BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.7 HCl (Asam Klorida)
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl).
Senyawa ini digunakan secara luas dalam industri. Dalam menggunakannya juga harus mengikuti prosedur keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
Asam klorida juga dapat menyebabkan korosi dan pengeroposan pada beton karena klorida dapat menyerang sistem pengikat kalsium silikat. Hal ini dapat menyebabkan pengikisan pada beton dan menjadi keropos. Jika beton keropos, maka dapat menyebabkan penurunan kuat tekan beton.
Kondisi lingkungan memiliki pengaruh terhadap kuat tekan beton. Pada kondisi lingkungan seperti laut, hujan asam dapat mempengaruhi ketahanan pada beton. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku korosi pada air hujan seperti faktor temperatur, keasaman (𝑝𝐻), kadar garam (𝑁𝑎𝐶𝑙), kadar klorida (𝐶𝑙−) kadar sulfat (𝑆𝑂42−) dan juga oksigen terlarut (Lukman and Triwikantoro, 2009).
14 Pemantauan tingkat keasaman air hujan (pH) di Indonesia dilakukan di 52 (Lima Puluh Dua) stasiun. Pengambilan sampel menggunakan metode Wet Deposition dan Wet & Dry Deposition dengan alat Automatic Rain Water Sampler (ARWS). Analisis sampel air hujan dilakukan di laboratorium kualitas
udara BMKG dengan menggunakan alat ion chromatograph.
Hasil analisis laboratorium pada bulan September 2020 seperti terlihat pada gambar 2.1. Pemantauan Tingkat Keasaman Air Hujan di Indonesia:
Gambar 2.1 Pemantauan Tingkat Keasaman Air Hujan di Indonesia (Sumber : http://www.bmkg.go.id/ )
Keterangan pH Air Hujan:
• > 7 : pH basa
• 6.1 - 7 : Air hujan sangan baik, cenderung netral seperti air permukaan
• 5.6 - 6 : pH air hujan ideal
• 4.1 - 5.5 : Hujan asam
• 3 - 4 : Hujan asam (tinggi)
• < 3 : Hujan asam (ekstrem) 2.8 Penelitian Sebelumnya yang Terkait
Penelitian sebelumnya yang berkaitan tentang mortar ECC telah dilakukan oleh Tuanakotta (2018) dengan judul “ Mix Desain Engineered Cementitious Composite (ECC) Dengan Menggunakan Artificial Neural Network (ANN) ” Penelitian ini membuat mix design ECC secara eksperimen dengan komposisi :
15 w/c : 0,25 – 0,40, serat Polyvinyl alcohol (PVA) : 0 – 0,02, Fly Ash (FA) : 0 – 6 dan superplasticizer (SP) : 0-0,1 sebagai data input. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik ECC pada umur 28 hari sebagai data output. Adapun perencanaan campuran yang mengacu pada penelitian TY.Lee yaitu mix campuran Enginereed Cementitious Composite (ECC M45) dapat dilihat proporsi campuran pada Tabel 2.3. Proporsi campuran ECC M45 :
Tabel 2.3 Proporsi campuran ECC M45 Semen FA Pasir Air HRWR Fiber (%)
1 1,2 0,8 0,56 0,012 0,02 - Benda Uji Mortar dengan komposisi :
• Semen, pasir, fly ash, superplasticizer dan PVA
• Rasio Air Terhadap cementitious material (w/cm) = 0.25, 0.30, 0.35, 0.40
• PVA dengan presentase terhadap volume benda uji : 0 : 1.0 : 1.5 : 2.0
• Presentasi fly ash terhadap cementitious material (FA/cm) : 0, 10, 20, 30, 40, 50, 60
Dari penelitian ini didapat analisa kuat tekan yang dilakukan pada umur 28 hari dari mortar ECC silinder 5x10 cm hasil analisa sebagai berikut:
- Data I sebanyak 168 data menggunakan superplasticizer Sika ViscoCrete-1003 untuk w/c = 0,25 dan 0,30 dengan kuat tekan berkisar antara 10,79 Mpa – 62,47 Mpa
Tabel 2.4 Hasil Kuat Tekan dengan w/c 0,25 dan 0,30
No Mix Kuat Tekan (Mpa) Keterangan
M66 10,79 M66 dengan komposisi PVA 1,5, FA
=20, w/c = 0,30, SP = 1
