BAB 3. ASPEK KELAYAKAN
3.2. Aspek Ekonomi Sosial
Akseptabilitas Masyarakat terhadap PLTS. Saat dilakukan penjelasan terkait akan diimplementasikannya PLTS di Desa Sungai Rambut, secara umum masyarakat cukup antusias.
Salah satu hal yang membuat masyarakat antusias adalah keberhasilan SHS di Desa Rantau Makmur. Masyarakat melihat di desa tersebut PLTS dapat beroperasi selama kurang lebih 4 tahun tanpa pergantian peralatan yang mahal (baterai). Pada forum tersebut dijelaskan pula bahwa nantinya mereka harus menabung untuk membeli baterai setelah sekitar 3-4 tahun. Iuran SHS memang tidak lebih besar dari PLTD tetapi keuntungan PLTD bagi mereka adalah bisa digunakan untuk selain penerangan. Sehingga masyarakat berpikir bahwa kelak jika telah ada PLTS, listrik dari PLTD akan digunakan untuk peralatan listrik lainnya selain penerangan.
Respon desa di sekitarnya. Menurut penuturan masyarakat masih ada satu desa yang lebih terpencil dan tidak memiliki akses terhadap listrik. Di desa ini terdapat sekitar 400 KK. Tetapi jaraknya cukup jauh dari Desa Sungai Rambut. Masyarakat Desa Sungai Rambut hanya mengusulkan PLTS untuk desa ini, tetapi dari desa tersebut tidak ada rasa iri ataupun kecemburuan social dengan program Konsorsium Kemala di Desa Sungai Rambut.
Kemampuan Masyarakat untuk membayar. Pemasukan rata-rata tiap rumah tangga adalah Rp 2.000.000,00. Selama ini masyarakat membayar listrik secara merata sebesar Rp 90.000,00 per bulan. Masyarakat tidak merasa keberatan dengan harga ini karena telah didiskusikan dan diputuskan bersama. Pada PLTS, masyarakat harus membayar sekitar Rp 48.000,00 - Rp 70.000,00 untuk dapat menimkati listrik. Uang ini menjadi tabungan mereka jika terjadi kerusakan pada baterai dengan estimasi usia baterai 3-4 tahun. Bagi masyarakat yang
betul-12 betul tidak mampu (kriteria akan diputuskan berdasarkan pandangan atau usulan dari pengelola serta musyawarah dengan masyarakat), akan diberikan subsidi silang dari iuran pada unit usaha atau sekolah hijau. Subsidi silang dilakukan tidak 100% tetapi disesuaikan dengan kondisi pendapatan warga yang tidak mampu membayar. Dana subsidi silang akan diperoleh dari unit produksi sekolah hijau yang secara ekonomi akan dijelaskan pada bab Pembiayaan untuk Usaha Produktif.
Pembiayaan untuk Fasilitas Publik. Saat ini fasilitas publik (mushola dan masjid) digratiskan dari dana iuran listrik. Sementara sekolah tidak membutuhkan listrik karena anak-anak belajra pada siang hari. Selain itu, tidak ada peralatan listrik yang digunakan di sekolah. Kantor desa memiliki generator sendiri yang akan digunakan jika ada acara yang membutuhkan speaker atau kipas angin untuk dioperasikan.
Tabel Analisis Kondisi Eksisting
Penerima Manfaat Aspek Sosial Aspek Ekonomi
Masyarakat (diesel, minyak)
(1) listrik diesel tergantung pasokan solar dari luar; (2) kerusakan diesel akan menyebabkan padamnya listrik lebih dari sehari; (3) resiko lampu minyak pada jelaga dan rentan terbakar
-
Masjid
(1) Ibadah siang tidak terakomodasi oleh listrik karena diesel menyala malam; (2) listrik diesel tergantung pasokan solar dari luar; (3) kerusakan diesel akan menyebabkan padamnya listrik lebih dari sehari
-
SD KBM terbatas (tanpa audio-visual) -
Kantor Desa Kegiatan administrasi tanpa listrik -
PAUD, Posyandu, Balai
Pertemuan Kegiatan harian tanpa listrik di siang hari -
Pembiayaan untuk Usaha Produktif. Usaha produktif yang akan diintervensi oleh Konsorsium Kemala adalah pembuatan pisang sale serta pembuatan kerupuk ikan. Untuk penjualan pisang sale, pengeringan menggunakan panas matahari. Listrik dari PLTS digunakan untuk mesin spinner setelah sale pisang digoreng serta untuk mesin pengepakan pisang sale.
