• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM AYAM BROILER

PENDAHULUAN Latar Belakang

Imbuhan pakan atau feed additives adalah suatu bahan yang dicampurkan di dalam pakan yang dapat mempengaruhi kesehatan, produktivitas, maupun keadaan gizi ternak, meskipun bahan tersebut bukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi (Adam, 2000). Imbuhan pakan yang sudah umum digunakan dalam industri perunggasan salah satunya adalah antibiotika. Mekanisme kerja antibiotika pada prinsipnya adalah untuk mengurangi populasi bakteri di dalam saluran pencernaan sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum dan penyerapannya dan akhirnya dapat memacu pertumbuhan ternak (Walton, 1977). Aktivitas organ tubuh merupakan pencerminan dari performa ternak. Untuk mencapai performa maksimal, peternak perlu mengetahui dan memahami organ-organ tubuh dan fungsinya sehingga dapat dilakukan rekayasa sehingga tercipta manajemen pemeliharaan yang efisien dan menghasilkan prduksi maksimal sesuai potensi genetik (Kartasudjana et al., 2008)

Ayam broiler merupakan salah satu jenis ayam yang banyak dibudidaya karena pertumbuhannya yang sangat cepat. Daging ayam broiler juga merupakan sumber protein hewani yang murah, aman, mudah didapat dan diolah. Keunggulan-keunggulan ini menjadikan ayam broiler dapat diandalkan sebagai penyuplai sumber protein hewani yang utama. Daging ayam broiler yang aman dalam hal ini adalah bebas dari residu akibat penggunaan antibiotika yang berlebihan yang dikhawatirkan akan menimbulkan alergi pada konsumen, gangguan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan serta resistensi mikroorganisme terhadap antibiotika (Bogaard et al., 2000).

Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti antibiotika adalah zat aktif yang terdapat dalam tanaman herbal. Tanaman herbal mengandung zat aktif seperti flavonoid, alkaloid, glikosida, saponin dan tanin yang dapat meningkatkan kesehatan karena berperan sebagai antioksidan (Sreenives, 1999). Aktivitas antioksidan dalam rempah-rempah berperan penting dalam menghambat replikasi virus, inflamasi, menghambat alergi dan radang sendi, mencegah kanker dan penyakit jantung, dan untuk menetralkan racun (Aggarwal et al., 2002).

2 Tanaman herbal yang sudah banyak diteliti penggunaannya untuk ternak diantaranya adalah temulawak (Zainuddin et al., 2001), bawang putih (Chowdhury et al., 2002), kunyit (Kim et al., 2005). Dari berbagai macam tanaman herbal yang banyak digunakan, salah satunya yang sangat potensil untuk digunakan sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotika pada unggas adalah ketumbar. Ketumbar (Coriandrum sativum L) merupakan salah satu jenis tanaman bumbu-bumbuan yang sejak lama digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat atau untuk meningkatkan cita rasa bahan pangan (Purseglove et al., 1981). Ketumbar (Coriandrum sativum L) memiliki reputasi yang bagus sebagai komponen obat, minyak atsiri pada ketumbar memiliki antioksidan (Wangensteen et al., 2004) dan efek stimulasi dalam proses pencernaan (Cabuk et al., 2003). Namun, belum banyak laporan yang tersedia tentang dampak biji ketumbar pada ternak unggas.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan biji ketumbar dalam ransum terhadap fungsi fisiologi organ dalam ayam broiler meliputi gizzard, usus halus, seka, pankreas, hati, jantung, limpa, bursa fabrisius dan timus sehingga meningkatkan ketersediaan zat gizi ransum dan penyerapannya dan akhirnya dapat memacu pertumbuhan ternak.

3 TINJAUAN PUSTAKA

Ketumbar

Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn) diduga berasal dari sekitar Laut Tengah dan Pegunungan Kaukasus di Timur Tengah. Di Indonesia, tanaman ketumbar belum dibudidayakan secara intensif dalam skala luas, penanaman hanya terbatas pada lahan pekarangan dengan sistem tumpangsari dan jarang secara monokultur. Tanaman ketumbar (Coriandrum sativum Linn) diduga berasal dari sekitar Laut Tengah dan Pegunungan Kaukasus di Timur Tengah.