M45 62,47 M45 dengan komposisi PVA 1, FA
=40, w/c = 0,25, SP = 2,5
- Data II sebanyak 168 data menggunakan superplasticizer Naftali untuk w/c = 0,35 dan 0,40 dengan kuat tekan berkisar antara 16,31 Mpa – 69,64 Mpa
16 Tabel 2.5 Hasil Kuat Tekan dengan w/c 0,23 dan 0,40
No Mix Kuat Tekan (Mpa) Keterangan
M27 16,31 M27 dengan komposisi PVA 0, FA
=60, w/c = 0,35, SP = 10
M44 69,64 M44 dengan komposisi PVA 1, FA
=30, w/c = 0,40, SP = 1
Gambar 2.2 Pengujian kuat tekan
Richard dan Ramli (2015) melakukan penelitian yang berjudul “Fresh Properties of Natural Sustainable ECC Mortar Without Fibers”. Pada penelitian ini digunakan metakolin sebagai material cementitious anorganik sebagai pengganti semen. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini yaitu prisma berdimensi 40 mm x 40 mm x 160 mm untuk uji lentur dan kubus dengan dimensi 50 mm x 50 mm x 50 mm untuk uji tekan. Komposisi material yang digunakan pada penelitian ini yaitu penambahan zat reduksi air polycarboxylic 0,5% dari berat pengikat dan proporsi campuran pengikat : pasir : rasio air yaitu 0,8 ; 1,0 ; 0,3. Adapun persentasi tingkat penggantian kandungan semen untuk metakolin yang digunakan adalah 10 %, untuk nanosilika adalah 1,5 % dan untuk epoxy adalah 1,5 % . Sedangkan semen Portland hanya digunakan sebagai pengikat pada spesimen kontrol. Pengujian kuat tekan dan kuat lentur dilakukan pada umur 7 hari, 28 hari, dan 56 hari dan akan dibandingkan hasilnya dengan sampel kontrol
17 (C) yaitu sampel tanpa penggunaan metakolin, nanosilika dan epoxy (C). Hasil pengujian tekan dari masing-masing sampel dengan variasi umur dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Hasil Pengujian tekan dari variasi umur dalam MPa (Richard 2015)
Dari hasil pengujian didapat kuat tekan paling besar pada mortar ECC MNE dengan umur pengujian 56 hari yaitu 78 MPa memiliki kekuatan lebih tinggi 9%
dibandingkan dengan benda uji kontrol (C).
Pandey dan Kumar (2019) melakukan penelitian yang berjudul
“Investigation on the effects of acidic environment and accelerated carbonation on concrete admixed with rice straw ash and microsilica” pada penelitian ini dilakukan investigasi tentang efek lingkungan asam terhadap campuran beton dengan abu jerami padi (RSA) dan mikrosilika (MS), kehilangan massa dan kuat tekan beton yang dicampur RSA dan MS diamati pada 28 dan 365 hari perendaman pada air dan diikuti dengan perendaman 30 hari pada 2 jenis larutan asam dengan konsentrasi larutan 2,5% yaitu asam klorida (HCL) dan asam sulfat (H2SO4). Adapun benda uji yang digunakan pada penelitian ini adalah 18 kubus dengan ukuran 150mm. Adapun detail perencanaan campuran dapat dilihat pada tabel 2.6. Detail perencanaan proporsi campuran.
18 Tabel 2.6 Detail perencanaan proporsi campuran
Mix Binder (kg/m3) Aggregate
Note : Angka dalam tanda kurung menunjukkan % bahan yang setara dengan % serupa dari total konten pengikat menurut beratnya.
Beton yang dicampur dengan kombinasi 10% RSA dan 5% MS (campuran R2M3) mengalami kehilangan massa dan kuat tekan paling sedikit dilingkungan asam. Persentase kehilangan kekuatan tekan (dibandingkan dengan massa awal sebelum perendaman asam) dari campuran R2M3 pada 28 hari perendaman air adalah sebesar 3,69% dan 2,19% pada perendaman HCl dan sebesar 1,81% dan 1,27% pada perendaman H2SO4. Keadaan kubus beton setelah perendaman 365 hari setelah perendaman air + 30 hari perendaman HCl dan H2SO4 dapat dilihat dari gambar 2.4.