Begitupun dengan kerupuk ikan. Listrik dari PLTS digunakan untuk pencampuran bahan yang menggunakan mixer, mesin pemotong kerupuk ikan saat mentah serta mesin pengemasan seara vakum. Perhitungan untuk kedua bisnis ini terlihat pada Tabel 3. 1.
13
Tabel 3. 1 Perhitungan usaha produktif masyarakat
Usaha sale pisang
Target produksi 100 kg/hari
Kebutuhan energi listrik 350 W
Penyusutan sampai menjadi produk 30%
Harga bahan baku 2000 rupiah/kg
Harga jual produk 26,000 rupiah/kg
Biaya produksi 3,500 rupiah/kg
Biaya produksi total harian 550,000 rupiah/hari
Jual produk 780,000 rupiah/hari
Keuntungan 230,000 rupiah/hari
Peralatan yang dibutuhkan
Mesin spinner 2 buah mesin spinner @150 watt
Mesin pengemas 2 buah mesin pengemas @350 W
Usaha Kerupuk ikan
Target produksi 20 kg/hari
Bahan baku 1 kg/hari
Produk 15 bungkus
Harga produk 5,000 rupiah/bungkus
Biaya produksi 45,000 rupiah/kg
harga jual produk 75,000 rupiah/kg
Keuntungan 30,000 rupiah/kg
600,000 rupiah/hari
Peralatan yang dibutuhkan
Mixer 1 buah 600 W
Mesin pemotong kerupuk 1 buah 135 W
Mesin spinner 2 buah mesin spinner @150 watt
Mesin pengemas 1 buah mesin pengemas @350 W
Selama ini permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah kesulitan untuk memasarkan hasil produk di desa. Untuk itu, peran PCNU Tanjung Jabung Timur dan PWNU Jambi sangat diperlukan dalam hal pemasaran produk. Masyarakat dalam jangka waktu pendek (selama proyek) dan panjang (pasca proyek) akan dikader dan didampingi mulai dari pengelolaan hingga packaging yang layak untuk dijual di pasaran. Desa Sungai Rambut diharapakan menjadi desa binaan dari PCNU Tanung jabung Timur dan PWNU Jambi pada umumnya.
Komitmen ini harus dijaga kedua belah pihak sebagai bukti kebermanfaatan akan adanya Nahdatul Ulama dalam berkontribusi di daerah, terutama untuk perkembangan Desa Sungai Rambut.
14
3.3.Aspek Teknis
Indonesia yang merupakan negara tropis dan mendapat sinar matahari sepanjang tahun, merupakan daerah yang cocok untuk pengembangan PLTS. Berdasarkan data dari NASA (lat: -1.214;
long:104,161) , rata-rata radiasi matahari selama 22 tahun sejak Juli 1983 sampai dengan Juni 2005 di Desa Sungai Rambut terlihat pada Gambar 3. 1.
Gambar 3. 1 Intensitas radiasi matahari di Desa Sungai Rambut3
Berdasarkan data tersebut, rata-rata sinar matahari di Desa Sungai Rambut adalah 4,48 kWh/m2/hari. Potensi radiasi matahari ini dinilai layak untuk dapat dikembangkan PLTS di wilayah tersebut. Secara teknis, pemasangan PLTS di Desa Sungai Rambut akan dipasang secara tersebar sesuai dengan kondisi rumah di desa tersebut.