Tanaman ketumbar di Indonesia dikenal dengan sebutan katuncar (Sunda), ketumbar (Jawa dan Gayo), katumbare (Makassar dan Bugis), katombar (Madura), ketumba (Aceh), hatumbar (Medan), katumba (Padang), dan katumba (Nusa Tenggara) (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004). Tanaman ketumbar berupa semak semusim, dengan tinggi sekitar satu meter. Akarnya tunggang bulat, bercabang, dan berwarna putih. Batangnya berkayu lunak, beralur, dan berlubang dengan percabangan dichotom berwarna hijau. Tangkainya berukuran sekitar 5-10 cm. Daunnya majemuk, menyirip, berselundang dengan tepi hijau keputihan. Buahnya berbentuk bulat, waktu masih muda berwarna hijau, dan setelah tua berwarna kuning kecokelatan. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna kuning kecokelatan (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004; Astawan, 2009).

Ketumbar dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dipanen setelah berumur tiga bulan, kemudian dijemur, dan buahnya berwarna kecoklatan dipisahkan dari tanamannya. Hasil panen umumnya dijual ke pasar tradisional untuk keperluan bumbu rumah tangga (Hadipoentyani dan Wahyuni, 2004; Astawan, 2009). Tanaman ketumbar di Indonesia belum dibudidayakan secara intensif dalam skala luas, penanamannya hanya terbatas pada lahan pekarangan dengan sistem tumpangsari, dan jarang secara monokultur. Produksi biji ketumbar tertinggi tercatat sebesar 1.500 ton/tahun (Badan Pusat Statstik, 2005). Daerah penanaman yang cocok dan sudah berproduksi adalah Cipanas, Cibodas, Jember, Boyolali, Salatiga, Temanggung, dan sebagian daerah di Sumatera Barat (Astawan, 2009).

4 Perkembangan Pertumbuhan Ketumbar di Indonesia

Ketumbar merupakan tanaman asli dari daratan Eropa Timur, kemudian menyebar ke India, Marocco, Pakistan, Rumania dan Rusia (Purseglove et al., 1981). Rusia merupakan produsen terbesar rempah-rempah, sedang untuk ketumbar, India merupakan produsen terbesar dengan daerah-daerah penyebarannya meliputi Madras, Madya Pradesh, Bombay, Mysore dan Bihar. Negara-negara produsen ketumbar lainnya adalah Iran, Turki, Mesir, Libanon dan Israel. Ketumbar dapat tumbuh pada kisaran iklim yang lebar, tetapi dapat tumbuh dengan baik pada tanah-tanah medium sampai berat pada lokasi yang subur, berdrainase baik dan kondisi lembab (Purseglove et al., 1981).

Produksi pohon ketumbar di Indonesia baru sebatas diambil daunnya yang masih muda untuk lalab, sayuran dan konsumsi swalayan. Produksi dalam bentuk biji masih rendah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan bumbu dapur, penyedap rasa dan untuk industri penyamak kulit setiap tahunnya harus mengimpor dari India, Rusia, Eropa Timur dan negara produsen lainnya dalam volume yang cukup besar antara 6.222.832 kg tahun 2004 (Badan Pusat Statistik, 2005). Besarnya impor ketumbar berfluktuasi, tetapi kecenderungannya selalu meningkat rata-rata sekitar 11,71% per tahun dari tahun 1991–2005 (Tabel 1).

Daerah penanaman yang dianggap cocok dan sudah ada tanamannya adalah Cipanas, Cibodas, Temanggung, Jember dan Sumatera Barat (Wahab dan Hasanah, 1996). Penanaman biasanya disela-sela bedengan tanaman wortel. Penanaman komoditas ketumbar secara luas belum terdata secara pasti walaupun telah lama digunakan di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanaman ketumbar belum diperhatikan oleh petani maupun pengusaha di bidang pertanian. Berikut pertumbuhan serta nilai impor ketumbar disajikan dalam Tabel 1.