Gambar 2.4 Beton kubus setelah 365 hari perendaman air + 30 hari perendaman HCl (kiri) dan perendaman H2SO4 (kanan) (Pandey, 2019).
19 Dapat dilihat pada gambar 2.5. Dan gambar 2.6. Perbandingan kuat tekan beton pada curing gabungan 58 hari dan 395 hari. Dan hilangnya kuat tekan setelah curing gabungan 58 hari dan 395 hari
Gambar 2.5 Perbandingan kuat tekan beton pada curing 58 hari dalam air dan pada (curing 28 hari + 30 hari perendaman asam) (Pandey, 2019).
Gambar 2.6 Perbandingan kuat tekan beton pada curing 395 hari dalam air dan pada (curing 365 hari + 30 hari perendaman asam) (Pandey, 2019).
20 Gambar 2.7 Hilangnya kuat tekan setelah 28 hari curing air dan perendaman asam
selama 30 hari dengan 58 hari curing air. (Pandey, 2019).
Gambar 2.8 Hilangnya kuat tekan setelah 365 hari curing air dan perendaman asam selama 30 hari dengan 395 hari curing air (Pandey, 2019).
Palembangan et al. (2019) melakukan penelitian yang berjudul “Studi Karakteristik Kuat Tekan dan Tarik Material PVA-ECC” penelitian ini mengganti sebagian bahan baku agregat halus beton yang diambil dari sisa hasil pembakaran batubara dengan penambahan serat PVA untuk mengetahui nilai kuat tekan, nilai modulus elastisitas material PVA-ECC dengan limbah abu terbang sebagai pengganti agregat halus. Benda uji berupa kubus dengan ukuran 50 mm x 50 mm x 50 mm. Mutu yang ditargetkan adalah 50 Mpa (45±5 Mpa) dengan komposisi rasio berat campuran semen 1, fly ash 1.2, pasir 0.8, air 0.56, HRWR 0.012, serta PVA 2% dari total berat campuran. Pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas material PVA-ECC dilakukan pada umur 7, 14, 28 hari. Nilai kuat tekan pada
21 material PVA-ECC mengalami peningkatan sebanding dengan umur. Pada umur 7 hari kuat tekan rata-rata dengan berat sampel 0.258 kg adalah 33.9 Mpa, pada umur 14 hari kuat tekan rata-rata dengan berat sampel 0.259 kg adalah 39 Mpa, pada umur 28 hari kuat tekan rata-rata dengan berat sampel 0.260 kg adalah 44.6 Mpa. Hasil tersebut diperoleh nilai modulus elastisitas pada umur 7 hari 18763,02 MPa, pada umur 14 hari nilai modulus elastisitasnya 20788,80 MPa, serta pada umur 28 hari nilai modulus elastisitasnya 21060,02 MPa. Nilai modulus elastisitas meningkat seiring dengan peningkatan kuat tekan. Dapat dilihat grafik hubungan tegangan dan regangan tekan ECC pada Gambar 2.9. dan hubungan modulus elastisitas dengan kuat tekan ECC ditunjukkan oleh Gambar 2.10.