3.4.Aspek Kelembagaan dan Pengelolaan 3.4.1. Kelembagaan dan Pengelolaan
3.4.1.1. Model Kelembagaan yang berkelanjutan Kepemilikan dan sistem pinjam pakai. Semua peralatan bantuan dari MCAI bersifat pinjam pakai oleh masyarakat. Kepemilikan sistem berada pada level desa. Sistem ini digunakan untuk mengantisipasi masyarakat menjual PLTS yang terpasang di rumah, fasilitas umum atau usaha produktif di Desa Sungai Rambut.
Kelembagaan manajemen. Kelembagaan pengelola merupakan unit di bawah Pengelolaan Desa Sungai Rambut. Sebelum dilakukan assessment lapangan, telah dilakukan diskusi
3
https://eosweb.larc.nasa.gov/cgi-bin/sse/grid.cgi?&num=285089&lat=-1.214&submit=Submit&hgt=100&veg=17&sitelev=&[email protected]&p=grid_id&p=swv_dwn&p=
avg_dnr&p=clr_sky&p=declinat&p=mx_horizon&p=ret_tlt0&p=mnavail1&p=no_sun1&p=day_cld&p=T10M
&p=DLYRANGE&p=wspd50m&p=RH10M&step=2&lon=104.161
15 dengan Kepala Desa Sungai Rambut terkait rencana pemasangan PLTS. Secara umum, Beliau mendukung adanya rencana ini. Gambar 3. 2 menunjukkan rencana keberlanjutan program.
Secara kelembagaan, Sekolah HIjau yang dikelola oleh para Kader Hijau akan berada di bawah koordinasi Desa Sungai Rambut. Pada saat running project, Konsorsium Kemala mengajak PCNU Tanjung Jabung Timur untuk bersama-sama terjun ke masyarakat. Setelah project selesai, pendampingan akan diteruskan oleh PCNU Tanjung Jabung Timur dengan didukung oleh PWNU Jambi serta kerjasama dengan BAPPEDA Tanjung Jabung Timur.
Gambar 3. 2 Koordinasi stakeholder terkait untuk pengelolaan keberlanjutan usaha produktif masyarakat
3.4.1.2. Mekanisme pembayaran dan pengelolaan dana operasional
Pembayaran untuk tabungan baterai harus diserahkan kepada pengelola rutin setiap bulan.
Warga yang membayar serta pengelola masing-masing harus memiliki kartu bukti bayar dan dicap setelah warga membayar. Penulisan tanggal pembayaran san penerima uang juga harus tertulis dengan jelas.
Sumber dana pengelolan akan didapat dari iuran baterai dari masyarakat dan sekolah hijau.
Persewaan usaha produktif juga kan menjadi pemasukan untuk pengelola sehingga dapat memberikan subsidi untuk masyarakat. Selain itu, nantinya setiap masyarakat yang mendapat bantuan PLTS harus menanam dua buah pohon di awal tahun implementasi SHS di rumah mereka. Setalah 3 tahun, pohon-pohon ini bisa ditebang untuk dijual dan pemasukannya digunakan untuk membeli baterai baru. Setelah ditebang, masyarakat harus menanam lagi dan ini harus menjadi kebiasaan warga agar kelak pembelian baterai dapat berlangsung terus menerus dan tidak ada alasan untuk tidak bisa membeli baterai karena tidak ada dana.
Dana operasional pengelola diambil dari usaha pembuatan pisang sale serta pembuatan kerupuk ikan. Kader hijau akan diajarkan cara mengolah pisang sale serta kerupuk ikan
16 dengan kualitas yang baik. Target pengembangan (pasar, harga, izin kesehatan) untuk usaha pisang sale adalah sebagai berikut:
Jangka pendek (1-2 th) : produksi dijual di pasar desa dan 3 desa sekitar
Jangka menengah (2-3 th) : mutu produk standar, mulai pengurusan ijin PIRT
Jangka panjang : dijual di pasar kecamatan dan kabupaten, 300kg bahan/hr, sudah mendapatkan ijin PIRT
Sementara untuk target pembuatan kerupuk ikan adalah sebagai berikut:
Jangka pendek (1-2 th) : produksi 3-5 kg ikan/hari, dijual di pasar desa dan desa sekitar
Jangka menengah (2-3 th) : mutu produk standar, dikemas rapi, bersih, dengan alat pengemas vakum, mulai pengurusan ijin PIRT. Kapasitas menjadi 10-15 kg/hari
Jangka panjang : dijual di pasar kecamatan dan kabupaten, sudah dengan ijin PIRT, Kapasitas menjadi 15-20 kg ikan/hari.
