemiskinan, ada beberapa program yang di lakukan oleh pemerintah. Salah satu program yang dianggap perlu untuk dilakukan kajian di dalamnya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Program tersebut sudah sejak lama memiliki banyak hambatan. Semakin meningkatanya jumlah penduduk miskin di Kecamatan Warunggunung merupakan persoalan yang tidak mudah diatasi. Pemerintah selaku penyelenggara pembangunan diharapkan dapat menciptakan kebijakan kebijakan yang tepat guna mengatasi permasalahan kemiskinan.

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan merupakan salah satu mekanisme program pemberdayaan masyarakat yang digunakan dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan. Kegiatan pembangunan masyarakat yang didanai oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri

Perdesaan meliputi kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana dasar, peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, peningkatan kapasitas atau keterampilan kelompok usaha ekonomi, serta penambahan permodalan kegiatan kelompok simpan pinjam khusus perempuan.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dapat dilakukan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan mengangkat harkat martabat keluarga miskin adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya pemerintah untuk mendorong penurunan angka kemiskinan. Yang di harapkan dapat menciptakan proses penguatan social yang dapat mengantar masyarakat miskin menuju masyarakat yang madani, sejahtera, berkeadilan serta berlandaskan iman dan takwa, Sumodiningrat (2002) dalam Apriyanti (2009).

Aspek penting dalam suatu program pemberdayaan masyarakat adalah program yang disusun sendiri oleh masyarakat, menjawab kebutuhan dasar masyarakat, mendukung keterlibatan kaum miskin, perempuan dan kelompok terabaikan lainnya. Dibangun dari sumber daya lokal, sensitif terhadap nilai-nilai budaya setempat, memerhatikan dampak lingkungan tidak menciptakan ketergantungan, berbagai pihak terkait, serta berkelanjutan.

Kegiatan Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan merupakan salah satu alternatif pemecahan permasalahan kemiskinan di perdesaan yaitu memberikan permodalan bagi kelompok perempuan yang menjalankan kegiatan simpan pinjam dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah daripada Bank

diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama kaum perempuan untuk dapat meningkatkan tarap hidup dengan mengembangkan usaha yang dikelola.

Berdasarkan namanya, kegiatan kelompok Simpan Pinjam khusus Perempuan (SPP) ini di khususkan memang bagi kaum perempuan. Program simpan pinjam khusus perempuan di adopsi dari Bangladesh, dimana kaum perempuan sangat berperan dalam system pengelolaan keuangan, mereka menjalankan Grameen Bank (GB) yaitu semacam bank yang memberikan pinjaman tanpa jaminan barang. Pinjaman diberikan dalam kelompok-kelompok kecil, bila satu anggota mendapat kredit, anggota yang lain memberikan jaminan bahwa orang itu dapat membayar kembali.

Kelompok-kelompok kecil yang mendapat pinjaman adalah kaum perempuan. Grameen Bank (GB) ini didirikan pada tahun 1976, sengaja menggerakan kelopok-kelompok perempuan di Bangladesh, karena mereka merasa kebiasaan arisan yang ada dalam kalangan perempuan disana dapat dijadikan patokan sebagai kekuatan untuk menggerakan simpan dan pinjam yang bernilai kebersamaan. Grameen Bank (GB) merupakan contoh keberhasilan pinjaman tanpa jaminan barang dan memberikan peluang serta kesempatan usaha bagi kaum perempuan.

Selain untuk mengakomodir usulan kegiatan ekonomi dari kaum perempuan, SPP diharapkan menjadi penunjang peningkatan perekonomian rumah tangga miskin yang digerakan kaum perempuan dilokasi program yang dalam penelitian ini bertemnpat di Desa Selaraja Kecamatan Warunggunung. Selain karena prosedur peminjaman yang tidak mudah bagi warga desa, proses

pendanaan usaha ini juga dikelola sendiri oleh masyarakat setempat. Setiap kaum perempuan (secara berkelompok) dari desa-desa dilokasi program memiliki kesempatan untuk memperoleh modal. Berikut skema cara kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) untuk memperoleh modal.