5 Tabel 1. Volume dan Nilai Impor Ketumbar serta Pertumbuhannya

Tahun Volume (kg) Pertumbuhan(%) Nilai (US $) Pertumbuhan(%)

1991 5.450.626 - 2.268.832 - 1992 9.489.567 74,1 4.918.327 116,77 1993 10.377.594 9,35 4.123.283 -16,16 1994 6.480.936 -3,75 2.571.685 -37,63 1995 6.405.832 -1,15 2.286.131 -11,1 1996 7.958.029 24,23 3.795.046 66,04 1997 9.046.600 13,67 4.369.046 15,09 1998 7.703.923 -14,84 2.895.809 -83,7 1999 11.531.408 49,68 3.064.437 5,87 2000 8.947.338 -22,4 2.510.503 -22,06 2001 9.244.317 3,32 2.865.280 14,13 2002 9.695.702 4,88 3.551.953 23,96 2003 6.613.014 -31,79 2.741.475 -22,81 2004 15.165.938 129,33 5.525.710 112,65 2005 6.222.832 -58,96 2.062.503 -62,67 8.728.910,40 11,71 3.303.334,60 6,55 Sumber : Badan Pusat Statistik (2005)

Kandungan Gizi dan Khasiat Ketumbar

Biji ketumbar (Coriandrum sativum L) juga merupakan salah satu jenis tanaman bumbu-bumbuan yang sejak lama digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat atau untuk meningkatkan cita rasa bahan pangan (Purseglove et al., 1981). Zat yang terkandung pada minyak atsiri selain fenol adalah flavonoid. Flavonoid bersifat antibakteri dan antioksidan (Wangensteen et al., 2004), mampu meningkatkan kerja sistem imun karena leukosit sebagai pemakan benda asing lebih cepat dihasilkan dan sistem limfa lebih cepat diaktifkan (Angka, 2004). Beberapa tipe senyawa flavonoid yang terdapat di dalam biji ketumbar adalah kuersetin, asam ferulat, rutin, koumarat, asam proto katekuat dan asam vanilat. Tipe-tipe tersebut merupakan derivat dari asam sinamat dan flavonol.

Biji ketumbar juga mengandung berbagai macam mineral. Mineral yang banyak terkandung pada biji ketumbar adalah kalsium, fosfor, magnesium, potasium, dan besi. Kalsium selain berperan sebagai mineral tulang, juga berperan menjaga tekanan darah agar tetap normal. Mineral fosfor berperan dalam pembentukan dan

6 pertumbuhan tulang. Fosfor juga berperan dalam menjaga keseimbangan asam dan basa tubuh. Magnesium merupakan mineral yang berperan dalam metabolisme kalsium dan potasium, serta membantu kerja enzim dalam metabolisme energi. Potasium membantu keseimbangan cairan elektrolit dalam tubuh. Besi merupakan mineral yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah, hemoglobin, dan mioglobin otot (Fauci et al., 2008; Astawan, 2009).

Vitamin yang banyak terkandung dalam biji ketumbar adalah vitamin C dan B. Vitamin C berberan sebagai antioksidan. Antioksidan berperan dalam mencegah dan mengurangi bahaya yang ditimbulkan radikal bebas. Radikal bebas adalah suatu senyawa yang dapat mengganggu metabolisme tubuh yang berbahaya bagi kesehatan (Wangensteen et al., 2004). Niasin adalah salah satu jenis vitamin B yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh, terutama metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak menjadi bentuk energi yang dapat digunakan oleh tubuh. Kandungan vitamin dan mineral yang dimiliki biji ketumbar ini sangat berkhasiat sebagai stimulan atau membantu meningkatkan kesegaran tubuh (Astawan, 2009).

Ketumbar berfungsi sebagai antioksidan (Wangensteen et al., 2004), antidiabetes (Gallagher et al., 2003) dan efek stimulasi dalam proses pencernaan (Cabuk et al., 2003). Aktivititas biologis di dalamnya dapat merangsang enzim pencernaan dan peningkatan fungsi hati (Hermandez et al, 2004). Minyak atsiri pada biji ketumbar memiliki sifat antimikroba terhadap spesies patogen seperti Salmonella (Isao et al., 2004). Minyak atsiri adalah cairan lembut, bersifat aromatik, dan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri memiliki daya antibakteri disebabkan adanya senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi protein sel bakteri (Wangensteen et al., 2004). Daya antibakteri minyak atsiri lebih efektif karena memiliki zona hambat lebih besar dan bersifat bakterisidal.