3.4.1.3. Tim Manajemen dan Peningkatan Kapasitas
Kader Hijau menjadi bagian dari kelembagaan pengelola & dilatih untuk memelihara dan system pengelolaan. Kader hijau telah dipilih oleh asesor Kemala yang selama 2 minggu berinteraksi dengan masyarakat. Proses rekruitmen dijelaskan pada Gambar 3. 3.
Gambar 3. 3 Flowchart rekruitmen kader hijau
Berdasarkan proses rekruitmen tersebut, terpilihlah calon kader hijau di Desa Sungai Rambut.
Penlaian didasarkan atas beberapa pertimbangan:
1. Latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi
2. Kesediaan untuk menjalankan berbagai aktivitas baik di dalam maupun di luar desa terkait dengan kegiatan kader hijau
17 3. Kemampuan dalam membuat gagasan, menyampaikan pendapat danberargumentasi 4. Keaktifan daam forum bersama dan diskusi kelompon
5. Pemahaman tentang isu energi terbarukan dan pengembangan ekonomi warga
Selanjutnya, terpilihlah nama-nama dalam Tabel 3. 2 berikut berdasarkan ranking terbaik. Sebagai pengelola, kelak kader hijau akan digaji. Gaji dianggap penting karena pola voluntary tidak bisa diaplikasikan dalam jangka waktu yang lama. Masyarakat yang telah bekerja dan meluangkan waktu berhak untuk mendapatkan gaji. Sehingga adanya gaji ini penting untuk dianggarkan dalam pengelolaan sistem Sekolah Hijau dan usaha produktif yang dikelola oleh Kader Hijau.
Tabel 3. 2 Profil kader hijau di Desa Sungai Rambut
No Nama Usia Laki-laki/
Perempuan Pendidikan Pekerjaan Pengalaman Organisasi
11 Sapriyadi 36 Laki-laki SMP Guru/Petani Karang taruna
12 M. Isa 31 Laki-laki SMA Petani Karang taruna
3.4.2.1. Hak dan Kewajiban penerima manfaat
Hak dan kewajiban masyarakat terlihat pada Tabel 3. 3.
18
Tabel 3. 3 Hak dan kewajiban penerima manfaat PLTS
Pengguna Hak Kewajiban
Rumah tangga Mendapat 1 buah panel surya kapasitas 100 Wp
Mendapat 1 buah solar charge controller 20 A 12/24V
Mendapat 1 buah baterai 12V-70 Ah
Mendapat 4 buah lampu DC dengan daya masing-masing 3 W
Mendapat 1 buah panel surya kapasitas 100 Wp
Mendapat 1 buah solar charge controller 20 A 12/24V
Mendapat 1 buah baterai 12V-70 Ah
Mendapat 4 buah lampu DC dengan daya masing-masing 3 W
Peralatan perkabelan
Masjid Mendapat 6 buah panel surya kapasitas 100 Wp
Mendapat 1 buah solar charge controller 60 A 48 V
Mendapat 2 buah baterai 12V-100 Ah
Mendapat 1 buah inverter min 800 W pure sine wave
Mendapat 3 buah lampu LED dengan daya masing-masing 10 W
Mendapat 2 electric socket
Peralatan perkabelan
Peralatan perawatan
Sekolah hijau Mendapat 10 buah panel surya kapasitas 100 Wp
Mendapat 1 buah solar charge controller 60 A 48 V
Mendapat 4 buah baterai 12V-100 Ah
Mendapat 1 buah inverter min 2000 W pure sine wave
Mendapat 4 buah lampu LED dengan daya masing-masing 10 W
Mendapat 2 electric socket
Peralatan perkabelan
Peralatan perawatan
Unit usaha Mendapat 20 buah panel surya kapasitas 100 Wp
Mendapat 2 buah solar charge controller 80A, 48V
Mendapat 8 buah baterai 12V-100 Ah
Mendapat 1 buah inverter min 3000 W pure sine wave
Mendapat 6 buah lampu LED dengan daya masing-masing 10 W
Mendapat 2 electric socket