Sumber : Petunjuk Teknis Operasional (PTO) PNPM Mandiri Perdesaan, 2014

Dari skema di atas, menunjukan bahwa awalnya kelompok hanya perlu mengajukan proposal yang telah disusun dari musyawarah khusus perempuan kepada masyarakat melalui Unit Pengelolaan Kegiatan (UPK) yang ada disetiap kecamatan lokasi program. Musyawarah khusus perempuan membahas tentang penyusunan proposal, usaha-usaha yang dijalankan anggota kelompok, jumlah pinjaman yang akan diajukan dan anggaran penyususnan proposal. Musyawarah khusus perempuan diwajibkan bagi kelompok baru yang ingin mengajukan proposal pinjaman dan tidak diwajibkan bagi kelompok yang sudah pernah memperoleh pinjaman. Petugas kecamatan kemudian akan melakukan verifikasi dan bermusyawarah untuk menilai kelayakan proposal-proposal.

Kelompok Perempuan MAD Perguliran SPP (Simpan Pinjam Perempuan) Verifikasi Proposal Musyawarah Khusus Perempuan MAD Prioritas Usulan

Proposal yang layak akan disetujui untuk mendapatkan pendanaan. Untuk mengakses dana SPP yang bersumber dari BLM dikhususkan bagi kelompok yang baru pertama kali mengajukan proposal pinjaman, proposal yang diajukan menjadi bagian dari usulan dan di tetapkan melalui jalur Musyawarah Khusus Perempuan (MKP) sebagai usulan desa, kemudian diputuskan dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) Prioritas Usulan. Sedangkan untuk mengakses dana SPP yang bersumber dari dana perguliran (dikelola UPK) dikhususkan bagi kelompok yang sudah pernah memperoleh pinjaman, akan diputuskan melalui MAD perguliran. Melalui dana tersebut, anggota kelompok SPP dapat menggunakannya untuk kegiatan ekonomi produktif, yaitu membuka usaha maupun menambah modal usaha yang telah ada dan bukan untuk konsumtif. Karena dana yang diperoleh tidak diberkan begitu saja, tetapi harus dikembalikan dengan 2%.

Lokasi untuk penelitian ini adalah di Desa Selaraja Kecamatan Warunggunung. Dimana semua kegiatan program Desa, berpacu atau berpusat di Kantor Desa ini. Termasuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) khusus pada Program Simpan Pinjam Perempuan (SPP).Terdapat beberapa faktor pada pelaksanaan program ini, program belum mampu untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan. Sarman M dan Sajogyo (2000) menyatakan bahwa suatu program akan berjalan dengan baik jika diberikan pendampingan yang intensif. Beberapa faktor tersebut dapat berasal dari individu mapun dari luar individu.

Salah satu penerima program SPP (Simpan Pinjam Perempuan) di Kecamatan Warunggunung adalah Desa Selaraja.Kelompok yang terbentuk dan

masih aktif berjumlah 14 kelompok, yang masing-masing kelompok memiliki usaha sendiri. Uang yang dipinjam tersebut seharus digunakan unruk kepentingan yang bermanfat bagi dirinya dan orang lain. Seperti berdagang atau wirausaha lainnya. SPP (Simpan Pinjam Perempuan) ini bertujuan untuk menjadikan warga semakin mandiri dalam mengurus keperluan hidup seperti bertanggungjawab dalam berwirausaha.

Dalam memperguanakan hasil pinjaman dari program tersebut, harus dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, seluruh anggota kelompok harus meliliki jiwa berwirausaha agar usaha yang mereka jalankan berjalan dengan baik. Selain itu setiap anggota kelompok juga harus memiliki kejujuran, keterbukaan, keuletan, dan kekompakan. Perubahan yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang memanfaatkan program simpan pinjam pinjam perempuan yaitu ibu-ibu atau wanita yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, kini memiliki pekerjaan pokok sebagai penjahit, dan ada juga yang mulai berdagang, dan kini mereka sedikit-sedikit bisa membiayai kehidupan sehari-hari. Pada mata pencaharian yang memiliki waktu luang dapat membuka usaha dagang kecil-kecilan setelah mengikuti program simpan pinjam perempuan ini. Tetapi ada saja kelompok yang menyalah gunakan uang pinjaman tersebut, contohnya uang yang mereka peroleh dari program tersebut tidak dipergunakan untuk berwirausaha, melainkan untuk di pergunakan kepentingan pribadi. Dan karena hal tersebut, sering terjadi keterlambatan pembayaran. Banyak anggota kelompok SPP (Simpan Pinjam Perempuan) yang dengan sengaja melakukan keterlambatan pembayaran yang seharusnya cicilan dibayar perbulan.