Minyak atsiri merupakan suatu produk alam yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam obat-obatan, rokok, kosmetika, bahan pewangi, farmasi, aroma makanan dan minuman, permen, aromaterapi, bahan pengawet maupun sebagai bahan pestisida (Narpati, 2000). Di Indonesia terdapat kurang lebih 50 jenis tanaman yang mengandung minyak atsiri, namun baru 14 jenis tanaman yang sudah diusahakan secara komersial dan menjadi komoditas ekspor antara lain minyak nilam, minyak seraiwangi, minyak akarwangi, minyak kenanga, minyak

7 cendana, minyak pala, minyak daun cengkeh, minyak kayu putih (Rusli, 2002). Salah satu minyak atsiri yang dapat dikembangkan adalah minyak ketumbar.

Ketumbar (Coriandum sativum) dapat digunakan untuk sayuran, bahan penyedap dan obat-obatan, mengandung karbohidrat, lemak dan protein yang cukup tinggi (Wahab dan Hasanah, 1996). Ketumbar juga berdampak positif terhadap kesehatan karena hampir seluruh bagian tanaman dapat digunakan sebagai obat, daun yang muda untuk lalaban, analgesik dan obat sakit mata dan bunganya bersifat karminatif (Hargono, 1989). Ampas sisa dari penyulingan ketumbar setelah dikeringkan dapat digunakan untuk makanan ternak karena masih mengandung 11-17% protein dan 11-21% lemak (Ketaren, 1985).

Beberapa dari hasil penelitian, seperti di Eropa Tengah dengan cara penyulingan uap menghasilkan minyak atsiri ketumbar sebesar 0,5%. Rendemen minyak ketumbar selain dipengaruhi lama penyulingan, faktor yang lainnya adalah penanganan bahan sebelum penyulingan yaitu penghalusan bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan yang dihaluskan dapat meningkatkan rendemen minyak ketumbar. Meningkatnya rendemen minyak ketumbar dikarenakan air dan bahan lebih mudah kontak sehingga memudahkan minyak keluar dari bahan, penetrasi air atau uap ke dalam jaringan bahan akan lebih mudah akibatnya minyak akan lebih mudah keluar dari dalam jaringan bahan.

Menurut Guenther (1949), buah ketumbar dari Hongaria diperoleh rendemen minyak 1,1%. Buah ketumbar dari Jerman dan Cekoslovakia masing-masing menghasilkan rendemen minyak 0,8 dan 1%. Buah ketumbar berasal dari Perancis rendemen minyaknya sekitar 0,4%, buah ketumbar berasal dari Italia 0,35%, buah ketumbar berasal dari Maroko rendemen minyaknya sekitar 0,3% sedangkan buah ketumbar dari Indonesia menghasilkan rendemen minyaknya antara 0,15-0,25% (Guenther, 1949). Berbagai kandungan rendemen minyak yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa rendemen minyak atsiri dipengaruhi oleh faktor iklim, tempat tumbuh dan ketinggian tempat.

Komposisi Minyak Ketumbar

Ketumbar mempunyai aroma yang khas, aromanya disebabkan oleh komponen kimia yang terdapat dalam minyak atsiri. Ketumbar mempunyai kandungan minyak atsiri berkisar antara 0,4-1,1%, minyak ketumbar termasuk senyawa hidrokarbon beroksigen,

8 komponen utama minyak ketumbar adalah linalool yang jumlah sekitar 60-70% dengan komponen pendukung yang lainnya adalah geraniol (1,6-2,6%), geranil asetat (2-3%) kamfor (2-4%) dan mengandung senyawa golongan hidrokarbon berjumlah sekitar β0% (α-pinen, -pinen, dipenten, p-simen, α-terpinen dan -terpinen, terpinolen dan fellandren) (Lawrence dan Reynolds, 1988; Guenther, 1990). Komposisi kimia minyak ketumbar dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi Kimia Minyak Ketumbar

No Komponen Jumlah (%)