Peralatan perkabelan
Peralatan perawatan
3.4.2.2. Keterlibatan masyarakat
Pada tahap assessment untuk menentukan rumah tangga, fasilitas umum serta usaha yang akan diberikan bantuan PLTS, masyarakat telah dilibatkan sebagai pemberi masukan ataupun usulan kepada asesor lapangan. Pada tahap pra-instalasi, disiapkan kader hijau yang telah terpilih untuk
19 menjadi pengelola PLTS nantinya. Pada saat tahap instalasi, masyarakat diminta aktif dan terlibat dalam pemasangan PLTS di rumah-rumah, fasilitas umum maupun usaha dengan cara gotong royong. Tahap terpenting adalah keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan PLTS pasca-instalasi. Pendampingan juga akan dilakukan oleh kader-kader Nahdatul Ulama di wilayah Tanjung JabungTimur dan Jambi pada umumnya seperti terlihat pada skema di Gambar 3. 2.
3.5. Aspek Usulan Pembiayaan 3.5.1. Usulan Biaya
Biaya Operasional. Biaya operasional yang diperlukan setiap bulan adalah gaji pengelola dan tabungan untuk peralatan usaha jika terjadi kerusakan.
Tabungan Baterai. Pada PLTS yang menggunakan sistem baterai, diperlukan biaya penggantian baterai kurang lebih setelah tiga – empat tahun masa pakai baterai. Untuk itu, diperlukan tabungan agar masyarakat bisa membeli baterai jika telah rusak.
Perhitungan usulan biaya diperlihatkan sebagai berikut.
Tabel 3. 4 Skenario pembiayaan operasional dan pemeliharaan alat
Kebutuhan Pengeluaran Bulanan
Spesifikasi Unit Satuan Total
1. PLTS - Pembelian Baterai
Baterai 100 W 169 53,000 8,957,000
JUMLAH Pengeluaran Bulanan 16,977,000
Sumber Pembiayaan Bulanan
20
Spesifikasi Unit Satuan Total
1. Iuran Warga
JUMLAH Pemasukan Bulanan 17,185,000
3.5.2. Subsidi silang
Dana dari usaha produktif diharapkan dapat membantu biaya operasional untuk perawatan alat usaha dan gaji pengelola bulanan. Keuntungan usaha bisa digunakan untuk subsidi silang bagi fasilitas umum. Selain itu, sisa tabungan masih bisa digunakan untuk memberikan subsidi bagi rumah tangga masyarakat yang tidak mampu membayar iuran bulanan. Cara lain untuk menabung adalah dengan cara menanam pohon yang akan dipanen pada tahun dimana membutuhkan untuk membeli baterai pada sistem SHS maupun PLTS terpusat yang terpasang di desa.
3.5.3. Mekanisme Pembayaran dan Tabungan
• Warga dikenakan kewajiban membayar dengan nilai tertentu sesuai keputusan pengelola yang diputuskan secara kekeluargaan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
• Iuran dilakukan dengan pengumpulan di Gedung Sekolah Hijau dan dibayarkan setiap bulan kepada pengelola agar uangnya dapat ditabung. Untuk fasilitas umum, jika usaha telah mampu menghasilkan keuntungan, maka iuran dana pada fasilitas umum akan diambil dari dana keuntungan usaha. Selama usaha belum menghasilkan keuntungan, maka perlu dicatat berapa bulan fasilitas umum harus menabung agar kelak dapat diambil dari keuntungan usaha. Rencana lain jika usaha tidak menghasilkan keuntungan, dana fasilitas umum disalurkan oleh PCNU Tanjung Jabung Timur dari dana infak, shodaqoh masyarakat yang dikelola Nahdatul Ulama.