Gambar 2.9 Hubungan Tegangan dan Regangan Tekan ECC (Palembangan,2019)
Gambar 2.10 Hubungan Modulus Elastisitas dan Kuat Tekan ECC (Palembangan, 2019)
22 Sreevidya et al. (2012) melakukan penelitian yang berjudul “Acid Resistance Of Fly Ash Based Geopolymer Mortar under Ambient Curing and Heat Curing” penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan mortar geopolimer berbasis fly ash benda uji berukuran 50x50x50mm dari rendaman asam, dengan perbandingan flyash dan pasir 1:3. Perbandingan antara larutan (Natrium hidroksida dan larutan Natrium silikat) terhadap fly ash adalah 0,376;
0,386; 0,396 dan 0,416. Setelah pembuatan benda uji, dilakukan curing ambient dan curing panas. Dalam perawatan panas, benda uji disimpan diruangan dengan suhu 60oc selama 24 jam. Daya tahan benda uji dinilai dengan merendamnnya dalam larutan 5% asam sulfat dan 5% asam klorida selama 14 minggu, sampel menunjukkan penurunan berat badan yang sangat rendah. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa mortar Geopolimer sangat tahan terhadap asam sulfat dan asam klorida. Keadaan kubus beton setelah perendaman 14 hari pada larutan kimia dapat dilihat pada gambar 2.11-2.12
Gambar 2.11 Benda Uji setelah perendaman larutan H2SO4
Gambar 2.12 Benda Uji setelah perendaman larutan HCl
23 Benda uji yang direndam pada larutan asam sulfat dan asam klorida
mengalami penurunan berat , dapat dilihat pada gambar 2.13-2.14
Gambar 2.13 Rata-rata penurunan berat badan vs rasio W/B di bawah Curing Ambient
Gambar 2.14 Rata-rata penurunan berat vs rasio W/B dalam Heat Curing Selain mengalami penurunan berat, terdapat perubahan kekuatan uji tekan, dapat dilihat pada gambar 2.15-2.16
Gambar 2.15 Perbandingan kuat tekan setelah ambient curing
24 Gambar 2.16 Perbandingan kuat tekan setelah Heat curing
Dari penelitian berikut tidak terdapat perubahan warna pada benda uji, benda uji mortar geopolimer menunjukkan ketahanan yang lebih besar terhadap lingkungan asam bila dibandingkan dengan spesimen mortar semen konvensional, dan setelah mengalami perendaman dalam asam sulfat dan asam klorida menunjukkan bahwa: kuat tekannya kurang lebih sama jika dibandingkan dengan mortar semen konvensional.
(Janowska-Renkas et al., 2021) melakukan penelitian yang berjudul
“Durability Of Cement And Ash Mortars With Fluidized And Siliceous Fly Ash Exposed To Hcl Acid Environment Over A Period Of 2 Years” penelitian tentang dampak fly ash dari pembakaran unggun terfluidisasi (FBC) lignit, digunakan dalam jumlah 30% dan 45% massa, dan campuran FBC dan abu y silikat sebesar 45% oleh massa, pada sifat mortar semen-abu. Mortar diekspos ke lingkungan agresif larutan HCl 1, 3, dan 5% selama 2 tahun. Mortar yang mengandung 45%
FBC yang dipapar larutan HCl 1% (pH = 2) menunjukkan durabilitas tertinggi di antara mortar lainnya. Pertumbuhan kekuatannya diamati setelah 90 hari pengujian di lingkungan HCl 1%, serta penurunan kekuatan terendah setelah 730 hari terpapar lingkungan ini, dihasilkan dari berkurangnya jumlah pori-pori besar dari 20 menjadi 200 nm dalam mortar yang mengandung fly ash, dengan pertumbuhan simultan pori-pori yang lebih kecil <20 nm selama pengujian. Efek menguntungkan telah ditunjukkan dari penambahan FBC ke semen pada sifat mortar semen-abu yang terkena dampak agresif dari HCl.
25 Dapat dilihat dari Gambar 2.17-2.18 penurunan kuat tekan setelah dilakukan perendaman antara 28 hari sampai 365 hari dan antara 28 hari sampai 730 hari.
Gambar 2.17 Penurunan kuat tekan setelah perendaman antara 28 hari sampai 365 hari
Gambar 2.18 Penurunan kuat tekan setelah perendaman antara 28 hari sampai 730 hari
Dari penelitian ini Mortar dengan kandungan abu - abu FBC meningkat menjadi 45% berdasarkan massa menunjukkan nilai kekuatan yang lebih tinggi, perbedaan yang lebih kecil dalam perubahan linier dan massa, dan meningkatkan daya tahan dalam lingkungan agresif yang diamati selama 730 hari pengujian.