1 Hidrokarbon, terdiri dari: d-α-pinen

dl-α-pinen -pinen dipenten p-simen

α-terpinen dan -terpinen terpinolen dan fellandren

20

2 Hirdrokarbon beroksigen, terdiri dari: d-linalool n-desil aldehid geraniol l-borneol asam asetat asam desilat 60-70 Sumber : Guenther (1990)

Berdasarkan jenis unsur penyusun senyawa minyak atsiri, minyak ketumbar termasuk golongan senyawa hidrokarbon beroksigen. Senyawa tersebut menimbulkan aroma wangi dalam minyak atsiri, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi. Tingkat kematangan ketumbar akan mempengaruhi komposisi minyak ketumbar, komposisi minyak akan menentukan mutu minyak ketumbar. Pada ketumbar yang belum masak, komponen minyaknya adalah golongan aldehid sedangkan ketumbar yang masak, komponen minyaknya adalah golongan alkohol monoterpen dan linalool. Persenyawaan linalool, jika dioksidasi akan menghasilkan sitral atau persenyawaan geraniol (Guenther, 1987).

9 Sifat Fisika Kimia dan Mutu Minyak Ketumbar

Setiap minyak atsiri mempunyai sifat-sifat yang berbeda antar satu dengan yang lainnya. Sifat khas suatu minyak atsiri dibentuk oleh komposisi senyawa-senyawa kimia yang dikandungnya dan biasanya dinyatakan dalam sifat organoleptik dan sifat fisika kimia. Sifat organoleptik minyak atsiri dinyatakan dengan warna dan aroma, sedangkan sifat fisika kimia meliputi berat jenis, indeks bias, putaran optik, bilangan asam dan kelarutan dalam etanol 70 %, bilangan asam, bilangan ester, serta komposisi senyawa kimia yang dikandungnya dapat dijadikan kriteria untuk menentukan tingkat mutu dari minyak. Sifat kimia menyatakan jumlah atau besaran kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut (Guenther, 1987). Nilai-nilai sifat fisika kimia minyak atsiri merupakan gambaran umum minyak atsiri. Nilai-nilai tersebut digunakan sebagai patokan dalam perdagangan, baik di dalam negeri (Standar Nasional Indonesia) maupun Internasional (Standar Internasional). Sifat fisika kimia minyak ketumbar dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Sifat Fisika Kimia Minyak Ketumbar

Karakteristik Nilai

Berat jenis, pada 15o C

0,870-0,885, biasanya tidak lebih dari 0,878

Putaran optic +800’ sampai +1γoO’

Indeks bias pada 20o C 1,463 - 1,471

Bilangan asam, maks 5,0

Bilangan ester 3,0 - 22,7

Kelarutan dalam alkohol 70%

pada suhu 20o C larut dalam 2-3 volume Sumber : Guenther (1952) dalam Ketaren, 1985

Minyak atsiri merupakan hasil metabolisme sekunder di dalam tumbuhan. Karakteristik fisika kimia minyak atsiri setiap tanaman berbeda. Mutu minyak atsiri pada tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya jenis atau varietas tanaman, iklim, bibit unggul, kondisi lingkungan tumbuh, umur dan waktu panen, cara penanganan bahan, metode ekstraksi, penyulingan yang tepat, jenis logam alat penyulingan, jenis kemasan dan cara penyimpanan minyak (Ketaren, 1985; Rusli, 2002).

10 Menurut Guenther (1987), faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen minyak ketumbar dipengaruhi oleh (1) suhu pengeringan, dikeringkan dengan alat pengering, sebaiknya tidak lebih dari 40o C, (2) tingkat kematangan buah ketumbar, buah ketumbar yang belum matang akan menghasilkan mutu dan rendemen minyak yang rendah. Ketumbar yang matang dan segera disuling menghasilkan rendemen minyak sekitar 0,83%. (3) tanah tempat tumbuh, tanaman ketumbar cocok ditanam pada tanah yang agak liat, (4) iklim, (5) ukuran bentuk buah ketumbar, buah ketumbar berukuran kecil menghasilkan rendemen minyak lebih tinggi dibandingkan buah berukuran besar dan (6) teknik penyulingan, pada penyulingan uap, jumlah air yang kontak langsung dengan bahan yang disuling, diusahakan sedikit mungkin, tetapi air harus ada untuk membantu kelancaran proses difusi, (7) varietas ketumbar, varietas Coriandrum sativum var. Microcarpum D.C diameter buahnya berkisar antara 1,5-3 mm lebih kecil kandungan minyak atsirinya lebih tinggi daripada Coriandrum sativum var. Vulgare Alet diameter buahnya berkisar antara 3-6 mm (Hadipoentyanti dan Udarno, 2002).

