• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan 1. Latar Belakang

Dalam dokumen sosiologi (Halaman 51-55)

BAB IV. HASIL DAN ANALISA PENELITIAN BAB V. PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

3.2. Pendahuluan 1. Latar Belakang

Bagian ini memuat dasar dan alasan serta argumentasi pentingnya dilakukan penelitian yang dijabarkan dengan jelas, disertai keterangan bahwa permasalahan tersebut memang belum terjawab. Latar belakang permasalahan ini berisi uraian tentang apa yang menjadi permasalahan penting dan perlu dicari upaya pemecahannya serta kemungkinan manfaat jawaban itu nantinya. Masalah tersebut harus didukung oleh fakta empiris sehingga jelas bahwa ada masalah yang perlu diteliti.

Selain itu, dalam latar belakang masalah peneliti harus mengidentifikasi situasi masalah dengan tepat dan jelas. Konsep latar belakang masalah setidaknya mencakup 5 (lima) hal berikut ini:

ƒ Situasi atau keadaan mengenai masalah yang ingin diteliti. ƒ Alasan atau sebab ingin menelaah masalah yang

dipilihnya secara mendalam.

ƒ Hal-hal yang telah diketahui atau belum diketahui mengenai masalah yang akan diteliti.

ƒ Pentingnya penelitian itu, baik secara teoritis maupun praktis.

ƒ Penelitian yang dilakukan dapat mengisi kekosongan yang ada.

3.2.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah memuat penjelasan mengenai alasan mengapa masalah yang dikemukakan dalam proposal itu dipandang menarik, penting, dan perlu diteliti. Di dalamnya dirumuskan dengan jelas dan tegas permasalahan yang perlu diteliti sehingga mudah diketahui ruang lingkup masalah dan arah penelitian yang akan dilakukan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan suatu hipotesis, dan rumusan dapat menghasilkan topik penelitian atau judul dari penelitian. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk dapat merumuskan masalah yang baik, yaitu:

1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. 2. Perumusan hendaklah jelas dan padat.

3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.

4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hiposkripsi.

5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

3.2.3. Tujuan Penelitian

Dalam bagian ini disebutkan secara tegas apa yang hendak dijawab atau dapat diperoleh dari penelitian tersebut. Tujuan penelitian harus jelas dan tegas, yang dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan umum merupakan tujuan penelitian secara keseluruhan yang ingin dicapai melalui penelitian.

b. Tujuan khusus merupakan penjabaran atau pentahapan dari tujuan umum, yang bersifat lebih operasional.

3.2.4. Manfaat Penelitian

Bagian ini berisi uraian tentang kegunaan penelitian dan operasionalisasi hasilnya. Manfaat penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan (teoritis) dan penggunaan praktis yang dimanfaatkan oleh industri dan instansi pemerintah, ilmuwan lain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS), dan seyogianya dapat dimanfaatkan pula oleh masyarakat.

3.2.5. Kerangka Teori (Kuantitatif)

Kerangka teori dijabarkan dari tinjauan pustaka dan disusun sendiri oleh mahasiswa sebagai tuntutan untuk memecahkan masalah pembangunan dan untuk merumuskan hiposkripsi. Kerangka teori dapat berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau konsep penalaran yang langsung berkaitan dengan bidang kajian yang akan ditekuni. Dengan kata lain kerangka teori harus mampu memperlihatkan pilihan teori yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian.

3.2.6. Kajian Pustaka (Kualitatif)

Kajian pustaka memuat gagasan yang mendasari penelitian yang akan dilaksanakan. Penelusuran kepustakaan yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan merupakan keharusan jika ingin menghasilkan kajian pustaka yang baik. Dalam kajian pustaka ini juga sudah terlihat kemana arah penelitian yang akan dilakukan. Di samping itu, kajian pustaka juga harus dapat menjawab permasalahan penelitian berdasarkan kajian literatur yang dilakukan.

3.2.7. Hipotesis

Sebelum merumuskan hipotesis pada proposal, terlebih dahulu dibuat kerangka konseptual yang dijabarkan atau disintesis dari kerangka teori sebagai paradigma sekaligus tuntutan untuk memecahkan masalah pembangunan dan merumuskan hipotesis. Hipotesis ini merupakan pernyataan yang tegas dan jelas serta tidak mengandung suatu pertanyaan. Hipotesis ini harus dapat dijabarkan ke dalam pengukuran secara kuantitatif. Hipotesis akan mempertegas dan memperjelas masalah yang akan diteliti, memberi arah dan tujuan pelaksanaan penelitian. Hipotesis digunakan dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif.