26
BAB 3 METODE PENELITIAN METODE PENELITIAN
3.1 Umum
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bahan dan Rekayasa Beton Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian ini dilakukan kajian eksperimental. Adapun tahapan-tahapan atau prosedur penelitian dari awal sampai akhir yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian telah terangkum dalam suatu bagan alir atau flowchart. Tahapan-tahapan kegiatan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Flowchart penelitian Penulisan Laporan Penelitian
Penulisan Laporan Penelitian
Pembuatan Benda Uji Mortar ECC Silinder 100 mm x 200 mm
Pembuatan Benda Uji Mortar ECC Silinder 100 mm x 200 mm
Perendaman Benda Uji dengan larutan asam klorida (HCL) berkonsentrasi 10,5%
Perendaman Benda Uji dengan larutan asam klorida (HCL) berkonsentrasi 10,5%
Trial Mix dan Flowability Test
Trial Mix dan Flowability Test MULAI
MULAI PERSIAPAN
• Mix design
• Penyediaan material yang akan digunakan
• Pemeriksaan ketersediaan alat-alat yang digunakan
PERSIAPAN
• Mix design
• Penyediaan material yang akan digunakan
• Pemeriksaan ketersediaan alat-alat yang digunakan
Uji Tekan : dilakukan pada umur 1,3,5 bulan
Uji Tekan : dilakukan pada umur 1,3,5 bulan Analisis Data
Analisis Data SELESAI
SELESAI
27 3.2 Tahapan – Tahapan Penelitian
3.2.1 Persiapan
3.2.1.1 Penyediaan material yang akan digunakan
Adapun material-material yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah antara lain :
1. Abu terbang (fly ash)
Fly ash yang digunakan dalam campuran ECC didapat dari PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Pangkalan Susu, Sumatera Utara. Fly ash dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Fly Ash 2. Abu sekam padi
Abu sekam padi yang digunakan adalah hasil pembakaran sekam padi yang berasal dari lahan pertanian di sekitar Deli Serdang, Sumatera Utara.
Abu sekam padi dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3 Abu Sekam Padi
28 3. Semen
Semen yang digunakan adalah semen Portland tipe 1. Semen Portland tipe 1 dapat dilihat pada Gambar 3.4.
Gambar 3.4 Semen 4. Pasir Silika
Pasir Silika yang digunakan berdiameter sekitar 100 µm (0,1 mm), ditunjukkan pada Gambar 3.5
. Gambar 3.5 Pasir Silika
29 5. Superplasticizer
Superplasticizer yang dipakai adalah ViscoCrete-8670 MN yang diperoleh dari PT. SIKA. Superplasticizer digunakan untuk mereduksi air (hingga 30%) sehingga dihasilkan ECC dengan workability dan kekuatan awal yang baik. Superplasticizer dapat dilihat pada Gambar 3.6.
Gambar 3.6 Superplasticizer 6. Air
Air yang digunakan berasal dari Laboratorium Bahan dan Rekayasa Beton Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara. Secara visual, air harus jernih dan tidak mengandung kotoran-kotoran. Air dapat dilihat pada Gambar 3.7.
Gambar 3.7 Air
30 7. Larutan asam klorida (HCl)
Larutan asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl) dapat dilihat pada gambar 3.8.
Gambar 3.8 Larutan asam klorida (HCl) 3.2.1.2 Pengujian Chemical Content abu sekam padi
Abu sekam padi yang digunakan pada penelitian ini bersifat pozzolan, yaitu mengandung senyawa Silika yang dapat bereaksi dengan semen sehingga dapat meningkatkan kekuatan dari ECC. Untuk mengetahui kandungan kimia dari abu sekam padi, terlebih dahulu dilakukan pengujian chemical content di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
3.2.1.3 Pemeriksaan ketersediaan peralatan yang akan digunakan Peralatan yang dibutuhkan pada saat penelitian antara lain : 1. Mixer Bor Pengaduk Campuran ECC
Mixer Bor digunakan sebagai alat pengaduk material-material campuran yang digunakan. Mixer Bor dapat dilihat pada Gambar 3.9.
Gambar 3.9 Mixer Bor
31 2. Cetakan silinder, kuas, oli, dsb
Cetakan silinder yang digunakan berukuran 100 x 200 mm. Cetakan silinder dapat dilihat pada Gambar 3.10.
Gambar 3.10 Cetakan Silinder 3. Alat slump flow test
Slump flow test dilakukan untuk menentukan flowability (kemampuan alir) dari mortar ECC. Alat yang digunakan dalam meja flowability test diameter 50-60 cm dapat dilihat pada Gambar 3.11.
Gambar 3.11 Alat slump flow test 4. Tempat perendaman benda uji
Tempat untuk merendam silinder mortar ECC terhadap larutan HCl ditunjukkan oleh Gambar 3.12.
Gambar 3.12 Bak perendaman benda uji
32 5. Alat untuk pengujian tekan benda uji silinder
Alat yang digunakan untuk pengujian kuat tekan silinder mortar ECC ditunjukkan oleh Gambar 3.13.