21
3.6. Aspek Mitigasi Dampak Intervensi Teknologi
Pemilihan akses listrik dari PLTD atau PLTS. Masyarakat yang telah mendapat bantuan PLTS untuk penerangan rumah tangga, tidak diperkenankan untuk menggunakan penerangan dari PLTD. Tetapi mereka diperkenankan untuk menggunakan PLTD untuk peralatan selain penerangan. Metode ini dilakukan agar kedua teknologi (PLTD dan PLTS) dapat beroperasi dengan optimal. PLTS yang diberikan di rumah adalah jaringan DC sehingga tidak dapat digunakan untuk peraltan listrik yang membutuhkan listrik AC. Sementara PLTD yang masih digunakan saat ini masih dapat beroperasi dengan baik, sehingga diharapkan listrik yang ada dari PLTD dapat dimanfaatkan untuk peralatan listrik lain agar masyarakat lebih produktif.
Biaya iuran listrik di rumah tangga. Pada rumah yang memiliki PLTD dan PLTS, tentu saja pembayarannya akan dobel yaitu iuran PLTS dan iuran PLTD. Untuk itu masyarakat harus bijak dalam menentukna prioritas. Selama ini listrik yang menyala pada sore hari hanya digunakan untuk menonton sinetron yang tidak mendidik. Dengan adanya PLTS diharapkan listrik dari PLTD dapat digunakan untuk waktu-waktu produktif. Misalnya listrik tersebut akan digunakan untuk menumbuhkan usaha baru di masyarakat, misalnya usaha ibu-ibu untuk membuat kue dan dijual di pasar. Proses pembuatan kue ini membutuhkan listrik untuk mixer atau blender. Untuk itu, pendekatan masyarakat yang tepat perlu dilakukan agar masyarakat dapat memilih dengan bijak teknologi yang digunakan di rumah mereka.
22
BAB 4. RANCANGAN TEKNIS
4.1. Parameter Rancangan PLTS 100 WP
Perhitungan Beban
Beban setiap rumah yang akan mendapatkan sambungan PLTS terdiri dari 4 lampu LED hemat energi 5 watt dan 1 stop kontak. Energi rata-rata yang diterima rumah mencapai lebih dari 240 watt jam per hari.
Kebutuhan energi per hari
Analisis beban berupa kebutuhan energi total setiap hari. Rumus perhitungan energi ditunjukkan pada persamaan berikut
𝑾 = 𝒌 × 𝑷 × 𝒕 dengan,
W = energi (Watt-jam/hari) k = konstanta (jumlah beban) P = daya (Watt)
t = lama waktu penggunaan (jam)
Tabel 6.1. memperlihatkan perhitungan kebutuhan energi per hari pada semua beban Tabel 6.1. Kebutuhan energi setiap rumah Opsi 1
No Jenis Beban Jumlah
Tabel 6.2. Kebutuhan energi setiap rumah Opsi 2 dengan memanfaatkan inverter
No Jenis Beban Jumlah
Jumlah energi total yang dibutuhkan setiap hari adalah 240 Watt-jam.