Ketidakjelasan waktu pengawasan dan penagihan dari petugas UPK (Unit Pengelola Kegiatan), itu yang membuat warga santai dalam melakukan pembayaran. Padahal dana atau pinjaman dari UPK (Unit Pengelola Kegiatan) tersebut merupakan dana bergulir yang setiap tahunnya akan diadakan tutup buku tahunan. Pengawasan kegiatan dana bergulir pada prinsipnya dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, sebagai pemilik dana. Anggota kelompok seharusnya dapat membentuk Tim Pemantau Kegiatan Dana Bergulir. Tetapi kesadaran dari anggota kelompoknya itu sendiri seringkali tidak menjalankannya. Kurang optimalnya petugas UPK (Unit Pengelola Kegiatan) dalam melakukan Survey lapangan. Penyelesaian pinjaman bermasalah saat ini masih mengandalkan pada penagihan yang kurang efektif, karena membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Permasalahan yang timbul disebabkan terutama oleh tidak berfungsinya kelembagaan kelompok, dan terbatasnya pendanaan operasional. Tidak adanya sanksi bagi kelompok yang melakukan keterlambatan pembayaran, itu membuat anggota kelompok tidak merasa takut jika melakukan keterlambatan pembayaran. Padahal, dana bergulir tersebut harus dilestarikan dan dikembangkan agar tetap memberikan manfaat kepada masyarakat. Khususnya masyarakat miskin yang membutuhkan permodalan usaha.

Kurang berfungsinya kelembagan-kelembagaan yang dibangun oleh program yang sebagaimana mestinya yaitu seperti permasalahan kelembagaan pada kelompok peminjam yang disebabkan oleh bubarnya kelompok, pengurus tidak aktif, aktifitas kelompok tidak ada. Kurang kuatnya aturan atau sanksi pada kelompok dan kelembagaan kelompok. Seperti pengurus kempok tidak

mengembalikan angsuran kelompok pada UPK (Unit Pengelola Kegiatan). Pemanfaatan dari kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) tidak membayar angsuran pada kelompok. Tim verifikasi dan Badan Pengawas UPK yang tidak berfungsi dan mengakibatkan terjadinya kelompok fiktif, kelompok tidak ada usaha, dan sebagainya.

Jumlah pinjaman dari Program SPP (Simpan Pinjam Perempuan ) di Desa Selaraja ini adalah Rp. 10.000.000,-/Kelompok. Yang di angsur selama satu (1) tahun. Yang setiap kelompok terdiri dari 10 orang. Dari uang pinjaman tersebut, warga mempergunakannya untuk berwirausaha. Contohnya membuka warung kecil yang di kelola oleh kelompok, berjualan baju dengan sistem kredit, dan ada juga yang membuka tempat jahit. Namun tidak semua usaha kelompok berjalan dengan baik, ada sebagian usaha mereka yang mengalami hambatan. Contohnya dalam usaha berjualan baju, yang sistem pembayarannya kredit. Banyak warga yang membeli baju tersebut, namun tidak membayar cicilan. Ini sangat disayangkan, karena kelompok usaha tersebut juga harus membayar cicilan kepada Unit Pengelola Keuangan (UPK).

Semua anggota kelompok memiliki atau mendapatkan jumlah pinjaman modal yang sama. Itu salah satu hambatan bagi anggota kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) di Desa Selaraja ini, karena lebih besar usaha yang mereka usulkan , akan lebih besar pula modal yang mereka butuhkan. Namun jumlah pinjaman tersebut sudah tidak bisa di ganggu gugat. Hal itu yang sering menjadi permasalahan. Contohnya usaha menjahit, untuk membeli mesin jahitnya itu

butuh uang yang lumayan besar, belum lagi untuk membeli benang, kain, dan peralatan lainnya. Tetapi respondem menyiasatinya dengan membeli mesin jahit bekas, yang harganya jauh lebih murah disbanding dengan mesin jahit baru.

Tujuan program Simpan Pinjam Perempuan (SPP) adalah untuk mengembangkan potensi kegiatan simpan pinjam di perdesaan, kemudahan akses pendanaan usaha dan mikro, pemenuhan kebutuhan pendanaan sosial dasar, dan memperkuat kelembagaan kegiatan kaum perempuan serta mendorong pengurangan rumah tangga miskin dan penciptaan lapangan kerja. Tetapi di Desa Selaraja ini jumlah dana yang diterima , masih kurang sesuai dengan keinginan responden hal ini disebabkan karena dana yang sedikit. Menurut mereka hanya memenuhi sebagian penambahan modal usaha yang seharusnya dapat digunakan untuk penambahan jumlah modal.

Pada dasarnya sosialisasi itu sangat penting, sosialisasi baik di desa maupun di antar desa yang memiliki tujuan agar pelaku-pelaku di tingkat desa

Dokumen terkait