Gambar 3.13 Alat uji tekan 6. Ember Mixing
Ember mixing digunakan sebagai wadah pengaduk campuran ECC.
Ember yang digunakan yaitu ember cat berbahan dasar plastik yang berukuran 25 liter. Gambar ember mixing dapat dilihat pada Gambar 3.14
Gambar 3.14 Ember mix 7. Kerucut Abrams
Kerucut abrams digunakan pada pengujian slump flow test dan slump test. Kerucut abrams memiliki diameter atas 10 cm, diameter bawah 20 cm dan ketinggian 30 cm. Gambar kerucut abrams dapat dilihat pada Gambar 3.15.
33 Gambar 3.15 Kerucut Abrams
8. Meja Acrylic Flowability
Meja acrylic flowability digunakan untuk mengetahui kondisi workabilitas dari ECC. Gambar meja acrylic flowability dapat dilihat pada Gambar 3.16.
Gambar 3.16 Meja Acrylic Flowability 3.2.2 Mix Design ECC
Mix Design dilakukan agar mutu ECC mencapai kualitas yang disyaratkan dengan cara merancang dan memilih bahan yang cocok serta menentukan proporsi relatif dari material-material yang akan digunakan dalam campuran ECC. Sampai saat ini, belum ada peraturan resmi yang mengatur mengenai mix properties dari Engineered cementitious Composites (ECC). Oleh
34 karena itu mix properties yang digunakan berdasarkan hasil dari trial and error ataupun mengacu kepada penelitian Prof. Victor Li selaku penemu ECC.
3.2.3 Trial Mix & Flowability Test
Pada penelitian ini, dilakukan trial mix untuk mendapatkan proporsi mix design yang diinginkan, serta untuk mengetahui workability dari setiap campuran ECC. Dalam melakukan trial mix benda uji yang digunakan yaitu silinder dengan ukuran diameter 10 cm dan tinggi 20 cm sebanyak 3 buah untuk setiap variasi.
Setelah proses mixing selesai, dilakukan flowability test untuk mengetahui workability dari setiap campuran ECC. Untuk mengetahui kualitas benda uji, dilakukan pengujian tekan pada umur 1 hari setelah proses mixing selesai. Proses mixing dan flowability test dapat dilihat pada Gambar 3.17 dan Gambar 3.18.
Gambar 3.17 Proses mixing ECC
35 Gambar 3.18 Proses flowability test
3.2.4 Pembuatan Benda Uji
Sebelum pembuatan benda uji terlebih dahulu dilakukan mix design atau rancangan campuran Mortar ECC, selanjutnya dilakukan trial mix dan pemeriksaan flowability untuk ECC. Benda uji yang digunakan pada penelitian ini adalah silinder beton dengan dimensi 10 cm × 20 cm. Jumlah benda uji dari setiap variasi perendaman larutan asam klorida (HCl) berjumlah 3 buah untuk umur uji tekan 1, 3 dan 5 bulan. Sehingga, jumlah keseluruhan benda uji adalah 18 buah, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Matriks Benda Uji
No Tambahan
36
37 Prosedur pelaksanaan dalam pembuatan benda uji sebagai berikut:
1. Menyiapkan seluruh bahan penyusun mortar ECC dengan menimbang sesuai dengan berat yang terdapat pada mix properties yang sudah dirancang sebelumnya.
2. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampur superplasticizer dengan sedikit air didalam gelas ukur untuk mengurangi kekentalan superplasticizer seperti pada Gambar 3.19 kemudian semua air dituang kedalam ember cat.
Gambar 3.19 Penuangan Air ke Superplasticizer
3. Masukkan superplasticizer yang tercampur dengan air kedalam ember cat seperti terlihat pada gambar 3.20.
Gambar 3.20 Penuangan Superplasticizer
38 4. Masukkan fly ash ke dalam tong cat seperti ditunjukkan pada Gambar 3.21,
kemudian bor dihidupkan dan diaduk sampai tercampur merata.