23 Kebutuhan panel surya
Panel Surya digunakan untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listik. Perhitungan kapasitas panel surya yang harus dipasang agar memenuhi kebutuhan energi yang diharapkan menggunakan persamaan berikut ini
𝑷𝑾𝑷= 𝑾
𝒕𝒊𝒏𝒔× 𝒌𝒆𝒇 dengan,
kef = koefisien efisiensi; tins = penyinaran puncak per hari (hour/day); W = energi per hari (kWh/day);
PWP = Daya puncak panel surya (Watt) ;
Kerugian total dalam sistem PLTS dihitung dari penjumlahan kerugian komponen sistem. Jumlah kerugian dalam sistem PLTS ditunjukkan pada tabel berikut
Tabel 6.3. Rugi-rugi pada PLTS No Jenis Rugi-rugi
(Losses) Nilai Rugi-Rugi Efisiensi
1 PV temperature loss 5% 95%
Sehingga perhitungan jumlah panel surya adalah sebagai berikut Diketahui :
W = 240 Watt-jam tins = 4,5jam kef = 53% = 0,53
Total kebutuhan panel surya :
𝑷𝑾𝑷= 𝑾
𝒕𝒊𝒏𝒔× 𝒌𝒆𝒇 = 𝟐𝟒𝟎
𝟒, 𝟓 × 𝟎, 𝟓𝟑= 𝟏𝟎𝟎, 𝟔 𝑾𝒂𝒕𝒕
Maka panel surya yang dibutuhkan adalah 100 Watt - peak.
Kebutuhan Baterai
Diketahui
W = 240 Watt-jam DoD = 30%
V = 12 Volt
24 Total kebutuhan baterai dalam Ampere – jam (Ah):
𝑩𝒂𝒕𝒄𝒂𝒑= 𝑾
𝑫𝒐𝑫 × 𝑽= 𝟐𝟒𝟎
𝟎, 𝟑 × 𝟏𝟐= 𝟔𝟔, 𝟔 𝑨 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒍𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒔𝒊 𝟕𝟎𝑨𝒉
Sehingga, kebutuhan baterai pada PLTS adalah 12 Volt, 70 Ah dengan energi tersimpan sebesar 840Wh.
Kebutuhan Pengendali Pengisian Baterai
Dasar penentuan spesifikasi SCC adalah kapasitas arus hubung singkat total dan dan tegangan buka dalam satu kelompok panel surya. Sesuai dengan panel surya yang digunakan memliki arus pengisian maksimum 5,33 A maka kapasitas SCC yang digunakan dapat dihitung sebagai berikut:
𝐓𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐂𝐂 = (tegangan tebuka panel surya x 1,5) Tegangan SCC = 𝑉𝑂𝐶× 1,5
Tegangan SCC = (22,54 × 1,5) 𝐓𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐂𝐂 = 𝟑𝟑, 𝟕𝟓 𝐕𝐨𝐥𝐭 (𝐦𝐢𝐧𝐢𝐦𝐮𝐦)
𝐀𝐫𝐮𝐬 𝐒𝐂𝐂 = (Arus Hubung Singkat × 2) Arus SCC = (I𝑀𝑃× 2)
Arus SCC = (5,33 × 2) 𝐀𝐫𝐮𝐬 𝐒𝐂𝐂 = 𝟏𝟎, 𝟔𝟔 𝐀𝐦𝐩𝐞𝐫𝐞
Jadi pengendali pengisian baterai atau solar charge controller (SCC) yang akan digunakan mempunyai spesifikasi tegangan lebih dari 33,75 volt dan arus lebih dari 10,66 Ampere. Sehinga SCC yang digunakan mempunyai tegangan masimum 50 Volt dan arus 20 Ampere.
25
PLTS 600 WP
Perhitungan Beban
PLTS dengan kapasitas 600 WP digunakan untuk mensuuplai fasilitas publik berupa tempat ibadah atau balai perkumpulan warga. PLTS ini digunakan untuk memasok energi untuk lampu, pengeras suara, dan kipas angin.
Kebutuhan energi per hari
Analisis beban berupa kebutuhan energi total setiap hari. Rumus perhitungan energi ditunjukkan pada persamaan berikut
𝑾 = 𝒌 × 𝑷 × 𝒕 dengan,
W = energi (Watt-jam/hari) k = konstanta (jumlah beban) P = daya (Watt)
t = lama waktu penggunaan (jam)
Tabel 6.1. memperlihatkan perhitungan kebutuhan energi per hari pada semua beban Tabel 6.1. Kebutuhan energi setiap rumah
No Jenis Beban Jumlah
Jumlah energi total yang dibutuhkan setiap hari adalah 1.760 Watt-jam.