3.2.8. Definisi Konsep

Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian harus didefinisikan dengan jelas, sehingga dapat dipahami apa yang ingin diteliti. Konsep-konsep tersebut perlu didefinisikan dengan jelas sesuai dengan konteks penelitian karena konsep-konsep dalam ilmu sosial masih relatif abstrak dan seringkali memiliki makna yang berbeda. Definisi konsep dibuat oleh si peneliti dengan mengacu pada beberapa konsep yang diperoleh dari bahan bacaan (literatur), meskipun tidak harus sama dengan yang diperoleh dari literatur. Konsep-konsep yang didefinisikan bukan hanya yang ada pada judul penelitian (skripsi), tetapi seluruh konsep yang terkait dengan apa yang mau diteliti.

3.2.9. Operasionalisasi Variabel

Variabel-variabel penelitian yang digunakan harus diopera-sionalisasikan, artinya, harus diturunkan menjadi indikator-indikator yang terukur. Untuk dapat menurunkan variabel-varibel penelitian menjadi indikator-indikator penelitian harus kembali merujuk pada teori-teori dan konsep yang digunakan. Operasionalisasi variabel merupakan dasar untuk menyusun angket atau kuesioner.

3.2.10. Tinjauan Pustaka

Dalam tinjauan pustaka, diuraikan dengan jelas kajian kepustakaan yang menimbulkan gagasan atau mendasari penelitian yang akan dilaksanakan, dan berisi cuplikan bahwa pustaka yang berkaitan hanya dengan masalah yang diteliti. Tinjauan kepustakaan menguraikan teori, temuan dan bahan yang diarahkan untuk menyusun kerangka konsep yang akan digunakan dalam skripsi nantinya. Tinjauan pustaka juga memuat uraian sistematis tentang hasil penelitian yang didapat oleh para ahli atau peneliti terdahulu dan apa hubungannya dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dalam penyajian ini hendaknya ditunjukkan permasalahan yang akan diteliti belum terjawab atau belum terpecahkan secara memuaskan.

Tinjauan pustaka memuat uraian sistematik tentang fakta, hasil karya sebelumnya yang berasal dari pustaka mutakhir yang memuat teori, proposisi, konsep atau pendekatan terbaru yang ada hubungannya dengan kegiatan yang akan dilakukan. Fakta yang dilakukan sejauh mungkin diambil dari sumber primer atau aslinya. Semua sumber yang dipakai harus sesuai dengan ketentuan tentang cara penulisan kepustakaan. Dalam uraian ini hendaknya dihindarkan sistem kliping dan pengulangan. Semua sumber yang dipakai harus disebutkan dengan mencantumkan nama penulis, tahun penerbitan, dan halaman.

Studi kepustakaan memberikan gambaran tentang kemajuan suatu bidang ilmu atau masalah, yaitu tentang sejarah perkembangan bidang ilmu tersebut, berupa informasi mengenai seperangkat penelitian yang telah dilakukan dan yang masih diperlukan. Suatu penelitian hendaknya memberikan tambahan pengetahuan bagi perkembangan ilmu, akan tetapi perkembangan ilmu tidak dimulai dari nol, tapi selalu didasarkan pada penelitian empirik atau teoritik yang telah dilakukan peneliti sebelumnya. Setelah mengumpulkan referensi kepustakaan yang cukup memadai, peneliti harus mempresentasikannya (menyajikannya). Tinjauan kepustakaan mempresentasikan penguasaan penulis tentang teori-teori yang relevan dengan masalah penelitian dan penguasaan perkembangan mutakhir bidang atau topik yang ditelitinya.

Ada beberapa fungsi tinjauan kepustakaan yaitu sebagai berikut: a) Memperoleh Pengetahuan Baru

Tinjauan kepustakaan memperkenalkan peneliti pada banyak data, informasi, dan pengetahuan yang mungkin belum diketahui peneliti dalam suatu bidang ilmu atau tentang suatu masalah yang diusulkan. b) Membatasi Masalah Penelitian

Peneliti sering mengalami kesulitan dalam memilih masalah penelitian yang cukup spesifik dari satu topik yang telah dipilihnya. Tinjauan kepustakaan membantu peneliti menemukan masalah yang spesifik. Laporan penelitian biasanya menunjukkan jalan dan arah menuju masalah yang cukup sempit untuk diteliti, dan pada umumnya laporan tersebut memuat secara jelas hal apa saja yang masih memerlukan penelitian lanjutan.

c) Memilih Pendekatan Baru

Dalam tinjauan kepustakaan peneliti bukan hanya mempelajari hasil yang telah dilakukan orang lain, tetapi harus pula waspada pada kemungkinan adanya penelitian yang terabaikan oleh peneliti terdahulu. Pengalaman pribadi dan latar belakang seseorang menghimbaunya untuk melihat suatu fase masalah yang tidak terlihat oleh peneliti terdahulu. Pendekatan baru itu besar kemungkinan dapat ditemui pada bidang yang belum banyak diteliti.

Contoh 1 : Halaman Sampul Proposal

POLA KETERGANTUNGAN PETANI

Dalam dokumen sosiologi (Halaman 51-55)

Dokumen terkait