Hasil penelitian Setyaningsih (1992), menunjukkan bahwa masak fisiologi tercapai pada saat buah ketumbar berwarna kuning sampai coklat (sekitar 4-6 bulan setelah tanam) dimulai dengan mengeringnya tangkai payung yang diikuti dengan mengerasnya pangkal perlekatan buah dengan tangkai payungnya serta buah-buah pada payung telah berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan.

Senyawa linalool merupakan komponen yang menentukan intensitas aroma harum, sehingga minyak ketumbar dapat dipergunakan sebagai bahan baku parfum, aromanya seperti minyak lavender atau bergamot. Linalool banyak digunakan dalam industri farmasi sebagai obat analgesic (obat menekan rasa sakit), parfum, aroma makanan dan minuman, sabun mandi, bahan dasar lilin, sabun cuci, sintesis vitamin E dan pestisida hama gudang maupun insektisida untuk basmi kecoa dan nyamuk. Kegunaan ketumbar sebagai obat antara lain untuk diuretik (peluruh air kencing), antipiretik (penurun demam), stomatik (penguat lambung), stimulan (perangsang), laxatif (pencahar perut), antelmintif (mengeluarkan cacing), menambah selera makan, mengobati sakit empedu dan bronchitis (Wahab dan Hasanah, 1996).

11

Ayam Broiler

Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes, family Phasianidae, genus Gallus dan spesies Gallus domesticus yang dihasilkan dari bangsa ayam tipe berat Cornish. Ayam broiler merupakan ayam pedaging tipe berat yang lebih muda dan berukuran lebih kecil. Ayam ini dapat tumbuh sangat cepat dan dapat dipanen pada umur empat minggu untuk menghasilkan daging dan menguntungkan secara ekonomis. Bangsa ayam yang dipilih adalah yang berbulu putih dan seleksi diteruskan sehingga menghasilkan ayam broiler seperti sekarang (Amrullah, 2004).

Ayam broiler merupakan ayam-ayam jantan atau betina yang menghasilkan daging dan umumnya dipanen pada umur sekitar 5-6 minggu dengan bobot badan antara 1,2-1,9 kg/ekor (Kartasudjana, 2005).

Saluran Pencernaan Unggas

Sistem organ dan saluran pencernaan pada unggas terdiri dari mulut, kerongkongan, crop, proventrikulus, gizzard, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), seka, kolon dan kloaka serta organ vital lainnya seperti hati, jantung, limpa dan bursa fabricius. Setiap makanan yang masuk akan mengalami proses pencernaan (mekanik atau kimia). Organ yang berperan dalam pencernaan mekanik pada unggas adalah rempela (gizzard). Fungsi rempela untuk menggiling dan menghancurkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan biasanya dibantu oleh grit (Pond et al., 1995). Usus akan menerima makanan yang telah mengalami pencernaan mekanik di rempela. Usus halus yang berfungsi untuk mengabsorpsi nutrisi bahan pada ternak merupakan organ penting dalam pencernaan (Gillespie, 2004).

Usus halus terdiri dari tiga bagian yang tidak terpisah secara jelas yaitu, duodenum, jejenum dan illeum (Amrullah, 2004). Duodenum merupakan bagian pertama dari usus halus yang letaknya sangat dekat dengan dinding tubuh dan dan terikat pada mesentri yang pendek yaitu mesoduodenum. Jejenum dengan mudah dapat dipisahkan dengan duodenum yang letaknya kira-kira bermula pada posisi ketika mesentri mulai terlihat memanjang (pada duodenum mesentrinya pendek). Jejenum dan illeum letaknya bersambungan dan tidak ada batas yang jelas diantaranya. Bagian terakhir dari usus halus adalah illeum yang bersambungan dengan usus besar (Frandson, 1992). Luas permukaan usus dapat meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah vili usus yang berfungsi untuk penyerapan zat-zat

12 makanan (Frandson, 1992). Struktur villi usus halus dipengaruhi oleh jenis ransum yang berbeda (Gillespie, 2004).