Kebutuhan panel surya
Panel Surya digunakan untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listik. Perhitungan kapasitas panel surya yang harus dipasang agar memenuhi kebutuhan energi yang diharapkan menggunakan persamaan berikut ini
𝑷𝑾𝑷= 𝑾
𝒕𝒊𝒏𝒔× 𝒌𝒆𝒇
26 dengan,
kef = koefisien efisiensi; tins = penyinaran puncak per hari (hour/day); W = energi per hari (kWh/day); PWP = Daya puncak panel surya (Watt) ;
Kerugian total dalam sistem PLTS dihitung dari penjumlahan kerugian komponen sistem. Jumlah kerugian dalam sistem PLTS ditunjukkan pada tabel berikut
Tabel 6.2. Rugi-rugi pada PLTS No Jenis Rugi-rugi
(Losses) Nilai Rugi-Rugi Efisiensi
1 PV temperature loss 10% 90%
Sehingga perhitungan jumlah panel surya adalah sebagai berikut Diketahui :
W = 560 Watt-jam tins = 4,5 jam kef = 63% = 0,63
Total kebutuhan panel surya :
𝑷𝑾𝑷= 𝑾
27 Total kebutuhan baterai dalam Ampere – jam (Ah):
𝑩𝒂𝒕𝒄𝒂𝒑=𝑾 × 𝒌𝒇−𝒃𝒂𝒕
𝑫𝒐𝑫 × 𝑽 =𝟏𝟕𝟔𝟎 × 𝟎, 𝟒
𝟎, 𝟑𝟎 × 𝟏𝟐 = 𝟗𝟕, 𝟕 𝑨𝒉 ≈ 𝟏𝟎𝟎 𝑨𝒉
Sehingga, kebutuhan baterai pada PLTS adalah 24 Volt, 100 Ah dengan energi tersimpan sebesar 2.400 Wh.
Kebutuhan Pengendali Pengisian Baterai
Dasar penentuan spesifikasi SCC adalah kapasitas arus hubung singkat total dan dan tegangan buka dalam satu kelompok panel surya. Sesuai dengan panel surya yang digunakan memliki arus pengisian maksimum 5,33 A maka kapasitas SCC yang digunakan dapat dihitung sebagai berikut:
𝐓𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐒𝐂𝐂 = (tegangan tebuka panel surya x seri x 1,5)
Jadi pengendali pengisian baterai atau solar charge controller (SCC) yang akan digunakan mempunyai spesifikasi tegangan lebih dari 70 volt dan arus lebih dari 24 Ampere.
PLTS 1.000 WP
Perhitungan Beban
PLTS dengan kapasitas 1000 WP digunakan untuk mensuuplai fasilitas publik berupa sekolah. PLTS ini digunakan untuk memasok energi untuk lampu, computer dan projector.
Kebutuhan energi per hari
Analisis beban berupa kebutuhan energi total setiap hari. Rumus perhitungan energi ditunjukkan pada persamaan berikut
𝑾 = 𝒌 × 𝑷 × 𝒕 dengan,
W = energi (Watt-jam/hari)
k = konstanta (jumlah beban)
P = daya (Watt)
28
t = lama waktu penggunaan (jam)
Tabel 6.1. memperlihatkan perhitungan kebutuhan energi per hari pada semua beban
No Jenis Beban Jumlah
Jumlah energi total yang dibutuhkan setiap hari adalah 2.832 Watt-jam.
Kebutuhan panel surya
Panel Surya digunakan untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listik. Perhitungan kapasitas panel surya yang harus dipasang agar memenuhi kebutuhan energi yang diharapkan menggunakan persamaan berikut ini
Panel Surya digunakan untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listik. Perhitungan kapasitas panel surya yang harus dipasang agar memenuhi kebutuhan energi yang diharapkan menggunakan persamaan berikut ini