Gambar 3.21 Penuangan Fly Ash
5. Setelah tercampur merata, masukkan abu sekam padi dan aduk sampai merata seperti terlihat pada Gambar 3.22.
Gambar 3.22 Penuangan Abu Sekam Padi
39 6. Setelah itu. Masukkan 1/3 bagian semen, lalu aduk sampai plastis. Kemudian masukkan agi 1/3 bagiam semen dan aduk sampai plastis seperti ditunjukkan pada Gambar 3.23, lalu masukkan sisa semen dan diaduk sampai plastis.
Gambar 3.23 Penuangan Semen
7. Selanjutnya masukkan ½ bagian pasir silika, diaduk sampai plastis, lalu masukkan sisa pasir silika dan aduk sampai plastis. Mixing dihentikan setelah adukan ECC memiliki workabality yang baik dengan cara mengambil segenggam adukan ECC tersebut, kemudian angkat sekitar 20-25 cm dan lepaskan. Biarkan mixing mengalir seperti ditunjukkan pada Gambar 3.24.
Gambar 3.24 Penuangan Pasir Silika
40 8. Langkah selanjutnya adalah pengujian flowability campuran mortar ECC berdasarkan (EFNARC, 2002) dengan cara meletakkan kerucut abrams secara tegak vertikal (diameter paling besar di bagian bawah) diatas papan acrilyc.
Papan acrilyc harus dalam keadaan bersih dan kering.
9. Setelah itu kerucut abrams ditekan dan ditahan pada papan acrilyc kemudian campuran mortar ECC dituangkan kedalam kerucut abrams, diatur dengan ketinggian yang sesuai agar campuran tidak keluar seperti pada Gambar 3.25.
Gambar 3.25 Pengujian Flowability
10. Selanjutnya stopwatch disediakan untuk mengukur waktu laju flowability campuran mortar ECC (T500). Stopwatch dimulai bersamaan dengan saat kerucut abrams mulai diangkat setinggi ± 30 cm. kerucut abrams diangkat vertikal secara perlahan (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat).
Stopwatch dihentikan saat penyebaran campuran mencapai diameter 50 cm, waktu yang ditampilkan stopwatch adalah T500 dari campuran mortar ECC.
11. Lalu dilakukan pengukuran diameter jangkauan mortar ECC saat specimen sudah berhenti. Pengukuran dilakukan sebanyak 2 kali pada diameter
41 jangkauan terluas seperti pada Gambar 3.26. Setelah itu campuran dikumpulkan pada ember cat, lalu diaduk kembali sekitar ± 1 menit.
Gambar 3.26 Pengukuran diameter
12. Campuran mortar ECC tersebut dituang pada bekisting silinder 10 x 20 cm yang telah diolesi oli agar setelah kering campuran tidak menempel dan dapat dengan mudah dibuka dari bekisting seperti ditunjukkan pada Gambar 3.27.
42 Gambar 3.27 Penuangan mortar ECC ke bekisting
13. Campuran yang dituang kedalam bekisting tidak perlu dilakukan pemadatan (dirojok).
14. Cetakan yang telah diisi campuran mortar ECC didiamkan selama 24 jam.
Setelah mortar ECC mencapai umur 24 jam, cetakan silinder dibuka dan mulai melakukan curing dengan merendamnya di kolam perendaman.
3.2.5 Perendaman Air
Berdasarkan (Liew et al., 2020) perendaman benda uji pada air dapat tidak dilakukan pada benda uji ECC.
3.2.6 Perendaman HCl
Setelah pembuatan benda uji selesai, maka dilakukan perendaman benda uji pada larutan HCL dengan konsentrasi 10,5%, perendaman dilakukan selama 1,3 dan 5 bulan. Perendaman ini dilakukan untuk merusak benda uji mortar ECC.
3.2.7 Pengujian
Pengujian kuat tekan silinder beton dilakukan pada umur beton 1, 3 dan 5 bulan setelah direndam dengan larutan asam klorida (HCl) berkonsentrasi 10,5%.
43 Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kuat tekan benda uji silinder mortar ECC akibat rendaman larutan HCl.
3.2.8 Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk mengkaji kuat tekan mortar ECC (Enginereed Cementitious Composite) akibat direndam dengan larutan asam klorida (HCl). Adapun cara analisis data pengujian dilakukan dengan :
a. Data hasil pengujian kuat tekan benda uji dibuat dalam tabel.
a. Data hasil pengujian kuat tekan benda uji dibuat dalam tabel.