Menurut Ressang (1984), fungsi usus halus dipengaruhi oleh fungsi lambung, gangguan fungsi hati dan pankreas, sakit, stress dan kesalahan susunan bahan makanan. Panjang usus halus bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh, tipe makanan dan faktor lainnya. Pada usus halus terjadi gerakan peristaltik yang berperan dalam mencampur digesta dengan cairan pankreas dan empedu. Enzim yang terdapat pada usus halus terdiri dari enzim protease (peptidase), maltase, laktase, sukrase yang berperan dalam pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh usus (Pilliang dan Djojosoebagio, 2000).

Amrullah (2003) menyatakan bahwa ukuran panjang, tebal dan bobot saluran pencernaan unggas bukan besaran yang statis. Perubahan dapat terjadi selama proses perkembangan karena dipengaruhi oleh jenis ransum yang diberikan. Ransum yang banyak mengandung serat akan menimbulkan perubahan ukuran saluran pencernaan sehingga menjadi lebih berat, lebih panjang, dan lebih tebal. Perubahan ini juga diikuti dengan jumlah villi usus atau jonjot usus dan kemampuan sekresi enzim-enzim pencernaan, semakin tinggi kadar serat kasar dalam ransum, maka laju pencernaan dan penyerapan zat makanan akan semakin lambat. Anggorodi (1994), menyatakan bahwa semakin tinggi kandungan serat kasar dalam suatu bahan makanan maka semakin rendah daya cerna bahan makanan tersebut.

Gizzard

Gizzard terletak antara proventikulus dengan batas atas usus halus. Gizzard mempunyai dua pasang otot yang kuat dan sebuah mukosa (North dan Bell, 1990). Kontraksi otot rempela baru akan terjadi apabila makanan masuk ke dalamnya. Jika unggas biasa mendapat makanan yang kasar atau berupa bijian maka ukuran gizzardnya jauh lebih besar, lebih kuat dan berlapis epitel tanduk yang lebih tebal, ukuran gizzard mudah berubah bergantung pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh unggas (Amrullah, 2004). Bobot gizzard dipengaruhi oleh umur, bobot badan dan makanan. Pemberian makanan yang lebih banyak akan mengakibatkan beban gizzard lebih besar untuk mencerna makanan, akibatnya urat daging gizzard akan lebih tebal sehingga memperbesar ukuran gizzard.

13 Amrullah (2004) menyatakan bahwa dalam gizzard berlangsung mastikasi yaitu secara mekanis makanan dicerna dan dalam organ ini sering ditemukan bebatuan kecil (grit) yang ikut menghasilkan digesta. Grit dalam gizzard berfungsi untuk mengoptimalkan pencernaan makanan yang ada di dalam karena dapat meningkatkan motilitas makanan, aktivitas menggiling makanan dan meningkatkan kecernaan ransum. Putnam (1991) menyatakan bahwa presentase berat gizzard ayam broiler berkisar 1,6-2,3% dari berat hidup.

Usus Halus

Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan illeum (Sturkie, 2000). Usus halus merupakan tempat terjadinya pencernaan dan penyerapan makanan. Selaput lendir usus halus mempunyai jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari. Fungsi usus halus selain sebagai penggerak aliran pakan dalam usus juga untuk meningkatkan penyerapan sari makanan (Akoso, 1993).

Usus halus menghasilkan enzim amilase, protease, dan lipase yang berfungsi memecah zat makanan menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat diserap tubuh (Moran, 1985). Rose (1997) menyatakan bahwa ukuran usus halus pada unggas pendek sedangkan pakan yang lewat akan cepat turun dari saluran pencernaan. Panjang usus halus bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh, tipe makanan dan faktor-faktor lainnya. Bagian yang membentuk U adalah duodenum dengan kelenjar pankreas di dalamnya. Kelenjar ini mensekresikan enzim-enzim pemecah

Dokumen terkait